LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4




<Chapter 76>

Kisah ke-sembilan belas

<Tamu Bulan Kelima dan Keenam>



Di Yangsan, Gyeongsang Selatan, hiduplah seseorang bermarga Song. Setiap kali putri kecilnya menangis, ia selalu bercanda akan menikahkannya dengan Malaikat Maut jika putrinya terus-terusan begitu.

​Ketika putrinya tumbuh dewasa dan sedang mencari calon suami, seorang pengantin pria berpakaian tradisional Samo Gwandae tiba-tiba datang dan meminta sang putri. Ia terkejut karena menyadari bahwa pria itu bukan manusia dan mencoba mengusirnya, tetapi siapa pun yang menghalangi jalan pengantin pria itu langsung kaku dan tumbang. Sang putri pun menangis dan mengikuti pengantin pria tersebut. Sejak saat itu, ia tidak pernah melihat putrinya lagi.


​『Yoigi』


●◉◎◈◎◉●


Tirai bergoyang tertiup angin. 

 
​Di laci kayu ruang tamu rumah bibi terdapat cetakan pola stensil. Tiga bersaudara bayi beruang pergi piknik membawa keranjang bekal, dan si bungsu di paling belakang terjatuh. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit usai kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, Yu-dan selalu duduk di tempat ini dan menatap benda itu. 

 
​Ingatannya di masa-masa itu semuanya kabur dan terputus. Begitu dia sadar, dia sudah berada di rumah sakit. Tidak ada yang membicarakan tentang kecelakaan itu, dia mengira semua orang mengetahuinya. Namun, untuk pertama kalinya dia berpikir bahwa mungkin itu hanyalah ilusinya.

Catatan tentang kecelakaan kereta api itu tidak ada di mana pun.  

​Saat mengetahui fakta itu, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah kerabat dari pihak ibunya. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan keluarga Yu-dan, dan yang bersama-sama mengurus pemakaman serta membereskan masalah setelah kecelakaan. Apa mereka juga tidak tahu? Apa mereka hanya mengingatnya sebagai semacam kecelakaan lalu lintas biasa? 

​Yu-dan memalingkan pandangannya. Mia sedang berbaring di sofa dan menguap sambil menatap ponselnya, sementara bibinya sedang merapikan piring di dapur. 

Waktu itu, soal kecelakaan itu........ 

​Dia datang ke sini untuk menanyakan hal itu, tapi kata-katanya tidak keluar dengan mudah. Dia merasa terasing dan melayang sendirian di tengah pemandangan yang damai ini.

Semuanya adalah manusia, tapi rasanya seolah-olah hanya dirinya sendiri yang menjadi boneka balon. 

Sungguh menyebalkan, perasaan seperti ini. 

​Sekuat apa pun dia mencoba membuangnya, perasaan itu tidak kunjung hilang. Hanya sensasi keras dan halus yang menyentuh ujung jarinya yang memberikan sedikit penghiburan. 

​Tunggu. Keras dan halus?

​Dia menunduk menatap tangannya dan terkejut. Tanduk goblin purba yang diberikan Baekran entah sejak kapan muncul. Benda itu sepertinya bereaksi dengan sangat sensitif terutama pada emosi-emosi seperti kecemasan, ketakutan, dan kebencian yang dirasakan Yu-dan. Jika maksudnya ingin membantu, dia berterima kasih, tetapi sekarang kondisinya sedang sulit. Walaupun orang lain mungkin tidak tahu, tanduk itu mungkin bisa terlihat oleh mata bibi dan Mia.  

Masuk. Masuklah.

​Begitu dia memasukkan ke dalam sakunya, benda itu menghilang. Yu-dan menyandarkan punggungnya kembali ke sofa seolah tidak terjadi apa-apa. 
​Bibinya mengelap tangannya dengan handuk dan berjalan ke ruang tamu. 

 
​"Tumben sekali kamu datang ke sini dari pagi di hari pertama liburan? Sepertinya kamu bosan. Apa sekolahmu tidak ada kelas tambahan?"  

​"Katanya tidak wajib daftar..."  

​"Mentang-mentang begitu, kamu beneran tidak daftar? Pasti semuanya daftar kecuali kau, kan? Karena sekarang sudah jadi anak SMA, kamu harus berubah dari saat SMP dulu. Bibi akan menaruh tempat tidur tingkat di kamar Hyun (Soohyun), jadi tinggal lah di sana sampai kelas 3 SMA saja. Kakakmu bisa mengajarimu belajar pagi dan malam, betapa bagusnya itu."  

