LANGITOREN
0%

Bagian 1-1


penerjemah: oyen
baca di langitoren.my.id

Prolog

​Di sebuah ruangan yang dikelilingi perabotan bergaya antik dengan pendaran cahaya matahari pagi yang lembut, aku sedang membaca buku-buku yang sudah kukumpulkan untuk membuang waktu.

Ini adalah kamar pribadi di ruang virtual yang merekonstruksi ruangan dalam ingatanku.

Memiliki kamar pribadi di ruang virtual bukanlah hal yang spesial.

​Banyak orang yang memiliki dua hingga tiga kamar pribadi, atau menghiasnya dengan interior yang tidak mungkin dibuat di dunia nyata. Melihat tren saat ini, kamar pribadiku yang desainnya sangat biasa dan masih bisa ditemukan di dunia nyata mungkin malah terlihat unik.

Tapi, coba pikirkan. Apakah kamar yang kita tempati sepanjang waktu butuh desain aneh atau benda-benda bercahaya dan melayang yang tidak berguna?

Orang mungkin menyuruhku kembali ke dunia nyata jika lelah di sini, tapi bagiku itu sangat tidak mungkin.

Aku, Tsuguharu Tohno, selama delapan tahun sejak usia sepuluh tahun, hanya hidup di dalam ruang virtual ini.

Akibat ketidakberuntungan yang bisa menimpa siapa saja, sekaligus keberuntungan luar biasa di tengah nasib buruk itu, tubuh asliku di dunia nyata telah berbaring di ranjang VR sebagai penunjang kehidupan selama delapan tahun. Aku sadar, tapi tidak bisa menggerakkan tubuhku sedikit pun.

...Hal itu sudah terjadi. Tidak ada gunanya diratapi.

​Untungnya, aku tipe orang yang bisa menjaga kewarasan selama masih bisa membaca buku.

Sejak aku lahir, banyak bidang yang sudah beralih ke ruang virtual. Khususnya untuk literatur yang semakin digital, koleksinya jauh lebih lengkap di dunia virtual.

Di dunia ini ada buku yang jumlahnya tidak akan habis dibaca. Aku sudah cukup puas dengan membacanya satu per satu.

Namun, belakangan ini orang di sekitarku mulai rewel.

Mereka menganggap gaya hidupku yang hanya membaca dan melakukan rutinitas minimum—seperti belajar, tidur, dan sesekali kerja paruh waktu—tanpa bersosialisasi dengan teman sekolah, akan berdampak buruk bagi perkembangan mental remajaku.

Aku sempat berpikir, "Kenapa baru sekarang? Aku sudah 18 tahun, lho." Tapi selama waktu membacaku tidak banyak dikurangi, aku tidak terlalu peduli. Jadi, aku memilih salah satu dari beberapa program sosialisasi yang mereka tawarkan.

​Program itu adalah VRMMORPG baru bernama Arca Storia, atau biasa disingkat Arsto. MMORPG adalah game online role-playing skala besar yang sudah populer bahkan sebelum teknologi VR berkembang.

Game ini dikembangkan bersama oleh perusahaan pembuat game ternama yang selalu memborong penghargaan, dan perusahaan pembuat simulator dunia maya. Sepertinya perusahaan yang merawat fisikku di dunia nyata juga ikut terlibat dalam pembuatannya.

Sejak masa pengembangannya diumumkan beberapa tahun lalu, Arsto sudah menjadi pusat perhatian dunia.

Hasilnya, terciptalah "dunia fantasi nyata" yang diimpikan para gamer dan pencinta fantasi di seluruh dunia, memberikan pengalaman bermain yang sangat realistis.

​Aku jarang bermain game, tapi aku pernah membaca light novel fiksi ilmiah dengan tema serupa. Jadi, aku lumayan bisa membayangkannya.

Lalu, kenapa aku yang tidak suka main game justru memilih program ini? Alasannya, saat mencari informasi tentang game ini, aku menyadari sesuatu.

Jika dunianya dibuat begitu realistis, pasti ada gunungan buku yang tercipta dari sejarah dan budaya unik di dalamnya, dan aku bisa membacanya sepuasnya.

Lagi pula, aku hanya dianjurkan untuk bermain gamenya saja. Urusan bersosialisasi bisa kujadikan target sampingan, dan aku bisa menghabiskan waktu bermainku murni hanya untuk membaca.

