LANGITOREN
0%

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 65>



​Setelah melewati sebuah pintu, pintu lain muncul, dan setelah melewati pintu itu, pintu lain muncul lagi. Setelah melewati banyak pohon dedalu dan akhirnya tiba di depan rumah besar, para dongja menghentikan sang naga sambil berkata, "Whoa, whoa."

​Turun dari kereta dan mendongak ke atas, ujung paviliun tempat itu tertutup awan dan tidak terlihat. Sangat tinggi.

​"Mulai sekarang kamu harus berhati-hati."

​Baekran memperingatkan. Kini senyuman juga lenyap dari wajahnya. 

​Saat mereka menaiki tangga batu mengikuti para dongja, tirai-tirai tersingkap dengan sendirinya dan membuka jalan. Di setiap kamar di kedua sisi lorong, para tamu tertidur lelap. Ada yang bersandar di kursi dan ada yang menelungkup di atas meja dengan tangan yang terkulai ke bawah masih memegang gelas arak.

​Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan yang luas.

​Di tengah langit-langit yang tinggi, sebuah cermin bundar berputar. Asap misterius mengambang di udara.

​Melihat sosok yang duduk di depan meja panjang, Yu-dan tersentak kaget. Sosok itu tinggi, berambut sangat panjang, dan mengenakan pakaian elegan, tetapi dia memakai tengkorak putih binatang sebagai topeng. Apakah itu sejenis kambing gunung? Ada tanduk melengkung di kedua sisi kepalanya.

​Paman Do menelan ludah.

​"Ah, ya ampun. Tempat ini terlalu luas, bisa-bisa aku tersesat saat mau pergi ke kamar kecil."

​Melepaskan ketegangannya, dia tiba-tiba melontarkan candaan. Suara dokkaebi yang jenaka bergema keras di ruang yang sunyi senyap itu.

​"Ngomong-ngomong, apakah Anda adalah Monghui-nim? Berbeda dengan yang kubayangkan. Bukankah begitu, Cheonho-nim?"

​"Menurut 『Sanyugi』, Monghui, dewa yang memberikan mimpi, memakai tengkorak goblin kuno yang diburunya melalui mimpi. Bisa dibilang itu adalah topeng yang membuatnya tidak tertidur selamanya. Tulang, bukankah sangat cocok untuk dewa mimpi? Karena mimpi hanyalah sisa-sisa dari kenyataan."

​Mendengar itu, Monghui langsung mengulurkan tangan dan melepas tengkoraknya.

​"Perkataanmu salah. Mimpilah yang menciptakan kenyataan."

​Dia adalah dewi dengan penampilan yang sangat anggun dan angkuh, dengan pupil mata merah yang menyala seperti bara api di dalam kegelapan.

​Binatang aneh yang berbaring tengkurap di sebelah kursinya menangis pelan ke arah mereka, bentuknya seperti beruang dengan belalai gajah.

​Melihatnya, Baekran berkata.

​"Itu adalah Maek (Tapir), binatang pemakan mimpi buruk."

​"Dia mencium baunya dan menjadi gelisah. Karena akhir-akhir ini dia belum pernah memakan mimpi buruk yang benar-benar terasa seperti mimpi buruk."

​Monghui menatap siluman rubah dengan saksama.

​"Aku pada dasarnya tidak dekat dengan siluman, tetapi aku pernah dengar rumor tentangmu. Berbagai macam roh penasaran yang mengerikan pasti mengantre untuk masuk ke dalam mimpimu. Jika kau ingin membuang sedikit mimpi buruk itu di sini, aku tidak keberatan."

​"Sungguh sambutan hangat seperti yang kudengar. Di jalan masuk tadi kulihat banyak tamu yang bahkan menetap di sini karena terlalu terharu. Bukankah itu sangat tidak sopan? Aku tidak bisa melakukan ketidaksopanan seperti itu, jadi aku akan menolaknya."

​Baekran menolak buah-buahan, camilan, dan berbagai macam makanan yang dibawa oleh para dongja dengan isyarat tangannya. Monghui menatap siluman rubah dengan ujung bibir sedikit terangkat.

​Itu adalah senyuman yang memaksakan diri untuk menahan rasa kesal. Baekran pura-pura tidak melihatnya.

​"Namun, sepertinya bukan itu tujuan Anda hari ini."

