LANGITOREN
0%

Bagian 1-3


penerjemah: oyen
baca di langitoren.my.id

​"Kalau begitu, apa kau mau langsung mengerjakan misinya?"

"Ya, mohon bantuannya."

"Baiklah! Aku sudah menyiapkan meja di dalam untukmu bekerja, silakan lewat sini."

Diarahkan oleh Carla, aku masuk melewati pintu di ujung konter resepsionis ke bagian dalam.

"Hm?"

Begitu masuk ke area staf, aku merasa suasana di dalam Guild mendadak riuh.

Apa mungkin aku sebenarnya tidak boleh masuk ke sini?

Tapi staf Guild di sekitarku tampak tidak peduli, dan Carla terus berjalan ke dalam, jadi aku memutuskan untuk mengabaikannya dan terus melangkah.

Langkahnya berhenti di sebuah area berantakan tempat tumpukan kertas berserakan.  

​"Gil-san! Arsiparis Touno-san sudah menerima misinya! Tolong ajari dia cara membuat dokumennya!"

"A-apa katamu?! ...Oh, Dewi Arcturia, terima kasih..."

Saat Carla berseru ke arah tumpukan kertas yang paling tinggi, terdengar bunyi gemeretak keras dari baliknya disusul suara pria yang kegirangan. ...Namun wujudnya masih belum terlihat.

"Ayo dong, Gil-san. Kalau kau di situ, aku tidak bisa memperkenalkanmu pada Touno-san," tegur Carla. "Touno-san, ini Gil-san yang malang, yang sedang merasakan neraka di lautan informasi. Biarpun begini, dia ini Wakil Master di Guild."

"H-haa..."

Jangankan penampilannya, wujudnya saja tidak kelihatan, jadi aku tidak bisa menilainya... Sambil menatap tumpukan kertas itu, sebuah bayangan kurus panjang tiba-tiba muncul dari baliknya.

"Hai, namaku Gil. Seperti kata Carla, aku Wakil Master di sini, tapi karena aku dipekerjakan layaknya kuda penarik kereta, panggil saja aku Gil dengan santai."

Mengatakan itu, Gil tertawa lemas.  

​Gil adalah pria menjelang paruh baya dengan kesan tubuh kurus panjang dan wajah yang kelelahan.

Rambutnya yang panjang lebih terlihat seperti warna jerami pudar daripada pirang, dan entah karena faktor usia atau kelelahan, rambut itu tampak kering dan makin mirip jerami.

Warna matanya sulit dilihat karena matanya sipit, tapi sepertinya warnanya mirip dengan rambutnya.

Karena jabatannya Wakil Master, pakaian Gil terlihat memiliki sedikit lebih banyak ornamen dibandingkan seragam staf Guild lainnya. ...Meski pakaiannya sama lusuhnya dengan orangnya.

Sepertinya dia dekat dengan para staf bawahan sehingga memancarkan aura yang santai.

"...Halo. Aku Kandidat Arsiparis Kelas Bawah, Touno. Salam kenal."

"Kalau begitu aku panggil Touno-kun ya. Mohon bantuannya!"  

​"Nah, Touno-san, silakan pelajari cara membuat dokumen dari Gil-san. Ah, dan pastikan istirahat di penginapan sebelum kau pingsan!"

"...Ugh, mengerti."

Setelah menyindirku dengan telak, Carla kembali ke konter resepsionis.

"Sip, mari langsung kujelaskan caranya. Secara garis besar, tumpukan kertas di sini adalah gunungan informasi yang didapat dari penyelesaian misi. Untuk Touno-kun, kau hanya perlu menggunakan <Analisis> pada kertas-kertas ini satu per satu, lalu menggunakan <Rekam> pada kertas kosong itu untuk memindahkan hasil analisismu. Nanti dokumen yang rapi akan tercipta. Bagaimana, mudah kan?"

"...Ya, aku paham alurnya, tapi aku belum pernah memakai skill sama sekali, jadi aku tidak yakin bisa menggunakannya dengan benar."

Aku belum menyelesaikan tutorial penggunaan skill apa pun, jadi aku tidak tahu cara memicunya.  

​"Oh, begitu ya? Ah, benar juga, Touno-kun itu Orang Asing. Tenang saja, aku akan membantumu di awal. Lagi pula Orang Asing konon berkembang dengan sangat cepat, jadi pasti tidak masalah."

"Kalau begitu... akan kucoba."

