Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 61>
Dia pergi ke arah sumber suara tersebut, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Hanya ada berbagai macam artefak yang dipamerkan di bawah sorotan lampu. Saat dia menoleh ke sana kemari karena bingung, terdengar suara-suara lain.
"Siapa itu? Siapa dia?"
"Aduh, auranya kuat sekali."
"Manusia seperti itu datang dan menekan kuat energi kita. Kapan kita bisa membentangkannya lagi?"
Makhluk-makhluk tak kasat mata itu berbisik-bisik. Gulungan lukisan di dalam kotak kaca tiba-tiba bergerak, lalu berhenti ketika Yu-dan menatapnya dengan tajam.
Sepertinya, sementara Yu-dan melihat-lihat artefak museum, artefak itu juga sedang mengamati Yu-dan. Rasanya sangat aneh.
Aku harus cepat menyelesaikan tugasku lalu keluar dari sini.
Saat melihat-lihat ke sekeliling, mata Yu-dan tertuju pada boneka-boneka kuno di balik kaca. Itu adalah boneka kayu yang dicat warna-warni. Ada sepasang pria dan wanita yang berdiri dengan tangan tertangkup. Ada juga seorang prajurit pemegang pedang yang menunggangi seekor binatang buas. Serta seorang pejabat. Entah kenapa boneka-boneka itu menarik perhatiannya sehingga dia menatapnya untuk waktu yang lama.
Apa ini mainan? Haruskah aku memilih ini?
Dia membaca penjelasannya.
"Boneka yang ditancapkan pada keranda jenazah dengan makna untuk menuntun jiwa orang yang telah meninggal."
Dia terkejut membaca penjelasan yang sama sekali tidak terduga itu. Saat dia melihat kembali ke arah boneka itu, dia menangkap sesuatu yang bergerak menggeliat di sudut pandangannya.
Yu-dan segera menoleh ke arah sana. Boneka kayu pemegang pedang itu baru saja menghilang di balik pintu masuk sana.
"Apa-apaan ini?"
Dia bergumam karena terkejut.
Itu bukanlah barang yang asli. Karena artefak aslinya masih tersimpan rapi di dalam kaca. Boneka kayu yang sedang berjalan keluar itu tampak transparan. Bagaikan lembaran film yang sangat tipis, lantai dan dinding dapat terlihat menembusnya.
Yu-dan mengikutinya. Sosok boneka kayu itu bergerak menyusuri lorong lalu menghilang ke atas tangga.
"Apa itu?"
Saat dia hendak mengejarnya naik, dia menghentikan langkahnya.
Bukan hanya boneka kayu itu saja. Wajah goblin yang terukir di genteng, harimau hitam, hingga hantu berambut merah dari lukisan Buddha kuno juga bermunculan. Semuanya berupa wujud tipis dan transparan seperti lembaran film, dan mereka semua tiba-tiba menghilang ke lantai atas.
Ini bukanlah kejadian biasa.
Yu-dan segera bergegas kembali ke arah asalnya.
Siluman-siluman itu tidak terlihat. Setelah lama mencari-cari di berbagai ruang pameran, dia akhirnya menemukan mereka di Ruang Kaligrafi. Baekran sedang sibuk mengamati karya kaligrafi dan salinan prasasti yang dipajang, sementara si kembar duduk kelelahan di kursi.
Yu-dan menghampiri mereka dan berkata. "Sepertinya terjadi sesuatu di lantai atas."
Ketiga siluman itu terkejut.
"Aku baru saja melihatnya. Bayangan tipis dan transparan yang bentuknya sama persis dengan artefak di sini mengambang dan naik ke lantai atas. Boneka yang ditancapkan di keranda jenazah, goblin, harimau, hantu, dan semacamnya. Apa itu?"
"Roh Benda (Samulryeong). Sepertinya kamu baru saja melihat roh dari benda-benda itu."
Siluman rubah menjawab.
"Benda juga punya roh?"
"Tentu saja. Terutama benda-benda yang sudah tua, roh sangat mudah terbentuk pada mereka. Sepertinya kamu baru saja melihat Roh Benda dari artefak-artefak ini, itu masalah besar. Jika Roh Benda meninggalkan wadahnya, benda itu akan rusak dengan sendirinya atau akan terjadi kebakaran tanpa sebab dan membakarnya. Entah karena apa mereka meninggalkan tempatnya dan pergi ke lantai atas, kita harus mengembalikan mereka."
Yu-dan dan para siluman keluar dari Ruang Kaligrafi dan naik ke lantai tiga. Benar-benar sulit dipercaya jika saat ini adalah tengah hari di akhir pekan, tidak ada satu pun pengunjung yang terlihat. Sebagai gantinya, roh-roh transparan seperti lembaran film bermunculan di mana-mana.
