Bagian 1-6
Inventaris di Arsto awalnya hanya memiliki 15 slot, namun untuk item yang sama, bisa menumpuknya dalam satu slot hingga batas maksimal tumpukan yang ditentukan.
Lalu, seiring naiknya level avatar, jumlah slot perlahan akan bertambah.
Karena Pengguna Pedang Besar mengisyaratkan dengan dagunya agar aku cepat membereskan barang-barang, aku bergegas memasukkannya ke dalam inventaris.
"Ini buku keahliannya."
Mengatakan itu, dia melempar tiga gulungan kertas ke arahku. Penampilannya persis seperti gulungan perkamen yang sering muncul di cerita fantasi.
...Hah! Ngomong-ngomong, ini juga termasuk bahan bacaan, kan?
"Ini pertama kalinya aku melihat buku keahlian. Akan kubaca nanti setelah kugunakan."
Saat aku tersenyum senang, Pengguna Pedang Besar menatapku dengan heran.
"Bicara apa kau. Buku keahlian akan menghilang setelah digunakan."
"...Apa katamu...?"
Mendengar kata-kata menusuk dari Pengguna Pedang Besar, 'pandanganku langsung gelap'. ...Yah, itu agak berlebihan, tapi aku memang merasa sangat kecewa hingga bahuku lemas. Kenapa bisa menghilang setelah digunakan...
Setidaknya sebelum menghilang, biarkan aku membacanya sebentar.
"Jangan, cepat pakai."
"Aku tidak mau mengalah."
Bahkan jika aku harus menahan aura intimidasi yang menyengat itu, aku tidak akan mengalah demi hasrat tunggalku ini.
"....Haa. Cepat selesaikan."
Meski nada bicaranya ketus, tak disangka dia cukup menghormati keinginanku.
Tapi kalau aku berlama-lama dia mungkin akan berubah pikiran, jadi aku segera membaca buku keahlian tersebut.
...Tidak bisa dibaca. Aku hanya bisa memastikan bahwa bahasanya berbeda dengan buku yang ada di gudang tua.
[Buku Keahlian <Menunggang>]
Gunakan untuk mempelajari keahlian <Menunggang>.
Daya Tahan: E | Kualitas: C | Klasifikasi: Alat Sihir | Efek: Mempelajari Keahlian
Material: ??? | Keahlian Pembuatan: ??? | Pembuat: ???
<Menunggang> Konsumsi AP: Tidak ada
Memberikan koreksi pada postur dan kendali saat menunggangi hewan atau monster. Terlebih aktif selalu.
Setidaknya aku jadi punya kebiasaan menggunakan <Analisis>. Ada beberapa bagian yang tidak bisa kulihat, entah karena level keahlianku yang kurang atau karena pengetahuanku yang belum mencukupi. Yah, sudahlah.
Ngomong-ngomong...
"Karena ini <Menunggang> berarti—"
"Kita akan berkuda sampai ke reruntuhan."
"Apa aku bisa naik?"
"Itulah gunanya buku keahlian ini."
Begitu ya. Dengan begini, aku yang tidak pernah menunggang kuda baik di dunia nyata maupun di dunia ini akan langsung bisa melakukannya. Memikirkannya, buku dan sistem keahlian ini benar-benar praktis.
Saat aku membuka dan menganalisis dua buku lainnya, isinya persis sama kecuali pada bagian nama keahlian. Keahlian yang bisa dipelajari dari buku-buku ini adalah <Deteksi> dan <Penglihatan Malam>.
Seperti <Menunggang>, keduanya adalah keahlian pasif tanpa konsumsi AP. <Deteksi> membantu merasakan keberadaan orang, hewan, dan monster di sekitar, sementara <Penglihatan Malam> memberikan koreksi pada penglihatan di tempat gelap.
Meskipun sepertinya tidak ada bahaya besar kalau aku cuma mengekor dari belakang, memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri di area luar kota jelas akan sangat membantu.
Aku menjejerkan ketiga buku keahlian itu dan membandingkannya.
Hmm? Aku tetap tidak bisa membacanya, tapi jenis huruf... atau lebih tepatnya gaya tulisannya, benar-benar berbeda satu sama lain. Apa mungkin pembuatnya berbeda-beda?
Dan di luar dugaanku, tidak ada keteraturan sama sekali pada bentuk tulisan di setiap buku, padahal kupikir isinya sama persis kecuali di bagian nama keahliannya.
"Yah, tidak mungkin aku bisa membacanya sekarang."
"Kalau sudah puas, cepat pakai."
"Sayang sekali, tapi akan kulakukan."
Untuk berjaga-jaga aku mengambil tangkapan layarnya dulu, lalu menggunakannya... tunggu, bagaimana cara menggunakannya? ...Ah, saat aku menatapnya fokus, muncul jendela konfirmasi. Aku memilih perintah <Gunakan>.