Karena itu, motivasiku langsung melonjak. Dan hari ini, Arsto akhirnya resmi dirilis.

​Proses instalasinya ternyata lebih lama dari dugaanku. Aku menunggunya sambil menyicil tumpukan buku bacaanku, dan sepertinya sebentar lagi prosesnya selesai.

Aku menyimpan bukuku, lalu menatap thumbnail game dan bilah progres instalasi yang melayang di udara.

Membayangkan bisa membaca buku yang lahir dari konsep yang sama sekali berbeda dengan dunia ini membuat dadaku berdebar. Sesuatu yang jarang sekali kurasakan. Tanpa sadar, aku tersenyum.



​Bab 1: Permainan Dimulai

​Instalasi selesai, aku langsung membuka Arsto.

Pemandangan kamar pribadiku seketika gelap. Setelah merasakan sensasi melayang sesaat, sinopsis cerita dimulai diiringi musik megah.

Kualitas visualnya setara dengan film fantasi modern, membuatku kagum dan terpukau.

Bisa bermain game dengan kualitas sebagus ini membuat orang awam sepertiku takjub. Aku merasa kagum pada para pengembangnya... sekaligus berpikir mereka mungkin agak gila (dalam artian positif).

Setelah opening selesai, pemandangan tiba-tiba berubah menjadi ruang angkasa dengan planet bulat berwarna biru mirip Bumi di tengahnya.

​"Selamat datang di Arca Storia! Tolong beritahu nama dan wujudmu di dunia ini!"

"Hah?! Mengagetkan saja..."

Tubuhku sedikit tersentak karena tiba-tiba mendengar suara selain suaraku.

Entah sejak kapan, di depanku sudah berdiri seseorang berjubah hitam rapat yang hanya memperlihatkan bagian mulutnya.

Mungkin dia yang mengucapkan salam selamat datang tadi, tapi suaranya terdengar dari segala arah, dan jujur itu yang membuatku kaget.

​"Ahaha, apa aku mengagetkanmu? Maaf ya."

Melihat reaksiku, orang berjubah itu memegang kepalanya seakan berkata 'Ups'.

Dari suaranya, dia jelas laki-laki. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang mencurigakan dan suram, bibirnya terus menyunggingkan senyum dan sikapnya sangat ramah. Kesannya sangat kontradiktif.

"Haa... yah, tidak apa-apa."

"Begitukah? Kalau begitu mari tenangkan diri dan tentukan namamu!"

Saat aku menjawab sambil menghela napas, orang berjubah itu mengangkat tangan kanannya.

​Seketika, jendela input dengan pesan <Silakan masukkan nama pemain> muncul di depanku. Aku mengetik "Touno", sedikit mengubah nama asliku. Aku paham pentingnya menjaga identitas di internet, tapi karena aku hampir tidak punya hubungan dengan dunia nyata, mengkhawatirkan hal itu rasanya percuma.

Lagi pula nama keluargaku tidak terlalu langka. Dengan mengubah huruf 'o' menjadi 'u' (Toono -> Touno), aku sengaja membuatnya agar disalahpahami sebagai marga yang berbeda.

(t/n: Toono bisa dibaca Tohno) 

"Touno, nama yang bagus! Sekarang, tunjukkan wujudmu di dunia ini!"

Merespons namaku, orang itu sekarang menyuruhku membuat avatar.

​Aku ditanya apakah ingin menggunakan sampel wujud dari game atau memindai penampilanku sendiri lalu mengeditnya. Aku memilih opsi memindai. Karena tidak punya keinginan khusus untuk berubah wujud menjadi aneh, menggunakan tubuh yang biasa kupakai akan lebih mudah digerakkan.

Meski ruang virtual sudah maju, pergerakan kita di sini rupanya masih dipengaruhi oleh refleks saraf motorik di dunia nyata. Benar-benar merepotkan.

Tak lama, model 3D tubuhku muncul di depan mata.

Berkat fitur kasur VR penunjang kehidupan yang menjaga agar ototku tidak terlalu menyusut, tubuhku tidak kurus kering seperti orang sakit parah. Tapi untuk standar orang normal, badanku ini sangat kurus. Kalaupun aku hidup normal, mungkin bentuk tubuh asliku juga akan tetap seperti ini.

