LANGITOREN
0%

 【Bagian Pemecahan 〈Itsuki〉】Kisah Mahasiswa di Masa Kini


penerjemah: oyen
baca di langitoren.my.id


​"Detektif Hebat Phantom."

Aku membaca judul di layar, lalu mengernyit dan berujar jujur. "Namanya tidak terasa sepertimu."

​Ayukawa Tsukino memiringkan kepala. Rambut hitam sutranya bergoyang, mata jernihnya menatapku. Jantungku sedikit berdebar. Menatapnya selalu membuatku gugup.

​"Begitukah?"

"Ya. Terasa sangat komersial."

​Biasanya, Ayukawa menulis novel misteri bernuansa keseharian atau personal. Belum pernah ada detektif dengan nama semencolok ini di ceritanya.

​"Novel tidak akan dinilai kalau tidak dibaca," senyumnya pasrah. "Kritik penolakan lomba sebelumnya sangat pedas. Mereka menyuruhku berusaha agar pembaca tertarik. Aku sadar, dunia tidak peduli dengan apa yang sekadar kupikirkan. Jadi, aku memutuskan untuk berusaha menyampaikannya lewat karakter dan dunia yang lebih mudah dipahami."

​Ayukawa tersenyum tersipu. "Terdengar sombong, ya."

"Tidak sama sekali," bantahku.

​Kantin kampus penuh sesak oleh mahasiswa di bawah terik September. Jika Ayukawa tidak ada di depanku, aku pasti sudah kabur karena merasa tidak nyaman berada di sini.

​"Lalu jadilah Detektif Hebat Phantom?" tanyaku.

"Ya, detektif ilusi yang belum pernah dilihat siapapun."

"Motifnya Gaston Leroux?"

"Bukan, ada model aslinya. Detektif swasta Toma Kiryu. Kamu tidak tahu?"

​Aku mengingat-ingat. Ayukawa membulatkan matanya tak percaya.

"Itsuki-kun, kamu anak Klub Misteri lho? Tiga tahun lalu dia sangat viral karena menangkap pembunuh berantai."

"Ah, 'Kasus O'." Aku teringat. "Dulu Senior Yoiko pernah membahasnya dengan semangat sampai tiga jam saat mabuk."

​Kasus O adalah insiden pembunuhan berantai ruang tertutup acak yang berlangsung 13 tahun, menelan hampir 100 korban. Huruf 'O' selalu ditinggalkan di TKP.

​"Tapi," kataku, "berita tidak menyebutkan kaitan jelas antar kasus. Penangkapan itu juga cuma rumor internet, dan wujud detektifnya tidak pernah terlihat, kan."

"Itsuki-kun memang realistis," kekeh Ayukawa. "Tapi jangan katakan itu di depan Yoiko-san. Dia sangat memuja kasus itu."

​Aku mengangguk. Bisa-bisa aku diceramahi semalaman nanti.

​"Kali ini mungkin kamu akan diceramahi semalaman," goda Ayukawa.

"Malam seperti itu bagaikan topi keramas."

​Ayukawa berpikir keras, dahinya berkerut mencari referensi leluconku. "...'Who Inside'?"

"Salah, 'Poetical Private Jack'."

​Kami tertawa. Tebak-tebakan kutipan dari seri novel misteri favorit adalah rutinitas kami.

​"Omong-omong," aku mengembalikan topik, "'Detektif Phantom' itu menarik. Senior Yoiko pasti suka. Kalau sudah selesai, mau beritahu aku pendapatmu?"

"Tentu saja."

​Senyumnya membuat jantungku berdegup makin kencang. Aku berpura-pura membetulkan kacamata untuk menyembunyikan wajah yang mungkin memerah. Aku menyimpan tabletnya. Kami saling menatap, enggan berpisah, tapi tak tahu harus membahas apa selain novel misteri.

​"Sampai jumpa," ucapku berlawanan dengan isi hati.

"Ya. Sampai jumpa."

​Saat aku hendak berdiri, seseorang memanggil kami.

"Yoo, Icchan dan Tsukino!"

​Ketua Klub Misteri, Yoiko Kusanagi, datang sambil melambaikan tangan. Jaket kulit merahnya mencolok, rambutnya diikat asal ke atas seperti samurai. Gaya liar itu anehnya sangat cocok dengan postur tubuhnya yang seperti model. Ia langsung duduk di sebelah Ayukawa.

​"Kebetulan. Aku baru saja mau menghubungi kalian."

"...Senior Yoiko kelihatan sangat bersemangat," ucapku canggung.

"Ya, suhu tubuhku sedang 30% lebih tinggi dari biasanya." Ia mengambil kopi kalengku yang tinggal setengah dan menegaknya habis sekaligus. "Seharusnya tadi aku minum kopi hitam."

"Padahal aku masih mau meminumnya," keluhku datar.

​Dia mengabaikanku. "Ada berita besar untuk Klub Misteri. Dengarkan. Kita bisa mengunjungi Pulau Akon."

​Ayukawa berseru kaget. "Eh, Pulau Akon yang itu?"

"Benar! Termasuk melihat bekas laboratoriumnya. Pulau yang dilelang itu baru saja dibeli. Aku pakai koneksiku untuk bernegosiasi dengan pemilik barunya," Senior Yoiko membusungkan dada bangga.

​Yoiko Kusanagi ibarat karakter fiksi di dunia nyata. Mahasiswi kedokteran tahun keenam, rupawan, pintar, gila misteri, nekat namun setia kawan. Di atas segalanya, latar belakangnya mengerikan: dia adalah putri bos Kusanagi Pharmaceuticals, bagian dari Konsorsium Murakumo—keluarga monster yang menguasai roda ekonomi negara ini. Tentu mudah baginya mendapatkan akses seperti itu.

​"Pemilik barunya, Pak Akagami, juga penggemar misteri. Kami malah asyik mengobrol saat bertemu," jelas Senior Yoiko antusias.

"Tunggu," selaku. "Pulau Akon itu apa?"

"Tiga tahun lalu, itu tempat detektif dan pembunuh berantai saling bentrok," jawab Senior Yoiko ketus karena aku lupa.

"Itu lokasi 'Kasus O' yang kita bahas tadi," bisik Ayukawa padaku.

​Pembunuh berantai O ditangkap Toma Kiryu dan kabarnya dipenjara di fasilitas Laboratorium Ilmu Otak Kuzumi yang terletak di pulau terpencil itu. Aku mengerutkan dahi keheranan.

​"Tunggu, memangnya pembunuh berantai ditahan di laboratorium pulau terpencil? Bukannya di penjara biasa?"

"Pertanyaan bagus," Senior Yoiko mengacungkan satu jarinya. "Jawabannya satu: itu dilakukan untuk membuktikan kebenaran dari seluruh insiden pembunuhan tersebut."

​Jawaban Senior Yoiko hanya menambahkan tanda tanya di kepalaku.

​"Dengar, Icchan. Ciri khas kasus 'O' adalah 96 lokasi pembunuhan tersebut semuanya berupa ruang tertutup sempurna."

​"Ruang tertutup sempurna?"

​"Ya. Makanya penyelidikan polisi menemui jalan buntu dan tak bisa menangkap pelaku selama 13 tahun. Tidak ada bukti pasti di TKP. Saat ditangkap menjelang pembunuhan ke-97, dakwaan Hitoshi Migiwazaki hanyalah percobaan pembunuhan. Belum ada bukti konkret bahwa dia pelaku ke-96 pembunuhan sebelumnya. Sampai sekarang."

​Meski mendengar penjelasannya, aku belum paham intinya.