Dari kedengarannya, selama aku bisa menggunakan keahlianku, ini akan jadi pekerjaan mudah bagiku.

Atau lebih tepatnya, aku sangat merasa kalau pekerjaan ini akan buntu tanpa <Analisis>. Pasti sangat berat bagi Gil yang cuma punya skill <Menulis>.

Tanpa menyadari tatapan simpatiku, Gil mulai menjelaskan cara memakai keahlian.

"Mari mulai dari cara memakai keahlian. Pertama, tatap tumpukan kertas ini dan fokuskan pikiranmu pada skill <Analisis>, nanti skill akan aktif. Cobalah."

"Fokus... Ah, sepertinya bisa."  

​Saat aku memfokuskan pikiran sesuai arahan Gil, aku langsung merasakan sensasi aktifnya keahlian tersebut. Informasi yang tertulis di tumpukan kertas itu berubah menjadi huruf-huruf bercahaya yang tersusun rapi di depan mataku. Karena banyak catatan acak di dalam tumpukan itu, sistem sepertinya merapikannya agar lebih mudah dibaca. Sangat praktis.

"Nah, mudah kan?"

Melihatku kagum, Gil tersenyum lebar.

"Langkah berikutnya, tatap kertas kosong ini, lalu fokuskan pikiranmu pada hasil <Analisis> tadi dan skill <Rekam>."

"Merekam hasilnya... Berhasil."

Saat aku mengaktifkan <Rekam> sesuai instruksi, huruf-huruf bercahaya di depanku langsung tersedot masuk ke dalam kertas kosong tersebut. Kertas itu tidak lagi kosong, melainkan sudah berisi informasi hasil analisismu.

Hmm, rasanya seperti menggunakan komputer dan mesin cetak, teknologi yang sekarang sudah dianggap retro.

"Kerja bagus. Secara garis besar alurnya seperti itu... Sisanya kau tinggal menggunakan <Analisis> pada semua tumpukan kertas di sini dan merekamnya dengan <Rekam>!"  

​Walaupun pekerjaannya mudah, saat aku kembali melihat sisa tumpukan kertas yapng memenuhi meja besar itu, aku tidak bisa menahan wajahku yang berkedut.

Terakhir, aku diajari tentang perlengkapan yang dibutuhkan dan prosedur penyerahan dokumen.

"Kalau kau butuh tambahan kertas kosong, minta saja pada staf di sekitar sini. Untuk penyerahan, panggil saja aku atau Carla. Ada pertanyaan lain?"

"...Tidak, kurasa ini sudah cukup."

Setelah berpikir sejenak, aku mengangguk karena saat ini tidak ada hal yang membingungkan.

"Sip. Kalau begitu, kuserahkan padamu! Gaaah! Berkat Touno-kun aku akhirnya bisa tidur!"

Gil meregangkan badannya yang kurus panjang sampai terlihat semakin melar. ...Diam-diam aku membatin kalau dia mirip serangga tongkat.  

​Dari ucapannya, jelas dia begadang semalaman. Kalau aku bisa melihat statusnya, pasti ada status <Kurang Tidur> di sana.

Aku duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Gil, lalu mulai merapikan tumpukan kertas agar tidak ambruk.

"Ah, Wakil Master. Kalau sudah bangun dari tidur siang, tolong bantu di sini."

".........Ya, mengerti.........."

.........Terdengar percakapan seperti itu dari tempat yang agak jauh. Jadwal Gil setelah tidur sepertinya sudah langsung terisi penuh. Rupanya staf yang punya kemampuan brilian di sini bukan cuma Carla.

Kesan Gil sebagai kuda pekerja yang menyedihkan... akan kusingkirkan dulu dari pikiranku.

Omong-omong, apakah menggunakan keahlian membutuhkan semacam poin atau meteran?

Saat aku mengecek layar status dengan gerakan mata, aku bisa melihat detail setiap keahlian dengan menatapnya lebih fokus.  

​<Analisis> Konsumsi AP: 2

Mengungkapkan hal-hal, sifat, komponen penyusun, dan lain-lain dari suatu objek.  

​<Rekam> Konsumsi AP: 2

Menuliskan hal-hal, sifat, komponen, dan lain-lain yang telah terungkap.  

​Membaca deskripsi ini, sepertinya <Rekam> adalah skill khusus untuk menuliskan hasil dari <Analisis>.

