LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 90>


 

​Setelah melewati tempat itu, rubah kertas seketika menghilang.  

​Yu-dan kembali ke dunia nyata.  

​Bising kehidupan kompleks apartemen di siang hari menerjang masuk seperti televisi yang tiba-tiba dinyalakan. Dia segera mencari pintu masuk utama. 

​"Nomor 503. Jadi kita harus masuk ke sini, tapi kita tidak tahu kata sandinya—"  

​Belum selesai dia berbicara, pintu sudah terbuka.  

​Tidak perlu kata sandi. Begitu siluman rubah mendekat, pintu terbuka dengan sendirinya seolah memiliki sensor otomatis. Lift pun turun dengan sendirinya.  

​"Praktis sekali."  

​"Kalau saja mereka mengenali tamu dan menyambut dengan baik seperti ini atas kemauan sendiri, aku tidak akan punya hal yang memusingkan."  

​"Termasuk hantu yang menyerahkan diri."  

​"Benar sekali."  

​Mereka turun di lantai 5 dan berdiri di depan ruangan nomor 503.  

​Saat Baekran mendekat, kunci pintu depan juga terbuka dengan sendirinya. Begitu pintu dibuka, aura pekat dan keruh langsung menerjang.  

​Memasuki rumah orang lain di siang hari begini.  

​Keadaan di dalam rumah masih persis sama seperti saat wanita itu melarikan diri. Yu-dan tanpa sadar mengerutkan dahinya. Aura khas Unusuals meresap pekat ke dalam setiap barang. Ritual jahat. Pernikahan paksa dengan hantu.  

​Baekran berdiri di ruang tamu dan melihat sekeliling.  

​"Kau mencari apa?"  

​"Tempayan air."  

​"Mana mungkin ada benda seperti itu."  

​"Tentu saja aku tahu. Apakah tidak ada sesuatu seperti tong air besar?"  

​Yu-dan membuka ruang serbaguna rumah, tetapi tidak ada benda semacam itu. Di balkon juga tidak ada.  

​"Memangnya untuk apa butuh tong air besar?"  

​"Untuk Neokgeonjigi (mengangkat roh)."  

​"Apa itu?"  

​"Sesuai namanya, mengangkat roh, apa lagi."  

​Yah, nanti kalau sudah lihat juga tahu. Yu-dan melihat sekeliling. Kemudian teringat sesuatu dan memberi isyarat.  

​"Bagaimana kalau ini?"  

​Dia membuka pintu kamar mandi dan menunjuk ke bak mandi (bathtub).  

​"Hmm..."  

​Baekran berpikir sejenak.  

​"Aku belum pernah mencobanya di tempat seperti itu. Tapi apa boleh buat, tidak ada cara lain."  

​Setelah menyumbat bak mandi dan menyalakan keran air, dia kembali keluar.  

​Semua pintu kamar di rumah ini terbuka, hanya satu tempat yang pintunya tertutup rapat. Kamar kecil. Hanya dengan melihat ke arah situ saja, rasanya bulu kuduknya sudah berdiri. Namun karena dia mengikuti rubah atas kemauannya sendiri, dia tidak bisa menunjukkannya.  

​"Kita mulai."  

​Baekran menyentuh pintu itu dengan ujung tombaknya.  

​Terdengar suara sesuatu pecah dari dalam, lalu pintu terbuka dengan sendirinya sambil mengeluarkan suara berderit.  

​Ini adalah kamar yang digunakan anak laki-laki itu sebelum dia hidup mandiri, yang kemudian digunakan sebagai kamar pengantin hantu. Terdapat sebuah layar lipat tua bermotif bunga merah yang sama sekali tidak cocok dengan perabotan rapi berwarna hitam putih. Pasti di sana. Yu-dan mendekat dan mengintip ke belakangnya.  

​Di belakang layar lipat ada sebuah guci kecil yang dibungkus kain putih dan diikat erat dengan tali merah. Itu adalah guci abu dari anak laki-laki yang meninggal. Dari sana keluar energi yang sangat kuat. Kulitnya terasa merinding, rasanya seperti terkena luka bakar dingin.  

​Baekran menatap guci itu dengan wajah serius.  

​"Jika salah menyentuh benda seperti ini, kamu bisa terkena serangan fatal mendadak"  

​Memahaminya sebagai perintah untuk minggir, Yu-dan hendak mundur—

​"Saat aku menghitung sampai tiga, kamu angkat. Tiga!"  

​Eh? Dengan bingung Yu-dan mengangkat guci itu. Tangannya terasa kesemutan hingga dia hampir saja menjatuhkannya.  

