LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 68>


Nona itu sudah berjalan naik menapaki tangga di atas sana. Pintu pengemudi terbuka dan Gwi-nam ikut keluar.

​"Tunggu! Ayo pergi bersama-sama."

​Nona itu menoleh. Sepertinya dia mengira ucapan itu ditujukan kepadanya. Dia membelalakkan matanya saat melihat dua orang itu menaiki tangga.

​"Kenapa kalian ikut kemari?"

​"Ah, anu, itu, bagaimana ya..."

​Menggantikan sopir taksi yang berbicara terbata-bata, Yu-dan pun melangkah maju.

​"Kakak kan tidak bawa dompet? Nanti pulangnya mau pakai apa?"

​"Ah, benar juga. Bodohnya aku. Aku sampai tidak terpikirkan hal itu."

​"Ya. Benar, benar."

​Sopir taksi itu buru-buru menimpali.

​"Di sini sepi dan agak rawan, jadi rasanya kurang baik membiarkan Nona pergi sendirian. Bukankah lebih baik kita pergi bersama lalu kembali ke perusahaan untuk mengambil tasnya?"

​"Apa tidak apa-apa? Terima kasih banyak. Lagipula aku cuma berniat mampir sebentar. Pasti akan cepat selesai."

​Dia berbalik dengan senyuman di wajahnya.

​Di sepanjang sisi tangga, rumah-rumah petak tua berjejer rapat. Rumah-rumah itu saling berdempetan tanpa halaman maupun tembok. Pintu-pintu gerbang yang basah oleh hujan tampak berkarat dan cat dindingnya mengelupas karena usang. Ada juga rumah peramal yang ditempeli lambang swastika merah.

​Nona yang tadinya menaiki tangga dengan lancar itu tiba-tiba ragu sejenak, lalu melirik ke sebuah rumah yang gerbang birunya terbuka lebar.

​"Dulu di sini ada anjing yang sangat besar dan menyeramkan..."

​Dia berjalan mengendap-endap melewatinya, barulah kemudian mengintip ke dalam gerbang. Di halaman semen itu, hanya ada tong karet besar dan pot styrofoam tempat menanam daun bawang yang tergeletak begitu saja.

​"Meski, hal itu sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun yang lalu."

​Nona itu bergumam sambil memasuki jalan di sebelahnya.

​Rumah-rumah berjejer di kedua sisi gang sempit dan panjang yang tidak memiliki satu pun lampu jalan itu. Dia berjalan sambil melihat-lihat sekeliling, lalu berhenti di depan sebuah rumah.

​Itu adalah rumah dengan tembok bata merah dan gerbang hitam.

​"Ini adalah rumah tempatku tinggal dulu."

​Nona itu memandangi rumah tersebut sejenak lalu membalikkan langkahnya. Dia pergi ke rumah sebelah yang juga memiliki tembok bata merah dan gerbang hitam, lalu mengetuk pintunya.

​"Bibi!"

​Di dalam sunyi.

​Mana mungkin suara hantu bisa terdengar. Namun, tak lama kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.

​"Siapa di sana?"

​Wajah nona itu berseri.

​"Ternyata Bibi masih tinggal di sini! Ini aku! Minhee!"

​"Minhee?"

​Gerbang dibuka. Seorang wanita paruh baya berambut keriting dengan kerutan halus di sudut matanya melongok keluar. Dia terkejut melihat nona muda yang berdiri di tengah hujan itu.

​"Astaga! Ya ampun, siapa ini! Wah, kapan kamu jadi sebesar ini? Wajahmu masih sama persis seperti waktu masih kecil!"

​"Siapa itu?"

​Seorang pria paruh baya yang hanya mengenakan kaus kutang keluar sambil memakai sandal.

​"Kamu juga ingat, kan? Minhee yang dulu tinggal di sebelah rumah kita!"

​"Minhee?"

​Mata pria itu melebar.

​"Minhee kecil itu? Ya ampun! Ternyata sudah jadi gadis dewasa! Kalau bertemu di jalan aku pasti tidak akan mengenalinya!"