Dari Ruang Jepang, baju besi prajurit kuno berjalan keluar dengan bunyi berdenting. Topeng-topeng dengan ekspresi aneh juga mengambang di udara. Dari Ruang Tiongkok, sesosok monster mirip singa, seekor kuda raksasa, dan seorang jenderal menakutkan yang membelalakkan matanya berjalan keluar.
"Bahkan Raja Surgawi Jeungjang (Virudhaka) juga?"
Baekran menatap dengan wajah serius.
Roh-roh benda itu mengambang dan menyeberang di udara, tepat di bawah langit-langit museum. Mereka melintas di atas kepala para pengunjung yang sedang berlalu lalang tanpa mengetahui apa-apa di lantai dasar, lalu masuk ke salah satu ruang pameran yang berjejer seperti lorong di seberang sana.
Dari sana terdengar suatu suara. Itu adalah rintihan kesakitan seseorang, dan roh-roh benda itu tertarik ke arah suara tersebut.
"Kita harus bergegas."
Semuanya mengikuti Baekran menyusuri lorong dan berlari menuju ruang pameran di seberang.
Begitu masuk, mereka melihat pemandangan yang tak biasa.
Ruang pameran itu dipenuhi dengan berbagai macam wujud yang menakutkan. Semuanya menatap ke arah mereka dengan mata merah yang menyala. Binatang-binatang buas menggeram. Baju besi berdenting seakan mengancam. Sang jenderal mendekat sambil memutar-mutarkan pedangnya.
Baekran membelalakkan matanya.
"Mentang-mentang aku sedang terkena serangan panas, sekadar roh benda berani menyerangku?"
Saat dia mengeluarkan tombak raksasa yang biasanya dia segel, cahaya menyilaukan meledak di ruang pameran. Baekran terkejut dan buru-buru memasukkan kembali senjatanya.
"Artefak-artefaknya bisa rusak. Aku tidak bisa menggunakan mantra di sini."
Kalau dipikir-pikir, museum adalah tempat yang sangat rapuh, bahkan tidak boleh menggunakan lampu kilat kamera di sana. Dia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Saat mereka sedang kebingungan, roh-roh benda itu mulai berkumpul dengan mata merah yang menyala.
"Bagaimana ini? Kami juga meninggalkan senjata kami saat berganti pakaian."
"Kalau kita tidak bisa pakai mantra, yang kita punya cuma kemampuan menyembuhkan."
"Aku bisa menangkap hantu lalu memukulinya."
"Kalian tidak boleh menyentuh roh benda itu. Artefaknya akan rusak."
"Lalu bagaimana? Mereka sepertinya mau mencabik-cabik kita."
"Sepertinya hanya cara ini satu-satunya."
"Apa?"
Siluman rubah melompat dan bersembunyi di balik punggung Yu-dan. Si kembar yang tadinya ragu-ragu pun segera ikut bersembunyi.
"Kau mau menjadikanku tameng?"
"Setidaknya kamu punya kekuatan mata, bukan? Maksudku gunakan kekuatan dari matamu itu. Cepat tatap mereka."
Yu-dan terperangah. Dalam sekejap, dia sendirian saling tatap dengan roh benda yang jumlahnya begitu banyak itu. Rasanya seperti menjadi garis perbatasan yang hidup di mana kedua belah pihak saling berhadapan dengan tegang, dengan Yu-dan sebagai batasnya.
"Pasti ada cara lain. Sayangnya kepalaku sakit akibat serangan panas..."
"Tidak boleh! Berpikirlah!"
"Cheonho-nim! Tolong kami!"
"Yu-dan, kamu juga semangat! Ulur waktu sedikit lagi!"
Kuda raksasa yang terbuat dari batu tiba-tiba menghentakkan kakinya dengan keras. Si kembar menahan jeritan mereka.
"Ah, benar juga."
Baekran tiba-tiba mengambil ponsel dari saku Yu-dan, lalu dengan lancar memasukkan kata sandinya seolah itu miliknya sendiri, dan mulai mengotak-atiknya. Yu-dan sangat terkejut.
"Apa yang sedang kau lakukan!"
"Ini pasti bisa."
Baekran menyalakan suara pengusir nyamuk yang dia unduh karena penasaran belum lama ini. Katanya itu gelombang ultrasonik yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi setelah siluman rubah mengotak-atiknya beberapa kali, terdengar suara "Piiiik" yang sangat mengganggu. Rasanya seperti bagian yang paling menusuk saraf dari suara ratapan hantu yang penuh dendam telah dipotong dan diputar.
