Bagian 1-7
Keesokan paginya. Sesaat sebelum fajar menyingsing.
Sesuai rencana, kami pindah dari tempat perkemahan ke pos penjagaan untuk memeriksa ulang rute selanjutnya.
"Saat ini jumlah monster memang sedikit... tapi perasaanku tidak enak. Jangan lengah."
"Ya."
Tampaknya berkat anomali penurunan jumlah monster secara drastis ini, untuk saat ini jalanan relatif aman. Tentu saja, kita tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan bertahan, jadi kita tetap harus waspada.
Tentara bayaran yang ahli juga merasakan firasat buruk, jadi aku harus bersiap siaga.
"Setelah melewati pos ini kita akan berjalan kaki. Ikuti aku dari belakang dan selalu patuhi instruksiku. ...Kalau kau mau mati, terserah."
"Mengerti. Aku akan mematuhi semua instruksimu."
Dari waktu yang kuhabiskan bersamanya, sudah jelas bahwa dia selalu memastikan keamananku tanpa setengah-setengah. Karena itu, aku berniat memercayakan segala hal terkait area kepadanya. Sebisa mungkin aku tidak ingin mengalami respawn.
Setelah pemeriksaan terakhir selesai, kami melewati pos dan melangkahkan kaki ke area reruntuhan.
Langit mulai bercahaya, tapi keadaan sekitar masih sangat gelap.
Namun, berkat rutinitasku membaca buku catatan di kegelapan kemarin, level <Penglihatan Malam>-ku mungkin telah naik, karena aku sama sekali tidak kesulitan melihat garis bentuk pemandangan maupun medan di sekitarku.
Lalu, ada satu hal lagi yang kusadari saat perjalanan kemarin. Ternyata ada fitur praktis di mana jika aku menggunakan <Rekam> sambil menyentuh buku catatanku, isi rekamannya akan langsung tertulis di halaman kosong tanpa aku harus membukanya.
Berkat fitur itu, aku bisa mencatat informasi tanpa harus berada dalam postur lengah yang bisa membuat Pengguna Pedang Besar menegurku. Tentu saja, aku juga tetap memperhatikan keadaan sekitar dan merespons tanda dari <Deteksi> dengan caraku sendiri.
.........Sepertinya level dari skill yang sering kugunakan sudah hampir mencapai batas maksimal. Kudengar jika level skill mencapai batas, keahlian itu bisa berevolusi menjadi tingkat yang lebih tinggi, aku jadi menantikannya.
Kami terus menyusuri area reruntuhan.
Matahari sudah sepenuhnya terbit, dan sekarang kami bisa melihat area sekitar dengan jelas tanpa menggunakan keahlian. Bangunan-bangunan yang tampak seperti reruntuhan mulai terlihat.
Pemandangan bangunan batu yang runtuh dan menyatu dengan pepohonan yang menelannya terlihat sangat magis. Namun di sisi lain, bangunannya sudah lapuk dan runtuh, sehingga mustahil untuk mengidentifikasi tulisan atau ukiran desain di sana.
Tak lama kemudian, Pengguna Pedang Besar berhenti di depan sebuah bangunan reruntuhan yang agak kecil.
"Reruntuhan pertama adalah tempat ini. Ada lubang di dinding samping, kita masuk lewat sana. Anggap saja semua ras manusia selain kita di sini adalah bandit."
"Bandit... Mengerti."
Mengetahui ada musuh selain monster membuat tubuhku menegang. Tempat-tempat seperti ini, yang jarang didatangi orang dan bisa digunakan untuk berteduh dari hujan dan angin, kabarnya akan cepat menjadi sarang bandit atau monster jika dibiarkan.
Mereka yang bahkan tidak bisa mematuhi aturan sosial paling dasar dan membiarkan sifat kekerasannya mengendalikan mereka hingga menjadi bandit, dianggap sebagai musuh yang setara atau bahkan lebih berbahaya dari monster. Terlebih lagi di dunia ini ada sistem di mana seseorang bisa mencari nafkah dengan menjadi tentara bayaran atau petualang tanpa memandang asal-usul.
Yah, para bandit itu pasti juga hanya melihat kami sebagai mangsa.
Dengan kewaspadaan penuh, kami masuk ke dalam reruntuhan melalui lubang di dinding. Seperti penampilannya dari luar, bagian dalamnya tidak terlalu luas. Tidak ada hal khusus yang perlu dilihat.
Namun, Pengguna Pedang Besar sepertinya menemukan sesuatu...
"...Memang sudah lama, tapi ada jejak kalau bandit pernah tinggal di sini."
"Eh."
"Sudah ditimbun, tapi ada bekas galian lubang. Mereka menggali lubang untuk menyalakan api unggun agar cahaya apinya sebisa mungkin tidak terlihat."
"Begitu ya."
Dia mengatakannya dengan mudah, tapi bagi orang awam sepertiku, aku baru akan berpikir "Ah, mungkin memang ada" setelah diberi tahu.
