LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 74>

Kisah tambahan

<Binari>


 

​Setiap pintu yang terbuka lebar, dipenuhi pemandangan hijau dari halaman. Meskipun berada di dalam ruangan, rasanya seperti berada di luar. Duduk di atas lantai kayu berwarna cokelat tua yang telah termakan usia sambil membuka buku, rasanya seperti menjadi seorang sarjana yang sedang mempersiapkan ujian abdi negara. Hal semacam ini tidak buruk juga.

​Namun, aku bosan hanya dalam lima menit.

​Pastinya aku dulu adalah seorang pelayan.

​Yu-dan menyingkirkan buku itu jauh-jauh dan berbaring.

​Dia datang bermain karena bosan, tapi di sini justru lebih membosankan.

​Beberapa pelanggan yang mencari minuman dingin masuk sehingga semuanya sibuk. Ruang baca di lantai dua juga dipenuhi oleh para siluman. Karena sebentar lagi adalah hari terpanas di musim panas (Daeseo), siluman-siluman dengan sifat dingin datang menemui Cheonho-nim untuk meminta saran tentang cara melewati musim panas.

​Padahal Cheonho baru saja terkena serangan panas dan hampir pergi ke akhirat belum lama ini.

​Haruskah aku pergi dan membongkarnya?

​Rasanya pasti akan menyenangkan, tetapi dia takut akan akibatnya nanti.

​Yu-dan menguap dan membalikkan tubuhnya. Berbaring di atas lantai kayu membuatnya merasa mengantuk. Bagaimana bisa sejuk begini padahal tidak ada satu pun kipas angin. Sulit dipercaya bahwa di luar sana cuacanya sangat panas hingga beton seperti akan meleleh.

​Tepat saat dia hampir tertidur, terdengar suara dari luar. Yu-dan langsung melompat duduk dan kembali membuka bukunya. Terdengar suara celotehan, lalu si kembar masuk.

​"Oh, kamu masih belajar."

​"Bagaimana? Di sini bagus, kan?"

​"Ya. Belajarnya jadi lancar."

​"Syukurlah."

​Chaewoo tersenyum lebar sambil meletakkan nampan. Tetesan-tetesan air mengembun di mangkuk es buah (hwachae) yang dingin itu.

​"Omong-omong. Apakah bahan belajarmu masih banyak yang tersisa?"

​"Kenapa?"

​"Sebentar lagi kami harus pergi keluar. Buku yang dipinjam Cheonho-nim dari perpustakaan jatuh tempo hari ini, jadi kami harus mengembalikannya."

​"Itu perpustakaan siluman. Jaraknya lumayan jauh dari sini. Meski begitu, selama ini kami selalu berjalan kaki ke sana."

​"Waktu kita naik bus tempo hari rasanya sangat menyenangkan."

​Chaesol mengakhiri ucapannya lalu tertawa hehehe.

​Ah, jadi itu maksudnya. Yu-dan merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu bus.

​"Ini."

​Wajah si kembar berubah menjadi serba salah.

​"Bukan begitu........"

​"Bukannya kalian minta kartu bus?"

​"Bukan begitu........."

​"Ah, aku mengerti. Kalian minta ditemani?"

​"Itu dia!"

​Wajah keduanya pun menjadi cerah.

​"Kalau begitu bilang dong!"

​"Kami takut kamu akan menolaknya. Bagaimana? Kamu mau ikut bersama kami?"

​"Sekarang pasti terlalu panas. Dan karena aku belajar terlalu keras, kepalaku jadi sakit. Mari kita tidur sebentar, barulah kita keluar."

​"Tentu!"

​"Baiklah!"

​Si kembar pergi keluar dengan gembira.

​Setelah meminum es buah dingin itu dalam sekali teguk dan kembali berbaring, rasanya sangat sejuk dan nyaman. Rasa kantuk perlahan menyerangnya.

​Apakah ini yang dinamakan hidup bersantai layaknya dewa?

​Namun, belum lama dia tertidur, seseorang mengguncangnya dengan tergesa-gesa untuk membangunkannya.

​"Hei kau! Semuanya sedang melarikan diri, apa yang kau lakukan! Benda-benda itu datang! Kalau sampai ketahuan, kau bisa celaka!"

