Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 60>
Apakah aku bertindak terlalu kejam?
Yu-dan berpikir sambil berjalan.
Sebenarnya, mumpung sedang pergi, tidak ada salahnya membawanya. Masalahnya adalah siluman rubah itu punya hobi mengganggu manusia. Bahkan saat sedang bekerja, dia sengaja meluangkan waktu untuk mengganggu dengan sungguh-sungguh, lalu seberapa parah saat dia sedang bermain? Hal itulah yang dikhawatirkannya.
Namun, mungkin saja kekhawatirannya itu berlebihan. Mana ada tenaga untuk mengganggu orang lain saat sedang sakit?
Lagipula, jika dipikir-pikir, bukankah agak menyedihkan jika dia terus mengurung diri di ruang baca dan menyelesaikan masalah Unusuals tetapi tidak ada seorang pun yang mengingatnya? Berkat dirinya pula, Yu-dan telah selamat dari maut beberapa kali, hal ini membuat hatinya semakin terasa mengganjal.
Sesekali harus ada hari libur. Siluman rubah juga butuh liburan, bukan. Yu-dan menarik keluar seluruh rasa belas kasih dari lubuk hatinya. Ya. Ayo kita bersikap murah hati.
Dia mengangguk beberapa kali.
"Ngomong-ngomong, hari ini kita naik apa ke sana?"
Chaewoo bertanya sambil tersenyum berseri.
"Bus."
"Kenapa bus? Kukira kita akan naik kereta bawah tanah."
Baekran bergumam. Di depannya, wajah penuh ketidakpuasan melirik seolah berkata 'Apa dia bodoh?', kemurahan hatinya yang telah ia tunjukan, merosot kembali.
"Jangan banyak membantah. Hari ini, apa pun yang terjadi, kau harus menuruti perkataanku."
"Tetap saja, kukira kita akan naik kereta bawah tanah."
"Tidak. Kita tidak naik kereta bawah tanah. Hari ini juga, kau harus beradaptasi dengan sinar berbahaya. Aku akan membiarkanmu terpapar sebanyak mungkin agar kau tidak lagi terkena serangan panas untuk kedua kalinya. Aku tidak menerima bantahan."
"Bagaimana bisa dalam waktu sehari—"
"Cheonho-nim, hari ini kita ikuti saja perkataannya."
Chaewoo segera berbicara. Baekran menoleh dengan wajah cemberut.
"Andai saja aku tidak terkena serangan panas........"
Kelanjutannya tidak terdengar.
Bagaimanapun, Yu-dan membawa siluman rubah yang berjalan lunglai dan kedua siluman ginseng anak-anak itu berjalan kaki menuju halte bus yang jaraknya cukup jauh. Begitu tiba, sebuah bus langsung datang dari arah sana. Awal yang bagus.
"Empat orang."
Saat dia menempelkan kartu transportasinya dan masuk ke dalam, si kembar tampak heboh.
"Bukan. Cuma satu orang."
"Benar. Satu orang, satu ekor, dan dua akar."
"Diamlah. Nanti ada yang dengar. Tunggu. Kau mau ke mana? Duduk di sini."
Dia mendudukkan siluman rubah yang tadinya hendak duduk di kursi pojok paling belakang menjadi di kursi tengah yang terpapar sinar matahari.
"Kalian juga ke sini dan cegah dia kabur."
"Maaf, Cheonho-nim. Ini demi meningkatkan kekebalan tubuhmu."
"Tahanlah sebentar."
Ekspresi rubah kembali menjadi sangat masam. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi menelannya kembali dan mengajukan pertanyaan.
"Ada berapa halte lagi sampai di museum?"
Hampir saja Yu-dan tertawa karena makhluk itu sangat kentara terlihat menantikannya.
"Omong-omong, aku penasaran. Padahal kau punya banyak barang antik yang ditumpuk di sana, untuk apa kau mau pergi ke museum? Sepertinya kau juga punya banyak harta karun."
"Kamu tidak mengerti. Satu harta karun milik orang lain lebih menarik daripada seratus harta karun milik sendiri."
"Ditambah lagi dengan penyamaranmu hari ini, ucapanmu itu terdengar sangat seperti penjahat, tahu? Aku tidak mau catatan kriminalku ditandai merah, jadi tolong berhati-hatilah."
