LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 5

<Chapter 85>


 

​Subok memandu jalan. Begitu keluar dari Sarangbang utama, energi kutukan yang sempat terlupakan sejenak kembali menyergap.

​"Bagus. Daripada mengucapkan seratus kata, lebih baik langsung tunjukkan kemampuanmu. Ternyata membawamu kemari adalah keputusan yang tepat. Tapi, karena kutukan ini lebih serius dari dugaanku, kau harus terus mengikutiku," peringat Paman Do.

​Melewati dapur dengan hati-hati, melewati Sarangbang kecil, dan pergi ke gudang. Di satu sudut, ada Gwimyeonwa bertumpuk seperti gunung.

​Yu-dan menatap benda-benda itu.

​Tidak disangka menjadi pembersih manusia setelah ditangkap Heukyo bisa membantu dengan cara seperti ini. Sambil menutupi mata kanan dengan tangan dan hanya melihat dengan mata kiri, hanya ada noda kotor pada beberapa genteng. Itu adalah jejak tatapan dari eksistensi yang bukan manusia. Mereka tidak menatap barang palsu.

​Yu-dan memilah genteng-genteng yang bernoda. Dia, Paman Do, dan Subok masing-masing membawa beberapa keping dan kembali ke Sarangbang utama.

​"Tetap saja tidak semuanya palsu. Kami berhasil menyeleksi sedikit lebih dari seratus keping. Untuk sementara, kami baru membawa sebanyak ini."

​Tetua menatap Seok-ryu.

​"Biar aku coba."

​Seok-ryu memungut beberapa genteng yang dibawa Yu-dan.

​Sambil bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk, para goblin pria di keluarga itu membentuk lingkaran pertahanan, sementara dia dengan hati-hati menyusun Gwimyeonwa. Sepertinya ada aturan tertentu yang hanya dia yang tahu. Setelah menumpuknya dalam bentuk yang aneh, dia menyentuhnya ringan dengan ujung jarinya, dan genteng-genteng itu memancarkan cahaya redup.

​Bayi-bayi yang menangis sampai suaranya serak tiba-tiba berhenti menangis. Semua terkejut dan melihatnya. Seok-ryu tersenyum tipis.

​"Ini bisa menghalangi energi yang masuk ke arah sini. Ternyata benar-benar asli."

​"Ohh......."

​Para goblin itu sangat jujur sehingga apa yang mereka pikirkan terlihat jelas di wajah mereka. Tetua segera berkata.

​"Ambil Gwimyeonwa yang dipilih anak itu dan blokir tempat lain juga."

​"Ya."

​Seok-ryu dan para goblin bergegas keluar. Tetua kembali menatap Yu-dan.

​"Meskipun kita bisa bernapas lega untuk sementara, ini hanya sekadar memperluas ruang perlindungan kita."

​"Aku tahu. Kita harus mencari benda penyebabnya dan mengembalikannya ke tempat asalnya barulah kutukan ini bisa dipatahkan."

​"Benar. Unryong, perlihatkan seluruh isi rumah ini kepadanya."

​"Ya."

​Yu-dan mengikuti Paman Do dan keluar dari Sarangbang utama. Saat menutup pintu, terdengar suara para goblin berbisik-bisik.

​"Jangan pedulikan. Kami para goblin Bukchon tidak menjelek-jelekkan orang dari belakang. Kami menjelek-jelekannya langsung di depan. Berbisik-bisik di belakang seperti itu berarti pujian."

​Paman Do berkata demikian dengan wajah sedikit bangga.

​"Wah, sungguh. Ternyata hari seperti ini bisa datang juga. Berkat kau kita selamat. Siapa yang bisa menghentikan sifat pemarah Tetua. Dia pasti akan membakar tempat ini, batuk darah, dan tumbang. Sekarang mari kita mengulur waktu dengan menyelidiki sampai Cheonho-nim tiba."

​Dia menggeser pintu Golbang tepat di sebelah Sarangbang utama.

​"Ngomong-ngomong, tadi katanya dia mau segera datang dan menyelesaikannya dalam satu menit, tapi kemana dia? Dia mungkin tidak tahu kalau keadaan di sini sangat serius. Seperti yang kubilang sebelumnya, kau harus terus menempel denganku. Jangan sampai terpisah. Mengerti?"

​"Mengerti."

​Di mana-mana penuh dengan energi kutukan. Napasnya terus sesak seperti berada di dalam air. Seperti sebelum menyelam, dia harus menarik napas panjang secara sadar sesekali.

​"Sebenarnya dari mana energi jahat ini berasal?"

​"Begitulah. Apakah kau tahu? setidaknya perkiraan arahnya?"

​"Tidak."

​Yu-dan menggelengkan kepalanya.

