LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 67>

Kisah ke-tujuh belas

<Singa di tengah Hujan>


​Asal-usul keluarga Biksu Hyetong tidak diketahui secara pasti. 

Pada suatu hari, saat sedang bermain di sungai sebelah timur rumahnya, dia menangkap seekor berang-berang dan membuang tulangnya ke bukit. Keesokan paginya, tulang itu menghilang, jadi dia mencari dengan mengikuti jejak darahnya. Ternyata tulang berang-berang itu telah kembali ke sarang tempat tinggalnya dan meringkuk sambil memeluk kelima bayinya. Melihat hal itu, dia merasa sangat takjub sekaligus heran untuk waktu yang lama. Ia terus merasa kagum dan tak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi biksu, dan mengubah namanya menjadi Hyetong.

​『Samguk Yusa』


●◉◎◈◎◉●


​Hujan turun deras dari langit kelabu. Jalanan di rute pulang sekolah tampak basah oleh air hujan. Hanya cahaya lampu depan mobil yang sesekali melintas yang menembus kabut air yang buram. Di samping rintik hujan yang tersorot cahaya lampu, bayangan-bayangan yang berkelebat samar mulai terlihat.

​Yu-dan menghentikan langkahnya.

​Entah kenapa kelihatannya mereka bertambah banyak?

​Dia segera menggelengkan kepalanya. Mungkin cuma perasaanku saja. Ini pasti karena sedang hujan, bukan karena 'benda itu'.

​Tepat saat dia memikirkan 'benda itu', tanduk goblin muncul dan langsung tergenggam di tangannya. Yu-dan menjadi panik.

​"Bukan. Aku tidak memanggilmu kok?"

​Makhluk-makhluk yang menggeliat di tepi jalan di depan sana menoleh. Sepertinya mereka merasakan suatu aura.

​"Masuk. Masuklah."

​Tanduk itu kembali menghilang.

​Fakta bahwa benda itu bisa langsung muncul hanya dengan memikirkannya, ternyata tidak begitu praktis. Sepertinya dia butuh latihan untuk mengendalikannya. Kalau muncul sembarangan begini merepotkan.

​"Ah, muncul lagi. Kan sudah kubilang aku tidak memanggilmu."

​Dia menyerah dan memasukkannya ke dalam saku.

​Rasanya benda ini sama sekali tidak mengerti perkataannya. Apa benar ada kekuatan yang kuat di dalam sini? Kekuatan seperti apa? Mungkin bagus jika dia bisa melakukan sedikit uji coba ringan.

​Yu-dan melihat sekeliling jalanan yang diguyur hujan.

​Saat itu, seseorang melintas di sebelahnya. Dia menoleh karena terkejut merasakan hawa dingin yang menusuk.

​Itu adalah seorang siswi SMA yang memakai payung. Seragam sekolahnya diwarnai merah darah. Tetesan darah yang menetes dari ujung roknya menghilang bahkan sebelum menyentuh tanah.

​Siswi SMA itu terus berjalan lalu berhenti di depan tempat penyeberangan jalan. Yu-dan menatap sosok punggung berlumuran darah yang sedang menunggu lampu lalu lintas itu sejenak.

​Apa itu? Makhluk apa itu?

​Tak lama kemudian, lampu merah berubah menjadi hijau.

​Siswi SMA itu menyeberangi jalan. Setelah ragu sejenak, dia pun mengikutinya. Tidak ada seorang pun di trotoar di sebelah tembok tinggi kompleks apartemen. Di bawah langit yang buram, pohon-pohon di tepi jalan basah. Siswi SMA itu berjalan maju dengan pandangan lurus ke depan. Darah terus menetes dari bawah payungnya.

​Mau ke mana dia?

​Sambil menjaga jarak, dia terus mengikutinya.

​Siswi SMA yang sepertinya akan berjalan tanpa henti itu tiba-tiba berhenti. Dia berdiri di depan sebuah taman lingkungan yang kecil.

​Kenapa dia tidak jalan?

​Yu-dan menatap tajam sosok punggung yang basah oleh darah itu. Siswi SMA itu berdiri diam di sana, lalu tiba-tiba menghilang.

​Apa-apaan. Aku kehilangan dia?

​Yu-dan melihat sekelilingnya.

​Taman itu kosong karena hujan. Hanya ada satu orang yang mengenakan jas hujan sedang melakukan peregangan di alat olahraga. Di bawah langit yang warna kelabunya semakin pekat, hanya pohon-pohon basah yang bergoyang. 

