Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4
<Chapter 84>
"Memahaminya justru yang aneh. Kau hanyalah manusia berusia belasan tahun, sedangkan Cheonho-nim adalah siluman yang umurnya lebih dari seribu tahun. Kau harus senang karena ketidakpahamanmu menunjukkan bahwa kau sangat normal."
Paman Do berkata sambil berjalan memimpin di depan.
"Bagaimanapun juga, rasanya tidak adil jika aku disalahpahami telah merencanakan tipu muslihat untuk mengundang Cheonho-nim. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan ikut. Terlebih lagi, aku sangat tidak menyangka kau akan menusuknya, tepatnya, titik lemah Cheonho-nim."
"Aku tidak tahu apa yang kutusuk, tapi aku tidak bermaksud apa-apa. Karena dia sendiri selalu membuat tipu muslihat di ruangannya, jadi dia pikir orang lain juga begitu."
"Benar juga. Yah, sepertinya itu tidak bisa dihindari. Sejak kecil, yang dilihatnya hanyalah hal-hal semacam itu. Pertarungan rahasia di keluarga kerajaan yang kejam. Seseorang yang menikmati kekuasaan yang membuat iri orang lain bisa saja tiba-tiba dituduh melakukan pengkhianatan dan dieksekusi keesokan harinya. Atau seseorang yang memonopoli kasih sayang bisa tiba-tiba makan kue beracun dan tersingkir selamanya. Dalam situasi seperti itu, Cheonho yang dikirim oleh langit adalah kartu yang bisa dimanfaatkan dalam berbagai cara. Bahkan di Alam Langit (Cheongye), yang merupakan rumahnya, logika hukum rimba—yang kuat memangsa yang lemah—pasti lebih kejam, tidak mungkin lebih ringan. Jadi, wajar jika dia tidak bisa mempercayai apa pun. Aku bisa memahaminya. Jika benar-benar ada hal yang sangat tidak bisa dipahami... ugh, orang dewasa harus bersabar."
"Benar. Katanya semakin lama hidup, orang akan semakin menjadi seperti anak-anak."
"Bukan itu maksudku."
Paman Do menggelengkan kepalanya.
"Apakah di matamu sosok Cheonho-nim terlihat seperti wujud dewasa yang sudah tumbuh sepenuhnya?"
"Tentu saja tidak."
"Benar. Seharusnya dia tumbuh lebih besar lagi, tapi dia...."
Dia membuat isyarat memotong leher. Yu-dan terkejut.
"Benarkah?"
"Bukan hanya lehernya, saat itu ekornya juga ikut terpotong. Karena itulah dia menjadikannya senjata dan membawanya ke mana-mana."
"Ah..."
Barulah dia mengerti. Pantas saja bentuk tombak raksasa yang terbelah menjadi sembilan cabang itu aneh, ternyata itu adalah ekor lamanya.
"Kukira karena dia Cheonho, orang-orang zaman dulu hanya memujanya, ternyata hidupnya penuh cobaan."
"Kalau mendengar ceritanya, dia seharusnya sudah mati ratusan kali. Dia mengumpulkan pasukan Imaemangnyang (siluman/iblis) dan bertahan hidup dengan gigih. Dia sangat kejam. Orang-orang yang mengira beliau hanya tuan muda yang selalu dimanja pasti sudah merasakan akibatnya yang mengerikan."
Paman Do melirik ke sekeliling.
"Ugh, aku bicara terlalu banyak. Ini semua adalah cerita yang kudengar sambil mentraktir minum bawahan-bawahan lama Cheonho-nim. Jangan tunjukkan kalau kau mendengarnya dariku, pura-pura tidak tahu saja. Yah, meskipun kau ketus, tidak peka, dan malas belajar, kau tidak bermulut ember dan lumayan setia kawan. Meskipun aku tidak tahu hal lainnya, aku cukup menghargai hal itu darimu."
Dasar siluman-siluman ini, apakah mereka punya penyakit mulut berduri setiap kali mau memuji? Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menjatuhkan mental lalu melontarkan satu kata baik layaknya sedang berbaik hati. Yu-dan ingin mengatakan sesuatu tentang hal itu, tapi saat ini rasa penasarannya lebih besar.
"Tapi, apa dendamnya dengan para goblin? Apa yang dia alami?"
"Aah. Dia menerima siraman darah ayam. Kau tahu tong biru yang dipakai saat membuat kimchi (Kimjang)? Kira-kira ukurannya 130 liter."
"Apa? Kalau begitu wajar saja kalau dia membencinya. Tidak bisa dibilang kekanak-kanakan, kan?"
