Bagian 1-2
Saat aku tersadar, aku menyadari bahwa pinggiran pandanganku yang tadinya normal saat baru tiba di sini, kini berubah menjadi merah dan terdistorsi, menandakan kondisi yang jelas tidak normal.
Sepertinya penyebabnya adalah status buruk <Lapar> dan <Kurang Tidur>.
Begitu menyadarinya, aku langsung merasakan kondisi tubuhku memburuk drastis. Pandanganku bergelombang, tubuhku juga terhuyung dan sulit dikendalikan. Dipikir bagaimanapun juga, kondisiku sedang tidak baik-baik saja.
Saat aku sedang mengecek keadaanku sendiri, staf Guild wanita itu menempelkan tangan di pipinya dengan tatapan bingung dan cemas.
"B-bagaimana ini! Saat ini ada banyak Orang Asing sehingga penginapan di jalan utama sudah penuh, dan karena ini masih sebelum fajar, belum ada kedai makanan yang buka..."
"T-tidak apa-apa. Untuk makanan, aku punya ransum portabel... Mungkin ini merepotkan, tapi kalau aku diizinkan tidur sebentar di sudut sana, itu sudah cukup..."
Seingatku aku memiliki ransum portabel sebagai item bawaan awal. Sisanya, aku hanya perlu mengatasi status <Kurang Tidur>. Berpikir demikian, aku mengajukan usul tersebut kepada staf wanita itu, tapi—
"Tentu saja tidak boleh!"
"Eh."
Dia langsung menegurku. Aku terkejut dan bahuku tersentak karena teriakannya yang lebih keras dari dugaanku.
Lagipula saat kulihat lebih saksama, wanita yang menegurku ini adalah resepsionis yang melayaniku saat pendaftaran Guild.
Dia mendekatiku antusias.
"Aku akan memperkenalkan sebuah penginapan untuk Anda! Maaf kalau agak jauh, tapi penginapan yang berada di jalan dari belakang Guild menuju tembok luar kota seharusnya masih menyediakan makanan dan punya kamar kosong di jam segini. Pemilik penginapan di sana akan mengurus Anda jika Anda bilang direkomendasikan olehku, 'Carla', jadi cepatlah pergi ke sana!"
"Eh. Itu... tidak perlu sampai repot-repot begitu..."
Karena aku berniat langsung melanjutkan membaca begitu kondisiku pulih, tanpa sadar aku menolaknya...
"Cepat! Pergi ke sana!"
"B-baik! Maaf sudah merepotkan, aku permisi!"
Menghadapi omelan staf Guild wanita yang bernama Carla itu, aku akhirnya menerima rekomendasinya.
Sebenarnya niatnya sangat baik, jadi menolaknya akan terasa tidak sopan. Hanya saja aku refleks menolak...
Maka dari itu, aku menyeret tubuhku yang sulit dikendalikan ini dan berhasil keluar dari Guild. Di luar sangat gelap, hanya diterangi cahaya dari dalam Guild, lampu redup dari beberapa rumah penduduk, dan kerlip bintang di langit. Ah benar juga, Carla bilang ini masih subuh.
"Aku masih ada pekerjaan jadi tidak bisa mengantar, apa Anda tidak apa-apa sendirian? Bisa sampai ke sana dengan selamat?"
"Ya, aku masih bisa berjalan jadi tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkanmu, sungguh..."
Hanya dari obrolan beberapa menit ini, sepertinya aku sudah dilabeli sebagai 'anak bermasalah' oleh Carla. Matanya menatapku layaknya guru SD yang sedang mengawasi murid yang mengkhawatirkan.
Dilepas oleh Carla, aku mulai melangkah menuju penginapan yang ia rekomendasikan.
Entah sejak kapan, sebuah penanda baru muncul di peta kecilku. Sepertinya penanda itu otomatis muncul setelah Carla memberikan rekomendasinya. Dengan ini, aku tidak akan tersesat.
Karena tubuhku terhuyung, aku berjalan hati-hati.
Meskipun masih gelap, jalan utama di depan Guild terlihat ramai oleh orang-orang yang tampak seperti pemain. Namun, begitu aku berbelok sedikit dari jalan utama, keramaian itu langsung menghilang.
Saat aku menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin, rasanya tubuhku yang goyah dan pandanganku yang buram menjadi sedikit lebih baik.
...Kalau dipikir-pikir, di dunia nyata aku mungkin belum pernah merasakan kelaparan karena tidak makan dan minum selama lebih dari sehari, begitu pula dengan kurang tidur. Tidak, aku sama sekali belum pernah mengalaminya.