​"Intinya, kebenaran kasus itu hanya ada di dalam memori si pelaku. Karena itulah Laboratorium Ilmu Otak Kuzumi yang canggih itu dilibatkan."

​"Begini, Itsuki-kun. Mulai dari sini cuma rumor," tambah Ayukawa. "Katanya laboratorium itu meneliti cara memvisualisasikan memori manusia."

​"Memvisualisasikan memori?" Kerutan di dahiku makin dalam. "Maksudnya mengintip ke dalam otak seseorang?"

​"Aku tidak tahu detail prinsipnya karena bukan bidangku, tapi..."

​"Secara realistis, mengekstrak data dari memori dan merekonstruksinya menjadi gambar itu mungkin. Sekarang hal itu tidak sebatas teori," ucap Senior Yoiko dengan nada serius, menanggapi tatapan Ayukawa.

​"Tiba-tiba jadi terasa seperti fiksi ilmiah."

​Aku merasa pernah menonton film seperti itu, tapi tidak ingat persis ceritanya.

​"Serius, sekarang ini bukan lagi fiksi," ujar Senior Yoiko mantap. "Sejak fMRI muncul di tahun 90-an, penelitian otak manusia berkembang pesat. Ditambah kemajuan AI. Pola pemrosesan korteks serebral yang dulu misterius kini sudah dianalisis dan didigitalisasi. Kotak hitam memori manusia perlahan terpecahkan."

​Melihat Senior Yoiko berbicara fasih, aku baru ingat kalau dia adalah mahasiswi kedokteran.

​"Terlebih lagi, penelitian di sana dikabarkan super mutakhir di tingkat dunia. Meski berstatus laboratorium pribadi yang jarang ada di negara ini, katanya Laboratorium Kuzumi didukung organisasi internasional misterius dan mendapat suntikan dana besar."

​"Rumor lagi," kataku terheran-heran. "Intinya, tujuannya mengeluarkan memori kejahatan masa lalu dari otak pelaku, kan."

​"Itu juga cuma rumor," senyum Ayukawa tak yakin.

​"Ayolah, jangan merusak suasana," gerutu Senior Yoiko. "Ini sebenarnya ancaman besar buat kita. Kalau teknologi mengintip memori untuk dijadikan bukti benar-benar menyebar, misteri modern bakal tamat. Tidak akan ada kasus sulit, dan detektif hebat tidak akan dibutuhkan lagi. Gawat, bykan."

​"Bukankah bagus kalau kasus tak terpecahkan menghilang?"

​Menanggapi sindiranku, Senior Yoiko terdiam tak puas.

​"Tapi," sahut Ayukawa menolong. "Dengan teknologi itu pun, kasus yang terjadi di pulau tersebut masih mustahil dipecahkan sekarang, kan?"

​"Nah, benar katamu, Tsukino." Mata Senior Yoiko kembali hidup. "Kalau tersangkanya ada, memorinya memang bisa diperiksa. Tapi kasus tiga tahun lalu itu persis seperti And Then There Were None."

​Seolah menandakan bagian inti cerita baru dimulai, senyum tak gentar terbentuk di sudut bibir Senior Yoiko.

​"Kasus Pembunuhan Berantai Pulau Akon itu begini."

​Tiga tahun lalu, Laboratorium Ilmu Otak Kuzumi di Pulau Akon mengalami kebakaran yang menghanguskan separuh bangunan. Dari reruntuhan, ditemukan empat mayat hangus, salah satunya tanpa kepala.

​"Waktu itu, katanya hanya ada enam orang di pulau," suara Senior Yoiko serius. "Pembunuh berantai 'O', empat pegawai lab, dan detektif swasta Toma Kiryu."

​"Tunggu sebentar," selaku. "Wujud detektif itu tidak pernah dilihat siapa pun, kan? Bagaimana bisa tahu itu Toma Kiryu?"

​"Makanya kukatakan 'katanya'." Ekspresi percaya diri Senior Yoiko tak berubah. "Sesaat sebelum kejadian, ada kapal nelayan lokal yang mengantar satu penumpang ke sana. Kapal itu biasa mengantar-jemput pegawai lab ke pulau utama, tapi penumpang yang satu itu belum pernah dilihat sebelumnya."

​"Apa buktinya dia Toma Kiryu?"

​"Tidak ada. Hanya metode eliminasi," Senior Yoiko mengangkat tiga jarinya. "Satu, yang bisa masuk lab cuma pegawai atau pihak kepolisian terkait kasus. Dua, tidak ada catatan polisi pergi ke pulau hari itu. Tiga, Toma Kiryu adalah orang yang menangkap si pembunuh berantai; dia pihak yang sangat terkait."

​Meski kurang meyakinkan, aku mencoba menelannya. "Lalu... identitas keempat korban?"

​"Tiga pegawai lab dan si pembunuh berantai 'O'. Yang kepalanya dipenggal adalah 'O'. Satu pegawai dan Toma Kiryu menghilang."

​"Bagaimana dengan kemungkinan mayat hangusnya ditukar?"

​Menanggapi pertanyaan beruntunku, Senior Yoiko tersenyum senang.

​"Bagus. Mesinmu sudah panas rupanya, Icchan."

​Aku refleks tersenyum kecut. Padahal aku sering kehabisan kata di depan Ayukawa, tapi kalau terseret obrolan misteri Senior Yoiko, aku malah jadi cerewet. Aku merasa sedikit bersalah pada Ayukawa.

​"Hasil tes cetakan gigi dan DNA memastikan semua jenazah adalah milik yang bersangkutan. Kemungkinan manipulasi data memang ada, tapi mengubah data di luar pulau secara realistis sangat sulit. Kesimpulan apa yang bisa ditarik dari situ?"

​Mendapat pertanyaan itu, refleks aku bergumam.

​"Pelakunya adalah pegawai lab yang hilang, atau..."

​"Benar. Itulah inti sekaligus misteri terbesar dari cerita ini," Senior Yoiko menjentikkan jarinya sambil tersenyum sinis. "Artinya, ada kemungkinan detektif swasta Toma Kiryu adalah pelakunya. Kejutan yang tak terduga, tapi sangat mungkin terjadi di kisah misteri otentik."

​"Kalau begitu, apa motifnya?" tanyaku membalas. "Toma Kiryu kan yang menangkap pembunuh berantai itu? Kalau dia cuma mau membunuh 'O', dia tidak perlu repot-repot memilih laboratorium pulau terpencil, dan tak punya alasan membunuh pegawai lain."

​"Bukan tidak punya. Tepatnya, belum ditemukan."

​Aku terdiam sesaat mendengar tanggapannya. Memang benar, tapi aku tetap tak puas.

​"...Tapi, Senior pasti tidak setuju dengan kemungkinan itu," sanggahku. "Iya, kan?"

​"Wah, gaya bicaramu sok tahu sekali, Icchan. Mirip pacarku saja."

​"Tolong jangan bercanda."

​"Menyebalkan."

​Setelah pura-pura kesal, Senior Yoiko tertawa lepas. Tapi aku tak bisa ikut tertawa. Saat aku sekilas menatap Ayukawa, pandangan kami bertemu. Aku langsung membuang muka dan segera bicara.

​"Senior Yoiko yang memuja detektif tidak mungkin membiarkan skenario seperti itu. Aku bisa tahu dari keseharian Senior."

​"Yah, itu memang benar," angguknya ringan. "Sejujurnya aku menolak teori detektif sebagai pelakunya."

​Yoiko Kusanagi sangat menyukai misteri di mana detektif beraksi memecahkan kasus, dan memendam kekaguman luar biasa pada sosok detektif hebat. Alasannya masuk fakultas kedokteran pun supaya bisa melakukan autopsi kalau terjebak dalam insiden ruang tertutup. Meski dulu dia mengatakannya sambil bercanda saat mabuk, matanya terlihat serius.