​"Cepat ke kamar mandi!"  

​"Eh? Ah, oke!"  

​Begitu dia berlari tergesa-gesa ke kamar mandi sambil membawa guci, Baekran langsung menutup pintu dengan keras, membuatnya terkejut. Tidak hanya itu, dia menempelkan jimat (bujeok) di pintu dan menyegelnya dengan kuat.  

​"Karena sudah telanjur dimulai, jika kamu tidak bisa menangkap hantu ini, kamu tidak bisa keluar."  

​"Tunggu, tunggu sebentar!"  

​"Tentu saja aku juga tidak bisa keluar. Ditangkap lalu keluar, atau kita sama sekali tidak bisa keluar. Hanya ada dua pilihan. Bagaimanapun juga, hantu ini sama sekali tidak boleh dibiarkan terlepas kembali ke dunia luar."  

​Yu-dan mengangguk dengan wajah sedikit ketakutan.  

​"Kalau begitu, mari kita lakukan."  

​Baekran melemparkan guci itu ke dalam bak mandi. Guci yang menyegel roh itu tidak mengapung di air, melainkan langsung tenggelam dalam posisi tegak lurus.  

​"Identitas asli dari energi pekat ini adalah kegilaan (Gwang-gi). Rasa dendam yang dirasakannya saat mati, dan obsesi yang mengerikan untuk meninggalkan jejaknya di dunia ini."  

​"Tapi meskipun dia meninggalkan keturunan dengan cara seperti itu, anak dari hantu mana mungkin bisa normal. Dia harusnya sadar."  

​"Mencoba menasihatinya dengan cara seperti itu tidak akan ada gunanya. Hantu itu juga pasti sudah tahu. Kamu tidak tahu betapa liciknya hal-hal semacam ini. Mereka mencoba melakukannya padahal sudah tahu akibatnya. Matanya menjadi buta karena nafsunya terlalu besar. Saat seperti ini apa yang harus kita lakukan? Ibaratnya, ini adalah situasi di mana dia berkata, 'Ya, aku memang gila.' lalu menangkap seorang wanita lemah dan ingin melakukan semaunya. Pada saat itu, hanya ada satu cara untuk membuatnya tiba-tiba sadar kembali."  

​Baekran mengayunkan tombaknya dan memukul guci itu dengan keras.  

​Air bak mandi mendidih, meledak lalu menyembur seperti air mancur. Yu-dan tidak sempat menghindar dan tersiram air itu sepenuhnya. Dengan tubuh basah kuyup, dia menatap Baekran.  

​"Oh, maksudmu dengan memukulinya."  

​"Benar sekali. Tapi ada satu masalah."  

​"Apa itu?"  

​"Bukankah hal seperti itu membutuhkan tenaga fisik. Aku benci pekerjaan semacam itu."  

​Mata yang sempat berubah menjadi keemasan itu kembali menjadi cokelat. Wajah rubah tersenyum simpul.  

​"Oleh karena itu, mohon bantuannya."  

​Sambil berkata begitu, dia melepaskan tombaknya.  

​Yu-dan membalas bertanya dengan bingung.  

​"Maksudmu aku yang harus melakukannya?"  

​"Bukankah ini satu-satunya pekerjaan di mana semakin sederhana dan kasar, semakin bagus hasilnya. Ini sangat cocok dengan bakat mu. Aku akan menonton saja."  

​Baekran duduk santai di tepi bak mandi. Emosi ini harus diungkapkan dengan apa. Apakah ini rasa tak masuk akal atau rasa kebingungan?  

​"Ehm, yah, kalau begitu..."  

​Yu-dan mengangkat tangannya lalu memukul guci itu. Air tepercik.  

​"Ini pasti bukan caranya."  

​Sambil melirik siluman rubah yang duduk bersantai itu, dia mengalihkan pandangannya dan menatap tombak emas yang disandarkan di bak mandi.  

​"Kau tidak akan meminjamkan itu kepadaku, kan?"  

​"Kamu sudah gila? Aku tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya."  

​Tentu saja. Kan itu ekor nomor 1 miliknya. Yu-dan menatap Baekran dengan wajah cemberut. Inilah saat yang tepat untuk mengeluarkannya.  

​"Aku juga punya ini."  

​Dia memanggil tanduk goblinnya. Sudut bibir rubah itu sedikit terangkat.  

​"Ku rasa benda itu tidak akan bisa memangsa roh jahat semacam ini."  

​"Siapa bilang aku mau memangsanya?"  