AP adalah singkatan dari Action Point, yaitu parameter yang dikonsumsi saat menggunakan skill atau teknik bela diri. Sihir membutuhkan AP sekaligus MP (Magic Point).

Di sudut pandanganku ada empat bar yang berjajar, masing-masing menunjukkan LP, stamina, MP, dan AP milikku.

Selain itu ada juga tab terlipat yang berisi tingkat kekenyangan dan waktu aktivitas beruntun; ada begitu banyak angka yang terangkum sampai-sampai terasa seperti aplikasi pemantau kesehatan.

...Sebaiknya tingkat kekenyangan dan waktu aktivitas beruntun selalu kutampilkan.  

​Aku sedikit membuang waktu mengecek status, mari mulai kerjanya... ah, maksudku misinya.

Aku mengambil selembar dokumen secara acak dari tumpukan kertas.



[Progres: 13%]

Inilah hasil usahaku mengerjakan misi selama setengah hari.

Kukira ini akan cepat selesai, tapi ternyata ada rintangan tak terduga.

Kekurangan AP yang sangat parah, ditambah fakta bahwa saat ini cara memulihkan AP hanyalah dengan menunggu waktu berjalan.

Karena cara pemulihannya terbatas, kecepatan regenerasi AP ini adalah yang tercepat kedua setelah stamina. Dalam kondisi normal mungkin ini tidak jadi masalah, tapi situasinya berbeda kalau butuh bekerja terus-menerus seperti ini.

Batas waktu misi ini tujuh hari. Kalau dikurangi waktu wajib log out, waktu kerjaku secara praktis cuma lima hari. Dengan kecepatan seperti ini, kurasa aku akan menyelesaikannya sangat mepet dengan tenggat waktu.

Kalau tingkat skillku naik karena sering dipakai, dan aku memasukkan semua Poin Pertumbuhan (Growth Point) yang kudapat untuk menaikkan batas maksimal AP, mungkin masalah ini bisa teratasi.

Saat ini tingkat skill ku sedang melesat naik, dan aku langsung memakai Poin Pertumbuhan untuk menaikkan AP maksimal, sehingga efisiensi kerjaku perlahan meningkat.  

​"Apa aku harus mengandalkan kenaikan level nanti, atau mencari cara lain yang lebih efisien..."

Saat ini aku sedang menunggu AP-ku terisi sambil memikirkan cara lain yang efisien.

Tiba-tiba, aku sadar tanganku bergerak sendiri meraih dokumen yang baru saja selesai kurekam.

Setelah merenung sejenak, aku paham penyebab fenomena ini. Selama ini aku selalu menghabiskan waktu luang dengan membaca, jadi tubuhku refleks bergerak sendiri.

Tanpa menahan gerakan tubuhku, aku membaca sekilas dokumen yang sudah kubuat.

Sebenarnya mataku sudah menatap tulisannya saat proses pembuatan dokumen, tapi perhatianku terlalu terfokus untuk menggunakan skill, jadi aku tidak benar-benar 'membacanya'.  

​Karena dokumen-dokumen ini hanya kumpulan informasi berantakan yang disetorkan banyak orang, isinya banyak yang tumpang tindih. Padahal kalau informasi yang sama disatukan, tulisannya akan jauh lebih rapi dan enak dibaca...

"...Tunggu, haruskah kulakukan itu?"

Hasil <Analisis> akan hilang kalau tidak di-<Rekam>, jadi rutinitas ini memang tidak bisa dihentikan. Tapi untuk sekadar merangkum informasi yang dobel, aku bisa melakukannya secara manual dengan kertas dan pena tanpa membuang skill.

Aku punya kertas untuk <Rekam>, jadi untuk pena... haruskah aku meminjam dari staf Guild? Saat aku menoleh untuk mencari pinjaman, ternyata pena sudah ada di daftar barang bawaanku. Malahan aku sedang memakainya.

Bulu pena terselip rapi di wadah khusus di dadaku, sementara di sabuk pinggangku tergantung botol tinta kecil dan sebuah buku catatan tebal bersampul kulit.

...Kalian sudah ada di sana sejak awal ternyata...  

​Barang-barang ini pastilah perlengkapan awal yang disesuaikan dengan profesiku.

Omong-omong, aku juga diberi pisau kecil sebagai formalitas. ...Aku tidak bisa membayangkan diriku bertarung menggunakannya.

Kalau peralatannya sudah lengkap begini, urusannya gampang. Aku langsung membuka buku catatanku untuk mulai bekerja.