​Tinggiku hampir 170 sentimeter. Untuk ukuran orang yang koma sebelum masa pertumbuhan, aku lumayan bersyukur bisa tumbuh setinggi ini.

Untuk saat ini, aku tidak mengubah umur, jenis kelamin, tinggi, maupun bentuk wajah. Aku merasa wajahku sangat standar, tapi orang-orang bilang wajahku terlihat agak galak. Mungkin karena mataku tipe sanpakugan (bagian putih mata terlihat lebih banyak).

Warna rambut dan mataku standar orang Asia, hanya sedikit lebih pudar. Mungkin aku akan sedikit mengubah warnanya.

Aku mengubah warna rambutku menjadi olive (zaitun) dan mataku jadi hijau hutan. Aku hanya menerangkan warna aslinya saja.

​Rambut asliku model pendek acak-acakan kalau tidak ditata, enaknya diapakan ya?

Kalau poniku dibiarkan turun, wajah galakku sepertinya akan makin kentara. Jadi, aku memutuskan untuk menyisir poniku ke atas saja. Oke, penampilan begini sudah cukup.

"Sip, wujudmu sudah selesai. Selanjutnya, mari pilih ras dan profesi!"

Orang berjubah itu kembali memanduku dengan nada yang kelewat ramah.

"Soal itu... kudengar kalau aku berkonsultasi tentang gaya bermain denganmu, kau bisa merekomendasikan build karakter yang cocok?"

Karena tidak paham istilah game, aku bertanya dengan kepala penuh tanda tanya.

​Alasanku bertanya karena menurut situs resminya, sistem profesi di game ini sangat detail. Profesi bisa berkembang menjadi kelas lanjutan tergantung kecocokannya dengan ras pemain. Sebagai pemula, aku khawatir akan kesulitan jika harus memilih profesi awal sendirian.

Namun, agar ramah pemula, sistem menyediakan AI pendukung. Jika kita memberi tahu gaya bermain yang kita inginkan, AI akan menyarankan ras, profesi, dan cara menaikkan status yang paling sesuai.

​"Benar! Kalau ada gaya main yang ingin kau coba, aku akan menyarankan build yang sejalan! Tapi ingat, kalau kau memilih mode saran, kau tidak bisa meracik build karaktermu secara manual lagi."

Ternyata orang berjubah itu memang AI pendukung.

AI itu menjawab pertanyaanku dengan sopan sambil menyertakan peringatan. Yah, itu memang tugasnya.

"Ya, mode saran saja tidak apa-apa."

Aku setuju karena aku tidak masalah jika tidak bisa meracik status secara manual. Lagipula aturan itu sudah tertulis jelas di situs webnya.

"Dimengerti! Kalau begitu, Touno, gaya bermain seperti apa yang ingin kau lakukan di dunia ini?"

AI itu mencondongkan badannya ke arahku.

Ada gaya bermain yang sudah kuputuskan dengan sangat jelas sejak awal.

​"Aku ingin gaya bermain... 'Membaca buku dan dokumen di dunia ini sebanyak mungkin'. Bagaimana?"

Karena sadar permintaanku sangat tidak umum bagi seorang pemain game, suaraku sedikit mengecil di akhir kalimat.

"Begitu ya! Biar kupikirkan, tunggu sebentar!"

Mendengar permintaanku, AI itu menopang dagu, menunduk, dan mulai berpikir.

"...Selesai! Untuk mencapai tujuan Touno, aku rasa build ini yang terbaik. Bagaimana?"

Tanpa butuh waktu lama, AI itu mengangkat wajahnya dan menampilkan jendela sistem di hadapanku.

​Ras: Manusia Biasa
Profesi: Kandidat Arsiparis Kelas Bawah
Keahlian: <Analisis> <Rekam>
Jenis Kelamin: Pria

​...Bahkan sebagai pemula game fantasi sekalipun, aku bisa langsung tahu. Profesi ini pasti sangat, sangat tidak populer.

Tapi aku menenangkan diri dan memeriksa saran dari sang AI.

'Manusia Biasa' adalah istilah ras yang asing, tapi menurut situs web, ini merujuk pada ras manusia normal. Ada juga ras khas fantasi lain yang sudah umum seperti Elf atau Dwarf. 