​"Tidak usah! Sekarang juga sudah bagus, kok! Aku melakukannya dengan sangat baik!"

​Yu-dan berseru terdesak. Tinggal bersama seseorang adalah hal yang bahkan tidak ingin dia bayangkan. Apalagi jika harus sekamar dengan siswa teladan seperti Soohyun, dia bisa-bisa menjadi gila.  

​"Bagus apanya."

​Bibinya mengamati Yu-dan dengan raut wajah tidak puas. Suasananya seperti akan ada lebih banyak omelan yang keluar, tetapi untungnya saat ini dia tampak sedang sibuk.

"Jaga anak ini baik-baik. Bibi mau pergi ke kantor pos lalu sekalian mampir ke swalayan. Bibi akan buatkan tonkatsu." 

​"Wah. Ibu memang yang terbaik."

​Mia bertepuk tangan dengan raut wajah suram.  

​Bibinya mengambil payungnya dan keluar. Segera setelah pintu depan terkunci, Mia langsung mengubah ekspresinya dan langsung menginterogasi.

​"Ada apa?"

​"Apanya?"

​"Kau pikir aku tidak tahu? Hal apa yang mau kau katakan sampai tidak berani mengeluarkannya dan hanya melirik-lirik cemas?"  

​Na Mi-a, meskipun biasanya sangat lamban, pasti selalu memiliki firasat yang bagus di saat-saat seperti ini. Di hadapan tatapan tajam kakak sepupunya itu, Yu-dan berusaha keras menyembunyikan kepanikannya.  

​"Kapan aku melirik cemas?"

​"Jujur saja."

​Mia menyenggolnya pelan dengan kaki.

​"Aku tahu semuanya. Rapor sudah keluar, kan? Disuruh minta stempel orang tua, ya kan?"  

​Dia sangat terkejut mendengar perkataan itu.  

​Rapor. Kalau dipikir-pikir dia melupakannya.  

​Yu-dan membongkar tas sekolah yang dibawanya seperti kebiasaan dan mengeluarkan selembar kertas yang lecek. Dia menjejalkannya begitu saja tanpa melihatnya. Sekarang saat dia membukanya, nilainya sangat parah. Mia yang ikut mengintip pun kehilangan kata-kata.

​"Tidak apa-apa. Katanya disuruh bawa saat masuk sekolah."  

​"Tidak apa-apa apanya? Memangnya kalau hari masuk sekolah tiba, nilai ini bakal berubah? Sini berikan padaku."

​Mia merebut rapor itu dan berdiri. 
​"Bisa bahaya kalau ibu melihat ini, dia bisa pingsan. Curi saja stempelnya. Lihat kan betapa berbaktinya aku."

​Dia langsung masuk ke kamar utama dan membongkar laci meja rias. Gerakannya tampak sangat ahli.

​"Sepertinya kau tidak hanya berbakti satu dua hari saja."

​"Ini dia."

​Mia segera menemukan kantong stempel itu. Namun, bagian dalamnya kosong. 
​"Eh? Ke mana perginya?"  

​"Jangan-jangan bibi sudah tahu sebelumnya dan menyembunyikannya?"

​"Ibuku tidak mungkin seteliti itu. Ah, benar juga. Soohyun pasti membawanya waktu dia pinjam uang untuk biaya kuliah tempo hari."  

​Mia masuk ke kamar adik laki-lakinya.  

​Jika membicarakan kakak sepupunya yang satu itu, dalam beberapa hal dia lebih menakjubkan daripada monster. Kalau monster dia sudah sering melihatnya sejak kecil, tapi mahasiswa Universitas Nasional Seoul di sekitarnya hanya ada satu. Soohyun sudah memakai kacamata sejak usia lima tahun dan hanya membaca buku. Karena itulah kamarnya dipenuhi tumpukan buku dan terlihat seperti toko buku bekas.  

​Mia membongkar tumpukan buku yang berantakan itu.  

​"Habis pakai stempel, dia taruh di mana sih?"

​"Nanti bibi keburu pulang."  

​Yu-dan juga ikut membongkarnya. Saat dia membuka laci meja satu per satu, sebuah kotak menarik perhatiannya seolah menyusup masuk ke dalam matanya.  

​"Apa ini?"  