Aku akan memercayakan tugas mencari jejak hal-hal berbahaya seperti ini pada ahlinya.
"Mereka mungkin sudah tidak ada di sekitar sini, tapi jangan lengah."
Karena aku sama sekali tidak keberatan, aku mengangguk dan kami melanjutkan ke reruntuhan berikutnya.
Setelah itu kami memeriksa beberapa reruntuhan, namun progres penyelidikannya tidak menggembirakan. Alih-alih petunjuk tentang serangan monster skala besar, bahkan tulisan atau ukiran yang menyampaikan informasi apa pun tidak ada sama sekali.
Sebagai gantinya, kami menemukan beberapa jejak bandit. Terlebih lagi, seiring kami mengikuti rute, jejak-jejak itu semakin baru.
Kami mungkin akan berpapasan dengan bandit yang meninggalkan jejak ini di suatu tempat. Sungguh situasi yang meresahkan.
Pengguna Pedang Besar juga terus meningkatkan kewaspadaannya setiap kali menemukan jejak. Saat ini, dia dalam mode siap tempur penuh, karena aku bisa merasakan sensasi menyengat yang menyelimuti tubuhku.
Saat kami hampir sampai di reruntuhan tujuan berikutnya, Pengguna Pedang Besar memberi isyarat tangan "Tunggu di situ" dan berlari ke depan. Aku berhenti sesuai instruksi dan fokus pada <Deteksi>, tapi tidak ada reaksi apa pun selain kami berdua.
Tak lama kemudian dia kembali. Entah kenapa dia memancarkan aura yang lebih serius.
"Ada masalah. Kita kembali sekarang."
Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
"Ada apa?"
"Gerombolan bandit itu mati digigit monster sampai hancur. Sepertinya belum lama terjadi."
"...! Itu, kedengarannya buruk..."
"Benar. Ikuti aku tanpa suara."
"Oke."
Target kewaspadaan kami berubah dari bandit menjadi monster tak dikenal yang mampu menghancurkan sekelompok orang bersenjata. Tingkat bahayanya pun naik drastis. Aku tidak bisa bersikap optimis sama sekali.
.........Ini seharusnya misi penyelidikan reruntuhan, tapi kenapa malah berubah jadi alur horor yang penuh kepanikan begini... Apa aku salah pilih genre game? Atau mungkin, ini memang perkembangan cerita standar untuk genre petualangan peradaban kuno? Aku tanpa sadar melarikan pikiranku dari kenyataan.
Berada di depan, Pengguna Pedang Besar terus menyesuaikan kecepatan dan rute agar aku tidak tertinggal. Pastinya dia menahan diri, karena staminaku sudah sangat menipis.
Saat kami sampai di jalan yang sedikit terbuka, terdengar suara gemerisik dari arah depan seolah seseorang sedang menerobos semak-semak, dan kami pun berhenti. Pengguna Pedang Besar sudah meletakkan tangannya di gagang pedang.
Kemudian, <Deteksi>-ku menangkap satu tanda penduduk dan satu tanda monster yang sedang mengejarnya.
Mereka menuju ke arah kami dengan kecepatan tinggi——dan seorang pria melompat keluar dari balik semak-semak.
"Hiii, hiiii! Tolong aku! Aku masih belum mau ma—guaaaaaah!!"
Tepat saat pria itu menyadari keberadaan kami dan berteriak minta tolong, sebuah bayangan besar yang menerjang dari belakang langsung menelannya.
Bayangan besar itu menjatuhkan si pria dan tanpa ampun mulai melahap tubuhnya.
Suara daging yang dirobek, tulang yang diremukkan, suara basah darah atau cairan tubuh lainnya, serta teriakan pria itu terdengar bersahut-sahutan. Pria yang wajahnya berkerut ketakutan itu mengulurkan tangan ke arah kami untuk meminta tolong, namun setelah bayangan hitam itu menyapu layaknya angin, lengannya dari pundak ke bawah langsung lenyap.
Perlahan-lahan, jeritan pria itu pun menghilang di tengah suara mengerikan yang bergema di hutan.
Sambil menahan napas dan menatap tajam ke arah bayangan tersebut, wujud aslinya perlahan mulai terlihat.
Kepalanya... tidak, rahangnya yang sangat besar seperti buaya, mulutnya yang robek hingga ke telinga dipenuhi gigi taring tajam yang berjejer, dan matanya memancarkan cahaya merah yang garang. Kakinya yang berjalan dengan empat kaki memiliki cakar tebal, dengan mudah dapat menekan dan mencabik-cabik mangsanya. Tubuhnya yang menyerupai binatang buas ditutupi oleh bulu hitam yang kaku, dan mungkin karena tidak bercahaya, penampilannya terasa sangat kotor.
Sambil terpaku melihat nyawa yang melayang di depan mataku, secara refleks aku mengaktifkan <Analisis> dan <Rekam>.
[Monster Gila • Tipe Buas]
Status: -
Selalu mencari dan melahap nyawa demi rasa lapar yang tak pernah terpuaskan. Meski wujudnya berubah, prinsip tindakannya tetap sama. Sangat berbahaya karena tidak akan berhenti sampai benar-benar mati.