Aku bersyukur mendapat ras manusia biasa karena pergerakan avatarku tidak akan berubah drastis.

​Lalu soal profesinya... Apa itu 'Kandidat Arsiparis Kelas Bawah'?

Sudah kelas bawah, kandidat pula... Berarti posisinya paling rendah dari yang terendah.

Melihat makna dari kata 'Arsiparis', apa nantinya aku bisa menyeleksi, menyusun ulang, lalu menerbitkan isi buku-buku yang ada?

Aku tidak terlalu tertarik dengan penerbitan—meski aku selalu menghormati dan berterima kasih pada para penerbit buku setiap hari. Tapi karena proses 'menyusun arsip' memungkinkanku menyentuh banyak bahan bacaan, ini tidak buruk juga.

​"Profesi Kandidat Arsiparis Kelas Bawah. Aku tidak tahu apa profesi ini ada di dunia ini, tapi kukira aku akan disarankan menjadi Pustakawan atau semacamnya."

"Ah, profesi Pustakawan juga ada! Pustakawan adalah pekerjaan yang dikelola oleh wilayah atau negara untuk menjaga perpustakaan. Tapi karena statusmu pegawai, kau tidak bisa bergerak bebas. Kalau kau mencari kebebasan dan gaya main seperti itu, aku rasa profesi Arsiparis di bawah naungan Federasi Guild adalah pilihan yang tepat."

Saat aku mengutarakan pendapat jujurku, AI itu menjelaskan perbedaan Pustakawan dan Arsiparis dengan sangat lancar dan fasih.

​"Aku sarankan kau bersikap kooperatif dengan Guild, tapi itu tidak wajib dan kau tidak perlu terikat berdiam di satu wilayah. Guild ada di seluruh dunia, jadi pekerjaan ini jauh lebih cocok untukmu, bukan?"

Ternyata afiliasi organisasinya berbeda. Di situs resmi juga dijelaskan soal peta kekuatan negara dan Federasi Guild. Pemain yang ingin bebas berpetualang tanpa banyak ikatan memang disarankan bergabung dengan Guild yang sesuai profesinya.

Aku sebenarnya tidak ingin berpetualang, tapi karena pasti ada bacaan di luar jangkauan pemukiman manusia, aku mau tidak mau harus keluar melakukan eksplorasi.

​"...Begitu ya. Kalau begitu Arsiparis memang lebih baik untukku."

"Fufufu, benar kan? Kalau kau ingin melihat segala hal, kebebasan adalah syarat mutlak."

AI itu membusungkan dadanya bangga.

"Ngomong-ngomong, Skill <Analisis> dan <Rekam> adalah syarat minimal untuk menyelesaikan 'Misi Khusus Profesi'. Semakin sering dipakai, keahlianmu akan semakin berkembang dan bisa melakukan lebih banyak hal. Gunakanlah secara aktif."

...Rupanya AI ini sadar aku pemain pemula, jadi dia sukarela menjelaskan soal sistem keahlian sebelum aku bertanya. Syukurlah.

​"Skill bisa tumbuh dan berubah ke tingkat lanjutan. Kau juga bisa mendapat skill baru dengan berganti profesi, membaca buku kemampuan, atau melalui tindakanmu sendiri. Coba saja lakukan berbagai hal."

"Hmm, berarti semua teknik yang didapat pemain dari pengalamannya itu ada namanya?"

"Kurang lebih begitu!"

Saat aku memastikan pemahamanku, AI itu tersenyum sambil mengacungkan jempol.

...Kalau dipikir-pikir, dia baru saja mengakui kalau sistem game ini merekam semua tindakan pemain secara diam-diam untuk mengatur tingkat kemahiran keahlian mereka.

Pengembangnya benar-benar gila... tentu saja dalam artian pujian.

​Setelah itu AI terus mengajariku banyak hal.

Soal profesi, pemain ternyata bisa naik ke kelas lanjutan atau mendapatkan profesi unik jika prestasinya diakui oleh Guild tempatnya bernaung.

Entah karena pengaruh profesiku yang sudah dipilihkan, pakaian avatarku tiba-tiba berubah.

Aku memakai baju setelan panjang dan longgar ala sarjana abad pertengahan dengan sabuk terikat di pinggang.

