LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 82>


 penerjemah: oyen
Baca di langitoren.my.id

​Karena merasa sangat marah telah kehilangan pasangan kelinci bulan yang hampir berhasil ditangkap, mereka melempar batu dan ranting pohon secara serampangan. Namun lemparan mereka bahkan tidak bisa mencapai tempat Yu-dan berada.  

​"Sia-sia!"

"Ayo lempar lagi kalau bisa!"  

​Si kembar berdiri di haluan perahu berteriak. Yu-dan melepaskan galah panjang yang dipegang.  

​"Apa kita berhasil?"  

​Saat itu perahu tiba-tiba oleng.  

​"Eh?"  

​Semuanya panik. Perahu kayu itu miring ke satu sisi. Bagian perahu tempat meletakkan jebakan yang mengurung kelinci betina miring dan air masuk melalui celah di dasar perahu.  

​"Bawahnya bocor!"  

​Paman Do dengan panik menutupinya dengan telapak tangannya.  

​Saat air masuk, perahu itu miring dengan semakin cepat. Semuanya bergegas ke sisi yang berlawanan untuk menyeimbangkan perahu, tetapi hal itu tidak ada gunanya. Sungguh kejadian yang tidak masuk akal.  

​"Tidak mungkin! Padahal kita ada berapa orang!"

"Apa gunanya. Saat itu tidak ada siapa-siapa di sini. Di perahu ini hanya ada dua ekor kelinci bulan."  

​Baekran sedikit menggigit bibirnya.  

​"Meskipun sebenarnya tidak boleh melakukan ini......."  

​Setelah melihat sekeliling, dia diam-diam mencelupkan ujung tombaknya ke sungai, lalu sesosok siluman mirip kadal raksasa muncul dan menopang perahu. Perahu yang tadinya oleng itu akhirnya bisa kembali seimbang. Namun itu hanya sesaat, kadal itu semakin lama semakin menyusut.  

​Baekran menghela napas.  

​"Sepertinya memang hanya sampai di sini saja."  

​Tenaganya seolah terkuras habis. Yu-dan jatuh terduduk dengan lemas.  

​"Padahal kita sudah melarikan diri dengan susah payah!"

"Lagi pula, bukankah kamu sudah tahu sejak awal usaha ini akan sia-sia? Melihat kita berhasil sampai di sini, sepertinya di masa lalu kedua kelinci bulan itu juga berhasil sampai sejauh ini. Mereka pasti berhasil melarikan diri dan naik ke perahu ini. Tapi....."  

​Baekran memotong kalimatnya.  

​Pada akhirnya perahu ini terbalik. Itu adalah fakta yang tidak bisa diubah.  

​Kelinci jantan itu putus asa.  

​"Tidak! Sayang! Sayang!"  

​Dia mengguncang-guncang jebakan itu dengan putus asa, tapi tidak mungkin jebakan yang sebelumnya tidak bergeming sedikit pun itu tiba-tiba terbuka sekarang. Dari celah jeruji besi, sebuah kaki depan yang berbulu lebat terjulur keluar.  

​"Sayang...."  

​Suara kelinci betina itu bergetar. Keduanya saling menggenggam erat kaki depan dan menyatukan dahi mereka.  

​Kecepatan kemiringan perahu semakin bertambah.  

​"Berpeganganlah yang erat."  

​Mengikuti instruksi Baekran, semuanya berpegangan erat pada sisi perahu. Segera setelah setengah bagian perahu tertelan oleh arus sungai yang bergelombang, perahu itu terbalik seketika.  

​Jadi pada akhirnya akan berakhir seperti ini.  

​Byur! Riak air memercik.  

​Air sungai di tempat perahu itu tertelan bergolak dengan ganas. Yu-dan dan para siluman terseret arus. Pasangan kelinci bulan itu berusaha keras untuk saling berpegangan erat melintasi jeruji besi, namun arus air yang deras menyapu di antara mereka berdua.  

​"Kita tidak boleh berpisah seperti ini! Sayang! Mari kita bertemu lagi! Di kehidupan selanjutnya agar kita tidak berpisah seperti ini! Mari kita terlahir sebagai manusia!"