Klasifikasi: Monster | Habitat: - | Atribut: Tidak ada | Kelemahan: Atribut Suci | Material: Batu Sihir (Sedang)
"Monster, Gila..."
Meskipun diklasifikasikan sebagai 'Monster', deskripsinya jelas memancarkan aura yang berbeda dari monster-monster yang kutemui sebelumnya.
Mendengar gumamanku, Pengguna Pedang Besar berdecak pelan.
"...Cih, aku akan menahannya di sini, kau mundur dan larilah ke utara."
"...Aku mengerti. Hati-hati."
Aku mengangguk dan perlahan mulai mundur.
Sebenarnya, aku yang bisa respawn berkali-kali lebih pantas menjadi umpan.
Namun, kemampuanku yang lemah ini bahkan tidak akan cukup untuk memberinya waktu melarikan diri.
Karena kami berdua memahami hal itu, aku mematuhi perintahnya agar dia bisa bertarung dengan kekuatan penuh.
Saat aku menjauh tanpa bersuara, kulihat Pengguna Pedang Besar mengayunkan pedangnya ke arah monster itu.
"Gyan!? ...Gaaahh!!"
Monster yang tadinya asyik melahap pria itu tersentak karena serangan telak, namun segera bersiap membalas serangan.
Dari yang kulihat, posisi Pengguna Pedang Besar masih sedikit lebih unggul, namun——
"Guruuaaaaaahh!!"
"Hah...!"
Tak disangka, muncul lagi seekor Monster Gila.
Situasinya langsung berbalik karena berubah menjadi dua lawan satu, dan Pengguna Pedang Besar pun terpaksa bertahan.
Melihat hal itu, dengan mengambil risiko tinggi, aku berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menuju reruntuhan. Aku berpikir, kalau aku bisa menemukan tempat untuk bersembunyi dari monster itu, dia mungkin punya kesempatan untuk bertahan hidup.
Untuk saat ini taruhanku berhasil, Monster Gila itu tidak mengejarku.
"Hah, hah..."
Dengan napas terengah-engah, aku akhirnya sampai di reruntuhan terdekat.
Namun, aku tidak menemukan tempat untuk bersembunyi. Kalau aku tidak cepat-cepat menemukannya, nyawa Pengguna Pedang Besar dalam bahaya.
"Ugh! Apa ini...?"
Saat aku berlari mengelilingi reruntuhan dengan perasaan gelisah, tiba-tiba terdengar suara nyaring mendenging di telingaku.
Suara itu terus berdenging, tapi aku tidak bisa menemukan sumbernya.
Tiba-tiba sebuah keyakinan tanpa dasar melintas di kepalaku. Sumber suara ini——
"Jangan-jangan, cincin ini?"
Saat aku menatap cincin usang di jari telunjuk kananku, cincin itu bersinar redup dan bergetar.
...Ngomong-ngomong, aku ingat deskripsinya bilang bahwa benda ini akan beresonansi dengan hal yang berhubungan dengannya. Aku memiringkan kepala bertanya-tanya apakah fenomena ini adalah buktinya.
"Hngg.... Eh!"
Saat itu, tangan kananku bergerak sendiri dan menyentuh dinding di dekatku.
Seketika, dinding itu bergetar dan mengeluarkan suara gemuruh yang berat. Tidak, dindingnya bergerak.
Dinding yang kukira hanya batu biasa itu terbuka ke atas, seperti shutter yang diangkat.
Setelah terdengar bunyi dentuman keras seolah sesuatu tersangkut, dinding itu berhenti bergerak. Celah yang terbuka hanya cukup untuk kulewati jika aku merangkak.
"...Yah, bukanlah ini lebih menguntungkan?"
Aku mengecek bar LP milik Pengguna Pedang Besar di sudut layar UI-ku. LP-nya yang jauh lebih banyak dariku itu sudah berkurang setengah dalam waktu singkat.
Tidak ada waktu lagi untuk memeriksa keamanan di dalam dinding. Aku tidak tahu apakah dia akan sempat, atau apakah niatku bisa tersampaikan. Mungkin saja ini malah menarik perhatian Monster Gila itu kemari.
Namun jika ada sesuatu yang masih bisa kulakukan——
Aku mengangkat peluit pemberian Pengguna Pedang Besar yang tergantung di leherku ke mulutku.
Dan kemudian, meniupnya sekuat tenaga.
Aku terus meniupnya selama napasku masih ada.
"Hmm."
Sebuah tanda muncul di <Deteksi>-ku. Apakah itu penduduk atau monster...
"Ugh, dua monster...!"
Tanpa sadar aku mengerang saat menangkap dua tanda monster yang melesat lurus ke arahku. Seperti dugaanku, aku justru memancing para monster ke sini.
Namun jika ini bisa memberinya waktu untuk memulihkan diri... Saat aku mulai berpikir begitu, aku merasa ada yang aneh dengan tampilan tanda di <Deteksi>-ku.