​Nona itu menatap sepasang suami istri tersebut sambil tersenyum.

​"Paman dan Bibi sama sekali tidak berubah."

​"Aduh, kamu kehujanan! Cepat masuk. Kakak-kakak lelakimu dan kakak perempuanmu juga ada di dalam."

​Bibi tetangga itu membuka gerbang lebar, lalu terdiam saat menyadari ada dua orang lainnya.

​Minhee menjelaskan.

​"Ini Paman sopir taksi. Aku tanpa sadar meninggalkan tasku di kantor. Beliau bilang akan menungguku."

​"Oh, begitu? Paman baik sekali. Karena sedang hujan, silakan masuk ke dalam. Dan murid di sebelah sana..."

​"Ah, ya. Dia keponakanku."

​Yu-dan dan sopir taksi itu masuk mengikuti si hantu.

​Bagian dalam rumah terdengar riuh. Dua orang pemuda dan seorang wanita muda keluar ke ruang tamu dan menyambut mereka dengan gembira.

​"Waktu dengar nama Minhee aku sempat bingung siapa! Tidak kusangka ternyata Minhee tetangga sebelah!"

​"Kak Young-jin, Kak Je-hee, Kak Ju-eun... Tempat ini benar-benar tidak berubah sedikit pun."

​Minhee mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu dengan takjub.

​Sebuah meja kecil tergelar di atas karpet bermotif sulur tanaman. Karena semuanya duduk melingkar, Yu-dan pun ikut duduk mengikuti sopir taksi itu. Meskipun ini adalah rumah orang lain, entah kenapa rasanya sama sekali tidak canggung.

​Dia duduk di sudut dan mulai mengamati hantu itu dengan saksama.

​Gadis itu bergumam sambil mengelus permukaan meja itu.

​"Aku masih ingat dengan jelas sampai sekarang. Dulu aku selalu duduk di sini untuk mengerjakan PR. Kakak-kakak semuanya membantuku mengerjakan PR. Kalau ada yang tidak kumengerti aku akan bertanya, lalu aku juga menceritakan hal-hal yang terjadi di sekolah. Karena aku sangat benci sendirian di rumah kosong, sepulang sekolah aku datang kemari. Aku tinggal di sini sampai sesaat sebelum ibu pulang kerja. Kalau dipikir-pikir sekarang, aku sangat merepotkan."

​"Hei, merepotkan apa maksudmu."

​"Tidak, Paman. Waktu itu aku benar-benar tidak mengerti. Aku menganggapnya terlalu wajar. Namun setelah aku dewasa dan menyadarinya, aku merasa sangat bersyukur. Seharusnya aku sudah datang untuk menyapa sejak lama, tapi aku tidak punya waktu karena sibuk kuliah dan mencari kerja. Aku sangat ingin bertemu dengan kalian. Aku sempat khawatir bagaimana jika kalian sudah tidak ada di sini lagi, tapi syukurlah kalian masih ada di sini."

​"Kamilah yang berterima kasih karena kamu tidak melupakan kami dan datang berkunjung. Astaga, pikiranku ini. Seharusnya aku menyuguhkan sesuatu, tapi tidak ada apa-apa di rumah."

​Wanita paruh baya itu berdiri dengan canggung.

​Minhee mengangkat kepalanya. Pandangannya melewati bibi itu dan tertuju pada dinding di belakangnya.

​Di sana tergantung sebuah cermin berbentuk bunga matahari yang terbuat dari tanah liat. Dia menatap cermin itu lekat. 

​Kenapa? Ada apa?

​Pandangan Yu-dan juga ikut tertuju ke cermin itu. Setelah melirik sekilas, dia terkejut dan melihatnya lebih saksama lagi.

​Tidak ada apa pun yang terpantul di dalam cermin itu.

​Bibi tetangga sebelah itu jelas-jelas berdiri di depannya, tetapi punggungnya tidak memantul sama sekali.

