Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 69>
"Apa kamu pikun? Bukankah kamu minta diceritakan kisah menakutkan? Aku baru saja teringat sesuatu yang sangat pasti. Kisah yang cukup membuat mu tidak perlu lagi mendengar cerita menakutkan seumur hidup..."
"Jangan!"
Yu-dan berteriak. Kenapa juga tadi aku ikut menimpali alih-alih diam saja? Sesuatu yang menakutkan bisa dilupakan setelah dilihat, tetapi cerita menakutkan itu berbeda. Saat mematikan lampu dan memakai selimut untuk tidur, cerita itu pasti akan terbayang-bayang. Apalagi ini adalah cerita menakutkan menurut standar siluman rubah yang sudah hidup lebih dari seribu tahun...
"Kami yang salah!"
"Maafkan kami! Ke depannya kami tidak akan pernah merengek lagi!"
Si kembar juga melompat berdiri dan kembali mengambil kain pel.
"Kalian semua sangat plin-plan. Ya sudah kalau tidak mau."
Baekran kembali melihat-lihat bukunya dengan wajah gembira. Lalu tiba-tiba dia berkata.
"Tapi pada zaman dahulu..."
Yu-dan terkejut setengah mati.
"Sudah kubilang jangan!"
"Bukan cerita yang itu. Ini cerita lain."
"Cerita lain?"
"Ya. Tiba-tiba saja aku teringat."
Yu-dan menatap siluman rubah yang duduk membelakangi jendela yang basah oleh hujan itu dengan penuh curiga.
"Jangan bilang kau tetap mau menceritakan kisah menakutkan itu."
"Kenapa kamu sangat tidak percaya?"
"Karena kau rubah, makanya aku tidak percaya."
"Itu memang benar, tetapi kali ini sungguh bukan. Apa kamu ingat cerita yang pernah kuceritakan sebelumnya? Kisah tentang naga yang diusir oleh seorang biksu agung, lalu karena menyimpan dendam, naga itu berubah menjadi pohon dedalu dan membalas dendam pada utusan negara."
"Ah, yang itu?"
Tentu saja dia ingat. Itu adalah cerita yang Baekran ceritakan saat dia mengeluarkan Cermin Karma untuk memberi tahu kebenaran kepada Honghwa dan Cheonghwa yang berubah menjadi bunga wisteria setelah mati.
"Itu cerita yang sangat aneh. Pria itu karena sangat menyayangi pohon dedalu sampai-sampai melawan raja dan pada akhirnya dia mati."
"Ya. Bagaimanapun juga, dalam cerita itu, nama biksu agung yang pertama kali mengusir naga itu adalah Hyetong. Aku teringat akan kisah masa muda Biksu Hyetong tersebut. Sebelum dia mencukur rambutnya, meninggalkan kehidupan duniawi, dan menjadi biksu, yaitu saat dia masih menjadi orang biasa."
"Cerita tentang apa?"
"Pada suatu hari, dia menangkap dan membunuh seekor berang-berang, lalu membuang tulangnya ke bukit. Namun keesokan paginya saat dia ke sana, tulangnya telah menghilang dan ada jejak darah di tanah. Saat dia mengikuti jejak darah, ternyata tulang berang-berang itu telah kembali ke sarang tempatnya tinggal dan sedang memeluk kelima bayinya. Dia sangat terkejut melihat hal ini, sehingga dia pun menjadi biksu dan mengubah namanya menjadi Hyetong."
"Cerita yang aneh. Bagaimana bisa tulang induknya kembali kepada anak-anaknya."
"Ya. Hal-hal semacam ini memang bisa dibilang sangat aneh. Bahkan setelah mati pun, ada sesuatu yang kuat tersisa di dalam jiwa yang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu. Biasanya itu adalah emosi negatif seperti rasa sakit, kebencian, kemarahan, atau dendam, tetapi tidak semuanya seperti itu. Kasih sayang dan rasa terima kasih. Perasaan itu juga terukir dalam seperti sebuah tanda sehingga kerap memanggil kembali jiwa tersebut. Karena itulah orang yang sudah mati muncul kembali."
Yu-dan mendengarkan perkataan rubah dengan tatapan kosong.
