LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 59>

Kisah ke-lima belas

<Satu-satunya Warna Langit>



Orang-orang Goryeo menyebut warna kebiruan pada keramik sebagai warna bisaek

Warna bisaek dari Goryeo adalah yang terbaik di bawah langit. 

『 kutipan Sujunggeum』


●◉◎◈◎◉●


Bayangan pohon yang rimbun membentuk pola di atas jalanan.

Udara belum terasa panas. Bahkan terasa sentuhan menyegarkan dari angin yang berembus menyapu lengan. Meskipun pasti akan segera menjadi panas saat kota terbangun.

Seorang pria keluar dari rumah sakit di pagi hari. Dia mengenakan pakaian pasien dan masih terpasang jarum infus, lalu menyeberang jalan tanpa menunggu lampu pejalan kaki.

Sebuah mobil merah melaju dari arah berlawanan, melewati tubuh pria tersebut begitu saja.

Pria itu membuang jarum infusnya saat dia memasuki sisi jalan yang dipenuhi pohon platanus. Dengan langkah yang terlihat sangat ringan, dia menghilang ke dalam bayangan hijau pepohonan.

Roh itu ada. Meskipun tidak terlihat oleh mata orang-orang, mereka pasti ada. Itu adalah rahasia yang hanya ditunjukkan sekilas oleh dunia ini kepadanya.

Yu-dan menatap tempat pria itu menghilang, lalu kembali berjalan.

"......Bangsawan klan Goryeo tidak hanya memegang kekuasaan dan memiliki tanah berskala besar, tapi mereka juga mengumpulkan kekayaan besar dengan menerima keuntungan lahan Gwajeon dan Gongeumjeon dari negara........"

Dia menopang dagu dan membiarkan pelajaran itu masuk ke telinga kanan dan keluar di telinga kiri.

Pelajaran Sejarah Nasional sangat membosankan. Lebih dari separuh anak-anak tertidur, bahkan gurunya pun tampak mengantuk.

Yu-dan menatap ke luar jendela.

Ada satu awan yang bentuknya aneh dan bergerigi. Jika diperhatikan, bentuknya mirip kepala rubah.

Kalau dipikir-pikir, dia sudah memutuskan untuk pergi melihat apakah kekacauan tempo hari telah dibereskan dengan baik, tetapi dia tidak bisa pergi.

Itu karena dia bahkan tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan tugasnya. Kalau dulu, dia pasti sudah diam-diam melewatkan beberapa tugas.

Gejala sakit seperti flu yang biasa dia alami setiap awal musim panas berhasil dilaluinya dengan cukup baik, dan meskipun bukan karena kemauannya sendiri, rumahnya juga sudah dibersihkan, jadi untuk sementara waktu dia memutuskan untuk setidaknya berpura-pura hidup dengan rajin.

Yu-dan kembali memusatkan perhatian pada pelajaran.

Namun, tetap saja itu terlalu membosankan sehingga pikirannya segera menjadi linglung. Memangnya aku bisa mengerti apa kalau baru tiba-tiba mendengarkan pelajaran sekarang?

Saat dia melihat ke luar jendela, awan yang tadi masih berada di tempat yang sama.

Rubah. Rubah putih.

Perkataan Baekran tiba-tiba terlintas di benaknya. Orang-orang zaman dahulu tidak tahu apa itu Cheonho. Karena terlalu menyilaukan, mereka mengira itu adalah rubah putih.....

Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya.

Ketika dia ketakutan melihat wujud monster yang ditunjukkan Inrang(Siluman serigala) di pasar Singeomu, Baekran berkata bahwa dia juga ada di sana pada hari itu.

Saat mendengar hal itu, sebuah adegan terlintas di benaknya. Seekor rubah putih yang turun menginjak kegelapan dan menghalangi monster tersebut.

Seekor rubah raksasa dengan sembilan ekor.

Baekran kemudian mengatakan bahwa itu bohong. Namun, setelah dipikir-pikir sekarang, hal itu terasa aneh. Bukankah Cheonho berwarna emas?

Jika dia mengada-ada sendiri setelah mendengar perkataan Baekran, dia seharusnya membayangkan rubah berwarna emas.

Rubah putih, bukankah itu sama dengan kisah saksi mata orang-orang zaman dahulu yang pertama kali melihat Cheonho?

Jangan-jangan, itu bukanlah ingatan yang dia buat sendiri, melainkan adegan yang benar-benar dia lihat.

