Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4
<Chapter 88>
Kisah ke-dua puluh dua
<Pengantin Hantu>
Pada zaman dahulu, seorang pejabat kehilangan putra tunggalnya dan tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Kebetulan, seorang biksu berilmu tinggi yang sedang lewat memberitahunya tentang sebuah lokasi makam yang sangat bagus untuk mendapatkan keturunan dari putra yang telah meninggal, sebuah lokasi yang disebut Sajasaengson. Biksu itu menyuruhnya untuk ikut menguburkan sebilah belati perak di dalam makam tersebut.
Suatu hari, putri dari seorang hakim daerah (Satto) kebetulan melewati tempat itu, bertemu dengan seorang pria lalu menerima belati perak tersebut, dan tak lama setelahnya ia pun hamil. Hakim daerah itu berniat membunuh putrinya dengan alasan telah mencoreng nama baik keluarga. Sang putri menunjukkan belati perak itu kepada ayahnya dan memohon sambil menangis. Hakim daerah yang tak tega membunuh putrinya itu kemudian mencari tahu siapa pemilik belati perak tersebut ke segala penjuru.
Pejabat yang mendengar kabar ini langsung bergegas menemui menantu dan cucunya. Orang-orang memuji hal ini secara luas sebagai kisah indah tentang 'Gomoksaenghwa' yang berarti bunga mekar dari pohon yang sudah mati.
『Gaksujib ( kumpulan literatur kuno)』
●◉◎◈◎◉●
Ada mimpi yang kita tidak sadar bahwa itu adalah mimpi. Pada saat itu, kita mengiranya sebagai kenyataan. Sebaliknya, ada juga mimpi yang kita sadari bahwa itu adalah mimpi. Mimpi Yu-dan saat ini adalah yang kedua.
Ini adalah mimpi.
Pikirnya dengan sangat jelas.
Dia di dalam bus. Bus itu sangat penuh sehingga dia berdiri sambil berpegangan pada pegangan tangan. Tepat di depannya ada seorang wanita, dan di sela-sela rambut hitamnya terlihat tengkuknya. Setiap kali bus berguncang dan tubuhnya ikut bergoyang, dia menatap wanita itu. Bagaimana bisa tengkuk manusia seputih keramik porselen? Entah kenapa, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Kemudian dia tiba-tiba menyadarinya.
Di kulit wanita itu tidak ada satu pun pori-pori.
Bulu kuduknya merinding seketika. Wanita itu bukan manusia. Dia adalah Hantu Air (Mulgwisin).
Barulah dia melihat punggung semua penumpang lain sekaligus. Semuanya memiliki punggung yang sama. Mereka semua adalah hantu air dengan kulit putih mulus tanpa pori-pori.
Yu-dan membuka matanya dengan cepat.
Dia melihat langit-langit ruang tamu. AC menyala dengan suara berdengung. Di udara yang dingin, seluruh tubuhnya basah oleh keringat.
Ini adalah mimpi peringatan.
Firasat itu muncul.
Aku akan bertemu dengan hantu air.....
Begitu memikirkan hal itu, bulu kuduknya kembali merinding.
Selama ini, jika ada sesuatu yang jahat melambaikan tangan memanggilnya, meskipun merasa takut dan tidak suka, dia akan mendekat seolah tertarik karena kebencian pada kejahatan itu. Namun entah kenapa, kali ini saja dia ingin menghindarinya. Dia harus menghindari pertemuan dengan hantu air itu. Saking tidak sukanya, dia sampai merasa ngeri.
Tapi bagaimana cara menghindari hantu air?
Pertama-tama, dia sepertinya tidak boleh mendekati air. Untuk sementara waktu, sebaiknya dia berhati-hati bahkan saat mencuci muka dan mengurung diri di rumah.
Yu-dan berbaring kembali.
Kemudian sebuah pikiran tiba-tiba terlintas.
Bagaimana jika hantu air itu bukan mencarinya? Bagaimana jika dia mencari orang lain, misalnya datang ke tempat seperti Banwoldang? Jika begitu, bagaimana? Dirinya sih tidak masalah karena sedang liburan jadi bisa mengurung diri di rumah, tapi bukankah dia juga harus memberitahu mereka di sana untuk waspada?
Yu-dan bangkit lagi.
