Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 64>
"Tentu saja. Di zaman sekarang juga, kalau ada yang bermimpi indah, kadang ada orang yang bercanda meminta untuk menjualnya. Di zaman dahulu hal itu lebih parah. Jika ada mimpi baik (gilmong), mereka akan membayarnya dan membelinya. Contoh perwakilannya adalah kisah pembelian mimpi (maemong seolhwa). Itu adalah cerita yang muncul di 『Samguk Yusa』. Mungkin kamu pernah mendengar nama Kim Chun-chu atau Kim Yu-sin......."
"Aku pernah mempelajarinya."
"Jenderal Kim Yu-sin punya dua saudara perempuan. Bo-hui dan Mun-hui. Suatu hari, di antara keduanya, Bo-hui bermimpi. Dia naik ke Gunung Seoraksan dan buang air kecil sehingga seluruh Seorabeol terendam."
"Oh, itu bukanlah hal yang patut ditertawakan. Itu berarti dia akan menutupi seluruh Seorabeol dengan kekuatan dan pengaruh yang dimilikinya. Saat dia bangun di pagi hari dan menceritakannya kepada adiknya, Mun-hui, Mun-hui langsung menyadari makna tersebut dan menyuruhnya menjual mimpi itu."
"Ternyata adiknya lebih pintar dari kakaknya. Apa dia licik?"
"Dalam hal itu, Kim Yu-sin juga sama. Dia biasanya memandang Kim Chun-chu dengan sangat baik sehingga ingin menjodohkannya dengan adiknya. Oleh karena itu, saat bermain chukguk (sepak bola tradisional), dia sengaja menginjak dan merobek ujung pakaiannya. Dia membawanya ke rumah dan memanggil adiknya, Bo-hui, untuk menjahitnya, tetapi Bo-hui menolaknya dengan berkata bahwa dia tidak bisa tampil di depan seorang bangsawan terhormat hanya karena urusan sepele semacam ini. Sebagai gantinya, Mun-hui pergi untuk menjahitnya, dan Kim Chun-chu jatuh cinta melihat Mun-hui yang cantik. Setelah itu, Kim Chun-chu sering mengunjungi rumah Kim Yu-sin, dan Mun-hui kemudian mengandung seorang anak."
"Itu terlalu cepat! Mereka pasti tidak tahu bahwa cerita ini akan diabadikan di buku sejarah dan terus mengikuti mereka selama lebih dari seribu tahun. Ngomong-ngomong, zaman dahulu pasti lebih ketat, bukankah seharusnya mereka tidak boleh hamil di luar nikah?"
"Silla punya suasana yang relatif bebas, tetap saja seorang gadis bangsawan yang belum menikah memiliki anak adalah masalah besar. Meskipun mungkin berbeda dari sejarah yang sebenarnya, bagaimanapun juga menurut 『Samguk Yusa』, Kim Yu-sin sengaja menumpuk kayu di rumahnya dan menyalakan api bertepatan dengan hari Ratu Seondeok naik ke Gunung Namsan. Saat Ratu Seondeok melihat asap tersebut dan bertanya apa yang terjadi, para menteri menjawab bahwa adik perempuan Kim Yu-sin hamil tanpa suami, sehingga ia berniat membakar adiknya sampai mati. Saat ditanya siapa ayah dari anak itu, raut wajah Kim Chun-chu yang berada di sana pun seketika berubah pucat."
"Setidaknya dia punya hati nurani."
"Ratu Seondeok segera menyadarinya dan menyuruh Kim Chun-chu untuk pergi menyelamatkan Mun-hui. Dengan begitu, Mun-hui akhirnya menikah dengan Kim Chun-chu. Kim Chun-chu tidak lain adalah Raja Taejong Muyeol ke-29 yang meletakkan dasar bagi penyatuan Tiga Kerajaan. Ketika dia naik takhta, Mun-hui menjadi Ratu Munmyeong. Inilah kisah maemong seolhwa tentang bagaimana seseorang berhasil menduduki posisi Ratu Silla hanya bermodalkan satu mimpi. Ada banyak sekali cerita lain tentang mengubah takdir dengan membeli mimpi. Karena itulah semua orang sangat menginginkan Mimpi Kirin."
"Begitu rupanya..."
