LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 81>


penerjemah: oyen
Baca di langitoren.my.id

​Karena jebakan telah beroperasi, wajar jika pemburu yang memasangnya muncul. Terdengar suara langkah kaki beberapa orang berjalan cepat. Di antara suara-suara orang mengobrol, terdengar suara tawa yang melengking jelas.

​"Hahaha! Akhirnya kena juga."

​"Hebat sekali, Pendeta Tao. Tidak disangka Anda akhirnya berhasil menangkap Kelinci Bulan dari legenda."

​"Mengelabui mata dan telinga orang-orang bodoh itu bukan apa-apa. Sebelum ada yang mengincarnya, aku harus cepat-cepat membelah perutnya dan mengeluarkan Naedan-nya terlebih dahulu."

​"Tunggu sebentar, Pendeta Tao. Toh Naedan-nya tidak akan lari ke mana-mana, bukankah sebaiknya kita menguliti bulunya terlebih dahulu? Jika ada bekas sayatan pisau di kulitnya, harganya akan jatuh drastis."

​"Kau ini selalu khawatir yang tidak perlu. Kalau begitu kuliti saja hidup-hidup!"

​"Hidup-hidup? Astaga, Pendeta Tao ada-ada saja. Mereka pasti akan meronta, bagaimana bisa kita mengulitinya dalam keadaan hidup?"

​"Kau tidak tahu apa-apa! Kelinci Bulan sangat terkenal dengan kasih sayang yang dalam antar pasangannya. Aku pernah membaca di buku jika kita mengancam akan membunuh pasangannya dengan pisau, dia tidak akan melawan meskipun dikuliti hidup-hidup. Kebetulan aku juga ingin mengujinya."

​Pendeta Tao dan komplotannya terus berceloteh tanpa ragu seakan Kelinci Bulan sudah berada di tangan mereka.

​"Ah, benar-benar orang-orang gila."

​Yu-dan mengerutkan dahi. Seperti yang kadang dia rasakan saat menonton berita, kekejaman manusia memiliki sisi menjijikkan yang berbeda dari kekejaman hantu atau siluman.

​"Aku tidak mengerti di buku macam apa tertulis kata-kata seperti itu."

​Baekran juga mengernyitkan dahinya. Siluman yang lain pun tak perlu ditanya lagi. Wajah mereka memerah menahan marah.

​"Cheonho-nim, apakah Anda akan membiarkan bajingan-bajingan itu begitu saja?"

​"Kakak, tenanglah. Di dunia ini kita hanyalah pengamat."

​"Benar, Kak. Tidak ada gunanya kita ikut campur."

​Pohon-pohon dan semak-semak bergoyang kasar saat mereka akhirnya muncul. Di belakang Pendeta Tao dengan rambut hitam yang mulai beruban dan dibiarkan tergerai, sekelompok pria berwajah garang bersenjata tombak bambu mengikutinya. Mereka mendekati jebakan sambil tertawa-tawa kegirangan, lalu menghentikan langkah mereka saat dihadapkan pada pemandangan yang tak terduga.

​"Hei, apa-apaan ini! Kenapa banyak siluman rendahan berkumpul berkerumun di sini? Beraninya kalian tidak tahu diri berkeliaran di dunia manusia. Benar-benar siluman jahat yang kurang ajar!"

​Pendeta Tao membentak. Wajah paman dokkaebi itu kembali memerah menahan amarah.

​"Kau, bicaramu kasar sekali."

​"Aku sebagai siluman merasa sangat tersinggung mendengarnya!"

​Heukyo menerobos Paman Do dan melangkah maju. Dari wajahnya yang dingin, sepasang mata birunya memancarkan kilatan tajam.

​Komplotan Pendeta Tao sejenak tersentak oleh auranya yang mengintimidasi.

​"Siluman wanita ini! Beraninya kau ikut campur!"

​"Aku tahu betul. Baik aku membuat keributan di sini dengan sabetan pedang, maupun hanya melipat tangan dan menonton, tidak ada yang akan berubah. Hanya akan membuang-buang tenaga saja. Karena itulah aku sebisa mungkin berniat diam saja, tapi bajingan-bajingan ini benar-benar menguji batas kesabaranku! Lepaskan Kelinci Bulan ini baik-baik selagi aku bicara baik!"

