Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 75>
Memanfaatkan kelengahan monster yang sedang berkonsentrasi mencerna organ dalam, mereka berdua akhirnya berhasil lolos. Begitu menyembunyikan diri di celah bebatuan, mereka langsung muntah.
"Bahkan setelah semua organ dalamnya ditarik keluar, dia masih hidup. Dia cuma bisa menatap dengan pandangan memohon pertolongan. Benar-benar mengerikan."
"Itu bukan makhluk yang hidup di tanah ini. Ini karena perang. Dia pasti menyeberang kemari dengan menyusup di antara para perompak Jepang."
"Ayo cepat lari. Kita juga akan mati kalau ketahuan."
Si kembar mengawasi semak-semak di seberang sambil melangkah mengendap-endap. Saat mendengar suara ranting kecil yang patah, mereka berhenti dan memusatkan seluruh perhatian mereka. Tepat ketika mereka baru saja keluar menuju jalan setapak.
"Roh Suci! Roh Suci!"
Teriakan orang-orang bergema menembus kesunyian. Cahaya berkilat di sebelah sana.
Si kembar saling bertatapan dengan wajah panik.
Balik semak-semak bergerak pelan. Entah sejak kapan, bayangan hitam pekat sedang melompati pepohonan dan bebatuan, mengejar cahaya tersebut.
Si kembar menahan suara mereka dan dengan cepat mengikutinya dari belakang.
Ular berkepala manusia itu dalam sekejap mendekat, menyembunyikan tubuhnya di balik pohon, lalu menatap tajam orang-orang yang sedang celingukan membawa obor. Srek, terdengar suara yang aneh. Mereka menyadari bahwa itu adalah suara decakan bibir mengecap rasa, membuat bulu kuduk merinding.
"Kita sudah keluar sejauh ini tapi mereka tidak kelihatan. Apakah mereka sudah pergi selamanya?"
"Kenapa tiba-tiba? Jangan-jangan ada yang melakukan hal kotor?"
"Padahal selama ini kita hidup tenang berkat para Roh Suci."
Orang-orang menyinari sana-sini dengan obor lalu berbalik dengan raut kecewa. Ular itu terus menatap tajam ke arah mereka dan mengikutinya.
"Jangan-jangan sampai ke desa....."
"Tidak boleh!"
Si kembar buru-buru menyusulnya.
Itu bukanlah kekhawatiran yang berlebihan. Ular itu sungguh mengejar orang-orang sampai ke desa. Setelah cukup lama mengitari desa yang sunyi di lembah gunung itu, dia menghilang begitu saja.
"Kalau perutnya sudah kosong, dia pasti akan kembali lagi."
"Kita harus segera menyuruh mereka lari."
Si kembar saling berpandangan. Raut tekad yang kuat terpampang di wajah mereka.
Keduanya serentak melompat dan berubah wujud. Wujud siluman jahat yang mengenakan kepala serigala.
Mereka berlari menuju desa sambil berteriak keras.
"Kalian semua enyahlah! Tempat ini sudah jadi incaran kami!"
"Mulai sekarang ini adalah wilayah kami!"
Begitu mereka mengayunkan tinju, batu besar di pintu masuk desa hancur berkeping-keping dengan suara dentuman keras.
Pagar yang dibuat untuk menahan binatang buas, sumur yang dibuat dari tumpukan batu, hingga pohon besar tempat mereka pernah melakukan ritual, semuanya hancur berantakan dalam sekejap mata. Mendadak di tengah malam siluman jahat muncul dan mengamuk, membuat penduduk desa berlarian.
"Tolong!"
"Kalau mau hidup, cepat enyah!"
Si kembar menggeram dan menerobos masuk ke rumah demi rumah. Mereka terlihat seperti menghancurkan apa saja secara sembarangan, tetapi jika diperhatikan dengan saksama, sambil menghancurkan pintu dan menggulingkan perabotan, mereka diam-diam membantu orang-orang mengemasi barang-barangnya. Keduanya saling bertukar pandangan seolah berkata, 'Ya, begitu!' dan mengusir penduduk desa dengan sekuat tenaga.
Pada saat itu, Yu-dan mendengarnya.
Guek! Guek!
Dari kejauhan, suara aneh dan mengerikan itu bergema.
Semak-semak yang diselimuti kegelapan bergerak berdesir. Pohon-pohon patah dan rerumputan tumbang saat seekor ular raksasa berkepala wanita muncul. Benda itu berlari tergesa-gesa sambil memuntahkan organ dalam dari orang-orang yang dimangsanya tadi.
Sepertinya dia menyadari bahwa penduduk desa sedang melarikan diri. Ia buru-buru datang karena rakus ingin mengisi perutnya dengan organ dalam yang segar, membuang makanannya yang baru setengah dicerna.
