LANGITOREN
0%

Bagian 1-5

penerjemah: oyen
baca di langitoren.my.id

Hal itu tidak sepenuhnya sia-sia. Level <Pengetahuan Bahasa> dan <Pengetahuan Arkeologi>-ku meningkat drastis. Bahkan hampir menyamai level <Analisis> dan <Rekam> yang sering kugunakan selama mengerjakan misi nominasi.

Aku juga mencoba menyalin teksnya ke buku catatan, tapi aku masih sama sekali belum mengerti maknanya. Kalau aku bisa tahu arti satu kata saja, aku bisa menjadikannya batu loncatan. Sayangnya, langkah pertama itu terasa sangat jauh.

​"Apa yang harus kulakukan... Huh? Buku ini belum kulihat."

​Saat aku iseng melihat ke rak lain, aku menemukan sebuah buku yang terselip di antara barang-barang acak.

Aku menariknya hati-hati agar tumpukan barang di atasnya tidak runtuh, lalu membersihkan debunya.

​"Uhuk, uhuk, uhuk!"

​Karena debu yang berterbangan lebih banyak dari dugaanku, aku terbatuk. Setelah napasku sedikit tenang, aku membuka buku itu.

​"Ini... huruf braille?"

​Walaupun teksnya masih belum bisa dibaca, ada sederet titik bulat yang tersusun rapi secara horizontal mengikuti suatu pola tertentu.

Dan entah kenapa, semua halaman setelah halaman pertama kosong.

Aku terus menatap deretan titik itu, berpikir bahwa ini mungkin sedikit mudah dipahami dibandingkan bahasa yang tak ada petunjuknya sama sekali.

​"Hmm... eh?"

​Saat aku memikirkan apakah ada pola umum seperti pada huruf braille atau teka-teki sandi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

​"Jangan-jangan... ini partitur musik?"

​Begitu memikirkan hal itu, deretan titik itu langsung terlihat seperti not balok tanpa garis paranada.

Sebagai percobaan, aku menganggap deretan titik itu sebagai not musik dan mencoba membayangkan melodinya. Kalau saja ada biola atau piano, aku bisa memainkannya untuk memastikan.

...Apa ada alat musik yang mirip kalau aku cari di sekitar sini?

​Karena tidak ada pilihan lain, aku mencoba memastikan melodinya dengan senandung yang nadanya tidak terlalu jelas. Sepertinya ini memang melodi yang utuh, jadi kemungkinan besar ini memang sebuah partitur.

Setelah menyenandungkan separuh bagiannya, aku merasa tidak asing. Di mana aku pernah mendengar lagu ini...?

​"...Ah! Ini lagu pembuka Arsto!"

​Benar, ini adalah musik megah yang diputar saat video pembuka game. Kalau melodi itu disederhanakan, sepertinya memang akan terdengar seperti ini... mungkin.

Begitu potongannya cocok, melodi selanjutnya otomatis berputar di kepalaku dalam versi orkestra yang diputar saat pengenalan cerita. Setidaknya, bisa dipastikan bahwa halaman ini adalah partitur. Berarti, tulisan di bagian paling atas halaman ini kemungkinan adalah judul lagunya.

​"...Jangan-jangan, ini judul asli dari video pembuka itu? Kalau tidak salah..."

​Sambil berpikir bahwa itu mungkin benar, aku mencoba mengingat judul lagu pembuka yang tertulis di situs resminya.

​"Kalau tidak salah, judulnya 'Nada yang Mengharapkan Dunia'. ...Ah."

​Tepat saat aku menggumamkan judulnya sambil melihat bagian yang sepertinya merupakan judul pada partitur, tulisan itu sedikit bersinar.

​"Nada y*** Meng**..."

​...Aku bisa membaca sedikit. Atau lebih tepatnya, hanya untuk satu kalimat ini, rasanya aku sudah tahu cara membacanya.

Dalam game ini, mungkin sebagai bentuk keringanan atas tingkat kesulitan bahasa, pengetahuan dari luar game dan petunjuk resmi rupanya cukup bisa diandalkan.

Meskipun belum dianggap 'menguasai', masih banyak huruf yang tidak bisa kubaca, dan bagian yang bisa kubaca pun masih patah-patah. Karena aku tahu cara membaca satu kalimat ini, skill <Analisis> pun aktif. Aku kemudian menggunakan <Rekam> untuk menyalinnya ke buku catatan.

​...Aku merasa pemahamanku sedikit bertambah. Jika jumlah huruf yang bisa kubaca bertambah, mungkin sebaiknya aku sesekali menggunakan <Analisis>.

​Setelah itu, sambil terus memandangi bahasa yang masih belum bisa dibaca, aku bersenandung kecil menyanyikan lagu pembuka tadi. Karena ini game yang dibuat dengan sangat serius, lagu tema utamanya juga sangat bagus, sampai-sampai aku tanpa sadar mengetuk-ngetukkan jari mengikuti iramanya.