Itu wajar. Anak usia sepuluh tahun dari keluarga rata-rata tidak mungkin mengalami situasi seperti itu. Di SD ada makan siang yang disediakan, dan orang tua pasti akan melarang jika anak mereka begadang.
Semenjak kondisiku begini, fitur penunjang kehidupan memaksaku tidur di jam-jam tertentu, dan nutrisi tubuhku disuplai melalui selang, jadi aku tidak pernah makan atas kemauanku sendiri.
Omong-omong, masih ada cukup waktu sebelum jadwal tidur paksaku dimulai. Aman, aman.
"...Fufu".
Entah kenapa aku merasa sangat terhibur sampai tersenyum. Apakah ini yang dinamakan mabuk begadang? Sensasi pijakan di tanah pun terasa agak melayang.
Sungguh aneh, padahal tadi tubuhku terasa sangat lesu.
Aku tahu hal semacam ini terjadi karena zat kimia di otak, tapi aku tak menyangka bisa mengalaminya sendiri. Lagi-lagi aku takjub dengan teknologi yang luar biasa ini.
Sambil menikmati mabuk begadang, aku terus melangkah hati-hati. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah bangunan yang menyala di depan sana, dan aroma lezat tercium dari arahnya.
Mengecek peta, bangunan itu sepertinya memang tujuanku.
Dengan otak yang tidak bekerja maksimal, aku berpikir tempat ini memiliki suasana yang menenangkan sambil menyentuh pintunya...
"...Tidak bisa dibuka."
Kudorong maupun kutarik, pintunya tidak mau terbuka. Menggesernya pun tak membuahkan hasil.
Kukira masih buka, apa tokonya sudah tutup?
Baru saja aku berpikir untuk mengetuk pintu agar orang di dalam mendengarnya—tiba-tiba terdengar suara keras dan cahaya membanjiri pandanganku. Aku menutup mata karena silau.
"Apa yang kau lakukan?"
Sebuah suara berat dan terdengar kesal turun dari arah atas belakangku.
Aku perlahan mendongak ke sumber suara, dan melihat seorang pria bertubuh besar dan kekar mengenakan baju zirah.
Pria itu mengulurkan lengannya dari belakangku untuk membuka pintu, posisinya nyaris menutupi seluruh tubuhku.
...Saat kami saling bertatapan, terdengar suara wanita yang ceria bergema dari balik pintu.
"Ara, kau sudah kembali hari ini... Oya? Ada anak yang belum pernah kulihat sebelumnya. ...Jangan bilang kau menculiknya dari suatu tempat!?"
"Mana kutahu. Dia berdiri saja di sini. ...Minggir, kau menghalangi. Kalau tidak mau masuk, menyingkirlah."
Mengatakan itu, pria berbaju zirah tersebut melewatiku dan langsung masuk ke dalam.
Pedang besar yang disandangnya di punggung—yang sepertinya sama tingginya denganku—terlihat sangat mencolok.
"Berdiri saja, katamu? ...Ah! Pintunya memang agak rusak, jadi kau harus mendorongnya agak keras agar terbuka! Yang menginap di sini biasanya cuma berandalan kasar, jadi aku sampai lupa soal itu!"
Wanita bertubuh sintal dan memakai celemek—yang sepertinya pemilik penginapan ini—tertawa riang setelah mengatakan itu.
...Ruoanya pintu tidak terbuka karena tenagaku yang kurang.
"Ayo, masuklah!"
Diarahkan oleh nyonya pemilik penginapan, aku masuk ke ruang makan yang luas. Saat ini ruangan itu kosong, hanya ada pria berbaju zirah tadi yang masuk duluan.
"Seperti yang kau lihat, sedang tidak ada tamu, jadi duduklah di mana saja sesukamu."
Aku mengangguk dan duduk di kursi untuk satu orang di dekat jendela.
Tak lama kemudian, nyonya itu datang ke mejaku dan menatapku dengan wajah heran.
"Jangan-jangan kau ini Orang Asing? Kalian sudah bisa masuk ke jalan ini?"
"Ya, aku Orang Asing. Kurasa... sebagian besar Orang Asing belum bisa masuk ke sini. Aku bisa datang ke sini mungkin karena direkomendasikan oleh staf Guild yang bernama Carla."
Aku menjawab setelah berpikir sejenak dengan otakku yang tumpul.