"Tepat sebelum itu, Cheonho-nim menghancurkan paviliun, membakar gudang, memanggil Cheoyong raksasa untuk menelan puluhan sesepuh goblin lalu memuntahkannya kembali."
"Aku menarik kembali perkataanku barusan."
"Sebagai catatan, hari itu adalah hari ulang tahunku."
Yu-dan merasa sangat kasihan pada goblin paruh baya ini dengan tulus.
"Pasti sangat menderita terjepit di antara mereka berdua."
"Memang dari awal hubungan mereka tidak bagus. Semua yang disebut Gwaeryeongnansin (hal gaib dan kekacauan) seperti siluman, monster, hantu, arwah, dan lain-lain, biasanya menunjukkan salah satu dari dua reaksi ini. Takut pada Cheonho, rubah yang dikirim oleh langit, atau mengincar kekuatan gaibnya dan mencoba memburunya. Tapi goblin tidak masuk ke keduanya. Mereka membenci Cheonho-nim. Semakin tua umur goblin, semakin parah kebenciannya. Secara naluriah begitu."
"Apakah itu mirip dengan perasaanku yang langsung merasa tidak nyaman saat melihat sesuatu yang aneh?"
"Mungkin mirip."
"Paman juga begitu? Sangat membencinya?"
"Awalnya memang begitu, tapi...."
Paman Do bergumam tidak jelas.
"Ayo cepat jalan."
Kemudian dia menutup mulutnya dan mempercepat langkahnya.
Yu-dan menyesal bertanya. Padahal cerita Paman Do sangat menarik. Dia mengikuti dengan perasaan kecewa.
Tempat yang mereka tuju dengan mengikuti goblin paruh baya itu adalah Desa Hanok.
Melihat rumah-rumah beratap genteng yang dikelilingi tembok batu berkumpul dalam skala desa seperti ini terasa agak asing baginya. Namun melihat setiap rumah memiliki papan nama, dan ibu-ibu rumah tangga keluar untuk membuang sampah, tempat ini sungguh rumah yang ditinggali manusia.
Paman Do berputar-putar melewati banyak gang dan berhenti di depan sebuah rumah.
"Di sini?"
"Ya."
Itu adalah rumah beratap genteng yang sama dengan rumah-rumah lainnya. Bahkan ada kantong susu yang tergantung, dan juga terdapat logo gereja. Sama sekali tidak bisa dibayangkan bahwa ini adalah kediaman goblin.
Alih-alih memencet bel, Paman Do meraih gagang pintu gerbang yang berat dan mengetuknya tiga kali, Kung, Kung, Kung.
"Permisi! (Iri oneora!)"
Lalu dia menjelaskan.
"Ini adalah pelopor pengenalan suara dan sidik jari. Kami sudah menggunakan teknologi mutakhir sejak ratusan tahun yang lalu."
Tak lama kemudian, gerbang itu terbuka lebar.
Itu adalah halaman kecil dari rumah beratap genteng berbentuk 'U' dengan tiga atau empat kamar. Namun begitu masuk mengikuti Paman Do, ruangannya perlahan berubah.
Rumah bangsawan megah yang mungkin pernah ditinggali oleh seorang menteri agung dari zaman Joseon entah sejak kapan sudah berdiri di depan mata. Pria-pria dewasa yang mengikat rambut mereka (Sangtu) dan memakai jubah (Dopo) berlari menyambut tanpa alas kaki.
"Kakak, kamu sudah datang!"
"Kau, akhirnya datang juga! Setidaknya aku merasa sedikit lega sekarang."
Seakan menceritakan penderitaan mereka selama ini, wajah mereka semua cekung dan rambut mereka berantakan. Saat mereka mengelilingi Paman Do dan menyambutnya dengan gembira, seorang tabib wanita datang berlari menyusul dibelakang. Itu adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas hingga sembilan belas tahun, mengenakan topi hitam kotak bernama Cha-aek dan celemek kain rami. Matanya besar dan tajam sehingga dia terlihat cerdas, tetapi wajahnya sangat kuyu.
"Paman, suratnya ternyata benar-benar sampai."
"Oh, Seok-ryu. Wajahmu sampai tirus menjadi separuh."
"Aku lebih mengkhawatirkan Tetua daripada diriku sendiri."
Gadis bernama Seok-ryu melirik Paman Do dengan pandangan bertanya sambil memperhatikan sekeliling. Paman Do merendahkan suaranya dan berbisik.
"Jangan khawatir. Dia bilang dia akan datang."
"Benarkah?"