"Iya. Aku berjanji. Mari kita terlahir sebagai manusia dan bertemu lagi di tempat kita pertama kali bertemu pada hari Tanabata. Di kehidupan selanjutnya mari kita hidup bahagia selamanya."  

​Keduanya terseret arus sungai yang deras. Mereka berusaha berpegangan hingga akhir, namun pada akhirnya mereka terlepas.  

​Air sungai yang kelam menyapu mereka semua.  

​Yu-dan meronta di dalam air. Meskipun dia tahu ini adalah ilusi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga beberapa saat kemudian, tangannya membentur lantai dengan keras.  

​Dia perlahan membuka matanya.  

​Air sungai yang sebelumnya bergolak ganas telah menghilang. Keempat sisi ruangan hanya berupa dinding, sebuah ruangan kosong tanpa apa pun di dalamnya.  

​Kelinci jantan—tidak, tamu Malam Tanabata itu sedang duduk tersungkur di lantai. Wajahnya masih terlihat seperti belum bangun dari mimpi.  

​"Sekarang aku baru mengerti. Ternyata itu alasannya kenapa hatiku selalu tertutup setiap kali bertemu wanita mana pun. Karena satu-satunya yang aku cintai hanyalah istriku."  

​Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya.  

​"Aku berhasil! Lihat ini! Aku berhasil menepati janji itu dan terlahir sebagai manusia seperti ini! Istriku pasti juga berhasil! Dan hari ini adalah hari Tanabata! Aku harus pergi! Dia pasti menungguku di tempat kita pertama kali bertemu! Dia pasti terus menungguku sampai sekarang!"  

​Dia segera bangkit dan berlari. Melewati lorong, berlari keluar dari toko. Namun, begitu keluar, dia berhenti.  

​Di langit malam, bulan separuh bersinar terang. Di seberang atap-atap genteng jalan perbelanjaan tradisional yang diselimuti kegelapan, terlihat gedung-gedung yang diterangi oleh lampu.  

​Tamu itu tidak bisa melangkah lebih jauh saat dihadapkan pada pemandangan itu.  

​"Ada apa?"

Tanya Chaewoo.  

​"Aku tidak tahu.."

Dia menjawab dengan lemas. Heukyo mendesaknya dan bertanya.  

​"Apa yang tidak kau ketahui?"

"Tempat kita pertama kali bertemu. Aku tidak tahu di mana tempat itu. Selama ini, dunia telah terlalu banyak berubah."  

​"Semuanya bilang begitu."

Yu-dan dengan cepat menimpali.  

​"Paman tinggal keluar saja. Paman sebut saja perkiraan arahnya, aku bisa ikut bersama Paman. Dulu juga aku pernah beberapa kali mengantar orang seperti ini."  

​Pria itu menatap Yu-dan.  

​Seolah mendapatkan keberanian, dia kembali melangkah, namun itu pun hanya sesaat. Tamu itu baru berjalan beberapa langkah dan berhenti lagi. Dia hanya terus berputar-putar di tempat itu untuk waktu yang lama.  

​"Sepertinya Anda sudah terlalu lama melupakannya."

Baekran berkata pelan.  

​Pria itu merasa sangat putus asa dan hanya terus memandangi kota yang menyilaukan di bawah langit yang gelap. Waktu yang terasa seperti keabadian berlalu.  

​Suara jam bandul terdengar dari dalam toko.  

​"Malam Tanabata telah berakhir."

Mendengar perkataan Baekran, pria itu merasa putus asa dan jatuh terduduk di tanah.  

​"Ini tidak mungkin. Bukan tanpa alasan aku datang ke toko ini. Takdir pasti telah menuntunku ke sini."

"Kurasa juga begitu. Anda yang selama ini melupakan janji hari Tanabata di masa lampau dan hidup dengan hati kosong, pasti bersusah payah datang ke sini untuk mencari bantuan."  

​"Tidak mungkin ikatan takdir kita berakhir seperti ini. Aku merasa tempat kita pertama kali bertemu tidak jauh dari sini. Dia pasti ada di suatu tempat di seberang sana. Aku tidak bisa menemuinya karena aku tidak tahu di mana tempatnya...."  