​Yu-dan memukul guci itu dengan tanduk tersebut. Terdengar suara cipratan air dan air memercik ke segala arah. Ternyata ada reaksinya. Dia pun mulai memukulinya dengan sungguh-sungguh.  

​"Kalau sudah mati pergi sana! Kenapa ngotot harus meninggalkan keturunan, hah!"  

​Guci itu menggeliat dengan ganas. Air bak mandi bahkan membentuk pilar dan menerjang ke arahnya. Padahal sudah basah kuyup, sekarang dia benar-benar menjadi seperti tikus yang tercebur ke air. Semakin seperti itu, dia semakin emosi dan memukul guci itu kasar.  

​"Menyerah saja! Kalau sudah terkurung di sini semuanya sudah berakhir!"  

​Air kembali terpercik ke segala arah, tentu saja Baekran tidak basah sedikit pun. Di sela-sela senyumnya yang sambil menonton, sesekali matanya menjadi tajam dan menatap permukaan air yang bergolak.  

​"Tunggu."  

​Lalu tiba-tiba dia mengangkat tombaknya dan mencelupkan ujungnya yang tajam sedikit ke dalam air. Gerakannya seperti hendak mengangkat sesuatu keluar. Kalau dipikir-pikir, tadi dia bilang Neokgeonjigi kan?  

​Tidak ada satu pun yang tersangkut di tombak itu.  

​"Silakan lanjutkan."  

​Yu-dan terus memukulinya seperti yang disuruh. Meskipun dipukuli seperti itu, guci itu masih tetap utuh.  

​Kemudian Baekran menatap tangannya, jadi Yu-dan ikut menunduk, dan sepertinya tanduk goblin itu sedikit lebih panjang. Seolah-olah secara otomatis berubah menjadi bentuk yang pas untuk memukul. Mungkin hanya perasaannya saja.  

​"Tunggu."  

​Baekran kembali mencelupkan ujung tombaknya ke dalam air. Tetap saja tidak ada yang tersangkut.  

​"Silakan lanjutkan."  

​Lengannya terasa pegal dan mulai keram dari pergelangan tangan hingga ke bahu. Namun, dia enggan mengatakan bahwa dia lelah. Dia juga enggan meminta bergantian sampai dia mati. Karena dia sendiri yang bilang akan ikut.  

​Ada sifat keras kepala yang aneh di dalam hatinya. Yu-dan mengertakkan gigi dan melakukan seperti yang disuruh.  

​"Tunggu."  

​Guci itu bergoyang kuat. Miring sejenak, lalu berdiri tegak lagi.  

​Namun kemudian miring lagi. Setelah tegak begitu kuat, tiba-tiba guci itu mengapung miring seperti tidak bisa lagi menahan gaya apung air.  

​Yu-dan berbisik.  

​"Apakah dia sudah lelah?"  

​"Bisa jadi dia sedang mencoba menipu kita."  

​Saat Baekran dengan hati-hati mencelupkan tombaknya ke dalam air, ujung tombaknya yang tajam mengangkat beberapa helai benda tipis. Yu-dan terkejut.  

​"Rambut? Bukannya dia sudah dikremasi?"  

​"Ini adalah roh. Roh memang terlihat seperti itu. Di tempat di mana seseorang meninggal karena tenggelam, akan diadakan ritual perdukunan untuk mengangkat roh mendiang. Jika di dalam mangkuk roh terdapat rambut, itu berarti roh mendiang telah diangkat dengan sukses."  

​Mata rubah yang menyipit itu memancarkan kilatan kemenangan, lalu dia segera mengangkat guci itu, membuka talinya dan melepas kainnya. Dia membungkus kembali kain itu dengan caranya sendiri lalu mengikatnya dengan tali untuk menyegelnya.  

​"Sudah selesai. Sekarang tinggal menyimpannya selama beberapa hari, lalu melakukan ritual persembahan untuk melepaskannya dengan tenang."  

​"Huft...."  

​Yu-dan jatuh terduduk lemas di lantai kamar mandi.  

​Baru setelah mendengar kata 'selesai', rasa lelah menghampiri. Entah sudah berapa lama sejak dia merasa selelah ini.  

​Jam di dinding kamar mandi menunjukkan pukul empat tiga puluh, apakah sudah lewat sekitar satu jam?  

​"Tidak mungkin. Kukira sudah beberapa jam berlalu."  

​Baekran menunduk menatapnya sekilas.  

​"Bagaimana? Melelahkan, kan?"  

​Wajahnya penuh kemenangan.  

