LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 4

<Chapter 79>

Kisah ke-dua puluh

<Malam Tanabata>

penerjemah: Rusel
editor: oyen
Baca di langitoren.my.id

​Bintang Altair yang jauh di sana.

Bersinar cemerlang seperti Bintang Vega. 

Putih lembut tangan yang terangkat,

Klak, klak menenun kain.

​Sepanjang hari tiada henti tuk menenun. 

Bagai air mata yang mengalir deras bak hujan. 

Sedalam Bima Sakti yang jernih,

Jarak antara keduanya tak seberapa jauh.

Hanya bisa saling menatap tanpa henti,

Dibatasi oleh riak air sungai. 

​『Wen Xuan (Kumpulan Sastra)』



●◉◎◈◎◉●


"......Di tengah cuaca nasional yang sebagian besar cerah, hawa panas terik di siang hari telah mencapai puncaknya, dan dengan suhu melebihi empat puluh derajat, jumlah korban jiwa terus berjatuhan......" 

​Ramalan cuaca tidak pernah meleset. Di bawah terik matahari yang menyengat. Yu-dan berdiri di tepi jalan memandang ke depan. Mengarah ke ​jalan Tol tempat mobil-mobil melaju dengan kecepatan penuh.

Di cuaca yang panas ini, kobaran api merah menyala membumbung tinggi. Di tengah kepulan asap hitam pekat, orang-orang yang terbakar hebat berguling-guling di sekitar sebuah mobil penumpang yang terbalik. Setiap kali mobil lain melintas dan menimbulkan embusan angin, wujud mereka memudar, tapi tidak menghilang. 

​Yu-dan terus menatap mereka. Pada suatu saat, arus kendaraan sedikit mereda. 
​Sambil berpikir bahwa ini adalah tindakan gila, dia melompati pagar besi dan turun ke jalan. Dia menangkap salah satu sosok yang berguling-guling dilalap api. Rasanya sangat panas. Rasa sakit yang mengerikan akibat luka bakar, di mana seluruh kulit di tubuh mengerut karena kobaran api ikut menjalar kepadanya dan membuatnya bergidik ngeri. 

​Ini bukan sesuatu yang kualami. Ini hanyalah ingatan yang terukir pada jiwa orang lain. Sambil bergumam begitu, dia mengayunkan tanduknya, lalu angin berembus kencang dan menyedot kobaran api itu. 

​"Ah, berhasil." 

​Ternyata memang berhasil. Saat kobaran api dan jelaga menghilang, jiwa itu mendapatkan kembali wujud aslinya. Itu adalah seorang wanita paruh baya yang mengenakan gaun bermotif pohon palem. 

Yu-dan segera menarik jiwa-jiwa yang lain. Satu adalah anak laki-laki SD, dan yang lainnya adalah anak yang berwajah sama persis. Mereka kembar. Saat rasa sakit yang membakar jiwa mereka menghilang, mereka tampak kebingungan. 

​"Ayah?" 

​Di seberang mobil yang telah menjadi abu, masih ada satu sosok lagi yang berguling-guling dilalap api. Karena berada di tengah jalan, dia tidak bisa langsung melompat masuk begitu saja. Yu-dan terus mengawasinya, lalu saat kendaraan kembali sepi sejenak, dia segera naik ke atas pagar besi. Namun, karena sebuah truk yang melaju dari kejauhan membunyikan klakson dengan keras, dia langsung turun. Orang-orang pasti akan menganggapnya gila. 

​Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia berhasil menangkap dan menarik jiwa terakhir yang tersisa. Saat dia mengayunkan tanduknya, kobaran api dalam sekejap tersedot masuk, dan seorang pria paruh baya bercelana pendek langsung melompat bangkit.  

​"Ayah!"  

​Keluarga itu sejenak bersukacita karena bisa berkumpul kembali—

​"Tapi, bukankah kita mengalami kecelakaan?"