​"Benar. Sungguh mengejutkan ada manusia yang memimpikan Mimpi Kirin."

​Monghui mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah lain. Yu-dan merasa gugup tetapi berusaha keras untuk bersikap biasa saja.

​"Manusia yang memiliki hubungan dengan siluman, ya. Ternyata kau memang punya mata yang aneh. Cheonho, benda apa itu?"

​"Aku juga tidak tahu pasti. Dia hanyalah manusia yang sering mampir ke tokoku."

​"Sudah sangat lama aku tidak melihat manusia jenis itu, apa karena itu dia memimpikan Mimpi Kirin?"

​Tutup cangkir teh yang ada di depan Yu-dan berderak dan terbuka dengan sendirinya. Saat dia menatapnya tanpa sadar, Baekran langsung menutupnya kembali.

​"Aku mengerti Anda tidak sabar karena sudah sangat lama Mimpi Kirin tidak muncul, tapi Anda tidak boleh melakukan ini. Tentu saja aku tidak akan salah paham, tetapi ini bisa terlihat seolah Anda mencoba mengambil Mimpi Kirin itu secara diam-diam. Jika Anda menginginkan transaksi, bukankah lebih baik mengikuti prosedur secara resmi?"

​Ekspresi marah melintas di wajah Monghui. Dia memberi perintah kepada para dongja.

​"Bawa kemari."

​Kedua dongja keluar dan segera kembali membawa sebuah gulungan lalu membukanya.

​Itu adalah kertas kosong tanpa apa pun, tapu mereka memegangnya dan berdiri di belakang Yu-dan.

​Terasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari kepalanya. Para dongja kembali menggulung gulungan yang memancarkan cahaya lima warna itu.

​"Nah, kalau begitu mari kita lihat."

​Saat Monghui mengulurkan tangannya, Baekran dengan cepat merebut dan mengambil gulungan itu. Dewi tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.

​"Kau menyuruhku mengikuti prosedur jadi aku sudah menyiapkan transaksi mimpi seperti ini, lalu apa lagi masalahnya? Kenapa Cheonho terus ikut campur dalam urusan antara aku dan manusia ini!"

​"Ikut campur? Apakah Anda lupa? Mimpi Kirin ini sejak awal sudah dijanjikan untuk dijual padaku. Anda tidak akan bilang kalau Anda tidak tahu kekuatan dari sebuah janji, kan? Karena itu, separuh hak kepemilikan Mimpi Kirin adalah milikku. Aku hanya memakai hak tersebut."

​Kini Monghui memelototi Baekran secara terang-terangan. Saat Baekran pura-pura tidak melihatnya dan mengalihkan pembicaraan, Monghui kembali menatap Yu-dan.

​"Manusia. Bukankah kau seharusnya lebih berhati-hati. Kau pasti hanya sepakat untuk menerima Sabuk Giok Utusan Langit sebagai imbalan Mimpi Kirin, tetapi belum benar-benar memeriksanya. Memangnya kau pikir aku tidak tahu?"

​Padahal bukan begitu. Aku bahkan tidak pernah sepakat untuk menerimanya.

​Tentu saja dia tidak bisa mengatakan hal itu.

Lalu apa yang harus aku katakan?

​Karena tidak menyangka bola akan dioper kepadanya, Yu-dan menjadi panik. Kalau Baekran punya niat menulis naskah, bukankah seharusnya dia sudah menyamakan ceritanya denganku dari awal?

​Melihat Yu-dan ragu-ragu, Monghui menjadi semakin percaya diri.

​"Lihatlah itu. Tidak ada yang tahu tipu daya macam apa yang digunakan. Kelicikan siluman tidak akan pernah bisa ditandingi oleh manusia. Terlebih lagi, dia adalah Cheonho. Dia mungkin berjanji untuk memberikan Sabuk Giok Utusan Langit, tapi bisa saja itu benda yang sama sekali berbeda dengan nama yang sama. Contohnya, dia bisa memberimu seekor anak tikus dan dengan tidak tahu malu beralasan bahwa nama tikus itu adalah 'Sabuk Giok Utusan Langit'."

​"Kenapa Anda berkata begitu? Sabuk Giok Utusan Langit itu sudah kutunjukkan kepada orang ini."

​"Aku bertanya pada manusia itu. Jawablah, manusia."

​Apa yang harus kulakukan?