​Senior Yoiko bersandar, menatap ke udara lalu berkata, "Toma Kiryu menghilang untuk mengejar pelaku sebenarnya. Itulah deduksiku... Tidak, itu harapanku."

​"Pulau Akon itu," tanyaku, "apa bisa diseberangi dengan berenang ke pulau utama?"

​"Mustahil. Jaraknya dua puluh kilometer, butuh sepuluh menit dengan kapal. Tapi beda cerita kalau ada kapal yang disembunyikan di pulau itu."

​"Kalau dibalik, apa mungkin hari itu ada orang luar yang datang ke pulau dengan kapal?"

​"Ups, aku lupa menyebutkan hal penting," Senior Yoiko menepuk tangannya. "Saking klasiknya sampai kuanggap semua orang sudah tahu. Di hari kejadian, pulau itu sedang dilanda badai besar."

​Pulau terpencil yang dilanda badai. Aku refleks tertawa kecil.

​"Begitu, menarik juga."

​"Iya, kan? Ini ruang tertutup yang benar-benar sempurna layaknya sebuah lukisan," wajah Senior Yoiko makin cerah. "Kita bisa menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di panggung insiden itu. Tidakkah kalian merasa antusias?"

​Sejujurnya, aku tidak begitu tertarik. Aku hanya merasa topik itu disukai Ayukawa. Sesuai dugaan, saat kulihat sekilas, Ayukawa mendengarkan cerita Senior Yoiko dengan mata berbinar.

​"Lalu," kataku menurunkan antusiasme sedikit. "Berapa kuota peserta tur itu?"


◾️▪️◾️▪️◾️


​Ingatanku saat berkenalan dengan Jun Moriai lumayan samar. Yang pasti, saat itu kami baru berusia 20 tahun dan sama-sama sangat mabuk.

​Saat terbangun, entah mengapa aku terbaring di atas kap mobil biru rongsokan sambil memeluk erat tongkat pemukul bisbol logam. Cahaya pagi bulan Agustus menyorot tubuhku, membuatku bersimbah peluh. Saat bangkit, kepalaku sakit dan persendianku berderak. Rasanya seperti jiwa yang dipaksa masuk ke tubuh robot rongsokan.

​Saat melihat sekeliling, tempat itu seperti tempat parkir yang sangat luas. Namun, aspalnya retak dengan rumput liar tumbuh lebat di celahnya. Tepat di belakangku menjulang bangunan besar berdinding seng berkarat. Sepertinya itu pabrik terbengkalai. Di berbagai sudut area itu, sekitar tujuh pria yang tampak seperti mahasiswa sepertiku tergeletak mendengkur. Pemandangan yang benar-benar kacau.

​"Yo."

​Tanpa kusadari, di samping mobil berdiri seorang pemuda berambut perak psikedelik.

​"Minumlah, aku baru membelinya di mesin penjual otomatis sana."

​Mengatakan itu, dia menyodorkan botol air mineral berembun. Karena sangat haus, aku mengambil botol itu dan menegaknya habis dalam satu tarikan napas. Air itu terasa sangat enak sampai aku ingin menangis.

​"Kita sama-sama kena sial, ya," tawanya.

​Katanya, dia 'terseret' saat sedang minum dengan kakak tingkat kampusnya di kota. Dia adalah mahasiswa fakultas ekonomi di kampus yang sama denganku dan seangkatan denganku. Dari dasar kepalaku yang berdenyut nyeri, aku mencoba menarik keluar ingatan. Lalu, aku teringat bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku.

​Untuk merayakan usia 20 tahun, tadi malam aku diseret minum-minum oleh Senior Yoiko. Berpindah dari satu kedai ke kedai lain, Senior Yoiko mengumpulkan orang layaknya Peniup Seruling dari Hamelin. Saat jumlahnya melebihi 18 orang, kurasa pemicunya adalah seseorang yang bergumam, "Dengan jumlah segini, kita bisa main bisbol." Setelah itu, terbawa pengaruh alkohol, kami semua menyerbu tempat parkir pabrik terbengkalai ini.

​"Pada akhirnya, kita tidak mendapat bola maupun sarung tangan bisbol, jadi kita malah main bisbol tendang pakai bola voli yang kebetulan ada di sana. Ingat sampai situ?"

​"Sedikit," jawabku sambil memijat pangkal hidung. "Tapi aku tidak ingat apa-apa setelah itu."

​"Tidak apa-apa, mungkin tidak ada yang ingat."

​Sambil tersenyum sinis, dia menunjuk para mahasiswa yang bergelimpangan di sekitar. Di sekitar berserakan kaleng bir kosong. Kata 'tumpukan mayat' terlintas di kepalaku.

​"Intinya," ucapnya. "Tidak diragukan lagi itu malam yang sangat menyenangkan."

​"...Senior Yoiko?"

​"Bos wanita itu? Aku melihatnya membawa beberapa orang menuju pusat hiburan di tengah acara. Sambil berteriak mau minum lagi."

​"Apa dia monster."

​Mungkin mengingat kejadian saat itu, pemuda itu terkekeh.

"Orang itu menarik."

"Setuju."

"Aku Jun Moriai. Panggil saja Jun."

"Aku Itsuki Moyura. Panggil saja Itsuki."

"Hei, Itsuki. Mau minum kopi? Yang sangat pekat sampai bikin melek."

"Setuju."

​Begitulah caraku dan Jun bertemu.



​"Itsuki, tolong minta Kusanagi-san agar aku juga bisa ikut."

​Saat kuberitahu percakapanku dengan Senior Yoiko siang tadi, Jun memintanya.

​"Serius?" Aku mengerjap. "Jun, sejak kapan kau tertarik hal begitu?"

​Waktu menunjukkan lewat pukul sembilan malam. Aku dan Jun sedang duduk bersebelahan di konter restoran gyudon 24 jam dekat kampus sambil menyantap gyudon. Aku baru pulang seminar kampus, sedangkan Jun akan berangkat kerja paruh waktu di bar. Jika waktu luang kami bersamaan, kami sering makan malam bersama seperti ini.

​"Misteri adalah darah dan dagingku."

​Mengucapkannya dengan nada acuh tak acuh, Jun menyuapkan gyudon ke mulutnya.

​"Padahal bukan anggota Klub Misteri, bicara sembarangan lagi," tegurku takjub sambil ikut menyuap gyudon.

​"Aku memang bukan anggota Klub Misteri," ucap Jun sambil meletakkan mangkuk kosongnya. "Tapi aku sudah sering minum dengan Kusanagi-san bersamamu. Kami bukan orang asing lagi."

​Aku meletakkan sumpit, menatap mata serius Jun sejenak, lalu menghela napas.

"...Apanya yang bagus dari Senior Yoiko?"

"Wajah dan posturnya, lalu mungkin sifat avangard-nya."

"Intinya, hampir semuanya, kan."

​"Lihat, motifku sangat jelas. Musim panas tahun ini aku terlalu sibuk kerja paruh waktu sampai tidak bisa pergi ke mana-mana. Kurasa tidak apa-apa kalau aku membuat kenangan musim panas di pantai pulau tak berpenghuni."

​"Ini sudah September, musim panas sudah lama berakhir. Lagipula, kita tidak pergi ke pantai, tapi ke bekas laboratorium yang setengah terbakar."

​Aku menghela napas lagi. Kata 'cinta tak berbalas' melintas di benakku. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan Yoiko Kusanagi menjalin hubungan asmara dengan seseorang. Kecuali lawannya adalah detektif hebat.