Ini dia masalahnya. Meskipun Baekran bisa masuk ke mimpi orang lain seenaknya, atau meneleponnya dengan sesuatu yang mirip telepon, Yu-dan tidak memiliki kemampuan itu. Meskipun ada telepon di Banwoldang, mereka tidak memberitahukan nomornya. Alasannya, bisa saja ada yang meniru suara Yu-dan dan mengatakan hal-hal aneh. Tentu saja, siluman-siluman itu juga tidak punya alamat email. Pada akhirnya, jika ingin menyampaikan sesuatu, dia harus pergi langsung.
"Aish, benar-benar......."
Dia membayangkan rute menuju Banwoldang di kepalanya. Terlihat sangat penuh rintangan. Jangan-jangan di tengah jalan dia bertemu hantu air itu. Dia harus tetap waspada. Dia harus berhati-hati dan sangat berhati-hati di setiap langkah.
Sambil membulatkan tekad, dia keluar rumah.
Dia mundur saat melihat air yang bergoyang di dalam akuarium restoran makanan laut di area pertokoan apartemen. Dia mundur saat melihat genangan air di jalan. Dia mundur saat melihat air yang disemprotkan dari selang di toko bunga. Begitulah, setiap kali melihat air apa pun di dunia ini, dia menjadi sangat waspada dan berjalan dengan sangat hati-hati.
"Bolehkah aku bertanya apa yang sedang Anda lakukan sekarang?"
Dari belakang punggungnya terdengar suara yang sangat sopan.
Ini bukan suara yang baru pertama kali didengarnya. Pasti pernah bertemu sebelumnya. Ingatannya sedikit kabur.
"Anda siapa?"
Yu-dan berbalik. Namun tidak ada siapa-siapa.
"Di sebelah sini! Di sini!"
Dia melihat ke bawah.
Di sana ada segerombolan makhluk yang berkumpul. Orang zaman dulu bertubuh kerdil yang memakai pakaian kuno, ikan mas yang memiliki tangan dan kaki, kelinci yang berjalan tegak, buku kuno yang halamannya berkibar, dan burung yang mirip bebek mandarin.
"Ternyata kalian?"
"Ya, benar! Ini kami!"
Mereka tak lain adalah siluman-siluman kecil yang karena ketakutan pada Hantu Wanita di Malam tanpa Bulan, mencoba memicu pertengkaran antara hantu itu dan Yu-dan. Karena merasa sedikit lega bertemu dengan wajah yang dikenal di tengah ketegangannya, dia sampai merasa senang.
"Lama tidak bertemu."
"Benar sekali. Kami penasaran dengan kabar Anda, tetapi karena tidak tahu Anda tinggal di mana, kami tidak bisa berkunjung. Tidak disangka kita bertemu secara kebetulan di jalan seperti ini. Kami hidup dengan sangat damai. Semuanya berkat Tuan Penolong yang berani maju pada hari itu."
"Ah itu sih, kebetulan saja secara tidak sengaja....."
"Siapa di dunia ini yang membasmi hantu dengan cara 'kebetulan saja secara tidak sengaja'? Apapun itu, kami ingin membalas budi. Jika ada hal yang ingin Anda perintahkan, tolong beritahu kami. Kalau kami tidak salah lihat, sepertinya Anda sedang mengalami kesulitan sekarang."
"Ah, tidak juga......."
"Jangan berbohong. Jika tidak, Tuan Penolong tidak mungkin melakukan tindakan seaneh ini. Jadi, bolehkah kami bertanya apa yang sedang Anda lakukan sekarang?"
Percakapannya kembali ke titik awal. Yu-dan menurunkan bahunya.
"Sebenarnya aku sedang menghindari air."
"Hah! Anjing gila mana yang berani menggigit Tuan Penolong kami!"
"Anjing gila? Omong kosong apa itu?"
"Bukankah Tuan Penolong sekarang digigit anjing gila dan sedang mengalami gejala hidrofobia (rabies) sehingga takut pada air?"