​Saat dia memutar kepalanya ke arah siluman rubah itu, lehernya terputar dengan cepat dan mengeluarkan bunyi berderak. Baekran mengerutkan dahinya.

​"Kalau melakukan itu Anda bisa mati."

​"Begitukah? Aku tidak tahu. Bagaimanapun, jangan melihat rubah dan jawablah sambil menatapku. Kau harus mengatakan yang sebenarnya. Jika kau menipuku sedikit saja, kau juga tidak akan bisa keluar dari sini selamanya seperti orang-orang yang tak terhitung jumlahnya yang tertidur di tempat ini."

​Mata sang dewi menatap lurus ke arahnya.

​Rasa takut tiba-tiba menyergapnya. Kalau dipikir-pikir lagi, yang ditumpangi Yu-dan bukanlah mobil yang melaju di luar batas kecepatan, melainkan kereta api yang melaju tak terkendali. Namun, dia tidak bisa turun sekarang.

​"Aku sudah memeriksanya.... dan itu asli."

​"Hah! Manusia! Kau benar-benar sudah tertipu. Tidak mungkin Sabuk Giok Utusan Langit masih tersisa di dunia kalian sampai sekarang. Cheonho, kau pasti membawa benda seperti yang kukatakan, kan?"

​"Ya. Aku menyuruh pelayanku di sini untuk membawanya kemari."

​"Berikan kepadaku."

​Paman Do memundurkan tubuhnya.

​"Ini adalah bayaran mimpi yang disiapkan oleh Cheonho-nim. Anda tidak berniat menjual Mimpi Kirin, lalu kenapa Anda mau melihatnya?"

​Dia membalas dengan jenaka, tetapi raut wajahnya tidak bagus. Matanya juga bergetar. Sudah kuduga itu palsu. Bagaimana ini?

​Monghui mengangkat kepalanya dengan wajah seolah berkata 'lihat, kan?'.

​"Manusia. Aku akan memberimu sesuatu yang lebih baik daripada Sabuk Giok Utusan Langit palsu itu, jadi jual lah Mimpi Kirin itu kepadaku."

​"Apa maksud Anda palsu?"

​Baekran berseru. Pipinya langsung memerah seolah dia baru saja menerima penghinaan besar.

​"Bagaimana Anda bisa mengatakan hal itu? Sabuk Giok Utusan Langit ini adalah barang asli yang diturunkan dari langit."

​"Jangan berbohong. Kudengar sembilan dari sepuluh perkataanmu adalah kebohongan. Membohongi satu manusia muda pasti semudah bernapas bagimu."

​"Anda benar-benar keterlaluan. Jika sabuk ini asli, apa yang akan Anda lakukan?"

​"Bicara begitu, tapi kenapa kau terus memundurkannya? Cepat berikan!"

​"Tidak bisa. Nanti jadi kotor."

​"Aku ini dewa, kotoran apa maksudmu!"

​"Pokoknya tidak bisa. Sabuk Giok Utusan Langit adalah harta karunku yang sangat berharga, aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun yang memohon untuk melihatnya. Aku menguatkan tekad untuk mengeluarkannya karena ingin membeli Mimpi Kirin."

​Pada akhirnya Monghui kehilangan kesabarannya.

​"Kusuruh berikan!"

​Terdengar bentakan seperti suara petir, lalu pilar meja tiba-tiba berubah menjadi naga dan merebut kotak yang dipeluk oleh Paman Do. Kotak itu dirampas dalam sekejap. Wajah dokkaebi itu menjadi pucat dan dia berteriak.

​"Ya ampun! Tidak!"

​"Mana boleh Anda melakukan ini!"

​Baekran memprotes, tetapi Monghui tidak mendengarkannya sama sekali.

​"Bersiaplah kalian semua untuk diikat di pohon dan menyerahkan mimpi kalian selamanya."

​Jantungnya terasa membeku. Ini benar-benar masalah besar. Sejak tadi memang sudah masalah besar, tetapi mulai sekarang masalahnya jauh lebih besar lagi. Yu-dan menatap sang dewi dengan kaku.

​Monghui membuka kotak itu dengan penuh percaya diri. Pada saat itu, mata merahnya membelalak lebar, lalu dengan tergesa-gesa dia mengangkat isi kotak itu dengan tangannya yang berkuku panjang.