Sangat sederhana, tapi mungkin inilah yang disebut 'perlengkapan awal' (Starter Gear) pemain.

​"Satu saran dariku, kejarlah gaya bermain yang Touno inginkan, asah profesi serta keahlianmu. Yah, ini sama sekali bukan paksaan."

"Itu... sudah pasti. Itu yang memang ingin kulakukan, apalagi ini profesi yang katanya paling cocok denganku."

Soal membaca buku, mau disarankan atau tidak, aku akan tetap melakukannya walau dilarang. Jadi aku mengangguk mantap.

"Bagus, jujur pada hasrat sendiri adalah hal baik! Lalu apa lagi ya... Anggaplah interaksimu dengan penduduk dunia game sama seperti saat kau berinteraksi dengan teman di dunia nyata. Selain itu, karena ini game, kalian para pemain bisa hidup lagi di checkpoint kalau mati. Tapi melihat gaya bermainmu, aku peringatkan sebaiknya kau jangan terlalu sering mati."

Sikap AI yang tadinya santai tiba-tiba berubah menjadi sedikit serius.

Sebagai pemula yang tidak pandai berolahraga, aku tidak tahu bisa bertahan hidup berapa lama tanpa mati di game, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin.

​"...Mengerti. Aku akan berhati-hati."

"Sip, yang terpenting adalah bersenang-senang! Temukan kebahagiaanmu sendiri, Touno!"

AI itu kembali memamerkan senyum lebarnya.

...Entah kenapa, aku merasa nasihat terakhirnya menyimpan makna tersembunyi yang besar.

Apa dia sedang mengisyaratkan adanya cabang cerita permainan berdasarkan jumlah kematian pemain?

Atau mungkin, semua tindakan kita di game ini akan memengaruhi nasib dunia dan masa depan pemain?

Di situs resminya memang sudah ada petunjuk bahwa para pengembang membuat game ini jauh lebih serius dari yang dibayangkan para pemain.

Tapi seingatku tidak ada informasi tentang cerita tambahan jika mati.

Apapun itu, aku akan berhati-hati agar tidak mati.

​Terakhir, untuk pengaturan detail, aku disarankan mematikan batas sensor umur dan memaksimalkan batas sensor rasa sakit. Aku tidak terlalu masalah dengan adegan berdarah atau rasa sakit, tapi...

Katanya, kalau batas sensor umur dimatikan, efek visual saat kita melukai musuh atau dilukai akan jadi sangat realistis. Aku tidak terlalu ingin melihat hal semacam itu.

Untuk rasa sakit, meski sudah maksimal, rasanya tidak akan sama persis dengan dunia nyata, tapi tetap ada efek benturan yang lumayan terasa.

"Saat kau merendahkan batas sensor umur atau rasa sakit, rasanya seperti pandanganmu dilapisi banyak selaput, dan sensasi terjun ke dunia jadi berkurang. Kalau nanti kau merasa tidak nyaman, kau bisa mengubahnya kapan saja. Mau coba saran pengaturanku dulu?"

"...Masuk akal. Kalau bisa diubah nanti, aku setuju."

Begitu aku setuju, jendela pengaturan yang disarankan AI muncul. Aku memeriksanya sekilas.

Pengaturannya persis seperti yang dia katakan. Aku agak khawatir dengan sensor rasa sakitnya... tapi sudahlah, coba saja dulu.

​Lalu ada pengaturan jangkauan kontak fisik untuk Pemain (PC) dan Karakter Non-Pemain (NPC). Untuk PC sedikit dibatasi, tapi kontak fisik dengan NPC dibiarkan bebas tanpa batasan.

...Kenapa begitu? Yah, sudahlah. Kalau ini mengganggu, nanti tinggal diubah saja.

"Oke, semua pengaturan selesai! Sekarang kau tinggal masuk ke dalam dunia Arca Storia! Sudah siap?"

AI itu bertepuk tangan untuk menutup sesi.

"Ah, tunggu sebentar."

"Hm? Ada apa?"

Aku menemukan sesuatu di pojok layar pengaturan tadi.

Aku belum bisa terjun ke game sekarang.

"Biarkan aku membaca menu Bantuan (Help) dulu sampai selesai. Setelah itu aku masuk."