​"Apa itu tadi?"

​Sambil berdiri memegang payung, dia mengeluarkan ponselnya.

​Di sini daerah apa ya? Dia memasukkan beberapa kata di kolom pencarian. Nama daerah. 'Siswi SMA'. 'Kecelakaan', eh bukan, 'Pembunuhan'.

​Setelah mencari sedikit, hasilnya pun keluar.

​「Siswi SMA ditikam berkali-kali dalam perjalanan pulang...」

​Dia membacanya sambil mengelap tetesan air hujan yang jatuh di layarnya.

​Sekitar waktu ini tahun lalu, ada insiden pembunuhan. Seorang pria berusia empat puluhan menculik, membunuh, dan membuang jasad seorang siswi SMA yang sedang dalam perjalanan pulang di sebuah taman lingkungan... Kronologi yang mengerikan terpampang jelas di artikel itu.

​Aku tidak tahu ada insiden seperti ini di tempat yang tidak terlalu jauh.

​Ada juga artikel yang merekonstruksi secara detail jejak langkah siswi SMA itu pada hari kejadian. Mereka menggambar peta jalan mana yang dilaluinya setelah turun dari halte bus, dan waktunya juga tertera dengan tepat. Waktu kejadian pembunuhan adalah pukul 18:53.

​Saat dia melihat jam, waktu menunjukkan pukul 19:05.

​Kalau begitu, apakah dia tadi menghilang karena sudah waktunya kejadian? Aneh. Walaupun hantu, apakah dia mati lagi? Sebenarnya apa yang terjadi?

​Dipikirkan pun tidak akan ada jawabannya.

​Yu-dan memasukkan kembali ponselnya dan keluar dari taman itu.

​Setelah berjalan sedikit lagi, dia sampai di jalan besar tempat bus melintas.

​Karena lapar, dia merasa tidak akan sanggup berjalan sampai rumah. Melihat minimarket, dia masuk dan keluar sambil membawa kroket kari.

​Taksi-taksi berjejer di tepi jalan. Dia menatap tanpa banyak pikiran, lalu bertatapan dengan sopir taksi bermata sipit yang sedang berdiri di luar mobil sambil minum kopi.

​"Eh?"

​Dia merasa familier, dan segera ingat siapa orang itu. Dia adalah sopir taksi agak aneh yang dia temui saat buru-buru pulang ke rumah ketika sedang dirasuki oleh makhluk bayangan.

​"Eh? Kamu!"

​Sopir itu juga segera mengenali Yu-dan. Gelas kertasnya terjatuh dan menggelinding di tanah. Dia berbicara dengan tergagap seolah tidak percaya.

​"Han, han, han..."

​"Ya?"

​"Bukannya kamu ini hantu?"

​Yu-dan menatap sopir taksi itu dengan terperangah.

​Sopir itu tersenyum canggung lalu datang membawa dua gelas kertas.

​"Maaf, ya. Ternyata aku salah paham."

​Dia masuk ke bawah tenda toko dan memberikan satu gelas kepada Yu-dan, ternyata isinya cokelat panas.

​"Namaku Gwi-nam. Kim Gwi-nam. Mungkin karena itu, aku bisa melihat hantu. Dan kelihatannya sangat jelas. Gara-gara sering mengira hantu sebagai manusia, waktu kecil aku sering disebut anak aneh dan dikucilkan."

​Cerita yang sangat familier.

​"Sementara namaku bukan Gwi-nam, tapi aku bisa melihat hantu..."

​Mendengar gumaman Yu-dan, sopir taksi itu tampak senang.

​"Eh? Kamu juga bisa lihat hantu? Tunggu sebentar. Kalau begitu, pada hari itu, apakah kamu juga buru-buru pulang karena melihat hantu?"

​Itu tidak sepenuhnya salah, sih.

​Yu-dan menganggukkan kepalanya.

​"Aku sama sekali tidak tahu hal itu dan cuma bertanya-tanya kenapa kamu begitu buru-buru. Aku mengira kamu adalah hantu yang punya kisah tak biasa, jadi aku menginjak pedal gas kencang. Jujur saja, aku tancap gas karena merasa takut. Wajahmu sangat pucat. Mengerutkan kening dan hanya menatap lurus ke depan, kamu tidak tahu betapa menakutkannya itu."

​"Waktu itu sebenarnya aku yang ketakutan. Karena Paman menyetir terlalu cepat."