Setelah mendapatkan informasi kota di ruang arsip, detail tentang bangunan apa saja yang ada di kota ini sudah lumayan lengkap di petaku, tapi area yang bisa diakses nyaris tidak bertambah.
Namun, penginapan ini berada di dalam area yang seharusnya dilarang masuk tersebut. Saat mengecek peta, hanya jalan dari jalan utama menuju penginapan ini yang berstatus bisa diakses.
Selain itu, setelah memasuki jalan menuju penginapan ini, aku tidak melihat satu pun pemain lain. Jadi, bisa disimpulkan area ini belum dibuka untuk semua orang.
Itu berarti, perbedaan antara aku dan pemain lain adalah apakah mereka direkomendasikan ke penginapan ini oleh Carla atau tidak.
"Astaga! Kau datang ke sini karena rekomendasi anak itu! Carla itu putriku, lho! Kau ini apanya, apa kalian punya hubungan spesial?"
Raut wajah nyonya itu seketika berubah gembira. Begitu rupanya... aku mulai paham situasinya.
Demi menjaga nama baik Carla, aku harus segera menyangkalnya dengan tegas.
"Bukan, hubungan kami tidak seperti itu. Aku hampir pingsan di Guild dan dia menolongku..."
"Eh, apa katamu?"
Lalu, aku menjelaskan bagaimana aku bisa direkomendasikan ke penginapan ini.
Karena status <Kurang Tidur>, mulutku tidak bisa bergerak lancar dan bicaraku jadi lebih lambat dari biasanya, sehingga memakan waktu lumayan lama untuk bercerita.
"Jadi sekacau itu kondisimu... Maaf aku tidak sadar. Aku akan segera membawakan makanan yang ramah di perut. Setelah makan, beristirahatlah dengan tenang di kamar atas."
"Terima kasih..."
Setelah selesai menjelaskan semuanya, nyonya itu juga menatapku dengan sorot mata seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Aku benar-benar bisa merasakan hubungan darah yang kuat antara nyonya ini dan Carla.
Untuk menyiapkan makanan, nyonya itu kembali ke dapur di balik meja konter.
Tanpa sengaja aku melirik ke arah pria berbaju zirah. Ia mengenakan zirah kulit yang diperkuat dengan logam di beberapa bagian, dan pedang besarnya disandarkan di sebelahnya.
Selain itu, zirahnya terlihat cokelat kemerahan secara keseluruhan... atau lebih tepatnya kotor oleh noda merah kehitaman.
...Tanpa perlu ditebak pun, itu pasti darah suatu makhluk hidup. Kalau noda merah kehitaman itu menutupi seluruh tubuhnya, berarti dia baru saja bermandi darah. ...Sebenarnya makhluk apa yang baru saja dihadapi dan dibantainya?
"Ugh...?"
Tiba-tiba, ada sensasi menyengat mengalir ke seluruh tubuhku.
Sambil memiringkan kepala kebingungan karena sensasi itu, aku melihat pria berbaju zirah itu menatap lurus ke arahku. Mungkin dia sadar aku sedang memperhatikannya.
Detik berikutnya setelah pandangan kami bertemu dari balik helmnya, sensasi sengatan kuat seperti tersengat listrik statis menyerangku.
Sepertinya status burukku membuat otakku benar-benar lambat. Barulah aku menyadari kalau pria berbaju zirah ini menatapku dengan tajam. Dan kurasa aku sedang merasakan semacam tekanan darinya.
Aku terdiam sejenak merasakan sensasi yang bahkan di dunia nyata belum pernah kualami. Sensasi di mana tubuh menegang dan kaku dengan sendirinya, inikah yang namanya menciut karena tegang?
Ini pengalaman pertamaku, tapi aku merasa pernah merasakan hal yang agak mirip sebelumnya...
"Hei! Jangan mengintimidasi anak yang kelihatannya mau pingsan begini, dasar kekanak-kanakan! Kuusir kau nanti!"
"...Cih."
Saat aku tenggelam dalam pikiranku yang linglung, omelan nyonya itu melayang dari dapur.
Tepat setelah suara yang menyerupai decakan lidah, sensasi menyengat yang menutupi seluruh tubuhku menghilang. Sepertinya 'intimidasi'—seperti yang dibilang nyonya itu—adalah penyebab keteganganku tadi.
Mungkin dia kesal karena aku menatapnya tanpa sopan.
"Kalau kau merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Aku akan lebih berhati-hati."
Aku menundukkan kepala ke arah pria berbaju zirah itu. Setelah itu, aku berusaha untuk tidak melihat ke arahnya lagi.