Entah kenapa aku merasa tak enak memakai kertas milik Guild padahal aku punya buku catatan sendiri, jadi aku hanya akan memakai kertas kosong dari Guild untuk menyalin versi akhirnya saja. Praktiknya, aku akan mencatat kasarnya di buku catatanku.

Kalau ada masalah soal kebocoran informasi, catatanku bisa kubuang nanti.  

​Pertama-tama, aku membaca sekilas dokumennya dan mencari informasi yang sering muncul berulang secara garis besar.

"Hmm, informasi soal monster di sekitar kota benar-benar banyak dan tumpang tindih. Yah, daya tarik utama RPG kan bertarung dengan monster."

Meski banyak informasi monster yang sama, kalau dikelompokkan, ada ciri khas berbeda tergantung arahnya dari kota. Sepertinya banyak data yang selaras dengan informasi peta persebaran sekitar Kota Yunu yang kubaca saat mengurung diri di ruang arsip.

Selain itu, aku jadi tahu peristiwa-peristiwa yang terjadi di kota ini, lumayan menarik juga.

Sama sepertiku yang menjadi kutu buku di dalam Guild hingga nyaris pingsan, pemain lain rupanya juga mengalami berbagai macam kejadian.

Sambil memikirkan hal-hal itu, aku sesekali menghabiskan AP yang sudah pulih sambil tenggelam dalam pekerjaan menyusun data yang sangat lambat ini. Rasanya benar-benar tidak seperti bermain RPG.  

​Setengah hari telah berlalu, dan waktu kembali memasuki jam sebelum fajar. Aku masih belum apa-apa, tapi sebentar lagi status buruk akan menimpaku.

Aku harus berhenti bekerja dan kembali ke penginapan sekarang.

Terakhir, aku membuka halaman misi untuk mengecek sejauh mana progresnya...

Progres [48%]

Hmm?

Entah sejak kapan progres misiku sudah melompat hampir empat kali lipat.

Kalau hanya karena tingkat keahlian dan AP-ku naik, hitungannya tidak pas. Apalagi sejak aku mulai merangkum secara manual, kecepatan <Analisis> dan <Rekam>-ku seharusnya lebih lambat dibanding saat awal-awal.

Kalau begitu, alasan kenapa progresnya melonjak tajam pasti berkat rangkuman manual yang kukerjakan. Kukira pekerjaan tanpa menggunakan keahlian sistem tidak akan diberi nilai, rupanya aku salah.

Mengingat konteks misinya, mungkin aku diberi nilai tambah jika mampu menciptakan sesuatu yang lebih berguna?

...Game Arsto ini, sepertinya dirancang agar segala sesuatunya berjalan lebih baik jika pemain berani bertindak di luar kebiasaan sistem atau tak hanya bergantung pada skill?  

​Omong-omong, entah sejak kapan aku juga mendapatkan keahlian <Menulis>. Apa ini kudapat berkat tindakanku merangkum dokumen manual tadi?

<Menulis> Konsumsi AP: Tidak Ada

Meningkatkan ketepatan dan kecepatan saat melakukan tindakan menulis. Pasif (Aktif Selalu).

"Biar pun dapat skill baru, tanganku masih penuh dengan keahlian wajib untuk misi ini," pikirku sambil membaca deskripsi skill. Tapi yang mengejutkan, <Menulis> sama sekali tidak butuh AP dan sifatnya selalu aktif.

Itu artinya, sistem mungkin sudah memberiku bantuan secara otomatis saat aku merangkum secara manual tadi.

Aku sama sekali tidak sadar. Mungkin kalau level skillnya naik, efeknya bakal lebih terasa?  

​Oleh karena itu, aku keluar dari Guild menuju Penginapan Rosa.

"Yah, sudah kuduga begini jadinya."

.....Benar, pintunya tidak mau terbuka.

Aku sudah sampai di Penginapan Rosa, tapi tertahan lagi di depan pintu.

Kali ini aku tahu kalau didorong keras pintunya bakal terbuka. Makanya, tanpa status buruk apa pun, aku mendorong pintu ini menggunakan seluruh beban tubuhku. Tapi pintunya tetap terkunci. Kenapa?

Selanjutnya aku mengambil ancang-ancang dan menabrakkan badanku. ...Tetap tidak terbuka. Bahu yang kutabrakkan ke pintu malah sakit.