Terukir dalam seperti sebuah tanda, lalu memanggilnya kembali...
Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Saat dia buru-buru melihat jam, waktu menunjukkan pukul 17.36.
Dia melompat berdiri.
"Aku harus pergi."
"Kamu mau ke mana?"
Si kembar yang sedang mengepel menoleh karena terkejut. Tanpa sempat menjawab, Yu-dan berlari tergesa-gesa menuruni tangga. Paman Do yang sedang duduk tertidur di toko langsung membuka matanya.
"Loh? Kau mau ke mana?"
Heukyo juga ikut berlari keluar sambil memegang sendok sayur.
"Tiba-tiba kau mau ke mana! Makan malamnya sudah siap!"
"Nanti! Nanti!"
Yu-dan berlari keluar dari Banwoldang. Sambil menunggu bus, dia pun bergegas menuju stasiun kereta bawah tanah. Saat dia turun dari kereta bawah tanah, waktu menunjukkan pukul 18.21. Karena waktunya sangat mepet, dia berlari menaiki tangga.
Di sinikah? Di sebelah sini?
Setelah sempat sedikit tersesat, dia melihat taman itu di sebelah sana. Pukul 18.37. Syukurlah.
Dia berjalan perlahan sambil mengatur napasnya.
Taman yang diguyur hujan itu hari ini semakin sepi. Dia berdiri di pintu masuk dan menunggu sambil melihat jam.
Waktu kejadian pembunuhan adalah pukul 18.53.
Di trotoar seberang jalan tidak ada bayangan orang satu pun. Di tengah-tengah pohon platanus berwarna hijau tua yang berdiri basah diguyur hujan, hanya mobil yang sesekali melintas.
Lalu pada suatu saat, siswi SMA itu muncul.
Dengan penampilan yang masih sama persis, dia berdiri menunggu lampu lalu lintas di depan tempat penyeberangan jalan sambil memakai payung dan meneteskan darah.
Lampu merah berubah menjadi hijau.
Siswi SMA itu menyeberangi jalan. Tanpa memperlihatkan wajah di bawah payungnya, dia semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Lalu saat tiba di pintu masuk taman, dia kembali berhenti.
"Ada apa?"
Tidak ada jawaban. Kenapa dia bersikap seperti itu?
"Kau takut? Orang itu sudah ditangkap. Dia ada di penjara sekarang. Dia tidak ada di sini."
Meskipun begitu, siswi SMA itu sama sekali tidak bergeming.
Dia tahu. Meskipun ada hantu yang bertingkah dan bisa mengobrol layaknya manusia, beberapa jiwa sudah terlalu hancur sehingga tidak bisa mendengar apa pun.
Yu-dan mencoba berdiri berdampingan di sebelah siswi SMA itu.
Barulah dia bisa melihatnya. Di belakang toilet taman, ada kegelapan hitam pekat yang mengintai.
Jangan-jangan itu adalah tempat dia dibunuh?
Siswi SMA itu sangat terguncang saat melihatnya. Jiwanya berdesir seperti televisi rusak dan sepertinya akan mati kapan saja.
Apa yang harus kulakukan dengan itu?
Yu-dan melangkah mendekati kegelapan itu. Sama seperti saat dia menghukum para monster, dia mencoba mencengkeramnya dengan tangannya, tetapi dia hanya mencengkeram udara kosong dengan sia-sia. Kenapa tidak bisa?
Apakah ini karena sosok itu tidak benar-benar ada, melainkan hanya apa yang dilihat oleh anak itu? Kalau begitu bagaimana?
Saat itulah dia teringat sesuatu.
Sesuatu itu langsung tergenggam di tangannya. Yu-dan menunduk menatap tanduk goblin yang memancarkan cahaya hitam di tengah hujan.
Apakah mungkin benda ini bisa melakukan sesuatu?
Sebagai uji coba, dia menyentuhkannya dengan pelan. Begitu ujung tanduk menyentuh gumpalan yang menggeliat itu, kegelapan tersebut seketika tersedot masuk.
"Eh?"
Karena terkejut, dia melihatnya lagi. Dia tidak salah lihat. Di tempat di mana kegelapan tadi berada, kini sudah tidak ada apa-apa lagi. Yu-dan menoleh ke arah siswi SMA itu.