​"Benar juga. Mobil kita terbakar."  

​"Bagaimana kita bisa baik-baik saja seperti ini?"  

​Merasa aneh, mereka menunduk menatap tubuh mereka bersamaan. Dari balik tubuh mereka yang setengah transparan, barulah mereka menyadari apa yang telah terjadi dan menjadi sangat terpukul. 

​"Padahal kita sedang dalam perjalanan liburan....."

​"Ya ampun. Apa yang harus kita lakukan."  

​Keluarga itu serentak menatap ke arahnya. Itu adalah tatapan yang meminta pertolongan. Yu-dan dengan ragu membuka mulutnya.

​"Ehm.. Aku juga kurang tahu pasti, tetapi ada tempat yang bisa membantu dalam situasi seperti ini. Aku bisa mengantar kalian ke sana."  

​"Ah, terima kasih. Untuk semuanya."  

​"Bukan apa-apa. Tidak masalah."  

​Dia melambaikan tangannya. Dia merasa tidak berhak menerima ucapan terima kasih seperti itu. Dia hanya ingin mencoba kekuatan tanduk itu.  

​Yu-dan berjalan ke arah sepeda yang dia parkir di semak-semak pinggir jalan. 
​Ngomong-ngomong, bagaimana cara membawa mereka?  

​Dia membayangkan adegan membonceng semuanya di atas sepeda. Tentu saja itu tidak masuk akal.  

​Pada akhirnya, dia berjalan di depan sambil menuntun sepedanya. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan keluarga itu mengikutinya tanpa tertinggal.  

​Saat tiba di Banwoldang, dia sudah kelelahan. Seluruh cairan di tubuhnya rasanya telah mengalir keluar sebagai keringat hingga dia hampir dehidrasi.  

​Saat lonceng di pintu bergemerincing, Paman Do langsung berdiri. Bahkan sebelum Yu-dan sempat berbicara, dia sudah menyadarinya.  

​"Kau membawa hantu lagi, heh."  

​Tanpa sanggup menjawab, Yu-dan langsung jatuh terduduk.  

​"Astaga, astaga. Kecelakaan lalu lintas memang sangat menakutkan. Aku tak tahu harus memberikan penghiburan seperti apa. Pertama-tama, silakan ke sebelah sini. Setelah hati kalian sedikit lebih tenang, aku akan membantu kalian sekeluarga bergandengan tangan untuk pergi ke tempat yang baik."  

​Paman Do membawa jiwa-jiwa itu dan menghilang. Chaewoo dengan cepat membawakan air es, dan Chaesol menyodorkan handuk yang telah didinginkan di air dingin. Setelah menghabiskan hampir satu teko air, barulah dia kembali sadar. Si kembar siluman ginseng menatapnya dengan wajah kasihan. 

​"Melakukan perbuatan baik memang bagus, tapi wajahmu benar-benar merah seperti direbus."  

​"Sebenarnya ada kejadian apa dengan hantu-hantu itu?"  

​Yu-dan menggeleng-gelengkan kepalanya.  

​"Hantu-hantunya bukan masalah. Aku berjalan sambil menuntun sepeda selama lebih dari tiga jam. Aku tidak bisa membonceng keluarga itu, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan sepedaku di sana." 

​Si kembar saling berpandangan.  

​"Ehm, waktu kami jalan-jalan di luar, kami lihat ada tempat parkir sepeda. Bukankah kau bisa menitipkannya di sana saja?"  

​"Ah...."  

​Yu-dan kehilangan kata-kata. 
​Kalau dipikir-pikir, dia sama sekali tidak kepikiran hal itu. Sepedanya tidak boleh ditinggalkan. Tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan hantu-hantu itu. Karena kepalanya hanya dipenuhi dua pemikiran itu, dia dengan bodohnya terus menuntun sepedanya sampai kemari. Sifat aslinya memang begitu, jika sudah terpaku pada satu hal, dia tidak bisa memikirkan hal lain.

