Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4
<Chapter 86>
Keadaan di luar jauh lebih parah daripada sebelumnya.
Bagian dalam kediaman kuno itu tampak kebiruan seolah tenggelam di dalam air. Setiap kali melangkah, kakinya terasa mengambang. Bukan berjalan, melainkan hampir seperti harus berenang.
Pertama-tama, mereka menggeledah kamar kecil di Sarangchae (bangunan utama) dan semua Golbang (kamar sempit). Saat membuka pintu gudang yang mereka masuki sebelumnya, dari sudut tempat kegelapan berkumpul dan beriak seperti gelombang, makhluk-makhluk seperti ular air hitam pekat melompat keluar.
"Minggir!"
Saat Yu-dan melangkah maju, Baekran menatapnya dengan wajah mengatakan 'tidak habis pikir'. Saat Baekran mengayunkan tombaknya dengan acuh, monster-monster yang melompat dari sudut itu lenyap tanpa sisa dalam sekejap.
Ia sempat lupa sejenak. Rubah adalah siluman yang berusia lebih dari seribu tahun, dan sangatlah kuat. Yu-dan merasa canggung dan menurunkan tangannya. Sebelum ditegur karena bertindak sok jagoan, dia buru-buru berkata.
"Macam-macam saja yang mengamuk."
"Rumah ini sedang dikuasai oleh Sagi (energi jahat). Namun sepertinya sumbernya tidak ada di sini."
"Benar. Setidaknya Sarangchae ini terlihat bersih, kan?"
"Dari sini, jika kita pergi ke arah ini, ada pavilliun (Byeolchae) tempat keluarga goblin muda tinggal. Jika ke arah sana, ada Haengrangchae (kamar pelayan/kamar depan) tempat para bujangan tinggal, dan di seberang sana ada Anchae (bangunan dalam) tempat para wanita tua dan gadis-gadis tinggal. Kita mau ke mana dulu?"
Yu-dan berpikir sejenak.
"Firasatku mengatakan Haengrangchae mencurigakan, Byeolchae mencurigakan, dan Anchae juga mencurigakan. Apa ini? Kenapa rasanya sangat membingungkan?"
"Kalau begitu mari kita pergi ke paviliun terdekat. Tapi sepertinya ada satu kesalahpahaman yang sangat besar, statusmu adalah pihak yang dilindungi."
Pada akhirnya dia ditegur juga.
"Atau haruskah aku menyebut sebagai kaca pembesar sekarang."
"Jangan meralat perkataanmu. Setidaknya perlakukan aku seperti manusia."
"Karena kamu aset bersama, ku harap kamu berhati-hati agar tidak rusak."
"Kenapa tidak sekalian saja ambil mataku."
Yu-dan keluar dari Sarangchae sambil menggerutu.
Setelah melewati halaman yang luas, rumah-rumah beratap genteng kecil dengan struktur yang masing-masing terpisah mulai bermunculan. Dia kembali merasakan betapa luasnya Susanjae ini. Pasti ini berkat sihir para goblin. Kayu, batu, bahkan tanah di lantai tampaknya bukan barang biasa, tetapi saat ini tidak ada waktu untuk menelitinya. Yu-dan naik ke beranda paviliun dan menarik gagang pintu geser.
Energi pekat tiba-tiba menyergap.
"Kenapa ini....."
Air mendesak masuk ke dalam mulutnya.
Baekran menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat menutup mulut. Sepertinya itu berarti jangan bicara. Saat Yu-dan mengangguk, rambutnya bergoyang di dalam air.
Bagaimana bisa begini?
Setiap kali bernapas, gelembung udara naik. Gulungan lukisan di dinding bergoyang-goyang, vas bunga dan pajangan berguncang seolah akan mengapung kapan saja. Daun tanaman pot melambai-lambai seperti rumput laut.
Siluman rubah yang berjalan di depan entah sejak kapan telah berubah memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di kepala dan punggungnya, cahaya berpola jaring beriak.