Setelah kuperiksa lebih teliti, salah satu tanda monster itu tampak bertumpuk dengan tanda ikon penduduk.
...Apa maksudnya? Saat aku masih kebingungan, dari arah depan, dua bayangan besar terlihat berlari ke arahku dengan kecepatan luar biasa.
"Euh...? ...Ah, jangan-jangan, dia menunggangi monster itu?"
Aku melihat ada orang yang sedang menunggangi salah satu monster tersebut. Dengan menggunakan pedang besar yang dipegang di satu tangan untuk menangkis serangan monster lainnya yang berlari di sampingnya.
Bagaimana dia bisa tidak jatuh sambil mengayunkan pedang di atas monster yang berontak dan tidak dirancang untuk ditunggangi... Aku tanpa sadar merasa kagum.
Tangan satunya yang tidak memegang pedang terlihat sedang menggenggam... gagang? Entah pisau atau apa yang tertancap di leher monster itu.
Jadi dia menancapkan pisau pada monster yang ditungganginya untuk memberi damage sekaligus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh... Kemampuan fisiknya benar-benar gila.
Sekarang bukan waktunya untuk kagum. Aku menunjuk ke dinding yang terbuka setinggi lutut itu.
Aku sempat ragu apakah maksudku akan tersampaikan, tapi melihat Pengguna Pedang Besar mengangguk, aku pun masuk ke dalam dinding terlebih dahulu.
Bagian dalamnya adalah lorong berlapis batu yang sangat panjang hingga ujungnya tak terlihat.
Syukurlah, sepertinya ini bukan jalan buntu yang dangkal.
"Gyan!!"
"Gugaaaaaaah!!"
Tiba-tiba, dari balik dinding terdengar suara auman dan jeritan monster, yang membuatku kaget setengah mati. Karena berada di dalam, aku tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar.
Aku mundur sedikit dari dinding dan menunggu dengan tegang——hingga Pengguna Pedang Besar meluncur masuk melalui celah dinding dengan cara melakukan sliding.
Tepat setelah itu, dinding yang terbuka sedikit itu tertutup rapat dengan bunyi benturan yang keras.
"Garuuaaaaah!!"
Dari balik dinding terdengar auman monster disusul suara hantaman keras. Struktur dindingnya tampaknya cukup kuat, tidak ada tanda-tanda akan hancur meski ditabrak oleh monster.
Tapi tetap saja, dinding itu tertutup di saat yang benar-benar pas... Saat aku sedang memikirkan hal itu...
"Eh? ...Ah."
Lagi-lagi, tangan kananku tanpa sadar menyentuh dinding lorong itu.
Jika pintu itu terbuka karena cincin ini, maka kemungkinan tertutupnya pintu itu juga karena cincin ini. ...Jangan-jangan, cincin ini baru saja menyelamatkan nyawa kami? Hmmm....
"Terima kasih, kau sangat membantuku."
Aku mencoba menggumamkannya pada cincin itu. ...Cincin itu terasa bergetar pelan.
"...Sudah kubilang larilah."
Saat aku sedang teralihkan oleh cincin itu, suara berat menggeram layaknya merayap dari tanah turun dari arah atas kepalaku.
Hanya dari nada suaranya, aku tahu kalau dia sangat marah. Alasannya, yah, tentu saja karena aku tidak mematuhi perintahnya.
Tapi, kali ini aku juga punya alasan sendiri.
"Maunya begitu, tapi saat kedua monster itu muncul, hanya masalah waktu sampai salah satunya menargetkanku, kan? Kalaupun aku selamat sendirian, sepertinya mustahil aku bisa kembali ke pos penjagaan."
"...Ugh."
Bantahanku sepertinya tidak terduga olehnya, dand ia terlihat sedikit tersentak.
"Kalau begitu, mencari tempat bersembunyi dari monster akan lebih masuk akal dan memperbesar peluang kita berdua untuk selamat. Dalam situasi seperti tadi, kurasa ini adalah pertaruhan yang masuk akal, kan?"
Meskipun kesuksesannya hampir seluruhnya berkat bantuan cincin ini, inilah yang disebut hasil akhir yang terpenting. Toh kami berdua berhasil selamat.
"......Haa. Kau benar, terima kasih."
Setelah diam sejenak, dia akhirnya berkata begitu sambil menghela napas panjang.
Entah kenapa, dadaku terasa sedikit geli mendengarnya.
"Hal seperti ini sudah sepantasnya. Ini, potion-mu."
Aku mengeluarkan potion dari inventaris dan menyodorkannya pada Pengguna Pedang Besar.
Kalau diperhatikan lebih teliti, terdapat bekas cabikan cakar yang mengerikan di berbagai bagian zirahnya. UI berbentuk angka memang sering kali menumpulkan kepekaan kita, tetapi penurunan LP pada dasarnya berarti tubuh menerima luka fisik.
