LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 87>



​"Sudah kubilang ini sungguhan! Itu bukan putri duyung, tapi bayi! Bayi-bayi yang meninggal sebelum mereka sempat dilahirkan!"

​Baekran terdiam sejenak.

​"Stillbirth."

​Tak lama kemudian dia bergumam dan kembali menunduk menatap manik itu.

​"Mungkin itu adalah tempat paling aman di dunia, namun di sana pun kecelakaan bisa terjadi. Kudengar jika hal seperti itu terjadi pada awal kehamilan, rumah sakit tidak menanganinya sebagai bayi lahir mati(stillbirth), tapi sebagai limbah medis. Hanya saja, sama seperti boneka yang bisa ditempati roh. Seseorang sengaja memilah dan mengambil bayi-bayi yang telah memiliki roh dan menjadikannya sebagai Jeojumul (benda kutukan)."

​Bulu kuduk Yu-dan merinding.

​"Benar! Ada seseorang yang membakarnya dengan api panas. Berkali-kali!"

​"Sejak zaman dahulu, hantu anak kecil dipercaya memiliki kekuatan yang sangat besar, sehingga sering kali dimanfaatkan para dukun untuk ilmu gaib. Ada yang memotong dan membawa sebagian mayat bayi untuk mengendalikan hantu, atau ada yang menculik anak kecil lalu memasukkannya ke dalam guci raksasa...."

​Baekran memotong perkataannya.

​"Sepertinya aku tidak perlu menceritakan semuanya."

​"Aku juga berpikir begitu."

​"Bagaimanapun juga, ini adalah kutukan jahat yang sengaja dibuat untuk mengikat roh bayi-bayi yang meninggal di rumah sakit. Mayat-mayat itu diubah bentuknya dan disamarkan menjadi manik. Bayi-bayi yang mati itu dilepaskan di sini, tapi mereka tidak tahu apa sebenarnya diri mereka. Karena hidup mereka telah berakhir terlalu cepat sebelum mereka sempat mengetahuinya."

​Hidup mereka telah berakhir terlalu cepat.......

​Sambil mendengarkan penjelasan rubah, rasa merinding yang muncul saat mengetahui identitas manik itu perlahan mulai mereda. Selalu begitu. Saat mengetahui tentang lawan kita, rasa takut akan berkurang. Sebagai gantinya, emosi lain mengisi tempat itu.

​"Goblin yang pertama kali melihatnya, pasti salah mengiranya sebagai putri duyung saat melihat sosok yang bukan manusia maupun ikan berkeliling mengambang di dalam air. Ku rasa bayi-bayi itu baru menyadari siapa diri mereka setelah mendengar teriakan 'Putri duyung!'. Karena meskipun di dalam kandungan, mereka tetap bisa melihat dan mendengar. Pasti ada bayi yang sudah tahu apa itu putri duyung."

​「Katanya kita putri duyung.」

「Putri duyung itu apa?」

「Aku tahu. Yang seperti ini.」

​Bayangan roh janin-janin yang berubah menjadi putri duyung satu per satu tergambar di depan mata. Pemandangan itu mengerikan, namun di satu sisi juga indah.

​"Jadi karena itulah mereka mengubah rumah ini menjadi laut."

​"Ya. Karena tempat tinggal putri duyung adalah laut. Mereka butuh air untuk berenang. Kesadaran bayi-bayi itulah yang mengubah ruang ini."

​"Sekarang aku baru mengerti. Alasan kenapa kita tidak bisa langsung menemukan benda yang mengandung kutukan karena ada banyak yang tersebar."

​"Kamu juga pasti tahu alasan kenapa mereka sangat membenci api yang panas, kan? Khususnya alasan kenapa bayi-bayi menjadi sangat sakit. Dalam pikiran anak-anak, betapa iri dan bencinya mereka kepada bayi-bayi yang memiliki ayah dan ibu?"