"Eh......... pfft, ahahahaha! Uhuk, uhuk, hiiih!"

AI itu terlihat bengong sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut dan sesekali tersedak tawanya sendiri.

​Karena aku juga ingin cepat masuk ke game, aku membaca menu bantuan sampai ke akar-akarnya dengan diiringi suara tawa AI sebagai musik latar.

Aku tahu menu bantuan bisa dibaca kapan saja, tapi begitu masuk ke dunia game, di sana juga pasti ada buku-buku baru yang sudah menunggu untuk kubaca.

"Touno, kau benar-benar luar biasa!!"

Di ruang antara angkasa dan planet biru itu, tawa riang AI terus bergema.

"Kalau begitu, selamat jalan! ...Pfft!"

Dilepas oleh AI yang tawanya belum juga reda, aku pun terjun ke dunia game.

​...Aku terjun sungguhan.

Tepatnya, aku terjun bebas jatuh ke arah planet biru yang sedari tadi menjadiadi latar belakang. Di tengah sensasi melayang yang sulit dijelaskan, pandanganku perlahan memutih—

Begitu sadar, aku sudah berdiri tegak dengan kedua kakiku berpijak di atas tanah. ...Sensasi yang sudah sangat lama kurindukan.

Setelah menenangkan perasaan rumit yang muncul karena bisa menapakkan kaki di tanah, aku melihat ke sekeliling. Pemandangan kota bergaya pedesaan Eropa dengan rumah-rumah bata berjajar menyambutku.

Populasi kota terlihat sangat padat, sedikit tidak sebanding dengan ukuran kotanya.

Mungkin ini yang sering disebut 'Kota Permulaan' dalam game RPG. Orang-orang berpakaian perlengkapan awal sepertiku ini pasti para pemain, dan sisanya adalah NPC alias penduduk asli dunia ini.

​Tiba-tiba, aku menyadari ada ikon yang berkedip minta diperhatikan di sudut pandanganku. Aku membukanya dengan sensor mata. Aku menggunakan gerakan mata karena memang sudah terbiasa, tapi di sini pemain bebas memilih kontrol sentuh atau suara.

Mengesampingkan itu, aku membaca jendela menu yang baru terbuka.

​[Misi Tutorial]

Coba mendaftar di Guild Profesi.

Coba ambil misi di Guild Profesi.

​Selesaikan misi.

​Sesuai namanya, kalau aku menyelesaikan misi mengikuti urutan ini, aku bisa memahami alur dasar permainan.

Tapi, aku tidak tahu di mana letak Guild Profesi itu.

Aku memilih tulisan 'Coba mendaftar di Guild Profesi', lalu muncul ikon penanda tujuan di peta kecil di sebelah kiri bawah pandanganku. Oh begitu, aku tinggal berjalan ke arah penanda itu saja. Sangat membantu.

Aku segera melangkah menuju tujuan.

...Aku tidak boleh terbawa perasaan hanya karena bisa berjalan normal.

​Sambil berjalan, aku melihat peta sekitarku. Selain jalan utama yang membelah kota dari timur ke barat tempatku berjalan sekarang, sisa wilayah kota yang ada berwarna abu-abu dan dicoret garis miring. Sepertinya area itu belum bisa dimasuki.

Mungkin karena aku belum menyelesaikan tutorial, sistem mencegahku masuk agar tidak tersesat. Tapi mengingat game ini katanya mengutamakan 'realisme', batasan area ini terasa sedikit aneh.

Bentuk keseluruhan kota hanya digambar asal-asalan di peta, dan nyaris tidak ada informasi tempat apa pun di dalamnya.

Yang bisa kulihat saat ini hanya beberapa bangunan Guild, satu toko senjata, satu toko barang, dan satu penginapan. Sesuai dugaan, fasilitas minimum untuk bermain sudah bisa dikunjungi sejak awal.

Mungkin detail petanya baru akan terbuka kalau aku menjelajahinya sendiri dengan kakiku, atau membeli peta detail di Guild. Kalau pengembang menjual 'realisme', konsep pemetaan mandiri sebagai hasil dari tindakan pemain ini sangat masuk akal.

​Sambil memikirkan hal itu, aku sampai di lokasi penanda.