"Lihat ke sana! Makhluk itu datang!"
Yu-dan berteriak, tetapi si kembar tidak mendengarnya. Mereka terlalu fokus mengancam dan mengusir orang-orang. Berapa kalipun dia berteriak, mereka tidak sadar, barulah ketika bau busuk dari ular itu tercium, mereka tersentak kaget dan menoleh.
"Ah........"
Orang-orang yang sedang pergi dengan tergesa-gesa pun ikut menoleh ke belakang.
Melihat wujud ular aneh yang melata mendekat dengan rambut acak-acakan, jeritan pecah. Beberapa pria dewasa langsung membeku seperti batu dalam sekejap.
"Tidak! Dasar bodoh!"
"Jangan menatap matanya!"
Si kembar tidak punya pilihan selain menghalangi jalan di depan mereka.
"Lari! Ke tempat yang banyak orangnya!"
"Kalau tidak, kalian semua akan mati!"
Kedua anak itu melompat tinggi dan melakukan salto di udara. Saat mendarat di tanah, mereka telah berwujud dua ekor serigala hitam. Mata para penduduk desa membelalak kaget.
"Roh Suci.......?"
"Kami bukan Roh Suci! Kami siluman!"
"Cepatlah lari!"
Kedua serigala itu mengayunkan kaki depannya dan menghancurkan tembok, membuat tumpukan batu beterbangan ke segala arah. Orang-orang itu seketika tersadar dan berbalik untuk melarikan diri.
Ular itu menjerit marah. Matanya memancarkan niat membunuh untuk menghabisi kedua serigala yang telah menghancurkan rencananya.
"Kita harus menahannya."
Chaesol memberi arahan dengan tenang.
"Jangan sentuh luka di punggungnya. Pada saat-saat terakhir, kita cakar bagian itu untuk menciptakan celah, lalu kita gunakan Teknik Jidunsul (Bersembunyi di Tanah) untuk lari. Sampai saat itu tiba, kita harus menahannya selama mungkin. Supaya orang-orang bisa melarikan diri."
"Mengerti."
Ular raksasa itu menerjang. Kepala wanita itu membuka mulutnya lebar, mencoba menggigit para serigala. Si kembar menghindar dengan cerdik dan menggigit ular itu tanpa melepaskannya.
Mereka mencakar dan menendang dengan kaki belakang untuk memberikan luka sebanyak mungkin. Karena mereka terus menghindari tatapan matanya, ular itu menjadi sangat marah dan ganas. Ia mencoba mencekik para serigala dengan melilitkan tubuhnya yang berkelok-kelok itu.
Ketiganya bertarung sengit, bergulingan dan saling melilit. Seluruh tubuh ular itu dalam sekejap menjadi berlumuran darah.
Si kembar juga tergigit di beberapa tempat. Kaki depan Chaewoo bahkan hampir tertelan. Dia memukul kepala ular itu sekuat tenaga dan berhasil menarik kakinya keluar, tetapi bekas gigitannya tertinggal panjang.
"Sepertinya ada racunnya! Kakak, aku tidak bisa bertahan lagi!"
"Bertahanlah sedikit lagi! Orang-orang sebentar lagi akan melewati bukit!"
Kabut hitam mengepul di sekitar tubuh si kembar. Sepertinya mereka sudah bersiap untuk mengaktifkan mantra. Ular itu tampaknya menyadarinya, lalu meronta dan menggigit dengan buas.
Pada saat itu.
Langit malam tiba-tiba menjadi terang. Si kembar mendongak karena terkejut.
Seluruh langit dipenuhi cahaya. Penduduk desa berlari mendekat sambil memutar-mutar obor mereka. Suara kkwaenggwari terdengar bising.
"Binatang saja tahu membalas budi!"
"Mana mungkin kita sebagai manusia pura-pura tidak tahu!"
"Bakar sampai mati! Jadikan abu!"
Tidak hanya para gadis desa, tetapi kakek-nenek dan anak-anak pun ikut bergabung. Bahkan dengan mengayunkan api kecil, mereka berteriak keras.
Si kembar sejenak lupa menyerang sang ular dan menatap mereka dengan tercengang.
"Bodoh sekali. Ini bukan makhluk semacam itu. Makhluk ini tidak bisa dihancurkan hanya dengan menyalakan api dan berteriak keras."
"Mereka tidak tahu betapa mengerikannya makhluk ini. Benar-benar bodoh. Padahal kita sudah memberi mereka kesempatan untuk hidup."
Keduanya saling berpandangan. Momen yang singkat namun terasa panjang.
"Kita tidak bisa melarikan diri."
"Sepertinya begitu."
Kabut hitam yang mengepul dari tubuh si kembar menghilang.
"Bisa melakukannya?"
"Ya, Kak."