​"Hmm~ hmm~... hm?"

​Saat itulah, aku menyadari ada yang aneh dengan tangan kananku.

Begitu aku menunduk melihatnya, entah sejak kapan ada sebuah cincin yang melingkar di jari telunjukku.

​"Apa-apaan...?!"

​Melihat cincin itu, aku terdiam kaku selama beberapa saat, lalu memegangi kepalaku.

Terlalu banyak hal yang terjadi di gudang tua ini, bukan? Aku sudah cukup kenyang dengan semua kejutan ini, lho?

Karena sama sekali tidak ada notifikasi apa pun, aku benar-benar kaget.

Dengan panik, aku membuka layar perlengkapan di status yang jarang sekali kubuka. Salah satu slot aksesori ternyata sudah terisi. ...Biar kugunakan <Analisis> dulu.

[Kunci Kenangan]

Cincin usang yang tidak diketahui berasal dari zaman apa. Tanda ikatan dari masa lalu yang tak akan pernah kembali. Meskipun telah lapuk, cincin ini akan beresonansi dengan hal-hal yang memiliki hubungan dengan rasa rindu yang tak pernah pudar. Tidak bisa dilepas.

Daya Tahan: - | Kualitas: Aksesori | Material: ??? | Skill Pembuatan: ???

​...Sudah pasti deskripsi ini penuh dengan hal yang perlu dikomentari.

Pertama, namanya 'Kunci', tapi bentuk fisik dan deskripsi analisisnya jelas cincin. Sisanya, aku tidak mengerti sama sekali.

Soal kenangan atau rasa rindu... Aku sedikit paham maksudnya, tapi bagi orang yang baru bermain game ini kurang dari seminggu, hal semacam itu sama sekali tidak masuk akal.

Dan seperti yang tertulis, cincin ini 'usang' dan terlihat sangat tua. Tapi karena nilai daya tahannya tidak ada, apa untuk sementara aku bisa menganggapnya 'tidak bisa rusak'? ...Ternyata penampilannya menipu huh?

​"Lalu, apa maksudnya 'Tidak bisa dilepas'..."

​Pipiku refleks berkedut. Apa ini semacam perlengkapan terkutuk yang sering muncul di RPG terkenal?

Apapun itu, dari penampilan dan hasil analisis, sepertinya tidak ada bahaya, jadi kubiarkan saja dulu. Aku tidak tahu 'resonansi' seperti apa yang dimaksud, aku hanya bisa berharap kebetulan bertemu dengan 'hal yang memiliki hubungan' dengannya.

​Setelah merekam hasil analisis cincin ke buku catatan, alarm yang kusetel untuk mengingatkan waktu pergi ke Guild berbunyi.

Karena waktunya pas, aku merapikan buku-buku dan hendak keluar dari gudang. Namun, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

​"Barang-barang di gudang dilarang dibawa keluar, lalu bagaimana dengan cincin ini..."

​Karena masalah langsung muncul, mungkin ini memang perlengkapan terkutuk.

Aku menatap cincin di jari telunjuk kananku dan menghela napas.

Karena tidak bisa dilepas, apa boleh buat. Aku memutuskan untuk pergi ke Guild dan menceritakan situasinya agar mereka mengerti.

Mengingat kejadian kemarin, aku masuk lewat pintu belakang.

​"Ah, Touno-san! Kami sudah menunggu! Silakan lewat sini."

​Begitu masuk, Carla langsung menyambutku.

Aku tidak diarahkan ke ruang kerja Gil, melainkan ke ruangan yang sedikit lebih luas. Di tengah ruangan terdapat meja panjang berbahan kayu utuh, dengan beberapa sofa untuk dua orang dan satu orang di sekelilingnya. Sepertinya ini ruang tamu untuk banyak orang.

Sudah ada beberapa orang di sana. Selain Gil... sisanya wajah-wajah yang tidak kukenal. Di sebelah kiri ada Gil, seorang pria paruh baya bertubuh mungil, dan seorang wanita dengan postur tegap. Sementara di sebelah kanan, ada seorang pria berpakaian kasual.

​"Hai, Touno-kun. Tepat waktu. Ayo, duduk di sini."

"Oke."

​Gil menyuruhku duduk di sofa yang berseberangan dengannya, tepat di sebelah pria berpakaian kasual itu.

Pakaian kasualnya justru semakin menonjolkan otot-otot tubuhnya yang kekar. Rambut cokelat tuanya dibiarkan berantakan, dan sorot mata merah kecokelatannya sangat tajam. Sekilas pandang, auranya sudah menunjukkan bahwa dia adalah tipe petarung.

Aura intimidasinya sangat kuat sehingga aku ragu untuk duduk di sebelahnya, tapi karena disuruh, aku pun duduk dengan tenang di sampingnya.