"Jangan khawatir. Harta karun memang bagus, tetapi museum punya tontonan menarik yang sesungguhnya."
"Apa itu?"
"Aku hanya akan melihatnya sendiri."
"Oh, begitu? Lihat saja sepuasnya. Dan tolong turunkan tanganmu, jangan menutupi sinar matahari."
"Tolong turunkan."
"Turunkan, Cheonho-nim."
Si kembar buru-buru menimpali.
Rubah yang mengaku terkena serangan panas itu menggumamkan sesuatu dengan suara kecil, tetapi karena situasinya tiga lawan satu, dia terpaksa menurunkan tangannya.
Sampai di sini, semuanya berjalan sesuai rencana. Ketiga siluman itu berada di bawah kendali sepenuhnya, dan bus yang sedikit macet itu memaparkan sinar berbahaya secara maksimal pada makhluk kuno tersebut. Dengan lancar, mereka akhirnya tiba di Museum Nasional Korea.
"Inikah museumnya? Luar biasa!"
"Sangat besar!"
Si kembar terkejut dengan tulus. Katanya mereka tidak melihat satu pun foto sebelum kemari demi menikmati kunjungan yang menyenangkan.
"Di sini ada kolam dan pendopo. Pendopo itu dibangun untuk peringatan seratus tahun."
Baekran menatapnya seolah hal itu sangat tidak terduga.
"Apa kamu sering datang ke museum?"
"Tidak. Ini pertama kalinya."
"Lalu gimana kamu bisa tahu?"
"Mana mungkin aku tidak mencari tahu dulu sedangkan aku membawa tiga siluman kemari? Aku sudah mencarinya di rumah."
"Di luar dugaan, ternyata kamu punya bakat menjadi pemandu? Di sana juga terlihat ada bangunan, bangunan apa itu?"
"Entah. Aku cuma mencari tahu sampai pintu masuk, selebihnya aku malas jadi kuhentikan."
"Ternyata kamu tidak punya bakat sama sekali."
"Omong-omong, ayo
makan bekal makan siang kita sekarang."
Si kembar yang sedang melihat-lihat ke sana kemari menatapnya dengan terkejut.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kita menggelar tikar di halaman rumput dan makan bekalnya saat kaki kita mulai pegal setelah berkeliling museum?"
"Tidak ada hal semacam itu untuk kita. Berdasarkan pengalamanku sejauh ini, kemungkinan besar lebih dari sembilan puluh persen akan terjadi insiden dalam waktu dekat yang membuat kita berlarian kesana-kemari sampai tidak sempat memakannya. Untuk mencegah hal itu, aku memutuskan untuk memakannya sebelum kita mulai."
"Padahal aku belum lapar sama sekali........"
Chaesol memiringkan kepalanya, tetapi dia mengeluarkan bekal makan siang itu dengan patuh. Bekal gimbap itu tampak sangat normal, sangat sulit dipercaya jika dibuat oleh siluman, dan di sana juga ada satu bagian untuk Yu-dan. Namun, sebelum gimbap pertama dimakan, Baekran tiba-tiba berdiri.
"Ayo pergi?"
"Cheonho-nim, Anda tidak makan
?"
Mendapat desakan dari Chaesol, Baekran menepuk-nepuk wadah kosong untuk menunjukkannya. Siapa pun yang melihatnya tahu bahwa itu adalah sebuah tipuan. Namun, pada akhirnya toh hanya dia sendiri yang akan merasa lapar.
"Tunggu lima menit."
Yu-dan dan si kembar menghabiskannya dengan cepat tanpa sepatah kata pun, lalu segera berdiri.
"Waktu makan siangnya beda dari yang kita bayangkan. Bukan seperti orang piknik, malah seperti tentara yang makan ransum di tengah perang."
"Justru itu yang bagus. Bedanya dengan bayangan kita membuatnya jadi segar, kan? Apalagi gimbapnya juga segar. Siapa sangka kita makan bekal siang di pagi hari begini."
Yu-dan membawa si kembar yang berbisik-bisik itu menuju gedung utama.
Karena tempatnya sangat luas, suasananya terasa lengang, tetapi jika diperhatikan dengan saksama, sebenarnya ada banyak orang di sana. Chaesol tampak sangat gugup melihat petugas keamanan berbadan tegap yang berdiri di pintu masuk.
"Akhirnya
tiba. Bagaimana ini?"