​Sebuah sabuk yang dipenuhi dengan manik-manik giok menjuntai ke bawah. Itu adalah batu giok berwarna seperti lautan hijau. Saat manik-manik giok itu saling berbenturan, terdengar suara jernih dan misterius yang tidak bisa ditiru oleh alat musik mana pun. Mengikuti suara gemerincing itu, pemandangan di sekitarnya bergoyang, seperti foto yang tidak fokus. Monghui tidak menyadarinya dan menatap Sabuk Giok Utusan Langit itu seolah terhipnotis.

​"Tidak mungkin. Ini barang asli?"

​Apa ini? Bagaimana ini bisa terjadi?

​Yu-dan merasa kebingungan dan menatap Baekran. Baekran memasang wajah marah, tapi jika diperhatikan baik-baik, ada senyuman di matanya. Sambil terus memperhatikan reaksi Monghui, Yu-dan mendekat ke telinga rubah dan bertanya.

​"Kau membuatnya terlihat seperti asli?"

​"Bukan. Benda itu memang asli."

​Dia semakin kebingungan.

​"Lalu kenapa kau berusaha keras untuk tidak menunjukkannya?"

​"Ada pepatah yang berbunyi Seongdong-gyeokseo. Artinya membuat keributan di timur lalu menyerang di barat. Jika kita mengalihkan perhatian dengan tipu daya, kita bisa membuat mereka tidak menyadari kebenarannya."

​"Aku tidak mengerti maksudmu."

​"Singkatnya, yang palsu sebenarnya adalah yang ini."

​Baekran menunjuk ke gulungan Mimpi Kirin. Yu-dan terkejut.

​"Apa?"

​"Mana mungkin aku memiliki sesuatu yang bahkan dewa mimpi pun tidak punya? Mimpi Kirin itu adalah barang palsu yang dibuat dengan sangat teliti."

​"Jadi sekarang kau mau menjual mimpi palsu? Kepada dewa mimpi? Memangnya kau tidak akan ketahuan?"

​"Tentu saja akan langsung ketahuan."

​"Kau gila."

​"Kamu sudah mengerti sekarang?"

​Dia baru saja hendak membalas, tapi segera menutup mulutnya. Monghui sudah sadar dan buru-buru memasukkan kembali sabuk itu. Sepertinya dia baru menyadari bahwa pemandangan di sekitarnya bergoyang karena suara dari sabuk giok tersebut.

​"Karena itu, kamu sama sekali tidak boleh menunjukkan gulungan ini lebih dulu."

​Baekran memperingatkan dengan suara pelan.

​Bukan tidak bisa keluar kalau melakukan kesalahan, melainkan hanya bisa keluar jika melakukannya dengan baik.

​Perkataan siluman rubah sekali lagi terngiang di benaknya. Rasanya seperti ada ular dingin yang merayap turun di punggungnya.

​Rasa krisis yang dirasakannya sampai tadi itu tidak ada apa-apanya.

​Jadi kau menyeretku ke dalam masalah ini? Yu-dan benar-benar merasakan ancaman terhadap nyawanya.

​"Apakah Anda sudah puas melihatnya?"

​Paman Do bersungut-sungut dan mengambil kembali kotak berisi Sabuk Giok Utusan Langit itu.

​"Jantungku berdenyut nyeri karena sangat terkejut. Biarpun Anda adalah dewi kuno, apakah boleh memperlakukan dokkaebi tak berdosa dengan kasar begini?"

​Barulah tatapan Paman Do bisa dipahami. Akting jenakanya itu adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

​"Kenapa Anda sangat tidak percaya. Meskipun ini bukan Sabuk Giok Utusan Langit milik Raja Jinpyeong yang paling terkenal, sabuk ini juga asli. Ini adalah harta karun yang tiada duanya di dunia. Memangnya apa kesalahan Cheonho-nim kami?"

​"Anda benar. Apakah sebegitu marahnya Anda karena aku yang pertama kali menemukan Mimpi Kirin dan membuat janji terlebih dahulu? Aku sangat kecewa padahal aku hanya memiliki satu kesalahan yaitu dengan patuh memenuhi panggilan Anda."

​Baekran juga sedang meronta untuk bertahan hidup. Padahal banyak sekali hal yang ingin dia proteskan kepada siluman rubah, namun untuk sementara dia tidak punya pilihan selain ikut membantu.

​"Aku benar-benar menyukai sabuk ini. Aku ingin langsung bertransaksi dengannya."

