Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4
<Chapter 83>
Kisah ke-dua puluh satu
<Legenda Putri Duyung>
Di Arangpo, Jangyeonjin, Provinsi Hwanghae, setiap kali kabut laut tebal menyelimuti, selalu saja ada beberapa putri duyung yang tertangkap. Putri duyung itu memiliki wajah yang cantik jelita, dengan sirip yang transparan dan bersinar bagaikan batu giok. Jika para nelayan menangkap putri duyung, mereka akan melepaskannya kembali ke laut karena percaya bahwa Dewa Laut akan murka jika mereka tidak melakukannya.
Namun suatu ketika, seorang nelayan bernama Bak-nam secara diam-diam menjual seekor putri duyung kepada Kim Eul-gwi, seorang kerabat dari pejabat daerah. Kim Eul-gwi berniat memelihara putri duyung itu dengan melepaskannya ke dalam kolam di rumahnya. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, rambut putri duyung yang tebal bagaikan awan itu rontok seluruhnya, wajahnya yang cantik berubah menjadi buruk rupa, dan ia pun mati.
Akibat kejadian ini, Bak-nam diseret dan dijatuhi hukuman cambuk. Sejak saat itu, para nelayan di Arangpo tidak pernah lagi menjual putri duyung meskipun ditawari harga yang sangat mahal.
『Umongsango』
●◉◎◈◎◉●
Begitu masuk ke toko buku, Yu-dan merasa bingung.
Pantas saja jalanan terasa sepi. Rupanya semua warga Seoul berkumpul di sini. Orang-orang dewasa duduk dengan nyaman di mana-mana sambil membaca buku, sementara anak-anak berlarian dengan riang. Tempat ini bukanlah tempat menjual buku, melainkan tempat berlibur. Dia bahkan tidak berani membayangkan untuk menerobos masuk ke dalam kerumunan itu.
Namun karena sudah telanjur datang, bukankah dia harus mencapai tujuannya.
Dengan menganggap ini semacam permainan, dia kembali menguatkan tekadnya, dan dengan susah payah menerobos kerumunan itu menuju ke bagian buku pelajaran. Di sana dia kembali kebingungan cukup lama.
"Ehm, yang ini... ada di mana ya?"
Sambil melihat daftar yang telah dia siapkan sebelumnya, dia mencari buku-buku itu satu per satu dengan susah payah. Kemudian dia kembali berpikir.
Apa aku bisa menyelesaikan semua ini?
Yu-dan menunduk menatap buku-buku latihan soal di dekapannya. 'Kenapa kau tidak mengerjakanku?' Rasanya dia bisa mendengar suara hantu yang menempel pada buku latihan soal yang masih seperti baru itu mengutuknya.
Ya. Jangan serakah.
Dia mengembalikan buku-buku itu satu per satu ke tempatnya semula dan hanya mendekap satu buku saja. Kenapa dia selalu menjadi sangat berhati-hati dan rendah hati hanya di saat-saat seperti ini? Sambil berusaha mengabaikan suara yang terdengar di dalam hatinya, dia berjalan keluar.
Sinar matahari langsung menusuk matanya. Saat dia menyipitkan mata dan meletakkan tangan di dahinya, dia melihat seorang wanita jangkung berdiri di bawah bayangan pohon di tepi jalan. Memakai jeogori dan rok di bawah payung hitam. Dia tersentak kaget mengenali siluet yang sangat familier itu.
"Tumben sekali kau ada di sini."
"Kenapa lama sekali kau keluar?"
Heukyo langsung menatapnya dengan tajam. Pikirannya menjadi kusut.
"Jangan-jangan kau menungguku?"
"Bicara apa kau ini. Memangnya kau pikir aku sedang menunggu pria asing di sini?"
"Lalu kenapa kau menungguku?"
"Karena kau jalan terlalu cepat sehingga aku tidak bisa menyapamu!"
"Kau terus mengikutiku? Sejak aku turun di halte bus?"
"Bukan! Aku terus mengikutimu sejak dari lingkungan rumahmu!"
"Kalau begitu maksudnya kau juga naik bus yang sama?"
"Masa aku jalan kaki sendirian?"
"Padahal kau naik bus yang sama tapi tidak bisa menyapaku?"