Alasan mengapa orang-orang aneh terus berdatangan dan mengganggunya untuk menjual mimpinya kini sepenuhnya masuk akal. Yu-dan mengangguk lalu menatap Baekran.
"Lalu kenapa kau memberikan Mimpi Kirin itu padaku? Bantuan apa yang kau maksud? Jangan bilang kau mengajakku mendirikan sebuah negara."
"Tentu saja tidak. Aku tidak memberikannya pada mu sepenuhnya, melainkan hanya meminjamkannya sebentar. Sebenarnya tujuanku adalah menjual Mimpi Kirin tersebut."
"Katanya jangan dijual?"
"Bukan menjualnya kepada sembarang orang, melainkan aku ingin mendapatkan harga yang paling bagus."
Seolah mengerti, siluman dokkaebi menganggukkan kepalanya.
"Singkatnya, anak ini adalah umpan."
"Benar."
Baekran terus tersenyum entah apa yang menurutnya lucu.
"Mulai sekarang akan semakin banyak orang yang datang untuk membeli Mimpi Kirin. Tapi kamu sama sekali tidak boleh menjualnya. Nanti, akan ada dua anak kecil (dongja) yang datang."
"Anak kecil?"
"Anak-anak kecil yang mengenakan pakaian Tiongkok kuno dengan rambut yang digelung bulat seperti pangsit. Jika dua dongja itu datang, berkatalah begini kepada mereka."
Baekran menyodorkan selembar kertas yang diikat dengan tali membentuk simpul.
"Karena kamu pasti tidak akan bisa menghapalnya, aku sudah menuliskannya. Ini semacam naskah. Kamu harus mengatakannya persis seperti ini. Kalau tidak, semuanya akan sia-sia."
Yu-dan menerima kertas itu.
Entah kenapa para siluman menatap pemandangan ini dengan wajah tersenyum lebar. Baekran bertanya. "Kenapa kalian semua begitu?"
"Apakah Anda akhirnya akan melakukan hal itu?"
Paman Do memberikan isyarat mata seolah tahu semuanya.
"Hal itu apa maksudmu?"
"Apakah Anda berniat untuk menyelesaikan krisis keuangan parah di toko kita yang selalu bertahan hidup dengan susah payah di perbatasan antara penutupan dan cuti ini dalam satu pukulan dengan keuntungan besar secara instan dengan menjual Mimpi Kirin?"
Baekran menatap datar dokkaebi yang mengoceh dengan penuh semangat itu.
"Oh, begitukah? Apa aku akan melakukan hal itu sekarang? Aku sendiri tidak tahu."
"....Kalau bukan ya sudah."
"Menjual hal semacam ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah keuangan toko dengan keuntungan besar dalam satu pukulan. Kecuali jika ada seseorang yang menyetor uang tunai ke rekening bank kita. Di dunia manusia, yang penting adalah uang tunai. Bukankah kenyataan bahwa uang tunai yang tidak bisa dilacak asal usulnya adalah yang terbaik merupakan kebenaran yang terus diwariskan sejak zaman kuno? Jadi, daripada menghabiskan waktu untuk delusi yang tidak masuk akal, lebih baik bersih-bersih—"
Siluman rubah itu menghentikan kata-katanya.
"Ya ampun. Sepertinya mereka tidak bisa masuk gara-gara aku. Aku harus menyingkir."
"Hah? Siapa?"
Yu-dan mengikuti pandangan Baekran ke luar dan terkejut. Para siluman juga ikut terkejut.
"Astaga! Apa itu!"
"Pelanggan! Pelanggan berdatangan!"
"Kau lihat? Ada antrean di depan toko kita!"
Seolah-olah monster dari legenda baru saja muncul, dokkaebi, siluman ular, maupun siluman ginseng anak-anak menggosok mata mereka takjub.
Kemudian mereka segera sadar kembali.
Paman Do adalah orang pertama yang melompat keluar dan membuka pintu.
"Selamat datang! Silakan duduk di sini! Anak-anak! Apa yang kalian lakukan!"
"Ah, iya! Buku menu! Buku menu!"
Toko itu penuh sesak dalam sekejap. Para pelanggan tetap menunggu tanpa pulang meskipun tidak ada tempat duduk. Melihat semua orang mengantre, semakin banyak pelanggan yang berdatangan. Mulut para siluman menganga lebar.
Apakah ini juga karena Mimpi Kirin? Luar biasa.