Namun, aku merasakan pintunya sempat masuk sedikit. Kalau aku menabraknya dua atau tiga kali lagi, pintunya pasti terbuka. Saat aku melangkah mundur untuk mengambil ancang-ancang lagi—

—Tiba-tiba pintunya terbuka dengan bunyi hantaman keras.

Di tepi pandanganku, lengan kekar yang tadi tak ada di sana kembali terulur dari arah belakangku.  

​Begitu menoleh, kulihat helm besi yang tak asing lagi sedang menatapku dari atas. Pria berbaju zirah yang menolongku tempo hari.

Meski gelap dan kurang jelas, aku bisa mencium aroma karat besi. Ini mengingatkanku pada sosoknya yang berlumuran darah saat pertama kali kami bertemu.

"..........."

Dia tak bersuara dan raut wajahnya tertutup rapat, tapi aku bisa merasakan aura kuat yang mengatakan, "Kau lagi rupanya". Benar-benar aneh.

"...Terima kasih. Kau menyelamatkanku."

Apa pun itu, aku berterima kasih dan segera masuk ke penginapan lalu menuju ruang makan.  

​"Oh, ternyata kau yang pulang. Karena tadi suaranya keras sekali, kukira salah satu dari gerombolan pria barbar itu yang pulang."

Di pintu ruang makan, Rosa menyambutku.

"Bukan, aku terjebak lagi karena tak kuat membuka pintu, lalu kebetulan ditolong oleh orang yang sama..."

"Astaga, begitu rupanya! Nanti kusuruh suamiku memperbaikinya, aku benar-benar minta maaf. Habisnya, mau diperbaiki berapa kali pun pintunya selalu rusak lagi."

Rosa menatap tajam ke arah belakangku sambil bicara. ...Tanpa perlu ditebak, kurasa pintu itu terus rusak karena para petualang dan tentara bayaran kekar membukanya dengan kekuatan penuh.

"Hmph..."

Pria berzirah itu tak memedulikan tatapan tajam Rosa, dia melewatiku lalu duduk di kursi yang sama dengan kemarin.  

​"Ah benar juga! Hari ini kau pasti sudah bisa makan dengan lahap, kan? Aku akan buatkan porsi bergizi yang banyak, duduklah di mana saja sesukamu!"

Seraya mengatakan itu, Rosa pergi ke dapur dengan semangat tinggi. Aku pun memilih duduk di kursi yang sama. Belajar dari pengalamanku tempo hari, aku memastikan pandanganku tidak terarah ke pria berzirah itu.

Sambil menunggu makanan disajikan, aku membuka buku catatan yang berisi tulisan manualku tadi.

"Jadi begini tulisan dari dunia ini..."

Saat mengerjakannya tadi, aku terlalu fokus menyusun informasi sehingga tak memikirkannya, tapi catatanku ini sungguh menggunakan bahasa dunia ini, bukan bahasa ibu dari dunia nyataku.

Tentu saja aku bisa memahaminya secara natural.

"...Kalau aku menulis manual, apa aku bisa memakai bahasaku?"

Sedikit rasa penasaran muncul, aku pun mencabut bulu pena dari dadaku dan mulai menggoreskannya.

Hasilnya: 'bisa saja, tapi sangat susah payah'.

Kalau aku lengah sedikit saja, tanganku refleks menulis huruf dunia ini. Alhasil dalam kalimat panjang, kedua bahasa itu akan tercampur aduk.

Yah, karena kemampuan otomatis menulis bahasa dunia ini jauh lebih menguntungkan, aku tak masalah dengan fitur ini.

"Apa jadinya kalau kugunakan <Analisis> ke catatan campuran ini?"  

​"...Oh."

Seketika, bahasa dunia ini terangkat menjadi teks bercahaya seperti yang kulihat berulang kali tadi, sementara tulisan bahasa ibuku bersinar redup dengan warna kemerahan.

Tapi, selanjutnya apa? Yah, karena AP-ku masih penuh, biar kucoba untuk men-<Rekam>-nya di catatan.

Berdasarkan tindakan sebelumnya, skill <Pengetahuan Bahasa> didapatkan

"Eh."

Menyusul gerakan yang sudah kubiasakan tersebut, notifikasi perolehan skill yang tak terduga itu membuatku terpekik tanpa sadar.

<Pengetahuan Bahasa> Konsumsi AP: Tidak Ada

Meningkatkan kecepatan untuk memahami bahasa yang belum dikuasai. Pasif (Selalu Aktif).

Benar-benar kejutan manis, ini sangat menguntungkan.