​Yu-dan menyadarinya. Alasan kenapa rubah dengan mudah membawanya, dan kenapa rubah ini menyuruhnya melakukan semuanya. Barulah dia tahu apa maksud si rubah. Ini adalah pelajaran lapangan yang sesungguhnya. 

​"Kau mencoba memberitahuku betapa melelahkannya hal ini?"  

​"Aku tidak tahu apa yang kamu harapkan dengan mengikuti ku. tapi pekerjaan seperti ini seperti yang kamu lihat hanyalah sebuah penderitaan. Ku harap ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagi mu."  

​"Pelajaran?"  

​Yu-dan berpikir sejenak.  

​"Tapi lumayan menyenangkan juga sih."  

​"Ya?"  

​Senyum di wajah siluman rubah itu lenyap seketika, lalu dia menatap Yu-dan dengan ekspresi heran.  

​"Apa yang baru saja kamu katakan? Jangan-jangan kegilaannya menular pada mu? Haruskah ku pukuli seperti guci itu sampai sadar?"  

​Tenaganya sudah habis bahkan untuk sekadar membantah.  

​"Mungkin saja......."  

​Yu-dan terkulai lemas karena kelelahan.  

​Sekarang dia tidak ingin memikirkan apa pun lagi. Namun, saat kepalanya yang basah menyentuh bak mandi yang dingin... 

​Tiba-tiba sebuah ilusi muncul.  


​Yu-dan berdiri sambil memegang pegangan tangan di dalam bus yang penuh sesak. Tepat di depan matanya terlihat tengkuk seputih porselen di sela-sela rambut hitam.  

​Itu dia. Hantu air itu. Jantungnya berdegup kencang.  

​"Siapa kau? Apa sebenarnya identitasmu?"  

​Tidak ada jawaban. Wanita itu juga tidak menoleh ke belakang. Di dalam bus yang terus melaju hanya dipenuhi punggung hantu-hantu air yang tak terhitung jumlahnya. Rasa takut yang tak beralasan menghantuinya. Bersamaan dengan rasa cemas. 


​"Ada apa? Kamu kenapa?"  

​Suara Baekran menyadarkannya.  

​"Barusan kamu bicara dengan siapa?"  

​Keringat dingin mengalir di tengkuknya. Tanduk yang digenggamnya erat terasa panas seperti dibakar api, sementara sebaliknya, tangannya terasa sedingin es.  

​Yu-dan bangkit. 

​"Ini aneh. Ada yang salah."  

​"Apanya?"  

​Dia buru-buru membuka pintu kamar mandi dan keluar, lalu terkejut.  

​Ruang tamu benar-benar gelap. Sekarang bukan pukul empat tiga puluh. Jam di ruang tamu menunjukkan hampir pukul delapan. Baekran tampaknya juga terkejut.  

​"Waktu berlalu lebih banyak dari yang ku kira?"  

​Rasa cemas yang sangat hebat membuat dadanya mual. Rasanya seperti mau muntah. Tiba-tiba dia teringat.  

​Ada telepon.  

​Yu-dan buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor wanita yang dia simpan tadi.  

​Tidak diangkat.  

​Dia menelepon, menelepon, dan menelepon lagi. Baekran juga ikut memperhatikan dari samping. Setelah beberapa lama, akhirnya panggilannya tersambung.  

​「Halo.」  

​Terdengar suara wanita itu.  

​"Tidak terjadi apa-apa di sana, kan? Hantu prianya sudah kami tangkap."  

​「Ah, benarkah?」  

​Nada bicara wanita itu terdengar agak aneh.  

​"Nona baik-baik saja, kan?"  

​「Euh, em... Aku baik-baik saja kok. Sekarang sudah tidak apa-apa.」  

​Di belakang suara wanita itu, terdengar suara bising. Suara mobil-mobil yang berlalu lalang. Yu-dan terkejut.  

​"Nona keluar?"  

​「Aah, itu.......」  

​"Kenapa keluar! Kami sudah bilang tunggu di situ!"  

​「A, aku takut.......」  

​Wanita itu menjawab dengan suara lirih.

​「Aku sangat takut karena dikurung sendirian di ruangan itu. Lalu makhluk-makhluk itu muncul. Mereka bilang kalian tidak akan bisa menangkap hantunya, jadi mereka akan menolongku, mereka bilang bisa melepaskan cincin ini....」  

​"Apa maksud mu! Siapa?"  

​「Tadi rasanya terlalu menakutkan. Jadi aku.…」  

​Telepon terputus. Dia menelepon lagi tetapi tidak diangkat. Hanya terdengar nada dering yang berlanjut hingga suara mesin operator menjawab.  