"Karena kau sama sekali tidak melihat ke arahku, apa yang bisa kulakukan!"
"Astaga. Bagaimana bisa kau sebodoh ini?"
"Aku ini ahli bela diri yang telah menggunakan pedang sejak ratusan tahun yang lalu."
"Kenapa baru sekarang kau memperkenalkan diri?"
"Maksudku wajar saja kalau aku tidak pintar dalam hal seperti ini. Jadi, ayo kita ke toko dulu sekarang."
Wajahnya tampak serius. Tunggu sebentar. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi? Tanpa banyak bicara lagi, mereka naik bus bersama dan menuju Banwoldang.
Heukyo naik ke ruang baca. Baekran, yang sedang mengobrol dengan katak menteri (Jeongseung), terkejut.
"Ada apa?"
"Aku datang bukan untuk menemui Cheonho-nim. Silakan lanjutkan saja urusan kalian."
Baekran menatap Heukyo dengan wajah bingung. Namun wanita itu bahkan tidak melihat ke arahnya. Jelas sekali pikirannya sedang teralihkan oleh sesuatu sekarang. Setelah menyuruh Yu-dan duduk di sudut, Heukyo tiba-tiba berkata.
"Coba kau panggil benda itu keluar."
"Apa?"
"Tanduk hitam pekat itu."
Yu-dan tersentak. Saat dia mengeluarkan dan menggunakannya ketoika pergi ke seberang Bima Sakti tempo hari, dia salah langkah dan akhirnya tersesat. Sejak saat itu, dia sangat berhati-hati.
"Kenapa tiba-tiba minta itu?"
"Jangan banyak bicara dan cepat panggil keluar. Semalam saat aku berbaring untuk tidur, tiba-tiba aku teringat. Hal itu tidak bisa lepas dari pikiranku."
Sebenarnya kenapa?
Bagaimanapun juga, sepertinya dia harus menuruti permintaannya. Saat dia memanggil tanduk itu keluar dengan hati-hati, mata Heukyo berbinar, tidak, berbinar terang.
"Sekarang kau sudah bisa menggunakan benda ini dengan baik, kan?"
"Sepertinya belum...."
Ngomong-ngomong, bolehkah mereka membuat keributan di ruang baca rubah? Yu-dan memelankan suaranya melihat situasi. Rubah dan katak itu juga menghentikan percakapan mereka dan berkedip menatap mereka dengan wajah seolah bertanya, 'Apa yang sedang mereka lakukan?'
"Itu pasti karena banyak pikiran mengganggu di kepalamu. Semuanya berjalan lancar. Aku tahu."
Heukyo mengucapkan kata-kata yang sulit dimengerti, lalu dengan saksama menempelkan wajahnya mendekat dan mengamati tanduk itu. Karena tidak berani menyentuhnya, dia hanya melihatnya lalu bertanya.
"Benda ini bisa menghilangkan mantra jahat atau ilusi dan semacamnya, kan?"
"Ehm. Mungkin?"
"Tunggu sebentar di sini."
Dia bangkit, lalu membawa sebuah guci keramik putih bundar (dalhang-ari) yang diletakkan di rak buku dengan hati-hati.
"Tahukah kau apa ini?"
"Benda cagar budaya."
"Di antaranya, ini adalah guci keramik putih yang usianya sudah ratusan tahun. Kau tidak tahu betapa indahnya jika ditaruh ranting bunga plum merah yang dipetik di musim dingin di dalamnya. Masalahnya adalah bunga itu akan layu hanya dalam semalam. Tahukah kau alasannya? Karena ada suatu makhluk jahat yang diam-diam mengamati guci ini lalu menghembuskan napas kotornya dengan keras (huk). Meskipun aku sudah mencoba segala macam cara, noda itu tidak mau hilang. Jadi, bagaimana kalau kau mencobanya dengan tanduk itu?"
Heukyo berbicara dalam satu tarikan napas sambil mendorong guci keramik putih itu tepat di hadapan Yu-dan. Benar saja, ada noda yang membayang di permukaan guci, dan noda itu terus bergerak seolah hidup.
Entah kenapa rasanya seperti menjadi hewan sirkus.