Kalaupun nanti aku bertemu huruf yang tak bisa dibaca, aku yakin akan bisa membacanya kalau aku terus mencoba.

...Memang membahagiakan, tapi caraku mendapatkannya karena kebetulan menggunakan <Analisis> pada bahasa asliku ini rasanya seperti pakai trik curang. Apa hal seperti ini diperbolehkan dalam game?  

​"Y-yah, kalau ini dilarang, pihak pengelola game pasti sudah turun tangan."

Mungkin. Untuk sekarang, aku pasrahkan saja pada pengelola.

Tepat saat aku memikirkan itu, Rosa membawakan makanan. Aroma harumnya mengundang selera makanku.

"Maaf menunggu! Ini dia sup tomat daging babi hutan."

Disajikan di piring cekung, isinya dipenuhi dengan potongan daging dan sayur yang besar-besar, porsinya sangat melimpah.

"Terima kasih. Kelihatannya lezat."

"Ayo, makanlah sebelum mendingin!"

"..Eung!"

Rasa kaldu yang pekat dengan sedikit bau khas daging buruan menyebar di dalam mulutku. Baunya tidak lantas membuatnya tidak enak, justru perpaduannya dengan bumbu sup tomat menjadikannya hidangan yang membuat ketagihan.

Dan yang paling penting... hidangan hari ini pun disajikan dengan hangat. Wajahku tanpa sadar tersenyum rileks.  

​Porsinya besar, tapi sendokku terus bergerak tanpa ampun sampai piring itu bersih tak tersisa.

"Huuf... Terima kasih banyak untuk makanannya."

Aku sangat puas menyantap hidangan itu hingga perasaanku diliputi kelegaan penuh.

"Fufu, kau memakannya dengan sangat lahap. Membuat masakan jadi terasa sangat berarti."

"Rasa kuahnya sangat ringan di lidah dan sangat lezat."

Mendengar ulasan jujurku, pipi Rosa agak memerah sambil tersenyum.

"Ahahaha! Kau pintar juga memuji orang. Ini, minumlah susu panasnya dan beristirahatlah di lantai atas."

"Ya, aku akan melakukannya."

Sambil meminum susu panas untuk pencuci mulut itu, aku membaca catatanku dengan santai sebelum masuk ke kamar yang kusewa dari kemarin.

Karena aku ingin me-reset waktu beruntun login-ku, aku berniat keluar sejenak. Aku pun membaringkan badan ke atas kasur dan menutup mataku.  



​Setelah menghabiskan waktu dengan membaca di Kamar Pribadiku kurang lebih satu jam lamanya, aku masuk kembali ke dalam game.

Kurasa di dunia game waktunya sudah siang menuju sore, mungkin selisih empat jam dari sejak aku meninggalkannya.

Sewaktu aku sedang mengecek papan pemberitahuan, ada kotak masuk pribadi dari pengelola game. Aku membukanya untuk melihat isinya.  

​Yth Touno,

Terima kasih banyak karena senantiasa bermain Arca Storia.

Ini adalah pesan dari AI Pelayanan Bantuan Pengelola Game Arca Storia.

Anda tak perlu khawatir mengenai proses perolehan Keahlian <Pengetahuan Bahasa> yang Anda dapat sebelumnya, hal tersebut berjalan normal sesuai rancangan sistem.

Kami harap Anda terus bersenang-senang memakai layanan kami.

Pelayanan Bantuan Pengelola Game Arca Storia.  

​"O-oke... Ya ampun, syukurlah kalau tidak ada masalah."

Rupanya pengelola game memberikan konfirmasi penuh kepadaku bahwa perolehan <Pengetahuan Bahasa> tidak melanggar aturan dan tergolong wajar.

...Padahal aku cuma bergumam sedikit di hati soal kecurigaan itu dan aku juga tidak melapor ke mana pun. Terlebih jeda waktunya hanya sejam dari dunia asliku...

Apa pengelola ini menandai akunku? Tidak, lebih baik jangan terlalu dipikirkan.

Lagipula sudah dibilang di pesan ini, mari terus bersenang-senang tanpa khawatir apa pun.

Mengambil kesimpulan demikian dan hati yang disegarkan, aku menuruni tangga ke ruang makan, tempat di mana sekumpulan orang bertubuh atletis sedang menyuap porsi makanan mereka secara rakus.

Oh iya, ini pertama kalinya aku melihat ada orang lain selain Si Zirah Besi yang sedang makan. Namun, sepertinya si zirah besi tidak ada di kumpulan ini.  

