LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 80>


penerjemah: Rusel
editor: oyen
Baca di langitoren.my.id

​Menurut tradisi, konon pada hari Tanabata (Chilseok), ada adat menyajikan buah-buahan, membungkuk kepada Gadis Penenun (Jignyeo), dan berdoa agar keterampilan menjahit menjadi lebih baik.

​"Anak laki-laki setidaknya juga harus tahu cara menjahit pakaiannya sendiri."

​Sambil diseret oleh tangan Heukyo, mereka semua berdoa bersama. Setelah itu, karena konon pada hari Tanabata orang-orang harus memakan masakan berbahan dasar tepung, kami memakan mi dan miljeonbyeong (panekuk gandum). Mereka juga memakan es buah semangka. Kemudian setelah tidur siang dan bangun, hari sudah sore.

​"Kira-kira siapa yang akan datang tahun ini, ya."

​Paman Do sudah berdiri sejak awal di depan pintu dan mengintip ke luar.

​"Aku penasaran ke era mana dan ke tempat mana kita akan pergi mengikuti tamu kali ini."

​Heukyo juga meletakkan tangan di dahinya dan ikut mengintip ke luar.

​Suasana di dalam toko penuh dengan antisipasi. Untuk menyambut tamu khusus di Malam Tanabata, semua lilin ditiup mati hingga menjadi gelap, dan banyak lentera chorong digantung. Menurut si kembar, di dalam lentera yang digunakan di sini terdapat bintang. Siluman rubah katanya memungut dan mengumpulkan pecahan bintang-bintang yang jatuh dari langit di masa lalu satu per satu....... Meskipun itu terdengar seperti cerita yang mengada-ada, saat melihat cahaya lentera yang berkelap-kelip misterius itu, rasanya cerita itu mungkin saja benar.

​Di dalam toko tempat lentera chorong bersinar seperti Bima Sakti, semuanya hanya menatap ke arah pintu dengan ekspresi berdebar-debar.

​Tak lama kemudian, sebuah kehadiran terasa dari luar. Bayangan seseorang berkelebat di halaman yang gelap, lalu semakin lama semakin mendekat.

​Lonceng yang digantung di pintu bergemerincing. Terdengar suara nyaring dari si kembar yang menelan ludah karena gugup. Pintu pun terbuka.

​Tamu Malam Tanabata masuk ke dalam toko.

​Itu adalah seorang pria dengan wajah yang sangat kelelahan. Dia melangkah gontai di bawah tatapan semua orang lalu menjatuhkan dirinya di kursi. Janggut di dagunya kasar dan dasinya sudah terlepas sepenuhnya. Dia tampak seperti orang yang telah disiksa sepanjang hari.

​"Loh?"

​Para siluman menjadi riuh.

​"Bukankah ini pertama kalinya tamu Malam Tanabata yang datang adalah seorang pria? Bukankah begitu, Kak?"

​"Benar juga. Kukira yang akan datang adalah seorang gadis muda dengan mata berbinar-binar karena ingin tahu siapa kekasihnya di kehidupan masa lalu."

​"Ternyata seorang paman! Tidak disangka seorang paman!"

​"Kakak, dia bisa mendengarnya. Jangan begitu semuanya. Meskipun penampilannya seperti itu, dia pasti orang yang sangat romantis. Tidak disangka dia mencari tempat ini setelah mendengar rumor itu."

​Chaewoo mendekati tamu itu dengan senyum ramah.

​"Halo. Selamat datang. Kalau begitu, mari kita pergi menemui kekasih sejatimu di kehidupan sebelumnya?"

​"Hah?"

​Pria itu membalas bertanya dengan wajah kebingungan.

​"Kehidupan sebelumnya? Jangan-jangan aku salah masuk toko? Aku masuk ke sini cuma karena terlalu lelah dan ingin minum secangkir teh dingin."

​"Ya?"

​Mendengar jawaban yang tidak terduga itu, bahkan Chaewoo pun menjadi panik.

​"Anda datang bukan karena mendengar rumor itu?"

​"Rumor apa?"