Dia tidak memberikan reaksi apa-apa. Kurasa dia juga tidak ingin aku memperhatikannya, jadi aku abaikan saja.
"Kau tidak apa-apa? Pelanggan di sini kelakuannya memang buruk, jangan dimasukkan ke hati."
Nyonya itu keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi makanan dengan ekspresi menghela napas.
"Tidak, ini juga salahku karena menatapnya tanpa sopan, jadi mungkin aku membuatnya tersinggung."
"Kau anak yang peka ya... Ini, sup kacang dan sayuran. Hari ini hangatkan dulu tubuhmu dengan ini, besok kau harus makan yang lebih bergizi."
"Terima kasih. Kelihatannya enak."
"Fufu, makanlah pelan-pelan."
Setelah mengatakan itu, nyonya itu pun pergi.
Sesaat kemudian, terdengar bunyi hantaman keras dari arah pria berbaju zirah itu duduk, tapi karena aku menahan diri untuk tidak menoleh ke sana, aku tidak tahu apa yang terjadi.
Aku mengalihkan pandanganku ke sup berasap di depanku dan mengambil sendok kayu.
Lalu, tanpa sadar aku menangkupkan kedua tanganku...
"Selamat makan."
Meski ini kebiasaan yang wajar, aku mengucapkannya sambil merasakan sensasi aneh yang sudah sangat lama tak kurasakan.
Aku menyendok sup dan memasukkannya ke mulut. Rasa yang lembut dan hangat perlahan menyebar di dalam mulutku.
".........!!"
Padahal sup ini seharusnya terbuat dari bahan-bahan yang sangat lembut, tetapi entah kenapa pipiku, dadaku, dan seluruh tubuhku terasa panas seperti terbakar. Sesuatu mengalir dengan sangat deras dan kuat di sekujur tubuhku.
Aku berusaha keras menahan diri agar tidak bergulingan kesakitan akibat sensasi itu.
Setelah menahan arus deras tersebut beberapa saat, aku akhirnya mulai merasa tenang dan hanya merasakan kehangatan sup yang lembut. Bersamaan dengan itu, aku menghembuskan napas pelan seolah membuang sisa panas yang membakar di tubuhku.
—Aku hidup.
Setelah itu, aku menikmati setiap tetes sup itu secara perlahan dan saksama hingga habis.
Selesai makan, nyonya penginapan mengantarku ke kamar kosong.
Kamar tidurnya ternyata lumayan luas, namun tempat tidur besar memakan hampir separuh ruangan, dan sisanya hanya diisi meja dan kursi kecil. Sangat sederhana dan tanpa hiasan.
Meski begitu, kamarnya terlihat bersih terawat, selimutnya bersih, dan keseluruhan ruangannya memancarkan nuansa aman yang sama seperti di penginapan ini.
Nyonya itu sempat tertawa sambil berkata "Maaf kamarnya sempit", tapi menurutku ini sudah cukup luas.
Bahkan ukuran ranjangnya bisa dikecilkan setengahnya. ...Yah, untuk orang bertubuh besar seperti pria berbaju zirah tadi, kasur ini mungkin baru terasa pas.
Karena batasan fisik tubuh ini dan jadwal tidur paksaku di dunia nyata sudah hampir tiba, aku segera bergelung di bawah selimut dan melakukan log out.
Dengan ini, hari pertamaku bermain Arsto pun berakhir—
Keesokan harinya, sebelum masuk ke dalam game, aku mencari informasi tentang Arsto di internet.
Sudah ada beberapa situs panduan besar yang berlomba-lomba mengunggah informasi walkthrough.
Tampaknya selama aku mengurung diri membaca buku di ruang arsip Guild, sudah ada pemain yang berhasil mencapai kota berikutnya. Entah itu hitungannya cepat atau biasa saja, aku kurang tahu.
Aku juga melihat daftar profesi yang saat ini diketahui. Sesuai dugaan, profesiku tidak ada di daftar.
Yah, informasi semacam ini berdasarkan laporan pemain, jadi wajar butuh waktu lama untuk mencakup semuanya.
Di daftar skill, ada <Analisis> yang tertulis.
Sepertinya itu adalah skill dasar untuk pekerjaan bertipe sarjana seperti 'Kandidat Ahli XX'. Ilmu yang dipelajari juga bervariasi, mulai dari botani, mineralogi, zoologi, dan lain-lain.