​"...Mau pesan sesuatu?"

Di antara keriuhan tempat ini dan usahaku mencari kursi kosong, suara yang dalam nan santai masuk ke indra pendengaranku.

Waktu berbalik, ada sosok orang tua dari arah meja penerima tamu yang sedang bertugas yang ototnya tidak kalah kekar dengan prajurit-prajurit kekar di sana. Rambut putihnya sudah banyak dan dipotong sama rata. Perawakannya sama sangarnya.

"Ya. Tolong sediakan juga secangkir minuman hangat."

"...Duduk dan tunggulah di sana."

Sepertinya Rosa sedang tidak masuk.

Hingga kini kalau aku mendatangi tempat ini menjelang fajar atau saat petang, selalu Rosa yang membukakan pintu untukku.

Sepertinya untuk pagi hari pria ini yang mengambil kendali, apa mungkin suaminya Rosa?  

​Akibat bingung bagaimana memulai percakapan dengannya, sebuah roti lapis, telur, sayuran di pinggiran nampan dan semangkuk sup langsung disodorkan ke mukaku.

Mengucapkan salam kilat sebelum makan, aku memulai dari menyeruput sup. Tak ada tambahan apa-apa di supku, tapi rasa kaldu di luarnya lebih kental dibandingkan penampilannya. Ada campuran rasa yang berbeda dan saling bersatu padu di kuah tersebut.

Dari hal yang sederhana tapi rasanya bisa bermacam-macam, aku salut dengan koki yang berhasil membuat resep sehebat ini.

"Terima kasih untuk makanannya."

"...Hati-hati di jalan."

Saat sang pria menerimanya, dia membisikkannya ke pelan ke arahku.

Hanya sepenggal bisikan namun itu sungguh melegakan, aku membalasnya dengan seulas senyuman ringan sembari berjalan keluar.  

​Melangkah keluar dari area penginapan, dan menuju lorong gang yang mengarahku ke tempat Guild itu berdiri, aku menubruk Carla yang baru keluar dari balai pertemuan Guild.

"Oh, Touno-san. Selamat Pagi! Apa kau mau melanjutkan pekerjaan spesial dariku itu?"

"Halo, pagi juga. Tentu saja, mau apa lagi."

Karena persetujuanku itu, Carla berhenti memikirkannya dan mulai menyatukan kedua tapak tangannya.

"Benar juga! Kalau dari penginapanmu jalannya kan cukup dekat, jangan sungkan masuk dari jalur belakang juga, tak apa."

Yang dia maksud adalah pintu jalan sempit dari gedung Guild yang baru ia masuki tadi.

Ada kebenaran dalam ucapannya, kalau aku pakai jalan ini rasanya bakal tidak perlu pusing antri memutar ke jalan pintu muka.

Tapi...  

​"Apa tak apa? aku bukan staf sini, kan?"

"Tidak masalah kok, Touno-san saat ini sedang menyandang status mengerjakan perintah Guild, sah-sah saja. Nanti saat balik ke penginapan, silakan pergunakan pintu di belakang saja."

Dengan begini, jalan masuk tersembunyi pun menjadi rahasia kami. Dan dengannya, tanpa berhadapan meja staf, pos kerjaku langsung bisa dijangkau.

Ada pengawas keamanan di gerbang tersebut dan jika ku sapa dengan anggukan hormat, senyuman tipis dibalasnya. Memastikanku bahwa walau sendiri sekalipun tak akan ada teguran dari pihak atas.

Mari mulai, hari kedua kontrak kerjaku.. ah, maksudnya petualangan spesial darinya. Tetap bersemangat.  

Karena level keahlianku naik secara konstan dan aku sudah terbiasa dengan alur kerjanya, aku menghabiskan tumpukan kertas dengan cepat sampai AP-ku habis.

Kemudian, sambil menunggu AP pulih, aku merapikan informasi yang tumpang tindih secara manual.

Hmm... mungkin lebih mudah dimengerti kalau aku menggambar informasi dan persebarannya di peta sekitar Yunu? Semakin aku merangkumnya, semakin banyak ide yang muncul.

Bahkan, akan lebih baik kalau aku bisa membandingkannya dengan informasi tumbuhan dan monster sebelum para Orang Asing muncul.