Bersamaan dengan munculnya notifikasi perolehan keahlian, buku-buku itu hancur menjadi debu dari ujungnya dan menghilang.
"Kau paham cara pakai <Deteksi>?"
"Huh? emm... ah, paham."
Diarahkan oleh Pengguna Pedang Besar, aku memeriksa seperti apa keahlian <Deteksi> yang baru saja kupelajari ini. Aku bisa membayangkan ada sebuah lingkaran dengan diriku sebagai pusatnya, dan keberadaan penduduk di dalam lingkaran itu ditampilkan dengan tanda •.
Dengan cepat aku memeriksa halaman <Deteksi> di situs panduan melalui gerakan mata. Pemain ditampilkan dengan tanda ●, hewan dengan tanda △, dan monster dengan tanda ▲. Untuk entitas non-musuh lainnya sepertinya masih belum dikonfirmasi bagaimana tampilannya.
"Ini yang terakhir."
"Uwa."
Melihatku sudah tidak bermasalah dengan <Deteksi>, dia melempar benda kecil ke arahku. Setelah terpantul beberapa kali di tangan, aku akhirnya berhasil menangkapnya.
...Kenapa dia harus selalu melempar barang, sih. Padahal refleks dan saraf motorikku kurang bagus... batinku menggerutu sambil memeriksa benda kecil di tanganku.
[Peluit Panggil Bertali Kulit]
Mengeluarkan suara tinggi saat ditiup. Digunakan untuk memanggil orang atau hewan dari kejauhan, tapi bisa juga menarik perhatian monster.
Daya Tahan: E | Kualitas: C
Klasifikasi: Aksesori | Efek: Tidak ada
Material: Serpihan Kayu Maple, Kulit Sapi | Keahlian Pembuatan: <Kerajinan Tangan> | Pembuat: Haimo
"Peluit?"
"Kalau kau tersesat di luar atau ada bahaya, tiup itu untuk memberitahuku. Kuda juga akan kembali kalau kau meniupnya."
"Begitu ya. Aku mengerti."
Kalimat terakhir dari deskripsinya agak membuatku cemas, tapi baguslah ada cara untuk mengatasi keadaan darurat.
Pengguna Pedang Besar berdiri sambil menggulung kantong kulit yang sudah kosong.
"Kita berangkat saat fajar. Datanglah ke gerbang selatan."
"Saat fajar di gerbang selatan..."
Waktunya belum sampai tiga jam dari sekarang, tapi kalau aku log out selama tiga puluh menit, hitungan login beruntunku akan di-reset, jadi harusnya sempat. Aku belum pernah ke gerbang selatan, tapi saat ia menyebutkannya, sebuah penanda tujuan otomatis muncul di petaku, dan jalan menuju ke sana terbuka.
"Baiklah. Tidak masalah."
Setelah mendengar jawabanku, Pengguna Pedang Besar pergi seakan tidak ada urusan lagi.
Aku meminum segelas susu hangat tersisa lalu log out.
Saat log out, aku kembali ke Kamar Pribadiku yang biasa.
"Tidak cukup waktu untuk membaca buku, jadi apa yang harus kulakukan?"
Aku berpikir sejenak apa yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu tiga puluh menit yang nanggung ini... lalu aku mengeluarkan sesuatu yang sudah lama tak kusentuh dari kotak penyimpanan.
"Bisa menyimpan barang tanpa memikirkan lingkungan penyimpanannya atau takut rusak adalah salah satu keuntungan ruang virtual."
Benda yang kukeluarkan adalah biola dan busur penggeseknya. Musik memang terkadang direkomendasikan untuk menenangkan pikiran, tapi di duniaku, les musik diwajibkan untukku dari taman kanak-kanak sampai SD.
Jujur saja karena aku dipaksa mempelajarinya, aku lebih suka membaca buku daripada bermain musik, jadi biola ini berdebu. ...meski, di sini tidak ada debu fisik.
"Ah, sayang sekali. Aku belum mengambil tangkapan layar dari partitur itu. Yah, lain kali saja."
Saat aku memposisikan biola dan busurnya, sepertinya gerakan yang diulang-ulang selama bertahun-tahun tidak mudah dilupakan, jadi aku secara otomatis mengambil postur bermain yang benar.
Sambil melakukan pemanasan dengan bermain asal untuk mengecek feeling dan nadanya, aku membayangkan partitur yang kutemukan di gudang tua.
Aku pun memainkan biolaku tanpa memikirkan apa-apa untuk sementara waktu.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit, aku login kembali.
Sesuai dugaanku, saat ini adalah waktu sesaat sebelum fajar.
Karena perlengkapan dan barang bawaanku berbeda dari biasanya, aku mengeceknya satu per satu sambil bersiap. Ramuan dan makanan ada di dalam inventaris. Dari layar status, aku memasang peluit di slot aksesori yang kosong, dan memasang jubah di slot luar. Persiapan selesai.