Setelah melihatku duduk, Gil mengangguk dan mulai berbicara sambil menatap semua orang di ruangan.

​"Sekarang semuanya sudah berkumpul. Sebelum masuk ke topik utama, aku akan memperkenalkan orang-orang ini pada Touno-kun. Mereka adalah Guild Master dari Guild Petualang dan Wakil Master dari Guild Tentara Bayaran di kota ini."

​Gil memperkenalkan pria dan wanita yang duduk di sofa sebelahnya.

Pria yang duduk di sebelah Gil sepertinya adalah Guild Master dari Guild Petualang... tapi penampilannya sedikit membuatku bingung.

Meski tubuhnya seukuran anak kecil, wajahnya jelas-jelas wajah pria paruh baya. Ia memakai topi unik berkacamata pelindung, dan meski gaya rambutnya tidak terlihat, alisnya yang sangat lebat dan menutupi matanya sudah 80% beruban. Wajahnya yang terbakar matahari dan dipenuhi bintik hitam menunjukkan usianya yang sudah tua.

Kalau melihat ciri-ciri ini, tebakanku adalah ras kurcaci (Dwarf)... tapi entah kenapa penampilannya sedikit berbeda dari bayanganku.

​"Kakahkah! Kau pasti kebingungan melihat rasku, ya? Aku ini dari Ras Kerdil (Halfling). Memang sering disalahartikan sebagai kurcaci, sih! Tapi kami beda ras, jadi tolong diingat, ya!"

​Guild Master berukuran kecil itu tertawa dengan suara serak yang tinggi menyadari kebingunganku.

Seperti katanya, mungkin dia sudah terbiasa dengan reaksi seperti ini. Tapi aku merasa tindakanku tadi sedikit tidak sopan.

​"...Maaf, pengetahuanku masih kurang."

"Yah, itu sering terjadi, jangan dipikirkan! Panggil saja aku Conor."

​Melihatku mengangguk, Conor sang Guild Master Petualang mengacungkan jempolnya puas.

Ngomong-ngomong, Ras Kerdil sepertinya adalah ras tipe manusia yang berbeda dari kurcaci. Selain tubuhnya yang pendek, mereka tidak memiliki ciri khas kurcaci seperti otot yang kekar atau janggut yang tebal. Dari penampilannya, mereka seperti ras manusia biasa versi dewasa yang dikecilkan ukurannya.

Setelah Conor selesai memperkenalkan diri, wanita yang duduk di sebelahnya mulai berbicara.

​"Aku menjabat sebagai Wakil Master Guild Tentara Bayaran. Saat ini Guild Master sedang tidak ada, jadi aku yang menjadi penanggung jawab sementara. Panggil saja Sariha."

​Wanita dengan postur tegap dan aura yang sangat berwibawa itu memperkenalkan dirinya sebagai Sariha, Wakil Master Guild Tentara Bayaran.

Rambut hitamnya yang panjang dan berkilau diikat tinggi, kulitnya kecokelatan, dan mata tajamnya yang cerdas memiliki iris berwarna cokelat gelap yang jernih.

Ciri-cirinya sangat cocok dengan salah satu prasetel ras Manusia Biasa saat membuat avatar, yaitu 'Orang Gurun'.

Nah, karena perkenalan Conor dan Sariha sudah selesai, yang tersisa tinggal...

​"Lalu yang terakhir, yang duduk di sebelahmu itu adalah tentara bayaran yang berbasis di Yunu, dikenal dengan julukan 'Pengguna Pedang Besar Karat Besi'. 'Karat Besi', 'Pengguna Pedang Besar', 'Rusty', atau panggil dia sesukamu."

​Karat Besi... Rusty...

Aku teringat dengan gelar [Shinbeki (Hutan Zamrud)] yang baru saja kudapatkan. Apakah ini yang dimaksud dengan menggunakan julukan untuk menyembunyikan nama asli? Kalau begitu, mungkin aku akan dipanggil 'Jasper'.

Hmm... untuk sekarang, aku akan memanggilnya 'Pengguna Pedang Besar' saja.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Gil tiba-tiba tersenyum dengan sangat lebar.

​"Ngomong-ngomong, orang yang membawa pergi Touno-kun dari hadapan para Orang Asing di gang samping Guild tempo hari itu adalah Rusty-kun."

".....Hah?"

​Itu artinya, Pengguna Pedang Besar di sebelahku ini adalah pria berzirah yang sering kutemui di penginapan?

Melihatku mematung karena fakta yang terlalu mengejutkan ini, Gil tersenyum lebar seolah-olah jebakannya berhasil.

​"Habisnya, aku kaget waktu beberapa Orang Asing datang bertanya, 'Seorang tentara bayaran lokal membawa pergi Orang Asing yang bekerja di dalam sini ke gang belakang, apa dia baik-baik saja?'. Setelah aku tanya detail situasinya, ternyata dia cuma menolong Touno-kun. Syukurlah."