Dalam keadaan tanpa pengetahuan sebelumnya, bukankah dia salah mengira Cheonho berwarna putih bersih saat pertama kali melihatnya?

Dia terkejut saat memikirkan hal itu.

Ya ampun. Entah apa ini, tetapi sepertinya aku baru saja memikirkan sesuatu yang menusuk.

Rasa kantuknya langsung hilang. Mungkin saja dia baru menangkap suatu petunjuk. Dia benar-benar penasaran apa yang akan dikatakan Baekran jika mendengar cerita ini.

Begitu sekolah usai, Yu-dan langsung berlari menuju Banwoldang.

Namun, pemandangan yang sama sekali tidak terduga telah menunggunya.

Siluman rubah terkapar di ruang obat, bukan di ruang baca ataupun di lantai teras halaman. Ujung telinganya yang biasanya berdiri tegak kini tampak terkulai lemas, memperlihatkan sosok yang bukan hanya sekadar kehabisan energi, tetapi energinya seolah sudah benar-benar menyentuh dasar.

"Kepalaku sakit......."

Si kembar siluman ginseng anak-anak sedang mengipasinya dengan lemas di sebelahnya. Kondisi anak-anak ini juga terlihat tidak baik.

"Ada apa? Kenapa begini? Jangan-jangan kau kena hukuman langit lagi?"

"Bukan."

Chaesol menggelengkan kepalanya.

"Mengejutkannya, Cheonho-nim terkena serangan panas."

"Apa? Serangan panas?"

Mendengar perkataan itu, dia jadi teringat. Terakhir kali dia melihatnya, Baekran menghilang melarikan diri dengan wajah pucat, mengatakan bahwa dia terlalu lama berdiri di bawah sinar matahari.

"Jangan-jangan gara-gara keluar pada hari itu?"

"Benar. Sejak kembali dari luar, dia terus bilang kepalanya sakit dan akhirnya jadi begini. Dia bilang tidak mau melakukan apa-apa. Waktu kami periksa denyut nadinya, dia memang kena serangan panas."

"Tidak masuk akal. Seingatku itu tidak sampai tiga puluh menit. Cuma gara-gara itu dia kena serangan panas?"

"Itu karena sinar mataharinya tidak sama seperti zaman dahulu."

Baekran membalas dengan ketus.

"Kamu bilang dia tidak suka karena semuanya berbeda dari zaman dulu. Setiap kali bersikap begitu, kamu sungguh kelihatan seperti kakek-kakek, tahu?"

"Pikirlah sesuka hatimu. Memangnya ini semua gara-gara siapa? Ini gara-gara manusia. Gara-gara kalian semua menghancurkan lapisan ozon, sinar berbahayanya jadi terlalu kuat. Padahal waktu terakhir kali aku keluar di siang hari pada musim panas, kondisinya tidak separah ini."

"Kapan memangnya itu?"

"Kapan ya waktu itu........"

"Tahun 1945 tanggal 15 Agustus."

Mendengar jawaban Chaewoo, Yu-dan pun terperanjat.

"Terakhir kali keluar di siang hari pada musim panas adalah saat Hari Kemerdekaan? Itu sih bukan serangan panas, tapi karena kamu terlalu kurang olahraga! Bukankah kamu hidup terlalu mengurung diri seperti pengangguran di kamar?"

"Aku bukan pengangguran."

"Kalau begitu, apa ka.u melakukan olahraga apa pun?"

"Tidak."

"Benar pengangguran, kan!"

"Bukan."

"Kenapa?"

"Seharusnya dibilang siluman pengangguran."

"Bicara apa kau ini! Jadi kau mengakuinya?"

"Apa yang tidak bisa diakui. Hanya yang rendahan yang berkeliaran. Semakin seseorang mengurung diri di kamar, semakin elegan dirinya."

"Oh, begitu. Makanya kamu terkena serangan panas dengan sangat elegan. Apa kalian tidak merasakan apa-apa setelah melihat keadaan ini? Kalian semua terlalu memanjakannya. Kalau itu aku, aku pasti sudah menyeretnya keluar besok pagi dan menyuruhnya berolahraga."

"Lihatlah cara bicaranya. Siapa yang mau menyeret siapa, katanya. Bukankah dia manusia yang lancang?"

Baekran meminta persetujuan, tetapi semuanya terdiam. Bahkan siluman ular yang biasanya selalu mengiyakan perkataan siluman rubah ini pun kini menutup mulutnya.