​Saat dibuka, di dalamnya terdapat mainan usang. Seorang polisi yang memakai helm dan kacamata pelindung, mengendarai sepeda motor dengan logo 'POLICE'.  

​Yu-dan terpaku.  

​"Ketemu!"

​Mia yang akhirnya menemukan stempel itu melihat ke arahnya dengan wajah sombong lalu matanya membulat.  

​"Eh? Itu........."

​Dengan wajah tidak percaya, dia segera mendekat dengan merangkak menggunakan lututnya.  

​"Itu! Itu benar, kan? Bulu kudukku barusan sampai merinding! Benda ini ternyata masih ada! Aku sudah melupakannya!"  

​Keduanya meraba mainan sepeda motor itu. Bersamaan dengan sensasi yang terasa dari plastik yang usang itu, kenangan lama pun bermunculan. 
​"Dulu pernah begitu ya. Waktu kecil kau pernah kabur dari rumah...." 
​Gumam Mia. Yu-dan merasa malu dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.  

​"Ternyata dia masih menyimpannya. Wajar saja, Soohyun sangat menyayanginya. Apa suaranya masih bisa keluar?"  

​Dia menekan tombol di punggung polisi itu, tapi tidak ada suara yang keluar.  

​"Rusak?"

​"Sebentar. Tadi sepertinya aku melihat baterai."

​Mia berdiri dan membongkar atas meja, lalu menemukan baterai, membuka penutup bawah sepeda motor, dan menggantinya. Yu-dan kembali menekan tombolnya.  

​"Angkat tangan!"  

​Suara yang familier meluncur keluar.  

​"Semuanya ditangkap! Pasukan komando tak terkalahkan telah tiba! Angkat tangan! Semuanya ditangkap!"  

​"Masih sama seperti dulu!"

​"Iya! Masih bagus!"

​Keduanya saling mendekatkan kepala dan terus menekan tombol sambil merasa takjub. Saat itu Mia berumur dua belas tahun, Soohyun berumur sebelas tahun, dan Yu-dan berumur tujuh tahun.  

​Ingatan masa kecil yang telah dilupakannya kembali hidup dan terasa nyata bersamaan dengan suara itu. Dalam sekejap, rasanya seperti kembali ke sepuluh tahun yang lalu. 
​Setelah cukup lama terpaku seperti itu, Mia tiba-tiba membuka mulutnya.

​"Tapi setelah dipikir-pikir sekarang, bukankah makhluk itu Unusuals?"

​"Iya juga, ya. Sepertinya itu memang Unusuals."  

​"Kalau begitu, maksudnya kita bertiga bekerja sama mengalahkan Unusuals?"  

​"Sepertinya begitu. Tapi......"

​Ini adalah hal yang sudah lama berlalu. Namun sepuluh tahun kemudian, saat dia kembali merenungkannya perlahan-lahan sekarang, keraguannya tidak hanya satu atau dua.  

​Yu-dan memegang sepeda motor polisi itu dan tenggelam dalam pikiran. 


 
​Dokkaebi paruh baya sedang menyiram rumput. Mengikuti arah gerak selang, tetesan-tetesan air memercik ke segala arah. 
​Yu-dan menatap tangga batu kecil yang mengelilingi kolam. Katanya semakin terang cahayanya, semakin pekat bayangannya. Lebih dari sinar matahari terik yang menyengat, lebih dari pohon-pohon biru nan segar, bayangan dari semak-semak yang rimbun dan sunyi di sekeliling tangga batu berlumut itu membuatnya merasakan musim panas.  

​Bayangan pekat dan lembap yang tidak bisa dilihat di musim semi, musim gugur, maupun musim dingin.  

​Rasanya seolah-olah sesuatu yang tidak diketahui akan benar-benar lahir dari sana. 
​Si kembar mendekat.  

​"Kamu tahu apa yang sedang dilakukan Cheonho-nim sekarang?"

​"Kalian juga tidak tahu?"

​"Kami bukan bertanya. Ini cuma memancing topik sebelum kami membicarakannya dengan sungguh-sungguh. Bisa dibilang semacam tanya jawab sendiri." 

​"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

​"Apa Yu-dan selalu begini saat mengobrol dengan manusia?"  

​"Hmm, ini salahku. Cheonho-nim sekarang sedang membuat kipas."  

​"Ternyata dia juga melakukan kerja sampingan."