Saat Yu-dan hendak membantu tanpa sadar, Baekran yang menyingkir ke sudut melambaikan tangannya.
"Sudah cukup. Pergi dan jadilah umpan saja. Kalau lengah, kamu bisa ditangkap oleh siluman-siluman yang sudah merasakan nikmatnya uang itu dan dijadikan pajangan hidup di toko ini."
"A-aku mengerti."
Saat melangkah keluar dan menoleh sekilas, tanpa disadari Baekran telah memanggil Paman Do dan membicarakan sesuatu. Wajah dokkaebi yang tadinya paling bahagia di dunia itu perlahan-lahan berubah menjadi serius.
Apa lagi yang dikatakan rubah?
Karena bagian depan toko terlalu ramai, dia tidak bisa terus memperhatikannya. Yu-dan pun membalikkan langkahnya. Saat dalam perjalanan pulang, dia teringat sesuatu dan membuka kertas yang diberikan Baekran.
Aku harus menghapal ini?
Aku harus melakukan apa yang diperintahkan. Bagaimanapun juga, karena aku sudah setuju untuk membantu, aku sekarang berada dalam situasi seperti menaiki mobil yang melaju di luar batas kecepatan.
Sejak hari itu, keberuntungannya terus berlanjut. Saat bermain game, tidak peduli seberapa dirugikannya dia, dia pasti meraih kemenangan besar. Tugas yang ditulis sembarangan pun mendapat pujian tinggi. Semua soal ujian yang dia tebak asalan selalu benar. Namun, jika dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, justru salah. Yu-dan tersenyum nanar sambil menatap kertas ujiannya.
Ternyata Mimpi Kirin pun tidak bisa menyelesaikan hal ini.
Selain itu, hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari pun semuanya dipenuhi keberuntungan. Dia tidak pernah harus menunggu bus atau kereta bawah tanah. Angkutannya pasti langsung tiba dan pasti ada tempat duduk. Jika dia ingin membeli sesuatu, staf akan datang dan langsung mengubah harganya dengan diskon sembilan puluh persen. Saat dia melihat selebaran anjing atau kucing yang hilang lalu menoleh, hewan itu sedang duduk manis di sana. Jika dia mengulurkan tangannya, mereka akan tertangkap tanpa perlawanan. Sebagian besar adalah hewan-hewan yang memiliki hadiah sayembara bernilai besar.
Akan tetapi, Mimpi Kirin ini hanya dipinjamkan sementara oleh Baekran. Aku tidak boleh serakah. Karena dia tahu lebih baik dari siapa pun apa yang akan terjadi jika tergoda oleh hal-hal yang menyimpang dari kehidupan sehari-hari, Yu-dan terus mencuci otaknya sendiri.
Ini bukanlah uang. Ini hanyalah kertas bertuliskan angka.
Tidak peduli seberapa menggiurkan hadiah sayembara yang ditawarkan, dia akan menghubungi pemiliknya, menyerahkan hewannya, lalu melarikan diri. Uang yang sering dia pungut tanpa sengaja pun dia sumbangkan seluruhnya meski merepotkan.
Puncaknya adalah saat dia terbangun dari tidur siangnya di kereta bawah tanah dan menemukan sebuah tas kerja di pangkuannya. Saat dibuka, isinya penuh dengan uang tunai. Ini benar-benar sangat membingungkan sehingga dia langsung menyerahkannya kepada petugas keamanan yang kebetulan sedang berpatroli lalu kabur.
"Melelahkan....."
Yu-dan yang kelelahan duduk di sofa.
Tidak disangka kehidupan orang yang memimpikan mimpi terbaik akan jadi seperti ini.
Keberuntungan jadi terasa menyebalkan. Karena keberuntungan itu turun tanpa henti di mana pun dia pergi sampai membuatnya muak. Dia merasa bisa memahami psikologi para selebriti yang diganggu oleh penggemar fanatik.
Rasanya seperti seluruh dunia telah menjadi penggemar fanatiknya. Namun, karena dia hanyalah siswa SMA biasa yang rutinitasnya hanya bolak-balik antara sekolah dan rumah, insiden ini kurang lebih sebatas komedi masyarakat kecil...
"Di tengah situasi di mana rencana reformasi menghadapi perlawanan sengit yang tak terduga dan terus mengalami kesulitan..."