​"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lakukan di sini saja? Sabuk Giok Utusan Langit memang yang terbaik di antara harta karunku, namun jika bisa ditukar dengan Mimpi Kirin, itu justru menguntungkan bagiku."

​"Hahaha! Tentu saja! Aku juga berpikir begitu! Selamat, Cheonho-nim."

​"Aku senang sekali. Apa yang harus aku lakukan dengan Mimpi Kirin itu hm?"

​Monghui menatap siluman rubah dan gulungan Mimpi Kirin itu secara bergantian. Keinginannya yang begitu besar untuk memilikinya seolah akan menembus wajahnya dan keluar.

​"Tunggu sebentar!"

​"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin dikatakan kepada kami?"

​"Selain Cheonho, manusia di sana! Dengarkan perkataanku! Entah sudah berapa lama sejak Mimpi Kirin terakhir kali muncul, apakah masuk akal jika aku, Monghui yang disebut sebagai dewa mimpi, tidak bisa mendapatkannya? Aku akan memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada Sabuk Giok Utusan Langit, jadi jual Mimpi Kirin itu kepadaku!"

​"Tapi..."

​Yu-dan melirik Baekran.

​"Jangan khawatir. Aku akan berbicara dengan Cheonho secara terpisah dan menyelesaikannya dengan baik."

​Monghui memberikan isyarat mata kepada para dongja. Para dongja itu keluar lalu kembali membawa sebundel besar gulungan.

​"Lihatlah. Hwaseojimong yang dimimpikan oleh Kaisar Kuning (Huangdi), Hojeopmong yang dimimpikan oleh Zhuangzi, Handanjimong dari Pendeta Tao Yeo-ong, Namgailmong dari Sun Wu-fen, Geumgunmong dari Ratu Munmyeong, segala macam mimpi ilusi seperti Guunmong, Musanjimong, Goemong, Yeongmong, Saengmong, Samong........ Para kaisar, orang bijak, dan bahkan roh suci sekalipun menundukkan kepala kepadaku dan meminta mimpi, tetapi jika aku tidak menginginkannya, aku tidak akan memberikannya kepada siapa pun. Namun, jika kau memintanya, aku akan memberikan apa pun."

​"Ya ampun. Anda tidak boleh begini."

​Baekran menggelengkan kepalanya.

​"Seharusnya Anda yang paling tahu, kenapa Anda bersikap begini? Bahkan jika semua mimpi ini digabungkan, itu tidak akan bisa dibandingkan dengan Sabuk Giok Utusan Langit. Terlebih lagi, itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Mimpi Kirin. Lagipula, tidak ada aturan yang mengatakan bahwa mimpi harus ditukar dengan mimpi, kan? Menurutku, dari antara harta karun yang Anda miliki, jika ada harta karun yang bisa menandingi Mimpi Kirin........."

​Sambil memperpanjang akhir kalimatnya, dia menatap tengkorak yang tadi dilepas oleh dewi itu, membuat Monghui terkejut.

​"Yang ini tidak boleh."

​Dia menyerahkan tengkorak itu kepada para dongja, dan kedua dongja itu menyingkirkannya jauh ke atas meja pajangan yang dilapisi kain sutra. Baekran tersenyum lebar.

​"Tentu saja aku tidak bermaksud meminta yang itu. Karena itu saja tidak cukup."

​"Apa katamu?"

​"Bukankah ada topeng yang dulu sering Anda pakai."

​"Topeng itu sudah hancur."

​"Tidak ada seorang pun yang tidak tahu bahwa Anda menyimpan sisa-sisanya sebagai harta karun. Tanduk goblin yang diburu oleh Monghui di masa lalu saat melintasi berbagai mimpi. Jika itu tanduk tersebut, itu tidak hanya akan melampaui Sabuk Giok Utusan Langit tetapi juga layak ditukar dengan Mimpi Kirin."

​"Bagaimana kau bisa....."

​Monghui mengerutkan dahi ke arah rubah itu.

​"Bukankah ku bilang aku akan mengurusnya secara terpisah denganmu? Seharusnya kau tidak punya urusan lagi, tapi kenapa kau terus ikut campur seolah ini urusanmu sendiri. Benar-benar aneh."