​"Lalu tanduk yang kupegang di tanganku tadi....."

​Yu-dan kembali memanggil tanduk goblinnya dan menatapnya.

​"Mungkin di mata mereka itu terlihat seperti peralatan medis yang digunakan di rumah sakit."

​"Sepertinya begitu."

​Semua teka-teki telah terpecahkan. Namun alih-alih merasa lega, sesuatu meluap di dadanya.

​"Limbah, bagaimana bisa......."

​"Tidak ada yang bisa dilakukan."

​Baekran bergumam.

​"Hukum menetapkannya seperti itu. Katanya karena masih terlalu kecil, mereka belum diakui sebagai manusia."

​"Tapi manusia-manusia terkutuk itu mengambil mereka dan menjadikannya benda kutukan! Mereka bahkan tidak membiarkan bayi-bayi ini beristirahat dengan tenang...."

​Yu-dan menghela napas. Tidak ada hal yang bisa lebih pahit dari ini.

​"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

​Meskipun dia bertanya karena kebiasaan, dia sudah tahu jawabannya.

​"Kita harus mengurus mereka, kan?"

​"Ya."

​Seperti biasa, jawaban yang singkat dan padat kembali.

​Setelah mengetahui wujud aslinya, kini dia bisa melihat dengan jelas di mana mereka berada. Bersama Baekran, mereka berkeliling ke seluruh bagian rumah, mengumpulkan manik-manik yang menyimpan dendam para janin, lalu memasukkannya ke dalam buntelan kain.

​Para goblin hanya mengira benda itu adalah manik-manik biasa. Ada yang tertempel pada hiasan rambut, ada yang ditemukan di dalam kotak mainan anak-anak, ada yang dirangkai pada tali kipas, dan ada pula yang masuk ke sudut-sudut di bawah perabotan.

​Meskipun mudah ditemukan, rubah sama sekali tidak tergesa. Dia mengambilnya satu per satu dengan hati-hati, memegang dengan kedua tangannya, dan merapikannya dengan penuh hormat sambil memejamkan mata dan mengheningkan cipta.

​Walaupun dia masih merasa agak segan... Yu-dan juga mengulurkan tangannya dengan hati-hati.

​Saat ujung jarinya menyentuh benda itu, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bergidik merasakan tekstur aneh yang licin itu. Namun, setelah terus melakukannya, dia perlahan mulai terbiasa. Dia mengumpulkannya satu per satu.

Maafkan aku. Maafkan aku.

​Entah kenapa dia merasa harus mengatakan sesuatu, dia terus menggumamkannya di dalam hati.

​Setelah menemukan semuanya, buntelan kain itu penuh. Saat dia hendak membawanya untuk diperlihatkan kepada para goblin, Baekran menumpahkan semua miliknya.

​"Anggap saja kamu yang melakukannya sendirian. Lagipula mereka juga tidak akan berterima kasih."

​Kemudian, sebelum Yu-dan sempat berkata apa-apa, dia berbalik dan pergi. Ujung baju berkabung hitamnya segera menghilang di balik lorong.

​"Hubungan buruk antara Bukchon dan Seochon kita berakar sangat dalam. Seperti yang sudah kukatakan beberapa kali, Tetua lahir dari Cheonghwa Baekja (keramik porselen putih dengan motif biru) yang dianugerahkan oleh Raja Seongjong kepada Sungkyunkwan, sementara pemimpin Seochon lahir dari abu pembakaran baju dalam bernoda darah milik Ratu Yoon yang digulingkan."

​Mendengar penjelasan Paman Do, Yu-dan mengerjap-ngerjapkan matanya.

"​Terus kenapa?"

​"Kau benar-benar tidak tahu? Ini pengetahuan umum!"

​"Semua hal yang dibilang orang sebagai pengetahuan umum, aku tidak tahu."

​"Ratu Yoon adalah permaisuri Raja Seongjong. Tetapi Raja Seongjong melengserkannya dari posisi permaisuri dan memberinya titah hukuman mati berupa minum racun."