Saat aku turun ke ruang makan, Rosa memanggilku.
"Ah, pas sekali. Ini baru saja jadi! Bawa ini."
"Eh?"
Sebuah bungkusan diserahkan kepadaku. ...Terasa hangat.
"Kau mau kerja di luar sama dia kan? Aku sih tidak khawatir padanya, tapi aku sangat cemas kalau kau makan makanan dingin, staminamu tidak akan bertahan lama. Bawa ini, tapi cuma cukup untuk satu porsi."
[Bento Buatan Rosa]
Bento yang dibuat oleh Rosa dengan sepenuh hati. Dibuat dengan memikirkan orang yang akan memakannya, bisa menghangatkan tubuh.
Meningkatkan jumlah pemulihan Stamina (Kecil), Menurunkan kecepatan konsumsi Stamina dan Tingkat Kekenyangan (Kecil).
Material: Daging Babi Hutan, Kubis, Wortel, Tomat, Roti | Keahlian Pembuatan: <Memasak>
Pembuat: Rosa
Melihat hasil <Analisis>-nya, aku tanpa sadar tersenyum.
"Terima kasih. Aku akan berusaha keras setelah memakan ini."
"Kalau ada bahaya, serahkan padanya, dan kau harus pulang dengan selamat, ya!"
"...Ya."
Perasaan hangat ini membuatku merasa geli dan sedikit malu, tapi aku mengangguk dengan mantap.
Pengguna Pedang Besar sepertinya sudah pergi duluan. Diantar oleh Rosa, aku keluar dari penginapan dan berjalan ke arah selatan di kota yang masih gelap. Berkat <Penglihatan Malam>, pandanganku terasa lebih jelas, atau lebih tepatnya, garis bentuk benda-benda dalam kegelapan menjadi lebih mudah dilihat.
Tak lama kemudian aku sampai di tujuan. Di samping dua ekor kuda, berdiri sosok berbaju zirah dengan helm besi full face yang rasanya lebih familier bagiku. Hari ini dia kembali menyandang pedang besar seukuran tubuhku yang menjadi ciri khasnya.
"Mohon bantuannya selama penyelidikan... eh!"
<Pengguna Pedang Karat Besi Besar telah membentuk party dengan Anda>
<[Misi Bentuk Party] Tutorial telah selesai>
Aku mengecek notifikasi yang muncul sesaat setelah aku menyapanya.
...Bahkan membentuk party dengan NPC ada sistemnya? Dan juga bisa menyelesaikan misi tutorial...?
"Naik kuda yang ini."
"Oke."
Diarahkan oleh Pengguna Pedang Besar, kuda berwarna kastanya itu maju ke depanku. Mata hitam yang menatapku itu terlihat sangat jinak.
"Mohon kerja samanya. Karena aku belum terbiasa, bisakah aku menyerahkannya padamu?"
Saat aku mengatakan itu sambil membelai lehernya, kuda itu mendengus pelan seolah membalas ucapanku. Setidaknya aku lega karena tidak ditolak.
Sambil menepuk leher kuda itu, aku meraih pelananya. Aku sempat khawatir apakah aku bisa menaikinya sendiri, tapi ternyata aku bisa naik dengan sangat mudah. Inikah efek dari keahlian <Menunggang>?
Saat aku menoleh, Pengguna Pedang Besar juga sudah naik ke atas kudanya, dan setelah memastikan aku tidak punya masalah dalam menunggangi kuda, dia memberi isyarat pada penjaga di dekat gerbang.
Gerbang kecil yang hanya muat dilewati dua ekor kuda terbuka, dan tanpa perlu kuberi aba-aba, kudaku mulai melangkah maju.
——Begitulah, untuk pertama kalinya aku keluar dari kota.
<[Misi Keluar Area] Tutorial telah selesai>
Angin dingin membelai pipiku saat aku bergoyang di atas punggung kuda.
Napas yang kuhembuskan berwarna putih. Suhu di dalam dan di luar kota sangat berbeda. ...Untung saja aku sudah diberi jubah.
Kami mengikuti Pengguna Pedang Besar menyusuri jalan yang sudah dilalui banyak orang. Langkah kudanya cepat dan tanpa ragu. Memang lebih baik kuserahkan saja pada kudanya daripada aku memberikan perintah yang salah.
Melihat sekeliling, area ini adalah perbukitan dengan jarak pandang yang luas. Di tempat seperti ini, kita bisa menyadari keberadaan musuh hanya dengan melihatnya langsung tanpa perlu <Deteksi>. Ini sungguh terasa seperti 'Lapangan Awal' untuk pemula. Saat aku sedang berpikir begitu, langit mulai menjadi terang.
"...Ooh."
Saat aku melihat ke arah langit timur yang semakin terang, cahaya mulai membanjiri ufuk.
Itu fajar.
"Hei, jangan lengah."