Aku harap para pemain dengan profesi itu akan mendalami bidangnya masing-masing, lalu menuliskannya dalam bentuk dokumen dan membiarkanku membacanya nanti.
Skill <Rekam> juga terdengar seperti skill awal profesi sarjana, tapi kenapa tidak ada ya? Yah, cepat atau lambat aku pasti akan memahaminya, jadi ini masalah kecil.
Kemudian, aku mencari tahu soal status buruk <Lapar> dan <Kurang Tidur> yang menimpaku kemarin.
Kalau tidak salah, bagian Bantuan (Help) menyebutkan bahwa efek <Lapar> akan mengurangi jumlah pemulihan stamina dan perlahan menggerogoti LP.
LP singkatan dari Life Point, nyawa pemain yang biasanya disebut HP (Hit Point) di game lain.
Dan menurut hasil uji coba sukarelawan, jika status buruk ini dibiarkan terus, LP akan habis dan pemain akan mati. Pergerakan tubuh pun terasa berat seperti dipasangi beban.
...Ada juga ya pemain yang menunggunya sampai mati sungguhan.
Sebagai orang yang sempat membiarkan status buruk menumpuk, aku yakin rasa lapar itu akan terasa sangat menyiksa kalau pengatur sensor umur dan lainnya dibuka maksimal. Inikah yang dinamakan kegigihan 'tim peneliti' yang sering muncul di novel ringan...? Aku angkat topi untuk mereka.
Omong-omong, cara mengatasi <Lapar> itu sederhana: cukup makan sampai bar kekenyangannya bernilai plus.
Selanjutnya <Kurang Tidur>. Jika pemain tidak tidur lebih dari 15 jam waktu game, efeknya akan terakumulasi. Pemulihan LP berkurang, seiring berjalannya waktu pandangan akan menyempit dan bergelombang.
Lalu tubuh tidak bisa dikontrol, dan pada akhirnya kelainan status seperti <Linglung> atau <Halusinasi> akan muncul secara acak.
Meski kelainan statusnya disembuhkan, kalau <Kurang Tidur> tidak diatasi, efeknya akan langsung kembali.
Cara mengatasinya adalah dengan log out, atau menggunakan perintah <Tidur> di dalam game yang setara dengan tidur selama dua jam. Cara ini juga mudah dan simpel.
Tapi karena opsi <Tidur> tidak mengeluarkanmu dari game, jika batas waktu login harianmu habis, kau diwajibkan untuk beristirahat di dunia nyata selama 6 jam sebelum bisa login lagi.
Berdasarkan batas login tersebut, pemain hanya bisa terjaga paling lama tiga hari berturut-turut waktu game. Apa yang terjadi jika pemain memaksakan status <Kurang Tidur> melewati batas itu masih belum bisa dibuktikan.
...Bukannya itu akan membuat mati sungguhan? Apalagi efek kelainan statusnya dibuat sangat realistis.
Sesuai kasus <Kurang Tidur>, kelainan status dan status buruk adalah dua hal yang berbeda. Status buruk lainnya contohnya seperti <Cacat>, yang merepresentasikan gangguan fisik pada tubuh.
Walaupun status <Kurang Tidur>-ku kemarin tidak sampai memicu kelainan status, mulai sekarang sebaiknya aku memasang alarm kalau aku merasa akan terlalu fokus.
AI pendukung juga sudah memperingatkanku untuk sebisa mungkin jangan mati.
Lagipula, aku ingin lebih banyak merasakan hangat dan nikmatnya makanan yang sulit kudapatkan di ruang virtual.
Nah, karena sudah selesai berkeliling situs panduan, sudah saatnya aku login.
Aku terbangun di kamar penginapan tempatku menginap semalam.
Rasa lemas dan pandangan buram sebelum log out hilang tak berbekas, digantikan oleh indera dan tubuh yang terasa sangat jernih.
Inilah yang dinamakan segar bugar. Kurasa sudah lewat sekitar satu setengah hari sejak aku log out. Sekarang waktunya di antara siang dan sore hari.
Pertama-tama, aku mengecek riwayat tindakanku.
Gara-gara <Lapar>, LP-ku ternyata berkurang separuhnya. Aku sungguh harus hati-hati.
Selain itu, karena menginap dan makan di penginapan, ada beberapa Misi Tutorial yang berhasil diselesaikan. Aku sekilas mengecek isinya beserta hadiahnya lalu menutup layar riwayat.
Setelah membereskan penampilan seadanya, aku turun ke ruang makan di lantai satu. Nyonya penginapan tersenyum sambil menyapaku.