"Dia cuma menghalangi jalan."

​Pengguna Pedang Besar yang daritadi diam akhirnya menjawab dengan nada ketus. ...Benar, ini memang suara si pria berzirah.

​"Kupikir cerita 'dibawa kabur' lebih bisa dipercaya," timpal Sariha.

"...Cih."

​Tak kusangka Sariha menggoda Pengguna Pedang Besar itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Ini mengejutkan.

Saat aku mulai sadar dari rasa kagetku, aku melirik ke samping dan langsung ditatap tajam. Matanya seakan berkata, "Jangan bicara macam-macam".

Padahal tidak banyak yang terjadi di antara kami lho? ...Yah, diam itu emas.

​"Nah, cukup sampai di sini menggoda Rusty-kun."

​Ternyata Gil memang sengaja menggodanya. Aku bisa merasakan suasana hati Pengguna Pedang Besar itu semakin memburuk.

​"Biar kuperkenalkan Touno-kun juga. Dia adalah Orang Asing yang membebaskanku dari tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, dan berkat dia, kita bisa mendeteksi kemungkinan serangan skala besar oleh monster lebih awal. Meskipun kelas profesinya masih 'Kandidat' dan 'Kelas Bawah', aku sangat berharap dia bisa menjadi Arsiparis yang hebat."

"Uh... mohon bantuannya."

​Aku memberikan salam yang formal karena merasa canggung ditatap dengan penuh rasa penasaran oleh Conor dan Sariha.

Lagipula, untuk keahlian sistem akademik, seharusnya tidak aneh jika ada yang menjadi Arsiparis. Tapi kenapa sekarang tidak ada satu pun? Apakah karena tidak ada yang tahu tentang profesi itu sehingga tidak ada yang bisa mendaftar, atau bagaimana?

Gil menghilangkan senyumnya dan menatap kami dengan tatapan serius.

​"Kalau begitu, karena perkenalannya sudah selesai, mari masuk ke topik utama. Pertama, mengenai krisis yang mengancam Yunu, kami menyimpulkan bahwa informasi yang diselidiki sangat dibutuhkan."

"Kalau kita tidak tahu skala serangannya, kita tidak akan bisa mengumpulkan dan menempatkan tentara bayaran yang cukup," kata Sariha.

"Pihak kami juga tidak bisa menghitung pasokan dan pengadaan material yang dibutuhkan," tambah Conor.

"Oleh karena itu, aku berencana untuk memberikan misi kepada para Orang Asing agar melakukan penyelidikan di berbagai area," ujar Gil.

Sariha dan Conor mengangguk setuju dengan rencana Gil.

​"Jumlah petualang dan tentara bayaran di Yunu saat ini kalah jauh dibanding jumlah Orang Asing. Hanya dengan cara ini kita bisa mengandalkan taktik pertempuran jumlah besar."

"Termasuk untuk mengumpulkan material dan memproduksi barang-barang juga!"

​Aku mengangguk sambil berpikir bahwa kalau mereka tidak diizinkan membantu hal-hal itu, pasti akan ada badai protes dari para pemain.

​"Dan juga, kami menemukan tempat yang sangat berpotensi memberikan petunjuk penting, tapi tempat itu dilarang dimasuki oleh mereka yang tidak memiliki kekuatan dan kepercayaan yang cukup. Touno-kun yang telah menyusun informasinya pasti tahu di mana tempat itu, kan?"

​Gil menatapku dengan pandangan menyelidik.

Tentu saja aku tahu. Aku sendiri yang menulis di memo observasi bahwa 'tempat ini mencurigakan'.

​"Reruntuhan di barat daya?"

"Tepat sekali."

​Jika membandingkan catatan serangan masa lalu, anomali sebelum serangan, dan anomali yang terjadi saat ini, reruntuhan barat daya sangatlah mencurigakan.

Anomalinya adalah hewan-hewan menghilang dari sekitar lapangan barat daya, termasuk area reruntuhan, dan pertemuan dengan monster menurun drastis.

Selain itu, ada catatan yang menyebutkan bahwa saat serangan terjadi, pertempuran paling sengit terjadi di sisi selatan kota. Karena itu, aku menduga ada faktor penyebab munculnya monster dalam jumlah besar di barat daya.

​"Untuk mencegah tempat itu dijadikan sarang oleh bandit atau monster, pihak Aliansi Guild bekerja sama untuk menyelidiki dan menjaganya. Tapi jujur saja, kami kewalahan dengan tugas penjagaan sehingga penyelidikannya sama sekali tidak berjalan..."

...Oh? Alur pembicaraan ini.... Gil tersenyum lebar penuh arti.

​"Mengingat prestasi dan kepercayaan yang sudah kau bangun, serta keunikan Orang Asing, aku ingin meminta Touno-kun untuk menyelidiki reruntuhan barat daya!"