​"Toko ini memiliki sebuah pintu yang hanya terbuka setahun sekali di malam Tanabata. Tamu yang datang pada waktu itu bisa masuk melalui pintu tersebut dan bertemu dengan kekasih yang sangat dicintainya di kehidupan sebelumnya."

​"Oh, benarkah?"

​Pria itu menggaruk pipinya.

​"Kalau memang benar, itu cerita yang sangat menakjubkan. Tapi aku tidak butuh itu."

​"Tidak butuh bagaimana maksud Anda?"

​"Aku penganut selibat (tidak mau menikah). Seumur hidupku aku belum pernah sekalipun jatuh cinta pada siapa pun. Bahkan wanita-wanita yang terpaksa kutemui karena desakan orang tuaku, semuanya berakhir tidak baik. Memangnya seseorang harus tertarik pada percintaan? Aku lebih nyaman sendirian."

​Heukyo melirik tajam ke arah Yu-dan.

​"Manusia yang persis sepertimu ternyata datang. Kita ketiban sial. Ketiban sial."

​"Masih terlalu awal untuk merasa kecewa."

​Chaesol dengan cepat mendekati tamu itu.

​"Paman ini sungguh menyedihkan. Hatinya sudah benar-benar membatu. Tapi apa Paman tahu? Orang seperti inilah yang paling cocok menjadi tamu Malam Tanabata."

​"Benar. Penyangkalan yang kuat berarti penegasan yang kuat. Paman bilang Paman tidak butuh hal semacam cinta, tapi justru di dalam hati, Paman mungkin sangat menginginkannya. Tidakkah Paman penasaran kenapa hati Paman bisa mengeras seperti batu begitu?"

​"Jawabannya pasti ada di kehidupan sebelumnya. Mari kita pergi bersama menyeberangi Bima Sakti."

​Si kembar berusaha keras membujuk dengan senyuman yang imut dan penuh pesona. Namun pria ini adalah lawan yang lebih tangguh dari dugaan.

​"Tidak, sudahlah. Besok aku harus berangkat kerja pagii."

​Kedua siluman ginseng anak-anak itu saling bertukar pandang. Di dalamnya, ada satu emosi yang terekspos dengan sangat kuat.

​Kita tidak bisa menyia-nyiakan Malam Tanabata begitu saja.

​Setelah sepakat, keduanya langsung melompat dan merebut tas kerja yang baru saja diletakkan pria itu di sebelahnya.

​"Eh? Apa-apaan! Sini berikan!"

​Si kembar berlari tanpa arah.

​"Tidak boleh! Di dalamnya ada materi presentasiku!"

​Pria itu berteriak dan mengejarnya. Paman Do, Heukyo, Baekran, maupun Yu-dan juga segera menyusul di belakangnya. Si kembar berlari menyusuri lorong panjang yang menuju ke halaman belakang. Mereka melewati banyak kamar dan akhirnya berhenti di depan salah satu kamar.

​Pintu geser yang diukir dengan rasi bintang kuno itu terbuka lebar. Di dalamnya adalah kegelapan biru pekat. Bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya bersinar cemerlang.

​Pria itu berhenti karena terkejut.

​"Benar-benar ada Bima Sakti?"

​"Bagaimana? Kami tidak berbohong, kan? Paman tidak akan bisa melihat pemandangan seperti ini di tempat lain."

​"Paman tinggal menyeberang ke sini. Jika Paman memiliki kekasih yang sangat Paman cintai di kehidupan sebelumnya, Paman bisa menemuinya di seberang Bima Sakti ini."

​Si kembar berkata dengan napas tersengal-sengal.

​Pria itu tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya menatapnya. Cahaya bintang memantul berkelap-kelip di matanya yang membesar. Meskipun tadi dia menolaknya dengan mengatakan dia tidak butuh, setelah melihat Bima Sakti ini, hatinya tampaknya goyah.

​"Apakah itu benar? Padahal selama ini aku belum pernah merasa berdebar saat melihat wanita mana pun. Apakah di kehidupanku sebelumnya aku tidak begitu? Apakah benar-benar ada seseorang yang sangat kucintai dengan tulus?"