​Yu-dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Barulah dia menyadarinya.

​Kaca jam kukuk.

​Layar televisi yang mati. Tidak ada satu tempat pun yang memantulkan bayangan keluarga ini.

​"Hah..."

​Sopir taksi yang baru menyadarinya belakangan itu menahan napasnya.

​Minhee mengerutkan bahunya.

​"Kalian semua benar-benar tidak berubah sedikit pun. Bibi, Paman, Kakak laki-laki, maupun Kakak perempuan, semuanya persis sama seperti yang aku ingat."

​Dia menatap mereka satu per satu dengan saksama sambil berkata.

​"Tapi... hal itu kan tidak mungkin. Ini sudah berlalu belasan tahun lamanya."

​Keluarga tetangga itu tidak mengatakan apa pun.

​Pantas saja.

​Pantas saja keluarga ini bisa melihat roh gadis ini dengan jelas dan mengobrol dengan lancar dengannya. Ternyata mereka semua adalah hantu.

​Dia tahu memang ada hantu yang terlihat seperti manusia hidup dan bertingkah sama persis layaknya manusia hidup.

​Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa selain nona bernama Minhee ini, keluarga tetangga di sebelahnya juga hantu.

​Kalau begitu, apakah setelah menjadi hantu dia datang mencari hantu-hantu lainnya?

​Minhee menundukkan pandangannya.

​"Kalian bilang kita harus merahasiakannya di antara kita karena Ayah dan Ibu pasti akan memarahiku jika mereka tahu aku selalu datang bermain ke rumah sebelah. Setelah pindah rumah, aku memikirkannya dan merasa ada yang aneh. Kalau Bibi mungkin masih bisa dimengerti, tapi kenapa Paman, Kakak laki-laki, dan Kakak perempuan selalu ada di rumah pada siang hari. Dan kenapa wujud kalian selalu sama dari aku kelas satu sampai kelas lima. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Karena merasa sangat aneh, aku coba menanyakannya, ternyata keluarga tetangga yang diingat oleh Ayah dan Ibuku sangat berbeda. Kata mereka tetangga sebelah adalah pasangan suami istri muda yang sama-sama bekerja. Saat itulah pikiran ini muncul. Jangan-jangan keluarga tetangga yang selalu aku kunjungi itu sebenarnya adalah hantu. Karena merasa kasihan padaku yang tidak suka menjaga rumah kosong sendirian... jangan-jangan kalian berpura-pura menjadi manusia hidup dan bersikap baik padaku."

​Gadis itu menundukkan kepalanya. Air matanya menetes jatuh ke atas meja.

​"Meskipun menyadari hal itu, aku tidak merasa takut. Sampai sekarang pun aku sama sekali tidak merasa takut. Aku hanya merasa bersyukur. Terima kasih karena sudah membiarkanku bermain di sini setiap hari.. Bibi, Paman, Kakak-kakak. Terima kasih karena sudah mengajariku belajar, mendengarkan semua ocehanku, dan selalu memberiku senyuman hangat. Berkat hal itu, meskipun aku anak tunggal dari orang tua yang sama-sama sibuk bekerja, aku tumbuh dengan baik tanpa pernah merasa kesepian. Berkat kalian, aku bisa masuk ke sekolah yang bagus dan mendapat pekerjaan di perusahaan yang bagus. Aku sangat ingin mengatakan hal itu. Aku datang karena ingin menunjukkan bahwa anak tetangga sebelah yang selalu kalian rawat ini telah tumbuh sebesar ini."

​Minhee mengangkat kepalanya.

​Keluarga tetangga itu balas menatapnya.

​Keheningan menyelimuti. Setelah sekian lama, bibi itu pun angkat bicara.

​"Ya. Sebenarnya kami memang hantu. Kami sudah meninggal di rumah ini bahkan sebelum kamu, Minhee, pindah kemari."

​"Ternyata dugaanku benar. Bagaimana bisa sebuah keluarga mengalami hal seperti itu sekaligus..."