​"Aneh apanya? Tentu saja ini wajar. Jika dikatakan Cheonho ingin membeli Mimpi Kirin bahkan hingga mengeluarkan Sabuk Giok Utusan Langit, tapi gagal membelinya karena kalah oleh barang remeh yang dikeluarkan Monghui, apa yang akan terjadi dengan harga diriku? Sembilan dari sepuluh siluman dari Myeongbumado yang sekarang tunduk kepadaku pasti akan kecewa dan meninggalkanku. Karena sudah begini, Monghui-nim juga harus mengeluarkan harta karun yang paling berharga."

​"Jadi maksudmu kau membuat keributan ini hanya demi harga dirimu!"

​"Memangnya ada yang lebih penting dari itu?"

​"Sudahlah! Kau menyingkirlah! Apa gunanya tanduk goblin semacam itu bagi manusia!"

​Dia menjadi marah dan melepas kalungnya.

​"Manusia. Aku akan memberikan 'Jinmong (Mimpi Sejati)' milik Monghui ini kepadamu. Ini adalah harta karun yang mengendalikan mimpi, kau bisa membuat orang lain memimpikan mimpi yang kau inginkan. Dengan begitu, kau bisa menyusup ke dalam pikiran orang lain. Manusia sangat lemah terhadap mimpi. Kau bisa mengendalikan penguasa berpangkat tinggi, orang kaya, maupun wanita cantik sesukamu. Kau bisa menikmati kekayaan dan kemuliaan tanpa akhir dan hidup sesukamu."

​Apakah mungkin tujuan sebenarnya dari rubah itu adalah ini? Saat dia meliriknya diam-diam, Baekran sedikit mengerutkan kening. Bola matanya bergerak sangat sedikit ke arah sana. Arah tempat topeng Monghui yang tadi disingkirkan berada.

​Yu-dan kembali menatap Monghui.

​"Aku lebih suka tanduk goblin daripada itu..."

​"Apa?"

​"Orangnya sendiri yang bilang begitu, mau bagaimana lagi."

​Rubah menimpali dengan jenaka.

​Seolah tidak punya pilihan lain, Monghui memberikan isyarat mata kepada para dongja.

​Setelah kedua dongja itu keluar, dia melipat tangannya dan tenggelam dalam pikiran. Wajahnya sangat serius. Paman Do yang memperhatikan keadaan diam-diam berdiri.

​"Apa ada kamar kecil di sini?"

​Monghui sama sekali tidak mempedulikan apakah dokkaebi itu mondar-mandir dan mengintip ke sana kemari. Namun, Yu-dan merasa cemas. Karena rubah dan dokkaebi, kini perutnya mulai terasa mulas.

​"Kami membawanya."

​Para dongja dengan hati-hati membawa sebuah bantal sutra.

​Di atas bantal itu ada sesuatu yang memanjang. Akhirnya mereka membawa tanduk goblin itu. Benda macam apa sebenarnya itu? Yu-dan menatapnya dengan saksama dari tempat duduknya.

​Benda itu berwarna hitam legam dan lebih besar dari dugaannya. Panjangnya mungkin sekitar dua jengkal, dan bentuknya yang memancarkan cahaya aneh sangatlah tidak biasa.

​Meskipun disebut goblin kuno, itu tidak terlalu terasa nyata, tetapi mungkinkah itu seperti unicorn? Tiba-tiba dia menjadi tertarik. Baekran juga tampak tertarik dan matanya berbinar.

​"Benar-benar luar biasa. Wajar jika Anda menyimpannya dengan sangat berharga."

​"Ya. Meskipun tulang goblin kuno masih tersisa di beberapa tempat, akulah satu-satunya yang memiliki tanduk setua ini."

​"Aku juga mendengarnya begitu. Berkat undangan Anda hari ini, aku bisa melihat tontonan yang begitu langka."

​Sementara Baekran memuji dengan heboh, Paman Do mendekati meja pajangan tempat para dongja tadi meletakkan topeng Monghui. Meskipun dia tampak melangkah dengan santai, setiap langkah kakinya sedikit gemetar. Seperti dugaanku, sepertinya dia akan melakukan sesuatu.....

​"Ya ampun, aku kurang peka rupanya. Anda pasti ingin segera mendapatkan Mimpi Kirin. Kebetulan aku punya surat perjanjian yang disiapkan untuk bertransaksi dengan manusia, haruskah kuberikan?"

​Baekran tersenyum lebar sambil berucap. 

. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.