Ia menerima potion yang kuberikan, lalu membuka penutup wajah di helmnya dan menenggaknya dalam sekali teguk. Karena jumlah batas LP-nya besar, mungkin potion itu tidak cukup untuk memulihkan semuanya, tapi setidaknya sudah membawanya ke zona aman. Meski aku tidak bisa melihatnya, kurasa luka di balik zirahnya setidaknya sudah sedikit lebih baik.
"Jadi, ini di mana? Apa tempat ini aman?"
Pengguna Pedang Besar mengembalikan penutup wajah helmnya dan mengamati sekeliling tanpa lengah dengan postur siap tempur.
"Kurasa ini lorong rahasia di dalam reruntuhan yang jadi tujuan kita. Tapi soal aman atau tidak... aku tidak tahu."
"Oi..."
Ia menatapku dengan tatapan tak percaya, tapi kalau aku tidak tahu, ya mau bagaimana lagi.
"Kita bisa masuk ke sini berkat cincin ini, jadi kupikir... ini bukanlah tempat yang berbahaya."
Mungkin.
"Cincin... yang dari peri itu, ya."
Ia menggumamkan itu dengan nada yang sangat jengkel sambil menatap, atau lebih tepatnya melotot, pada cincin di tangan kananku.
Saat di guild, dia juga menunjukkan ketidaksukaannya pada peri, apa mungkin di masa lalu pernah terjadi sesuatu antara dia dan peri? Yah, kita kesampingkan dulu soal itu.
"Untuk sekarang, aku ingin mencoba masuk lebih dalam ke lorong ini."
"Tentu saja."
Karena monster menanti di luar dan tidak ada pilihan untuk 'keluar', kami sepakat bahwa menjelajahi kedalaman lorong ini adalah satu-satunya jalan.
Begitulah, kami berjalan menelusuri lorong yang gelap itu.
Syukurlah tidak ada jebakan. Setelah menelusuri lorong gelap itu selama beberapa saat, kami tiba di sebuah ruangan yang sangat luas.
Ruangannya terasa sebesar aula teater. Karena sama sekali tidak ada penerangan, kami sepenuhnya mengandalkan <Penglihatan Malam>. Berjalan perlahan di pinggir dinding, kami memeriksa apakah ada lorong lain. Sepertinya tidak ada jalan lain selain lorong tempat kami datang.
Setelah mengecek pinggiran dinding, kami menuju ke tengah ruangan. Saat mendongak, langit-langitnya terlihat sangat tinggi. Dengan level <Penglihatan Malam>-ku yang sekarang, kalaupun ada tulisan atau desain di langit-langit, sepertinya aku tidak akan bisa melihatnya. Ah, benar juga.
"Bisakah kau melihat bagaimana keadaan langit-langitnya?"
Pikirku Pengguna Pedang Besar pasti memiliki kemampuan <Penglihatan Malam> yang lebih hebat dariku, jadi aku mencoba bertanya padanya.
Ia pun mendongak menatap langit-langit, dan mulai bicara.
"...Bagian tengah semakin tinggi. Selain itu, cuma ada semacam balok-balok kecil yang saling bersilangan membentuk pola jaring."
"Begitu ya. Jadi tidak ada tulisan, patung, atau lukisan apa pun di sana."
"Ya."
Sesuai dugaanku, dia bisa melihat langit-langit itu dengan sangat jelas. Langit-langit ruangan ini mungkin berbentuk kubah.
"Meski begitu, aku tidak pernah menemukan catatan tentang keberadaan ruangan seperti ini di dokumen mana pun..."
Kemungkinannya hanya dua: memang belum ada yang menemukannya, atau ada yang menemukannya tapi sengaja merahasiakannya.
Hmm... kemungkinan kedua sepertinya kecil. Kalau di sini ada tumpukan harta karun emas permata sih masuk akal, tapi apa untungnya merahasiakan ruangan yang kosong melompong begini?
Mengenai ruangan ini, kurasa aku bisa melaporkannya pada Guild nanti jika kita bisa keluar dari sini dengan selamat.
Bicara soal kosong, ada satu benda yang memancarkan keberadaan tak biasa di dalam ruangan luas ini, sehingga aku sengaja memeriksanya paling akhir.
Di sana, terdapat sebuah relief raksasa yang diukir memenuhi seluruh dinding. Lebarnya memakan sepertiga dinding, dan ukiran timbulnya memanjang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit.
Bahkan bagiku yang tidak percaya diri dengan selera seni, aku bisa langsung tahu kalau ini adalah peninggalan seni yang sangat bernilai sejarah dan estetika.
Di relief itu, tergambar banyak garis-garis yang bercabang ke segala arah dengan ukuran besar dan kecil, serta ukiran manusia, flora-fauna, dan makhluk-makhluk berbau fantasi di dalam ruang-ruang yang dibatasi oleh garis-garis tersebut. Garis besarnya terlihat seperti silsilah keluarga yang dibalik.
"Gambarnya agak mirip akar pohon... Hm?"
Saat aku memindai relief itu dari atas ke bawah, kulihat ada benda kotak di tengah-tengah lantai. Dari bentuknya, benda itu tampak seperti sebuah prasasti batu.