Hanya saja, materi yang menjelaskan soal itu ada di ruang arsip dan dilarang dibawa keluar. Apa aku harus menyalinnya di sana, atau mengerjakan catatan manualku di sana... Apa boleh aku membawa materi itu ke dalam area guild?

​Karena tidak tahu jawabannya, aku menengok ke sekeliling dan melihat Gil di meja yang agak jauh.

Saat aku bertanya pada Gil, dia bilang materi yang kucari sering digunakan untuk mengelola misi, jadi sudah ada salinannya di area konter tanpa perlu ke ruang arsip.

Aku memeriksa rak yang dia tunjukkan dan langsung menemukan materi yang kubutuhkan. Selain itu, aku juga menemukan dokumen tentang hewan dan mineral di sekitar, berbagai ensiklopedia, informasi bangunan dan reruntuhan misterius, serta info perantara profesi. Aku pun memeluk semuanya.

...Apa bagian terakhir itu diperlukan? Siapa tahu nanti butuh.

Begitulah, aku melanjutkan misiku sambil sesekali membaca info perantara profesi sebagai selingan, hingga hari kedua misi nominasiku berakhir.

Progess [89%]

Padahal masih ada sekitar setengah tumpukan kertas yang belum kusentuh, dan salinan bersihnya juga belum banyak yang selesai. Apakah penilaiannya menganggap draf kasarku sudah memenuhi syarat kelulusan?

Yah, karena aku sudah terlanjur bersemangat, aku berencana untuk terus merangkum sampai kertasnya habis atau progresnya mencapai 100%.

Selain itu, aku berhasil mendapatkan skill pasif tanpa konsumsi AP seperti <Pengetahuan Tumbuhan>, <Pengetahuan Hewan>, <Pengetahuan Monster>, dan <Pengetahuan Mineral>. Saat aku melihat nama atau bentuk fisik dari masing-masing kategori, sepertinya skill ini akan langsung aktif di pikiranku.

​Agar tidak kembali terkena status <Lapar> aku memutuskan untuk kembali ke penginapan lewat pintu belakang yang diizinkan pagi ini..



Lalu, setelah tidur dan beraktivitas di dunia nyata, masuklah hari keempat dari misiku.

Dari segi progres misi, seharusnya ini sudah bisa dianggap selesai hari ini, tapi aku berniat menyelesaikan tumpukan kertas sampai batas waktu login hari ini habis. Aku kembali duduk di meja kerja dengan penuh semangat. Rasanya benar-benar seperti sedang masuk kerja.

Saat aku sedang asyik bekerja di siang hari, beberapa staf guild menyapaku dan memberiku sate daging serta roti sebagai "camilan".

Sepertinya mereka khawatir melihatku terus bekerja tanpa makan atau minum sedikit pun.

​...Kalau dipikir-pikir, aku selalu mengabaikan status <Lapar> sampai batas terakhir. Karena perasaan "harus makan" sudah sangat pudar bagiku, aku sering melupakannya.

Saat aku berniat membayarnya, mereka berkata sambil tertawa, "Kami akan memeras Wakil Master, jadi tak apa-apa."

...Eh, memangnya boleh begitu...?

Apapun itu, aku menerima camilan tersebut dengan rasa syukur dan melanjutkan pekerjaanku.

Level <Menulis>-ku sudah naik cukup banyak, sehingga tanganku bergerak sangat cepat. Anehnya, meskipun aku menggerakkannya seperti di-fast-forward, tulisan yang dihasilkan cukup rapi.

Dengan kecepatan ini, mungkin aku bisa menyelesaikan semua tumpukan kertas hari ini.

Aku terus bekerja tanpa henti, dan saat ini hari mulai senja.

​Tumpukan kertas yang sebelumnya menggunung kini telah lenyap tanpa sisa oleh tanganku, menampakkan permukaan meja kayu yang mengkilap.  Semuanya bisa selesai kalau dikerjakan.

Sisanya tinggal merapikan catatan manual dan menyalin bersih. Karena informasi baru yang muncul di tahap akhir tidak banyak, proses merangkumnya tidak akan memakan banyak waktu.

Ngomong-ngomong, progres misiku sudah mencapai 100% dari tadi.

"Hmm, waktunya nanggung, mending aku tidur sebentar."

Kalau aku terus lanjut bekerja, aku bisa terkena status <Kurang Tidur>, jadi aku memutuskan kembali ke penginapan untuk menggunakan perintah <Tidur>.

Sekalian makan malam juga. Begitulah aku berhasil menyelesaikannya.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.