LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 89>


 

​"Dingin sekali sampai aku tidak tahan lagi. Aku mau pergi saja."

​"Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa kamu menyalahkan ku hanya karena aku tidak menjadikanmu daging kualitas kelas satu..."

​Yu-dan mengabaikan perkataan Baekran dan keluar dari pintu gerbang.

​Aneh sekali. Padahal dia sudah dicap dengan stempel yang melindunginya dari hantu air, tapi begitu keluar dari Banwoldang, kecemasan itu muncul lagi. Hatinya tidak bisa tenang.

​Yu-dan mondar-mandir di jalanan tradisional. Dia berjalan-jalan sambil melihat-lihat topeng tradisional yang tertempel rapat di dinding toko barang antik, boneka-boneka yang memakai hanbok, hingga mangkuk-mangkuk yang terbuat dari jerami. Tiba-tiba dia menoleh karena merasakan perasaan yang aneh.

​Bukan hanya dia saja. Anak-anak yang sedang makan es krim, orang tua yang sedang istirahat di bangku batu di pinggir jalan, hingga orang asing yang sedang mengambil foto dengan kamera, semuanya membelalakkan mata dan menatap ke satu arah.

​Seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan pakaian robek berlari dengan panik tanpa alas kaki.

​Tiba-tiba telinganya terasa berdengung seperti kemasukan air. Terdengar suara piiiiipp di dalam kepalanya. Telinganya berdenging hingga membuatnya pusing.

​Itu adalah Unusuals.

​Wanita itu melintasi jalanan tradisional dan berlari lurus menuju Banwoldang.

​Ah, gawat.

​Yu-dan juga bergegas menyusulnya.

​"Tolong aku!"

​Wanita itu memegang Paman Do yang berdiri di halaman, lalu terjatuh dan memohon tanpa mempedulikan apa pun. Di belakang punggung wanita itu, sesosok hantu terlihat. Yu-dan merasa jantungnya mencelos dan berlari masuk, membuat si kembar terkejut.

​"Kakak belum pergi?"

​"Hantu air!"

​"Ya?"

​Baekran menatapnya dengan terkejut.

​"Tapi itu bukan hantu air yang kulihat di mimpiku. Itu laki-laki."

​Wanita itu langsung menoleh.

​"Bagaimana kamu tahu?"

​Wanita itu memancarkan emosi yang sangat kuat. Ketakutan, rasa ngeri, dan potongan-potongan ingatan tersampaikan kepadanya sekaligus.

​"Aku terus dikurung di dalam kamar. Pada hari terakhir, aku akhirnya berhasil kabur."

​"Benar! Benar! Aku berhasil kabur tepat di hari ketujuh! Kalau tidak, kalau tidak....."

​Wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah. Melihat wanita itu, kecemasan aneh kembali muncul.

​Sebenarnya ada apa?

​Karena merasa frustrasi, Yu-dan memegang lengan wanita itu.

​Ingatannya mengalir masuk dengan jelas. Menggantikan wanita itu, Yu-dan menceritakan adegan-adegan yang muncul dengan terbata-bata.


​Wanita itu adalah pekerja kantoran biasa. Karena sedang pindah kerja, saat ini dia sedang beristirahat sebentar. Sepuluh hari yang lalu, saat pergi ke pusat kebugaran di ruang bawah tanah apartemennya, dia mendengar cerita dari tetangga satu gedungnya.

​"Bukankah tempat kerjanya juga bagus? Sayang sekali."

​"Kudengar dia membesarkan anak laki-laki satu-satunya sendirian tanpa suami?"

​"Kalau aku jadi dia, aku juga pasti akan kehilangan kewarasanku. Hah, bagaimana bisa dia bertahan hidup."

​Setelah didengarkan baik-baik, ternyata itu adalah cerita tentang anak laki-laki satu-satunya dari keluarga single parent yang tinggal di wilayah yang sama. Katanya saat sedang ikut pelatihan kerja, anak itu jatuh ke waduk dan mati tenggelam.

​Wanita itu merasa kasihan. Dia sering berpapasan dengan sang ibu anak laki-laki itu di lift, dan ibunya tampak seperti wanita yang sopan dan pendiam. Apakah makanannya bisa tertelan setelah kehilangan putra satu-satunya yang dia besarkan sendirian. Mungkin karena sedang banyak waktu luang, hal itu terus mengganggu pikirannya. Setelah sekian lama tidak menggunakan oven, dia memanggang sesuatu lalu memencet bel pintu nomor 503.