"Apa yang kau khawatirkan? Mana mungkin dia mengenali siluman."
Saat itu, petugas keamanan tersebut melirik ke arah mereka. Tatapan matanya yang tajam dan tegas membuat Yu-dan pun sedikit tersentak.
"Tenanglah kalian. Tatapan mata petugas keamanan memang seperti itu dari sananya. Di dalam hatinya, dia pasti sedang memikirkan menu makan siang."
Meskipun Baekran berkata demikian, dia sendiri justru tidak beranjak dari balik punggung Yu-dan. Begitu pula dengan si kembar. Ketiganya hanya akan bergerak ketika Yu-dan bergerak. Pemandangan itu pasti terlihat sangat aneh, tetapi untungnya mereka bisa lolos dengan berbaur di antara rombongan turis Tiongkok yang kebetulan sedang masuk. Eh, bukankah mereka sudah lolos? Tapi ternyata Chaesol tidak ada.
"Kak!"
"Ke mana dia pergi?"
Saat menoleh ke belakang, Chaesol ternyata berdiri mematung sendirian di kejauhan. Wajahnya pucat, matanya berkedip bingung.
"Si bodoh itu...."
Yu-dan berjalan keluar dan membawa Chaesol masuk kembali. Gadis siluman ginseng anak-anak itu barulah menghela napas panjang. Dia menemukan kembali semangatnya saat melihat papan informasi.
"Lihat itu! Ada larangan 'Dilarang menggunakan flash, tripod. Dilarang menyentuh. Dilarang membawa makanan dan minuman. Dilarang menggunakan ponsel' sampai 'Dilarang merokok', tetapi tidak ada 'Siluman dilarang masuk'! Syukurlah!"
"Kalau kau jadi staf di sini, memangnya kau akan menulis 'Siluman dilarang masuk'?"
"Tidak."
Bagaimanapun, satu rintangan telah terlewati. Yu-dan melihat sekeliling sambil berjalan.
Bagian tengah museum terbuka lebar hingga ke langit-langit. Jika mendongak, ruang pameran di lantai dua dan tiga bisa terlihat. Lorong berkilau yang membentang sangat panjang itu dipenuhi oleh pengunjung. Chaewoo berdecak kagum, lalu mengeluarkan kamera antiknya dan memotret berbagai sudut.
"Luar biasa. Tempat seluas ini penuh dengan benda-benda peninggalan. Omong-omong, tugasmu tentang apa?"
"Mengamati artefak dan memilih satu yang paling berkesan, lalu menulis laporan pengamatannya."
Yu-dan pergi ke ruang pameran pertama. Begitu masuk, dia menunjuk sebuah batu yang terlihat pertama kali.
"Wah, ini yang paling berkesan."
"Kamu sedang bercanda? Kerjakan dengan benar."
Siluman rubah langsung menegurnya.
"Apanya? Bentuknya benar-benar unik..... Hmm....."
"Ternyata kamu tidak tahu apa itu."
"Itu 'kapak genggam'. Aku memilih ini. Nanti pasti akan ada pihak terkait yang bercerita tentang bagaimana dan di mana mereka menggunakannya."
"Pihak terkait apa maksudmu? Apa kamu tidak melihat penjelasannya? Ini dari zaman Paleolitikum. Usianya sekitar 70 hingga 80 ribu tahun yang lalu, paling lama 300 ribu tahun yang lalu."
Melihatnya membantah setiap perkataan dengan jelas, sepertinya kondisinya sudah membaik.
"Cheonho-nim! Lihat ini! Ada perahu kayu dari zaman Neolitikum!"
"Wah! Ada kerangka manusia! Katanya itu tulang manusia purba dari zaman Paleolitikum!"
Si kembar juga berkeliling ke sana kemari dengan penuh semangat. Ketika mengira perhatian mereka tertuju pada pedang kuno, tiba-tiba mereka membuat keributan di depan kalung yang terbuat dari manik-manik batu giok, berseru "Cantik sekali!"
"Pasti harganya mahal!"
Kapak genggam itu mendadak terlihat tidak menarik lagi.
"Aku harus mencari yang lain."
Yu-dan terus berjalan sambil mengamati koleksi-koleksi tersebut. Cermin perunggu berbentuk lingkaran dengan ukiran motif kuno menarik perhatiannya. Bentuknya sangat mirip dengan Cermin Chucheon yang memberikannya penderitaan belum lama ini. Apakah mereka berasal dari zaman yang sama?