Batu prasasti... itu berarti...
Aku menahan perasaan berdebarku dan mendekat. Benar saja, di sana terukir 'tulisan' yang sudah lama kutunggu-tunggu.
Terlebih lagi—
"Ini huruf yang sama dengan yang ada di gudang tua...!"
"Apa?"
Suara Pengguna Pedang Besar terdengar lebih dekat dari yang kuduga, membuatku terlonjak kaget. Perpaduan antara kebahagiaan menemukan tulisan dan rasa kaget membuat jantungku berdegup kencang.
Mengesampingkan hal itu, aku harus segera memastikan tulisan di prasasti ini.
"Aku belum bisa membacanya, tapi aku yakin kalau aku berusaha sedikit lagi, aku bisa. Bisakah aku memulai proses penerjemahannya sekarang...?"
"...Yah, tujuan awal kita ke sini memang untuk penyelidikan ini."
"Tapi, apa kita bisa melakukannya di tengah situasi seperti ini...?"
Menahan rasa tidak sabar, aku bertanya pelan-pelan kepada Pengguna Pedang Besar.
"Mau kita keluar sekarang atau nanti, situasinya tidak akan berubah. Asalkan tidak lewat dari batas jadwal penyelidikan asli kita, itu tidak masalah."
"Begitu ya! Kalau begitu aku akan mulai menyelidiki!"
"Hah? Ya..."
Melihatku begitu bersemangat, dia mengangguk kebingungan.
"Kerja bagus untuk hari ini."
Buku catatan dan pena, alat suciku sudah siap.
——Aku terus mengulang kegiatan menyalin teks prasasti lalu menggunakan <Analisis>, kemudian mencari huruf yang sama dengan judul partitur musik dan kembali menggunakan <Analisis>, sampai akhirnya perlahan-lahan aku mulai bisa membaca huruf yang lainnya.
"...Hei. ...Tsk. Hei!"
"Hm, ya?"
Tiba-tiba bahuku diguncang dengan keras.
Kaget, aku mengangkat wajahku dan melihat wajah maskulin Pengguna Pedang Besar tanpa helmnya berada tepat di depanku.
"Istirahatlah."
"Istirahat...?"
Saat aku memeriksa waktu, ternyata enam jam sudah berlalu sejak aku mulai bekerja. Pantas saja.... Ancaman status <Lapar> juga sudah mengintai, dan yang paling penting, sebentar lagi saatnya aku harus tidur di dunia nyata. Bahaya.
"Benar juga... Terima kasih sudah mengingatkanku."
Mendengar jawabanku, dia mengernyitkan dahinya.
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Eh... begitulah? Uwah!"
Saat aku membuang muka dan memberi jawaban ambigu, tiba-tiba dia melingkarkan lengannya di bawah ketiakku dan mengangkatku. Ia menyeretku ke pinggir dinding yang tidak ada reliefnya. ...Aku merasa hal seperti ini juga terjadi kemarin.
Aku tidak melakukan perlawanan sia-sia dan membiarkan diriku diseret. Di tempat itu sudah terpasang lampu, alat perapian sederhana, dan sebuah panci yang sedang dipanaskan di atas api. Bisa dibilang itu adalah perlengkapan kemah lengkap yang memungkinkan kita berkemah meskipun tidak ada fasilitas umum seperti malam sebelumnya. Persiapannya sangat matang.
Aku didudukkan di samping perapian dan diberi cangkir. ...Entah kenapa aku merasa sedang diurus dengan sangat telaten. Sebenarnya tidak perlu sampai begitu, tapi... sudahlah.
Hari ini aku melarutkan semua jatah ransum makanku ke dalam sup dan meminumnya. Rasanya agak kental seperti risotto berbumbu tajam, yang masuk ke perutku yang lapar dan menghangatkanku.
Hari ini kami berjalan dan berlari cukup banyak. Entah sudah berapa lama aku tidak berlari seperti ini.
Sambil merenungkan hal-hal itu, aku menghabiskan sup ransum makananku dan menghela napas lega.
"Huuf, terima kasih atas makanannya. Aku sangat bersyukur bisa makan hidangan hangat..."
Mendengar perkataanku, dia mengangkat sebelah alisnya.
"Padahal kau lumayan sering makan makanan seperti ini."
"...Yah, itu benar juga. Oh iya. Sebentar lagi aku harus tidur panjang. Paling cepat aku akan tidur sekitar satu setengah hari..."
Perutku memang sudah kenyang, tapi aku juga harus tidur di sini dan di dunia nyata.
Ia mengangguk pelan.
"Oh, 'Tidur Orang Asing', ya. Tidak masalah."
"Berarti selama itu, kau harus sendirian di sini..."
"Tidak masalah. ...Tempat ini tenang."
"Begitu."
Merasa tenang di tempat yang gelap seperti ini, benar-benar tidak biasa.
"Kalau begitu, maaf, aku akan tidur duluan."