​"Lalu, apa motifmu?" Dia mengarahkan ujung sumpitnya padaku. "Itsuki juga tidak begitu antusias dengan insiden Pulau Akon, kan? Kau bahkan cukup skeptis tentang pembunuh berantai atau detektif hebat itu."

​Ditanya begitu, aku bingung menjawab. Tidak mungkin aku menjawab karena Tsukino Ayukawa ikut. Saat menyadari pikiranku sendiri, aku menghela napas untuk ketiga kalinya. Pada akhirnya, aku dan dia sama saja.

​"Baiklah, aku akan tanya Senior Yoiko."

​Aku mengeluarkan ponsel dan menulis pesan di grup LINE Klub Misteri, menanyakan apakah Jun boleh ikut. Pesan langsung dibaca dan balasannya datang. Tidak sampai tiga detik.

​"Katanya boleh."

"Cepat sekali."

"Balasan LINE orang itu selalu sangat cepat."

​Jun juga mengeluarkan ponselnya dan membuka layar LINE.

"Aku juga harus berterima kasih. 'Terima kasih sudah mengizinkanku ikut',"

​Rupanya dia sudah bertukar ID dengan Senior Yoiko. Setelah menekan tombol kirim, Jun menatap layar sekitar 30 detik, lalu mengangkat wajahnya.

"...Hei, belum dibaca. Bukannya balasannya cepat?"

"Mungkin kecepatannya akan naik kalau masuk Klub Misteri."

​"Macam penawaran provider internet saja," Jun tertunduk lesu. "Ngomong-ngomong, berapa pesertanya?"

"Sejauh ini, termasuk aku dan kau, ada lima orang."

"Lima orang? Kusanagi-san, lalu dua orang lagi siapa? Orang yang pernah kutemui?"

"Tsukino Ayukawa dan Aime Rokuzu. Kau pernah bertemu Ayukawa sekali. Ingat saat barbeku dengan Senior Yoiko musim panas lalu?"

"Ah, Ayukawa-san itu gadis yang memakai gaun hijau ya. Eh, atau biru?"

​Sepertinya ingatan tentang orang yang tidak diminatinya tidak terlalu jelas. Aku sedikit lega. Secara halus, wajah Jun Moriai jauh lebih tampan dariku. Omong-omong, hari itu Ayukawa memakai gaun biru dongker.

​"Lalu, siapa tadi? Rokuzu, Ai...? Nama yang sangat langka."

"Ditulis dengan kanji kacang hijau, dan hujan pada cinta, dibaca 'Rokuzu Aime'. Mahasiswi baru tahun ini," jawabku singkat.

"Aime-chan, ya. Apa aku pernah bertemu dengannya? Punya fotonya?"

"Tidak ada."

​Aku menjawab cepat. Jun mengerjap melihat reaksiku. Namun, tak lama senyum penuh arti muncul di bibirnya.

"...Begitu rupanya."

"Apanya?"

"Itu motifmu rupanya."

​Mendengar nada bicaranya yang sok tahu, aku refleks berdecak. Itu salah paham, tapi aku tak bisa memikirkan alasan untuk meralatnya.

​"Anak bernama Aime-chan itu, sosok penting bagi Itsuki, huh."

​Mendengar ucapan Jun, aku tetap diam.

Bukan karena tak menemukan alasan. Tapi karena itu fakta.



​"Detektif hebat favoritku adalah Senior Itsuki Moyura."

​Enam bulan lalu. Menggoyangkan kuncir dua warnanya, dengan tubuh mungil yang membusungkan dada penuh percaya diri, Aime Rokuzu mengumumkan hal itu. Saat itu, aku merasa suhu wajahku naik dengan tidak nyaman. Tentu saja bukan karena tersipu, melainkan malu.

​Itu terjadi saat Aime mengunjungi ruang klub untuk pertama kalinya guna mendaftar Klub Misteri. Setelah menyebutkan nama dan asal sekolahnya, Senior Yoiko bertanya, "Siapa detektif hebat favoritmu?" dan dia menjawab demikian.

​"Bicara apa kau," tegurku pelan. Aime justru menjawab dengan senyum ceria.

"Soalnya Senior selalu bisa menebak trik dan pelaku novel misteri yang kutulis sebelum membaca bab penyelesaiannya. Sangat patut dihormati."

​Itu karena karyamu..., kata-kata itu hampir terucap, namun aku memijat pelipis dan diam. Aku tidak akan pernah menjelek-jelekkan karya orang lain. Itu adalah prinsip hidupku.

​Senior Yoiko menatap interaksi kami dengan senyum geli.

"Kau dapat junior yang menyenangkan. Eh, atau memang dari awal sudah jadi juniormu?"

"Ya, dia junior seumur hidupku,"

Aime membusungkan dada bangga.

​Dia adalah adik kelasku di SMA yang sama, SMP yang sama, dan SD yang sama. Bisa dibilang, teman masa kecil.

​"Melihat nama di formulir, Senior Yoiko berkomentar. 'Tapi Rokuzu itu marga yang langka.'

"Ya. Tolong panggil aku Rock, semua orang memanggilku begitu," angguk Aime bangga.

"Bohong."

"Selamat datang di Klub Misteri, Rock. Kami menyambutmu."

​Saat Senior Yoiko berkata begitu, anggota lain bertepuk tangan. Aime tampak sangat senang dan bersikap ramah pada sekeliling.

​"Kegiatan kita utamanya ada dua," jelas Senior Yoiko. "Tukar pendapat buku tugas bulanan, dan penerbitan antologi dua kali setahun. Antologi terbit saat Open Campus bulan Juni, dan Festival Kampus bulan Oktober. Anggota baru juga harus langsung menulis satu cerita pendek untuk antologi bulan Juni."

"Sesuai harapanku."

​Melihat Aime mengangguk antusias, aku menghela napas. Seperti biasa, kepercayaan dirinya yang tak berdasar adalah misteri terbesar.

​"Ngomong-ngomong, Ketua Kusanagi!" Aime mengangkat tangan dengan penuh semangat.

"Ada apa, Rock. Panggil saja aku Yoiko-chan."

"Baik, Senior Yoiko-chan. Kalau begitu tolong panggil aku Aime-cchi juga."

"Bukan Rock, heh."

​Mengabaikan sindiranku, Aime melempar pertanyaan. "Di antara kalian, siapa yang menulis misteri paling menarik?"

​Semua orang di sana mendadak kaku, lalu serempak menatap ke satu titik. Di sana ada Ayukawa.

​"Mungkin dia," jawab Senior Yoiko santai. "Bagaimanapun juga, Tsukino Ayukawa adalah harapan Klub Misteri kita yang karyanya pernah masuk nominasi akhir penghargaan pendatang baru."

"Kamu terlalu melebih-lebihkan, Yoiko-san."

​Ayukawa menggeleng sambil tersenyum canggung. Aime menghampiri gadis itu dan tiba-tiba meraih tangannya.

​"Impianku adalah menulis misteri yang bisa membuat Senior Itsuki tercengang suatu hari nanti."

"Eh?"

"Jadi, tolong ajari aku cara menulis misteri yang menarik."

​Melihat Aime berbicara dengan wajah serius, Ayukawa mengerjap. Aku menarik kerah belakang Aime dan menjauhkannya.

​"Ayukawa, tidak perlu menganggap serius ucapan anak ini."

"Apa sih, Senior."

"Kau tenang sedikit. Kau terlalu bersemangat."

"Terlalu bersemangat sampai seperti dewa, tahu?"

"Itu berlebihan. Lagipula, kenapa kau menganggapnya sebagai pujian."

"Mungkin ini pelampiasan karena aku di-bully saat SMP."