​Minhee tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan menangis.

​"Ngomong-ngomong, tapi kalau begitu bukankah kalian sekarang seharusnya sudah beristirahat dengan tenang? Bukankah kalian seharusnya pergi ke tempat yang baik?"

​"Benar."

​Keluarga itu menganggukkan kepalanya.

​"Mungkin karena kamu datang berkunjung, entah kenapa rasanya sekarang kami sudah bisa menutup mata dengan tenang."

​"Syukurlah kalau begitu."

​Minhee tersenyum dengan wajah yang berlinangan air mata.

​"Benar-benar syukurlah. Untung aku datang ke sini."

​"Ya. Terima kasih. Kami harus pergi sekarang. Seharusnya kami sudah pergi sejak lama, tapi kami tinggal terlalu lama."

​Semuanya berdiri dari tempat duduk mereka. Lalu mereka memberikan senyuman hangat kepada Minhee.

​"Kamu juga pulanglah. Kamu harus bekerja besok, kan."

​"Ah, benar juga."

​Minhee menatap keluarga tetangga itu satu per satu untuk terakhir kalinya. Sepertinya dia berusaha keras untuk mengukir sosok-sosok yang tidak akan bisa dilihatnya lagi ini dengan jelas di dalam hatinya.

​"Aku masih ingin tinggal lebih lama, tapi aku harus pergi sekarang."

​Dia bersujud di tempat itu dan memberikan penghormatan sebanyak dua kali. Terakhir, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk mengheningkan cipta, lalu berbalik.

​"Beristirahatlah dengan tenang. Terima kasih."

​Kemudian, seolah melupakan keberadaan sopir taksi dan Yu-dan, dia melangkah keluar sendirian dengan ringan dan tiba-tiba menghilang.

​Keheningan kembali menyelimuti.

​Keluarga tetangga itu menatap kosong ke udara. Kakak perempuan tetangga yang dipanggil Ju-eun itu mendecakkan lidahnya.

​"Ckck. Bagaimana bisa anak itu meninggal?"

​"Padahal usianya sedang mekar seperti bunga, sayang sekali."

​"Alangkah baiknya jika dia datang kemari dalam keadaan masih hidup dan bukan setelah meninggal."

​Mereka saling berbisik dengan wajah getir, lalu tiba-tiba terkejut dan menoleh.

​"Aduh, kalian pasti terkejut, kan?"

​Sepertinya mereka baru teringat bahwa di tempat itu juga ada seorang sopir taksi dan siswa SMA. Saat tatapan para hantu itu terpusat pada mereka, dua orang yang sedari tadi hanya menonton dalam diam itu menjadi panik.

​"Ah, tidak. Kami sudah tahu kalau nona itu hantu..."

​"Meskipun tentu saja kami tidak tahu kalau kalian semua juga hantu, tapi kami tidak sebegitu terkejutnya. Lagipula, paman ini dan aku memang biasanya bisa melihat hantu."

​"Begitu rupanya."

​Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

​"Aku sempat berpikir bagaimana caranya Minhee bisa sampai kemari. Ternyata dia bisa menemukan kami dengan baik berkat bantuan paman sopir. Hah, tidak kusangka bahkan setelah meninggal pun dia tidak melupakan kami dan datang berkunjung seperti ini."

​Bibi tetangga itu menghela napas.

​"Asal kalian tahu saja. Sebenarnya kami bukan keluarga."

​Yu-dan merasa terkejut.

​"Bukan keluarga?"

​"Ya. Rumah ini aslinya adalah rumah kos. Aku adalah ibu kosnya."

​"Aku adalah penyewa kamar yang sudah lama tinggal di sini."

​"Dan kami adalah para mahasiswa yang ngekos di sini."

​Pria paruh baya, dua pemuda, dan gadis muda itu menjawab serentak.

​Setelah mendengar hal itu, barulah disadari bahwa ketiga roh orang muda itu sama sekali tidak mirip satu sama lain dan perbedaan usia mereka juga tidak terlihat jauh. Sopir taksi itu bertanya.