Yu-dan mendongak ke atas. Di balik riak air, sumber cahaya menyilaukan yang mungkin adalah matahari bersinar terang.
Tidak masuk akal. Kenapa jadi begini.
Napasnya mulai sesak. Sudah terlalu lama dia berada di dalam air. Saat dia meronta, Baekran menangkapnya dan meletakkan sebuah jimat di tangannya. Barulah dia bisa bernapas.
Hanya ada satu lembar. Jika terlepas, dia akan mati.
Baekran memberi isyarat dengan tangan, lalu berjalan lebih dulu sambil memegang tombaknya. Ekor rubah langit itu mekar membentuk sembilan cabang yang sempurna. Entah sejak kapan, Imaemangnyang (siluman/monster) air mengelilinginya. Beberapa di antaranya juga datang ke sisi Yu-dan.
Baekran menoleh dan kembali memberi isyarat dengan tangan.
Bagian depan biar aku yang urus.
Yu-dan mengangguk. Itu artinya, dia hanya perlu mencari dengan baik.
Cahaya yang masuk dari atas menyebar ke segala arah. Buku, kuas, dan pipa rokok mengambang di sekitar seperti ikan seperti negeri laut yang aneh. Yu-dan mengikuti di belakang Baekran dengan hati-hati sambil melihat sekeliling.
Saat mereka kembali ke lorong, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya dari seberang sana.
Apa itu?
Dia menepuk-nepuk Baekran. Setelah menunjuk ke tempat itu kepada rubah yang menoleh, Yu-dan berenang mendekat, dan Baekran pun mengikutinya.
Dari celah lantai kayu, gelembung aneh menyembur keluar dengan deras. Seperti ventilasi hidrotermal di laut dalam yang menyemburkan air panas. Pasti ada sesuatu di sana.
Baekran mengulurkan tangannya menembus gelembung, tetapi tidak bisa menangkapnya. Benda itu hanya terus menghindar. Benda yang terus mencoba lolos itu ditangkap oleh Yu-dan. Seperti yang selalu dia lakukan, dengan perasaan seperti mencengkeram tengkuk siluman yang mencoba melukai.
Sesuatu masuk ke dalam genggamannya.
Pada saat itu, gelombang kuat menerjang. Arus air yang deras terbentuk dan kawanan putri duyung berkerumun samgat cepat dari segala arah mengepung mereka. Mereka semua marah. Mereka meminta benda itu dikembalikan, dengan wajah buruk rupa yang berkerut dan gigi setajam tombak, mereka mengancam Yu-dan.
Baekran membelalakkan matanya tajam. Sambil memperbaiki pegangan tombaknya, dia balik mengancam. Cahaya emas rubah langit itu menguat menyilaukan mata, namun kawanan putri duyung itu sama sekali tidak berniat mundur.
Saat itu, Yu-dan melambaikan tangannya.
Sepertinya bukan itu!
Baekran menatap ke arahnya.
'Apa yang sedang dilakukan manusia ini?' Pertanyaan semacam itu tersirat di mata siluman rubah.
Yu-dan menunjuk ke arah putri duyung. Jika diperhatikan baik-baik, mereka saat ini sedang menatap tajam tanduk di tangannya, bukan dirinya. Benda ini merangsang mereka. Persis seperti ketika mereka memergoki para goblin yang menyalakan api untuk membakar mereka sampai mati. Mereka membenci benda ini. Saat pertama kali berpapasan tadi, sepertinya mereka juga marah karena benda ini.
Setelah menjelaskannya dengan sabar dan sungguh-sungguh beberapa kali, Baekran akhirnya mengerti dan mundur perlahan sambil mengangguk pelan. Masih dengan mengangkat tombaknya, dia tampak sangat tegang, siap menyerang kapan saja jika terjadi masalah sekecil apapun.
Baiklah. Aku tidak akan melukai kalian. Tanpa mengalihkan pandangan, Yu-dan secara perlahan menyimpan tanduknya.