​"Sulit menangkapnya. Rasanya seperti dari sini, tapi juga seperti dari sana. Sepertinya ada sesuatu yang terus membuatku bingung. Bagaimanapun juga, bukan kamar ini."

​"Kalau begitu ayo keluar."

​Paman Do menutup laci dan berdiri. Dia menggeser pintu dan pindah ke kamar sebelah, tetapi sebelum Yu-dan sempat mengikutinya, dia langsung menutup pintunya.

​"Tunggu! Kenapa Paman pergi sendirian? Katanya kita harus terus menempel bersama!"

​Dia mendorong pintu geser, namun tidak bergeming sama sekali. Eh? Apa ini? Meskipun didorong sekuat tenaga, pintu itu hanya berguncang dan tidak mau terbuka.

​"Paman."

​Saat memanggil Paman Do, air masuk penuh ke dalam mulutnya dan napasnya langsung tercekat. Barulah dia menyadari. Ada sesuatu yang tidak beres.

​Dia langsung mengeluarkan dan menggenggam tanduk goblin. Di saat yang sama, sesuatu menarik kakinya dengan kasar. Lantai menghilang dan kakinya melayang. Kekuatan yang mengerikan dan menakutkan mencoba menyeret Yu-dan ke suatu tempat.

​Lepaskan aku!

​Sambil meronta, dia mengayunkan tanduknya, dan untungnya di satu momen serangannya mengenai sasaran dan kejutan menyebar ke tangannya. Sesuatu yang beriak tanpa bentuk itu hancur. Benda itu berubah menjadi tangan hitam dan menghilang secara tiba-tiba.

​Yu-dan tersentak kaget. Dia pernah melihat ini saat 'Tamu Bulan Kelima dan Keenam' muncul. Makhluk itu menghilang ke dalam kegelapan, tempat yang seharusnya ia tempati, tapi kenapa sekarang ia muncul lagi?

​"Siapa itu!"

​Pada saat itu, sesuatu yang meliuk-liuk lewat di depan matanya.

​Yu-dan membuka matanya lebar. Seolah tempat ini berubah menjadi laut, dia melihat siluet kecil yang berenang dengan santai di antara pilar-pilar. Sirip ekornya menari-nari ke atas dan ke bawah, dan rambutnya yang panjang terurai di air.

​Putri duyung!

​Dia segera mengejarnya, tetapi dinding buntu menghalangi jalannya. Putri duyung itu tidak terlihat lagi. Terpaksa dia berbalik, dan seketika itu juga Yu-dan membeku.

​Para Putri duyung kecil mengelilinginya. Dari balik rambut mereka yang terurai, wajah mereka terlihat. Wajah yang keriput, aneh, dan buruk rupa. Mulut mereka dipenuhi dengan gigi setajam tombak.

​Mereka sudah mati sejak lama. Dari seluruh tubuh mereka tercium bau kematian. Entah apa yang dipikirkan dari mata hitam mereka yang cekung, tetapi yang jelas, itu bukan niat baik.

​Salah satu dari mereka tiba-tiba menerjang. Yu-dan memukulnya dengan tangannya yang memegang tanduk.

​"Pergi!"

​Putri duyung itu memamerkan giginya. Putri duyung yang lain ikut beringas. Di belakang mereka, putri duyung lain berkumpul satu per satu, tidak ada celah untuk kabur.

​Apa yang harus kulakukan?

​Saat itu pintu geser di seberangnya terbuka. Seok-ryu masuk sambil memeluk beberapa Gwimyeonwa dan terkejut.

​"Kenapa kau di sini...?"

​Gwimyeonwa itu jatuh ke lantai dan suara tajam menyebar ke sekeliling. Putri-putri duyung berpencar ke segala arah. Saat itu terdengar jeritan dari luar. Yu-dan dan Seok-ryu bergegas keluar. Para goblin di Sarangbang utama juga berlarian keluar.

​"Ada apa ini!"

​"Barang-barang yang disiapkan untuk membakar Sammaehwa tadi mengamuk! Seperti hidup sendiri...!"

​Subok tak bisa menyelesaikan kalimatnya.

​Segerombolan putri duyung muncul di udara. Pusaran air raksasa ikut menyertai mereka. Kayu bakar yang dipenuhi ukiran mantra terseret ke dalam pusaran dan memukuli para goblin. Pita lima warna yang digunakan untuk ritual mencekik leher para goblin.

​"Putri duyung itu muncul lagi?"

"Mana! Tidak kelihatan!"

"Dasar pengecut! Tunjukkan wujud kalian!"

​Para goblin dengan panik bersembunyi di balik formasi Gwimyeonwa. Beberapa berani mengeluarkan senjata mereka untuk membalas serangan, namun karena tidak bisa melihat lawannya, mereka hanya memukul angin dengan sia-sia.