Saat duduk di kursi yang sama dengan kemarin, nyonya penginapan membawa nampan dan mendatangiku.
"Ini dia, roti dan susu hangat. Kau tidak bangun seharian jadi aku khawatir, tapi setelah kutanya ke temanku yang sering menampung Orang Asing di jalan utama, dia bilang 'tidurnya Orang Asing' memang begitu. Karena tidak biasa, aku sampai panik sendiri!"
Nyonya penginapan bercerita sambil meletakkan makanannya di depanku.
'Tidurnya Orang Asing'... ini pasti merujuk pada pemain yang sedang log out.
"Maaf sudah membuatmu cemas... Benar, kami biasanya bisa beraktivitas selama dua hari penuh tanpa istirahat, tapi setelah itu kalau sudah tertidur lelap, kami bisa tidak bangun selama satu atau dua hari, kadang bahkan lebih lama."
"Hoo, biarpun secara fisik kelihatan sama seperti ras manusia, ternyata banyak perbedaan antara kalian dengan kami."
Karena perbedaan waktu di dunia ini dan dunia nyata, sepertinya aku jadi membuat nyonya khawatir.
Tapi penduduk yang berbisnis dengan para pemain bisa langsung memakluminya dengan bilang "oh ternyata memang begitu". Cukup tangguh.
Setelah pembicaraan itu, nyonya kembali bersih-bersih, sementara aku menggigit rotiku dan membasahi tenggorokan dengan susu hangat.
Ya, hidangan hari ini pun terasa hangat dan nikmat.
"Oh iya. Putriku berpesan, kalau kau sudah bangun, dia memintamu untuk datang ke Guild. Anak itu juga mengkhawatirkanmu, jadi tunjukkan wajah sehatmu padanya."
"Begitu ya... Baiklah, aku akan ke sana."
Melihatku selesai makan, nyonya kembali menghampiriku. Kebetulan aku juga berencana menemui Carla untuk berterima kasih karena dia banyak membantuku.
Aku berniat segera berangkat menuju Guild seraya membawa mangkuk kosong ke arah nyonya penginapan.
"Terima kasih atas makanannya. Hari ini pun sangat lezat."
"Bagus kalau kau suka. Omong-omong, kau mau pergi langsung begitu saja? Kalau menginap lebih lama, harganya bisa lebih murah lho."
"Sungguh? Kalau uangku cukup, aku mau bayar untuk menginap lebih lama."
"Bagus, bagus! Kata anakku, kau pasti belum mengeluarkan uang sepeser pun di kota ini, jadi kau pasti sanggup membayarnya!"
"...Iya, aku memang belum memakai satu koin pun."
...Daya analisis Carla agak menyeramkan. Apa ini buah pengalamannya menghadapi berbagai macam pemain di Guild serta mengamati banyak orang di penginapan keluarganya? Dan secara cerdik, dia juga mencarikan pelanggan tetap untuk keluarganya, kan?
Yah, karena aku sudah sangat menyukai suasana penginapan ini yang hangat dan menenangkan, tidak masalah bagiku. Malah bagus kalau aku bisa terus menginap di sini.
Aku membayar biaya menginap beberapa hari sekaligus kepada sang nyonya dan kembali mendengarkan penjelasan tentang pelayanan serta aturan penginapannya.
"Di sini kebanyakan tamunya tentara bayaran dan petualang, isinya cuma pria-pria kasar seperti yang kau lihat tempo hari, maaf ya. Mereka memang kelihatannya kasar, tapi sebenarnya baik hati kok."
"Ya. Aku tidak keberatan."
"Bagus, kau memang anak baik! Ngomong-ngomong, aku belum menanyakan namamu. Namaku Rosa, salam kenal! Kau sendiri?"
Mendengar ucapan Rosa, aku baru ingat belum mengenalkan diri.
"Namaku Touno. Mohon bantuannya."
"Touno! Nama yang unik. Satu lagi, tidak usah pakai bahasa formal ke aku dan orang-orang di sini! Itu aturannya! Ayo coba!"
"Ehm... Mengerti."
Didorong oleh Rosa, aku mencoba melepaskan bahasa normalku walau masih ragu-ragu.
Uhm... rasanya tidak nyaman berbicara seumuran dengan orang yang lebih tua...
"Ahahaha! Nanti juga terbiasa! Sana temui putriku!"
Melihatku yang masih kaku, Rosa tertawa lebar sambil mengantarku pergi.