Saat mendongak, aku melihat bangunan yang jauh lebih besar dan megah dibanding rumah di sekitar. Orang-orang yang sepertinya pemain terus masuk ke dalam, ini pasti Guild Profesi.

Begitu melangkah masuk, ruangan di dalamnya jauh lebih luas dari yang terlihat di luar.

...Ukuran bangunan luar dan luas dalamnya benar-benar tidak proporsional.

Apakah ini karena teknologi arsitektur magis ala dunia fantasi? Apa bagian dalam gedung lain juga diperluas seperti ini? Kalau ada buku tentang ilmu arsitektur, aku harus membacanya nanti.

​Mengabaikan rasa penasaran, aku menatap kerumunan orang untuk menyelesaikan urusanku terlebih dahulu.

Mungkin karena servernya baru buka, antrean panjang mengular di semua loket yang jumlahnya lebih banyak dari dugaanku. Semuanya pasti sedang mendaftar guild di sini.

Antrean perlahan-lahan maju.

Resepsionis di loket tempatku mengantre adalah seorang wanita yang umurnya sepertinya tidak jauh beda denganku. Ia melayani gelombang pemain dengan senyum ramah dan cekatan.

Rambut cokelatnya diikat rendah dan diarahkan ke samping, serasi dengan mata cokelat bulatnya yang memberikan kesan energik. Ia memakai blus putih dan gaun terusan cokelat, seragam yang sama dengan resepsionis wanita di loket lain. Sementara untuk pria, seragamnya berupa kemeja putih dengan rompi dan celana kain cokelat.

Berkat kinerja staf Guild yang tangkas, tidak butuh waktu lama sampai giliranku tiba.

​"Halo, Orang Asing! Ingin mendaftar Guild? Atau mengambil misi?"

"...Mendaftar Guild."

Dari pertanyaannya yang sangat efisien tanpa basa-basi, aku bisa membayangkan seberapa banyak poin pengalaman yang dia dapat hanya dalam hari ini.

Ngomong-ngomong, tulisan 'Orang Asing' di sini dibaca 'Marebito' (Pendatang). Karena kami datang dari dunia lain, bagi penduduk asli lokal, kami memang orang asing.

"Kalau begitu, silakan letakkan tangan Anda di atas alat sihir ini. ...Baik, pendaftaran selesai. Ini kartu Guild Anda. Tidak ada biaya pendaftaran awal atau pencetakan kartu. Jika hilang, kartu bisa dicetak ulang dengan membayar denda yang disesuaikan dengan pangkat Anda."

​Mengikuti arahan staf, aku meletakkan tanganku di atas kotak bergaya antik, dan pendaftaranku langsung selesai dengan cepat. Mungkin sistemnya mirip pemindai sidik telapak tangan?

Kartu Guild yang diberikan padaku terlihat dan terasa keras layaknya logam stainless steel.

Di sana tertulis beberapa informasi pribadi yang kuatur sebelumnya... Menggunakan huruf dunia ini yang sama sekali belum pernah kulihat.

Aku sempat kaget, tapi saat aku terus menatap huruf-huruf aneh itu, maknanya otomatis muncul di kepalaku. Seperti tidak ada kendala membaca.

Baru kusadari, aku juga bisa mengobrol lancar dengan staf Guild tanpa kendala bahasa sama sekali. Entah kenapa aku sempat berpikir teks-teks disini akan otomatis tertulis dalam bahasa asliku.

Tapi... saat berbicara tadi, aku memakai bahasa ibuku. Apa di telinga staf itu suaraku terdengar fasih menggunakan bahasa dunia ini? Hal sekecil ini saja sudah memancing banyak rasa penasaranku.

Karena aku bisa mengenali huruf dan arti bahasa dunia ini, kalau aku berusaha belajar sungguh-sungguh, mungkin aku bisa membaca dan menulis sendiri tanpa perlu bantuan translate sistem game.

Meski mungkin tak ada untungnya memaksakan diri melakukan hal merepotkan itu.

​Setelah itu, aku mendengarkan penjelasan staf tentang cara kerja Guild dan hal yang perlu diperhatikan. Karena isinya hampir sama persis dengan panduan di situs resmi yang sudah kubaca, ini terasa seperti ulasan ulang.