Siluman dokkaebi membuka mulutnya dengan hati-hati.

"Cheonho-nim, sepertinya perkataan anak ini ada benarnya juga. Anda terlalu jarang keluar rumah. Seekor siluman rubah yang sudah berusia lebih dari seribu tahun, terlebih lagi Cheonho, keluar sebentar di siang bolong lalu langsung pingsan karena serangan panas. Siapa yang akan mempercayai hal itu?"

"Lihat. Pantas saja rasanya aneh. Walaupun begitu tetap saja dia itu Cheonho, kan?"

"Lihatlah itu. Orang lain pun akan bereaksi sama. Hahaha. Aku jadi takut kalau ada yang tahu. Anak-anak siluman yang lahir akhir-akhir ini bisa berkeliaran dengan baik di bawah sinar berbahaya. Bukankah Anda sering mengatakan bahwa siluman yang tertinggal dan tidak bisa beradaptasi dengan dunia yang berubah ini sangatlah tidak kompeten?"

"Ada hukum alam yang mewajarkan gelombang belakang dari Sungai Yangtze mendorong gelombang di depannya. Saat tiba waktunya untuk tertinggal, kita harus menerimanya."

"Anda mengubah ucapan tanpa ragu sedetik pun."

Saat Paman Do mengkritiknya, Baekran menutupi wajahnya dengan kipas untuk menghindar. Heukyo menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak bisa mencegah hal itu.

"Apapun itu, situasinya sedang begini, jadi kau pulang saja. Untuk sementara waktu ini adalah masa larangan Unusuals."

"Tidak."

"Dilarang."

Dia menancapkan paku untuk menegaskan, mengabaikan perkataan Baekran. Bahkan terasa aura seorang jenderal yang bertahan sambil menancapkan pedang ke tanah.

"Aku kemari bukan karena Unusuals. Aku berniat menanyakan hal lain, tapi....."

"Apa itu? Sebaiknya kamu tanyakan secepatnya sebelum aku mati karena frustrasi diisolasi paksa di tempat ini. Mayat tidak akan bisa menjawab."

"Entah boleh kutanyakan sekarang atau tidak, tapi sebenarnya hal ini tiba-tiba terlintas di pikiranku siang tadi. Cheonho itu warnanya emas, bukan. Secara nyata pun terlihat begitu di mataku."

"Ya. Benar warnanya emas."

"Tetapi, saat orang-orang kuno pertama kali melihat Cheonho, katanya mereka salah mengiranya sebagai warna putih? Setelah kupikir-pikir lagi, saat itu aku juga melihat seekor rubah putih. Bukankah itu aneh? Aku sudah tahu bahwa Cheonho itu berwarna emas. Jika aku mengingat sebuah ilusi dalam keadaan itu, seharusnya itu adalah rubah berwarna emas, tapi kenapa rubah putih?"

"Aku kurang paham dengan apa yang kamu bicarakan. 'Saat itu' yang kamu maksud itu kapan? Kapan kamu melihat ilusi rubah putih?"

"Ah, aku melewatkan hal itu. Maksudku saat di pasar Singeomu. Kamu pernah bilang padaku, bahwa kamu juga ada di lokasi itu. Maksudku adalah pemandangan yang terlintas di depan mataku setelah mendengar hal itu. Hari itu, ketika monster bermata delapan muncul dan banyak orang mati, yang menghalangi di depanku sudah pasti seekor rubah putih........"

Menyadari bahwa semua orang menatapnya dengan mata terbelalak, Yu-dan menghentikan ucapannya. Baekran menyingkirkan kipas yang menutupi wajahnya.

Siluman rubah ini pun sepertinya cukup terkejut.

"Kenapa kalian semua ini? Ternyata pikiranku benar. Itu bukanlah ilusi yang kubuat. Itu adalah ingatan yang nyata."

"Bukan."

"Bohong. Kalau begitu kenapa kau terkejut?"

"Aku terkejut karena kamu tiba-tiba mengutarakan hal itu dengan terlalu alami."

"Bicara apa kau? Memangnya aku kenapa?"

"Kecelakaan itu. Saking terkejutnya kamu mendapat guncangan hebat, kamu sampai tidak bisa bicara dengan baik seperti ada yang mengganjal di tenggorokanmu. Tapi sekarang kamu bisa membicarakannya dengan lancar?"

Barulah Yu-dan menyadarinya dan merasa terkejut.