​Komplotan Pendeta Tao tertawa sinis merasa itu hal yang konyol.

​"Sekarang aku baru sadar kalau kau sudah gila! Perempuan kerempeng sepertimu beraninya berlagak sok jago setelah memungut sebilah pedang usang!"

​Heukyo menoleh dan menatap ke arah nya.

​"Cheonho-nim, aku sudah mencoba menahannya. Sungguh."

​"Ya, aku tahu."

​"Kalau begitu baiklah."

​Sesuatu berkilat di depan mata. Tiba-tiba saja dia telah menghunuskan pedangnya, seketika Heukyo sudah menebas leher Pendeta Tao. Angin kencang yang tercipta saat dia melesatkan tubuhnya tadi menyapu mereka semua sedetik lebih lambat dari dirinya.

​Mata Pendeta Tao membelalak.

​"Siluman wanita ini!"

​Pedang yang menebas dengan kecepatan mengerikan itu dia tahan dengan lempengan logam bundar bermotif Yin-Yang (Taegeuk).

​"Pendeta Tao akan dengan senang hati menguliti kalian semua beserta komplotanmu hidup-hidup! Tidak sabaran sekali kau ini! Tangkap perempuan itu semuanya!"

​"Baik!"

​Mereka semua menyerang sambil mengayunkan tombak bambu. Heukyo dalam sekejap dikepung. Paman Do menoleh ke belakang dengan wajah masam.

​"Anak-anak. Kalian tidak bawa senjata?"

​"Ya, kami tidak bawa apa-apa."

​"Kami tidak menyangka akan jadi genre yang seperti ini."

​Ketiganya menghela napas lalu melompat maju. Paman Do memukuli kepala orang-orang desa itu dengan kipasnya, sementara si kembar menggunakan teknik tangan kosong untuk merebut tombak bambu mereka.

​Apa aku juga harus melakukan sesuatu?

​Yu-dan mendekat dengan ragu-ragu. Namun, ada yang aneh.

​Orang-orang itu bergerak cepat dengan hembusan angin seperti badai tercipta dari tombak bambu mereka. Rasanya seperti melihat para master bela diri di film Wuxia. Pendeta Tao hampir selevel dewa. Pedang Heukyo yang mengerikan itu telah dipantulkan kembali beberapa kali.

​Kalau aku ikut campur, tulangku mungkin tidak akan tersisa, kan?

​Kakinya otomatis melangkah mundur dan dengan patuh kembali ke samping Baekran.

​"Sebenarnya di mana ini? Bukankah ini cuma desa pegunungan biasa?"

​"Ini memang desa biasa."

​"Tapi kenapa mereka semua sekuat itu? Lihat siluman ular sampai terdesak! Kalau begini terus mereka bahkan bisa menaklukkan dunia! Benar-benar!"

​"Mereka belum sampai bisa menaklukkan dunia. Itu bukan karena mereka kuat, melainkan karena mereka hanya terlihat kuat bagi kita. Di dunia ini, kita hanyalah makhluk asing yang menyusup masuk untuk sementara. Di dunia ini, kita lebih lemah dari serangga."

​Yu-dan ternganga mendengar perkataan rubah.

​"Ini penipuan!"

​"Bicaralah yang benar. Kitalah yang menyusup masuk dan menipu mereka."

​Baekran kembali mengayunkan pedangnya hingga berbunyi Trang! dan kali ini bahkan sambaran petir menyambar. Rasanya gendang telinganya akan pecah dan mata akan menjadi buta. Meskipun begitu, jebakan itu masih tetap utuh, tidak ada satu pun sudut yang terlepas.

​"Sekarang sudah jelas."

​Baekran menurunkan tangannya.

​"Pada akhirnya, jebakan ini tidak hancur di masa lalu."

​"Lalu bagaimana ini?"

​Yu-dan menatap kelinci jantan itu. Kelinci itu tampak sangat gelisah, lalu menundukkan kepalanya dalam setelah mendengar perkataan rubah itu.

​"Sepertinya hal itu benar akan terjadi. Kejam sekali. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apa pun. Hanya karena dosa terlahir sebagai Kelinci Bulan, istriku akan mati dengan cara yang mengerikan di tangan manusia-manusia kejam itu."