Seok-ryu merasa lega, namun raut wajah para pria dewasa itu berubah.
"Datang? Siapa yang datang? Jangan bilang si kurang ajar itu......."
"Ayo, ayo. Kita masuk dulu."
Paman Do memberi isyarat kepada Yu-dan yang berdiri di belakang. Para goblin barulah menyadari kehadiran Yu-dan.
"Hah? Apa lagi ini. Apa kau masih waras? Membawa satu manusia di situasi seperti ini?"
Semuanya memasang wajah dingin dan menatap dengan tajam. Seok-ryu juga menatap dengan kebingungan.
"Sudah kubilang kita bicara di dalam."
Paman Do pura-pura tidak melihat dan menarik Yu-dan masuk, sambil menunjuk ke papan kayu yang tergantung tinggi di atas.
"Itu dibaca 'Susanjae (秀山齋)'. Dinamakan demikian karena dari sini pemandangan Gunung Inwangsan yang indah bisa terlihat jelas. Kediaman kuno (Gotaek) dengan sembilan puluh sembilan ruangan yang tersembunyi rapat agar tidak terlihat oleh mata manusia ini adalah rumah yang menyimpan sejarah para goblin Bukchon kita secara utuh."
Terdapat kebanggaan dalam nada bicara Paman Do. Terlihat betapa dia sangat menyayangi kediaman tuanya.
Namun.......
Begitu melewati halaman luar dan masuk ke bangunan utama (Sarangchae), dia langsung merasa ada yang salah. Rasanya bukan seperti menghirup udara, melainkan seperti masuk ke dalam air. Napasnya terasa sesak, seolah-olah seluruh kediaman goblin ini tenggelam di dalam air yang tak kasatmata.
"Kutukan macam apa ini, kenapa bisa sekuat ini?"
Paman Do terkejut dan menoleh ke arah goblin-goblin lainnya. Semuanya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan ditanya. Hal seperti ini baru pertama kalinya kulihat."
"Bukan tanpa alasan kita tidak berdaya melawannya."
Memanfaatkan momen saat mereka saling mengobrol, Paman Do secara diam-diam mengeluarkan rubah kertas dari pelukannya. Dia meletakkannya di sudut yang gelap secara sembunyi-sembunyi dan berpura-pura tidak tahu dengan sangat lihai. Para goblin yang tidak tahu apa-apa membawa Paman Do dan Yu-dan naik ke beranda kayu.
Paman Do terus menjelaskan sambil berjalan.
"Di sini ada beberapa keluarga yang tinggal bersama, tapi yang paling tua dan paling banyak anggota keluarganya adalah keluarga Do-ku. Seperti yang kau tahu dari nama keluarga kami, kami berasal dari keramik. Keponakanku Seok-ryu adalah mangkuk bermotif buah delima yang pernah dipakai oleh tabib wanita di era Joseon. Di sebelahnya ada Songjuk (Pinus dan Bambu), Subok (Umur Panjang dan Kebahagiaan), Cheonghak (Bangau Biru)........"
"Kalian semua diberi nama berdasarkan motifnya?"
"Benar."
"Kalau begitu, nama Paman siapa?"
"Aku Unryong. Awan dan naga."
"Apa? Keren juga. Tidak cocok dengan Paman."
"Hei! Anak nakal! Emangnya apa yang cocok dengan Paman?"
Para goblin menoleh. Paman Do buru-buru memelankan suaranya.
"Bagaimanapun juga, bukan itu yang mau kubicarakan. Kita sekarang mau menemui Tetua Byeoksong. Beliau adalah keramik porselen putih bermotif pinus biru (Cheonghwa Baekja) yang konon dianugerahkan langsung oleh Raja Seongjong kepada Sungkyunkwan, beliau sangat keras kepala. Kau kan membenci hantu, goblin, maupun siluman, jadi kau pasti tidak akan pernah mau menundukkan kepalamu. Tapi tetap saja, sebisa mungkin......."
"Paman menyuruhku tutup mulut?"
"Bukan, bukan harus begitu, tapi... ahem."
Yu-dan merasa mengerti apa yang dikhawatirkan Paman Do. Para goblin di sini meskipun terlihat kuyu, semuanya bertemperamen keras. Saking kerasnya, mereka bahkan berani menyiram Cheonho dengan darah ayam. Yu-dan juga tidak ingin membuat keributan.
Saat membuka pintu Sarangbang (kamar tamu pria), terlihat genteng berukir wajah iblis (Gwimyeonwa) yang ditumpuk seperti dinding pertahanan di satu sisi. Begitu masuk ke dalamnya, barulah dia merasa bisa bernapas lega seperti orang yang baru keluar dari air.