Benar juga. Ini pertama kalinya dia secara sukarela membuka mulut dan mengutarakan cerita itu. Terlebih lagi, dia menyebut 'ketika monster bermata delapan muncul dan banyak orang mati' dengan begitu santainya.

Perasaannya menjadi aneh.

"Jangan-jangan sekarang aku sudah membaik?"

"Kenapa kamu menanyakan hal itu kepadaku?"

"Ah, benar juga. Akan kucoba. Pada hari itu........."

Dia mencoba untuk berbicara lebih jauh, tetapi mulutnya tidak mau bergerak. Tampaknya memang hanya sebatas itu. Kepalanya sakit dan mata kirinya juga terasa sakit seolah terbakar.

"Ternyata tidak. Ternyata aku belum membaik."

"Hari ini pun aku sudah menyaksikan perbuatan bodohmu dengan baik."

Baekran kembali menutupi wajahnya dengan kipas.

"Pantas saja kamu berbicara dengan lancar. Dadaku malah terasa semakin sesak. Aku bahkan tidak diizinkan membaca buku, kalau terus begini aku benar-benar bisa mati......."

"Kalau Cheonho-nim mati, kami juga akan mati."

Chaesol ambruk di tempatnya dengan tubuh lemas. Chaewoo mencoba membangunkannya, tetapi dia ikut ambruk bersamanya. Persis seperti wujud tanaman yang layu. Siluman Dokkaebi dan ular saling berpandangan tidak tahu harus berbuat apa.

"Tidak bisa terus begini. Kita butuh cara yang inovatif."

"Cara apakah itu, Kakak?"

"Mengubah suasana. Chaesol, Chaewoo. Ini untuk kalian berdua. Selama ini kalian sudah bekerja tanpa hari libur, kan? Akhir pekan ini akan kuberikan libur satu hari, jadi bawalah Cheonho-nim pergi keluar. Sekalian untuk menyesuaikannya dengan sinar matahari, gelarlah tikar di tepi Sungai Han dan puas-puaskanlah menonton orang berlalu-lalang."

"Haruskah begitu........"

"Haruskah kami melakukan itu........"

Si kembar membalas dengan lemas. Paman Do buru-buru menambahkan.

"Sambil membawa bekal manusia."

Yu-dan terkejut. 

"Omong kosong apa ini!"

"Aduh, aku salah bicara. Maksudku bekal makan siang manusia."

"Lupakan. Kenapa tiba-tiba menyeretku ke dalam masalah ini? Apa yang harus kulakukan dengan duduk menggelar tikar di Sungai Han bersama siluman?"

"Pastinya melakukan perbuatan bodoh. Jangan merasa terbebani. Kan itu hal yang biasa kau lakukan."

"Tidak, terima kasih. Aku akan menolaknya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Mendengar kata Sungai Han di akhir pekan saja sudah membuat kepalaku pusing. Lagipula aku sibuk akhir pekan ini. Aku harus pergi ke museum untuk mengerjakan tugas."

"Museum?"

Sekali lagi semuanya terkejut.

Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pantas lagi?

Sepertinya bukan begitu. Siluman dokkaebi dan ular berceloteh dengan penuh semangat.

"Museum rupanya. Hahaha. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu?"

"Cheonho-nim, apakah Anda mendengarnya? Meski tidak ada alasan untuk pergi ke museum, tapi bukankah sangat bagus jika Anda ikut menyelinap bersamanya saat dia pergi, lalu berkeliling sejenak?"

Omong kosong apa lagi ini?

Yu-dan merasa ngeri, tetapi kemudian menenangkan dirinya. Mana mungkin siluman rubah yang sedang sekarat itu akan bereaksi pada hal semacam itu. Setelah berpikir demikian dan menatapnya, dia tersentak.

Baekran sudah berdiri di suatu titik.

"Sebenarnya aku tidak terlalu ingin keluar rumah, tetapi jika itu museum, aku mungkin bisa pergi setidaknya sekali......"

Di belakang punggungnya, ekornya yang besar mengibas sekali. Apa ini? Apa dia baru saja mengibaskan ekornya? Yu-dan sangat panik sampai berkeringat dingin.

"Apakah tidak ada yang mau menanyakan pendapatku?"

Heukyo membelalakkan matanya bulat-bulat.

"Apa kau rela membiarkan Cheonho-nim meninggal seperti ini?"