​Seolah terhipnotis, dia melangkah masuk.

​Sudah berhasil, kah? Mengikuti para siluman yang dengan bersemangat mengikuti tamu itu, Yu-dan pun ikut masuk ke dalam Bima Sakti.

​Sungai bintang yang berkelap-kelip. Bahkan saat menyeberanginya secara langsung dia tidak bisa mempercayainya. Bintang-bintang yang bersinar putih, biru, dan kadang-kadang merah, serta nebula yang tampak seperti kabut samar, berbaur menjadi satu dan membentang tanpa akhir.

​Apakah hawa sejuk yang menyentuh lengan ini adalah angin kosmik? Para siluman Banwoldang pasti melihat pemandangan ajaib ini setahun sekali, namun mereka tetap saja melihat ke sana seolah itu hal yang menakjubkan.

​Tamu itu pun tak perlu ditanya lagi.

​"Wah, sayang sekali aku tidak bisa memotretnya dengan kamera."

​Raut kelelahan di wajahnya telah hilang entah sejak kapan. Matanya bersinar. Momen ketika keseharian berubah menjadi ketidakwajaran, entah dalam arti baik maupun buruk, memang mendebarkan. Yu-dan mencoba menjulurkan tangannya. Punggung tangannya berkelap-kelip terkena cahaya bintang.

​"Tapi ini bukan sungguhan, kan? Kalau mau benar-benar menyeberang di antara bintang-bintang, kita pasti harus menjadi sebesar raksasa."

​"Kalau terus berpikir seperti itu di sini, hanya kamu yang akan diusir ke sana sendirian."

​Baekran menunjuk ke arah kegelapan alam semesta di seberang sana. Kalau dipikir-pikir, saat masih kecil dia sangat benci pada lubang hitam (black hole) yang muncul di program-program luar angkasa. Yu-dan langsung menutup mulutnya.

​Bima Sakti itu membentang tanpa batas, namun pada akhirnya ujungnya terlihat di depan. Kegelapan yang bersentuhan dengan ujung gugusan bintang yang bersinar terang itu.

​Sebelum tiba di sana, siluman rubah itu memberikan pengumuman singkat.

​"Aku mengatakannya setiap tahun, tapi aku akan memberitahukannya sekali lagi. Tempat ini adalah Hwan (ilusi). Ini adalah kejadian yang sudah terjadi di masa lalu. Di dunia ini, kita hanyalah pengamat. Sekalipun kita mencampuri dan sepertinya ada yang berubah, masa lalu tidak akan pernah bisa diubah."

​"Aku mengerti."

​Yu-dan menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju ujung Bima Sakti.

​Di sana terdapat sebuah kolam. Cahaya bulan terpantul di atas air yang bagaikan cermin, dan cahaya kunang-kunang yang terbang disekitar juga ikut memantul. Pohon-pohon raksasa mengelilingi tempat itu dengan tenang. Saat dia mendongak ke langit, Bima Sakti yang menyilaukan tampak jelas di antara bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

​Paman Do dan Heukyo melihat sekeliling.

​"Di mana ini?"

​"Kira-kira ini zaman apa?"

​Pada saat itu, sebuah bayangan kecil melompat keluar dari dalam kegelapan.

​"Sayang?"

​Yu-dan terkejut. Benda itu bukanlah manusia. Melainkan seekor kelinci. Terlebih lagi, itu adalah siluman kelinci. Bulunya bersinar dengan warna perak dan kedua matanya berwarna biru. Kelinci perak itu mengendus ke arahnya dengan wajah penuh kewaspadaan, lalu tiba-tiba terlihat sangat gembira.

​"Sayang, ternyata kamu di situ!"

​Semuanya menoleh ke belakang. Di tempat di mana pegawai kantoran itu berdiri beberapa saat yang lalu, kini berdiri seekor siluman kelinci yang sama persis. Yu-dan sekali lagi terkejut.

​"Paman ini, ternyata di masa lalu dia adalah seekor kelinci!"

​"Itu juga bukan kelinci biasa. Ini adalah Kelinci Bulan (Daltokki)."