"Bukan! Digigit anjing waras aja tidak pernah! Aku menghindari air karena sebuah mimpi. Aku melihat hantu air di dalam mimpiku, dan sepertinya itu adalah mimpi peringatan (Yejimong). Aku punya firasat kuat bahwa aku sama sekali tidak boleh bertemu dengan hantu air itu. Tapi bukan hanya aku yang harus menghindarinya, aku juga harus memberitahu rubah, dokkaebi, ular, dan ginseng untuk berhati-hati. Karena itulah sekarang aku berusaha menghindari air sebisa mungkin saat pergi ke sana."
Siluman-siluman kecil itu menjadi riuh.
"Tuan Penolong bahkan tidak takut dan balik memelototi Hantu Wanita yang mengerikan. Seberapa hebatnya hantu air itu sampai Tuan bersikap seperti ini?"
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus melindungi Tuan Penolong!"
"Benar! Benar!"
Mereka sangat bersemangat sambil mengepalkan tangan, mengembangkan bulu, atau mengibarkan kertas halamannya. Melihat mereka, Yu-dan merasa tak habis pikir.
"Ah, sudahlah. Aku tahu kalian penakut."
"Meskipun begitu, kami akan melindungi Anda!"
"Jangan mengikutiku."
"Kan kami sudah bilang akan melindungi Anda!"
"Tunggu. Jangan-jangan setelah mendengar ceritaku, kalian jadi ketakutan? Karena itulah kalian mengikutiku dan menempel era begini?"
"Tentu saja tidak! Kami sedang melindungi Tuan Penolong!"
Dia pikir mereka akan menyerah, tetapi siluman-siluman kecil itu meskipun ketakutan, tetap saja gigih mengikutinya. Saat naik bus pun, mereka tidak melepaskan Yu-dan. Meskipun berisik dan menjengkelkan, berkat mereka yang berkerumun mengikutinya, dia bisa sejenak melupakan kecemasan yang tidak diketahui sumbernya itu.
Saat tiba di depan Banwoldang, barulah mereka ragu-ragu dan menghentikan langkahnya.
"Apakah tujuan Tuan Penolong adalah tempat ini?"
"Kalau begitu kami undur diri sampai di sini."
"Kita akan bertemu lagi nanti."
"Lain kali kami akan membalas budi dengan lebih baik."
Siluman-siluman kecil itu membungkuk dan menghilang.
"Sudah kubilang tidak usah, masih saja begitu."
Yu-dan berbalik.
Bagian dalam gerbang Banwoldang hari ini terasa sangat sunyi. Tiba-tiba dia merasa cemas. Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu. Tepat saat dia bergegas masuk ke halaman, semburan air mengenai dirinya.
"Heup!"
Yu-dan terkejut dan menghindar ke belakang. Chaewoo lebih terkejut lagi. Ia berseru "Eeeeh!" dan hampir saja menjatuhkan gayungnya.
"Kenapa harus masuk sekarang! Karena cuacanya sangat panas, aku berniat menyiram air di depan toko. Hampir saja kamu tersiram air. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Kalau di waktu lain, aku tidak masalah kena air sedikit. Tapi sekarang rasanya aku bisa kena gangguan saraf gara-gara air."
"Ya? Kenapa?"
Alih-alih menjawab, dia melihat sekeliling.
Tidak seperti yang dia khawatirkan, Banwoldang sangat damai.
Heukyo dan Chaesol duduk di dipan membersihkan kucai. Baekran turun ke halaman menatap atap genteng tetangga dengan wajah serius tepatnya pada seekor kucing belang kuning pencuri kuas yang gagangnya lepas, dan sedang waspada dengan bulu yang berdiri. Paman Do mengayunkan galah panjang, tapi tidak bisa mencapai kucing itu.
"Sepertinya tidak terjadi apa-apa."
"Tentu saja."
Setelah menjawab, Chaesol tertawa kecil.
"Yu-dan juga tidak mengalami masalah apa-apa, kan? Tentu saja berkat kakak perempuan kami."
"Apa maksudnya itu?"
"Aku sudah dengar ceritanya. Katanya setelah pergi ke laut, Kakak mengantarmu pulang karena sudah malam?"
"Mengantar apanya! Padahal aku sudah bilang tidak usah, tapi dia memaksa ikut! Tahu tidak betapa banyak orang-orang di apartemen yang menatap kami?"
"Bagaimanapun juga, di mana aturannya perempuan yang mengantar laki-laki pulang? Laki-laki yang harusnya mengantar perempuan pulang."