​Tidak, tunggu sebentar. Bukan ini tujuannya kita menyeberangi Bima Sakti?

​Saat dia menoleh ke arah si kembar, anak-anak itu pun sedang sibuk bertarung. Beberapa komplotan Pendeta Tao berhasil mengibaskan si kembar dan berlari ke arah mereka.

​"Kalau begini terus kita bisa kehilangannya! Kita tangkap Kelinci Bulan itu dulu!"

​Kelinci betina itu saking ketakutannya kembali menabrakkan seluruh tubuhnya untuk menghancurkan jebakan. Tentu saja itu tidak ada gunanya.

​"Tidak bisa. Sayang, lebih baik kamu lari saja."

​"Mana mungkin aku pergi sendiri! Kalaupun harus mati, kita harus mati bersama!"

​Kedua ekor kelinci itu saling menggenggam kaki depan melalui sela-sela jeruji besi dan gemetar ketakutan.

​Dada Yu-dan terasa sesak. Rasanya seperti ada dinding besar di depan matanya. Bagaimanapun dia berusaha, hal yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Itu adalah cerita yang sangat dibencinya. Namun, jika karena itu dia tidak melakukan apa-apa, dia jauh lebih membencinya.

​Saat itu sebuah pikiran terlintas.

​Yu-dan mengangkat jebakan itu sekuat tenaga. Tumpukan tanah dan rumput yang ditutupi oleh komplotan Pendeta Tao untuk kamuflase berguguran.

​"Kalau tidak bisa dihancurkan, bawa lari saja!"

​Baekran menatapnya dengan raut wajah yang mengatakan itu konyol.

​"Dengan melakukan hal itu, memangnya kau bisa kabur sampai mana?"

​"Entahlah! Tolong urus sisanya!"

​Yu-dan juga meraih dan membawa kelinci jantan yang bergelantungan di jebakan, lalu berlari tanpa arah. Komplotan Pendeta Tao terkejut. 

​"Pendeta Tao! Siluman aneh itu mencuri Kelinci Bulan!"

​"Tidak boleh!"

​Pendeta Tao mendorong Heukyo dengan keras lalu mengayunkan lempengan logam bermotif Yin-Yang miliknya.

​"......Geup-geup-yeo-yul-ryeong (Segeralah patuh, ini perintah)!"

​Setelah membaca mantra, seorang raksasa hitam bangkit dari tanah. Segera setelah wujudnya terbentuk, ia langsung mengayunkan kakinya.

​Brak!

​Yu-dan bergulingan sambil memeluk jebakan dan kelinci jantan. Padahal makhluk itu sangat besar, tapi bagaimana bisa dia bergerak secepat ini? Tanpa memberinya kesempatan untuk sadar, raksasa itu kembali mengangkat kakinya tinggi. Pikirannya menjadi kosong.

​Kalau begini aku benar-benar akan gepeng.

​Pada saat itu, sebuah pikiran terlintas.

​Begitu dia memikirkannya, tanduk goblin langsung muncul di tangannya. Bersamaan dengan itu, bayangan kaki raksasa itu menutupi Yu-dan terlebih dahulu.

​"Aaaakh!"

​Pasangan kelinci itu menjerit. Tepat sebelum diinjak kaki raksasa itu, Yu-dan mengayunkan tangannya dengan tergesa-gesa.

​Kaki raksasa itu bergoyang-goyang.

​Berhasil!

​Yu-dan menatap raksasa itu dengan mata berbinar. Namun, tak lama kemudian binar di matanya dengan cepat memudar.

​...Atau tidak?

​Raksasa itu masih berdiri. Tidak terjadi apa-apa. Tidak. Ada sesuatu yang terjadi. Ruang di sekitar raksasa itu terdistorsi secara aneh, dan sebuah celah seperti nebula gelap terbuka di garis batasnya.

​Ah, matilah aku.

​Saat dia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

​Sebelum dia bisa melakukan apa-apa, tubuhnya tersedot masuk, lalu dia jatuh terjerembab ke suatu tempat dan jatuh terhempas.

​Yu-dan segera bangkit.

​Dia melihat sekeliling, tapi hanya ada kegelapan. Jantungnya berdegup kencang.