​"Bisa jadi itu hanya kesalahpahaman Anda. Karena tidak ada jaminan bahwa istri Anda pasti bereinkarnasi. Bahkan jika dia telah bereinkarnasi, dia mungkin tidak mengingat suaminya. Anda sendiri pun melupakannya sebelum datang ke sini. Padahal perpisahan kalian begitu menyayat hati."  

​Meskipun Baekran tampaknya berusaha menghibur dengan caranya sendiri, namun kata-kata itu malah membuat pria itu semakin merasa hampa. Yu-dan juga ikut merasa hampa dan menatap langit. Kota di bawah langit malam yang gelap. Langit malam yang gelap. Langit yang gelap.......  

​Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepalanya.  

​"Jangan-jangan......."

Semuanya menatap Yu-dan. Heukyo bertanya.  

​"Jangan-jangan apa?"  

​"Mungkinkah ini karena Bima Sakti? Di malam saat kita baru saja melihat kejadian itu, ada Bima Sakti di sana. Katanya kalian pertama kali bertemu juga di malam Tanabata saat Bima Sakti bersinar di langit malam, kan? Tapi sekarang tidak terlihat Bima Sakti di langit itu. Kalau Bima Sakti kembali bersinar sama seperti saat itu, mungkin ingatan tentang di mana tempat kalian pertama kali bertemu akan muncul kembali...."  

​Yu-dan menambahkan.  

​"Tentu saja ini sama sekali tidak logis."

"Tidak! Itu adalah perkataan yang cukup masuk akal!"  

​"Benar. Di dalam alam bawah sadar kita, afa ingatan-ingatan terpendam. Dikatakan bahwa suatu rangsangan bisa menjadi pemicu dan tiba-tiba membangkitkan ingatan itu."

"Lagi pula, Bima Sakti di Malam Tanabata memiliki kekuatan misterius."  

​Heukyo dan si kembar berlomba-lomba menimpali. Wajah kelinci jantan itu bersinar penuh harapan. Namun tak lama kemudian berubah menjadi keputusasaan.  

​"Tapi dengan cara apa kita bisa memunculkan kembali Bima Sakti di langit? Karena polusi lingkungan, itu sudah tidak mungkin lagi sekarang."  

​Semuanya menatap Baekran.  

​"Bagi rubah, selalu ada jalan."

Baekran menanggapi.  

​"Hari di mana sakuku kosong adalah hari di mana aku harus mempertaruhkan nyawaku. Masalahnya adalah waktu, meskipun Malam Tanabata telah berakhir, mungkin masih ada sedikit waktu tersisa...."  

​Kemudian dia langsung berbalik dan bergegas naik ke atas.  

​"Serangga Terbang (Uchung) merujuk pada serangga bersayap. Yakni burung. Hal-hal aneh yang disebabkan oleh burung disebut 'Malapetaka Serangga Terbang' (Uchung-eol), dan banyak kasus Uchung-eol semacam itu tercatat dalam buku-buku sejarah seperti 『Goryeosa (Sejarah Goryeo)』. Misalnya ribuan burung hantu terbang di atas Gwanghwamun di masa Raja Injong dan baru menghilang sepuluh hari kemudian. Atau kawanan gagak yang terbang dari arah timur menutupi seluruh langit di masa Raja U dan juga baru terpencar sepuluh hari kemudian."  

​Tempat ini adalah atap. Semuanya menaiki tangga mengikuti Baekran dan naik ke atap Banwoldang.  

​"Tentu saja hanya ada satu Bima Sakti. Tapi, pernah ada dua Bima Sakti muncul di langit pada masa pemerintahan Raja Hyeonjong. Meskipun tidak ada yang mengetahuinya, sebenarnya itu juga merupakan Uchung-eol. Hanya saja, Serangga Terbang (Uchung) itu bukan berasal dari dunia ini."  

​Baekran mengangkat serulingnya. Itu adalah seruling ajaib berwarna giok.  

​"Mulai sekarang, aku akan memanggil Uchung itu."

Semuanya memandang siluman rubah dengan ekspresi penuh harap.  

​Baekran menempelkan seruling di bibirnya.  

​Yu-dan memasang telinganya. Namun, tidak ada satu suara pun yang terdengar. Apa karena frekuensinya tidak cocok? Apa seperti gelombang ultrasonik lumba-lumba yang berada di luar jangkauan pendengaran manusia?  