​Ternyata ada cerita di baliknya. Jika itu benar, wajar para goblin dari kedua keluarga saling membenci hingga ingin membunuh satu sama lain, bukan? Sambil memikirkan hal itu, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.

​Setelah semua manik dikumpulkan, energi kutukan itu lenyap. Susanjae kembali mendapatkan wujudnya sebagai kediaman kuno yang bersejarah. Para goblin dari segala usia, baik pria maupun wanita, semuanya keluar ke halaman dan mengobrol dengan riuh.

​"Bajingan-bajingan Seochon itu terus mencari celah, berniat merebut rumah ini setelah menghina dan mengusir kita dengan segala cara. Pada akhirnya mereka menggunakan cara kejam seperti ini, dasar kurang ajar!"

​Tetua Bukchon marah besar. Para goblin riuh berkata bahwa mereka harus segera menyerbu Seochon dan menghabisi mereka. Meskipun tubuh mereka kurus karena dampak kutukan, tampaknya kondisi mereka semua sudah membaik.

​Di tengah suasana yang memanas, Baekran duduk sendirian dengan santai merasa bosan. Para goblin dewasa dengan susah payah berusaha mengabaikan siluman rubah yang sangat mencolok itu, beberapa anak kecil bersembunyi jauh di balik pilar dan menatapnya tajam. Sepertinya ini pertama kalinya mereka melihat Cheonho seumur hidup mereka.

​"Semuanya sudah baik, tapi keributan yang terlalu besar bisa merepotkan. Diam-diam, namun pasti. Anda mengerti, kan?"

​Paman Do mengomeli Tetua.

​"Kalau begitu sepertinya semuanya sudah selesai dengan cukup baik, jadi kami akan pamit sekarang. Adikku dan anak-anak sedang menjaga toko. Cheonho-nim, mari kita pergi."

​"Tunggu sebentar."

​Tetua menatap Yu-dan. Menerima tatapan tajam dari goblin sesepuh yang keras kepala itu membuatnya sangat tidak nyaman.

​"Kenapa?"

​"Kau sudah menderita."

​"Ah, iya."

​"Kami para goblin tidak pandai bicara. Lagipula, karena kami memiliki prasangka terhadap manusia, kata-kata yang keluar terkadang lebih kasar dari apa yang ada di pikiran kami. Kami tidak bisa memenangkan hati orang dengan berpura-pura ramah seperti seseorang yang memiliki sembilan ekor itu, atau menyenangkan hati orang dengan kata-kata yang enak didengar."

​"Apa yang Anda bicarakan. Anda sepertinya tidak tahu betapa seringnya rubah melakukan kekerasan verbal. Jika ini karena Anda merasa tidak enak telah memanggilku penipu di awal tadi, santai saja, lagipula daya ingatku tidak terlalu bagus........"

​Secara mengejutkan, senyum tipis muncul di wajah kaku goblin tua itu.

​"Kau memang berbeda dengan Anjing Tanah itu."

​Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti pujian, dia merogoh saku pakaiannya. Namun sepertinya tidak ada barang yang bisa dia keluarkan.

​"Jika masih ada barang seperti tongkat goblin atau topi gaib goblin, aku pasti sudah memberikannya satu. Tapi barang-barang seperti itu sudah lama dirampas habis oleh manusia ketika kami masih polos dan lugu."

​"Dia juga tidak akan membutuhkannya. Dia punya harta karun yang ajaib."

​Kata Seok-ryu.

Oh, dia pasti melihatnya saat putri duyung menyerang.

​Yu-dan melirik ke arah Baekran. Meskipun dia pasti mendengar semuanya, rubah menunjukkan sikap tidak peduli. Pasti karena tidak masalah, makanya dia bersikap begitu. Jadi dia mengeluarkan dan menunjukkan tanduk itu.