​"Hahaha! Astaga! Ternyata kamu bukan hantu! Padahal dari semua hantu yang pernah kubawa selama ini, kamu adalah yang paling menakutkan!"

​"Aku merasa terhormat, tapi tetap saja, bukankah Paman sadar waktu aku turun? Mana ada hantu yang turun bayar ongkos."

​Sopir itu lalu menatap Yu-dan dengan ekspresi aneh.

​Hah, jangan-jangan aku tidak bayar?

​"Maafkan aku."

​Saat Yu-dan buru-buru mengeluarkan dompetnya, sopir itu melambaikan tangannya menolak.

​"Sudahlah, sudahlah. Sudah berlalu. Anggap saja aku melakukan perbuatan baik."

​Di sini, jika meminjam ungkapan Heukyo, ternyata ada satu 'orang yang mudah dimanfaatkan' lagi. Yu-dan kembali mengamati sopir taksi yang tampak baik hati itu.

​"Sepertinya Paman sering menumpangkan hantu, ya?"

​"Ya begitulah. Meskipun aku juga merasa takut dan tidak nyaman dengan hantu, kalau sopir lain yang tidak tahu apa-apa mengangkut mereka, mereka pasti hanya akan terkejut. Selain itu, melihat mereka kesulitan mencoba mencari taksi di antara orang-orang yang masih hidup tanpa menyadari bahwa mereka sudah mati rasanya kasihan juga, ya ampun, jadi kuputuskan untuk mengantar mereka dan menganggapnya sebagai perbuatan baik sesekali..."

​Seolah teringat sesuatu, dia menatap tajam ke arah Yu-dan.

​"Lalu, kalau begitu, apakah nona itu juga manusia?"

​"Siapa?"

​"Tahun lalu dan tahun sebelumnya, ada seorang nona yang buru-buru mencari taksi di depan perusahaan sekitar waktu-waktu ini. Sepertinya pegawai baru, tapi pakaiannya sama persis di kedua pertemuan. Mengenakan setelan jas hitam dan menggantungkan kartu identitas karyawan di lehernya. Memang hal itu bisa saja terjadi, tetapi dari permintaannya, 'Tolong antar ke mana saja! ' sampai ocehannya semuanya sama persis tanpa ada satu suku kata pun yang salah. Saat dia tidak punya dompet saat hendak membayar ongkos juga sama. Keduanya turun di tempat yang sama lalu pergi. Makanya aku mengira dia adalah hantu. Tapi setelah melihatmu, jangan-jangan nona itu juga manusia dan aku yang salah sangka."

​"Biasanya bukannya para sopir taksi memastikannya dengan melihat ke cermin untuk mengecek apakah penumpang itu hantu atau bukan?"

​"Itu kalau penumpangnya duduk di kursi belakang. Yah, pokoknya, selama setahun aku benar-benar sudah lupa, tapi saat waktu-waktu ini tiba lagi, aku tiba-tiba teringat. Makanya, dua hari yang lalu aku sudah keliling sekali tapi tidak ada, kemarin aku pergi juga tidak ada. Hari ini hujan rintik-rintik, entah kenapa sepertinya dia akan muncul. Jadi, setelah makan malam, rencananya aku mau keliling santai..."

​Dia mengedipkan mata sipitnya dan menatap Yu-dan.

​"Bagaimana? Maukah kamu ikut sekali?"

​Kata-katanya terdengar seperti asal dilemparkan, tetapi wajahnya memelas seolah berharap Yu-dan benar-benar mau ikut. Meskipun ketakutan, entah kenapa dia bersikeras ingin pergi...

​Yu-dan memasukkan tangannya ke dalam saku. Mungkin dia bisa mencoba menguji sesuatu. Lagipula dia juga berutang ongkos taksi padanya.

​"Apa boleh buat, mau coba kulihat?"

​"Iya, iya. Ayo kita pergi bersama."

​Sopir itu bergegas masuk ke dalam taksinya. Yu-dan membuka pintu kursi penumpang depan dan masuk.

​Sebuah tasbih tergantung di kaca spion. Di sebelah gambar malaikat kecil yang sedang berlutut dan berdoa dengan tulisan 'Semoga hari ini aman sentosa', tampak sebuah foto keluarga kecil. Pasangan suami istri dan tiga putri kecil. Mungkin karena berpikir harus tersenyum lebar di foto keluarga, mereka mengangkat ujung bibir mereka terlalu dipaksakan hingga seluruh wajah mereka kaku seperti patung lilin, sebuah pose yang sangat klise.