"Jangan masukkan episode berat, susah menanggapinya."

"Sebagai gantinya, aku habiskan masa SMA dengan tertawa, jadi impas."

"Baguslah kalau begitu."

​Ayukawa menatap interaksi kami dengan tercengang. Menyadari tatapannya, aku refleks terdiam. Tanpa sadar, aku memperlakukan Aime seperti biasa. Kata-kata yang kutelan kembali menciptakan kecanggungan di dadaku.

​"Itsuki-kun, ternyata kau bisa bicara seperti itu juga."

​Senyum Ayukawa saat mengatakan itu terlihat sedikit sedih bagiku. Saat aku hendak membalas, tatapannya sudah beralih ke Aime.

​"Aku bukan orang hebat yang bisa mengajari hal semacam itu," Ayukawa membalas genggaman tangannya. "Tapi kalau aku tidak apa-apa, aku akan membantu. Mari menulis novel yang menarik bersama."

​Melihat Ayukawa tersenyum manis, wajah Aime ikut cerah dan membalas genggamannya.

"Mohon bimbingannya, Guru!"

"Jangan panggil guru. Panggil saja Tsukino, Aime-chan."

"Dimengerti, Senior Tsukino!"

​Melihat mereka berdua berhadapan dan berjabat tangan, aku merasa gelisah. Rasanya seperti dua garis lurus yang seharusnya tidak berpotongan—tidak, yang seharusnya dihindari agar tidak berpotongan—secara kebetulan malah bersilangan.

​Intinya, itulah kontak pertama antara Tsukino Ayukawa dan Aime Rokuzu.



​Setelah berpisah dengan Jun dan kembali ke apartemenku, Aime tampak sedang duduk bersila dengan wajah berkerut, mengenakan kamisol dan hot pants. Ia sedang menatap tajam layar laptop di atas meja, sepertinya sedang sibuk menulis naskah. Ia bahkan tidak menyadari suara pintu terbuka maupun langkah kakiku, saking fokusnya.

​"Aku pulang," kataku.

​Mendengar suaraku, barulah Aime mengangkat wajahnya.

"Ah, Senior Itsuki, selamat datang kembali."

​"Aku belikan gyudon."

​"Uwooh, luar biasa Senior. Anda memang dewa."

Melihat Aime menangkupkan kedua tangan seolah menyembahku, aku hanya bisa menghela napas. Jika sudah fokus pada naskahnya, dia cenderung melupakan makan dan tidur. Karena hari ini ia tidak ada kelas siang, aku sudah menduga dia pasti mengurung diri di kamar tanpa makan malam.

​"Karena kau tidak membalas LINE, aku belikan yang sama seperti sebelumnya. Nih, gyudon keju."

​"Deduksi yang hebat. Gyudon keju memang yang terbaik. Mantap jiwa."

Rasanya aku seperti sedang diledek, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Ia mungkin hanya sekadar memuji gyudon keju tersebut. Mungkin.

​"Lagian, balas dong pesanku. Kau tidak lihat ponselmu, ya?"

​"Myaf, affu lagfi fofus (Maaf, aku lagi fokus)," jawab Aime sambil membesarkan mulutnya yang penuh dengan gyudon.

​Sambil menghela napas, aku mulai mengganti baju di sebelahnya. Tanpa memedulikanku, Aime terus melahap gyudon itu dengan wajah sangat bahagia.

​Aku dan Aime sudah tinggal bersama sejak setengah tahun yang lalu, tepatnya setelah dia berusia 18 tahun dan keluar dari panti asuhan. Sebelumnya aku tinggal di asrama mahasiswa, tapi aku bekerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang jaminan agar bisa pindah ke sini musim semi lalu demi tinggal bersamanya. Sekarang kami membayar uang sewa menggunakan gaji paruh waktu dan beasiswa kami.

​Tentu saja, kami merahasiakan fakta bahwa kami tinggal bersama dari siapa pun. Baik Jun, Ayukawa, atau bahkan Senior Yoiko yang masih mengira aku tinggal di asrama.

​Untuk menyembunyikan fakta ini sepenuhnya, aku dan Aime menerapkan aturan ketat: tidak berangkat ke kampus bersama, tidak pulang bersama, dan tidak makan bersama di luar. Membicarakan soal makanan bisa tanpa sadar membongkar rahasia kami, dan ada risiko hubungan kami dicurigai. Kami tidak ingin orang lain menghakimi hubungan kami secara sepihak.

​"Huft, syukurlah kenyang."

Karena saking laparnya, Aime sudah menghabiskan gyudonnya saat aku baru saja melempar kausku.

​"Cepat sekali, nanti kau gemuk lho."

"Perut Senior Itsuki juga akhir-akhir ini mulai buncit."

​Mendengar bantahannya, aku refleks menyentuh perutku.

—Di ujung jariku, terasa tekstur bekas luka yang menonjol.

​Aime juga menatap titik itu, lalu tersenyum dengan sedikit sedih.

"...Tidak bisa hilang sepenuhnya, ya."

"Ya, mau bagaimana lagi."

​Aku mengangguk seolah itu bukan masalah besar, lalu menarik baju kaus dari atas kepalaku.

​Bekas luka ini kudapat enam tahun yang lalu.

—Tepat saat insiden pembunuhan berantai yang merenggut nyawa orang tuaku dan orang tua Aime.

​Waktu itu usiaku 14 tahun, tapi sebenarnya aku hampir tidak punya ingatan apa-apa tentang kejadian tersebut. Hanya potongan-potongan gambar yang terukir di benakku. Kata dokter, itu semacam amnesia disosiatif akibat stres. Namun, Aime yang saat itu berusia 12 tahun mengingatnya dengan sangat detail. Katanya, akulah yang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya hingga akhir.

​Tiba-tiba, aku merasakan suhu tubuh Aime di punggungku. Ia memelukku dari belakang. Baik aku maupun dia tidak mengatakan apa-apa.

​Di dunia ini, sekarang hanya tinggal kami berdua.

Oleh karena itu, kami tidak boleh berpisah.

​Keyakinan aneh namun kuat itulah yang mengikat kami berdua. Semacam kutukan yang membuat jiwa kami saling menempel. Rasanya mirip dengan survivor's guilt—rasa bersalah yang dialami oleh mereka yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari sebuah tragedi.

​"...Novel apa yang sedang kau tulis sekarang?"

Tanyaku dari balik punggung dengan nada biasa. Aime pun melepaskan pelukannya seolah tak terjadi apa-apa, lalu mulai bercerita dengan lantang.

​"Kali ini luar biasa lho. Novel misteri dengan aturan khusus. Judulnya 'Kasus Pembunuhan Ruang Tertutup yang Tercipta Lima Menit Sebelumnya'."

​"Judulnya lumayan menarik."

​"Ditemukan mayat korban pembunuhan di dalam ruang tertutup yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Ini adalah ruang tertutup absolut yang tidak bisa diciptakan dengan trik apa pun. Hehehe, kali ini aku pasti akan membuat Senior Itsuki tercengang."

​"...Jangan bilang plot twist-nya ternyata Tuhan sudah menciptakan dunia ini dengan mayat di dalam ruang tertutup sejak lima menit yang lalu."

​Mendengar tebakanku, Aime langsung menganga dengan ekspresi putus asa.

"K-k-kenapa Senior bisa tahu?!"

"Ketebak banget."

"Seriusan?!"

"Ya... menjadikan Tuhan sebagai pelaku memang inovatif dalam satu sisi. Tapi kalau kau tidak mau di-huuu oleh penggemar misteri, sebaiknya batalkan saja ide itu."