​Para goblin berkerumun. Tetua Bukchon bertanya.

​"Benda apa ini sebenarnya?"

​"Katanya ini tanduk goblin kuno."

​"Dari mana kau mendapatkan barang seperti ini?"

​Yu-dan kembali melirik Baekran.

​"Punya dewi mimpi Mong-hui, aku menukarnya dengan memberikan mimpi Kirin."

​"Benarkah? Kalau begitu ini pasti barang asli."

​Tetua Bukchon maupun goblin lainnya tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari tanduk itu.

​"Hanya dengan memiliki ukiran wajah goblin kuno saja, Gwimyeonwa sudah bisa mengerahkan kekuatan besar untuk melawan kutukan. Jika ini adalah tanduk goblin kuno, ini pasti benar-benar harta karun yang luar biasa. Konon para goblin di masa lalu memiliki eksistensi yang setara dengan dewa."

​"Benarkah?"

​Tepat pada saat itu, anak-anak kecil yang bersembunyi di balik pilar menangis keras sambil melarikan diri. Sepertinya Baekran melakukan sesuatu hingga membuat anak-anak itu menangis. Para orang tua memeluk anak-anak mereka dan memelototi siluman rubah. Anak-anak itu yang duluan loh? Baekran berdiri dengan percaya diri memasang wajah yang mengatakan hal itu.

​"Ayo pergi. Di sini membosankan."

​Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan keluar lebih dulu dengan santai.

​"Kalau begitu kami pamit. Selamat tinggal, Tetua. Kalian semua baik-baik ya. Sampai jumpa lagi."

​Paman Do juga melangkah pergi. Yu-dan pun mengikutinya keluar.

​Para goblin hanya memperhatikan. Mereka benar-benar tidak pandai bicara. Namun, melihat orang tua dan orang sakit yang masih sempoyongan semuanya memaksakan diri keluar, untuk mengantar kepergian mereka hingga mereka tidak terlihat lagi, hal itu sudah cukup sebagai pengganti kata-kata.

​"Kami para goblin selalu mengukir kebaikan maupun dendam hingga ke tulang."

​Kata Paman Do sambil berjalan. Yu-dan menatap Baekran.

​"Sudah kuduga, seharusnya aku bilang kalau aku tidak melakukannya sendiri, melainkan kita berdua yang melakukannya. Kenapa kau melarangku mengatakannya? Padahal kau sudah berusaha sekeras itu untuk mematahkan kutukan mereka."

​"Sudahlah. Aku dan mereka sudah melewati sungai yang tidak bisa diseberangi kembali. Meskipun aku berbaik hati menolong mereka, sudah jelas aku hanya akan dicurigai. Mereka akan mengawasi setiap gerak-gerikku, dan jika menemukan celah sedikit saja, mereka pasti akan langsung berkata. 'Sudah kuduga. Rubah memang tidak bisa dipercaya.'"

​Sepertinya selama ini sudah banyak sekali hal yang mengganjal di hatinya. Rubah tampaknya sama sekali tidak punya niat untuk memperbaiki hubungannya dengan para goblin.

​Namun jika suatu hari nanti ada kesempatan, aku harus menceritakan kejadian hari ini dengan sebenar-benarnya. Yu-dan berpikir begitu dan memutuskan untuk menundanya sementara waktu. Saat ini ada masalah yang jauh lebih penting daripada itu.

​"Ngomong-ngomong, ini harus kita apakan?"

​Dia menunduk menatap buntelan kain di tangannya. Di dalamnya penuh dengan manik-manik.

​Berkat dia dan Baekran yang dengan tulus mengumpulkannya bersama-sama, energi kutukan itu telah hilang, namun setiap manik menyimpan jiwa seorang janin. Mereka terkadang bergerak-gerak kecil. Suara ocehan bayi yang sangat pelan juga terdengar.

​"Benar juga. Sebaiknya ini diapakan, ya?"