Saat aku sedang terpesona oleh pemandangan indah perbukitan diwaktu fajar, suara rendah terdengar dari arah kanan depanku. Entah sejak kapan Pengguna Pedang Besar mendekatkan kudanya ke arahku.
Kenyataan bahwa aku tidak menyadarinya membuktikan bahwa aku sedang lengah.
"Pemandangannya terlalu indah, jadi tanpa sadar aku... Aku akan lebih waspada."
"Lakukanlah. Pada jam segini, makhluk seperti itu akan muncul."
Bayangan kecil dari arah yang ditunjukkan Pengguna Pedang Besar dengan dagunya terlihat perlahan-lahan mendekat, terbang terhuyung-huyung di langit.
[Gaze Bat] Status: <Linglung>
Monster terbang berbentuk kelelawar dengan satu mata besar di tubuhnya. Hewan nokturnal. Tidak punya serangan fisik, tapi menembakkan sinar khusus dari matanya yang bisa menyebabkan status <Buta>. Akan mengalami <Linglung> jika terkena sinar matahari.
Klasifikasi: Monster | Habitat: Hutan sekitar Yunu - Lapisan Luar | Atribut: Tidak ada
Kelemahan: Tebasan, Tusukan, Serangan Fisik Jarak Jauh, Atribut Api, Sinar Matahari | Material: Lensa Mata, Membran Sayap, Batu Sihir (Sangat Kecil)
Bahkan dari jarak sejauh ini, aku bisa menggunakan <Analisis> dan mendapatkan informasinya.
Bayangan kecil itu rupanya adalah monster. Bagian 'Status'-nya sangat menarik perhatianku.
"Status <Linglung>?"
"Mereka yang belum sempat kembali ke sarangnya sebelum matahari terbit akan menyerang secara asal. Sinar dari matanya cukup merepotkan. Tunggu di situ."
Mengatakan itu, Pengguna Pedang Besar memacu kudanya ke arah beberapa Gaze Bat. Setelah jaraknya cukup dekat, aku melihatnya mengayunkan lengannya.
Kemudian, seekor kelelawar tiba-tiba jatuh ke tanah. Setelah itu, setiap kali Pengguna Pedang Besar mengayunkan lengannya, kelelawar-kelelawar itu berjatuhan satu per satu.
Setelah memastikan semua kelelawar jatuh, dia bersiul menggunakan jari ke arahku. Mendengar isyarat itu, kuda yang kutunggangi pun berlari menuju Pengguna Pedang Besar.
Saat aku melihat ke tempat kelelawar jatuh, kulihat sebuah pisau kecil menancap tepat di mata besarnya dan monster itu sudah tak bernyawa.
...itu cukup sadis...
Pisau yang sama juga menancap di mata kelelawar lainnya.
Jadi gerakan lengannya tadi adalah melempar pisau ini? Sepertinya Pengguna Pedang Besar ini juga jago melempar pisau. Apa aku bisa belajar melempar pisau juga, ya... eh, tidak usah deh. Aku mungkin akan melukai diriku sendiri.
Setelah memastikan aku sudah menyusul, Pengguna Pedang Besar mengarahkan kudanya kembali ke arah tujuan kami. Ia sama sekali tidak mempedulikan pisau maupun bangkai kelelawar tersebut.
"Apa kau tidak akan mengambil material monster dan pisaumu?"
"Pisau itu barang sekali pakai, dan material dari makhluk seperti mereka tidak ada harganya. Sebentar lagi anak-anak kecil dari kota akan memungutnya untuk mencari uang."
"Begitu ya."
Aku memahaminya, karena bagi seorang tentara bayaran hebat, hal itu pasti benar-benar dianggap tidak bernilai.
Dan itu juga merupakan bentuk sumbangan secara tidak langsung bagi mereka yang kesulitan ekonomi. Atau mungkin, memungut barang-barang sepele seperti ini secara satu per satu terlalu merepotkan baginya.
Setelah itu, tidak ada hal khusus yang terjadi saat kami melintasi area perbukitan dan akhirnya memasuki hutan di area barat daya.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba aku merasa ragu. Selain hewan, kenapa monster juga langsung menjauh keluar dari jangkauan setelah masuk ke area <Deteksi> ku?
Sambil memikirkan penyebabnya, aku menyadari bahwa tubuhku diselimuti oleh perasaan yang kukenal.
Kulitku terasa menyengat dan tubuhku menegang... ini sensasi yang sering kualami saat bertemu dengan Pengguna Pedang Besar. Atau lebih tepatnya, Pengguna Pedang Besar ini pasti sedang menggunakan kemampuan 'Intimidasi' seperti yang dibilang Rosa.
Saat aku mengecek situs panduan dengan cepat, keahlian bernama <Intimidasi> adalah jawabannya. Keahlian ini memiliki efek untuk membuat target kaku atau menjauhkan entitas musuh. Semakin lemah targetnya, semakin ampuh efeknya.