​Saat aku menepuk-nepuk kepala Aime yang sedang murung, suasana di antara kami sudah kembali seperti biasa. Ya, begini saja sudah cukup. Tragedi yang serius tidak cocok untuk kami. Kami hanya perlu terus menghabiskan waktu dengan obrolan konyol seperti ini.

……Terus menghabiskan waktu?

​Tiba-tiba, pandanganku terasa kelabu. Apakah aku berniat untuk terus hidup bersama Aime selamanya? Kalau begitu, apa arti perasaanku terhadap Tsukino Ayukawa? Bagaimana aku harus menyikapi perasaan ini?

​Rasa cemas dan bingung yang samar mulai menyebar seperti air yang meresap ke dalam spons. Aku menggelengkan kepala untuk menepisnya.

​"Ah, ngomong-ngomong soal LINE dari Senior Yoiko tadi," ucap Aime tiba-tiba teringat.

"Ke pulau itu, Senior Itsuki juga ikut, kan?"

"Eh, iya."

​Sesaat wajah Ayukawa terlintas di pikiranku, membuatku refleks memalingkan pandangan dari Aime. Agar tidak ketahuan, aku mengeluarkan kata-kata yang aman.

"Rencananya kita akan menginap tiga hari dua malam pada libur panjang minggu depan. Harus mulai siap-siap dari sekarang. Ngomong-ngomong, kau punya tas travel..."

​"—Sungguh mau pergi?"

Aime bertanya dengan ekspresi sangat serius. Aku terkejut dan bingung. Saat aku menoleh, anehnya mata Aime tampak tak bercahaya. 

​"Maksudmu?"

​"Bukan apa-apa," Aime menggelengkan kepala, dan suasana aneh tadi langsung sirna. Berganti dengan senyum usil di bibirnya.

​"Habisnya, pergi ke pulau terpencil itu kan naik perahu. Pasti cuma perahu kecil yang bisa terbalik kalau kena ombak besar. Senior Itsuki juga tidak bisa berenang. Waktu SD saat naik kapal wisata di Matsushima Senior menangis histeris."

​"Itu cerita bertahun-tahun yang lalu," balasku, ikut tersenyum lega.

​"Gimana ya, apa bawa baju renang buat jaga-jaga? Tapi aku cuma punya baju renang sekolah pas SMP dulu."

"Kenapa baju kayak gitu masih kau simpan, sih."

"Pokoknya aku tidak sabar ke pulau tak berpenghuni. Oke, lebih baik aku cari baju renangnya aja deh."

​Melihat Aime dengan riang mengobrak-abrik lemari di ruangan sebelah, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Baik Aime maupun Jun, sepertinya mereka lupa kalau tempat yang akan kami tuju adalah pulau tempat terjadinya insiden pembunuhan.

​Tiba-tiba aku menyadari tirai kamar belum ditutup. Sambil menghela napas, aku berniat menutupnya.

​—Sungguh mau pergi?

​Tatapan Aime tadi kembali teringat, membuat tanganku seketika terhenti. Entah kenapa, aku merasa dia bisa melihat jauh ke dalam lubuk hatiku. Senyum Tsukino Ayukawa kembali terbayang, dan seolah ingin melarikan diri darinya, aku buru-buru menutup tirai itu.

​Di dalam kamar yang hening tengah malam ini, hanya senandung Aime yang terdengar.

◾️▪️◾️▪️◾️


​Hari keberangkatan sangat cerah, tapi dari balik pegunungan di barat, awan gelap yang pekat sudah mulai merayap menyerang langit biru. Saat aku berbalik seratus delapan puluh derajat dan mengintip ke bawah dari pagar pembatas jalan, terlihat ombak putih menghantam tebing curam. Pemandangan yang membuat tubuh merinding.

​Di sebelahku, Jun berjongkok sambil menyatukan tangan dan memejamkan mata selama sekitar satu menit. Di depannya terdapat bunga persembahan kecil dalam botol susu yang kelopaknya bergoyang tertiup angin laut.

​"Maaf, membuatmu harus mampir ke sini," ucap Jun berdiri, lalu berjalan menuju mobilnya yang diparkir di tepi jalan tanpa menoleh ke belakang.

​Sempat ragu apakah aku harus bertanya, tetapi pada akhirnya pertanyaan itu tetap keluar dari mulutku.

"Kenalanmu?"

"Bisa dibilang, dia seperti separuh diriku."

​Ia mengatakannya dengan santai, lalu masuk ke kursi pengemudi mobil Opel Speedster biru bekasnya. Aku menelan pertanyaanku tentang siapa orang itu dan kapan kejadiannya. Nada bicaranya menunjukkan bahwa dia tidak ingin ditanya lebih jauh. Aku duduk di kursi penumpang tanpa bicara, dan Jun pun menyalakan mesin dalam diam. Selagi aku mencari kata-kata, mobil mulai bergerak.

​Mobil itu melaju lincah di jalan pesisir yang berkelok, diiringi lagu Oasis dari stereo mobil. Liam Gallagher bernyanyi dengan suaranya yang khas, "Jika aku jatuh, tolong tangkap aku". Lagu yang sudah sangat lama. Sangat pas untuk diangkat sebagai topik pembicaraan saat ini.

​"Selera Jun benar-benar klasik."

Mendengar ucapanku, ia tersenyum sinis sambil tetap memegang kemudi.

"Mobil maupun rock 'n' roll, era 90-an adalah yang terbaik."

"Padahal waktu itu kau belum lahir."

"Ini bukan sekadar nostalgia, tapi penilaian yang adil."

"Bukannya lagu 'Lyla' ini rilis tahun 2000-an?"

"Kalau begitu, anggap saja era 2000-an juga yang terbaik."

​Kami saling bertukar lelucon ringan, memunculkan tawa hambar layaknya bir yang kehilangan sodanya. Ia mengambil sebatang rokok Seven Stars, menyalakannya dengan pemantik Zippo, lalu membuka jendela. Di zaman sekarang masih menghisap rokok kertas biasa daripada rokok elektrik, seleranya memang sangat klasik.

​Pagi ini, aku dan Aime keluar rumah secara terpisah. Aku pergi ke depan asrama mahasiswa tempatku dulu tinggal, lalu dijemput oleh mobil Jun. Aime, Senior Yoiko, dan Ayukawa berangkat ke tempat pertemuan di dermaga menggunakan kereta. Seperti biasa, ini taktik agar hubungan kami tidak dicurigai. Sesuai rencana, Jun masih mengira aku benar-benar tinggal di asrama mahasiswa tersebut.

​"Itsuki, sampai kapan kau mau tinggal di tempat seperti itu? Anak perempuan jadi tidak bisa mampir."

"Sewanya murah, dan pindahan itu merepotkan. Aku berencana tinggal di sana sampai lulus. Lagipula, masa kuliah kita tinggal setahun lebih sedikit. Konyol kalau baru pindah sekarang."

Aku berbohong dengan lancar sambil membuang muka ke arah jendela.

​"Menjadi tuan di kastil sendiri itu status bagi seorang pria, tahu."

"Apa menyewa kastil juga termasuk status?"

"Tapi, siapa tahu hubunganmu dengan si Aime-chan itu bisa makin maju."

​Aku terdiam. Jun salah paham mengira aku menyukai Aime. Saat itu aku sama sekali tidak membantahnya, jadi wajar saja jika dia berpikir begitu.

​Tapi, aku berpikir.

Jika di Pulau Akon nanti dia mencoba memberikan 'bantuan' ke arah yang tidak kuinginkan, itu bisa merepotkan. Aku sangat ingin menghindari Ayukawa salah paham.

​"—Aime cuma teman masa kecilku," kataku tanpa sadar.

"Bohong," balas Jun seketika.