​Namun sebagai gantinya, suaranya bisa terlihat oleh mata. Suara seruling yang melayang-layang dan membumbung ke langit bagaikan gelombang misterius itu tampak seperti aurora di Kutub Utara. Kilauan cahaya yang sangat indah mengambang dengan gemulai lalu menyebar luas, dan bayangan cahayanya yang berkelap-kelip menutupi langit malam.  

​Lalu beberapa saat kemudian.  

​Kegelapan di tempat itu memudar dan bintang-bintang yang bersinar terang pun muncul. Gugusan bintang berwarna putih membentang panjang membelah di tengah langit malam yang gelap. Bima Sakti telah menampakkan wujudnya.  

​Kelinci jantan itu menatap ke langit dengan wajah tak percaya.  

​"Tidak mungkin!"

"Anda harus bergegas. Aku tidak bisa memanggilnya untuk waktu yang lama."  

​Mendengar perkataan rubah, pria itu dengan tergesa-gesa menuruni tangga.  

​Yu-dan dan si kembar saling bertatapan. Tanpa ada yang memerintahkan lebih dulu, mereka berlari mengikuti kelinci jantan itu. Chaesol bertanya.  

​"Bagaimana? Sepertinya Paman bisa menemukannya?"

"Entahlah!"  

​Pria itu keluar dan ragu-ragu sejenak. Namun tak lama kemudian dia mulai berlari sekuat tenaga ke satu arah. Semuanya pun ikut berlari.  

​Lewat tengah malam, Bima Sakti tiba-tiba muncul di langit malam Seoul. Cahayanya turun ke dunia.  

​Seorang wanita yang berjalan membawa kantong plastik minimarket mendongakkan kepalanya menatap langit. Para pemabuk yang sedang merokok menunjuk ke langit dengan terkejut. Ada juga orang-orang yang memotretnya dengan ponsel.  

​Itu adalah fenomena supernatural yang ditimbulkan oleh Serangga Terbang (Uchung) yang bukan berasal dari dunia ini. Mungkin pemandangan ini tidak akan terlihat sejelas ini di mata orang lain. Selain itu, setelah waktu ini berlalu, mereka pasti akan melupakannya. Mereka mungkin akan menemukan foto langit malam yang buram nantinya dan merasa bingung sambil bertanya-tanya mengapa mereka memotretnya. Fenomena supernatural memang seperti itu. Namun, alangkah baiknya jika ada hal-hal yang tidak dilupakan oleh orang-orang. Andai saja ada beberapa hal yang tetap tersisa di ingatan mereka. Yu-dan berlari sambil memikirkan hal itu.  

​"Maafkan saya. Maafkan saya."

Pria itu mendorong orang-orang yang lewat dari arah berlawanan dan terus berlari. Yu-dan dan si kembar mengejarnya dengan napas terengah-engah.  

​"Sepertinya Paman sudah tahu arahnya?"

"Ya! Aku yakin!"

"Akhirnya Paman mengingatnya!"  

​Inilah saat paling mendesak dalam hidupnya. Ketika sepatu kulitnya menghalangi jalannya, dia langsung melepasnya, dan saat dia kelelahan, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu berlari lagi seolah-olah waktu itu sangat berharga.  

​Sebelum keajaiban Bima Sakti yang diciptakan oleh siluman rubah menghilang, pria itu berlari dengan sangat cepat. Bayangan dirinya tumpang tindih dengan wujud Kelinci Bulan yang berlari mengejar jebakan yang mengurung istrinya. Tentu saja mau tidak mau dia harus mendukungnya. Terlepas dari urusan cinta atau apa pun, ini adalah sosok sebuah jiwa yang berjuang keras demi sesuatu yang dia yakini berharga.  

​Tanpa terasa mereka sudah berlari di sepanjang tepi Sungai Han. Bima Sakti yang misterius itu terpantul di sungai yang gelap. Pria itu berlari di jalan setapak di antara semak-semak dan akhirnya menghentikan langkahnya.  

​"Apakah di sini? Benar di sini?"

Yu-dan bertanya. Karena berlari terlalu kencang, jantungnya terasa mau pecah. Sambil perlahan-lahan mengatur napasnya, dia melihat sekeliling.  