"Sekarang sudah tidak ada lagi. Kau boleh pergi."
Meskipun tentu saja dia tidak akan bisa mendengarnya.
Siswi SMA itu kembali mulai bergerak.
Yu-dan mengikutinya. Sosok punggung yang memakai payung dan berjalan sambil meneteskan darah itu melewati taman lingkungan. Setelah menyeberangi tempat penyeberangan jalan yang lain dan berjalan cukup jauh, dia berhenti di depan sebuah toko bunga kecil dengan tenda berwarna hijau muda.
Yu-dan juga ikut berhenti.
Siswi SMA itu menunduk menatap bunga. Itu adalah sekuntum bunga besar berwarna ungu muda. Yu-dan juga ikut menunduk menatapnya.
"Oh, sekolah sudah selesai ya. Bunga itu baru masuk pagi ini..."
Pemilik toko yang keluar sambil mengajaknya bicara dengan santai itu seketika mematung, lalu dia menatap Yu-dan dengan wajah pucat.
"Kak, ada apa? Apakah kau melihat hantu?"
Wanita lain yang duduk di toko bertanya sambil tertawa. Barulah pemilik toko itu tersadar.
"Ya ampun, sepertinya aku benar-benar melihat hantu."
"Bicara apa kau. Benarkah?"
"Ya! Baru saja dia jelas-jelas berdiri di sini, loh?"
"Siapa?"
"Dia itu lho. Anak perempuan pemilik apotek. Tahun lalu yang, aduh, aku sampai tidak bisa berkata-kata. Sekarang pun kalau memikirkan dia rasanya di sini sangat sesak."
"Ah... Katanya dia dulu sering ke sini, ya?"
"Bukan sering ke sini, tapi setiap kali dia pulang ke rumah, dia selalu berdiri di depan sini untuk melihat-lihat bunga apa yang baru masuk, dan baru saja dia berdiri persis seperti itu. Tanpa sadar aku menyapanya, tapi ternyata murid ini."
Pemilik toko itu menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap Yu-dan.
"Maaf ya. Ada yang sedang kamu cari?"
Siswi SMA itu masih terus menunduk menatap bunga berwarna ungu muda tersebut. Yu-dan menunjuk bunga itu dengan tangannya.
"Ini bunga apa?"
"Hortensia?"
Pemilik toko kembali menatap Yu-dan dengan tatapan kosong.
"Ya ampun, anak itu juga sangat menyukai hortensia..."
"Tolong berikan ini padaku."
Yu-dan menerima buket bunga berwarna ungu yang rimbun itu lalu keluar. Siswi SMA itu pun kembali melangkah, seolah telah menunggunya.
Seekor anjing Jindo yang tengkurap di dalam rumah anjing di sebelah toko perhiasan tiba-tiba melompat keluar dan menggonggong. Siswi SMA itu berhenti sejenak di depannya. Anjing itu mengibaskan ekornya sambil melompat-lompat. Anjing itu tampak senang. Siswi SMA itu menunduk menatap anjing tersebut lalu mengulurkan tangannya. Tetesan darah mengalir di jari-jarinya.
Yu-dan mengelus kepala anjing itu. Bulunya yang basah karena hujan terasa lembap.
Siswi SMA itu kembali berjalan. Melihat dua orang nenek yang memakai jas hujan plastik berjalan ke arahnya, dia memiringkan payungnya dan menundukkan kepalanya. Yu-dan menyapa mewakilinya.
"Halo."
"Eh, iya. Kamu baru pulang ya?"
"Siapa?"
"Anak perempuan rumah depan."
Nenek itu menjawab tanpa berpikir lalu terdiam. Dia menatap Yu-dan dan memutar-mutar matanya.
"Apa aku berhalusinasi?"
Siswi SMA itu terus berjalan melewati mereka. Lalu dia berhenti di depan toko buah yang bersinar terang di tengah hujan, dan memandangi tumpukan buah persik yang menggunung.
"Terlihat enak, kan? Persik kuning tahun ini sangat manis..."
Pemilik toko buah yang menyambut dengan santai itu terkejut dan mematung lalu menatap Yu-dan.
"Aneh sekali. Baru saja jelas-jelas..."