"Tidak bohong."

"Bohong."

Jun menatap lurus ke arah jalan dengan mata serius.

"Aku bisa tahu."

​Aku tidak bisa berkata apa-apa. Setidaknya, aku tidak bisa menyangkal kalau ucapanku bukanlah kebohongan.



​"Kalian telat," ucap Senior Yoiko sambil bersedekap begitu kami bertemu. Saat tiba di tempat parkir dermaga, ketiga orang selain kami sudah berkumpul. Jun menyatukan kedua tangannya dan meminta maaf berulang kali.

​"Maaf, Kusanagi-san. Banyak jalan yang ditutup jadi satu lajur karena ada perbaikan."

"Aku tidak marah kok. Hanya nilai kesukaanku pada Jun saja yang turun."

"Itu namanya marah."

"Kalau kau membawakan barang bawaan kami, nilainya akan pulih."

​Melihat kepanikan Jun, ekspresi Senior Yoiko melembut. Dari kejauhan aku melihat Ayukawa tertawa kecil melihat interaksi itu, dan entah mengapa hal itu membuatku merasa cemburu. Menyadari kecemburuan konyol itu membuatku merasa kekanak-kanakan dan sedikit kesal pada diriku sendiri.

​"Itu yang namanya Jun Moriai?" tanya Aime sambil bersembunyi di balik punggungku.

"Ya, temanku. Aku sudah sering cerita, kan."

"Teman..." Mata Aime menyipit curiga. Aku memiringkan kepalaku heran.

"Ada apa? Kenapa kau ketakutan?"

"...Aku tidak tahan dengan rambut perak." Aime memalingkan wajah dan berkata canggung.

"Eh?"

"Waktu SD aku menonton Neon Genesis Evangelion, dan adegan saat Kaworu mati jadi trauma buatku. Sejak itu aku tidak tahan melihat rambut perak. Dekat-dekat orang berambut perak bikin aku merasa putus asa, seperti suasana Minggu sore."

"Itu trauma yang... sangat spesifik."

​Lalu Jun yang menyadari kehadiran Aime mendekat dengan senyum ramah.

"Kamu Aime-chan? Aku sering dengar tentangmu dari Itsuki. Salam kenal."

Mulutnya tersenyum, tapi mata Jun terlihat serius. Sesaat ia melirikku, lalu mengedipkan sebelah matanya. Sepertinya itu kode bahwa ia akan 'membantu' pendekatanku. Aku sangat ingin memintanya agar jangan ikut campur, tapi tidak mungkin mengatakannya di sini.

​Sementara itu, Aime menatap curiga Jun sambil melangkah mundur pelan-pelan, bagaikan kucing yang waspada pada orang asing.

"...Hah, salam kenal."

Mendengar nada bicara Aime yang sangat datar, Jun mengerjapkan matanya. Ia lalu berbisik padaku.

"...Kok kayaknya aku dicurigai, ya?"

"Katanya dia tidak suka orang berambut perak."

"Padahal ini warna rambut asliku."

​Saat aku hendak menyanggah bahwa itu tidak mungkin, Senior Yoiko bergumam pada dirinya sendiri.

"Sepertinya ini akan jadi pulau badai."

Sambil menengadah ke langit dan membiarkan rambut ikatnya tertiup angin laut, Senior Yoiko tersenyum sinis. Senyum yang terlihat sangat menikmati situasi.

​Di hadapan kami, Samudra Pasifik beriak tenang. Jika memicingkan mata ke cakrawala dari dermaga, terlihat sebuah pulau kecil menyerupai noda hitam. Sepertinya itu Pulau Akon. Di dermaga, sebuah perahu nelayan kecil sudah bersiap, dan kapten yang disewa Senior Yoiko tampak bosan menghisap rokoknya.

​"Itsuki-kun," panggilan itu membuatku langsung menoleh. Ayukawa menatapku dengan sedikit cemas.

"Tadi aku mengobrol dengan Yoiko-san dan Aime-chan, Itsuki-kun bawa baju renang juga?"

"Mana mungkin. Kita kan bukan mau liburan," tawaku. "Yang bawa baju renang paling cuma kalian berdua dan Jun."

"...Kalau begitu, kami bertiga jadi minoritas, dong?"

​Mendengar ucapan Ayukawa, aku hampir berdecak lidah. Benar juga, sebagian besar anggota di sini justru menganggapnya santai. Memperhatikan wajahku yang mengerut, Ayukawa tertawa pelan.

"Kita berdua seperti kacang macadamia, ya."

Kacang macadamia? Pikiranku membeku sejenak, lalu menyadari itu adalah salah satu tebak-tebakan lelucon kami. Kata itu pernah muncul di...

"...Ah, The Perfect Insider (Subete ga F ni Naru)," jawabku sambil mengangkat tangan sedikit.

"Benar," Ayukawa tersenyum manis. "Latar cerita itu kan juga laboratorium di pulau terpencil. Makanya aku agak menantikan kunjungan ini."

"Agak?"

Ayukawa tersenyum tersipu. "Maaf, bohong. Aku sangat menantikannya. Kalau Itsuki-kun?"

"Aku juga lumayan menantikannya."

"Lumayan?"

"...Ya, cuma lumayan."

​Itu bohong. Namun, alasanku menantikannya bukanlah tempat tujuan kami. Seolah mencoba membaca isi hatiku, Ayukawa mencondongkan tubuh dan menatap mataku. Aku mengerutkan alis.

"Apa?"

"Kupikir sesama kacang macadamia harus akur..."

Kata-katanya membuat suhu wajahku sedikit naik. Aku refleks membuang muka. Namun, sebelum itu, kulihat Ayukawa lebih dulu memalingkan pandangannya. Seolah mencari pelarian dari perasaan canggung ini, aku menatap lurus ke arah cakrawala.

​Jauh di sana, Pulau Akon terlihat.

​Pulau Akon adalah pulau kecil yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pulau utama. Luasnya 90.000 meter persegi dengan titik tertinggi 47 meter. Saat ini tidak ada yang menetap di sana, benar-benar berstatus pulau tak berpenghuni.

​Perahu motor merapat ke dermaga kecil pulau itu, menurunkan kami, lalu langsung melesat kembali ke pulau utama seolah melarikan diri. Kecepatan perahu yang meninggalkan cipratan air besar itu menunjukkan keengganan sang kapten untuk berlama-lama berurusan dengan pulau ini.

​"Dengan begini, mulai hari ini selama tiga hari, kita terkurung di ruang tertutup yang sesungguhnya."

Ujung bibir Senior Yoiko ditarik ke atas membentuk senyum tanpa rasa takut. Otak misterinya kumat lagi. Aku hanya bisa menghela napas pasrah.

"Senior berniat memicu kasus pembunuhan?"

"Aku? Tentu saja tidak. Aku kan peran detektifnya." Senior Yoiko mengerutkan kening merasa tersinggung. Sepertinya dia benar-benar menganggap serius posisi itu.

"Seandainya pembunuhan terjadi," sahut Jun dengan nada bercanda, "mungkin pelakunya adalah hantu si pembunuh ruang tertutup itu."

​Mendengar itu, Senior Yoiko mengangguk puas.

"'Hantu O', ya. Bagus, sangat bernuansa misteri. Apalagi kalau ada pembunuhan meniru, pasti akan sempurna."

Sambil tertawa lepas, Senior Yoiko mulai berjalan membawa barang bawaannya. Kami mengikutinya masuk menyusuri jalan setapak. Jalan menuju ke dalam pulau tentu saja tidak beraspal, diapit oleh pepohonan rendah di kedua sisinya. Tanjakan yang landai dan sisa-sisa panas akhir September membuat dahiku sedikit berkeringat.