​Yu-dan langsung melompat berdiri.

​Sebuah dinding tanah liat yang asing terlihat di depan matanya. Karena kebingungan, dia melihat sekelilingnya.

​Di manakah ini?

​Di dinding, tergantung topi tradisional (gat) dan bungkusan kain. Ini adalah sebuah kedai minum (jumak). Beberapa pria berpakaian era Dinasti Joseon sedang mengemasi barang-barang mereka dengan tergesa-gesa dan berlari keluar.

​"Ada apa? Apa yang terjadi?"

​Terdengar suara riuh dari luar. Saat dia keluar mengikuti orang-orang, keadaannya benar-benar kacau.

​"Kenapa tidak ada arak dan daging!"

​"Bukankah kami sudah bilang kalau kami lapar!"

​Dua orang beringas yang mengenakan kepala serigala hitam dan pakaian berbulu binatang sedang mengayunkan gada besi raksasa dan menghancurkan kedai itu. Yang satu adalah anak laki-laki dan yang lainnya adalah anak perempuan. Namun entah kenapa suaranya....

​Dia menggosok matanya dan melihat lagi, lalu terkejut setengah mati.

​Dua orang beringas itu tidak lain adalah Chaesol dan Chaewoo.

​"Tidak, anak-anak itu..."

​"Ssst. Jaga ucapanmu. Mereka itu siluman jahat. Rakshasa Hitam dan Yaksha Hitam. Mereka sangat terkenal kejam di daerah sini."

​Pemilik kedai itu berbisik sambil gemetar ketakutan.

​Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tunggu sebentar. Jangan-jangan ini adalah masa lalu anak-anak itu? Maksudnya di masa lalu mereka berwujud seperti ini? Bahkan saat melihatnya dengan mata kepalanya sendiri pun dia tidak bisa mempercayainya.

​"Kalian tidak tahu apa yang akan terjadi jika menentang kami?"

​"Belum dengar rumornya, ya?"

​Si kembar sangat kasar dan beringas. Terlebih lagi, kekuatan mereka juga sangat besar. Di hadapan dua anak yang mengamuk dan menghancurkan apa saja itu, bahkan pria-pria dewasa pun menahan napas dan bersujud.

​"Lain kali lakukan dengan benar!"

​"Ya. Ya. Hamba telah melakukan kesalahan besar."

​Setelah pemilik kedai itu memohon ampun habis-habisan, si kembar baru berbalik, meludah, lalu berjalan pergi.

​Entah kenapa Yu-dan juga bergerak bersama anak-anak itu. Rasanya seperti dia telah menjadi roh yang melayang-layang di udara dan mengikuti mereka.

​"Benar-benar menyenangkan."

​"Ya. Rasa sesakku langsung hilang."

​Di depan si kembar yang sedang berjalan sambil terkikik, seseorang tiba-tiba muncul. Itu adalah seorang sarjana tampan nan bersih yang mengenakan gat dan jubah putih.

​"Siapa kau?"

​Si kembar langsung menatapnya dengan tajam dan mengayunkan gada besinya. Setiap kali gumpalan besi raksasa itu melayang, angin kencang berembus. Namun, sarjana itu tidak bergeming sedikit pun.

​"Hatimu dipenuhi dengan amarah. Meskipun begitu, apakah pantas jika kalian menumpuk karma buruk seperti ini."

​"Berisik! Itu terserah kami!"

​Si kembar memamerkan taring mereka dan menerjang.

​Namun di luar dugaan, mereka bukan tandingannya. Meskipun dilihat dari mana pun dia tampak seperti sarjana yang hanya membaca buku, dia memiliki kekuatan yang mengerikan.

​Dia merampas gada besi si kembar dengan mudah dan melemparkannya jauh. Setelah menekan Chaesol dengan tangan kanan dan Chaewoo dengan tangan kiri, dia berteriak keras. Itu adalah auman menggelegar yang mengguncang langit dan bumi. Entah sejak kapan, sarjana itu telah berubah menjadi harimau putih raksasa.

​"R-Roh Gunung........"

​Suara si kembar bergetar. Harimau putih itu menendang sebatang pohon besar dengan kaki belakangnya. Sesuatu jatuh dari pohon itu.