​"Meskipun kita membawanya karena tidak mungkin membiarkannya di sana....."

​Baik Baekran maupun Paman Do tampak bingung dan kehabisan akal.

​Pada akhirnya, tanpa mendapatkan kesimpulan, mereka membawanya sampai ke Banwoldang. Manik-manik yang enggan berpisah dari sisi Yu-dan dan Baekran yang telah memungutnya, tiba-tiba melihat Heukyo dan langsung meninggalkan para pria itu untuk segera pergi dan meminta pelukan darinya.

​"A, apa-apaan ini? Hah? Kenapa begini?"

​Heukyo secara tak sadar menerima dan memeluk buntelan kain itu. Setelah mendengar ceritanya tentang apa yang terjadi, dia sangat terkejut dan menunduk lagi untuk melihatnya. Manik-manik itu menyusup masuk seolah tidak ingin dilepaskan. Paman Do berdecak. 

​"Aduh, pasti selama ini mereka sangat merindukan pelukan ibu...."

​"Hei, anak-anak! Aku bukan ibu kalian! Apa-apaan kalian ini pada gadis perawan yang masa depannya masih sangat panjang membentang sembilan puluh ribu li?"

​Heukyo berseru ngeri. Namun dia tak tega menyingkirkan buntelan manik-manik yang menyusup erat ke dalam pelukannya itu.


​Keesokan harinya saat Yu-dan datang, Heukyo sedang menggendong buntelan itu di punggungnya dengan sangat canggung, dan dalam posisi tubuh setengah berdiri-setengah duduk yang kaku, dia sedang membersihkan pedangnya. Wajahnya kemerahan.

​"Kau kenapa? Habis mabuk siang hari?"

​"Berisik! Kau anak nakal!"

​Seolah takut ada yang melihatnya—meskipun tidak ada siapa-siapa, Heukyo terus melihat sekeliling.

​"Huft, aku benar-benar menerima hukuman berat karena telah membongkar surat Kakak."

​Dia menghela napas panjang. Namun tetap saja dia tidak bisa menurunkan buntelan itu. Saat Yu-dan kembali lagi di sore hari, dia memasang wajah masam sambil menggoyang-goyangkan mainan kerincingan untuk buntelan itu. Saat dia kembali lagi, Heukyo sedang tidur dengan buntelan itu berbantalkan lengannya. Saat dia kembali lagi, dia bahkan sudah mendapatkan kereta dorong bayi, meletakkan buntelan itu di dalamnya, dan mendorongnya ke sana kemari di halaman untuk menenangkannya.

​"Benar-benar sudah jadi seperti ibu-ibu."

​Chaesol berbisik.

​"Meskipun Cheonho-nim membujuk dan merayu mereka agar mau mendekatinya, tidak ada gunanya. Mereka tidak mau lepas sedetik pun dari pelukan Kakak."

​Chaewoo juga berbisik. Heukyo menatap ke arah mereka.

​"Hei, kau! Kenapa tiba-tiba sering sekali datang ke sini!"

​Meskipun Heukyo berteriak seperti itu dan mengusir Yu-dan....... beberapa hari kemudian, saat tidak ada siapa-siapa, dia diam-diam mendekat dan berbisik.

​"Tolong aku."

​Yu-dan meliriknya.

​"Apa yang harus kulakukan?"

​"Mari kita lepaskan mereka. Di mana laut terdekat dari sini? Tentu saja aku bisa pergi sendiri, tapi aku harus naik kereta bawah tanah."

​"Kenapa?"

​"Bukankah suaranya mirip. Suara de-gak de-guk roda kereta, mirip dengan suara detak jantung."

​Heukyo berkata dengan wajah serius.

​Begitulah, Yu-dan meninggalkan Banwoldang pada sore menjelang malam bersama Heukyo, yang membuka payungnya dan mendekap buntelan itu di dadanya. Mereka pergi naik kereta bawah tanah.