Karena waktu tidurku di dunia nyata sudah sangat dekat, aku menyiapkan perlengkapan tidurku dan log out di tengah kegelapan reruntuhan itu.
Keesokan paginya di dunia nyata.
Di dalam game, kira-kira satu setengah hari telah berlalu, jadi waktunya mungkin sekitar pagi hari. Sambil berpikir apakah hari ini aku bisa menyelesaikan penerjemahan bahasa itu, aku pun login.
Saat aku membuka mata, pemandangan ruangan bundar yang luas dan kosong masih sama seperti sebelumnya, tapi aku merasakan ada yang aneh dengan sudut pandangku.
Seingatku aku tidur berbaring, jadi pandangan lurus seperti ini terasa janggal. Saat aku mengedarkan pandangan... tepat di sebelah wajahku, kulihat ada bayangan hitam.
"Eh!?"
Saking kagetnya tubuhku tersentak.
Apa itu? Saat aku melihatnya lebih dekat, itu tampak seperti rambut berwarna gelap yang bergelombang. Berarti...
"Karat Besi...?"
Benda yang ada di sebelah wajahku itu kemungkinan besar adalah kepala Pengguna Pedang Besar, yang membenamkan wajahnya di bahuku. ...Rupanya posisi kami sekarang adalah dia memelukku dari belakang.
Aku sama sekali tidak paham kenapa posisinya bisa begini. Dengan perasaan bingung aku mencoba melepaskan diri, tapi lengannya mengunci pinggangku dengan sangat erat sehingga kekuatanku tak bisa menggerakkannya sama sekali.
Mau tidak mau, aku harus menunggu sampai dia bangun... Pikirku begitu, tapi tak lama kemudian terasa gerakan di belakangku.
"...Kau sudah bangun."
Suaranya yang berat dan serak menggelitik leherku.
"Ya. Karena itu... bisakah kau melepaskanku?"
Aku menepuk pelan lengan yang memeluk pinggangku sebagai isyarat.
...Tapi tidak ada tanda-tanda dia mau melepaskannya. Kenapa coba?
"...Kau aneh."
"...Tiba-tiba bilang begitu."
Dihina tanpa alasan yang jelas. Yang bertingkah aneh justru dia.
Tanpa mempedulikan kebingunganku, dia semakin menekan hidungnya ke bahuku, atau lebih tepatnya ke leherku.
"Baunya, tidak tercium."
"Bau?"
Aku tidak mengerti apa maksudnya, jadi aku memiringkan kepalaku.
Sebagai aturan game ini, pihak pengelola sepertinya memutuskan untuk tidak membuat pemain merasakan pengalaman buang air secara realistis, jadi tidak mungkin ada penumpukan kotoran yang mengeluarkan bau...
"Asal tahu saja, ini bukan bau badan."
"Syukurlah."
Aku merasa sedikit—tidak, sangat lega.
"Semakin pekat hawa dewa, semakin baunya membuatku tak tertahankan."
"Hawa dewa..."
Di dunia ini, setidaknya di wilayah budaya ini, 'dewa' merujuk pada Dewa Cahaya Arcturia. Apa itu berarti dia bisa mencium hawa Dewa Cahaya sebagai sebuah bau? Terlebih lagi dia menyebutnya 'tak tertahankan'.
Firasatku mengatakan bahwa dia hendak membicarakan rahasia yang sangat penting, jadi aku menata perasaanku untuk mendengarkan.
"Ini terjadi sejak aku lahir. Entah ini bau yang nyata atau bukan, aku tidak pernah bisa terbiasa."
"Itu..."
Penderitaannya pasti di luar bayanganku. Jangan-jangan, tidak ada satu detik pun dalam hidupnya di mana dia tidak mencium bau itu. Pasalnya, cahaya adalah sesuatu yang menerangi dunia secara merata.
"Kalian para Orang Asing, pada awalnya tidak punya bau itu."
"Oh, begitu?"
Itu berarti, apakah kemunculan pemain tidak ada campur tangan dari Arcturia?
"Tapi, begitu kalian menjadi kuat atau melakukan hal konyol yang disebut 'respawn', baunya langsung menyengat, membuatku tidak tahan."
"Ah..."
Masih banyak hal yang belum kupahami, tapi kalau itu adalah syarat untuk membuat bau pemain bertambah kuat, wajar saja kalau bauku tidak begitu kuat.
Tapi aku juga sempat berpikir, "Menjadi kuat" itu pasti artinya naik level. Tapi aku juga sering menaikkan levelku, lho?
"Kalau begitu, apakah itu berarti bauku lemah dan membuatmu merasa lebih nyaman?"
"Bukan cuma lemah, baumu tidak ada sama sekali."
"Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Karena itulah, kubilang kau itu aneh."
"Ah, jadi berujung ke kata-kata itu lagi."
Memang, jika syarat bau menguat adalah seperti yang dia sebutkan, maka bisa dibilang akulah yang aneh.
Jika bau itu berkaitan dengan hawa dewa, apakah itu berarti kelahiran karakter pemain tidak ada hubungannya dengan kekuatan dewa? Atau mungkin, proses naik level dan 'respawn' itulah yang melibatkan kekuatan dewa?