​"Halo. Tolong cicipi ini sedikit...."

​Pintu terbuka tanpa ada jawaban.

​Matahari baru saja terbenam, tapi di bagian dalam yang remang karena lampu tidak dinyalakan, sebuah wajah muncul. Wanita itu hampir saja menjerit. Selama tidak terlihat, wajah sang ibu telah berubah seperti tengkorak.

​"Sampai repot memberikan hal seperti ini. Terima kasih."

​Nada bicaranya pun kaku seperti mesin. Sebelum pintu ditutup, di dalam kegelapan, ibu itu menatapnya dari atas ke bawah dengan mata yang berkilat. Wanita itu kembali dengan perasaan menyesal karena telah melakukan hal yang tidak perlu.

​Beberapa hari kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi.

​"Nona penghuni 1003. Ini aku, penghuni 503."

​Saat membuka pintu, ibu itu berdiri sambil memegang piringnya. Secara mengejutkan, sangat berbeda dengan penampilannya beberapa hari yang lalu, wajahnya tampak segar dan bahkan memakai riasan yang cantik. Apakah hari itu dia salah lihat karena gelap?

​"Ah, padahal piringnya tidak perlu dikembalikan."

​"Aduh, tidak apa-apa. Katanya Nona tinggal sendirian, tapi tidak seperti gadis zaman sekarang, keahlian memasak Nona sangat bagus. Kapan Nona belajar hal seperti ini padahal sibuk bekerja di agen perjalanan wisata? Aku sudah memakannya sangat lahap. Terima kasih. Karena aku ingin mentraktir makan malam sebagai tanda terima kasih, bisakah Nona turun sebentar sekitar jam tujuh nanti?"

​"Ya....?"

​Itu bukanlah situasi di mana dia bisa menolak. Hanya untuk satu malam. Betapa kesepiannya ibu itu sampai melakukan hal seperti ini. Meskipun begitu, karena dia akan keluar rumah, dia memakai riasan tipis. 

​Jam tujuh, waktu yang dijanjikan. Wanita itu turun ke nomor 503 dan memencet bel pintu. Pintu terbuka.

​"Halo."

​Seketika itu juga dia ditarik ke dalam dengan kasar.

​"Aah! Bibi!"

​Mulutnya langsung dibekap. Ibu itu menekannya kuat untuk menaklukkannya. Itu adalah kekuatan yang anehnya sangat kuat, tidak seperti wanita berusia enam puluhan.

​"Diam."

​Si Ibu mengambil ponsel dari saku wanita itu dan membuangnya. Dia mencap dan mengoleskan pewarna merah yang aneh di dahi dan pipinya, memaksanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kertas, memasangkan cincin di jarinya, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar yang gelap.

​Saat dia menyentuh wajahnya, tercium bau amis. Pakaian dari kertas itu adalah pakaian pernikahan berwarna-warni, dan cincin di jarinya adalah cincin pertunangan tradisional. Wanita itu sangat ketakutan.

​"Tolong aku! Tolong!"

​Saat dia menggedor-gedor pintu dengan keras, dia merasakan perasaan yang menyeramkan. Tanpa sadar dia menoleh ke belakang.

​Dia melihat seorang pria meringkuk duduk di kamar yang gelap. Wajahnya pucat bengkak karena air, dia adalah hantu air. Melihat pemandangan yang tidak bisa dipercaya, wanita itu hampir kehilangan kesadarannya. 

​"Tolong aku! Tolong aku! Bibi! Bibi!"

​Dari luar terdengar suara yang tenang.

​"Yong-beom, putra ku satu-satunya, sudah mati, apa yang harus kulakukan. Setidaknya begini agar garis keturunan kami bisa berlanjut. Bukankah begitu? Menantuku."

​Wanita itu menjerit.

​Melalui kegelapan di dalam kamar, ingatan hantu itu terus mengalir masuk. Ini semua adalah perbuatan anak laki-laki itu.

​Anak laki-laki itu aslinya tenggelam di dasar air yang dalam. Jenazahnya telah diangkat, tetapi rohnya tidak terangkat dengan sempurna sehingga tertinggal di sana dan menderita. Kemudian dia mendengar suara kembang api festival dari kejauhan. 

​Saat keluar dari air, dia tiba-tiba berpikir.

​Aku tidak meninggalkan apa pun di dunia ini.

​Merasakan amarah yang membuat darahnya mendidih terbalik, anak laki-laki itu langsung menemui ibunya. Dia berteriak bahwa dia tidak bisa pergi begitu saja.