Karena masalahnya sudah jelas, aku memutuskan untuk hanya memperhatikan <Deteksi> secukupnya dan memusatkan pandanganku ke tanaman di sekitarnya.
Berkat <Pengetahuan Tumbuhan>, aku bisa mendapatkan informasi kasar hanya dengan sedikit memperhatikannya. Sejauh ini, isinya sesuai dengan catatan distribusi yang pernah kubaca.
"Berhenti."
Tiba-tiba, sebuah instruksi singkat melayang dari Pengguna Pedang Besar. Sebelum aku sempat bereaksi, kudaku sudah berhenti.
"Tunggu di situ. Jangan bergerak."
Setelah memberiku instruksi itu, Pengguna Pedang Besar dengan cepat turun dari kudanya dan mengambil jarak dari kami sambil menggenggam gagang pedang besarnya di punggung. Wajahnya terus mengarah ke satu arah. Di area <Deteksi>-ku tidak ada apa-apa, apa dia mendeteksi sesuatu?
Beberapa saat kemudian, akhirnya sebuah tanda muncul di jangkauan <Deteksi>-ku. Sebuah tanda monster menuju lurus ke arah kami dengan cukup cepat. Tapi aku masih belum bisa melihatnya.
Aku mencoba menggunakan <Analisis> pada tanda monster itu. ...mungkin ini akan berhasil.
[Babi Hutan Ganas] Status: Normal
Monster babi hutan raksasa. Sangat agresif dan nekat. Saat mulai menyeruduk, dia tidak akan berhenti sampai lawannya hancur.
Klasifikasi: Monster | Habitat: Hutan sekitar Yunu - Lapisan Dalam | Atribut: Tidak ada
Kelemahan: Tebasan, Serangan Jarak Jauh, Atribut Api | Material: Bulu, Taring, Daging, Kuku, Hati, Batu Sihir (Kecil)
Aku bisa membacanya.
...Apa kombo skill ini boleh digunakan? Rasanya agak mencurigakan. Yah, untuk sekarang biarlah.
Setelah berpikir sejenak haruskah aku memberitahukannya pada Pengguna Pedang Besar, aku memutuskan untuk tetap diam. Entah kenapa aku merasa dia sudah tahu monster apa yang sedang mendekat dan tahu cara menghadapinya. Sebagai pemula yang tidak tahu apa-apa, lebih baik jangan asal bicara.
Suara gemerisik semak bergoyang semakin kencang. Suara babi hutan ganas ini berlari ke arah kami terdengar sangat besar, tapu karena terhalang pepohonan yang lebat, aku masih belum bisa melihatnya.
Namun, tepat ketika tanda monster itu mencapai jarak dekat dari Pengguna Pedang Besar—
"BUMOOOOO!!"
Seekor babi hutan raksasa sebesar batu besar, Babi Hutan Ganas, melompat keluar dari balik semak-semak.
Monster itu jauh lebih besar dari dugaanku. Dengan massa tubuh setinggi badanku, monster itu menyeruduk Pengguna Pedang Besar dengan kekuatan penuh. Kalau kena hantaman lurus, dia pasti akan hancur lebur.
Berbanding terbalik denganku yang bergidik karena ketakutan naluriah, Pengguna Pedang Besar justru menggenggam gagang pedangnya dengan santai tanpa tekanan, lalu mengayunkannya dalam sekali tebas.
"Bumo...!?"
Suara hantaman yang berat dan keras bergema di hutan.
Alih-alih menahan serudukannya, dia menghentikan laju babi hutan dengan satu serangan.
Dengan gerakan yang mulus, kali ini d mengambil posisi rendah, lalu menebas sisi kepala babi hutan yang terdiam kaget karena hantaman yang tak terduga itu.
"Buga...!!"
Entah kehilangan kesadaran atau kekuatannya melemah, babi hutan itu roboh ke tanah.
Tapi Pengguna Pedang Besar tidak memberi ampun pada musuh yang lengah, dia terus memberikan serangan beruntun pada babi hutan yang pingsan.
Di depan mataku, kulihat taring babi hutan ganas itu patah, dagingnya robek, dan Pengguna Pedang Besar bermandikan darah.
Melihat pemandangan sadis itu, aku jadi teringat.
Setiap kali kami bertemu, dia selalu berlumuran noda merah kehitaman seperti darah. Dan, aku juga ingat pedang besar di dunia nyata sebenarnya lebih mirip senjata pukul (Blunt Weapon).
Sambil menatap sedikit ke arah kejauhan, aku menunggu pertarungan berat sebelah itu berakhir.
Beberapa saat kemudian, Pengguna Pedang Besar kembali setelah selesai mengambil bahan dari babi hutan.
...Dia menatapku. Sekarang dia memakai helm, jadi aku tidak bisa membaca ekspresinya.