​Entah efek samping apa yang ditimbulkan oleh kekuatan aneh yang terkandung di dalam tanduk goblin kuno itu, ruang terdistorsi dan dia jatuh ke tempat yang aneh. Tanpa kelinci bulan, hanya dirinya sendiri.

​"Di mana ini! Di mana kalian semua!"

​Dia berteriak, tapi hanya kesunyian yang menjawab.

​Apakah lebih baik aku diinjak saja tadi? Dia merasa sangat kebingungan dan serba salah hingga pikiran seperti itu pun terlintas di benaknya. Sensasi udara yang sama sekali berbeda membuatnya semakin ketakutan. Saat dia berjalan sambil melihat ke segala arah dengan panik, sebuah cahaya menyilaukan terlihat di depan. Yu-dan segera berlari ke arahnya.

​"Apakah di sana? Apakah kalian ada di sana?"

​Langkah kakinya yang sedang berlari langsung terhenti.

​Yang ada di sana bukanlah siluman-siluman itu. Seorang anak entah dari mana sedang menutupi seekor hewan dengan kain dan menariknya. Cahaya menyilaukan yang dilihat Yu-dan berasal dari bawah kain itu.

​Mendengar suara langkah kaki, anak itu menoleh sekilas. Yu-dan bertanya.

​"Di mana ini?"

​"Apanya yang di mana. Ini Sillim."

​Itu adalah jawaban yang ketus.

​Dilihat-lihat, penampilan anak itu berantakan. Rambutnya awut-awutan, wajahnya terluka, dan pakaiannya robek. Sepertinya itu bukan situasi di mana dia bisa dengan santai menunjukkan jalan. Namun, satu-satunya manusia di sekitar sini hanyalah anak ini. Yu-dan pun mengikutinya.

​Kalau Sillim, apakah maksudnya daerah Sillim-dong di masa lalu?

​Pemandangan di sekitarnya perlahan-lahan mulai terlihat jelas. Tempat itu adalah hutan yang diterangi cahaya bulan. Pohon-pohon raksasa berjejer, dan lumut yang basah oleh embun malam bersinar. Sebenarnya ini di zaman apa?

​"Aku benar-benar dalam masalah. Bagaimana bisa aku jatuh ke tempat seperti ini? Bagaimana caraku kembali sekarang?"

​"Berisik sekali."

​Anak itu kembali berhenti. Dia mengedarkan pandangannya ke dalam kegelapan.

​"Jangan-jangan kau berasal dari sana?"

​"Di mana?"

​Anak itu menunjuk ke seberang kegelapan dengan jarinya.

​Barulah dia melihatnya. Di antara batang pohon-pohon raksasa, terlihat seberkas Bima Sakti. Kegelapan dan bintang-bintang sedang berputar.

​"Ah, benarkah? Terima kasih!"

​Tepat saat dia hendak berbalik setelah mengucapkan terima kasih, hewan itu menjulurkan kepalanya dari balik kain. Dia pikir itu sejenis rusa, ternyata bukan. Berkepala mirip naga dengan satu tanduk menjulang tinggi. Yu-dan terkejut.

​"Ini Kirin (Qilin)?"

​"Bagaimana kau tahu? Ini adalah 'Qi'. Ibunya."

​"Ibu?"

​"Ada pepatah 'Jantan disebut Qi, betina disebut Lin'. Ibunya Qi, ayahnya Lin. Karena anak-anaknya tidak punya ibu, aku mencurinya untuk kuberikan kepada mereka."

​Yu-dan terdiam sejenak.

​Bagaimana bisa dia berbicara begitu percaya diri setelah mengatakan dia mencurinya? Dulu waktu kecil aku memang sering membuat onar, tapi aku tidak pernah mencuri.

​Oh iya, ini bukan waktunya untuk ini.

​"Ah, iya. Semoga berhasil."

​Yu-dan berbalik dan berlari pergi. Tepat saat dia melompat ke dalam pusaran Bima Sakti di antara batang pohon raksasa itu, dia menoleh ke belakang sekilas.

​Anak itu menatapnya. Sepasang matanya bersinar dengan aneh.

​Apa itu?

​Dia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Angin puting beliung yang sangat besar langsung menyapunya, membuatnya berguling sekali.

​"Paman! Kemari!"