​Bahkan tanpa itu pun, sang ibu yang sudah setengah gila karena kehilangan putranya, menyerahkan uang seharga satu unit mobil berukuran sedang kepada seorang dukun terkenal di bukit Miari untuk mendapatkan metode rahasia. Dukun itu berkata bahwa ibu itu hanya perlu mengurung seorang wanita muda bersama roh putranya selama tujuh hari, tepat tujuh hari.

​Wanita itu mengetahui semua ini dan merasakan ketakutan yang luar biasa. Jika tujuh hari berlalu, benih hantu akan tumbuh di dalam rahimnya.

​Seharusnya dia tidak merasa kasihan. Seharusnya dia tidak membawakan makanan. Menyesalinya sampai ke tulang pun sudah terlambat. Hari demi hari berlalu saat dia dikurung bersama hantu pria yang sama sekali tidak dikenalnya.

​"Nak. Ayo makan. Supaya bayinya cepat masuk."

​Setiap hari ibu itu masuk dan memaksanya meminum obat herbal berbau amis yang diracik oleh dukun. Pada hari keenam, saat dia sedang menolak menelan obat itu, tak disangka ada yang mengetuk pintu.

​"Permisi? Saya penghuni 508, paket rumah saya salah kirim ke sini."

​Wanita itu langsung menjerit.

​"Tolong aku! Aku diculik! Cepat lapor polisi."

​Mulutnya langsung dibekap. Tekanannya begitu kuat hingga dia tercekik. Di luar, pria penghuni 508 menggedor-gedor pintu dengan keras.

​"Ada apa! Hei! Hei! Halo. Apakah ini polisi?"

​Ekspresi kebingungan melintas di wajah sang ibu. Setelah membanting wanita itu dengan kuat, dia segera mencari dan mengambil pisau dapur lalu membuka pintu. Terlihat pria penghuni 508 menatapnya dengan terkejut.

​Wanita itu segera bangkit. Entah dari mana kekuatan itu berasal, dia langsung mengangkat penyedot debu di sebelahnya dan memukulkan ke belakang kepala ibu itu. Sambil mendengar suara pisau dapur yang jatuh berdenting, dia berlari menuruni tangga dalam satu tarikan napas.

​Tidak boleh tertangkap. Benar-benar tidak boleh.

​Dia tidak bisa mengandung bayi hantu. Apa pun yang terjadi, itu saja yang tidak boleh. Sambil berlari dengan gila tanpa mempedulikan tatapan orang lain, tiba-tiba hantu air dari pria yang sudah mati  muncul di depannya.

​"Hiik!"

​Wanita itu tersedak. Dia buru-buru mengubah arah dan berlari, tetapi hantu air itu muncul lagi di depannya.

​"Jangan mendekat! Jangan mendekat!"

​Rasanya dia akan menjadi gila. Sambil menjerit dan berlari ke sana kemari, pada suatu saat, papan nama Banwoldang tiba-tiba terlihat oleh matanya.

​Aku harus ke sana untuk selamat.

​Dengan pemikiran naluriah itu, dia berlari tanpa menoleh ke belakang. Begitu dia melompat masuk ke dalam gerbang, dia bisa bernapas lega.

​Aku datang ke tempat yang tepat.....


​Ingatannya terputus di sana.

"​Heuhgh!"

​Tubuh wanita itu terkulai lemas. Heukyo segera menangkapnya.

​"Nona! Sadarlah!"

​"Bagaimana jadinya aku? Apakah aku benar-benar akan melahirkan bayi hantu? Saya tidak mau! Tolong selamatkan aku! Kumohon!"

​"Sampai sekarang masih belum apa-apa. Tapi kenyataan kalian sudah menikah adalah masalahnya. Jika kamu diseret kembali dan menghabiskan satu hari lagi bersama hantu itu......"

​Wanita itu kembali dilanda ketakutan.

​"Bagaimana ini! Hei? Apa yang harus ku lakukan!"

​"Jangan khawatir. Untuk sementara waktu, kami yang melindungimu."

​Paman Do kembali menenangkan wanita itu. Si kembar membawa handuk basah dan menggosok bekas riasan pernikahan yang tersisa di dahi dan pipi wanita itu. Namun bekas kemerahan itu tidak mau hilang. Cincin di jarinya pun tidak bisa digerakkan, seolah-olah dilem dengan lem perekat.

​Pada saat itu, tulang punggungnya kembali terasa dingin.