​"Bukan. Sebentar lagi adalah Daeseo (Hari Terpanas). Saat paling panas dalam setahun. Saking panasnya, bahkan ada pepatah yang bilang bahwa tanduk kambing pun bisa meleleh saat Daeseo."  

​"Banyak siluman yang merasa kepanasan. Karena itu dia membuat banyak kipas sebelumnya lalu membagikannya."  

​"Kalau gitu pasti sibuk."

​"Tapi hampir semuanya sudah selesai. Boleh kok kalau mau naik dan melihatnya."  

​"Tidak, sudahlah. Tadi aku cuma mau menanyakan sesuatu karena penasaran. Nanti saja saat dia sedang senggang aku tanyakan."  

​"Kalau begitu, mau main bersama kami di dalam? Main jaga toko."  

​"Apa AC-nya dinyalakan?"

​"Tidak. Kipas itu lebih sejuk daripada AC."  

​"Kalian tidak punya AC, kan?"

​Si kembar saling berpandangan, lalu masuk kembali ke dalam.  

​Paman Do terus menyiram sambil mendekat ke arahnya.  

​"Hei, rapormu sudah keluar, kan? Coba kulihat."  

​"Tidak boleh."

​"Akan kuberi 100 Won."

​"Memangnya ini tontonan apa?"

​"Pelit sekali."

​Pancaran air menyemprot ke arahnya. Yu-dan buru-buru menghindarinya sambil melihat sekeliling. Mungkin karena musim panas, sebuah dipan ditempatkan di bawah pohon besar, jadi dia pergi ke sana dan duduk.  

​Meskipun tadi dia menyinggung soal AC, rasanya tidak panas. Padahal saat dia masuk tadi rasanya seolah akan gila karena kepanasan, tetapi entah sejak kapan rasa panas itu telah mereda. 

​Tempat ini memang aneh. Meskipun hanya melangkahi satu gerbang, rasanya seperti benar-benar terputus dari dunia luar.

Biasanya dia selalu mengintip ponselnya meskipun hanya ada waktu luang tiga puluh detik, namun sekarang dia sama sekali tidak merasa ingin mengeluarkannya. 

​Segala hal yang memenuhi pikirannya seolah berubah menjadi remeh dalam sekejap. Anehnya, hatinya menjadi sangat damai.  

​Tiba-tiba dia merasakan sebuah tatapan. Yu-dan menoleh ke belakang.  

​Dari balik gudang di sebelah sana, seseorang menatap tajam ke arahnya. Sambil menyembunyikan tubuhnya dan hanya menjulurkan kepalanya dengan malu-malu, itu adalah Siberian Husky yang mirip serigala.  

​Itu adalah wujud penyamaran Bolt, salah satu makhluk yang dikendalikan oleh Baekran.  

​"Ah, ternyata kau."

​Saat disapa, Bolt langsung mengibaskan ekornya. Sudah beberapa bulan sejak dia membantunya, tapi siluman itu masih tidak melupakannya dan terus berterima kasih. Benar-benar siluman yang tahu membalas budi.  

​Saat dia memberikan isyarat tangan untuk mendekat, siluman itu merendahkan sepasang telinganya hingga menempel ke kepala, berjalan gontai karena sangat berterima kasih, lalu menempelkan tubuhnya ke kaki Yu-dan. 
​"Aku tidak menyuruhmu mendekat sampai sedekat ini."  

​Kehangatan anjing terasa dari balik bulunya. Tiba-tiba dia teringat pada anjing Jindo di rumah kakek-nenek pihak ibunya yang sudah lama dilupakannya. Jinsun-i, anjing yang saking pintarnya hingga terasa seperti ada manusia di dalam bulunya.  

​Kalau dipikir-pikir, di rumah kakek-nenek pihak ibunya juga ada dipan seperti ini. 
​Yu-dan berbaring di dipan itu.  

​Musim panas tahun itu....

​Seluruh keluarga gempar karena kecelakaan. Pemakaman bukanlah akhirnya. Semua hal setelahnya pun sama kacaunya. Ayahnya menitipkan Yu-dan di rumah nenek pihak ibu di desa sampai situasinya sedikit terkendali. Tak lama setelah liburan musim panas tiba, bibinya membawa sepupunya turun ke sana.  

​Ingatannya sebelum itu sangat kabur, tapi sejak kejadian saat itu ingatannya menjadi sangat jelas.... 