Mendengar suara itu, beberapa roh benda tampak terguncang.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bisa dibilang semacam penguat gelombang roh. Ini memaksimalkan reaksi penolakan roh-roh itu. Teruslah menatap mereka dan majulah sambil membawa ini. Kami akan mengikutimu dari belakang."
Dia tidak punya pilihan selain menuruti perintah.
Sepertinya mereka benar-benar membenci suara itu, karena saat dia melangkah maju sambil memegang ponsel, roh-roh benda itu mulai mundur perlahan. Rasanya seperti sedang menggiring kawanan domba.
"Bagus. Begitu. Ayo kita keluar."
Mereka berhasil menggiring dan mengusir roh-roh itu keluar dari ruang pameran. Baekran mengambil kembali ponselnya lalu meletakkannya di pintu masuk.
Roh-roh itu diam berkumpul untuk sesaat sebelum mulai kembali satu per satu. Meskipun dia kesal karena ponselnya diambil tanpa izin, melihat pemandangan ini, dia tidak bisa untuk tidak mengakuinya.
"Sudah berhasil?"
Baekran menggelengkan kepalanya.
"Kita belum bisa lega. Kalau ada staf yang datang, semuanya akan berakhir. Sebelum itu terjadi, kita harus mencari tahu apa yang memanggil roh-roh benda itu dan menyelesaikannya."
Barulah Yu-dan melihat sekeliling ruang pameran yang telah bersih itu.
Tempat ini agak unik. Etalase-etalase kotak kaca berjejer dengan jarak yang sama, dan di dalam masing-masing kotak terdapat sebuah keramik biru.
"Ini Ruang Seladon." Chaewoo berkata.
Terasa ada energi aneh dari bagian paling dalam ruang pameran tersebut. Saat dia mengikutinya, dia menemukan sebuah sudut yang menjorok ke dalam. Di ruang gelap tempat pintu darurat dan alat pemadam api berada, sesosok roh sedang duduk diam. Itu adalah seorang pria tua yang memakai kain penutup kepala, mengenakan baju atasan panjang (jeogori) yang menjuntai sampai ke bawah pinggang, dan celana longgar.
"Ternyata ini ulah lelaki tua itu."
"Ssst, mari kita dengarkan."
Lagipula, roh itu sepertinya sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia terus mengusap sesuatu di udara seakan ada barang di sana, lalu menurunkan tangannya dan memperagakan gerakan memutar sesuatu berulang-ulang tanpa henti. Pemandangan yang aneh.
"Apa yang sedang dia lakukan?"
"Itu adalah gerakan memutar meja putar untuk membuat keramik. Sepertinya dia adalah pembuat keramik dari zaman Goryeo."
Baekran menjawab.
Semuanya menahan napas dan mendekati roh pria tua tersebut. Pria itu tampak sangat kaku. Obsesi yang kuat terasa dari wajahnya yang berkerut dalam dan bibirnya yang terkatup rapat. Obsesi bagaikan pusaran air itulah yang sepertinya memanggil para roh benda.
"Permisi, Tuan Pembuat Keramik........"
Bocah siluman ginseng yang ramah mencoba mengajaknya bicara, tetapi pria itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Baekran menatapnya lekatq.
"Sepertinya Anda sangat sibuk."
"Aku ingin memesan keramik."
Barulah pembuat keramik tua itu mendongak.
"Jangan bicara omong kosong. Untuk apa orang mati memakai keramik. Sepertinya kalian belum sadar, tapi setelah mati kalian datang ke Neraka Tanpa Henti. Sama sepertiku."
Dia membalas dengan suara serak yang menggeram. Dia menggunakan bahasa kuno, tetapi maknanya langsung tersampaikan ke dalam pikiran.
Baekran kembali berkata.
"Rupanya Anda sadar bahwa diri Anda telah mati."
"Tentu saja. Aku sudah mati. Sudah lama mati."
"Lalu kenapa Anda membuat keramik?"
"Karena aku belum menyelesaikannya."
"Menyelesaikan apa?"
"Aku tidak bisa tidak membuatnya. Walaupun aku tahu aku tidak bisa membuatnya, aku tidak bisa untuk tidak membuatnya."
"Maka dari itu, apa yang ingin Anda buat?"
"Seladon baru."
Baekran berpikir sejenak lalu tersenyum simpul.
"Jika itu seladon, maksud Anda Woljuyo?"
Mendengar kata itu, si pembuat keramik menatap siluman rubah. Karena tempat itu remang-remang, ekspresinya tidak terlihat jelas, tetapi sepertinya dia sedang memelototinya.