​Yu-dan menoleh. Pintu gerbang yang telah ditutup rapat berbunyi keras. Semuanya saling berpandangan. Ada sesuatu di balik pintu gerbang tempat daun-daun hijau musim panas tumbuh lebat.

​"Siapa itu?"

​"Mereka pengiring pengantin pria. Mereka datang untuk menjemput pengantin wanita."

​Mendengar jawaban Baekran, wanita itu kembali histeris.

​"Tidak mau! Tidak mau!"

​"Pertama-tama mari kita amankan dulu."

​Kata Paman Do.

​Si kembar memapah wanita itu dan masuk ke bagian dalam toko. Mereka membawanya ke ruang peracikan obat tempat Yu-dan pernah berbaring saat terkena kutukan Dongti sebelumnya, menyuruh wanita itu duduk, lalu menutup pintu. Kemudian mereka menempelkan jimat dari hantu buta 'Hwe' yang diberikan oleh Baekran di pintu ruang obat tanpa celah.

​"Sekalipun mereka mencoba mengintip dari luar, mereka tidak akan bisa melihat tempat ini. Nona, Anda aman di sini. Kami akan berjaga di luar dengan baik."

​"Ya. Tolong selamatkan aku."

​"Sudah kubilang, jangan khawatir."

​Paman Do menenangkan wanita itu berulang kali. Setelah menyembunyikan wanita itu dengan aman, mereka semua kembali ke toko.

​"Ah, iya. Pasti dia sangat kelaparan, aku harus menyiapkan makanan dulu."

​Heukyo pergi ke dapur, sementara Paman Do dan si kembar duduk di kursi dan menatap pintu gerbang dengan tajam. Karena mereka bertiga berjaga seperti itu, tidak akan ada satu pun yang bisa masuk.

​Yu-dan menatap Baekran.

​"Sekarang bagaimana?"

​"Cara untuk sepenuhnya lepas dari hantu selalu hanya ada satu."

​"Mengembalikannya ke tempat asalnya?"

​"Ya. Kita harus mengambil roh pengantin pria yang menimbulkan masalah karena tidak diurus dengan baik, lalu menenangkannya dengan baik dan mengirimkannya pergi."

​Baekran mengeluarkan seekor rubah kertas dari saku pakaiannya dan menyerahkannya kepada Yu-dan.

​"Tadi kamu membaca ingatan tamu itu, kan? Ingatan saat melarikan diri dari kamar pengantin hantu. Tidak masalah meskipun hanya beberapa adegan, tolong ingat-ingat kembali."

​Setelah melakukan apa yang disuruh dan mengembalikan rubah kertas itu, Baekran memanggil beberapa Imaemangnyang dengan wujud yang aneh. Mereka mengikuti rubah kertas itu dan menghilang. 

​"Mereka akan membawa pengantin pria. Kita akan pergi ke Gwimun dan menunggu."

​"Gwimun?"

​"Itu adalah pintu tempat hantu keluar masuk."

​Baekran pergi ke bagian belakang toko. Di sebelah pohon tua di halaman belakang, di antara semak-semak yang biasanya tidak terlihat, ada sebuah pintu dengan tiang kayu yang dicat merah. Yu-dan berdiri di sebelahnya dan ikut menunggu.

​Tak lama kemudian para Imaemangnyang kembali. Harimau biru berlutut sebagai perwakilan dan melapor.

​"Saat kami masuk ke kamar pengantin hantu, ada sebuah guci aneh. Sepertinya roh itu disegel di dalam guci abu. Tapi ironisnya, benda itu tidak bisa digerakkan sama sekali. Benda itu lebih berat dari Gunung Taishan. Sekuat apa pun kami berusaha, itu tidak ada gunanya, dan pada akhirnya kami gagal membawanya."

​"Sepertinya aku harus pergi sendiri. Sekarang tidak ada siapa pun di rumah itu, kan?"

​"Ya. Wanita yang dipanggil ibu mertua yang merencanakan semua ini katanya sudah dilarikan ke rumah sakit."

​"Bagus."

​"Ah, dan karena ada benda ini, kami membawanya."

​Seekor musang berekor tiga memberikan sebuah ponsel. Yu-dan langsung mengenalinya.

​"Itu milik wanita itu. Mau kuantarkan? Manusia baru bisa merasa tenang kalau punya benda ini."

​"Silakan."

​Saat kembali ke ruang obat, wanita yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut terkejut. Sepertinya dia tidak merasa tenang meskipun sudah diberitahu bahwa hantu tidak bisa masuk. Yu-dan menyerahkan ponsel kepadanya.