Yu-dan mengamati noda itu dengan saksama, dan saat noda itu muncul dengan jelas, dia dengan cepat memukulnya pelan dengan tanduk itu. Tang! Bersamaan dengan suara itu, riak muncul seperti menyentuh permukaan air. Noda hitam itu dalam sekejap tersedot masuk ke dalam tanduk.
"Sesuai dugaanku!"
Heukyo menepuk tangannya. Dengan wajah yang sangat segar, dia mengagumi guci keramik putih yang kini bersinar putih bersih tanpa satu pun noda sambil memutarnya.
"Ah, aku bahagia. Rasanya seperti penyakit yang menumpuk selama sepuluh tahun lenyap begitu saja. Cheonho-nim, lihatlah ini. Bukankah ini luar biasa? Penglihatan anak ini dikombinasikan dengan tanduk goblin ini benar-benar luar biasa."
Ekspresi Baekran sulit ditebak.
"Tapi menurut ku, adanya noda seperti itu membuatnya terlihat alami."
"Tapi setiap hari aku selalu memperhatikannya setiap kali aku masuk ke ruang baca ini, setiap kali aku melihat guci keramik putih, hanya noda itu yang menarik perhatian ku."
"Hal semacam itu disebut paranoia."
"Aku mengakuinya."
"Syukurlah kalau kau menyadarinya. Simpan saja guci itu sebagai kenang-kenangan."
Heukyo menjawab acuh dan berlari lagi, lalu tak lama kemudian dia kembali membawa setumpuk barang-barang lain. Ternyata untuk ini aku ditangkap.
"Tapi aku baru saja menguatkan tekad bahkan membeli buku latihan soal juga....."
"Belajar juga harus diselingi istirahat."
Jawaban yang tidak seperti biasanya itu keluar dari mulutnya. Heukyo sudah benar-benar tenggelam dalam kegiatannya. Wajahnya yang biasanya dingin dan angkuh kini merona merah. Yu-dan menyerah untuk melawan dan mengambil barang berikutnya.
"Eh? Kapan kalian datang?"
"Sedang apa disini?"
Si kembar siluman ginseng yang sedang lewat juga ikut duduk di sebelahnya.
"Wah, wah. Haruskah kita minggir?"
Katak itu pun entah sejak kapan juga ikut menonton kegiatan mereka. Baekran, yang kehilangan teman mengobrolnya, sejenak kebingungan lalu mau tidak mau ikut bergabung dengan kerumunan tersebut.
Tanpa sadar, Yu-dan telah fokus. Angin sepoi-sepoi berembus dengan lembut dan setiap kali angin itu bertiup, lonceng angin di bawah atap lantai dua bergemerincing. Saat dia meletakkan kotak anyaman dedalu yang nodanya telah dibersihkan di lantai, tiba-tiba dia merasakan tatapan dari belakangnya.
Saat dia menoleh, dia melihat sebuah wajah di balik pintu, tepatnya di belakang pilar seseorang sedang bersembunyi dan menatap lurus ke arahnya.
"Bukannya itu Paman? Sedang apa di sana?"
Si kembar juga ikut menoleh.
"Kemarilah! Ini sangat menakjubkan!"
"Lagi pula sekarang toko sedang kosong dan tidak ada orang yang lewat. Ayo kita tonton bersama."
Paman Do melangkah mundur.
"Ah, tidak. Aku tidak usah."
Sambil bergumam tidak jelas, dia menghilang begitu saja. Yu-dan merasa heran.
"Kenapa dia begitu? Aneh sekali."
"Paman akhir-akhir ini memang sangat aneh. Saat diajak bicara, pikirannya melayang entah kemana, dia juga bersembunyi di balik pilar seperti itu dan diam-diam mengamati Cheonho-nim."
"Pasti karena surat itu."
"Benar. Sejak menerima surat itu dia jadi aneh."
Baekran menatap si kembar.
"Surat apa maksud kalian?"
"Memangnya ada surat apa yang datang?"
Tanya Heukyo juga. Si kembar menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Entahlah. Kelihatannya seperti surat penting."
"Jangan-jangan cinta pertama di masa lalunya yang mengirimkan surat?"
"Ah, masa iya."
Kedua anak itu tertawa terkikik-kikik.