"Tolong berikan buah persiknya."
Yu-dan menerima kantong belanjaan yang berat itu dan keluar. Siswi SMA itu terus berjalan.
Saat melewati toko roti di tikungan, langkah kakinya melambat sejenak. Aroma roti dan kopi bercampur dengan aroma hujan. Payungnya sedikit bergerak, dan dia melihat ke dalam jendela kaca yang penuh dengan roti. Kemudian dia kembali berjalan.
Itu adalah lingkungan yang sepi.
Siswi SMA yang terus berjalan itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Tembok berwarna gading yang agak pudar itu ditumbuhi mawar merah musim panas yang rimbun. Sosok punggung siswi SMA yang memakai payung itu berdiri di depan gerbang, memandangi pintu yang tertutup rapat itu dalam diam.
Di sinikah?
Saat Yu-dan berdiri berdampingan dengan siswi SMA itu dan memandangi gerbangnya, tiba-tiba pintu terbuka.
Seorang wanita yang kurus dan berantakan serta seorang murid SMP berdiri di sana. Keduanya membelalakkan mata dan menatap Yu-dan. Gadis SMP itu menggumamkan sesuatu.
"Tadi aku mendengar suara kakak..."
Lalu saat dia melihat bunga hortensia dan buah persik itu, dia terkejut setengah mati. Terdengar suara napas terkesiap dengan keras bahkan di tengah hujan.
Yu-dan pun merasa panik.
"Uh, ini..."
Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia menyerahkan bungkusan itu seperti melemparkannya dan langsung berlari melarikan diri.
"Tunggu sebentar!"
Gadis SMP itu berlari dan menangkapnya.
"Jangan pergi dulu! Ini apa? Apa kamu bertemu dengan kakakku? Apa kakakku yang mengirimnya?"
Sang ibu juga berlari dan menahannya.
"Anakku di mana? Putriku di mana? Ya? Tolong beri tahu aku! Di mana putriku yang malang sekarang?"
Yu-dan menatap kedua ibu dan anak itu.
Tidak ada kejadian di mana jiwa yang berlumuran darah itu berubah menjadi bersih. Tidak ada perpisahan terakhir di depan keluarganya. Tidak ada juga kepergian yang diselimuti cahaya. Gadis SMA itu hanya menghilang begitu saja. Secara tiba-tiba seperti saat dia mati, dan hanya hujan yang turun di udara yang kosong.
Hanya itu saja. Benar-benar tidak ada yang bisa dikatakan. Meski begitu, rasanya dia harus mengatakan sesuatu.
"Sepertinya dia ingin mampir sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Bukan karena dia merasa sakit dan menderita... tetapi karena dia merasa sangat bersyukur, jadi dia datang berkunjung..."
Tangis ibu dan anak itu pecah.
Yu-dan berbalik dan pergi melarikan diri.
Meskipun dia sudah memakai payung, hujan terus mengguyurnya sehingga pakaiannya basah. Dia terus berlari, hingga akhirnya dia merasa tidak kuat lagi dan berteduh di bawah tenda sebuah toko.
Tatapan mata ibu dan anak itu terus terbayang-bayang di benaknya. Itu adalah tatapan mata yang tidak bisa digambarkan dengan cara apa pun. Mengatakan bahwa seseorang bisa memahami penderitaan orang lain adalah sebuah kebohongan. Sama seperti luka yang ditorehkan asal-asalan dengan pisau tidak akan pernah sama persis, penderitaan setiap orang pun terlalu berbeda. Dia tahu betul lebih dari siapa pun bahwa orang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Tindakan semacam ini memang terlalu lancang.
Yu-dan mengeluarkan tanduk itu dan memandanginya.
Meskipun begitu, bukankah ini sedikit lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali. Bukankah lebih baik daripada membiarkan dan berpura-pura tidak melihat anak perempuan yang berjalan berlumuran darah itu. Dia memikirkan hal itu.
Di dunia di luar tenda itu, hujan terus turun. Cahaya lampu yang tembus dari toko menciptakan mosaik berwarna oranye yang berkilauan di atas jalanan. Di dunia yang basah dan dingin karena hujan itu, hanya hal itulah yang terlihat hangat.
. . .. .... ........