​Dia menatapnya sejenak lalu mengalihkan pandangannya.

​Jalanan agak macet karena jam pulang kerja. Langit yang tadinya kelabu pekat kini telah berubah menjadi hitam sepenuhnya. Jalanan tampak bernoda karena rintik hujan yang memenuhi kaca depan. Deretan lampu jalan dan cahaya lampu dari mobil-mobil yang melintas di jalur berlawanan terus bersilangan.

​Saat dia mulai melihat banyak gedung tinggi, ternyata mereka sudah sampai di Yeouido. Di depan gedung-gedung yang terang, para pekerja kantoran sedang mencari taksi.

​Gwi-nam melambatkan kendaraannya dan melihat ke segala arah.

​"Kamu tolong cari dengan saksama juga, ya."

​"Bukankah nona itu?"

​Di antara para pekerja kantoran, seorang wanita muda langsung menarik perhatian. Apakah usianya sekitar pertengahan dua puluhan? Berambut lurus panjang, mengenakan setelan jas hitam, dan menggantungkan kartu identitas karyawan di lehernya. Saat melihatnya secara langsung, bahkan Yu-dan pun merasa bingung apakah dia manusia atau hantu.

​"Ah, benar. Itu nonanya."

​Gwi-nam menghentikan taksinya tepat di depan nona tersebut. Wanita itu segera mendekat dan hendak membuka pintu kursi penumpang depan, tetapi terhenti.

​"Ternyata sudah ada penumpang."

​"Ah, tidak apa-apa, kok. Ini keponakanku. Keponakan."

​"Ah, begitu?"

​Nona itu melipat payungnya dan naik ke kursi belakang.

​Pintu tertutup dengan suara bantingan yang cukup keras. Sopir taksi dan Yu-dan serentak melihat ke arah kaca spion.

​Tidak ada apa pun di dalam cermin. Hanya kursi kosong.

​Benar-benar hantu.

​Yu-dan melirik singkat. Kulit wajah Gwi-nam terlihat berubah dengan jelas.

​"Paman Sopir, ke Ahyeon-dong."

​Kata wanita itu.

​Gwi-nam hanya terdiam membisu dengan tangan di atas setir.

​Yu-dan mendecakkan lidahnya di dalam hati. Baguslah aku ikut dengannya.

​"Katanya dia mau ke Ahyeon-dong."

​"Eh, hmm, iya."

​Barulah dia melajukan taksinya.

​"Ahyeon-dong di sebelah mana?"

​"Mmm, Paman, aku benar-benar minta maaf. Aku kurang tahu alamat pastinya. Tapi aku akan tahu begitu melihat tempatnya. Akan kuberitahu di jalan."

​Suara terdengar dari belakang. Meskipun dia telah melihat hantu berulang kali, ini tetap saja terasa aneh. Hanya terdengar suara, padahal tidak ada sosok yang terpantul di cermin.

​Yu-dan diam-diam menoleh ke belakang. Nona itu sedang memandang ke luar jendela. Di luar, jendela dipenuhi tetesan air, tetapi tidak ada yang terpantul di wajah wanita tersebut.

​Begitu Gwi-nam memegang kemudi, dia pun segera merasa tenang. Yu-dan sudah tahu sejak pertemuan terakhir mereka bahwa kemampuan menyetir paman itu bagus. Paman itu mahir mengemudikan taksinya menerobos jalanan yang basah karena hujan.

​"Mau ke mana Anda? Sepertinya bukan mau pulang?"

​"Tidak. Tempatnya itu rumah, rumah tempatku tinggal dulu..."

​"Aha. Ingin pergi mencari rumah lamamu. Kalau begitu kita menuju sekitar Stasiun Ahyeon dulu, bagaimana?"

​"Ya, ya. Tolong antar ke sekitar Stasiun Ahyeon dulu."

​Keheningan kembali menyelimuti. Sambil memutar kemudi, Gwi-nam memberikan isyarat mata.

​Ucapannya sampai tidak ada satu pun suku kata yang salah saat berada di taksi. Apakah obrolan ini juga sudah memasuki tahun ketiga?

​Karena tidak tahan, Yu-dan melirik ke belakang lagi. Wajah putih, mata besar tanpa kelopak ganda. Baik dari cara bicara maupun ekspresi, dia tampak seperti pegawai baru yang sangat tidak berbahaya dan benci menyusahkan orang lain.

​Namun keberadaan hantu tidaklah sesederhana itu. Yu-dan memasukkan tangannya ke dalam saku lalu membelai tanduk yang keras dan halus itu seperti suatu kebiasaan.