"Warna wajahmu lebih baik daripada Orang Asing yang lain."
"Euh... Yah, kalau cuma segini masih bisa kutahan."
"Hmph... begitu."
Aku sedikit khawatir, tapi sepertinya aku tidak masalah dengan tingkat penggambaran kekerasan yang tidak ku matikan. Kalau mau dibilang, aku mungkin lebih ngeri dengan kelelawar tadi. Bola mata yang hancur rasanya mengerikan.
Ngomong-ngomong, apa dia juga memperlihatkan adegan mengerikan seperti ini kepada pemain lain?
Apa dia sedang mengujiku...? Yah, aku hanya target pengawalan untuk kali ini, jadi kurasa itu tidak penting.
Entah karena anomali penurunan jumlah monster, atau karena keahlian <Intimidasi> miliknya, atau mungkin keduanya, setelah itu kami tidak menemui pertempuran lagi dan terus melanjutkan perjalanan di area barat daya.
Tepat sebelum matahari terbenam, kami tiba di sebuah tempat terbuka. Ada bangunan yang terlihat seperti pos penjagaan, dan di sekelilingnya terlihat sejumlah orang yang tampak seperti tentara bayaran atau petualang. Saat aku mengecek tanda dari <Deteksi>, semuanya adalah NPC.
"Lewat pos ini kita akan sampai di area reruntuhan. Kita akan beristirahat di sini sampai fajar."
Aku mengangguk mendengar ucapannya yang singkat.
Kami memasuki lapangan di depan pos penjagaan, dan Pengguna Pedang Besar turun dari kudanya. Aku pun mengikuti jejaknya.
Lalu, seorang pria dengan pakaian ala tentara bayaran mendekati kami. Berbeda dengan Pengguna Pedang Besar, pria ini memakai pelindung serba kulit yang sepertinya lebih mengutamakan kelincahan daripada pertahanan.
"Yo, Rusty! Sesuai janji. Jadi dia Arsiparis yang dirumorkan?"
Pria yang tampak gesit itu menyapa Pengguna Pedang Besar dengan akrab, lalu menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.
"Masih Kandidat Kelas Bawah, salam kenal."
"Ya, kami serahkan penyelidikannya padamu!"
"Guh!?"
Tiba-tiba, ada hantaman keras yang memukul punggungku.
Aku tak bisa menahan hantaman itu dan tubuhku terdorong ke depan. Sebelum jatuh ke tanah, aku tertahan oleh lengan seseorang. Pengguna Pedang Besar menangkapku.
Pria yang menepuk punggungku langsung meminta maaf dengan panik.
"Uwah, kau tidak apa-apa!? Maaf, aku refleks melakukannya karena terbawa suasana bercanda..."
"Uhuk... Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan."
....LP-ku sedikit berkurang, tapi tidak masalah.
Meski penampilannya terlihat lebih enteng dari Pengguna Pedang Besar, ternyata ini adalah bukti kekuatan tenaga seorang tentara bayaran yang merupakan kelas petarung. Yah, dia pasti hanya berniat memberi salam hangat, akusaja yang terlalu lemah.
Hmm, haruskah aku menambahkan beberapa poin untuk pertahananku? Sejauh ini semua poin statusku kumasukkan ke AP...
"Aduh, maaf ya, aku benar-benar... eh, bahaya!? Kan aku sudah minta maaf! Jangan marah begitu, dong!"
Pria yang meminta maaf itu tiba-tiba diserang oleh tendangan depan tajam dari Pengguna Pedang Besar.
Ia berhasil menghindarinya dengan gesit. Apa ini bentuk komunikasi antar tentara bayaran? Apakah itu bercanda atau serius... aku tidak tahu.
Ngomong-ngomong, Pengguna Pedang Besar marah? Merasa aneh dengan ucapan pria tadi, aku pun mendongak.
Hmm... Dia berdecak keras dan terlihat kesal. Sama seperti biasanya, sih.
"Ya. Terima kasih sudah menangkapku. Kau sudah bisa melepaskanku sekarang."
Aku meminta untuk dilepaskan dari lengan yang masih memeluk dadaku.
"......"
Diabaikan?
"Hmph."
Pengguna Pedang Besar hanya sedikit mengubah posisi pelukannya agar aku bisa berjalan lebih mudah, lalu mulai berjalan sambil menyeretku. Ugh... ya sudahlah.
Setelah pasrah diseret beberapa saat, kami sampai di sebuah tempat dengan tempat perapian unggun.
Ia menyuruhku duduk di bangku dari kayu glondongan yang disusun mengelilingi perapian unggun itu. Melihat perapian dan bangku kayunya, entah kenapa aku merasa seperti berada di tempat perkemahan atau area BBQ.
"Kita berkemah di sini."
Jadi ini memang fasilitas untuk berkemah.
"Keluarkan ramuannya."
"Hm? Ini?"