Begitu keluar dari penginapan, aku mengamati bangunan ini dari luar lagi.
Saat tiba semalam keadaannya gelap dan pandanganku buram, jadi aku tidak begitu memperhatikannya. Bentuk bangunannya terlihat lebih sederhana ketimbang penginapan di jalan utama. Papan namanya juga cuma berbentuk standar tanpa ornamen khusus, dan di peta pun hanya ditandai dengan tulisan 'Penginapan'.
Hmm... sepertinya aku akan menyebut tempat ini 'Penginapan Rosa' saja.
Sesudah memeriksa bangunan luar, aku segera menuju Guild.
Namun, karena jalan menuju sana lumayan membingungkan, aku membuka peta untuk memastikannya. Walau dibilang begitu, jalan selain yang mengarah ke Guild hampir semuanya dilarang masuk, jadi cukup mudah dimengerti.
Pemandangan kota yang semalam nyaris tak terlihat karena gelap, sekarang terlihat jelas. Dibandingkan jalan utama, area ini lebih memancarkan hawa kehidupan dan keseharian penduduknya.
Jalan utama lebih difokuskan untuk mengakses fasilitas-fasilitas penting dalam game, bisa dibilang itu adalah representasi dari 'Kota Permulaan' dengan perlengkapan minimum.
Tapi, dengan memisahkan wilayah antara pemain dan penduduk seperti ini, sepertinya pengembang mencegah kekacauan yang bisa terjadi akibat membludaknya jumlah pemain. Mungkin konsepnya seperti memisahkan area turis dan area residensial.
Sambil memikirkan hal itu, aku sampai di Guild Profesi tempatku hampir pingsan tempo hari, dan masuk untuk menemui orang yang kucari.
"Ah! Touno-san!"
Tiba-tiba namaku dipanggil, dan kulihat Carla berdiri memeluk sekumpulan dokumen.
"Kemarin lusa terima kasih banyak. Kau juga sudah memperkenalkan penginapan yang bagus..."
"Sama-sama. Kulihat wajahmu sudah lebih segar, syukurlah."
Carla membalas ucapan terima kasihku dengan senyum cerah.
"Aku ingin membalas budi, apa ada sesuatu yang bisa kubantu?"
Aku belum tahu apa yang bisa dilakukan pemain pemula sepertiku, tapi aku bersedia melakukan tugas serabutan sekalipun sebagai bentuk terima kasih.
Mendengar itu, mata Carla langsung berbinar.
"Kebetulan sekali, aku memang sedang menunggu kata-kata itu! Ada tugas yang sangat ingin kuberikan pada Touno-san!"
"Benarkah? Tugas apa?"
"Kurang nyaman bicara di sini, ayo pindah ke konter. Oh iya, di dunia ini kita tidak perlu bicara terlalu formal dengan sesama rakyat jelata."
"Rosa-sa... Rosa juga bilang begitu. Aku usahakan, eh, aku coba..."
"Fufu, nanti juga terbiasa. Mari, lewat sini."
Apa ini déjà vu? Sambil bertukar percakapan yang terasa familier, aku mengikuti Carla menuju meja konternya.
"Langsung saja, Guild ingin memberikan Misi Nominasi kepada Touno-san. Apa perlu kujelaskan dulu apa itu Misi Nominasi?"
...Aku saja belum pernah mengambil misi biasa, kenapa langsung diberikan Misi Nominasi?
Meski dipenuhi tanda tanya, aku tetap mengangguk pelan.
"Carla sudah menjelaskannya saat aku mendaftar Guild, jadi kurasa aku sudah paham. Tidak wajib tapi diharapkan untuk diterima, lalu dibandingkan misi biasa, hadiah dan poin reputasinya lebih tinggi... Ya kan?"
"Oh iya, saat itu aku sendiri yang mengurus pendaftaranmu. Benar, pemahamanmu sudah tepat. Untuk detail misinya, kami ingin Touno-san menyusun informasi yang terkumpul di Guild ini dan menjadikannya sebuah dokumen."
"Hoo."
Menurut penjelasan Carla, dengan bertambahnya jumlah Orang Asing secara drastis dalam beberapa hari terakhir dan gencarnya penyelesaian misi, laporan informasi yang masuk ke Guild melonjak tajam. Itu hal yang bagus, tapi sayangnya mereka sangat kekurangan tenaga untuk menyusun informasi-informasi tersebut.
Pihak Guild ingin segera merangkum perubahan drastis dalam beberapa hari ini secepat mungkin, namun belum membuahkan hasil.