​Baekran membalas. Jika dilihat, siluman rubah juga memasang wajah terkejut. Pupil matanya membesar.

​"Apa itu Kelinci Bulan?"

​"Itu adalah jenis siluman yang sangat langka. Ada legenda yang mengatakan bahwa mereka adalah kelinci yang dipelihara oleh Hang-a (Chang'e) di bulan."

​"Jika Hang-a yang dimaksud, apakah itu Hang-a yang ada di legenda itu? Istri dari Ye (Hou Yi)?"

​Mendengar pertanyaan Paman Do, Baekran menganggukkan kepalanya.

​"Benar. Di masa lalu, ketika sepuluh matahari terbit di langit dan memanaskan seluruh dunia, seorang pahlawan bernama Ye memanah sembilan di antaranya. Hang-a adalah istrinya, dan dia mencuri ramuan keabadian milik Ibu Suri dari Barat (Seowangmo) yang dimiliki Ye lalu melarikan diri ke bulan. Orang-orang percaya bahwa Kelinci Bulan, kelinci peliharaan Hang-a, juga ikut memakan ramuan keabadian itu. Mereka meyakini di dalam tubuh kelinci-kelinci itu terdapat Naedan (inti dalam) yang mengandung kekuatan hidup abadi, yang ibaratnya seperti mutiara rubah jika pada siluman rubah, sehingga mereka diburu dan dibunuh tanpa ampun. Itulah sebabnya Kelinci Bulan menghilang satu per satu."

​"Ternyata Anda mengetahuinya dengan sangat akurat."

​Kelinci betina itu merasa kagum.

​"Sayang. Di mana kamu bertemu dengan rubah yang begitu pintar ini dan datang bersamanya? Kamu hebat sekali."

​Kelinci betina itu menoleh ke arah suaminya dan tersenyum cerah. Tamu Malam Tanabata, alias si kelinci jantan, menatapnya dengan tatapan kosong.

​"Astaga... Aku baru mengingatnya sekarang. Kenapa aku melupakanmu selama ini?"

​"Selama ini bagaimana maksudmu? Belum lama sejak kamu pergi karena ingin melihat-lihat untuk terakhir kalinya sebelum kita meninggalkan tempat ini."

​"Bukan. Aku benar-benar sudah melupakanmu sepenuhnya untuk waktu yang sangat lama. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ini tidak masuk akal."

​Suara kelinci jantan itu bergetar. Dia sepertinya akan menangis kapan saja. Kelinci betina itu menatap suaminya dengan cemas.

​"Ada apa denganmu? Padahal tadi kamu sok kuat. Kamu juga pasti merasa sangat cemas dan tidak tahan karena kita tiba-tiba tertimpa musibah seperti ini, kan? Nah, lihatlah langit itu. Sama seperti hari Tanabata saat kita pertama kali bertemu, Bima Sakti bersinar sangat jernih dan terang. Pada hari seperti ini, tidak akan terjadi hal buruk. Kita pasti bisa pergi dengan selamat. Jangan khawatir, Sayang."

​Dia menggenggam kaki depan suaminya dengan kaki depannya yang lembut lalu menepuknya. Kemudian dia menyadari tatapan Yu-dan dan para siluman, lalu tersenyum malu-malu.

​"Kami berdua bertemu di masa kecil, menjadi pasangan, dan hidup damai di tepi kolam ini. Harapan kami hanyalah menua bersama di masa depan. Namun, belum lama ini keadaan di dalam benteng menjadi sangat ribut, lalu muncullah seorang pria yang disebut Pendeta Tao. Karena dia tahu kami berdua bersembunyi di sini, dia sangat bernafsu ingin menangkap kami. Tidak peduli seberapa sering kami mengatakan kami tidak memiliki inti keabadian, dia tidak mempercayainya."

​Baekran mengangguk mengerti.

​"Jadi pada akhirnya kalian memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal ini dan pergi."

​"Ya. Rubah-nim, Anda juga harus berhati-hati. Pendeta Tao menangkap siluman apa saja dan menjualnya. Jika dia melihat kulit bulu emas Anda, matanya pasti akan memerah dan dia akan langsung menerkam. Ular-nim juga harus berhati-hati. Paman Dokkaebi, Anak-anak Ginseng, dan juga, juga....."