​"Aduh, lucunya!"

​Ibu-ibu paruh baya tersenyum sambil mengintip.

​"Silakan duduk di sini."

​Seorang wanita muda menawarkan tempat duduknya.

​Wajah Heukyo menjadi kikuk. Entah kenapa, semuanya melihat buntelan itu sebagai bayi. Yu-dan merasa cemas Heukyo akan marah besar.....

​"Terima...... kasih."

​Setelah berkata begitu, dia duduk saja.

​"Tadi kau hampir saja bilang makasih secara kasar, kan?"

​"Jangan macam-macam."

​Heukyo membentak lalu melihat sekeliling.

​"Aku belum menikah."

​Dia memperkenalkan dirinya tanpa ada yang bertanya.

​"Astaga. Malang sekali, kasihan sekali."

​"Pasti sangat sulit sendirian."

​Orang-orang menatapnya dengan wajah yang lebih kasihan lagi. Benar-benar menjadi bumerang. Yu-dan hampir saja meledakkan tawa.

​Untungnya kejadiannya hanya sampai di situ.

​Apakah karena perkataan Heukyo bahwa suara roda kereta listrik yang beraturan saat melintasi rel benar-benar mirip dengan detak jantung. Manik-manik itu tertidur dengan tenang.

​Selama perjalanan dengan kereta bawah tanah, matahari telah terbenam. Setelah sampai di Stasiun Oido dan naik bus lagi, akhirnya laut terlihat. Jalan setapak untuk pejalan kaki membentang panjang di sepanjang pantai.

​Heukyo terus melihat sekeliling. Dengan insting tajam indra keenamnya, ia menemukan tempat sepi tanpa orang, lalu memeluk buntelan itu di dadanya dan melompati pagar kawat dengan mudah.

​"Kau juga, cepat! Cepat!"

​Yu-dan juga melihat sekeliling, melompati pagar kawat, turun ke bawah, lalu berjongkok di atas tumpukan batu. Air laut nampak pasang dan bergelombang. 

​"Kalau ada yang lihat, kita bisa ditangkap."

​"Ssst, diam."

​Heukyo bersembunyi dan membuka buntelan itu. Kemudian dia mengeluarkan sebuah manik dan menurunkannya ke dalam air laut. Saat tenggelam ke dalam air laut, wujud manik itu berubah.

​"Aku tidak mengatakan apa-apa. Sepertinya memang lebih baik jika mereka mengira diri mereka putri duyung sampai akhir."

​Di antara riak ombak laut malam, terlihat sosok kecil seekor putri duyung yang mengibaskan sirip ekornya dan berenang menjauh.

​Heukyo melepaskan manik-manik itu ke laut satu per satu.

​Meskipun ini bukan laut yang tenang di bawah sinar terang tempat kawanan ikan berenang yang diimpikan oleh para janin itu. Tetapi setidaknya, mereka telah kembali ke pelukan ibu lautan. Kawanan putri duyung yang berenang dengan gembira itu, sesekali menoleh ke belakang saat berenang menjauh.

​"Selamat tinggal."

​Meskipun hanya beberapa hari, tampaknya dia sudah merasa memiliki ikatan, suara Heukyo juga sedikit bergetar. Dia meletakkan tangan di atas matanya dan memandang tanpa henti.

​Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kawanan putri duyung itu sedang berenang menjauh. Hanya lampu-lampu kota yang mengelilingi sepanjang garis pantai di seberang yang mengawasi mereka.

​"Selamat jalan."

​Yu-dan juga bergumam. Dan dia pun berpikir.

​Meskipun belum sempat dilahirkan, meskipun dunia ini hanya memberikan penderitaan bagi kalian, namun jika kalian mengingat orang tua kalian, dan jika kalian mengingat bahwa ada seseorang yang berusaha bersikap hangat kepada kalian....

​Kuharap suatu saat nanti, kalian akan kembali.


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.