"Hmm... Aku paham isi misinya dan kepanikan pihak Guild, tapi kenapa Misi Nominasi ini diserahkan padaku?"
"Itu karena Touno-san memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk masalah ini. Tanpa keahlian <Analisis> dan <Menulis> atau <Rekam>, jumlah berkasnya akan sangat mengerikan."
"Begitu..."
Aku memang memiliki keahlian <Analisis> dan <Rekam>. Meski belum pernah kugunakan sama sekali.
Tapi yang membuatku penasaran adalah... bukankah mengerikan jika tak ada keahlian itu? ...Mengingat seberapa banyak pemain yang membanjiri kota ini dalam waktu singkat, aku bisa membayangkannya.
"Sebenarnya, aku sama sekali belum pernah mendengar soal profesi 'Arsiparis' milik Touno-san, tapi saat mengecek catatan lampau Guild, ternyata ada catatannya. Dikatakan bahwa di awal pendirian Guild, profesi 'Arsiparis'-lah yang menangani tugas merangkum informasi dan dokumen Guild! Kupikir ini pasti petunjuk dari Dewi Arcturia, jadi aku langsung menawarinya padamu!"
"B-begitu ya."
Seketika, terungkaplah bahwa kelangkaan profesiku saking jarangnya sampai tidak akan ketahuan kalau mereka tak membongkar arsip dari masa awal Guild. Aku sudah mengira ini kelas langka, tapi tak kusangka selangka itu.
Yah, mengesampingkan hal tersebut...
"Tapi kelasku masih 'Kandidat Kelas Bawah', apa tidak..."
"Selama punya keahliannya, ini bukan misi yang sulit. Anggap saja ini pekerjaan dengan poin pengalaman (EXP) besar. ...Ah! Uang hadiahnya juga banyak lho, jadi kau bisa menginap lebih lama di penginapan!"
"Fuh, kalau begitu mana mungkin kutolak."
Tujuan utamaku ingin berinteraksi dengan banyak bacaan, jadi selama aku mampu, aku tak akan menolaknya. Tapi Carla dengan tepat menaikkan motivasiku.
Menyelesaikan masalah kerjaan, menaikkan kepuasan pekerja, sekaligus menambah pelanggan untuk penginapan ibunya. Wanita ini benar-benar lihai.
"Fufufu! Kalau begitu kumohon bantuannya."
Saat Carla mengatakan itu, sebuah notifikasi melintas di sudut pandanganku.
<Misi Nominasi Guild Profesi diterima>
<Misi Tutorial: Coba ambil misi di Guild Profesi selesai>
【Misi Nominasi Guild Profesi】
Rangkum informasi yang terkumpul di Guild menjadi dokumen dan serahkan pada Guild.
Klien: Guild Profesi Kota Permulaan 'Yunu' | Progres: 0% | Batas Waktu: 7 Hari tersisa.
Hadiah: 1000G, Peningkatan Rank Guild Profesi, Keamanan Kota Yunu Naik (Kecil), Keamanan Sekitar Kota Yunu Naik (Kecil), Izin Peminjaman Terbatas Dokumen di Ruang Arsip.
Karena aku menyatakan bersedia menerima misinya, detail misinya pun ditampilkan beserta ikon yang menandakan sedang menjalankan misi.
...Hadiah terakhir yang terdengar dipaksakan masuk itu, apa ada orang lain yang senang menerimanya selain aku? Ah, ini Misi Nominasi khusus, jadi mungkin hadiahnya memang disesuaikan dengan apa yang disukai pemain.
Titik lemahku benar-benar sudah terbaca oleh Guild Profesi, atau tepatnya Carla. Dia pasti sudah menganalisisku setelah kejadian tempo hari.
Hadiah lainnya juga terasa lebih menguntungkan dari misi biasa. Dari jumlah koin emasnya saja, nilainya jauh lebih besar dari semua misi pemula yang ada di situs panduan.
Selain itu, keamanan Kota Permulaan 'Yunu'—kota tempat para pemula diturunkan pertama kali—juga akan meningkat. Kalau bisa meningkat, berarti bisa menurun juga kan? Dan kira-kira sejauh mana tingkat keamanan saat ini?
Yah, bagaimanapun juga, keamanan yang meningkat adalah hal yang bagus.
Tentu saja, aku sangat berniat menyelesaikan misi ini dengan sempurna demi meraih hadiah idamanku: 『Izin Peminjaman Terbatas Dokumen di Ruang Arsip』.