​"Bukan di situ!"

​Yu-dan berteriak.

​"Kalau kalian tidak bisa melihat putri duyung, lihat pusarannya! Ada putri duyung di depannya! Serang ke sana!"

​Saat dia merasa frustrasi dan hendak menerjang masuk.

​Kwang! Tanah berguncang. Gelombang kejut menyebar ke segala arah dan semuanya sempoyongan. Entah dari mana aliran angin puyuh hitam melesat cepat dan menghantam kawanan putri duyung. Para Putri duyung itu menjerit dan terpencar ke segala arah.

​Kwang! Kwang! Kwang! Kwang!

​Getaran yang mengguncang semakin mendekat. Semuanya melihat ke arah suara itu. Di atas pohon-pohon yang mengelilingi taman luar kediaman goblin, kepala binatang raksasa tiba-tiba muncul.

​Bentuk keseluruhannya mirip buaya, tetapi ada tanduk di kepalanya dan kakinya memiliki selaput renang. Getaran yang mengguncang adalah langkah kaki monster itu.

​"Jeoparyong........?"

​Seseorang bergumam.

​Di punggung monster itu duduk siluman rubah. Dia mengenakan pakaian hitam sekelam malam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dengan satu tangan dia memegang tali kekang Jeoparyong dan di tangan lainnya dia memegang tombaknya. Aliran angin puyuh yang tadi mengamuk mengaduk-aduk kediaman goblin berubah menjadi naga hitam lalu tersedot ke dalamnya.

​Para goblin menatap Baekran dengan wajah tegang.

​"Wah, sepertinya aku datang terlalu cepat."

​Baekran juga menatap mereka tanpa menggerakkan alisnya.

​"Katanya Tetua di sini nyawanya tinggal menunggu hari, jadi aku datang untuk melayat, tapi ternyata masih sehat-sehat saja?"

​Wajah para goblin langsung berubah garang dan penuh kemarahan.

​"Jadi pakaian itu adalah baju berkabung?"

​"Rubah itu berani menerobos masuk dengan memakai baju berkabung?"

​Para goblin yang membawa senjata maju. Tetua keluarga, Do Byeok-song, berteriak.

​"Berhenti! Kau tidak boleh menginjakkan kakimu selangkah pun di Susanjae ini!"

​Namun Baekran melompat turun dari punggung Jeoparyong dan masuk dengan santainya. Wajah Tetua memerah menahan marah.

​"Ada yang memanggilnya! Siapa yang memanggil makhluk kurang ajar itu!"

​Semua orang menatap Paman Do serentak.

​"Jangan terlalu menyalahkannya. Waktunya sudah tiba untuk kembali ke toko, tapi karena kerabat yang sudah lama tak ditemuinya menahan dan tidak mau melepaskannya, dia mengirim sinyal SOS kepadaku."

​Baekran berkata dengan santai sambil memungut kayu bakar yang bergulingan di lantai.

​"Sammaehwa? Kalian pasti sudah gila. Sekalipun kalian batuk darah dan mengiris daging kalian untuk menyalakan api berkali, jika penyebab kutukan tidak diselesaikan dan dikembalikan ke tempat asalnya, semua itu sia-sia."

​Saat itu telinga rubahnya bergerak. Baekran mendongak.

​"Cepat bawa semuanya masuk ke dalam sekarang juga."

​"Apa maksudmu!"

​"Sekarang juga...!"

​Sebelum siluman rubah menyelesaikan kalimatnya, suara pecahan bergema secara serentak.

​Kawanan putri duyung kali ini menyerang Gwimyeonwa. Sepertinya mereka memperhatikan bahwa para goblin bersembunyi di baliknya tadi. Ketika formasi pertahanan yang susah payah dibuat oleh Do Seok-ryu hancur, para orang tua, anak-anak, dan orang sakit yang tadinya hanya bisa bertahan, menjerit dan tumbang bersamaan.

​"Bukankah lebih baik jika kalian patuh saat aku suruh masuk tadi? Berbeda dengan goblin, mereka punya kecerdasan. Lagipula, ini adalah kutukan yang sangat kuat. Gawat. Jika penyebabnya tidak ditemukan dan dimusnahkan, Susanjae akan tamat."

​"Ini bukan urusan yang harus kau campuri."

​"Siapa bilang aku akan ikut campur? Aku hanya akan membawa karyawan tokoku dan manusia yang datang sebagai bonus itu lalu langsung pergi."

​Paman Do memutar bola matanya. Tiba-tiba dia mencengkeram Yu-dan dengan erat, lalu sebelum ada yang bisa berkata apa-apa, dia dengan cepat lari ke dalam.

