LANGITOREN
0%

 ​【Prolog 〈Itsuki〉】Kisah Ruang Tertutup Masa kini


penerjemah: oyen
baca di langitoren.my.id


Aku merasa hidup.

​Bentuk dunia yang tadinya samar kini terlihat jelas. Suara napas dan detak jantungku seakan melayang membentuk wujud di ruang depanku. Muncul sensasi aneh seolah eksistensiku baru saja digambar di dunia ini, semacam bentuk kesadaran penuh.

​Aku sendiri merasa ini aneh. Melihat pemandangan ini, aku justru merasakan hal yang sebaliknya. Padahal di depanku terbentang pemandangan mengerikan yang membuatku ingin memalingkan wajah.

​Ini adalah ruang putih kosong seukuran ruang rapat kecil.

​Di bagian depan ruangan terdapat meja berbentuk persegi panjang. Cairan merah kehitaman menetes dari sisinya. Di atas meja itu terdapat potongan kepala seorang pria. Kelopak matanya tertutup, menunjukkan ekspresi damai seperti sedang tertidur.

​Di depan meja terdapat genangan darah. Tubuh manusia tanpa kepala tergeletak di atasnya. Tubuh yang terlempar dengan posisi merentang itu tampak tidak nyata, seperti boneka yang talinya tiba-tiba diputus.

​"Pembunuhan ruang tertutup."

​Aku spontan mengatakannya. Saat mengucapkannya, kalimat itu terasa konyol. Mirip anak laki-laki dalam ilustrasi buku bahasa Inggris yang sedang memastikan keberadaan sebuah apel.

​Namun, pintu yang baru saja kami buka dalam keadaan terkunci. Kuncinya pun hanya ada satu di tangan kami. Ketiga sisi dinding tidak memiliki jendela. Langit-langit dan lantai tidak memiliki celah. Terlebih lagi, ini adalah bangunan di pulau tak berpenghuni di tengah lautan.

​Mayat dengan leher terpotong di kondisi seperti itu. Mau dipikirkan apapun, ini adalah pembunuhan ruang tertutup yang terlalu sempurna.

​Kami berlima berdiri kaku di pintu masuk tanpa bisa bersuara. Tidak ada yang berteriak. Semua tampak saling mengawasi, bertanya-tanya apakah boleh bersuara.

​"Semuanya, jangan masuk ke lokasi."

​Senior memecah keheningan. Berbeda dengan nada bicara yang biasanya tegas, suaranya sedikit bergetar.

​"Biar aku yang periksa."

​Mahasiswi kedokteran tahun keenam itu mengeluarkan sarung tangan karet dari sakunya dan perlahan mendekati mayat.

​"Kenapa..." gumam wanita berambut hitam di sebelahku. Wajahnya pucat dan air mata menggenang di pelupuk matanya.

​"Kusanagi-san," panggil pemuda berambut perak dengan nada serius. "Hati-hati dengan titik buta kita, di belakang meja itu."

​"...Ya, sepertinya tidak ada siapa-siapa."

​Senior mengitari bagian belakang meja tempat kepala itu diletakkan, lalu melapor dengan suara kaku.

​"Ternyata yang terbunuh benar pemandu kita, Akagami-san. Dia bilang akan menunggu di pulau lebih dulu. Kenapa bisa begini..."

​Senior meringis saat memastikan bagian kepala jenazah.

Artinya, aku berpikir dalam hati.

​Pada titik ini, sudah pasti pembunuhan ruang tertutup. Ruangan ini hanya punya satu pintu keluar-masuk, tidak ada tempat sembunyi, kunci satu-satunya ada pada kami, dan terdapat mayat dengan leher terputus. Bagaimana cara melakukannya? Apakah ada kunci duplikat, atau ini trik bunuh diri...

​Pikiranku melaju kencang layaknya batu yang menggelinding di lereng.

​Di saat itu, seseorang menggenggam tanganku. Saat aku menoleh, seorang wanita berambut ekor kuda ganda berwarna cokelat menatapku dengan wajah serius.

​"Senior, tidak apa-apa?"

"Eh?"

"Tatapan matamu menyeramkan."

​Refleks, aku menyentuh wajahku sendiri.

​"...Ya, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terguncang."

​"Mungkinkah ini perbuatan 'O'?" tanya juniorku sambil melihat ke arah mayat.

​"Tapi," ucap wanita berambut hitam dengan ketakutan. "Pembunuh berantai itu seharusnya sudah mati, kan?"

​"Benar," Senior mengangguk. "Pelaku pembunuhan ruang tertutup yang disebut 'O', Migiwazaki Hitoshi, sudah ditemukan tak bernyawa di laboratorium ini. Itu tercatat dalam data kepolisian."

​"Tapi, mayat 'O' adalah mayat yang terbakar."

​Kalimat itu terlontar dari mulutku.

​Sembari ditatap oleh semua orang, berbagai informasi mulai saling terhubung di kepalaku. Sensasi kesadaran yang tiba-tiba menyerangku seolah mendesak, memukul kuat bagian dalam tengkorakku.

​Oleh karena itu, layaknya diancam, aku mulai berpikir keras.

Tentang pembunuh berantai ruang tertutup, 'O'.

Tentang detektif terkenal yang menangkapnya namun kini hilang, Kiryu Toma.

Serta tentang insiden kebakaran dan pembunuhan yang terjadi di laboratorium Pulau Akon tiga tahun lalu.

​Apa yang pernah terjadi, dan apa yang akan terjadi sekarang.

Di dalam ruang tertutup tempatku terpaku kini, banyak misteri yang membentang tanpa batas.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.