​Tatapan kelinci betina itu berhenti pada Yu-dan. Dia menaikkan kedua telinganya dan berpikir lama sekali.

​"Maaf, tetapi Anda siluman apa?"

​"Aku.... anak SMA."

​"Oh, begitu rupanya. Bagaimanapun juga, Saudara Anak SMA, Anda juga harus berhati-hati. Pendeta Tao dan komplotannya tersebar di sekitar sini."

​Kelinci betina itu memutar tubuhnya.

​Saat dia menepuk-nepuk tanah dengan kaki belakangnya, cahaya perak menyebar seperti jaring ke segala arah. Dia melihat ke sana-kemari, mengendus-endus bau, dan memeriksa dengan sangat hati-hati.

​Kelinci jantan itu menatap istrinya.

​"Kenyataan aku bereinkarnasi, itu berarti kita pada akhirnya mati, kan?"

​"Ya. Kelinci bulan sudah punah sejak lama."

​Begitu kata-kata Baekran selesai, tanah di bawah mereka tiba-tiba bergemuruh. Debu tanah mengepul tebal dan sebuah jebakan raksasa yang terbuat dari besi melesat keluar. Semuanya berteriak kaget.

​"Sayang! Kamu tidak apa-apa?"

​"Sayang!"

​Kelinci betina itu menjerit. Saat debu mereda, terlihat sosoknya yang terperangkap di dalam jebakan besi itu.

​"Bagaimana mungkin!"

​Kelinci jantan itu berlari dengan panik.

​"Ini tidak masuk akal."

​"Bagaimana bisa baru bertemu sudah jadi begini."

​Si kembar bergumam dengan wajah terpana.

​"Untuk sekarang, mari kita ke sana juga!"

​Mengikuti Heukyo, semuanya mendekati jebakan tempat kelinci betina itu terkurung. Itu adalah jebakan yang aneh. Jebakan itu dibuat menyatu utuh tanpa pintu masuk maupun kunci, dan di jeruji besinya dipenuhi dengan tulisan yang terlihat seperti mantra jimat. 

​"Ini ulah Pendeta Tao!"

​Karena panik, kelinci betina menabrak jebakan tersebut dengan seluruh tubuhnya. Setiap kali dia melakukannya, percikan api menyala.

​"Sayang, diamlah! Aku akan mengeluarkanmu!"

​Kelinci jantan mencoba mencengkeram jeruji dengan kedua kaki depannya dan membukanya. Namun, dengan kekuatan kelinci sama sekali mustahil. Tidak peduli sekeras apa pun dia mengertakkan gigi dan mengerahkan tenaga, jeruji itu tidak bergeming.

​"Sepertinya kita butuh alat."

​Yu-dan melihat sekeliling. Karena dia melihat batang pohon yang tebal, dia segera mengambilnya dan memasukkannya di antara jeruji. Dia mencoba membantu kelinci jantan itu merenggangkan jeruji, tapi tetap saja tidak bergeming sedikit pun. Hanya tenaganya saja yang terkuras habis.

​"Jebakan kelinci macam apa yang kuat begini?"

​"Minggirlah."

​Baekran maju dan mengayunkan tombaknya. Saat menghantam jeruji besi dengan suara Trang!, percikan api yang sangat besar memercik layaknya sedang mengelas. Namun, jebakan itu masih tetap utuh tanpa goresan. Yu-dan merasa tidak percaya.

​"Tidak masuk akal! Hanya untuk sebuah jebakan kelinci!"

​"Di dunia ini memang tidak bisa berbuat apa-apa. Jika di masa lalu jebakan ini hancur, maka kita bisa menghancurkannya, tapi jika tidak hancur, bukan hanya Cheonho, siapa pun tidak akan bisa menghancurkannya dengan cara apa pun."

​Baekran mengayunkan tombaknya lagi. Percikan api yang sama kembali muncul.

​Pada saat itu. Dari arah seberang, terdengar suara keributan. Semuanya saling bertatapan.



. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.