Tidak, kurasa aku pengecualian. Lagi pula, apakah asumsi tentang hawa dewa itu benar...?
...Informasinya masih terlalu sedikit untuk mengambil kesimpulan. Aku harus bertanya lebih banyak padanya.
"Apa alasan yang membuatmu yakin kalau bau itu berasal dari hawa dewa?"
"Di gereja atau dari para pendetanya, baunya sangat menyengat sampai aku bahkan tidak bisa mendekat. Bau itu sama persis."
Benar juga, kalau begitu memang paling masuk akal menganggap sesuatu yang berkaitan dengan dewa sebagai penyebab baunya.
Untuk saat ini, setidaknya aku sudah memahami garis besar dari kondisinya yang merepotkan itu.
"Lalu kenapa aku masih dipeluk begini?"
"Karena aku tidak mencium bau itu sama sekali darimu, aku jadi bisa tidur nyenyak."
Lengan yang memelukku terasa sedikit mengerat. Setelah tahu situasinya, aku jadi bingung mau bilang apa...
"Yah, baguslah kalau begitu... tapi waktuku tidak banyak, aku ingin melanjutkan penerjemahan."
"......"
Setelah mendengar itu, lengannya akhirnya dilepaskan dari tubuhku dengan sangat enggan. Aura ketidakpuasan memancar kuat dari sekujur tubuhnya. ...Mau bagaimana lagi.
"Selama tidak mengganggu penerjemahanku, kau boleh melakukan sesukamu—uwah!"
Tepat saat aku memberinya sedikit kompromi, dia merangkul pinggangku dan berdiri, membuatku ikut tertarik berdiri bersamanya. Lalu, dia berjalan sambil memelukku. ...Sepertinya aku terlalu cepat berkompromi.
"Uhm, aku bisa jalan sendiri..."
"Kau bilang aku boleh melakukan sesukaku selama tidak mengganggu penerjemahanmu, kan?"
Tebakanku benar, aku memang terlalu cepat berkompromi. ...Yah, selama aku masih bisa menerjemahkan, biarkan sajalah.
Pengguna Pedang Besar itu berjalan sampai di depan prasasti, duduk, lalu meletakkanku di antara kedua kakinya. Mengingat perbedaan postur tubuh kami, posisi ini sebenarnya masih cukup lega bagiku.
...Nah, mari lanjutkan penerjemahannya. Aku membuka buku catatan dan kembali beradu tatap dengan prasasti batu. Karena aku sudah bisa membaca huruf-huruf yang mudah, tujuanku hari ini adalah memecahkan huruf-huruf yang sulit.
Level <Pengetahuan Bahasa> dan <Pengetahuan Arkeologi>-ku sudah cukup tinggi, jadi sekadar menyalin tulisan pun akan terus meningkatkan pemahamanku. Kalau ritmenya terus begini, mungkin aku bisa menyelesaikan semuanya dalam batas waktu login kali ini.
Setelah beberapa saat fokus mengerjakan tugasku...
"Hmhmhm, hmhm~..."
"Kau ceria sekali."
"Hm~... eh? ...Ah!?"
Ditegur olehnya, barulah aku sadar kalau aku sedang menyenandungkan lagu 'itu'.
Bisa-bisanya aku malah bersenandung di tempat yang lebih mencurigakan daripada gudang tua itu. Sesuatu yang jauh lebih parah daripada sekadar 'Keisengan Peri' bisa saja terjadi.
Tidak masalah kalau itu sesuatu yang bagus... tapi saat ini kita sedang menyelidiki ancaman serangan monster skala besar, kalau ada kejadian tak terduga lagi, kita pasti tidak akan bisa mengatasinya. Dan yang paling penting, waktu berhargaku untuk membaca buku akan terpotong.
Aku harus menyimpan eksperimen ini untuk nanti, saat aku sudah kehabisan kegiatan.
"Ah, maaf. Kalau aku mulai bernyanyi lagi, tolong hentikan aku."
"Boleh saja, tapi kenapa?"
"Sebelumnya waktu aku menyanyikan lagu ini di gudang tua, tahu-tahu cincin ini sudah terpasang di jariku."
Aku memperlihatkan tangan kananku sambil menjelaskan, dan dia pun langsung mengangguk paham.
"Akan langsung kuhentikan."
"Tolong ya."
Dengan begini aku bisa sedikit lega.
Aku pun kembali bekerja. Tapi entah kenapa, semakin dalam aku menyelami terjemahannya, mulutku seperti bergerak sendiri menyenandungkan lagu itu, sehingga ia harus sering-sering menutup mulutku.
"Hm~... mgh! Membantu sekali..."
"...Kau tidak melakukannya dengan sengaja, kan?"
"Tentu saja tidak."
Aku tidak punya alasan untuk sengaja melakukannya. Apalagi aku ini bisa dibilang agak buta nada.
"Merepotkan."
Ia mengernyitkan dahinya.