"Apa maksudmu. Yang kumaksud bukanlah Woljuyo."
"Tapi Woljuyo yang terbaik."
Melihat ekspresi khas rubah yang
mengejek 'Apa kau bodoh?', kesabaran si pembuat keramik langsung habis.
"Kaulah yang bodoh! Woljuyo bukanlah yang terbaik! Yang terbaik adalah keramikku! Keramik dengan warna satu-satunya di dunia ini!"
"Begitukah? Maafkan kelancanganku. Bolehkah aku melihatnya sedikit?"
Pembuat keramik yang tadinya meledak-ledak itu pun seketika tenang.
"Bukankah aku sudah bilang aku belum menyelesaikannya."
Dia kembali memperagakan gerakan memutar meja putar dan membuat keramik. Meskipun dia tampak sangat menderita, dia seolah tidak bisa menghentikan gerakan tersebut.
Kira-kira apa yang terjadi sudah bisa dipahami. Yu-dan mengangguk.
"Begitu rupanya. Karena kakek itu
gagal membuat keramik tersebut, dia jadi tertahan di sini."
"Tapi Cheonho-nim, Woljuyo itu apa?"
Ketika Chaesol bertanya, Baekran pun menjelaskan.
"Itu adalah seladon Tiongkok kuno. Awalnya mulai dibuat di negara Yue, tetapi sampai zaman Dinasti Song, orang-orang menyebutnya secara umum sebagai Woljuyo (Yuezhou yao). Seladon ini juga sangat populer di Goryeo. Itu adalah seladon berwarna biru elegan yang keindahannya membuat siapa pun tak berhenti memujinya."
"Bicara apa kau."
Si pembuat keramik tua menyela.
"Siapa pun memujinya, katamu? Aku tidak memujinya. Begitu melihatnya, aku justru merasa kecewa."
Chaewoo memiringkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Apa butuh alasan untuk merasa kecewa? Karena bentuknya berbeda dengan apa yang kubayangkan, jadi aku kecewa."
"Apa yang Anda bayangkan? Tuan Pembuat Keramik, bisakah Anda bercerita lebih detail? Aku penasaran."
Si pembuat keramik menutup mulutnya rapat hingga bibirnya membentuk garis lurus. Apakah hanya sampai di sini saja? Baru saja dia hendak mendesaknya lagi, rubah
memberikan isyarat mata.
"Orang tuaku menjualku kepada seorang pembuat keramik terkenal untuk dijadikan muridnya."
Tak lama kemudian, dia kembali membuka mulutnya.
"Guruku bilang aku punya bakat bawaan dan sangat menyayangiku. Saat ada waktu luang, beliau menceritakan segala macam cerita tentang keramik kepadaku, dan yang paling memukau dari semuanya adalah cerita tentang Woljuyo. Katanya Woljuyo dianggap sebagai keramik terbaik sepanjang masa di bawah langit, bening dan biru seakan menampung jiwa langit di dalamnya. Saat masih kecil, sambil menatap langit, aku bermimpi suatu saat nanti aku akan membuat Woljuyo dengan tanganku sendiri. Lalu pada suatu hari, seorang pejabat yang mengenal guruku membeli keramik Woljuyo yang sangat langka dan mengundang banyak orang. Berkat kebaikan guruku, aku juga bisa ikut dan melihatnya. Akan tetapi..."
Pembuat keramik tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Melihat Woljuyo untuk pertama kalinya dalam hidupku, rasanya mengecewakan. Vas dengan ukiran bunga peony dan kupu-kupu itu sungguh indah, namun masalahnya ada pada warnanya. Ini bukanlah warna yang kubayangkan. Apakah warna langit seperti ini? Tanpa sadar aku mengatakan hal itu dengan suara keras. Pada saat itu juga, raut wajah pejabat tersebut berubah. Tempat yang tadinya riuh itu mendadak sunyi seperti tidak ada kehidupan."
Seolah ingatan pada saat itu masih begitu jelas tergambar, dia menghentikan perkataannya sejenak.
"Guruku sangat marah. Beliau mengusirku sambil berkata bahwa aku tidak pantas membuat seladon karena tidak bisa melihat keindahan Woljuyo. Alih-alih menyesal, aku justru merasa kesal. Walaupun dipikirkan berkali-kali pun, akulah yang benar dan mereka yang salah. Aku bertekad pasti akan mewujudkan warna biru yang kubayangkan saat melihat ke langit di masa kecilku itu. Aku bertekad pasti akan membuat keramik yang hanya ada satu-satunya di dunia ini. Aku membuat janji yang kuat dengan diriku sendiri."