​「Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.」  

​"Sepertinya dia memblokir nomor ini."  

​Yu-dan menatap Baekran.  

​"Kita harus cepat kembali!"  

​Siluman rubah sudah membuka jalan. Jalan Menuju Dunia Bawah. Jalan kegelapan yang dibuka oleh Imaemangnyang melintasi ruang.  

​Pemandangan di sekitarnya menjadi satu gumpalan yang berkedip, dan lampu kota berubah menjadi garis cahaya karena kecepatan yang luar biasa.  

​Namun kali ini dia bahkan tidak merasakan pusing. Sebaliknya, dia terus merasakan kecemasan yang membuatnya mual dan berlari dengan panik.  

​Di depan sana terlihat cahaya. Chaesol dan Chaewoo menurunkan lentera yang tadinya tergantung di toko dan berdiri memegangnya.  

​"Ah, kalian sudah datang!"  

​"Kami sudah bertanya-tanya kapan kalian akan datang!"  

​Yu-dan buru-buru bertanya kepada dua anak yang menyambutnya.  

​"Tidak ada kejadian apa pun di sini, kan?"  

​"Tidak ada apa-apa kok. Kenapa?"  

​Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Saat dia buru-buru pergi ke ruang obat tempat wanita itu disembunyikan, pintu yang tadinya disegel rapat terbuka lebar. Si kembar sangat terkejut.  

​"Tidak ada seorang pun yang masuk! Apa yang terjadi?"  

​"Katanya wanita itu keluar sendiri."  

​"Tidak mungkin! Kapan? Bagaimana bisa?"  

​"Lalu Paman Do di mana?"  

​"Kenapa? Ada apa ini?"  

​Paman Do yang datang membawa setumpuk jimat bertanya dengan terkejut.  

​"Tidak! Kapan Nona itu keluar? Padahal sudah kubilang jangan ke mana-mana!"  

​"Heukyo-nim di mana?"  

​Tanya Baekran.  

​"Dia sedang mencuci piring di dapur."  

​"Tadi dia bilang mau membuatkan makan malam dan membawakannya untuk wanita ini."  

​Dengan tergesa-gesa mereka pergi ke dapur dan membuka pintunya, namun tidak ada siapa-siapa. Sarung tangan karet yang dilepas terlihat di sebelah tumpukan piring. Mereka saling berpandangan.  

​"Kakak!"  

​Tidak ada jawaban.  

​"Heukyo-nim!"  

​"Kakak! Kau di mana!"  

​Mereka berlarian mencarinya ke segala arah, tetapi Heukyo tidak ada. Baekran bergumam.  

​"Air........"  

​Mereka pergi ke kamar mandi dan membuka lebar pintunya, tetapi di sana pun tidak ada siapa-siapa.  

​Tiba-tiba Chaesol berlari keluar. Yu-dan juga ikut berlari menyusulnya. Chaesol pergi ke sumur di halaman belakang dan melihat ke bawah. Yu-dan ikut melihat ke bawah.  

​Pada saat itu, Yu-dan melangkah mundur karena terlalu terkejut.  

​Sesosok tubuh mengapung di sumur yang gelap. Tengkuk seputih porselen yang terlihat di sela-sela rambut hitam yang terurai seperti kipas.  

​Ini, aku pernah melihatnya....

​Barulah dia menyadarinya. Siapa hantu air yang dilihatnya di dalam mimpi itu.  

​Itu adalah Heukyo.  

​Itu benar-benar mimpi peringatan. Tapi perkiraannya sama sekali meleset. Kenapa dia begitu tidak ingin bertemu dengan hantu air, kenapa dia begitu ketakutan, sekarang dia bisa memahaminya.  

​Tenaga dari kakinya seolah hilang, dan dia pun jatuh terduduk lemas.  

​Bagaimana bisa ini terjadi... 

​Chaewoo yang berlari datang terlambat menjerit. Lentera terjatuh dari tangannya dan hancur.  

​Paman Do dan Baekran menebak semuanya dari suara itu, dan wajah mereka menjadi pucat.  

​Semuanya dengan panik menariknya ke atas.  

​Tepat saat diangkat dari sumur, sesuatu jatuh berdebuk dari saku Heukyo. Itu adalah cincin Garakji milik wanita itu.  

​Entah kenapa, Yu-dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menatap kosong punggung Heukyo yang diterangi oleh cahaya lentera yang berayun-ayun.  

​Ada tanda telapak tangan hitam menutupi seluruh punggungnya.  


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.