​Itu adalah mayat-mayat manusia.

​Perut mereka terbelah dan semua organnya telah dikeluarkan, pemandangan itu sangat mengerikan. Terlebih lagi, tercium bau yang sangat jahat. Bahkan Yu-dan yang hanya menonton pun merasa perutnya mual.

​"Beraninya kalian melakukan perbuatan sekejam ini! Tidakkah kalian takut pada langit!"

​Saat harimau putih itu menghardik, si kembar saling bertatapan dengan wajah bingung.

​"Itu bukan ulah kami!"

​"Kami tidak melakukan hal semacam ini!"

​Namun Roh Gunung tidak mempercayainya.

​"Jika bukan siluman jahat, siapa lagi yang akan melakukan perbuatan ini! Kalian keparat! Aku akan mengakhiri hidup kalian di sini hari ini!"

​Harimau putih itu kembali mengaum dan menerjang.

​Si kembar melompat dan berubah wujud menjadi serigala raksasa. Harimau dan kedua serigala itu bertarung dengan sengit. Pohon-pohon hancur dan tanah tergali dalam.

​Yu-dan menonton dengan menahan napas.

​Pada suatu saat, Chaewoo yang melompat untuk menggigit leher harimau itu tertangkap dengan selisih jarak yang sangat tipis. Harimau putih itu menggigit dalam-dalam lehernya.

​"Tidak!"

​Chaesol menjerit. Saat dia panik sejenak, harimau itu mengayunkan kaki depannya ke arahnya, lalu menggigit pinggang Chaesol yang telah roboh berlumuran darah.

​"Kakak!"

​Harimau itu menginjak kuat Chaewoo yang sedang merangkak tertatih-tatih.

​Suara tulang hancur bergema.

​"Sudah kubilang bukan kami yang melakukannya!"

​Chaesol berteriak sekuat tenaga sambil memeluk Chaewoo. Pada saat itu, asap hitam pekat mengepul, lalu kedua serigala hitam itu tiba-tiba menghilang ke dalam tanah.

​"Apakah itu Jidunsul (Teknik Bersembunyi di Tanah)?"

​Harimau putih itu bergumam.

​"Mau bagaimana lagi. Toh mereka tidak akan bisa selamat."

​Sosok Roh Gunung itu semakin lama semakin menjauh. Yu-dan tanpa disadari sedang melarikan diri bersama si kembar. Jauh. Lebih jauh lagi. Ke tempat di mana tidak ada siapa-siapa.

​Setibanya di kedalaman gunung, si kembar baru bisa keluar dari dalam tanah. Chaewoo lehernya terkoyak dan seluruh tulangnya hancur. Chaesol lukanya sangat parah hingga organ dalamnya hampir terlihat.

​"Sudah tamat. Dengan tubuh seperti ini kita bahkan menggunakan mantra....."

​"Kita akan mati sekarang."

​Dua serigala yang berlumuran darah itu saling merapatkan tubuh dan berpelukan erat. Suara napas mereka yang tersengal-sengal kasar semakin lama semakin mereda.

​Pada saat itu, beberapa pemburu muncul dari seberang jalan pegunungan.

​Mereka terkejut melihat dua ekor serigala terbaring di semak-semak. Setelah membalikkan kelopak mata dan menyentuh hidung mereka, para pemburu itu membuat ruang di gerobak tempat mereka membawa hasil buruan dan menaikkan serigala-serigala itu.

​Gerobak itu bergulir di jalan yang diterangi cahaya bulan. Yu-dan juga ikut mengikuti mereka.

​Setelah melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok cukup lama, muncullah sebuah desa yang sunyi di pedalaman gunung. Para pemburu itu meletakkan kedua serigala itu di atas tikar jerami.

​"Hasil yang sangat besar."

​"Seumur hidupku, baru pertama kali ini aku melihat serigala sebesar ini."

​Anjing-anjing pemburu berlari mendekat sambil menggonggong dengan keras, tetapi begitu melihat si kembar, mereka menyelipkan ekornya di antara kaki dan mundur. Anjing yang terlihat paling berani pun diseret secara paksa ke sana, tetapi ia hanya merengek ketakutan dan menarik tubuhnya mundur.