​Karena merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, dia memanggil tanduknya.  

​"Kalau begitu seharusnya kau memberitahuku! Sudah berkali-kali aku bertanya apakah ada cara yang bagus, tapi kau tidak menjawab!"  

​"Oh, sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab."  

​"Aku berpikir begitu, tetapi sepertinya dia tidak."  

​"Kalian bahkan sudah berada di tahap mempersonifikasikannya. Eh, tapi wajahmu semakin merah lho? Kamu bisa kepanasan nanti. Makanlah semangka dingin ini untuk sedikit mendinginkan badan sebelum pulang."

​Si kembar membawa Yu-dan ke halaman belakang. Di halaman yang dikelilingi bayangan pohon lebat itu, entah kenapa jemuran penuh dengan pakaian. Pakaian-pakaian dari berbagai zaman, jubah, topi, gat, dan segala macam barang lainnya yang pernah dikenakan oleh para siluman di tempat ini tergantung di tali jemuran dan bergoyang-goyang pelan tertiup angin. 
​Itu adalah pemandangan yang menenangkan.  

​Heukyo sedang duduk di beranda sambil memandanginya dengan perasaan puas.  

​Yu-dan bertanya. 
​"Apakah hari ini adalah hari mencuci baju yang datang seratus tahun sekali?"

​"Ini bukan dicuci. Hanya diangin-anginkan. Jika menjemur pakaian di hari Tanabata (Chilseok), pakaian itu tidak akan dimakan ngengat atau rusak sepanjang tahun."  

​"Tanabata? Hari ketujuh bulan ketujuh?"  

​"Ya. Hari ini adalah tanggal tujuh bulan tujuh dalam kalender lunar. Hari di mana Gembala Sapi (Gyeonu) dan Gadis Pertenun (Jignyeo) bertemu setahun sekali dengan menyeberangi Bima Sakti melewati jembatan burung gagak dan burung murai (Ojakgyo)."

​"Oh, benar. Dulu katanya ada yang namanya Bima Sakti, kan? Membayangkan bintang-bintang di langit malam mengalir seperti sungai, aku sungguh tidak bisa membayangkannya."

​Mendengar perkataan Yu-dan, mata si kembar membulat sangat lebar. Kedua anak itu tiba-tiba mencengkeram Yu-dan, lalu menarik dan mendorongnya hingga membawanya ke lantai dua. Kemudian mereka membuka pintu ruang baca dan berteriak heboh.  

​"Cheonho-nim! Cheonho-nim! Kami baru saja mendengar cerita yang sangat mengejutkan!"  

​"Jika itu cerita tentang seseorang yang menuntun sepeda bersama keluarga roh dan berjalan kaki berjam-jam lamanya, aku sudah mendengarnya."  

​"Bukan itu! Katanya Yu-dan seumur hidup belum pernah melihat Bima Sakti sekalipun!"  

​"Bahkan dia mengira Bima Sakti mengalir seperti air sungai!"  

​Berbeda dengan si kembar yang bersemangat, perbedaan suhu di seberang sana sangatlah besar. Baekran masih bermalas-malasan di ruang baca, dan menjawab dengan malas seolah semua hal terasa merepotkan.  

​"Bisa saja begitu. Karena polusi udara dan polusi cahaya, sekarang sangat sulit untuk melihat Bima Sakti kecuali dari tempat-tempat seperti Gunung Jirisan."  

​"Tapi bukankah masalah ini sangat serius? 'Dulu saat aku masih kecil, jika berbaring di halaman rumah di pedesaan, aku bisa melihat Bima Sakti', bahkan manusia yang bernostalgia seperti itu pun kini sudah mulai tiada, dan generasi manusia yang seumur hidup belum pernah melihat Bima Sakti mulai terlahir."  