Meski kebingungan dengan instruksi mendadaknya, aku mengeluarkan botol berisi cairan hijau dari dalam inventaris.
"Minum."
"...Oke."
Itu adalah perintah dengan nada suara yang tidak bisa ditolak.
Tampaknya, dia sadar kalau LP-ku berkurang. ...Apa ini karena kami sedang satu party?
Baru kusadari, di sudut UI (User Interface)-ku, selain LP-ku sendiri, ada juga bar LP milik Pengguna Pedang Besar. Aku tidak yakin NPC memiliki UI yang sama dengan pemain, tapi mungkin ada cara bagi mereka untuk mendeteksinya.
Untuk saat ini aku menuruti perintahnya dan meminum ramuan di tanganku. Kalau tidak salah, ini pertama kalinya aku minum Life Potion.
Hmm... ini rasanya...
"Seperti oralit dengan sedikit rasa apel."
Sensasinya di tenggorokan mirip cairan itu.
"Hah?"
"Ah, bukan apa-apa. Nah, aku sudah pulih."
Saat aku menunjukkan botol kosongnya, Pengguna Pedang Besar mengangguk puas.
"Aku mau mengonfirmasi jadwal besok dengan orang-orang di pos. Kau tunggu di sini."
"Mengerti. ...Ah, tunggu. Ini daftar reruntuhan yang jadi prioritasku. Kalau tidak bisa ke sana, aku akan ikut keputusanmu."
Aku merobek halaman buku catatanku yang berisi daftar yang ku buat untuk mengisi waktu luang tadi malam, lalu menyodorkan kepadanya.
Setelah diam beberapa saat, dia mengambilnya, lalu berbalik dan pergi tanpa berkata apapun.
Matahari sudah terbenam, dan sumber cahaya satu-satunya hanya api unggun di depan.
Karena aku harus menunggu lagi, aku memutuskan untuk melihat-lihat informasi yang ku-<Analisis> dan ku-<Rekam> selama perjalanan tadi.
Meskipun penglihatanku seharusnya terbatas, <Penglihatan Malam> sangat membantu. Semakin banyak aku membaca dalam gelap, level keahliannya semakin naik, dan huruf-huruf menjadi semakin jelas untuk dibaca.
Di dunia nyata, membaca di tempat gelap sering dikatakan akan merusak mata, tapi di sini justru sebaliknya.
"Woah, kegiatan membacaku jadi sangat lancar!" Ujarku senang. Tak lama kemudian Pengguna Pedang Besar kembali.
"Kita berkeliling lewat rute ini."
Di atas kertas gulungan yang disodorkannya, tergambar peta sederhana area reruntuhan lengkap dengan rutenya. Tempat-tempat yang ingin kupastikan sebagian besar sudah tercakup di sana.
Aku sama sekali tidak keberatan.
"Sudah makan?"
"Belum..."
"Makanlah."
"...Oke."
Karena itu, aku membuka bekal yang kuterima dari Rosa pagi tadi. Bekal itu masih sehangat saat aku menerimanya.
"Selamat makan."
Setelah berdoa sebelum makan, aku menyantap salah satu lauk pauknya.
Rasanya lebih kuat daripada makanan di penginapan, dan sangat cocok dimakan dengan roti yang dibungkus bersama bekal ini. Padahal ini bukan sup, tapi anehnya tubuhku jadi hangat dari dalam. Sangat enak.
Aku melirik sedikit ke arah bangku di depan sebelah kiriku, di mana Pengguna Pedang Besar sedang meminum kuah kaldu dari panci yang dipanaskan di atas api unggun setelah memasukkan ransum makanan kering ke dalamnya. ...Ternyata bisa dimakan dengan cara seperti itu.
"...Boleh aku mencobanya juga?"
Karena penasaran dengan rasanya dan aku jugq sedang ingin minum kuah hangat sebagai penutup, aku bertanya padanya.
"Terserah."
"Uwa, tertangkap."
Ia melemparkan cangkir kosongnya dengan asal.
...Tangkapanku barusan hampir saja..
Setelah mengucapkan terima kasih padanya, aku menuangkan kuah dari panci ke dalam cangkirku.
Setelah menggigit ransum makanan dan mencicipinya, rasanya ternyata sangat kuat. Jadi aku hanya meremukkan sepertiga darinya dan mencampurkannya ke dalam kaldu. Ya, kalau untuk diminum, kekentalan ini sudah pas.
Aku menghabiskan sup hangat itu, dan saat aku menghembuskan napas lega, pandanganku secara alami terarah ke atas.
"Ooh..."
——Di langit sana, hamparan bintang yang menakjubkan terbentang luas.
"Luar biasa..."
Keindahan malam ini ditambah dengan suara gemerisik hutan membuat perasaanku sangat tergugah.