Kawanan putri duyung itu mendekat. Seekor putri duyung tiba-tiba berenang mendekat, dengan wajah yang mengerikannya dia mendekat tepat di depan matanya, membuat Yu-dan tersentak kaget.
Suara tawa cekikikan terdengar. Gelembung air muncul menghalangi pandangannya. Yu-dan menjadi kebingungan. Arus air yang deras tiba-tiba muncul dan menyapu tubuhnya, membuatnya meronta sebelum akhirnya mengapung.
Tempat itu adalah dasar laut yang sebenarnya. Di balik hutan rumput laut raksasa, sinar matahari yang menembus permukaan laut menyebar dengan hangat. Kawanan ikan berenang di antaranya. Thump thump, thump thump. Suara ketukan monoton terdengar samar dari kejauhan.
Entah dari mana, seekor putri duyung kecil muncul. Ia adalah putri duyung yang lucu dan cantik, dengan sirip yang berkilauan seperti permata. Satu per satu bertambah hingga segera membentuk kelompok. Seolah mengajaknya berenang bersama, mereka mendorong dan menarik Yu-dan dengan lembut. Tanpa sadar, dia membiarkan tubuhnya terbawa arus.
Kawanan putri duyung itu berenang dan bermain di laut yang hangat dan nyaman. Tempat ini sangat damai. Berat tubuhnya sama sekali tidak terasa. Baru pertama kali dia merasakan perasaan sedamai ini.
Tidak, mungkin bukan yang pertama kali? Bagaimanapun juga.....
Dia merasa seakan bisa melepaskan segalanya. Namun, dia tidak boleh melakukannya. Meskipun dia melepaskan segalanya, setidaknya dia tidak boleh melepaskan benda itu. Benda kecil di telapak tangannya. Benda yang dia keluarkan dari celah lantai kayu.
Yu-dan mengepalkan tangannya yang terus mencoba terbuka sembari menatap kawanan putri duyung itu.
"Siapa kalian sebenarnya?"
Para putri duyung itu tertawa. Gelembung udara muncul dan menggelitik wajahnya.
"Kenapa tertawa? Beritahu aku. Apa identitas kalian sebenarnya?"
Saat dia hendak menangkap mereka, kawanan putri duyung itu menyebar ke segala arah. Seberapa jauh pun dia mengulurkan tangan, dia tidak bisa menangkap mereka.
「Kami lahir di dalam air. Kamu juga salah satu dari kami.」
"Aku juga....?"
Laut yang lembut dan hangat seolah memeluknya. Pikirannya menjadi kabur. Tempat ini sangat nyaman. Sedemikian rupa hingga dia merasa tidak ingin keluar selamanya..... Kesadarannya perlahan memudar.
Saat itu. Laut yang damai tiba-tiba berubah menjadi hitam.
Saat air berubah, wujud putri duyung berubah secara mengerikan. Dalam sekejap, mereka semua mati dan mengambang.
Yu-dan meronta. Rasanya dia sendiri juga akan tersapu selamanya ke dunia kegelapan jika begini terus. Tapi dia tidak boleh membiarkannya. Jika akan terjadi, pasti sudah dari dulu. Dia membuka matanya dan melihat sekeliling.
Pilar tebal terlihat di depan. Dia berenang ke sana dengan sekuat tenaga, dan dengan susah payah berpegangan pada pilar itu lalu keluar dari air.
Ketika tanah yang keras menyentuh sikunya, dia menarik napasnya yang tercekik. Meskipun lembap, setidaknya sesuatu yang bisa disebut udara masuk memenuhi paru-parunya.
Yu-dan menggosok matanya dan mendongak. Baekran sedang menatapnya ke bawah.
"Kenapa kamu keluar dari sana?"
"Ini di mana?"
Saat mencoba berdiri, kepalanya terbentur. Barulah dia menyadari bahwa dia berada di bawah lantai kayu.
"Kenapa aku bisa keluar dari sini?"
"Bukankah itu yang baru saja ku tanyakan. Makanya jangan sampai kepala mu terluka."