​"Permisi," Ayukawa menyela dengan ragu. "Kita akan menginap dua malam di bekas laboratorium di depan, kan? Apa listrik dan airnya akan aman?"

"Ah, benar, aku juga khawatir soal itu," Aime langsung mengangkat tangannya. "Aku tipe orang yang bisa mati kalau tidak bisa main game di HP sambil mandi."

Aku refleks mengerutkan dahi. "Mati macam apa itu?"

"Mati meledak."

"Jangan gacha di kamar mandi, dong."

​Mengabaikan obrolan konyol kami, Senior Yoiko menjawab, "Laboratorium itu mengandalkan panel surya, dan untungnya fasilitas pembangkitnya tidak rusak saat kebakaran. Kalau untuk air, katanya persediaan cukup untuk dua atau tiga hari."

"Air juga? Tapi kan tidak ada jalur pipa air bersih ke sini," tanya Jun.

"Mereka punya sistem penampungan dan penyaringan air hujan. Kata pengelolanya sistem itu masih berfungsi. Jadi buat mandi dan minum tidak masalah. Tapi, lebih baik kalian lupakan soal main game HP."

Ia mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan layarnya kepada kami.

"Di sini blank spot. Berjarak 20 kilometer dari pulau utama, gelombang BTS tidak akan sampai."

​"Ugh, seriusan?"

Aime menunduk lesu sambil terus memandangi layar HP-nya dengan enggan. Lalu, seolah teringat sesuatu, kuncir duanya melompat naik.

"Ngomong-ngomong, laboratorium yang akan kita tuju ini dulunya tempat penelitian apa, sih?"

Pertanyaan itu dilontarkan ke sembarang arah.

​"Kalau tidak salah..." Aku mengeluarkan HP dan membuka aplikasi catatan. "Ilmu saraf komputasional, biologi molekuler, dan neuroanatomi."

"......Oh, begitu."

"Kau pasti tidak paham."

"Senior Itsuki sendiri juga pasti tidak paham."

Aku menelan kembali bantahanku. Senior Yoiko turun tangan menjelaskan.

​"Secara spesifik, penelitian di Laboratorium Kuzumi adalah soal bio-digital twin dari otak manusia. Meski ini cuma rumor."

Mendengar istilah asing itu, aku dan Aime memiringkan kepala bersamaan.

"Bio?"

"Digital?"

"Digital twin. Membangun 'kembaran' digital dari dunia nyata di ruang maya untuk pemantauan atau simulasi. Kalau yang dimodelkan adalah organisme hidup, disebut bio-digital twin. Intinya, Laboratorium Kuzumi sedang meneliti cara mendigitalkan otak manusia."

"Bidang itu memang sedang jadi perhatian global," tambah Ayukawa. "Banyak negara maju yang sedang mengembangkannya karena punya potensi besar untuk diaplikasikan di dunia medis modern."

Sangat tanggap mengikuti berita terbaru.

"Begitu," ujarku. "Eksperimen 'visualisasi memori' itu juga bagian dari perpanjangan penelitian ini."

"Ya. Ada juga serpihan jurnal ilmiah soal itu di internet. Aku belum baca semuanya karena bahasa Inggris, pokoknya soal Fragment Image atau apalah... Ah, benar juga, di sini tidak ada internet." Senior Yoiko meringis melihat layar HP-nya. "Intinya, mereka melakukan penelitian yang sangat mutakhir di tingkat dunia."

​"Tapi," Ayukawa bertanya lagi, "kenapa penelitian semutakhir itu dilakukan di laboratorium terpencil seperti ini?"

Aku juga bertanya-tanya soal itu. Tidak ada kapal feri reguler dari pulau utama, dan sinyal HP tidak ada. Biasanya tidak ada yang terpikir membangun fasilitas sains otak di tempat terisolasi ini.

​"Ah, soal itu, sebenarnya ini juga sekadar rumor di internet, tapi..."

Ekspresi Senior Yoiko menjadi serius.

"Ada teori konspirasi bahwa penelitian bio-digital twin itu cuma kedok, dan mereka sebenarnya melakukan eksperimen yang jauh lebih berbahaya. Makanya mereka mendirikan fasilitas di pulau terpencil. Faktanya, keberadaan laboratorium ini baru diketahui publik setelah insiden kebakaran tiga tahun lalu. Sebelumnya tidak ada yang sadar."

​"Penelitian berbahaya?"

Aime mengulanginya sambil berkedip. Senior Yoiko mengacungkan telunjuknya.

"Ya—contohnya, penelitian mentransfer kembali data otak yang sudah didigitalkan ke dalam tubuh manusia."

​"Mentransfer kembali?" Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya mengembalikannya ke manusia?"

"Ah," Ayukawa menutup mulutnya, menyadari sesuatu. "Itsuki-kun, belum tentu 'dikembalikan' ke orang yang sama..."

Baru saat itulah aku menyadari kemungkinan tersebut, dan rasa dingin menjalar di punggungku.

"Tepat," Senior Yoiko mengangguk. "Data kepribadian seseorang bisa disalin seluruhnya untuk menimpa otak manusia lain. Kalau rumor tentang teknologi itu benar."

​"Hah? Itu super gila!" Aime membelalakkan matanya. "Maksudnya bisa terjadi pertukaran tubuh 'aku adalah dia dan dia adalah aku'?"

"Referensi Aime-cchi luas sekali. Itu kan cerita dari puluhan tahun lalu," Senior Yoiko tertawa. "Tapi benar. Kalau nyata, ini adalah eksperimen yang secara moral jelas-jelas sangat melanggar batas kemanusiaan."

​Meskipun Senior Yoiko tertawa seolah itu candaan, aku merasakan sensasi ngeri di dalam hati.

Jika teknologi seperti itu benar-benar terwujud... bukankah itu sama mengerikannya dengan senjata pemusnah massal?

Bisa mengubah kepribadian orang di depan kita menjadi orang lain. Kalau disalahgunakan, memicu kudeta negara pun sangat mungkin.

​"Icchan, otak halusinasimu nyala lagi?"

Senior Yoiko mengintip wajahku yang sedang merenung serius.

"Ah, bukan..."

"Yang tadi kuceritakan itu sepenuhnya cuma rumor. Setara dengan teori konspirasi. Tidak perlu terlalu dianggap serius."

​Dengan santai ia tertawa sambil memimpin jalan. Setapak yang kami lalui akhirnya terbuka lebar, dan sebuah struktur buatan berbentuk kubus besar terlihat di depan kami. Sepertinya itulah tujuannya.

​Laboratorium yang dibangun di pulau terpencil.

Sembari menatap bangunan itu, cerita Senior Yoiko kembali terngiang di kepalaku.

Menyalin seluruh isi kepala seseorang untuk menimpa otak manusia lain. Karena penelitian yang begitu menyimpang secara etika itulah laboratorium ini dibangun di sini. Logika itu terasa sangat masuk akal bagiku.

Itu sebabnya, pada saat itu seharusnya aku berpikir lebih jauh.

Justru karena aku tidak tahu apa-apa, seharusnya aku jauh lebih berhati-hati.

Namun aku tidak menyadari satu hal pun.

Tentang tragedi yang menanti kami di depan.

Tentang berakhirnya hari-hari biasa yang selama ini kuanggap wajar.

Atau bahkan tentang 'Pandora-Brain' itu sendiri.

​Aku benar-benar tidak punya cara untuk mengetahuinya.

Namun pada akhirnya, mungkin semua itu sudah ditakdirkan sejak awal.

—Oleh si pembunuh ruang tertutup dan detektif swasta Toma Kiryu.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Komentar (0)

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.