​"Eh, jadi kalian mengalami musibah secara bersama-sama di rumah kos?"

​"Ya. Gara-gara ada gas yang bocor di tengah malam..."

​"Ya ampun. Malang sekali."

​"Pokoknya karena Minhee mengira kami adalah keluarga, kami hanya menurutinya saja dan berpura-pura. Yah, kalau disebut keluarga, kami ini seperti keluarga, kan."

​"Sebenarnya tidak lama setelah keluarga Minhee pindah, ada orang baik yang menemukan jasad kami dan mengadakan upacara peringatan arwah untuk kami dengan layak sehingga kami bisa beristirahat dengan tenang. Namun entah kenapa mata kami terbuka dengan sendirinya."

​"Mungkin waktu-waktu ini adalah peringatan hari kematian Minhee. Betapa kesepiannya dia jika tidak ada seorang pun di sini padahal dia sudah bersusah payah datang mencari kami karena tidak bisa melupakan kami bahkan setelah dia meninggal, jadi kami berakting lagi seolah-olah tidak tahu apa-apa. Kami berpura-pura bisa menutup mata dengan tenang setelah bertemu Minhee."

​Mereka saling berpandangan.

​"Tapi kami kira kami hanya perlu melakukannya sekali saja..."

​"Aneh juga. Tahun berikutnya dia datang lagi."

​"Padahal kami sudah menyelesaikan semuanya dan melepasnya pergi dengan baik."

​Sopir taksi itu menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah serba salah.

​"Mmm, sebenarnya tahun lalu dan tahun sebelumnya aku juga yang mengantarkannya. Bagaimana ini. Apakah sebaiknya aku tidak usah melakukannya lagi mulai sekarang?"

​"Tidak! Jangan begitu!"

​Keluarga kos itu melambaikan tangan mereka membantah.

​"Paman sudah melakukan hal yang benar. Paman melakukan perbuatan baik. Pokoknya berkat Paman tahun ini pun berakhir dengan baik, dan sepertinya sekarang benar-benar sudah waktunya bagi kami untuk menutup mata kembali."

​Wujud mereka mulai memudar.

​"Sebelum menghilang, kami harus mengantar kepergian kalian."

​"Kalau begitu, selamat jalan. Kamu juga pulanglah dengan hati-hati."

​"Terima kasih karena sudah mengantar Minhee."

​Yu-dan dan Gwi-nam berjalan keluar sambil menerima salam perpisahan dari para hantu tersebut.

​Setelah berjalan beberapa langkah dan menoleh ke belakang, rumah itu terlihat gelap. Rasanya dingin dan tampak seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan. Sulit dipercaya bahwa sampai beberapa saat yang lalu mereka sedang duduk di dalam sana.

​"Hah, sungguh. Ada-ada saja kejadian seperti ini."

​Sopir taksi itu bergumam.

​"Yang namanya hantu itu sungguh... Kadang membuat merinding, kadang juga membuat terharu. Tidak kusangka semua yang ada di rumah itu tadi selain kita berdua adalah orang yang sudah meninggal..."

​Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tiba-tiba tersentak dan menatap Yu-dan.

​"Sudah kubilang aku bukan hantu."

​"Bukan begitu, aku cuma memastikan saja."

​Dia kembali memimpin jalan menuruni tangga yang curam. Lalu tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, dan melirik ke arah rumah-rumah yang berdempetan rapat di tengah hujan itu.

​"Sepertinya dalam waktu dekat tempat ini belum akan dibangun ulang. Apakah tahun depan di waktu-waktu ini aku harus pergi mangkal di depan gedung itu lagi..."

​Dia bergumam pada dirinya sendiri seperti itu.



​"Seru ceritanya. Di hari hujan begini memang paling pas mendengarkan cerita hantu."

​Siluman ular kembali mengupas kentang yang sempat diletakkannya sejenak.