Sambil terkagum-kagum dan menyadari bahwa inilah yang dimaksud dengan 'bintang-bintang yang seakan mau jatuh', tiba-tiba terdengar suara rendah bertanya padaku.
"Apa yang kau pikirkan?"
"...Mungkin seperti, 'Bintangnya sangat indah,' atau 'Apa di sini juga ada rasi bintang?'"
Karena aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik, aku mencoba menjawab dengan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu rasi bintang?"
"Eh. Hmm..."
Aku tidak menyangka akan ada reaksi yang tak terduga.
"Di dunia asalku, ada budaya yang mengaitkan susunan bintang menjadi bentuk orang atau hewan dan menyebutnya 'Rasi Bintang'. Dari situ, ada yang mengaitkannya dengan mitologi atau menggunakannya untuk meramal."
"...Apa untungnya melakukan hal seperti itu?"
"Tanya saja pada orang zaman dulu."
Aku pun tidak tahu.
Karena dia masih belum paham, aku menceritakan kisah Orion dan Scorpio, yang merupakan rasi bintang paling terkenal dalam mitologi, tapi tanggapannya hanyalah "Kisah konyol apa itu." Dia sangat kritis.
"Jadi, tidak ada konsep rasi bintang di sini?"
"...Ada peramal. Posisi bintang sering berubah seperti awan. Para peramal bintang menggunakan posisi bintang itu untuk meramal."
"Hee. Bisa berubah sebanyak itu ya."
Ini berarti bintang di dunia ini mungkin memiliki sifat yang sangat berbeda dengan bintang di dunia nyata.
Mitos dan fabel yang kubaca di ruang arsip hampir semuanya berkaitan dengan satu-satunya dewa di dunia ini, 'Dewa Cahaya Arcturia', yang dalam gambaran dunia nyata mungkin mirip dengan dewa utama atau dewa matahari.
Kekuasaannya meliputi ketertiban, kemakmuran, kemenangan, dan panen. Juga memiliki aspek seperti dewi cinta dan kecantikan. Mungkin karena itu, penampilan fisiknya sering digambarkan sebagai sosok yang tidak jelas jenis kelaminnya, seperti "sosok terindah di dunia, tidak terikat pada satu jenis kelamin".
Karena didominasi oleh kisah dewa cahaya, mitologi di sini lebih banyak menceritakan tentang matahari atau siang hari, dan hampir tidak ada cerita tentang bintang atau malam.
Karena itu aku mulai sedikit penasaran.
"Menarik juga. Apa tidak ada mitos atau fabel tentang bintang?"
Siapa tahu ada semacam cerita rakyat.
"...Dulu, aku pernah dengar cerita kalau bintang adalah ayunan jiwa,"
Pengguna Pedang Besar mulai bercerita sambil memandang jauh.
"Lalu saat bintang jatuh, itu adalah tanda bahwa jiwa telah menyelesaikan istirahatnya dan akan lahir di bumi."
"Hoo."
Aku penasaran dari mana dia mendengarnya, tapi karena cerita itu menarik, aku membuka buku catatan dan mencatatnya.
"Berdasarkan cerita itu, bagaimana dengan nasib jiwa sebelum menjadi bintang?"
"Entahlah. Sampai sejauh itu aku tidak tahu."
Aku sempat berpikir apakah sistemnya seperti reinkarnasi, tapi belum ada cukup informasi untuk menyimpulkannya.
Apakah semua pengaturan ini akan kupahami seiring aku membaca lebih banyak buku di dunia ini? Biarlah itu menjadi sesuatu yang kutunggu-tunggu nanti.
...Namun demikian, bintang yang jatuh adalah jiwa yang akan lahir, hmm.
"Kalau dipikir-pikir, aku juga jatuh ke sini."
Aku teringat saat adegan pembuka yang terjadi saat aku pertama kali datang ke dunia ini setelah selesai membuat avatar. Ketika aku terjun bebas dari ruang yang tampak seperti angkasa menuju planet biru.
Apakah ini berkaitan dengan latar belakang cerita para pemain sebagai Orang Asing...?
Mungkin karena aku terlalu larut dalam pikiran tanpa memedulikan Pengguna Pedang Besar, saat aku sadar, malam sudah sangat larut.
"Sebaiknya kau segera tidur,"
Kata Pengguna Pedang Besar sambil menghela napas, seolah muak denganku. Hari ini cukup sampai di sini.
Aku membereskan barang-barangku, membungkus diriku dengan jubah, lalu berbaring di bangku kayu. Api unggun tetap menyala, dan sepertinya Pengguna Pedang Besar yang akan berjaga dan merawat apinya.
...Apa dia tidak perlu tidur? Yah, kalau dia bilang tidak apa-apa, aku harus percaya padanya.
Meskipun begitu, kalau aku terus terbangun, aku akan terkena status buruk. Aku mengatur waktu tidur agar aku bangun sebelum fajar, lalu mengaktifkan perintah <Tidur>.