Pada akhirnya Heukyo mengerutkan dahinya dan menyela.
"Kalian ini, apakah otak kalian jadi agak aneh karena terlalu sering menonton drama? Aku yang menariknya keluar, bagaimana mungkin aku membiarkan anak yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri pulang sendirian padahal waktu sudah hampir jam dua belas? Aku harus memastikan dia benar-benar masuk ke pintu gedung apartemen!"
"Wow! Kakak memang hebat dan keren!"
"Bukan cuma itu. Setelahnya Kakak tidak langsung kembali, tapi bersembunyi dan baru berbalik pergi setelah memastikan lampu di rumah tempat anak ini tinggal menyala."
"Sampai seteliti itu! Kakak memang yang paling bisa diandalkan."
"Bukan hanya itu. Kakak juga, juga......."
Heukyo berusaha keras untuk membual lebih banyak lagi. Namun, karena tidak ada—
"Apa lagi yang seharusnya kulakukan!"
Dia memukul dipan dengan keras karena merasa kesal. Kemudian dia melirik sekilas ke arah Yu-dan.
"Pokoknya, aku begitu memperhatikan keselamatanmu!"
Dia berkata dengan tegas sambil menatapnya tajam. Dia mencoba memohon sesuatu dengan keras, terlihat sangat sangat jelas.
"Aku tahu, aku tahu. Ngomong-ngomong, uang sakuku sudah cair."
Mendengar itu, siluman ular itu langsung melongok ke belakang punggung Yu-dan.
"Tapi aku belum membelinya. Hari ini aku tidak sempat mampir ke toko kue."
"Hah, kenapa?"
"Aku bermimpi peringatan yang sangat mengerikan dan tidak menyenangkan. Saat aku naik bus, aku memperhatikan wanita yang berdiri di depanku, dan ternyata dia bukan manusia, tapi hantu air. Orang-orang lain di dalam bus itu juga sama. Aku merasa sangat merinding sehingga terbangun dari tidur."
Paman Do dan Baekran yang sedang berkelahi dengan kucing langsung menoleh secara bersamaan.
"Lihat anak ini! Kalau kau bangun begitu saja, bagaimana jadinya!"
"Bus yang muncul di dalam mimpi biasanya adalah bus menuju akhirat (Jeoseung). Penumpangnya semuanya adalah orang mati. Kau seharusnya turun di tengah jalan. Sekarang benar-benar gawat."
Yu-dan menjadi emosi.
"Kenapa kalian menyalahkan ku? Padahal tadinya aku mau mengunci pintu dan berdiam diri sendirian di rumah, tapi aku sengaja bersusah payah datang ke sini untuk memberitahu kalian hal ini..."
"Ya? Kamu sengaja datang untuk memperingatkan kami?"
Chaewoo bertanya balik dengan terkejut. Keheningan sesaat terjadi. Semua mata membulat. Chaesol angkat bicara.
"Barusan aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Bagaimana aku harus mengungkapkannya?"
"Menggelikan."
Baekran menyahut. Yu-dan berbalik.
"Aku pergi saja."
Chaesol segera berdiri dan menahannya.
"Tidak! Tidak! Tentu saja tidak! Cheonho-nim keterlaluan! Sungguh!"
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak percaya yang namanya ramalan. Mengintip masa depan juga merupakan bagian dari masa depan. Semuanya sudah termasuk dalam perhitungan. Sekuat apa pun kamu mencoba menghindarinya, kamu hanya akan terjerat dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya."
"Apa? Kalau begitu pada akhirnya kau bilang aku tidak bisa menghindar dari hantu air itu?"
"Tapi Cheonho-nim kan bisa membaca pergerakan dan memanipulasi situasinya sebelum terjadi. Tolong lakukan sesuatu agar Yu-dan tidak perlu bertemu dengan hantu air yang mengerikan itu. Dia punya koneksi dengan Cheonho yang bukan rubah biasa, bukankah seharusnya dia punya hak istimewa semacam itu?"
Chaewoo memohon dengan sungguh-sungguh.
"Padahal aku merasa ini tidak akan ada gunanya........"
Baekran berpikir.
"Mumpung sudah tanggung, bagaimana kalau kita coba cara aneh yang tidak disangka oleh siapa pun?"