​Sudah kuduga...!

​"Tunggu sebentar. Menyelidiki memang tidak masalah, tapi kemampuan bertarung ku benar-benar nol, bahkan aku belum pernah keluar kota sejak tiba di dunia ini..."

​Sepertinya dia menghargai kemampuanku untuk menyelidiki. Namun, area di luar kota, apalagi masuk lebih dalam dari area pemula, aku tidak punya harapan lain selain mati bahkan sebelum mencapai tempat tujuan.

Aku memang berencana untuk keluar kota suatu saat nanti, tapi bukan untuk misi penting seperti ini.

​"Tentu saja aku paham soal itu. Oleh karena itu, aku memanggil Rusty-kun untuk menjadi pemandu sekaligus pengawalmu!"

"A-ah, begitu ya...?"

​Syukurlah, ternyata dia tidak berharap aku bisa bertahan hidup sendirian di luar.

Jadi itu alasan kenapa Pengguna Pedang Besar itu ada di sini.

Tetap saja masih ada kekhawatiran. Aku sih tidak masalah, tapi apakah Pengguna Pedang Besar itu setuju?

​"Kemampuan Rusty-kun tidak perlu diragukan lagi, dan belakangan ini sepertinya dia sering mengerjakan misi bersama Orang Asing. Dia pasti orang yang paling tepat untuk mengawal Touno-kun karena sudah mengerti situasi Orang Asing. Lagi pula, kalian sudah saling kenal dan sering makan bersama, kan?"

"Bukan kenal."

​Pengguna Pedang Besar langsung memotong ucapan Gil.

Yah, entah kami bisa disebut kenal atau tidak, tapi memang benar kami makan dari penginapan yang sama.

​"Karat Besi memang sikapnya begitu, tapi dia sudah setuju dengan isi dan hadiah misi pengawalannya. Sekarang tinggal kau saja yang memutuskan apakah mau menerima misi penyelidikan ini atau tidak."

"Begitu."

​Entah kenapa aku merasa posisiku sudah terpojok. 

Atau lebih tepatnya, Pengguna Pedang Besar itu sudah setuju dari awal? Entah apa alasan dan perasaannya saat menerima misi ini.

Meski begitu, aku tidak keberatan menerima misinya. Semuanya sudah dipersiapkan sedemikian rupa, dan kalau aku bisa pergi ke reruntuhan, mungkin aku juga bisa menemukan petunjuk tentang bahasa yang hilang tadi.

​"Baiklah, aku terima misi penyelidikannya."

"Syukurlah! Maaf kalau terburu-buru, tapi aku ingin kau segera berangkat setelah persiapan selesai. Tanyakan saja pada Rusty-kun apa saja yang diperlukan untuk pergi ke luar kota."

"Oke."

【World Quest: Misi Nominasi Aliansi Guild】

Selidiki reruntuhan barat daya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai serangan monster skala besar.

Klien: Aliansi Guild Kota Permulaan 'Yunu' | Batas Waktu: 7 Hari tersisa

Hadiah: 3000G, Daya Tahan Yunu Meningkat (Kecil), Kepercayaan dari Aliansi Guild Meningkat (Kecil), ??? (Berubah sesuai hasil)

​Bersamaan dengan keputusanku untuk menerima misi, notifikasi pesanan misi pun muncul. Isinya persis seperti yang baru saja dibahas, jadi tidak ada yang perlu dikomentari. ...Sangat meyakinkan.

​"Pembicaraan dariku sudah selesai. Ada yang ingin menambahkan sesuatu?"

Pertanyaan Gil mengingatkanku pada hal yang ingin kudiskusikan sebelum aku login.

​"Ah, benar juga. Ini tentang area kota yang bisa dimasuki oleh Orang Asing..."

Aku menceritakan bahwa di kalangan Orang Asing ada informasi yang beredar soal memasuki area terlarang di dalam Guild atau kota asalkan mendapat izin atau diantar oleh penduduk. Aku bertanya apakah hal itu boleh disebarkan, dan juga menyampaikan kekhawatiranku mengenai beban yang mungkin akan ditanggung oleh beberapa penduduk akibat hal tersebut.

​"Hmm, memang benar sistemnya seperti itu, tapi aku tidak menyangka para Orang Asing sudah menyadarinya.... Masalah ini sebaiknya tidak diserahkan pada individu, Aliansi Guild yang harus membukanya secara bertahap atau mengelola tempat-tempat yang akan dibuka."

"Ya, Orang Asing akan lebih mudah mengerti kalau prosedur dan persyaratannya jelas. Mayoritas pasti akan mematuhinya dengan baik."

​Itu akan terasa lebih seperti game. Tidak... ini kan memang game. Tunggu, tadi dia dengan santai bilang 'memang benar sistemnya seperti itu'.... yah, sudahlah. Pasti karena kekuatan magis fantasi.