​Chaesol segera menangkap kelinci jantan yang sedang terguling di depan matanya.

​"Pegang yang kuat!"

​Chaewoo melompat dan memeluk jebakan baja yang berisi kelinci betina itu.

​Tempat ini adalah hutan pegunungan di malam hari. Tempat yang sama persis di mana dia hampir diinjak oleh kaki raksasa tadi. Aku kembali lagi. Saking leganya, dia hampir saja meneteskan air mata.

​"Yu-dan tidak apa-apa? Tadi kau menjerit sangat keras."

​"Ti, tidak apa-apa."

​Yu-dan menjawab dengan canggung.

​Ngomong-ngomong, bagaimana situasi di sini sekarang?

​Saat dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, langit memancarkan cahaya yang aneh. Saat dia menoleh ke belakang, wujud raksasa yang dipanggil oleh Pendeta Tao sedang terbelah dan hancur berserakan ke segala arah. Di tengah-tengahnya, tombak Baekran tertancap.

​"Hei, rubah sialan!"

​Pendeta Tao melompat-lompat mengamuk.

​Selama dia jatuh ke tempat yang aneh tadi, sepertinya waktu di sini tidak berjalan banyak. Raksasa yang hampir menginjak Yu-dan dan para kelinci bulan itu dirobek oleh tombak Baekran, dan si kembar dengan cepat berlari lalu melompat menyelamatkan mereka. Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa Yu-dan sempat menghilang sejenak. Mau tidak mau harus dibilang bahwa keberuntungannya sangat bagus. Benar-benar hampir saja dia celaka. Jika anak itu tidak menunjukkan jalannya.......

​Tapi siapa anak itu?

​Perasaannya sangat aneh. Dia ingin memikirkannya lebih jauh sebelum dia melupakannya, tapi seseorang mengguncang tubuhnya dengan keras.

​"Cepat! Ayo kita lari selagi Cheonho-nim mengulur waktu!"

​Paman Do menunjuk ke arah jebakan itu.

​"Ah, iya."

​Entah kenapa, jebakan yang mengurung kelinci betina itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Yu-dan bersama Paman Do mengangkat jebakan itu.

​Heukyo berlari memimpin di depan, menebas semua ranting pohon untuk membuka jalan. Si kembar berlari mengikuti di belakang sambil menggendong kelinci jantan. Kelinci betina memejamkan kedua matanya sambil memegang erat jeruji besi.

​"Maafkan kami. Gara-gara kami... Terima kasih banyak."

​Yu-dan menggelengkan kepalanya.

​Katanya bagaimanapun kerasnya berusaha, masa lalu tidak bisa diubah. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Rasanya seperti mengendarai mobil rusak dan meluncur di tepi jurang. Namun, dia merasa seperti semua orang bekerja sama dan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikannya sampai akhir. Dalam satu kata, ini disebut membuang-buang tenaga secara sia-sia.

​"Ah!"

​Heukyo yang berlari memimpin jalan membuka jalan tiba-tiba menghentikan langkahnya.

​Lereng gunung berakhir, dan di depan mata terlihat sungai yang airnya beriak. Tanpa disadari, fajar mulai menyingsing di langit.

​Tiba-tiba, Baekran muncul.

​"Aku juga ikut melarikan diri. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

​Dari belakang terdengar suara teriakan. Sepertinya komplotan Pendeta Tao itu sudah turun hingga ke kaki gunung. Yu-dan berkata dengan panik.

​"Kita tidak boleh membiarkan mereka direbut begitu saja. Meskipun di masa lalu mereka direbut, kita juga tidak boleh ikut direbut."

​"Apa maksud mu?"

​"Ada perahu di sana!"

​Si kembar melompat dan berteriak kegirangan.

​Semuanya berlari ke sana. Di tepi sungai, sebuah perahu kayu tua tertambat. Mereka segera naik, melepaskan tali, lalu masing-masing mengambil galah panjang di dalam perahu dan mendorong sekuat tenaga pada tepi sungai.

​Perahu kayu kecil itu mengapung ke atas sungai. Sambil mendorong dasar sungai dengan galah, mereka melaju menuju ke tengah sungai yang luas.

​"Berhenti di sana!"

​Pendeta Tao dan komplotannya berteriak.



. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.