"Tunggu sebentar. Maksudmu kau sudah membuangku? Maksudnya kau hanya ingin menjadikanku bahan percobaan untuk terakhir kalinya?"
Baekran sudah menghilang. Namun dia segera kembali turun.
"Belum lama ini kalian berpesta memanggang daging di halaman belakang, kan? Saat itu, ada ide aneh yang terlintas sejenak di pikiranku."
Rubah menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Sangat mencurigakan.
"Apa itu?"
"Pernah melihatnya,? Daging terkadang dicap dengan tinta biru."
"Ehm, aku tahu soal itu, tapi..."
Dari belakangnya terdengar suara gerbang ditutup rapat. Si kembar mendekat dan memegangi masing-masing satu lengan Yu-dan. Tenaga mereka sangat kuat.
"Kalian kenapa begini?"
"Kami juga tidak tahu! Tapi ini bukan pertama atau kedua kalinya hal seperti ini terjadi?"
"Tiba-tiba rasanya kami harus melakukan ini!"
"Kerja bagus. Bawalah kemari."
Meskipun Yu-dan mencoba melarikan diri, dia diseret ke hadapan siluman rubah tanpa bisa berkutik sedikit. Baekran mengangkat satu tangannya. Kemudian dia melakukan sesuatu, tapi karena sangat cepat seperti kilat, Yu-dan tidak tahu apa yang dia lakukan. Dahinya terasa panas.
"Apa yang kau lakukan!"
Baekran menunjukkan benda di tangannya. Itu adalah stempel giok berwarna kebiruan dengan ukiran rubah.
"Aku menstempel ini."
"Stempel apa itu?"
"Jika disuruh mencari benda yang paling mirip di dunia manusia, itu sama seperti stempel yang menunjukkan kelas daging. Ini adalah Jinsangin. Stempel yang dicap pada barang persembahan (upeti) yang diberikan kepada ku di masa lalu. Hantu air adalah hantu yang menculik makhluk hidup. Tapi, apakah dia berani menyentuh barang persembahan untuk Cheonho?"
Mendengar penjelasannya, Yu-dan merasa sebal.
"Sekarang kau menyamakanku dengan daging?"
"Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Aku tidak tahu berapa lama efeknya akan bertahan, setidaknya bisa bertahan selama tiga hari? Nanti kita pikirkan lagi."
Yu-dan tidak bisa berkata-kata. Tentu saja, fakta bahwa hantu air tidak bisa menyentuhnya selama tiga hari, yang berarti dia tidak perlu bersusah payah menghindari air adalah hal yang melegakan, tapi...
Yu-dan meraba dahinya. Ujung jarinya terasa panas. Meskipun rubah sendiri bilang ini ide yang aneh, tapi ini benar-benar keterlaluan.
Saat Baekran melihatnya, ujung matanya langsung terangkat.
"Kenapa? Tidak puas?"
"Ah, tidak."
"Jangan khawatir. Tingkat barang persembahan dibagi menjadi total sembilan peringkat (Gupum), tapi aku tidak makan selain peringkat pertama (Ilpum). Peringkat kedua (Ipum) meskipun tidak ku makan, ku mainkan, dan peringkat ketiga (Sampum) ku cium baunya lalu ku buang sambil berkata 'Singkirkan ini!'."
Mendengar itu, ada hal lain yang mengganggunya.
"Lalu ini peringkat berapa?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri."
Chaesol memberikan cermin tangan, jadi dia bercermin. Di dahinya, sebuah huruf berwarna emas muncul dengan jelas. Di tengah huruf-huruf hanja kuno yang tidak dia ketahui artinya yang mengelilinginya, ada satu huruf besar.
"Delapan......?"
Yu-dan mengangkat kepalanya.
"Untungnya bukan peringkat sembilan, huh?"
"Sayang sekali, aku kehilangan stempel peringkat kesembilan."
Benar-benar menyebalkan. Pantas saja tempat ini tidak butuh AC.
. . .. .... ........
t/n: wkwkwk yu-dan mah apa-apa diambekin pantes rubah makin seneng ngusilin<( ̄︶ ̄)>
konteks: yu-dan ngambek dikasih stempel daging nomor 8 yang artinya kualitas rendah