Saat dia menoleh, dia melihat berbagai peralatan perunggu lainnya di balik kaca. Benda-benda itu sangat mirip dengan benda-benda yang dia lihat saat menggeledah gudang lantai dua ketika dia dirasuki makhluk bayangan. Yu-dan membaca penjelasannya satu per satu. Guci, kendi, botol miras, teko, dan lain-lain.
"Jadi itu cuma sekumpulan peralatan dapur?"
Setelah berkeliling, pandangannya terhenti pada satu titik. Sebuah hiasan emas yang dipamerkan di atas latar belakang berwarna hitam. Hiasan itu dibentuk menyerupai kobaran api yang rumit dan halus, sepertinya benda itu bersaudara dengan belati emas milik Baekran. Namanya adalah 'Hiasan Mahkota Emas Goguryeo'.
Kebetulan Baekran sedang melihat-lihat di sekitarnya, jadi Yu-dan menghampiri dan bertanya kepadanya.
"Apa kamu berasal dari Goguryeo?"
"Bukan."
Ekspresi Baekran seketika berubah menjadi tidak senang. Padahal dia bertanya tanpa niat tertentu, tapi tampaknya pertanyaannya sangat menyinggung.
"Aku tidak boleh menanyakan hal seperti itu?"
"Coba kamu pikirkan. Jika kamu pergi ke luar negeri dan ditanya apakah kamu orang Tiongkok atau Jepang, apakah perasaanmu akan senang?"
"Tidak, maksudku, aku tidak menyangka kamu akan semarah ini. Jadi kamu berasal dari mana?"
"Silla."
Baekran menjawab dengan ketus dan tegas seperti memotong dengan pisau.
Ternyata dia marah karena salah menyebutkan nama asalnya. Kalau dipikir-pikir, dia pernah mendengar bahwa Goguryeo, Baekje, dan Silla terlibat dalam peperangan yang sengit.
Namun, bukankah kejadian itu sudah berlalu lebih dari seribu tahun yang lalu? Apakah dia masih mendendam sampai sekarang?
"Kalau begitu, kamu pasti ingin segera melihat Ruang Silla, kan?"
"Tidak. Aku tidak punya kenangan yang terlalu bagus di sana."
Apa-apaan ini? Yu-dan menjadi bingung. Dia marah saat salah menebak asalnya, tapi saat ditanya apakah dia merindukan tempat asalnya, dia malah lebih marah lagi. Apakah ini yang disebut cinta sekaligus benci?
Mereka melewati bagian Goguryeo, Baekje, dan Gaya, kemudian memasuki bagian Silla. Sekilas saja, Ruang Silla dipenuhi dengan berbagai artefak berwarna emas.
"Silla adalah negara emas."
Seorang ibu sedang menjelaskan di depan anak-anaknya yang berbaris.
Negara emas. Memang sangat cocok dengan Cheonho. Namun, Cheonho sendiri justru melihat-lihat artefak tersebut dengan wajah masam. Kemudian, ekspresinya berubah saat melihat tembikar berbentuk penunggang kuda.
"Melihat ini benar-benar membuatku teringat akan masa lalu."
Kesadaran Yu-dan langsung kembali.
"Diamlah."
Namun, Baekran tidak mendengarkannya.
"Dulu aku juga punya benda seperti ini."
Melihat tempat anak panah berbentuk goblin, dia mendekatkan wajahnya ke kaca pajangan.
"Milikku dulu jauh lebih bagus dari ini, pemberian langsung dari Raja. Katanya itu adalah harta karun dari Seorabeol."
Dia sedang menyombongkan hal yang sudah berlalu lebih dari seribu tahun yang lalu. Anak-anak yang sedang mencatat meliriknya sekilas. Namun, tampaknya mereka hanya menganggapnya angin lalu. Tentu saja. Perkataannya itu sama sekali tidak masuk akal.
Si kembar menatapnya dengan mulut ternganga dari kejauhan.
"Mari kita pura-pura tidak kenal saja. Pura-pura bukan satu rombongan."
Ketiganya bergegas keluar dari Ruang Silla. Seolah teringat akan sesuatu, Chaesol merogoh sakunya dan memberikan selembar uang kertas kepada Chaewoo. Ekspresinya tampak sangat tidak rela.