​"Wah. Padahal aku sudah datang menjemput, lihatlah dia melarikan diri karena malas bekerja. Walaupun merepotkan, mau tidak mau aku harus pergi menangkapnya."

​Baekran berkata keras agar semua orang mendengarnya sambil melangkah masuk. Dia menempati salah satu Golbang (kamar kecil), lalu mengayunkan tombaknya untuk memurnikan energi kutukan.

​Paman Do segera bertanya.

​"Kenapa lama sekali? Katanya mau langsung datang dan menyelesaikannya dalam satu menit."

​"Aku berubah pikiran. Jika memungkinkan, aku akan mengulur waktu selama mungkin sambil memberikan rasa sakit semaksimal mungkin, baru kemudian menyelesaikannya."

​Melihat Baekran yang menjawab dengan sangat menyebalkan, Paman Do menghela napas. Yu-dan bertanya kepadanya.

​"Kenapa Paman menarik dan membawaku masuk juga?"

​"Kan sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku. Kenapa kau tidak dengar dan berjalan sendirian? Tadi kau juga hampir celaka!"

​"Ngomong apa Paman ini? Paman yang meninggalkanku. Aku baru saja mau ikut masuk, tapi pintunya sudah Paman tutup."

​"Hah?"

​Wajah Paman Do kebingungan.

​"Aku jelas-jelas melihatmu masuk lalu menutup pintunya? Tapi kemudian kau menghilang. Jadi aku pikir kau keluar sendiri!"

​"Bukan begitu! Pintunya yang duluan tertutup!"

​Baekran menatap keduanya bergantian.

​"Sepertinya ada yang mempermainkan kalian."

​"Sepertinya begitu."

​Yu-dan mengangguk.

​"Sesuatu mencoba menarikku entah ke mana. Jika bukan karena tanduk ini, pasti sangat berbahaya."

​"Apa itu? Apa yang kamu lihat di sini? Karena mereka langsung menyembunyikan diri saat aku muncul, aku hanya melihat siluet yang samar."

​Rupanya Baekran juga tidak melihatnya. Tadi dia menyerang hanya berdasarkan perkiraan posisi.

​"Putri duyung," jawab Yu-dan.

​"Sesuatu yang jahat mencoba menarikku masuk, lalu kawanan putri duyung muncul dan mengepungku. Energi jahat ini dikeluarkan oleh mereka. Para Putri duyung yang sudah mati."

​"Putri duyung? Itu sama sekali di luar dugaan."

​Baekran mengerutkan dahinya,berpikir sejenak.

​"Putri duyung di kediaman goblin..."

​"Ngomong-ngomong, kenapa Tetua tidak datang menangkap kita?"

​Paman Do sedikit membuka pintu geser.

​Di luar sangat kacau. Dari balik dinding entah di mana, terdengar suara orang-orang berbicara kasar dan suara tangisan berdengung.

​Kalau dipikir-pikir, orang-orang tua dan lemah berjatuhan. Para pria dewasa pun sudah tak sanggup bertahan, dan parahnya lagi, Gwimyeonwa yang menahan kutukan itu sudah hancur.

​"Ah, hampir lupa."

​Baekran mengeluarkan setumpuk jimat kertas dari pelukannya.

​"Bakar setengahnya lalu campur abunya dengan air dan minumkan, setengahnya lagi tempelkan di dinding."

​"Yaampun, Cheonho-nim."

​Paman Do sangat berterima kasih hingga terharu saat menerima jimat-jimat itu.

​"Padahal goblin di keluarga kami memperlakukan Cheonho-nim seperti itu... Kebaikan ini tidak akan pernah kulupakan."

​"Kalau aku jadi kau, lebih baik keluar daripada menghabiskan waktu berbicara seperti itu."

​"Ya, ya."

​Paman Do segera keluar. Suara langkah kakinya berlari di atas lantai kayu semakin menjauh dan menghilang.

​"Dengan ini, kita bisa mengulur sedikit waktu."

​"Tapi pasti akan segera kacau lagi. Putri-putri duyung itu sangat marah. Kalaupun yang lain tidak, setidaknya rencana membakar tadi tidak boleh sampai ketahuan."

​"Meskipun mempertimbangkan air dan api berlawanan, tetap saja itu reaksi yang sangat ekstrem. Mereka begitu murka dan mengamuk saat melihat api. Sebenarnya ada kisah apa di balik ini? Benda apa yang menahan mereka di tempat ini? Jika kita pergi bersama, mataku juga pasti akan bisa melihatnya."

​Baekran berdiri. Yu-dan mengikutinya. Sambil berjalan, dia memanggil tanduk goblinnya dan menggenggam erat di tangannya.



. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.