Lagipula, seperti yang diharapkan dari penanggung jawab Guild Profesi, ia langsung mengerti masalahnya dan siap mengambil tindakan yang tepat.

​"Kalau kau begitu ingin masuk ke dalam Guild, masih banyak pekerjaan yang menunggumu. Terutama bagi mereka yang punya keahlian <Analisis>. Aku bahkan tidak keberatan memberikan buku keahlian <Rekam> sebagai bonus..."

​Astaga, aura kelicikan menyelimuti penggila kerja itu.. 

​"Kalau begitu, aku akan mengabari para Orang Asing dengan pesan, 'Tunggu pengumuman resmi karena Aliansi Guild akan segera menyiapkan syarat dan ketentuannya'."

"Itu akan sangat membantu! Boleh aku serahkan padamu?"

"Tentu."

​Karena aku yang mengusulkannya, biarlah aku yang melakukannya. Mempostingnya di thread Panduan, thread Kota Permulaan, dan thread NPC sepertinya sudah cukup.

Saat aku sedang merencanakan hal itu, aku merasakan sentuhan yang tidak biasa di tanganku yang sedang menopang dagu.

Saat aku melihatnya, cincin usang itu melingkar di jari telunjukku.

...Oh iya, aku juga harus membahas masalah cincin yang terpaksa kubawa keluar.

Aku menghela napas kecil.

​"Kalau begitu, kami permisi dulu."

"Kalau ada minat, mampirlah ke Guild Petualang!"

​Karena diskusi mengenai permintaan terkait World Quest sudah selesai, Conor dan Sariha pamit keluar karena mereka berdua sangat sibuk sebagai penanggung jawab Guild masing-masing.

Sekarang di ruangan ini hanya tersisa Gil, Pengguna Pedang Besar, dan aku. Sebenarnya aku ingin membicarakan ini berdua saja dengan Gil, tapi karena Gil sangat sibuk, aku memutuskan untuk membicarakan soal cincin itu sekarang.

​"Gil. Tadi aku mampir ke gudang tua, dan um... entah bagaimana cincin ini tiba-tiba terpasang di jariku, dan tidak bisa dilepas. Padahal barang-barang di sana tidak boleh dibawa keluar, aku minta maaf."

​Aku memperlihatkan cincin itu dan menjelaskan secara garis besar informasi yang kudapat dari <Analisis>.

​"Kalau tidak bisa dilepas, ya mau bagaimana lagi. Lagipula, cincin itu tidak tercatat dalam inventaris barang, jadi urusan membawanya keluar tidak akan dipermasalahkan."

Gil tersenyum saat mengatakannya.

Baguslah kalau itu tidak jadi masalah, tapi apa maksudnya barang itu tidak pernah ada di gudang tua itu sejak awal? ...Ini malah membuatnya terdengar makin seperti barang mistis.

​"Apa ada cara untuk melepas perlengkapan seperti ini?"

"Kalau itu kutukan, bisa dilepas dengan sihir penghilang kutukan. Tapi sepertinya itu bukan karena kutukan. Kemungkinan lain, ini adalah 'Keisengan Peri' yang kadang-kadang terjadi. Kalau peri yang iseng itu sudah puas atau bosan, cincin itu tidak akan bisa dilepas."

"Hmm... Itu artinya lebih merepotkan daripada kutukan."

"Hahaha, begitulah peri."

​Peri, ya.... Meski belum pasti, tapi untuk saat ini, itulah alasan yang paling masuk akal mengapa cincin ini terpasang. Aku tidak pernah mengira aku akan berurusan dengan makhluk sefantasi itu, tapi yah, siapa yang tahu.

Lagipula, untuk saat ini tidak ada dampak buruk lain selain slot aksesoriku berkurang satu. Karena masalah membawanya keluar juga sudah selesai, ku putuskan untuk membiarkannya saja.

​"Kalau begitu, urusan selanjutnya kuserahkan padamu, Rusty-kun. Kau bisa membebankan biayanya ke Aliansi. Tolong jaga Touno-kun."

"Hmph... ini demi pekerjaan."

​Setelah memberikan senyuman pasrah pada balasan ketus Pengguna Pedang Besar itu, Gil juga meninggalkan ruangan.

Kini di ruang tamu yang luas ini, hanya aku dan Pengguna Pedang Besar yang duduk berdampingan di sofa. 

​"Katanya bilang akan 'berhati-hati', tapi lihat dirimu sekarang."

"Eh, uwaaah!"

​Tiba-tiba tangan kananku ditarik dengan kuat sehingga keseimbanganku goyah, dan aku terjatuh ke arah Pengguna Pedang Besar.

​"Itu di luar kendaliku..." keluh Pengguna Pedang Besar dengan nada kesal.

​Memang bisa dibilang aku sedang diganggu, tapi tolong beritahu aku kalau situasi seperti ini bisa diprediksi dan dihindari. Apa pemicunya... mungkin nyanyianku tadi yang tidak enak didengar?