"Kerugian besar akibat hilangnya kapitalisasi pasar lebih dari sepuluh triliun won akibat serangkaian berita buruk....."
"Kelompok bersenjata berencana melakukan serangan bom namun berhasil ditangkap sebelumnya......"
Yu-dan menatap berbagai berita dari dalam dan luar negeri yang silih berganti di layar televisi. Tadi dikatakan bahwa efek mimpi itu berbeda-beda tergantung kapasitas orangnya, kan? Bagaimana jika orang yang mendapatkan Mimpi Kirin itu adalah seorang politikus, pengusaha, atau penjahat?
Maka itu tidak akan sekadar menjadi komedi masyarakat kecil. Genrenya akan berubah drastis. Kejadian yang sangat hebat mungkin akan terjadi.
Memikirkan hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Memang benar bahwa Mimpi Kirin juga adalah Unusuals. Unusuals itu rumit. Sesuatu yang terlihat jahat seperti makhluk bayangan bisa memberikan manfaat, dan sesuatu yang terlihat baik seperti Mimpi Kirin pun bisa menjadi sangat berbahaya kapan saja.
Begitu pemikirannya mencapai titik itu, dia kembali merasa penasaran.
Sebenarnya kepada siapa Baekran berniat menjual Mimpi Kirin itu?
Dia mempertajam indranya dan terus mengawasinya.
Seperti yang dikatakan siluman rubah, orang-orang terus berdatangan untuk menyuruhnya menjual mimpi tersebut. Mereka adalah siluman dari berbagai wujud, goblin, makhluk suci, dan makhluk lain yang identitasnya tidak diketahui.
Mereka menghalangi jalannya saat berangkat dan pulang sekolah, datang mencarinya ke ruang kelas, dan mengetuk pintu depan saat dia ada di rumah. Meminta dengan sungguh-sungguh, memohon dengan gigih, dan terkadang juga mengancam.
Namun, Yu-dan menolaknya dengan tegas.
"Aku tidak menjualnya. Sama sekali tidak."
Jika dia menegaskannya seperti itu, mereka semua terpaksa kembali.
Sudah genap seminggu berlalu seperti itu.
Saat dia sedang membuang waktu dengan melamun sambil membiarkan buku terbuka di atas mejanya, tiba-tiba lampu padam. Dia mengira itu adalah mati lampu, tetapi ternyata kabut tebal telah menyelimuti ruangan.
Yu-dan melompat berdiri.
Dinding di tempat rak buku dan lemari pakaian berada terlihat buram dan berkabut.
Dari balik kabut tersebut, dua orang anak kecil berjalan. Rambut yang digelung bulat di kedua sisi seperti pangsit. Pakaian sutra berwarna biru. Pita yang berkibar meski tidak ada angin.
Dongja. Tidak salah lagi itu pasti dongja.
Kedua dongja itu mendekat dan membungkuk dengan sopan.
"Apakah Anda memiliki niat untuk menjual Mimpi Kirin?"
Dia menatap sambil berpikir apakah ini mimpi atau nyata, lalu dia kembali sadar. Ternyata benar. Mereka benar-benar datang. Kalau soal naskah, dia sudah menghapalnya sejak awal.
"Lagipula, itu adalah mimpi yang terlalu hebat bagi orang rendahan sepertiku, jadi jika ada pemilik yang pantas, aku ingin menjualnya. Tapi, sayangnya sudah terlambat. Pemilik toko yang sering aku kunjungi menawariku harta karun yang sangat berharga untuk menjualnya kepadanya, jadi aku baru saja membuat janji untuk melakukan hal itu."
Kedua dongja itu berdiri mematung sejenak.
"Bolehkah kami bertanya siapa pemilik itu?"
Karena mereka bertanya sesuai naskah, Yu-dan pun menjawab sesuai naskah.
"Cheonho."
Para dongja itu terdiam dan saling bertatapan.
"Maksud Anda, pemilik toko yang sering Anda kunjungi adalah Cheonho-nim?"
"Sudah kubilang begitu."
"Apa yang Cheonho-nim tawarkan sebagai bayaran untuk mimpi itu?"
"Sabuk Giok Utusan Langit (Cheonsa-okdae)."
Kedua dongja itu saling bertatapan lagi. Jelas terlihat kepanikan di wajah mereka. Reaksi mereka sama persis dengan naskah yang ditulis oleh Baekran.