Baekran mendengarkan cerita si pembuat keramik tua tanpa mengeluarkan suara napas. Yu-dan dan si kembar juga menatapnya dalam diam.
"Sejak hari itu, dengan mengertakkan gigi, aku bekerja siang dan malam. Bukannya tidak ada orang yang berpikiran sama denganku. Banyak yang membuat seladon baru dengan menggunakan teknik khas negara kita. Tapi, benda-benda itu pun tidak memuaskan mataku."
"Karena itu bukanlah warna yang Anda inginkan."
"Benar. Di dalam kepalaku, aku tahu betul apa yang harus dilakukan. Pertama, tanahnya sangat penting. Aku berkelana mencari tanah yang paling bagus. Hal penting lainnya adalah glasir. Glasir yang bening dan transparan tanpa setitik keruhan. Harus dioleskan jauh lebih tipis daripada Woljuyo. Ibarat seorang wanita cantik dari Goryeo yang bangun pagi dan menambahkan riasan tipis untuk memancarkan keanggunannya. Apinya juga penting. Kayu bakar pinus yang kering harus dibakar tanpa henti selama dua hari. Selama proses itu, tidak boleh ada angin yang masuk ke tungku. Barulah warna yang bening bisa muncul jika bisa menahan kobaran api."
Pembuat keramik yang tadinya bercerita dengan semangat itu kembali terlihat murung.
"Tapi itu tidaklah mudah. Aku hanya melewati banyak percobaan dan kegagalan berulang kali, tetapi tidak bisa menghasilkan warna biru yang kuinginkan. Tanpa sadar, aku sudah memasuki usia paruh baya. Guruku yang keras kepala telah berambut putih, dan beliau pernah sekali mengunjungiku sambil membawa murid-muridnya. Namun, melihatku yang masih melakukan hal-hal yang tidak berguna, beliau menjadi sangat marah dan pulang. Setelah itu, aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi. Semua orang bilang aku gila. Siapa sangka bocah pembuat keramik yang sempat diharapkan semua orang dan disebut-sebut sebagai jenius akan berakhir seperti ini. Andaikan aku membuat Woljuyo, saat ini aku pasti sudah hidup nyaman sambil mengelus perut."
Di dalam kegelapan itu, si pembuat keramik tersenyum getir.
"Waktu terus berlalu begitu saja. Tanpa terasa, bahkan tidak ada lagi orang yang mengingatku. 'Ah, kakek gila itu?' Aku hanya dikenal seperti itu. Aku hidup serba pas-pasan dari membuat mangkuk-mangkuk sisa, dan terus membuat seladon siang dan malam. Namun, sekeras apa pun aku berusaha, warna biru yang kuinginkan tidak kunjung muncul."
"Tubuhku menjadi sangat lemah sehingga sulit bagiku untuk bergerak tanpa tongkat. Aku merasa nyawaku tidak lama lagi."
"Saat mempersiapkan diri untuk membuat keramik yang mungkin akan menjadi karya terakhirku, aku teringat pada memori masa kecilku."
"Keinginanku untuk membuat keramik yang bening dan biru seakan menampung jiwa langit di dalamnya..."
"Begitu aku sadar, aku sedang membuat sebuah mangkuk. Aku ingin menaruh jiwa langit ke dalam mangkuk ini. Sambil mengharapkannya dengan sungguh-sungguh, aku mengukir motif padanya dengan segenap jiwa."
"Aku memasukkannya ke dalam tungku, dan selama dua hari tanpa istirahat, aku berdoa pada para dewa langit dan bumi. Yang terbakar di dalam tungku itu bukanlah api, melainkan jiwaku."
"Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan keramik yang dibakar dengan membakar sisa api terakhir dari jiwaku itu."
"Namun, ternyata itu juga bukan. Warnanya masih saja keruh. Aku pun putus asa."
"Pada akhirnya, aku gagal."
"Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku pingsan di tempat itu dan menghembuskan napasku yang terakhir."
"Dengan keadaan yang akhirnya gagal membuat keramik berwarna biru yang sangat ingin kubuat sepanjang hidupku itu."
"Hal itu begitu menusuk hatiku sehingga setelah mati pun aku terus mengulangi gerakan membuat keramik seperti ini."
Si pembuat keramik tua itu menghela napas panjang. Penyesalan yang mendalam dan obsesi yang kuat begitu terasa dari suaranya yang renta, membuat dada mereka ikut terasa sesak.
"Apa rasa penasaranmu sekarang sudah terjawab?"
. . .. .... ........