Kabut merah pun mengepul. Ular itu merasakan sesuatu yang tidak beres dan mengamuk semakin beringas.
"Sekarang!"
Chaesol mencakar luka di punggung sang ular. Saat ular itu sedikit tersentak mundur dan menciptakan celah, Chaesol membuka gigi tajamnya dan menyerang kepala ular itu. Ular itu menghindar tipis dan menggigit Chaesol. Tepat pada saat itu, Chaewoo menggigit kuat tengkuk ular yang terekspos jelas di depan matanya.
Sambil saling menggigit dan bertautan, mereka mengaktifkan mantra.
Tanah pun runtuh. Tumpukan tanah terdorong ke segala arah bagaikan ombak, menciptakan sebuah lubang raksasa.
Ketiganya jatuh ke dalam lubang itu. Yu-dan yang menonton juga ikut terjatuh. Dari sela-sela tumpukan tanah yang bergeser, langit pun terlihat. Seluruh langit dipenuhi dengan kobaran api yang berputar-putar.
"Cantik......."
"Iya, kan?"
Air mata menggenang di sepasang mata si kembar.
"Kita bahagia, kan?"
"Di desa ini kita bahagia."
Di mata mereka berdua, masa lalu terlintas bagaikan lentera yang berputar. Perkataan Roh Gunung itu benar. Entah kenapa hati mereka penuh dengan amarah. Itu adalah hari-hari di mana mereka menyiksa semua yang bernyawa.
"Kita sudah melakukan banyak dosa. Kalau kita lahir kembali, saat itu nanti...."
"Mari kita bantu semua kehidupan."
Si kembar memejamkan mata mereka. Sebelum tumpukan tanah menutupi segalanya, mereka berdoa ke langit yang terbakar terang benderang.
"Izinkan kami melakukannya."
"Tolong biarkan kami menebus dosa-dosa kami."
Doa tulus itu berubah menjadi secercah cahaya dan membumbung ke langit, menjadi sebuah bintang kecil yang bersinar.
"Aku mengerti."
Terdengar suara yang dingin namun lembut.
"Akan terwujud seperti yang kalian inginkan."
Kesadaran mereka pun memudar.
Kematian. Sebuah proses yang sangat jauh di mana segalanya terpencar lalu berkumpul kembali.
Si kembar terlahir kembali sebagai sebuah biji kecil. Dari sana muncul tunas hijau, lalu tumbuh subur dengan hangatnya sinar matahari.
Suatu hari, seorang pemuda penebang kayu menemukan si kembar. Dengan tangan gemetar, ia menyingkirkan tanah dan menggalinya.
"Ginseng liar!"
"Coba kulihat!"
Orang-orang berkumpul.
"Astaga, bukankah ini Ginseng Anak-anak (Dongjasam)! Di antara ginseng liar, yang berbentuk seperti anak kecil seperti ini adalah obat mujarab yang bisa menghidupkan kembali orang mati!"
Entah sudah berapa lama ginseng itu direbus di atas api panas. Pemuda itu menuangkan obat penambah tenaga itu ke dalam mangkuk dan membawanya kepada ibunya yang sedang sakit. Begitu meminum Dongjasam, wajah sang ibu langsung merona sehat.
Syukurlah.
Si kembar kembali menjadi biji kecil.
Itu terus berulang tanpa akhir. Terkadang tubuh mereka terpotong-potong, dikunyah hidup-hidup oleh binatang buas, atau mengering di bawah terik matahari menjadi bubuk.
Mereka merasakan semua penderitaan itu sepenuhnya.
Namun mereka merasa senang. Saat kehidupan yang sakit kembali hidup berkat mereka, seluruh hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan.
Setelah melewati proses regenerasi yang tak terhitung jumlahnya, saat mereka kembali memunculkan tunas kecil, seekor rubah emas muncul di hadapan mereka. Si kembar Dongjasam tersenyum ceria dan menyapa.
Halo. Cepat bawa kami dan gunakan kami untuk hal yang baik.
Lalu rubah itu tersenyum.
"Sekarang sudah cukup."
Itu adalah suara yang pernah mereka dengar. Barulah mereka menyadarinya.
Bukan langit yang menjawab doa mereka. Rubah inilah yang menjawabnya.
Rubah itu membelai daun-daun mereka yang lembut. Kemudian meraih tangan mereka dan membantu mereka berdiri. Si kembar bangkit menjadi seorang anak laki-laki dan perempuan, mengerjapkan mata dan melihat sekeliling. Dunia yang asing dan menyilaukan.
"Di manakah ini?"
"Ratusan tahun telah berlalu. Selama ini kalian sudah menderita. Sekarang semua dosa kalian telah terhapus."
"Semuanya?"
Si kembar menunduk menatap tubuh mereka sendiri.
"Kalau begitu, apakah kami bisa hidup kembali?"