"Mohon tunggu sebentar. Kami akan memberi tahu majikan kami tentang fakta ini dan segera kembali."
"Baiklah."
Dongja-dongja itu mundur. Kabut menghilang dan dinding kembali seperti semula.
Nah, aku sudah melakukan apa yang diperintahkan.....
Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Karena dia terlalu fokus menghadapi kedua dongja tersebut sesuai naskah, dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Yah, aku akan segera mengetahuinya.
Dia kembali menatap bukunya, tetapi tentu saja tulisan-tulisan itu tidak masuk ke dalam pikirannya.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu dengan melamun, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya. Dari seberang dinding, terdengar suara aneh.
Itu adalah suara roda yang berderak.
"Itu apa lagi?"
Yu-dan menatap dengan mulut ternganga.
Binatang yang mendekat dari balik kabut itu tidak salah lagi adalah seekor naga.
Di belakang dongja yang tadi, seekor naga merah yang matanya ditutup kain menarik sebuah kereta besar.
Ada penumpang yang duduk di kereta tersebut.
Dari balik kabut, dia bisa langsung mengenali telinga rubah yang runcing dan wajah putih yang dingin itu. Di sebelahnya ada juga seorang dokkaebi paruh baya.
Meskipun melihat Yu-dan, mereka berdua memasang wajah datar seolah tidak saling kenal. Jadi Yu-dan juga berpura-pura tidak mengenal mereka dan bersikap tidak peduli.
Dongja itu berucap.
"Majikan kami bersikeras ingin membeli Mimpi Kirin. Oleh karena itu, beliau mengatakan ingin mengundang Cheonho-nim dan Anda selaku pemilik Mimpi Kirin untuk membicarakannya. Cheonho-nim dengan senang hati menyetujui untuk pergi, jadi bagaimana dengan Anda?"
"Baiklah."
Yu-dan melirik Paman Do sambil naik ke kereta.
Apakah percakapan rahasia saat itu adalah karena hal ini?
Meskipun dia biasanya adalah dokkaebi yang pandai bergaul, sekarang dia tampak tegang dan memegang erat sebuah kotak di pangkuannya. Yu-dan merendahkan suaranya dan bertanya.
"Itu apa?"
"Ini adalah bayaran untuk mimpimu."
"Yang namanya Sabuk Giok Utusan Langit atau apalah itu? Memangnya itu benda apa?"
"Di masa lalu, malaikat turun dari langit, atau dengan kata lain, utusan langit turun dan memberikan sabuk yang terbuat dari giok kepada raja."
Baekran menjawab mewakilinya. Hanya kabut yang meluncur di atas mata cokelatnya yang tidak bisa ditebak itu. Yu-dan mengalihkan pandangannya.
Kereta bergerak.
Padahal baru saja dia berada di rumahnya, tetapi tanpa sadar dia telah tiba di tempat yang tidak diketahui entah di mana.
Pemandangan aneh yang berubah dari waktu ke waktu menjadi satu kesatuan dan berlalu.
Kedua dongja itu mendekatkan jamur yang tampak seperti awan merah ke hidung naga tersebut dan mengendalikannya dengan aromanya sambil melaju tanpa halangan. Sebelum Yu-dan sempat bertanya apa itu, rubah sudah angkat bicara terlebih dahulu.
"Itu adalah Rumput Keabadian (Bullocho)."
"Aha."
"Kamu tahu apa itu?"
"Yah, pasti sesuatu yang bagus. Ngomong-ngomong, ke mana kita akan pergi sekarang?"
"Pertama-tama, tahukah kamu ini adalah mimpi?"
"Ini mimpi?"
"Ya. Saat ini kamu sedang tidur telungkup di atas meja dan bermimpi. Tentu saja ini bukanlah mimpi biasa. Ini adalah mimpi yang merupakan perpanjangan dari realita. Pikiran manusia dapat berpindah melalui mimpi. Baik manusia maupun siluman bisa pergi ke tempat yang sulit didatangi saat sadar. Tempat kediaman Dewa."
"Lalu majikan dari para dongja itu...."
"Monghui. Dewa yang memberikan mimpi."
"Jadi sekarang kita akan menjual mimpi ini kepada dewa mimpi?"