Yu-dan kembali melanjutkan tugasnya membersihkan noda pada barang antik. Heukyo yang sebelumnya turun ke lantai bawah dengan alasan akan mengambil barang lain tiba-tiba berlari ke atas dengan langkah berat.
"Ketemu! Surat ini, kan?"
Sambil berkata begitu, dia mengibaskan secarik kertas hanji yang dipenuhi tulisan kuas. Paman Do berlari menyusulnya dengan wajah pucat.
"Adikku! Jangan! Sini berikan!"
"Tidak mau. Mari kita lihat siapa yang mengirimkan surat seperti ini kepada Paman. Tulisannya sangat indah."
"Tolong berikan ke sini."
Saat Baekran mengulurkan tangannya, Paman Do menjadi panik. Dia merasa gelisah, lalu tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam.
"Karena sudah begini, apa lagi yang harus kusembunyikan. Sebenarnya Seok-ryu yang mengirimkan surat. Sepertinya musibah besar telah terjadi di kediaman Tuan Besar di Desa Bukchon."
Wajah semua orang berubah. Heukyo dan si kembar serentak menatap Baekran.
"Oh, benarkah begitu?"
Wajah Baekran tampak dingin dan tidak peduli. Yu-dan baru pertama kali melihat ekspresi seperti itu. Sepertinya suasana hatinya sangat buruk.
"Kenapa bisa begitu?"
Saat Chaewoo bertanya, Paman Do menghela napas panjang.
"Mereka sendiri juga sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Saking frustrasinya, mereka mencoba meramal untuk mencari tahu, dan ternyata ada Dongti (kutukan) karena barang yang salah dibawa masuk."
Mendengar kata Dongti, Yu-dan langsung bergidik.
Katanya itu adalah bencana yang diterima karena salah menyentuh barang yang ditempeli hantu atau barang yang memiliki kekuatan misterius. Ingatannya tentang kejadian saat dia membawa lukisan berhantu dari Dinasti Joseon dan hampir mati karena dikutuk masih sangat jelas.
"Hanya itu saja. Mereka tidak bisa menemukan barang yang mana. Karena tidak ada yang bisa mereka lakukan, sekarang ada banyak goblin yang terbaring sakit. Tidak perlu dilihat pun sudah jelas. Ini pasti ulah bajingan-bajingan goblin Seochon lagi. Mereka berusaha menggunakan segala macam cara untuk menjatuhkan Tuan Besar, mengusir keluarga kami, dan merebut kediaman itu. Aku sebenarnya juga tidak ingin terlibat dalam masalah memusingkan seperti itu, tapi apa boleh buat, namanya juga kerabat, aku menerima permohonan seperti ini.... Kalau dipikir-pikir wajar dia begitu memohon padaku. Karena jika Cheonho-nim bersedia datang, apa pun masalahnya pasti akan langsung terselesaikan."
Wajah Baekran menjadi kaku.
"Menjilatku juga percuma. Untuk apa aku pergi ke sana? Mau dikerjai apa lagi nanti."
"Oh, benar. Tentu saja—"
Paman Do berkeringat dingin.
"Tentu saja karena itu, aku berniat untuk menyelesaikannya sendiri dan menolaknya dengan tegas. Aku harus pergi dan berkata 'Tidak tahukah kau malu mengajukan permintaan seperti itu? Tidakkah kau malu?' Aku akan memarahinya habis lalu kembali. Bolehkah aku pergi ke sana?"
"Sejak kapan kamu pergi harus minta izin? Lakukan sesuka mu karena tamu juga sedang tidak ada."
"Terima kasih."
Paman Do mundur dari hadapan Baekran. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi terpukul, tapi dia berusaha berpura-pura tidak apa-apa.
"Kalau begitu aku berangkat dulu."
Dia mengipasi dirinya sendiri dengan tangan dan melirik ke arah semuanya.
"Mungkinkah ada siluman yang mau ikut menyelesaikan masalah Dongti di kediaman goblin? Sekarang ini sedang masa perekrutan."
Heukyo tersentak dan memalingkan pandangannya.
"Aku tidak menyangka kalau itu surat dari Seok-ryu. Aku bertindak gegabah, Kakak. Tapi...."
Dia melirik sekilas untuk membaca situasi Baekran. Wajah rubah tampak kaku.