Berbeda dengan nada menegurnya, mata rubah berbinar. 'Akhirnya kau melihat sesuatu.' Tatapan matanya menyiratkan hal itu.
"Tunggu sebentar."
Yu-dan merangkak keluar dengan hati-hati agar kepalanya tidak terbentur lantai lagi. Tentu saja, tangan kanannya masih mengepal. Dia mengepalkannya terlalu erat sampai tangannya sulit dibuka.
"Lihat. Aku menemukan ini."
"Tunggu sebentar. Jangan dibuka dulu."
Baekran mengeluarkan selembar kain merah dan menutupi tangan kanan Yu-dan yang masih terkepal. Setelah menunggu sebentar, dia menyingkapnya dengan hati-hati.
"Sekarang kamu boleh membukanya."
Ketika kepalannya dibuka, ada sebuah manik kecil buram berwarna keruh di telapak tangannya. Aura yang sangat tidak menyenangkan terasa dari benda itu. Sebuah emosi pekat yang entah apa mengkristal dengan kuat di dalamnya.
"Luar biasa. Meskipun sudah ditutupi kain, tenaganya masih sekuat ini."
"Apa sebenarnya ini?"
"Entahlah." Baekran mengamati manik itu dengan saksama.
"Manik milik putri duyung. Air mata yang diteteskan putri duyung akan menjadi mutiara. Apakah mungkin ini air mata putri duyung? Tapi kelihatannya tidak seperti mutiara. Apa yang kamu lihat ketika kawanan putri duyung membawa mu?"
"Seperti biasa, aku melihat seseorang mati. Berenang bersama mereka di laut rasanya sangat menyenangkan. Tapi tiba-tiba lautnya berubah. Saat airnya berubah, para utri duyung itu berubah menjadi monster dan mati."
"Itu sama seperti legenda putri duyung."
"Legenda putri duyung?"
"Putri duyung hanya bisa hidup di air tempatnya dilahirkan. Jika dipindahkan ke perairan lain, wujudnya yang cantik akan berubah menjadi jelek dan mati. Karena itulah, konon di masa lalu orang-orang akan langsung melepaskan putri duyung kembali ke laut meskipun berhasil menangkapnya."
"Putri duyung benar-benar ada? Di negara kita?"
"Ada beberapa catatan yang tertinggal. Misalnya, dalam 『Eou Yadam』 diceritakan dengan sangat rinci kisah hakim daerah Heupgok di Provinsi Gangwon, Kim Bing-ryeong, yang melihat putri duyung. Dikatakan bahwa wajahnya cantik, bentuknya sama seperti manusia, dan meneteskan air mata putih. Dalam legenda semacam itu, biasanya nelayan secara kebetulan menangkap putri duyung. Tentu saja, ada juga cerita tentang nelayan yang dibutakan oleh uang lalu menjualnya secara diam-diam, namun mendapat hukuman cambuk karena membuat wujud putri duyung berubah menjadi buruk rupa."
"Airnya berubah sehingga putri duyung pun berubah menjadi jelek dan mati..."
Yu-dan memutar otaknya. Sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Jangan-jangan putri duyung yang membuat kekacauan di sini sekarang mati karena pencemaran lingkungan? Banyak pembangunan di laut, bukan. Jadi mereka kehilangan tempat tinggal dan mati. Air mata yang mereka teteskan saat mati mengandung dendam itu."
"Kedengarannya masuk akal." Ini bukan hari pertama atau kedua mereka melakukan hal ini. Melihat ekspresi Baekran, Yu-dan menjadi cemberut.
"Di mana kesalahannya lagi?"
"Bukan kesalahan, hanya saja jawabanmu tidak meyakinkan," jawab Baekran.
Sebenarnya Yu-dan juga merasakannya. Sesuatu yang jika diabaikan bisa saja diabaikan, tapi ada hal kecil yang mengganjal di hatinya. Seperti bintil kuku yang tumbuh di samping kuku, kecil namun terus mengganggu. Hal semacam itu tidak boleh diabaikan. Keretakan dimulai dari sana. Sejak bertemu siluman rubah, dia telah mempelajari hal itu.