"Kenapa kau sangat berlebihan! Kalau dia mau pergi ke museum, dia bisa pergi sendiri, tidak ada alasan dia harus mengikutiku, kan. Akhir pekan pasti akan ramai pengunjung, bukankah lebih baik pergi pada hari kerja dan berkeliling dengan santai?"

"Kau tidak tahu apa-apa. Tempat itu adalah tempat yang terlalu manusiawi yang dibuat oleh manusia untuk manusia, jadi tidak peduli bagaimanapun juga, jika hanya ada siluman yang pergi, kami akan merasa sungkan."

"Apa salahnya berkeliling sambil merasa sungkan? Aku pergi bukan untuk bermain. Aku pergi untuk mengerjakan tugas. Tugas yang masuk ke dalam nilaiku. Kalau aku ingin tetap hidup, aku harus mulai mempedulikan nilaiku."

Keheningan mengalir.

Baekran tiba-tiba berbaring lagi. Paman Do bertanya karena terkejut.

"Cheonho-nim, Anda baik-baik saja?"

"Kepalaku sakit........"

Baekran membalikkan tubuhnya.

"Sekarang aku tahu. Ini bukan serangan panas. Kalau itu serangan panas, tidak mungkin bertahan selama ini. Nama yang tepat untuk gejala ini adalah kelemahan saraf histeris. Karena belum lama ini aku sempat sangat terkejut dan terguncang. Itu karena di tengah malam ada pria mencurigakan yang membawa belati menyusup ke ruang bacaku dan mengancam akan menikamku..."

Wajah Yu-dan perlahan menjadi masam.


---


"Kalau begini, kelemahan saraf histeris itu, bisa sembuh, kan?"

"Mungkin akan sembuh."

"Mungkin?"

"Akan sembuh."

"Akan?"

"Sembuh."

Akhirnya dia mendapat jawaban pasti.

Tidak mungkin dia akan menarik ucapannya setelah ini, kan. Baiklah. Aku hanya perlu melewati hari ini dengan baik.

Yu-dan menenangkan dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, entah apakah pergi ke museum adalah hal yang bagus, wajah muram siluman rubah dan si kembar siluman ginseng anak-anak itu sepertinya sedikit lebih cerah..... Eh, bukankah begitu?

Harus ada sesuatu yang bisa dilihat untuk memastikannya.

Dia menatap sambil menyipitkan matanya.

Entah bagaimana ketiganya menyamar. Mereka mengenakan kaus hoodie yang kebesaran dan memakai masker sehingga wajah mereka tidak terlihat.

"Ide siapa penyamaran aneh ini?"

"Aku yang memakaikannya. Bocah nakal."

Dari arah punggungnya, terdengar suara mengerikan siluman ular. Yu-dan menarik napas dengan kaget.

"Karena mereka sudah lama tidak liburan dan pergi bermain, aku melakukan penelitian dengan giat dan memakaikan baju itu agar mereka bisa berkeliling dengan nyaman tanpa perlu menyamar. Apa masalahnya? Pakaian usang yang kebesaran dan masker ini adalah benda yang kalian para manusia pakai setiap hari, bukan!"

"Memang sih, tetapi ceritanya akan berbeda ketika keduanya digabungkan. Tentu saja tidak akan ada yang mencurigai kalian sebagai siluman. Mereka pasti akan mengira terjadi pembunuhan di museum dan kalian datang untuk melakukan reka ulang adegan kejahatan."

"Syukurlah kalau begitu."

Siluman ular yang sangat bangga dengan dirinya sendiri itu pun diseret oleh siluman dokkaebi yang tiba-tiba muncul.

"Syukurlah apanya, Adikku. Sudah kubilang itu aneh. Sebaiknya mereka melepas maskernya."

"Aku juga berpikir begitu."

"Kami juga. Panas sekali."

Ketiga siluman itu langsung melepas masker mereka.

Tetap saja tidak alami. Di pertengahan musim panas, memakai 'pakaian usang yang kebesaran' seperti yang dikatakan Heukyo. Namun, jika mereka tidak perlu menyamar, dia memutuskan untuk membiarkan hal itu saja.

"Baiklah, ayo kita pergi."

"Cheonho-nim, hati-hati di jalan."

"Anak-anak, khusus untuk hari ini, kalian harus mendengarkan perkataan bocah manusia itu dengan baik. Mengerti?"

"Ya."

Ketiga siluman itu menjawab dengan patuh dan mengikutinya keluar.

Sepertinya pergi bermain memang menyenangkan?

. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.