Meskipun ini adalah kamar tetua laki-laki, karena situasinya darurat, para wanita dan anak-anak juga mengungsi ke sini. Kondisi mereka semua buruk, namun bayi-bayilah yang paling bermasalah. Mereka menangis histeris seolah tersiram air panas hingga suaranya serak. Para ibu menenangkan bayi mereka dengan wajah cemas dan gelisah.
Di atas bantal sutra di sebelah layar lipat, duduk seorang kakek tua bertubuh pendek dengan punggung tegak lurus. Meskipun sangat kurus, tatapan matanya tajam dan memancarkan sinar kebiruan. Benar-benar pantas menjadi Tetua Besar keluarga.
"Kau sudah datang, Unryong."
"Ya."
Setelah memberi hormat, Paman Do menatap kakek itu tidak percaya.
"Bagaimana bisa tubuh Anda jadi sangat lemah dalam waktu sesingkat itu........"
"Ini salahku. Karena berusaha menangkap penyebab kutukan (Dongti), aku menyia-nyiakan tenagaku hingga tubuhku jadi seperti ini."
"Di usia Anda, jika menguras terlalu banyak energi, bagaimana jadinya? Bukankah seharusnya Anda segera pergi beristirahat di tempat lain?"
"Energi kutukan ini menyerang hingga bayi-bayi pun ikut tumbang, bagaimana mungkin aku melarikan diri hanya untuk menyelamatkan nyawaku sendiri. Terlebih lagi, ke mana aku harus pergi meninggalkan Susanjae ini. Bahkan setelah mati pun, aku akan menjaga tempat ini."
"Setidaknya jika tidak ada Gwimyeonwa itu, tempat ini pasti sudah hancur berantakan sejak tadi. Wajah para goblin dari masa lalu lah yang menahan energi jahat."
Mendengar perkataan Seok-ryu, Paman Do mengangguk paham.
"Subok berhasil melakukan sesuatu yang besar. Padahal dulu kalian sering memarahinya karena menghambur-hamburkan uang untuk mengoleksi barang tidak berguna..."
Goblin bernama Subok menghindari tatapan itu dengan wajah canggung. Paman Do menatapnya dengan heran.
"Ada apa? Bukankah itu Gwimyeonwa yang rajin dibeli Subok?"
"Semuanya palsu."
Tetua itu menyahut.
"Dia pasti membelinya karena tertipu saat sedang mabuk. Yang lain juga sama. Meskipun ada gunungan Gwimyeonwa di gudang, sebagian besar pasti palsu. Dasar anak-anak bodoh!"
"Astaga."
Paman Do menatap jauh dengan wajah serba salah. Ternyata mereka memang satu keluarga. Goblin paruh baya itu juga selalu membeli barang-barang aneh saat mabuk, dan sering melakukan kesalahan karena tidak bisa membedakan barang asli.
"Kalau begitu, dari mana Gwimyeonwa itu berasal?"
"Aku mengambilnya dari atap. Genteng asli yang dipasang di atap saat rumah ini pertama kali dibangun di masa lalu. Jumlahnya kurang, tapi saat ini kita tidak punya waktu untuk bertaruh dengan Gwimyeonwa yang mungkin palsu..."
Wajah lelaki tua yang sangat bangga itu tampak muram. Paman Do menggelengkan kepalanya.
"Tidak disangka musibah seperti ini akan menimpa Susanjae. Apakah kalian masih belum tahu apa yang menyebabkan Dongti ini?"
"Sepertinya kita sudah menemukan petunjuknya. Ini adalah kutukan putri duyung."
"Putri duyung?"
"Ya. Katanya ada yang melihat putri duyung berenang di dalam rumah. Bukan putri duyung biasa, melainkan putri duyung yang buruk rupa. Pasti ada suatu benda yang berkaitan dengan putri duyung yang salah masuk, sehingga menyebabkan musibah ini. Namun, sekeras apa pun kita mencari, kita tidak bisa menemukannya. Sekarang bahkan para pria dewasa pun sudah kehabisan tenaga dan tidak bisa bertahan. Kita tidak punya waktu lagi."
Tetua itu merendahkan suaranya.
"Air memadamkan Api (Su-geuk-hwa), Api memadamkan Air (Hwa-geuk-su). Jika air dikelilingi oleh energi api, kekuatannya bisa dipatahkan. Jadi, aku berniat untuk menyalakan Sammaehwa di seluruh Susanjae. Dengan api mistis yang dapat mengusir roh jahat, aku akan mengeringkan dan membunuh semua putri duyung jahat itu."