"Kamu juga salah satu dari kami....."
"Apa maksudnya?"
"Saat aku tanya siapa mereka, para putri duyung itu memberitahuku. 'Kami lahir di air. Kamu juga salah satu dari kami.' Tapi aku bukan putri duyung."
Baekran tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Jangan-jangan mereka juga bukan putri duyung?"
"Apa maksudmu? Bukan putri duyung?"
"Seperti yang kamu ketahui, ada perbedaan besar antara apa yang terlihat oleh mata dan kebenaran. Siapa yang pertama kali menyebut kata 'putri duyung'?"
"Sesepuh dari pihak Paman Do. Katanya goblin-goblin lain melihat putri duyung."
"Sudah kuduga mereka memang bukan putri duyung. Mereka hanya terlihat seperti putri duyung. Aku juga harus melihat pemandangan yang baru saja kamu saksikan."
Belum selesai dia berbicara, Baekran mengayunkan tombaknya. Sesuatu seperti bola bulu menyapu dahinya, dan pada saat yang sama pemandangan di sekitarnya berubah.
Ini adalah dasar laut yang damai seperti tadi. Sinar matahari yang menyebar di balik hutan rumput laut raksasa. Kawanan ikan yang berenang. Dan thump thump, thump thump. Suara ritmis yang monoton.
Siluman rubah itu membelalakkan matanya.
"Bukankah ini suara detak jantung?"
"Detak jantung siapa?"
"Cepat lepaskan manik itu sekarang juga!"
Namun tangannya mengepal dengan sendirinya dan tidak bisa dibuka. Baekran menangkap tangannya dan mencoba membukanya secara paksa, tapi sudah terlambat.
「Bukan kamu.」 Tawa para putri duyung bergema. 「Hanya kamu. Salah satu dari kami.」
Gelombang laut kembali membungkus Yu-dan dan membawanya pergi.
Suara detak jantung.... Benar. Itu suara yang sangat akrab sehingga tadi dia dengan cepat melupakan keberadaannya. Ini adalah suara detak jantung seorang ibu. Tempat ini adalah laut pertama yang ditemui setiap manusia saat lahir. Di dalam cairan ketuban ibu. Barulah dia menyadarinya.
Sesuai perkataan Baekran, mereka bukan putri duyung. Mereka adalah janin.
Janin-janin itu melayang di sekitarnya. Berenang di lautan yang hangat dan nyaman. Terkadang menggoyangkan tangan dan kaki kecil mereka. Terkadang mengoceh juga.
Pada saat itu tiba-tiba aura hitam menyergap.
Penyakit. Zat beracun. Kecelakaan tak terduga.... Itu adalah energi kematian yang tidak bisa dicegah. Energi itu mewarnai laut yang damai menjadi hitam pekat.
Padahal mereka belum sempat lahir. Jantung-jantung yang sangat kecil itu berhenti berdetak dengan dingin di dalam kandungan. Wujud-wujud yang terdistorsi oleh rasa sakit diselimuti oleh nyala api merah menyala.
Apakah ini kremasi? ......Bukan. Ini bukan kremasi.
Seseorang dengan sengaja memanaskan mereka ke suhu yang sangat tinggi. Berulang kali. Abu jenazah itu meleleh seperti menitikkan air mata lalu mengeras menjadi manik.
Panas....
Kesadarannya kembali.
Yu-dan menunduk menatap manik di telapak tangannya. Pada saat itu, bulu kuduknya merinding, dia bergidik dan langsung membuang manik itu.
Baekran dengan cepat menangkap manik yang jatuh ke lantai.
"Lepaskan! Itu bukan putri duyung, itu mayat bayi!"
"Apa?" Baekran juga terkejut.
Yu-dan mengira rubah juga akan langsung membuangnya, namun meskipun tersentak, dia tidak membuangnya.
. . .. .... ........