​Anak-anak tidak punya banyak mainan di desa. Saat menjelajahi dalam rumah, mereka menemukan kotak penuh kaset video di loteng. Awalnya mereka bahkan tidak tahu apa benda itu.

​Setelah bertanya kepada entah kakak laki-laki atau paman tetangga depan yang sedang belajar untuk ujian abdi negara, dia mengajari mereka cara memutar video yang tergeletak di bawah televisi di kamar kecil. 
​Semua yang ada di dalam kotak itu adalah film asing yang telah di-dubbing. Karena sudah terlalu tua, kualitas gambarnya buruk dan suaranya kecil, tetapi karena bosan, mereka memutarnya satu per satu.

​Yu-dan yang masih kecil menonton semua yang diputar tanpa memikirkan apa pun, tetapi selera Mia dan Soohyun bertolak belakang. Satu-satunya film asing yang disukai oleh mereka berdua adalah <Pasukan Komando Khusus>. Itu adalah drama tentang Pasukan Komando Khusus yang terdiri dari lima veteran Perang Vietnam yang menangkap para penjahat kejam menggunakan senjata besar.

​Ketiganya dengan terpesona menatap layar yang berderau karena sangat tua. 
​Karena drama itu, nilai mainan sepeda motor polisi yang dibawa Soohyun dari Seoul langsung melonjak. Itu karena di sampingnya tertulis tulisan 'POLICE' seperti van hitam yang dikendarai oleh Pasukan Komando Khusus.  

​Soohyun menyebut mainan itu 'Ketua' dan selalu membawanya ke mana pun dia pergi. 
​Begitulah, pada siang hari mereka berlarian dan bermain, pada malam hari mereka menonton film asing usang, dan saat paling panas mereka tidur siang.

​Hari itu pun sama seperti biasanya. Mia dan Soohyun pergi ke kota untuk membeli buku, sementara Yu-dan berbaring di dipan menjadikan paha neneknya sebagai bantal. 
​Nenek-nenek tetangga yang datang bermain setiap hari juga ada di sana pada hari itu. Suara mereka mengobrol perlahan-lahan terdengar samar-samar di saat dia mengantuk. 

​Kemudian tiba-tiba suasana menjadi riuh.  

​"Keluarga Eunsil kena masalah besar."

​"Bagaimana ini. Tamu bulan kelima dan keenam (Onyuwol Sonnim) itu bahkan lebih menakutkan dari harimau."  

​Bahkan di saat kesadarannya memudar, suara penuh kekhawatiran neneknya terdengar jelas. Nenek-nenek itu ketakutan sambil membicarakan tentang monster.  

​Tamu bulan kelima dan keenam?  

​Ada resonansi yang sangat tidak menyenangkan pada kata-kata itu. Sebenarnya apa itu. Seberapa mengerikan monsternya. Yu-dan pun ikut ketakutan. Entah sejak kapan seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. 

​Neneknya tidak tahu kalau cucunya sangat ketakutan. Setelah lama mengobrol, dia perlahan mengangkat kepala Yu-dan dan membaringkannya di lantai, lalu keluar bersama nenek-nenek lainnya.  

​Mau pergi ke mana. Katanya monsternya datang. Kenapa malah meninggalkanku sendirian.  

​Dia ingin berdiri, tetapi tidak bisa bergerak. Tidak. Tidak boleh diam di sini. Yu-dan berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan ujung jarinya.

​Setelah beberapa lama, dia akhirnya bisa bergerak. Tepat saat dia buru-buru bangkit...

Brak brak brak! Terdengar suara ketukan di gerbang.  

​Wajah Yu-dan menjadi pucat. Padahal tidak ada seorang pun yang membukakannya, tapi gerbang hijau rumah neneknya terbuka berderit dengan sendirinya, lalu seseorang melangkah masuk.

Itu adalah tamu bulan kelima dan keenam (Onyuwol Sonnim).  

​Jantungnya berdebar kencang.  

​Yu-dan mendongak dengan sangat ketakutan. Di bawah topi fedora, wajahnya dibalut dengan perban. Kacamata hitam yang tampak seperti lubang mata yang bolong, trench coat, dan sarung tangan di tangannya. 
​Wujudnya yang dibungkus rapat tanpa sedikit pun kulit yang terlihat di musim panas yang begitu terik, sungguh sangat mengerikan.

Rambutnya berdiri kaku.  

​"Aaaaaakh!" Yu-dan langsung berbalik dan melarikan diri. 


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.