​Walaupun dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan dengan benda ini. Paman Do benar bahwa lebih baik memiliki sesuatu sebagai pegangan. Hatinya menjadi lebih tenang.

​Taksi itu melintasi Jembatan Mapo dan terus melaju. Melihat mobil-mobil di sebelah yang melintas tanpa tahu bahwa ada hantu di taksi ini juga memberikan sensasi yang aneh. Tapi, apakah dia masih ada di taksi ini? Di tengah kesunyian, hanya suara wiper yang membersihkan kaca yang terdengar berulang-ulang.

​"Nona, apakah belok kanan di sini?"

​"Ah! Akan aku beritahu arahnya."

​Dia tersadar dari lamunannya.

​"Terus saja lurus. Lurus saja... Wah, toko roti itu masih ada. Ke sebelah sini... Eh bukan, benar. Anda masuk di jalan yang benar. Maju sedikit lagi... Ya, tolong masuk ke gang kecil di sebelah sana."

​"Sana?"

​"Ya, sana."

​Taksi mengurangi kecepatannya dan masuk ke gang. Toko-toko kecil yang tua berjejer rapat. Yu-dan memandang ke luar jendela. Rasanya seperti menaiki mesin waktu entah sejak kapan. Itu adalah tempat yang terlihat lebih tua dari pemandangan lingkungan yang dia lihat sewaktu kecil.

​"Wah! Ternyata kafe juga sudah ada di sini! Bahkan ada dua!"

​"Zaman sekarang tidak ada tempat yang tidak punya kafe. Terus saja jalannya?"

​"Ya. Maju sedikit lagi dan berhentilah di depan sana. Minimarket ini juga sudah jauh lebih bagus! Padahal aku selalu datang untuk membeli camilan! Wah, astaga! Paman itu juga masih sama!"

​Dia tetap tidak terbiasa hanya mendengar suaranya saja. Yu-dan akhirnya menoleh ke belakang lagi. Wanita itu merasa takjub sambil mendekatkan wajahnya ke kaca jendela.

​"Benar-benar, mengingatkan masa lalu..."

​"Nona sepertinya dulu tinggal lama di sini?"

​"Aku pindah ke mari saat kelas satu dan pindah sekolah saat kelas lima. Masa-masa sekolah dasarku hampir semuanya kuhabiskan di sini. Ah, Anda bisa menurunkanku di sini."

​Cahaya lampu depan menerangi jalan di depan. Tangga lingkungan terlihat di tengah hujan. Rumah-rumah berjejer rapat di sepanjang lereng curam. Taksi berhenti di tempat parkir sementara di depan tangga.

​"Terima kasih."

​Saat dia menjulurkan tangannya ke samping, wanita itu tiba-tiba tersentak kaget. Dia buru-buru meraba sekitar dan melihat ke bawah kursi.

​"Paman Sopir, apa aku tidak naik membawa tas?"

​"Tidak. Kamu tidak membawa tas tadi."

​"Ya ampun! Pasti sudah gila! Kenapa aku meninggalkannya? Dompet dan ponselku semuanya ada di sana, bagaimana ini?"

​"Tidak apa-apa. Nanti bisa kamu bayar, kok."

​"Bolehkah begitu? Duh. Karena akhir-akhir ini terus lembur, aku tidak bisa fokus. Benar-benar minta maaf, ya. Kalau Paman ada kertas dan pena... Ah, terima kasih."

​Wanita itu menuliskan nama dan nomor teleponnya di atas kertas memo lalu memberikannya.

​"Kalau Anda mengirimiku nomor rekening via SMS, aku akan langsung mentransfernya."

​"Baiklah."

​Gwi-nam membuka laci dashboard. Ada dua lembar kertas yang persis sama di dalam kotak, kini menjadi tiga lembar.

​"Maaf, ya. Terima kasih. Selamat tinggal."

​Nona itu turun dari mobil dan membuka payungnya. Pintu mobil tertutup dengan bantingan pelan.

​"Ternyata dia memang benar-benar hantu. Ckck. Nona muda yang secantik itu..."

​Meninggalkan sopir taksi yang menggerutu panjang sambil menghela napas, Yu-dan turun dari mobil. Gwi-nam terkejut.

​"Mau ke mana?"

​"Katanya ini sudah tahun ketiga. Tidakkah Paman penasaran kenapa dia melakukan hal itu? Aku sih penasaran."

​Yu-dan membuka payungnya.

. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.