​"Hantu yang datang berkunjung untuk menghibur hantu lainnya, huh. Itu pun sudah memasuki tahun ketiga. Aneh sekali. Cheonho-nim, menurutku masalah ini sepertinya sudah selesai dengan baik, lalu kenapa hal ini terus berulang?"

​"Entahlah. Kita mungkin tidak akan pernah tahu pastinya. Mungkin karena ingatannya tidak utuh akibat menjadi hantu, atau karena itu adalah ingatan yang paling berkesan sepanjang hidupnya sehingga rohnya terikat kuat, atau mungkin juga karena rasa terima kasihnya yang terlalu besar sehingga datang berkunjung sekali saja tidaklah cukup."

​"Bagaimanapun juga taksi yang menumpangkan hantu itu terdengar romantis. Siapa yang tahu? Jika beruntung suatu saat nanti aku mungkin akan berpapasan dengan sopir taksi itu juga."

​"Tidak butuh keberuntungan."

​Yu-dan mengeluarkan selembar kertas lecek dari dalam sakunya.

​"Ini kartu namanya. Katanya tolong berikan kalau ada hantu yang kukenal. Siluman juga pasti boleh. Panggil saja paman ini kalau kau mau pergi ke suatu tempat."

​"Buat apa aku naik taksi? Aku punya dua kaki jadi aku harus berjalan. Aku tidak akan sudi melirik taksi."

​"Kalau begitu dari awal kau memang tidak punya kemungkinan untuk bertemu dengannya!"

​"Justru karena itulah jadinya semakin romantis."

​Heukyo meninggalkan kata-kata yang sulit dipahami lalu membawa kentang-kentangnya turun ke bawah. Baekran bergumam pelan.

​"Kenapa pula dia mengupas kentang di tempat ini?"

​"Kakak bilang akan membuatkan gamjajeon (dadar kentang)."

​"Maksudku kenapa dia mengupas kentang 'di sini'. Tempat ini kan ruang baca."

​Ruang baca itu sekarang berantakan seperti kapal pecah.

​Mereka buru-buru mengevakuasi buku-buku di salah satu sisi dinding, menampung air hujan dengan baskom, menghabiskan puluhan kain pel, dan tampaknya telah terjadi kekacauan yang luar biasa.

​Bagi Yu-dan, hal ini sangatlah mengejutkan sekaligus mengherankan.

​"Tidak disangka di zaman sekarang ini masih ada rumah yang bocor. Lingkungan tempatku pergi semalam juga terlihat sangat tua tapi tidak sampai bocor."

​"Mau bagaimana lagi. Usia ruang baca ini..."

​Tepat saat Baekran berbalik, tumpukan buku di satu sudut ambruk dan jatuh berantakan. Si kembar mengangkat kedua tangan merasa sangat lelah.

​"Ayo kita bereskan ini nanti saja!"

​"Di hari hujan memang paling pas menceritakan kisah hantu. Cheonho-nim, tolong ceritakan kisah hantu."

​"Apa kau tidak punya cerita menakutkan yang sangat tua?"

​Saat aku ikut menimpali dengan satu patah kata, tatapan siluman rubah langsung mengarah padanya. Tatapan mata yang sangat dingin.

​"Kenapa kau ikut-ikutan menimpali?"

​"Ya biasa. Karena aku tidak punya kerjaan sampai waktu makan malam."

​"Oh, begitu? Gawat juga. Aku sangat ingin membantu, tapi aku ini bukan kantong cerita hidup..."

​Baekran yang tadinya menggumam tanpa niat tiba-tiba menghentikan ucapannya, setelah menatap Yu-dan dan si kembar siluman ginseng, dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum.

​"Pada zaman dahulu kala..."

​Suasana di ruang baca seketika berubah. Pemandangan di luar jendela dengan cepat menjadi gelap dan kabut air mengepul tebal di atas atap-atap rumah tradisional (hanok) di jalanan. Ketiganya menjadi panik.

​"Tunggu sebentar! Cerita macam apa yang mau kau ceritakan sampai begini?!"

. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.