"Benar. Monghui mengoleksi semua mimpi di dunia ini, tapi dia tidak punya Mimpi Kirin. Karena itu, dia pasti tidak bisa menahan rasa mengidamnya yang sangat besar. Dia pasti akan membelinya tak peduli bayaran apa pun yang harus diberikannya."
"Eughhh......"
Dokkaebi mengeluarkan suara aneh. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Selama ini aku sudah beberapa kali menghadiri acara semacam ini untuk mendampingi Cheonho-nim, tetapi kali ini aku tidak bisa tidak merasa gugup. Apa ini sungguh tidak apa-apa?"
"Kamu bertanya padahal sudah tahu? Tentu saja ini tidak baik-baik saja."
Yu-dan tersentak dan menatap rubah.
"Sudah kuduga ada sesuatu. Sesuatu yang tidak kamu beri tahukan padaku."
"Apa yang kamu bicarakan? Selalu ada hal yang tidak aku katakan. Perkataan mu barusan sama bodohnya seperti mengatakan, 'Wah, ternyata memang ada airnya', saat melihat laut."
"Sebenarnya apa yang sedang kau—"
Dia hendak meninggikan suaranya, tetapi menyadari keberadaan para dongja dan menahan kata-katanya.
Rubah tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa. Bicaralah dengan nyaman. Lagi pula, mereka sudah menguping semua pembicaraan kita sejak tadi."
Bahu para dongja itu pun tersentak.
Paman Do menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dia tahu apa yang sedang dipikirkannya. Bagaimana mungkin siluman rubah itu bisa begitu tidak punya rasa takut. Yu-dan pun menyerah untuk berbicara lebih jauh dengan Baekran.
"Paman, apa yang sedang kita lakukan sekarang?"
"Aku juga tidak tahu. Kalau disuruh mengupas ya harus mengupas, mau bagaimana lagi. Perkataan senior itu sama dengan titah Tuhan."
"Apa maksudmu? Mengupas apa?"
"Nanti saat kau masuk wajib militer kau juga akan tahu."
"Paman pernah masuk militer?"
"Hei, aku ini bertugas di garis depan sebagai tentara aktif sejak Perang Byeongja Horan."
Setelah mengatakan hal itu, Paman Do menutup mulutnya.
Kereta melaju cukup lama hingga melewati sebuah jembatan batu. Dari balik kabut, sebuah paviliun yang menjulang tinggi menusuk langit muncul.
Itu adalah rumah besar yang sangat megah dengan banyak lantai. Kedua dongja mengarahkan kereta dan masuk ke sebuah gerbang dengan sepasang lampion merah yang menggantung.
Ke mana pun mata memandang, pohon dedalu tumbuh dengan lebat.
Ranting-rantingnya yang menjuntai hingga menyentuh tanah, tampak seperti menundukkan kepala dan tertidur lelap. Saat dilihat dengan saksama, ada orang-orang yang terikat di pohon-pohon itu. Raja, jenderal, wanita bangsawan, dan rakyat biasa.... Semuanya sudah menjadi tulang belulang putih, entah sudah berapa lama mereka di sana.
"Apa itu?"
"Jika ditangkap oleh Monghui, kamu tidak akan bisa kembali. Dengan begitu, tubuh fisik di dunia nyata tidak akan bisa bangun dan akhirnya mati. Bahkan setelah mati, mimpi mereka akan terus diekstrak seperti itu."
Baekran menjawab dengan tenang.
Mendengar hal itu dan melihatnya lagi, beberapa pohon memancarkan cahaya redup. Sangat mengerikan.
"Kalau melakukan kesalahan, aku juga tidak akan bisa keluar?"
"Bukan begitu."
"Syukurlah kalau begitu."
"Hanya jika kamu melakukannya dengan baik barulah kamu bisa keluar."
Rubah kembali tersenyu. Yu-dan merasa bulu kuduknya merinding.
Aku mengajukan diri untuk membantu tanpa tahu apa-apa, apakah ini berarti hidupku sudah tamat?
"Melakukannya dengan baik itu maksudnya bagaimana?"
"Kamu hanya perlu menuruti perkataanku dengan baik."
Pasti begitu.
Yu-dan berusaha keras untuk menenangkan pikirannya. Tetaplah tenang. Rubah pasti akan membawaku keluar dari sini. Mungkin saja.
. . .. .... ........