​"...Uhm, tolong lepaskan aku."

​Karena posisi ini mulai terasa menyakitkan, aku memintanya untuk melepaskanku... tapi dia malah mencengkeram cincin itu dan menautkan jari-jarinya ke jariku. Apaan dia? 

Terdengar bunyi deritan aneh dari cincin itu. Rasanya ada tekanan yang sangat kuat pada cincin itu. Urat-urat di tangan dan lengannya yang mencengkeram jariku terlihat menonjol.

...Kalau tangannya tergelincir sedikit saja, jariku bisa patah, pikirku dengan panik. Tiba-tiba terdengar decakan lidah dari atas.

​"...Cih. Tidak hancur, huh."

"Sudah kubilang penampilannya menipu."

​Bagaimanapun juga, daya tahannya tidak tercantum.

Bukan berarti daya tahannya tidak terbatas, tapi mungkin level <Analisis>-ku yang kurang tinggi... atau perinya tidak mau memberitahukan informasinya.

​"...Hmph."

​Akhirnya, tangan kananku dilepaskan.

​"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

​Sambil menghela napas lega, aku menanyakan rencana selanjutnya. Aku belum pernah berpetualang atau bertarung, dan tidak punya rencana untuk melakukannya dalam waktu dekat, jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

​"Kau pulanglah ke penginapan dulu. Tunggu sampai aku kembali."

"...Oke."

​Setidaknya aku ingin tahu berapa lama aku harus menunggu, tapi kalau aku bertanya, dia pasti akan mengabaikanku. Yah, masih ada banyak waktu sebelum aku harus logout, jadi tidak masalah.

​"Jangan mampir ke mana-mana."

​Setelah mengatakan itu, Pengguna Pedang Besar bergegas keluar dari ruangan. ...Apa dia baru saja memberiku peringatan keras agar tidak mampir ke gudang tua?

Sial, kalau aku punya waktu luang, aku ingin melanjutkan membaca buku di sana. Tapi, karena aku akan bergantung padanya untuk penyelidikan diluar, aku tidak ingin merepotkannya lebih jauh.

Aku akan mengikuti instruksinya dan kembali ke penginapan untuk menunggu.

​Sesampainya di penginapan Rosa, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan pengunjung di ruang makan sudah jauh berkurang. Suasana hening dan santai menyelimuti ruangan.

Aku jadi ingat impianku untuk membaca buku dalam suasana tenang khas tengah malam seperti ini. Sayangnya aku belum punya buku sendiri, tapi kalau nanti aku punya, aku akan membacanya di ruang makan pada jam segini.

Untuk saat ini, aku akan memakan makanan hangat, lalu karena kemungkinan aku harus menunggu lama, aku pindah ke sudut ruang makan. Sambil meminum susu panas buatan Rosa, aku mencoba menghabiskan waktu.

​Pertama-tama, aku menulis di papan buletin game: "Cara masuk ke area terlarang di Yunu, harap tunggu pengumuman resmi dari Aliansi Guild."

Setelah mempostingnya, aku membalas beberapa pertanyaan dan keraguan yang menarik perhatianku, lalu menutup jendela pada waktu yang kurasa pas.

Di antara para pengguna anonim, ada seorang pemain dengan nama unik, 'Kensho Yaro Z (Pria Penguji Z)', yang cukup berkesan.

​"Hmm."

​Meski begitu, aku tidak menyangka bahwa ruang arsip di lantai dua juga tidak bisa dimasuki tanpa bertanya pada penduduk. Padahal Carla bilang siapa saja boleh membacanya, jadi seharusnya pemain bisa masuk asalkan diantar oleh staf resepsionis.

Pantas saja aku tidak melihat satu pun pemain di ruang arsip. Sepertinya semua orang hanya bertanya tentang area, material, dan info profesi, sehingga mereka tidak diarahkan ke ruang arsip.

Yah, karena informasi-informasi itu sering digunakan, wajar saja kalau banyak salinannya di konter dalam.

​Karena Pengguna Pedang Besar belum  menunjukkan tanda-tanda akan kembali, aku memutuskan untuk menyusun informasi tentang area barat daya dan reruntuhan di buku catatanku sebagai pengingat.

Aku mencatat distribusi dan jenis monster saat ini, yang sedang mengalami anomali. Informasi mengenai flora, fauna, dan mineral juga kutulis sekadar untuk dicatat.

Sisanya, biarkan penduduk atau pemain berprofesi tipe sarjana yang melakukan penelitiannya.

​Untuk reruntuhan, sulit membayangkan bentuk fisiknya hanya dari deskripsi teks. Alangkah baiknya jika aku bisa meninggalkan sketsa... sayangnya, aku tidak punya bakat menggambar. Apakah ada keahlian menggambar di game ini?