<Misi Tutorial: Coba mendaftar di Guild Profesi selesai>

Log notifikasi itu muncul di sudut pandanganku. Aku akan mengeceknya nanti karena sekarang aku sedang berhadapan dengan orang.

"Penjelasan pendaftaran selesai. Apakah Anda mau lanjut mengambil misi?"

"Tidak, aku belum mau ambil misi. Ngomong-ngomong, apa ada dokumen atau bahan bacaan tentang informasi kota ini yang bisa kulihat?"

Tentu saja mencari bahan bacaan jauh lebih prioritas daripada misi.

​"Kalau Anda mencari informasi tentang kota ini, ada Ruang Arsip di lantai dua yang bisa diakses oleh siapa saja. Dokumen dilarang keras dibawa keluar, tapi Anda bebas untuk menyalinnya. Tolong hati-hati, Anda harus membayar ganti rugi jika dokumennya rusak atau hilang."

"Hah! Terima kasih banyak! Aku akan ke sana sekarang juga!"

"B-baik. Semoga hari Anda menyenangkan!"

Mendengar kata 'Ruang Arsip', emosi dan semangatku langsung meledak sampai aku tak sengaja berteriak kegirangan.

Staf wanita itu terlihat sedikit mundur kaget melihat reaksiku yang berubah drastis. Tapi itu cuma masalah kecil dibanding kesenangan membaca yang sudah menantiku. Aku langsung bergegas menuju Ruang Arsip dengan kecepatan berjalan setengah berlari.

​Begitu naik tangga di sebelah pintu masuk ke lantai dua, aku langsung menemukan pintu dengan plang bertuliskan 'Ruang Arsip'.

"Oooh!"

Dengan jantung berdebar kencang aku membuka pintunya. Ruangannya tidak terlalu luas, tapi ada sekitar lima rak buku berjajar memanjang, ditambah rak-rak lain yang menutupi seluruh permukaan dinding ruangan.

Semuanya penuh dijejali tumpukan dokumen dan buku—benar-benar pemandangan yang spektakuler.

Memikirkan bahwa setiap buku menyimpan pola pikir dan budaya yang ditulis dalam huruf dari dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata... Hanya dengan menyadari ini saja, keputusanku bermain game ini sudah terasa sangat sepadan.

Aku terlalu gembira sampai nyaris kehilangan akal sehatku dan kegirangan bukan main.

​Dengan sisa-sisa kewarasanku, aku mulai mencari dokumen yang sekiranya berisi informasi kota dan peta geografis sekitar. Dokumen itu langsung ketemu, jadi aku memutuskan untuk merampungkan bacaan di rak tersebut pertama kali.

—Dan begitulah, aku tenggelam sepenuhnya dalam bacaanku.

​"Ehm... Anda sudah mengurung diri di ruang arsip selama dua hari. Apa Anda tidak apa-apa? Maksud saya, kondisi fisik Anda..."

"...Hah. ...Ya?"

Saat aku sedang membaca dengan fokus tingkat tinggi, seseorang tiba-tiba menegurku dan membuyarkan konsentrasiku.

Aku perlahan mengangkat wajah ke arah sumber suara. Pandanganku terasa buram dan kabur, tapi aku bisa melihat seorang wanita muda berseragam staf Guild sedang menatap wajahku dengan ekspresi cemas.

Eee... tadi dia tanya apa?

Sambil memutar ulang pertanyaannya di kepala, perlahan aku mulai menyadari bagaimana kondisiku saat ini.

​"Ah... maaf, sepertinya aku tidak baik-baik saja."

"Eh?!"

Dikuasai euforia dan hasrat membaca, aku membaca semua dokumen dan buku di ruangan ini tanpa henti. Tanpa sadar, dua hari telah berlalu.

Ruangan ini hanya punya jendela kecil seadanya untuk pencahayaan, jadi aku nyaris tidak bisa melihat kondisi di luar. Ditambah dengan fokusku yang kelewat batas, jam biologisku di dalam game sepertinya jadi rusak.

Ngomong-ngomong, waktu di game ini berjalan empat kali lebih cepat dari dunia nyata. Satu hari di dunia ini setara dengan enam jam waktu dunia nyata.

Itu artinya, kalau dihitung dengan waktu nyata, aku baru saja bermain game tanpa henti selama dua belas jam berturut-turut.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.