​"Tadi kawanan anjing hutan juga tiba-tiba kabur saat hendak masuk ke desa."

​"Sepertinya ini bukan binatang buas biasa. Jangan-jangan mereka adalah roh suci."

​"Jika mereka adalah roh suci, bukankah kita harus mengobati mereka?"

​Penduduk desa saling berbisik.

​Tak lama kemudian, mereka membawakan kain bersih dan air untuk merawat luka-lukanya. Bagian yang robek dijahit, lalu ditempel dengan tanaman obat yang sudah ditumbuk.

​Siang dan malam terus berganti. Si kembar baru sadar setelah beberapa hari berlalu. Mereka terkejut melihat penduduk desa merawat mereka.

​"Kenapa mereka melakukan ini pada kita?"

​"Bodohnya. Kita kan sudah berakhir."

​Si kembar kembali memejamkan mata mereka.

​Luka mereka terlalu parah. Meskipun lukanya hampir menutup, si kembar tidak bisa bergerak. Sepertinya mereka tidak punya keinginan untuk bangun.

​Orang-orang kembali menaikkan kedua serigala itu ke atas gerobak. Yu-dan mengira mereka akan mengembalikannya ke gunung, tetapi ternyata tidak. Mereka membawanya ke bawah pohon besar di tengah desa dan meletakkannya dengan hati-hati di atas tumpukan jerami yang dilapisi kain putih.

​"Apa yang sedang mereka lakukan?"

​"Entahlah. Kenapa merepotkan begini?"

​Si kembar memejamkan mata rapat-rapat. Lalu mereka terkejut mendengar suara musik tradisional dan membuka mata. Penduduk desa telah menyiapkan meja persembahan dan sedang melakukan ritual.

​"Ini adalah Binari. Kami memohon kepada langit agar kita semua panjang umur dan hidup sejahtera."

​"Kami membawamu kemari agar kalian bisa menonton. Jika kalian benar-benar roh suci, cepatlah sembuh dan bangkitlah."

​Para pemburu itu berkata sambil lalu. Si kembar bergumam.

​"Bodoh. Kami bukan roh suci."

​"Lagipula tidak ada yang namanya dewa langit."

​Di langit itu, bulan purnama terbit mengambang. Pemain musik utama memukul kkwaenggwari sambil mengucapkan doa pemberkatan. Di antara orang-orang yang berdoa dengan tangan terkatup, kobaran api tiba-tiba membumbung tinggi.

​Para pria desa memutar-mutar obor yang dipasang pada galah panjang. Cahaya terang benderang memenuhi seluruh penjuru. Itu adalah pemandangan yang spektakuler.

​"Wah........"

​Si kembar terpukau. Nyala api yang berputar-putar itu juga memenuhi sepasang mata mereka. Kedua serigala itu tanpa sadar melompat berdiri.

​"Mereka bangkit!"

​"Roh suci telah bangkit!"

​Penduduk desa bersorak kegirangan. Anak-anak melompat kegirangan karena bahagia. Di bawah cahaya obor yang bersinar, dua serigala yang berdiri tegak itu benar-benar terlihat gagah perkasa.

​Para wanita berkumpul dan menundukkan kepala memberikan penghormatan. Si kembar merasa bingung dan saling bertatapan.

​"Bagaimana ini, Kak?"

​"Entahlah. Haruskah kita pura-pura menjadi roh suci untuk sementara waktu?"

​"Sampai kita sembuh total?"

​"Ya. Setelah itu mari kita balas dendam."

​"Aku tidak mau berutang budi pada manusia."

​"Karena itulah kita harus membalas budi ini."

​Sejak hari itu, kondisi mereka membaik. Si kembar sembuh dengan cepat dari hari ke hari. Melihat sosok dua serigala raksasa yang berkeliaran baik siang maupun malam, harimau maupun beruang tidak berani masuk ke desa sembarangan. Binatang buas yang menerkam ayam atau mencuri biji-bijian juga berhenti sama sekali.

​Para penduduk desa bersukacita karena kini mereka bisa tidur nyenyak. Mereka membuat kue beras dan merebus daging, lalu terus-menerus mempersembahkannya.