Cara terakhir adalah dengan tangkapan layar (screenshot). Kalau aku memotretnya, itu akan membantuku membuat deskripsi tertulis yang mendetail nanti.

​Sambil memikirkan hal itu dan merapikan catatan, penyusunan informasi area barat daya sudah selesai.

Pengguna Pedang Besar masih belum kembali. Kalau begitu, aku akan coba menyalin satu-satunya bahasa misterius yang berhasil ku-<Rekam>.

...Ugh, susah sekali. Tapi level <Menulis>-ku naik drastis. Cukup bagus.

​Tepat saat aku sedang asyik dengan pekerjaanku—

Tiba-tiba, sesuatu yang berat dijatuhkan tepat di depanku.

​"Uwaa!?"

​Aku sangat terkejut sampai tubuhku terlompat. Gara-gara sedang menulis, tintanya jadi terciprat ke sembarang arah

Benda yang jatuh di depanku itu adalah sebuah kantong kulit yang sangat besar dan isinya penuh hingga menutupi pandanganku saat aku duduk.

Dari arah atas terdengar bunyi dengusan kasar "Hmph", dan saat aku melihat ke atas, Pengguna Pedang Besar berdiri di sana dengan wajah yang selalu terlihat kesal.

​Pakaiannya masih kasual seperti saat pertemuan tadi, namun kini ia menyarungkan pedang yang lebih kecil di pinggangnya, bukan pedang besar yang biasa ia bawa di punggung. Untuk ukuran Pengguna Pedang Besar, pedang itu pasti terasa sangat ringan untuk diayunkan dengan satu tangan. Bagiku menggunakan dua tangan pun mungkin masih terasa berat.

​...Ini pertama kalinya aku melihat wajah aslinya dari depan.

Seperti yang kulihat di Guild, rambut cokelat tuanya yang bergelombang acak-acakan dan mata cokelat kemerahannya yang bersinar redup sepertinya menjadi asal usul julukan 'Karat Besi'. Sorot mata tajamnya yang mengintip dari balik poni panjangnya menunjukkan wajah yang tangguh. Usianya mungkin awal dua puluhan.

​Pengguna Pedang Besar menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang mejaku, lalu mengeluarkan sebuah kain besar dari kantong kulit tersebut dan melemparnya ke arahku. Entah disengaja atau tidak, kain itu menutupi wajahku.

​"Umph."

"Pakai itu kalau di luar. Saat berkemah, itu akan jadi alas tidurmu."

​Saat aku membentangkan kain, ternyata itu adalah jubah berdesain sederhana yang terbuat dari bahan tebal, lengkap dengan tudung dan pengait.

[Jubah Mouton]

Jubah kuat yang terbuat dari kulit domba. Bisa menahan udara dingin dan hujan. Dibuat dengan teliti dan berkualitas tinggi.

Daya Tahan: D | Kualitas: B | Klasifikasi: Pakaian Luar | Efek Perlengkapan: Pertahanan +5, Tahan Dingin, Tahan Air, Tahan Debu

Material: Kulit Domba, Taring Babi Hutan | Keahlian Pembuatan: <Menjahit> | Pembuat: Bayville

​Hm? Informasi yang muncul sepertinya lebih banyak dari sebelumnya. Apa ini karena level <Analisis>-ku sudah naik?

​"Jubah yang sangat bagus. Akan kugunakan dengan baik."

​Dari informasinya, terlihat jelas bahwa jubah ini memiliki fungsionalitas tinggi terlepas dari penampilannya.

Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Pengguna Pedang Besar tentangku, tapi setidaknya dia memberikan kesan sebagai seseorang yang serius dalam menjalankan misi yang diterimanya.

​"...Itu sudah jadi milikmu, terserah kau mau apakan. Ini ramuan pemulihan LP dan ransum makanan bagianmu."

​Selanjutnya, beberapa botol berisi cairan kuning kehijauan dan beberapa bungkusan kotak diletakkan di atas meja. Botol itu adalah Life Potion, item untuk memulihkan LP. Sedangkan bungkusan kotak itu adalah ransum makanan praktis yang bisa digunakan untuk memulihkan tingkat kekenyangan dengan mudah.

​"Ah, soal dua barang itu, aku masih punya sisa persediaan yang belum kugunakan..."

​Benar, Life Potion dan ransum makanan yang kumiliki sejak awal game masih utuh tidak tersentuh.

​"Hah? Kalian para Orang Asing punya banyak juga tidak akan masalah, kan?"

"Yah, memang sih."

​Maksud Pengguna Pedang Besar dengan 'punya banyak juga tidak masalah' sepertinya merujuk pada fitur 'Inventaris' yang hanya bisa digunakan oleh para pemain.

Pemain memiliki fitur penyimpanan barang berupa inventaris, sementara para penduduk di sini tampaknya tidak memilikinya.

​Sungguh mengejutkan ada perbedaan seperti itu.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.