"Dengan tubuh bersih seperti ini?"
Rubah itu tersenyum lebar.
"Benar sekali."
Mereka kembali menyadari. Mereka memang telah melunasi semua dosa mereka, tetapi sebagai gantinya mereka berutang budi yang sangat besar kepada rubah. Rubah telah membantu mereka selama waktu yang sangat lama sehingga mereka bisa membalas semua dosa mereka. Dia juga membagikan banyak energinya agar mereka bisa kembali menjejakkan kaki dan hidup di tanah ini.
"Tapi kenapa kami......"
Terdengar jawaban dari balik punggung rubah itu.
"Karena sepertinya akan bagus kalau ada anak-anak yang bisa menyambut pelanggan dengan ramah."
"Selain itu kita juga tidak punya orang untuk bersih-bersih."
Barulah mereka menyadarinya. Di bawah pohon di belakang sana, berdiri seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda. Saat pandangan mereka bertemu, mereka tersenyum, lalu menggendong kedua anak yang belum pandai berjalan itu satu per satu di punggung mereka. Punggung mereka terasa sangat hangat.
Saat turun gunung, wanita itu tiba-tiba berkata.
"Omong-omong, bukankah kita harus memberi mereka nama?"
"Anak perempuan Seol. Anak laki-laki Woo. Bagaimana?"
Jawab rubah itu. Kemudian ia berhenti sejenak, memandangi awan lima warna yang menggantung di pertengahan gunung.
"Mari kita tambahkan huruf 'Chae' juga. Salju ('Seol') lima warna. Hujan ('Woo') lima warna."
"Sangat bagus."
Paman itu tertawa terbahak-bahak.
Begitulah mereka digendong di punggung yang hangat, menuruni gunung yang diselimuti awan lima warna. Seseorang berbisik dengan penuh kasih sayang di telinga mereka.
Sekarang mimpi buruknya sudah usai.
Mereka merasakan kelegaan yang mendalam. Dan air mata pun menetes. Si kembar membenamkan wajah mereka di punggung di hadapan mereka.
Sungguh. Mimpi buruknya sudah usai.
Tepat ketika mereka hendak terlelap dengan tenang, seseorang mengguncang mereka untuk bangun. Rasanya tidak ingin bangun. Terlalu nyaman.
Yu-dan menyingkirkan tangan itu. Namun tangan itu malah mengguncangnya lebih keras.
"Aku mau tidur."
"Kamu benar-benar mau bersikap begini?"
Mendengar suara tajam itu, dia pun dengan susah payah membuka mata, ternyata Yaksha Hitam, siluman jahat yang mengerikan, sedang memelototinya. Yu-dan yang seketika terbangun langsung melompat berdiri.
"Tidak!"
Kesadarannya pun kembali. Ini bukanlah mimpi. Entah sejak kapan dia telah kembali ke dunia nyata. Buku yang tadi dibukanya sedang bergerak tertiup angin.
"Kamu ini kenapa? Ini aku, tahu."
"Sepertinya kamu habis mimpi buruk ya?"
Si kembar menatapnya sambil tersenyum ceria. Mereka memungut setumpuk buku tua dari lantai, lalu memberikan sebagian kepada Yu-dan.
"Karena kamu sudah bangun, ayo kita pergi sekarang."
"Kalau terus begini perpustakaannya bisa keburu tutup."
Ah benar, dia sudah berjanji.
Kepalanya masih terasa linglung. Ini karena mimpi itu terasa begitu nyata. Yu-dan membawa tumpukan buku itu dan keluar dari toko.
"Berat juga. Sebenarnya berapa banyak buku yang dia pinjam?"
"Entahlah. Beliau itu sangat rakus akan buku."
"Meski begitu, kami senang bisa melakukan tugas kecil seperti ini."
Jalanan terasa pengap dan panas. Bahkan hanya berjalan menuju halte saja membuatnya berkeringat.
Dia meletakkan tumpukan buku di tanah dan menunggu bus datang.
Layar besar di gedung seberang berganti. Itu adalah iklan kembang api. Si kembar menatap kembang api yang meledak megah di langit malam.
"Cantik......."
"Keren........"
Mereka terpesona dengan wajah terkesima. Kembang api yang menyilaukan itu memenuhi sepasang mata kedua anak itu.
"Mau pergi melihatnya?"
Yu-dan terkejut setelah berbicara secara impulsif. Itu adalah ucapan yang terlontar tanpa disadari.
Si kembar membulatkan mata dan menatapnya. Di tengah keheningan, sebuah bus melintas.
"Mau."
"Tentu saja."
Kedua anak itu menjawab serentak. Dan mereka memberikan senyuman yang paling bahagia di dunia.
—『Kisah Aneh Banwoldang』 Volume 3 Selesai —
. . .. .... ........