​"Seseorang menemukan ini dan membawakannya."

​Wanita itu menyalakan ponsel dengan tangan gemetar. Baterainya masih tersisa sedikit.

​"Astaga, tidak ada satu pun panggilan telepon."

​"Biasanya semua orang tidak tahu dan menjalani hidup seperti biasa. Kecuali orang yang bersangkutan. Lagipula, orang yang bersangkutan itu juga akan melupakan semuanya setelah selesai."

​"Benarkah begitu?"

​Wanita itu terus menggigil ketakutan. Aneh. Setiap kali melihat wanita ini, kecemasan yang tidak diketahui asalnya terus muncul.

​"Berapa nomor teleponmu? Siluman di sini tidak punya ponsel, jadi untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mendesak...."

​Untuk berjaga-jaga, dia memberikan nomor teleponnya dan Yu-dan juga menyimpan nomor telepon wanita itu. Saat dia memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan berjalan, terdengar suara Baekran berbicara.

​"Katanya mereka gagal membawa guci abu yang berisi segel rohnya. Aku harus pergi sendiri dan mengurusnya. Tolong jaga tempat ini."

​"Ya. Kami akan menjaga Nona itu dengan ketat, jadi pergilah tanpa khawatir."

​Melihat Baekran dan Paman Do, kecemasan aneh itu muncul lagi. Kalau sudah begini, dia jadi kesal.

​Ah, benar-benar. Apa-apaan ini.

​Sekuat apa pun dia mencoba membuangnya, kecemasan itu tidak hilang. Yu-dan mengulurkan tangan dan meraba dahinya. Dia masih bisa merasakan tekstur yang aneh.

​"Aku juga akan ikut."

​Keduanya menatap secara bersamaan.

​"Kenapa?"

​"Hantu air itu bukan wanita yang kulihat di mimpiku. Lagipula sekarang aku sudah dicap stempel sehingga hantu air tidak berani membawaku, kan? Tempat yang akan kau datangi sekarang adalah apartemen tempat manusia tinggal. Meskipun kau adalah Cheonho, kau bisa saja tidak tahu banyak hal."

​"Benar, itu benar."

​Paman Do dengan cepat menimpali.

​"Tadi juga kau sudah mengurangi beban pekerjaan karena membaca ingatan Nona itu. Betapa nyamannya itu? Jika kau diam di sini, apa lagi yang bisa kau lakukan selain main. Pergilah menemani Cheonho-nim. Mengerti?"

​Baekran menatap keduanya dengan tatapan tidak habis pikir.

​Kelanjutannya bisa ditebak tanpa perlu dilihat. Saat mencoba ikut campur dalam urusan rubah, dia harus bersiap menghadapi penghinaan karakter. Yu-dan mempersiapkan mentalnya menghadapi kata-kata tajamyang akan segera dilontarkan.

​"Baiklah."

​"Itu keterlaluan."

​Setelah membalas secara otomatis, dia tersentak.

​Eh? Bukan ini, kan?

​Baekran sama sekali tidak menambahkan komentar apa pun pada perkataan Yu-dan. Dia hanya berbalik dengan wajah tanpa ekspresi. Menjadi seperti ini, pikirannya malah menjadi kacau lagi. Lebih baik rubah menghinanya.

​Bagaimanapun juga, sebelum tertinggal, dia buru-buru mengikutinya.

​Rubah kertas melompat ke ujung tombak. Jalan terbuka mengikuti langkah siluman rubah. Dia berjalan sambil menginjak pola titik-titik yang terbentuk oleh sinar matahari yang menembus sela-sela daun pohon rindang berwarna hijau tua di atas paving block. 

​Terkadang pejalan kaki lewat, tetapi rasanya mereka berada di dimensi yang berbeda. Setiap kali dia berkedip, jarak di jalanan itu memendek dengan cepat (hwig-hwig).

​Sebenarnya apa maksud di balik ini?

​Sambil terus berpikir, di satu sisi dia juga berkonsentrasi pada langkah kakinya. Jika dia sampai terjatuh, kepala dan kakinya bisa ditemukan di wilayah yang berbeda. Setidaknya hal itu dia tahu.

​Mereka menyusuri kembali pemandangan yang dilihat pengantin hantu saat dia melarikan diri.

​Akhirnya, gerbang utama kompleks apartemen bernama 'Palace', yang ada di dalam ingatan wanita itu muncul.


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.