​Itu adalah lahan basah (rawa) Sungai Han. Aroma basah musim panas memenuhi seluruh rongga dadanya. Pohon-pohon merundukkan rantingnya dengan tenang dan rumput-rumput tumbuh rimbun. Pria itu berjalan di atas jalan setapak kayu sambil celingukan.  

​"Sayang...."

Suaranya yang bergetar terdengar dengan jelas.  

​Tidak ada yang menjawab. Tidak ada tanda-tanda kehadiran siapa pun, hanya ada kesunyian. Pria itu kembali memanggil dengan suara bergetar.  

​"Sayang....?"  

​Dari suatu tempat, terdengar kepakan sayap burung yang terbang. Suara hewan-hewan kecil di lahan basah itu juga terdengar. Selain itu, masih hanya ada kesunyian.  

​"Aaaah....."

Pria itu bersandar di pagar dek observasi seperti akan pingsan.  

​"Harusnya di sini. Apakah aku salah? Entah kenapa aku merasa dia pasti akan menunggu. Tetapi ternyata tidak. Apakah dia benar-benar gagal bereinkarnasi? Atau apakah dia telah melupakanku sepenuhnya? Sama seperti diriku....."  

​Pada saat itu, si kembar menoleh ke belakang.  

​Drek drek. Terdengar suara sesuatu yang keras bergulir di atas kayu. Di dalam kegelapan, seseorang berjalan. Begitu melihat ke arah mereka, orang itu langsung berhenti melangkah.  

​"Aku tidak tahu kalau ada orang di sini...."

Terdengar suara yang pelan dan lembut.  

​"Ah, maafkan aku. Aku bertingkah seeprti sudah memesan tempat ini saja. Soalnya ini adalah tempat favoritku. Kalau tidak keberatan, bolehkah aku juga menonton bersama dari sini?"  

​Di bawah cahaya Bima Sakti, wajah wanita itu terlihat.  

​Meskipun dia sudah menduganya, dia hampir saja menjerit.  

​Tatapan pria itu langsung terpaku. Melintasi waktu yang sangat lama, wajah istri yang sangat dirindukannya itu ada di sana.  

​Ini aneh sekali. Padahal dia berlari dengan keyakinan penuh akan keajaiban, tetapi ketika hal itu benar-benar terjadi di depan matanya, dia seolah tidak bisa mempercayainya. Ekspresinya tampak benar-benar seperti orang yang kehilangan akalnya.  

​Karena semuanya menatapnya dengan tajam, wanita itu merasa panik. Barulah dia teringat lalu berseru 'Ah,' dan menunduk ke bawah. Identitas dari suara aneh drek drek itu adalah koper perjalanannya.  

​"Maaf. Berisik, ya?"

Dia kembali meminta maaf.  

​"Sebenarnya, ini mungkin terdengar gila, tapi aku jauh-jauh terbang dari Amerika Serikat hanya untuk datang ke sini. Meskipun aku kuliah di sana dan bahkan sudah bekerja, aku selalu merasa harus datang ke sini setahun sekali. Aku merasa tidak bisa jika tidak datang. Biasanya aku tiba di malam hari, mondar-mandir sampai tengah malam, lalu kembali. Jangan tanya kenapa aku melakukan ini. Karena aku sendiri juga tidak tahu. Bagaimanapun juga, baru saja saat aku hendak naik bus menuju bandara dan berpikir bahwa aku harus menghentikan kegilaan ini, aku melihat ke langit dan Bima Sakti terbentang di sana. Tiba-tiba pikiranku menjadi kosong, aku sepenuhnya dikuasai oleh pikiran bahwa aku harus kembali ke sini, dan akhirnya aku kembali dengan tergesa-gesa."  

​Wanita itu menceritakan hal yang tidak ditanyakan seolah-olah sedang memberikan alasan, dan berdiri bersama mereka di pagar pembatas. Mata yang bersinar itu menatap ke langit.  

​"Entah sudah berapa lama sejak aku melihat Bima Sakti."  

​"Tapi, kelihatannya Bima Saktinya sedikit lebih pudar dari yang tadi. Apakah sudah terlalu terlambat?"

Pria itu akhirnya tersadar.  

​"Tidak."

Senyum cerah pertama kali merekah di wajah pria itu.  

​"Sama sekali belum terlambat."  


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.