​"Bodoh. Padahal mereka sendiri tidak punya makanan."

​"Kak, untuk menguji apakah kita sudah pulih, haruskah kita pergi berburu?"

​Setelah mereka menangkap dan membawa seekor babi hutan, hari itu menjadi hari perayaan. Si kembar makan daging sampai perut mereka seolah akan meledak dan berbaring dengan perasaan senang. Di sela-sela itu, seorang bayi dari desa mendekat, menyentuh telinga dan membelai bulu mereka.

​Mereka memamerkan taring dan menggeram, tetapi bayi itu sama sekali tidak peduli dan terus meremas-remasnya seperti menguleni kue beras. Mereka hanya bisa pasrah. Anak-anak yang mengawasi dari kejauhan juga memberanikan diri dan berkumpul.

​"Wajahmu benar-benar lucu."

​"Kakak juga sama saja."

​Keduanya serentak tertawa.

​Hari berganti, bulan berganti, dan musim pun berubah. Kita harus pergi. Besok kita harus pergi. Saat bulan purnama tiba, kita harus pergi. Si kembar selalu mengatakan hal itu, namun mereka tidak bisa pergi dengan mudah. Kehidupan di desa itu terasa hangat dan nyaman. Tulang-tulang yang patah telah menyatu dengan kuat tanpa disadari. Bulu mereka juga mengilap.

​Lalu pada suatu hari.

​Terdengar suara para pemburu yang saling berbisik sambil melintas.

​"Harimau besar sebesar rumah, dan terlebih lagi itu adalah harimau putih, mati terkapar begitu saja...."

​"Hanya kulitnya yang dibiarkan, sementara seluruh isi perutnya diambil, sungguh aneh."

​Si kembar tersentak kaget, lalu segera meninggalkan desa dan berlari pergi.

​Rumor itu ternyata benar. Harimau putih yang telah menyerang mereka tergeletak mati hanya menyisakan kulit kosong. Pemandangannya persis sama dengan mayat-mayat yang ia tunjukkan kepada mereka. Dan bau jahat yang sama juga tercium.

​"Roh Gunung telah terbunuh."

​"Sebenarnya ulah siapa ini?"

​Keduanya mencari ke segala arah mengikuti bau jahat itu.

​Tanpa terasa, matahari telah terbenam. Ketika mereka tiba di tempat di mana sebuah desa besar terlihat, baunya semakin menyengat. Si kembar melintasi jalan setapak di atas bukit dan berhenti karena terkejut. Dari suatu tempat, terdengar rintihan yang sangat menyakitkan.

​"Di sana!"

​Mereka bergegas lari.

​Sebuah tangan manusia menonjol keluar di jalan hutan yang sunyi. Ketika mereka menyingkap rumput dan membalikkannya, ternyata itu hanyalah kulit kosong. Di seberangnya, ada sebuah tandu yang terguling. Si kembar hendak melompati tandu itu tapi terdiam. Mereka buru-buru menyembunyikan diri dan mengintip.

​Sesosok monster sedang menyerang orang-orang.

​Mereka baru pertama kali melihat sesuatu yang sebegitu aneh. Kepalanya adalah wanita berambut acak-acakan, tubuhnya adalah ular dengan kulit perut berwarna putih. Di punggungnya terdapat luka dalam akibat serangan harimau putih. Lukanya sangat parah hingga tulangnya terlihat, namun ia bergerak dengan sangat cepat dan tanpa suara seakan tidak merasakan sakit.

​Tidak ada satu jeritan pun yang terdengar. Entah kenapa, jika bertatapan dengan monster itu, orang-orang akan membeku tanpa bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian monster itu membelah perut mereka dengan cakar tajamnya dan menyedot organ dalamnya.

​Rombongan tandu itu musnah dalam sekejap. Hanya kulit kosong manusia yang tertinggal di tanah.

​Monster itu menegakkan tubuhnya dan mengangkat dadanya. Kulit perutnya yang meregang kencang bergelombang, lalu luka di punggungnya sedikit menutup. Monster itu mengulanginya beberapa kali.

​Si kembar gemetar ketakutan.

​"Apa itu?"

​"Entahlah. Aku baru pertama kali melihatnya."

. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.