Paman Do terkejut menatapnya.
"Sama sekali tidak boleh! Apakah Anda benar-benar sudah pikun? Bukankah kita juga roh jahat! Jika Anda menyalakan Sammaehwa, kita juga akan ikut musnah! Tubuh Anda juga pasti tidak akan bisa bertahan!"
"Lalu apa aku harus menyuruh para wanita? Atau anak-anak? Laki-laki di keluarga ini yang harus bertanggung jawab. Unryong-a, jalan mana pun yang dipilih, pengorbanan tidak bisa dihindari."
"Tidak, tidak harus begitu."
Paman Do menoleh ke arah Yu-dan.
"Karena itulah saya membawa anak manusia ini. Luar biasanya, anak ini memiliki 'Cheonan' yang dapat menembus hukum hidup dan mati. Dia bilang dia akan berkeliling rumah untuk mencari tahu barang apa yang menyebabkan Dongti."
Mendengar perkataan itu, semua orang terkejut. Seok-ryu dengan hati-hati membuka mulutnya.
"Ehm, bukankah 'Cheonan' hanya bisa terbuka jika seseorang melakukan pertapaan yang menyiksa tulang? Anak manusia itu kelihatannya baru berumur enam belas atau tujuh belas tahun."
Tetua menatap Paman Do dalam diam.
"Bicaralah yang jujur."
"Ya? Apa yang saya katakan semuanya benar."
"Pasti ada yang tidak kau katakan! Jika perkataanmu benar, di mana kau bisa bertemu dan membawa manusia langka seperti itu?"
"Itu......."
Paman Do menjadi gelagapan.
"Kenapa kau tidak bisa menjawab! Unryong, dasar kau anak nakal! Meskipun kau adalah anggota keluarga kami dan kami harus memakluminya, bukankah aku sudah bilang kalau kelompok si Anjing Tanah (Ttanggangaji) itu tidak boleh masuk ke Susanjae ini! Burung yang sama akan berkumpul bersama! Anak itu pasti juga penipu! Bawa dia keluar sekarang juga!"
Perintah keras Tetua jatuh. Bahkan di tengah suasana mencekam ini, ada satu hal yang membuat Yu-dan sangat penasaran sehingga dia tidak bisa menahannya.
"Apa itu Anjing Tanah?"
"Itu maksudnya Cheonho-nim. Tetua merasa panggilan 'Cheonho' terlalu mulia untuknya. Tapi, beliau juga tidak bisa menggunakan kata-kata kotor untuk seseorang yang diakui sebagai Porselen Putih dengan motif Pinus Biru hadiah Raja Seongjong kepada Sungkyunkwan, yang bahkan tercatat di Babad Dinasti Joseon. Jadi, komprominya adalah kata 'Anjing Tanah'. Setiap kali orang lain memanggilnya Cheonho, Tetua akan memanggilnya 'Anjing Tanah' sepuluh kali di dalam hati dan barulah merasa adil."
Bumi merupakan kebalikan dari Langit. Anak anjing menjadi kebalikan dari rubah. Itu cerita yang lucu, namun para goblin sangat serius—dan dingin.
Sebesar apa kebencian mereka pada rubah eh........
"Aku bukan dikirim oleh Anjing TanahA."
Yu-dan angkat bicara. Meskipun Paman Do menyuruhnya untuk diam saja, dia tidak bisa hanya menutup mulutnya saat dituduh sebagai penipu dan hampir diusir tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Malah, dia melarangku ke sini, tapi aku tetap datang. Aku pernah hampir mati karena benda yang kena kutukan. Jadi aku pikir mungkin aku bisa membantu......."
Beberapa dari mereka bergumam "Hmm," dan ekspresi mereka sedikit melunak, namun sisanya masih memelototinya seakan ingin membunuhnya. Yah, itu masih bisa ditahan. Ini bukan satu atau dua hari dia mendapat tatapan tidak menyenangkan dari hantu atau siluman.
"Dan aku bukan penipu. Tadi kalian membahas soal genteng, kan? Kalian butuh Gwimyeonwa untuk menahan kutukan. Ada banyak di gudang, tapi karena darurat, kalian tidak berani ambil risiko memakai yang mungkin palsu. Mendengar itu aku berpikir. Kalau aku dibawa ke gudang, aku bisa menemukan mana yang asli."
Barulah tatapan goblin-goblin lain berubah. Paman Do juga memutar bola matanya.
"Hmm......."
Tetua berpikir sejenak lalu angkat bicara.
"Coba bawa dia ke gudang."
. . .. .... ........