"Kalian berdua bertaruh?"
"Ya. Kakak menebak Cheonho-nim akan sangat membenci Ruang Silla, sedangkan aku menebak dia akan sangat menyukainya."
"Sungguh aneh. Jika dilihat dari cara bicaranya, kukira dia tidak akan meliriknya. Bukankah dia sudah membuang semua barang-barang dari zaman Silla?"
"Bukan. Waktu kami bersih-bersih dulu aku pernah mendengarnya, dia bilang bukannya dibuang, tetapi hilang."
Si kembar terus mengoceh menceritakan hal-hal kecil seperti Cheonho-nim begini dan Cheonho-nim begitu. Melihat mereka, Yu-dan tiba-tiba teringat sesuatu.
"Omong-omong, katanya kalian mempertahankan hidup kalian berkat siluman rubah itu? Apa maksudnya?"
"Mmm, ceritanya agak panjang. Nanti akan kuceritakan saat ada waktu luang."
Chaesol tersenyum canggung. Karena merasa tidak enak untuk mendesaknya lebih jauh, Yu-dan pun menutup mulutnya.
Mereka telah menunggu cukup lama sambil duduk di bangku batu, tetapi Baekran tidak kunjung keluar. Rasanya mulai membosankan.
"Bagaimana kalau kita menyerah saja lalu memungutnya nanti saat kita pulang?"
"Memungut apanya. Menurutku kita butuh pengeruk permen karet untuk melepaskannya."
"Bagaimana kalau dia bilang ingin tinggal di sini selamanya? Aku tidak mau tinggal di museum."
Saat mereka sedang berbincang tentang ini-itu, siluman rubah tiba-tiba keluar. Ketiganya pun terkejut.
"Sepertinya dia diusir staf karena ketahuan."
"Bukan. Aku keluar karena kurang menarik. Aku mau lihat hal lain."
Baekran berjalan sendirian menuju eskalator. Ketiganya langsung berdiri dan mengikutinya. Di belakang, si kembar berbisik.
"Eh, omong-omong, kita tadi sudah melihat bagian Goryeo dan Joseon belum? Kenapa aku tidak ingat?"
"Belum, Kak. Perjalanan kita diakhiri secara paksa di Silla."
Lantai pertama penuh sesak, tetapi begitu mereka naik ke lantai dua, jumlah pengunjung langsung berkurang drastis. Begitu memasuki Galeri Donasi, bau benda tua menusuk hidung mereka.
Bau ini adalah bau dari furnitur antik yang dipekatkan ratusan kali lipat. Baunya begitu usang, saking usangnya hingga terasa sedikit manis.
"Benda-benda di sini benar-benar sudah lapuk!"
Si kembar berlari menuju pameran keramik. Tempat itu dipenuhi dengan keramik putih dan seladon.
"Apa ada kerabat paman di antara benda-benda ini?"
"Ayo kita foto dan tunjukkan padanya, siapa tahu dia mengenalinya."
Sambil memotret dengan rajin, Chaewoo bertanya kepada kakak perempuannya.
"Oh iya, ke mana perginya Cheonho-nim?"
"Dia di sana. Dia sedang menunduk melihat sesuatu di depan etalase."
"Bukankah itu buku? Dia sedang berdiri membaca bagian yang terbuka!"
"Tidak boleh! Kak Heukyo bilang dia sama sekali tidak boleh membaca buku!"
Yu-dan berjalan meninggalkan keributan itu. Karena tidak ada pengunjung lain, dia merasa tenang membiarkan para siluman itu berduaan. Sekarang saatnya bagi dirinya untuk mengerjakan tugas. Dia melangkah sambil melirik furnitur-furnitur antik dan perhiasan di sana.
Orang-orang yang sesekali terlihat juga menghilang. Rasanya seperti dia telah menyewa seluruh museum ini. Hanya terdengar suara perbincangan pelan dari suatu tempat di kejauhan.
"Sungguh barang yang sangat langka."
"Luar biasa. Nilainya pasti tidak bisa diukur."
"Aku juga baru pertama kali melihat benda aslinya secara langsung."
"Pasti barang asli, bukan?"
"Tentu saja. Mata itu jelas Cheonan."
Yu-dan terkejut dan menghentikan langkahnya.
. . .. .... ........