"Ah, bukan waktunya untuk ini. Aku harus cepat menjemur cucian."
"Aku harus melanjutkan mengepel lantai."
"Aku harus menyiram tanaman."
Heukyo dan si kembar dengan cepat menyelinap keluar dari ruang baca. Katak menteri (Jeongseung) juga tiba-tiba teringat urusan mendesak dan menghilang.
Paman Do berbalik dengan wajah lemas.
"Semuanya tidak ada gunanya."
Punggung dokkaebi(goblin) paruh baya yang bergumam lemah sambil bersiap-siap untuk pergi itu tampak sangat kesepian.
Yu-dan ragu.
Haruskah aku diam saja. Apa yang harus aku lakukan. Setelah kebingungan, dia akhirnya mendekat sambil berkata, 'Ah, entahlah.'
"Kalau masalahnya ada barang yang salah masuk ke dalam rumah... Bolehkah aku ikut pergi dan melihatnya? Siapa tahu mataku bisa melihat sesuatu."
Paman Do mengangkat kepalanya. Matanya membelalak lebar.
"Kau? Kau mau ikut bersamaku?"
"Bukan, yah.. Aku juga penasaran seperti apa kediaman goblin. Lagi pula tidak ada gunanya kalau sekarang aku belajar memegang buku latihan soal. Meskipun aku tidak tahu banyak, aku hanya akan melihat-lihat sekilas....."
"Kalau kau mau melakukan itu, aku tentu saja sangat berterima kasih!"
Dokkaebi paruh baya itu berteriak keras. Padahal Yu-dan mengira dia akan menolaknya dengan berkata 'Tidak boleh', atau 'Apa urusanmu ikut campur'. Di luar dugaannya, dia tersenyum lebar dan terlihat sangat senang. Sepertinya itu sangat tidak terduga baginya.
"Bagus. Kalau begitu mari kita segera berangkat."
Pada saat itu—
"Mau kemana kalian."
Baekran tiba-tiba menyela. Meskipun wajahnya masih kaku, Yu-dan tidak perlu bersikap mengamati situasi seperti Heukyo, si kembar, atau katak.
"Kenapa? Goblin-goblin yang terbaring karena Dongti itu tidak akan bisa melakukan apa pun padaku, kan? Apa masalahnya jika aku pergi bersama Paman? Aku cuma mau pergi dan melihat-lihat. Kalau aku bisa menemukan benda aneh itu, bagus. Kalau tidak, ya sudah."
"Sejak kapan kamu jadi orang yang begitu peduli dan menyayangi goblin?"
"Bicara apa kau ini! Apa aku melakukan ini karena aku suka goblin? Meskipun Paman pemarah dan pembuat onar, dia tetaplah anggota keluarga, tapi karena kalian semua pura-pura tidak tahu, maka aku setidaknya harus......"
Emosinya meluap.
"Kenapa juga aku harus memberikan alasan seperti ini! Terserahku mau pergi ke mana dan melakukan apa, kan? Aku tahu apa niatmu sebenarnya! Melarang orang lain pergi ke sana hanya karena kau sendiri tidak mau pergi itu agak, agak......."
"Apa? Kekanak-kanakan?"
"Aku tidak bilang begitu!"
Baekran masih menunjukan raut kaku. Dengan kedua telinganya ditegakkan lurus sejajar angka 11, dia menggigit bibirnya.
"Baiklah. Aku akan pergi. Aku akan langsung pergi dan menyelesaikan semuanya hanya dalam satu menit."
"Ya?"
Paman Do membalas bertanya karena terkejut. Baekran menjawab dengan dingin.
"Kau berhasil."
"Berhasil apanya? Cheonho-nim, apa maksud— bukan, maksud ku apa yang—"
"Panggillah aku saat kalian sudah tiba."
Dia memotong ucapan Paman Do dan melempar rubah kertas ke arahnya.
Paman Do dengan cepat menangkap dan menyimpannya. Karena Baekran yang akan datang menyelesaikannya, dia tampak lega, tapi di sisi lain, dia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mengatakan kelakuan rubah tidak bisa dipahami.
Yu-dan juga merasakan hal yang sama.
Dia sama sekali tidak mengerti pemikiran di dalam kepala rubah.
. . .. .... ........