​"Aku merasa tak biasa menyadari hal itu terjadi tanpa terasa. Di satu sisi, ini juga menyedihkan. Hari ini pun setelah berkeringat melakukan perbuatan baik hingga wajahnya memerah seperti direbus, bukankah setidaknya kita harus memperlihatkan Bima Sakti kepadanya sekali saja?"

​"Haruskah begitu?"  

​"Tentu saja!"  

​"Harus!"  

​Si kembar bersikeras. Baekran pun dengan enggan bangkit.  

​"Ah, jauh sekali..."

​"Tunggu sebentar! Sebelum berangkat ke Gunung Jirisan, bukankah kita harus mengemas sedikit barang bawaan?"

​"Bicara apa kamu. Apa kamu pikir aku akan menggunakan cara terbelakang semacam itu hanya untuk memperlihatkan Bima Sakti?" 

​Baekran pergi ke rak buku, membuka salah satu dari sekian banyak laci di bagian bawah, dan mengeluarkan sebuah kotak besar berlapis pernis. Saat tutupnya dibuka, kotak itu terbuka menjadi beberapa tingkat, dan di setiap sekatnya dipenuhi dengan botol labu. Dia memilih salah satu botol labu, meletakkannya di lantai, lalu tiba-tiba membalikkannya hingga tumpah. 

​Pada saat itu, ruang baca menjadi gelap. Dari langit-langit, cahaya menyilaukan turun. Yu-dan mendongak ke atas dan terkejut.  

​Tempat itu kini bukan lagi langit-langit. Melainkan langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Di tengahnya, sekumpulan bintang membentang panjang. Matanya membulat takjub melihat sungai bintang yang bersinar membelah langit malam, persis seperti yang dia dengar dalam legenda Gembala Sapi dan Gadis Pertenun.  

​"Ternyata seperti ini wujud Bima Sakti." 

​"Ya. Ini adalah Bima Sakti asli yang biasa dilihat oleh orang-orang zaman dahulu." 

​Mendengar perkataan siluman rubah, dia menunduk ke bawah dan ternyata lantai pun telah menghilang. Di tengah kegelapan, hanya terlihat beberapa rumah beratap jerami yang diterangi cahaya lampu.

​"Lalu tempat ini..."  

​"Untuk apa menanyakan hal itu? Di bawah langit zaman dahulu, tentu saja ada tanah zaman dahulu."  

​Tiba-tiba dia merasa pusing. Kalau begitu aku sekarang ada di mana?  

​Saat dia terhuyung dan menyentuh lantai, langit malam, bintang-bintang, Bima Sakti, maupun rumah-rumah beratap jerami itu pun menghilang seketika. Dia kembali ke ruang baca milik siluman rubah itu.  

​"Nah, sudah selesai. Seperti inilah Bima Sakti itu."  

​Yu-dan menatap Baekran dengan tatapan kosong. Kesadarannya kembali sedikit lebih lambat dari tubuhnya.  

​"Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, lagu 'Bima Sakti di Langit Biru' (lagu anak-anak Korea) itu tidak masuk akal. Bukankah seharusnya diubah menjadi 'Bima Sakti di Langit Hitam'?"  

​"Eh! Benar juga! Secara logika itu yang benar!"  

​"Tetapi nuansa lagunya jadi sangat berbeda. Terdengar suram."  

​"Itu karena hati Kakak yang suram."  

​Si kembar terus mengoceh dengan riang, sementara Baekran memasukkan kembali botol labu itu. Melihatnya, Yu-dan teringat pada sesuatu.  

​"Tunggu sebentar. Ngomong-ngomong, tadi yang kamu bilang jauh itu maksudnya jarak ke laci itu?"  

​"Baru saja dibilang mau diperlihatkan Bima Sakti, kamu langsung berniat mengepak barang bawaan. Tidakkah kamu merasa ada satu proses berpikir yang terlewatkan? Apa kamu berencana untuk mengikutiku dengan patuh tanpa perlawanan apa pun jika aku benar-benar mengajak pergi ke Gunung Jirisan?"

​"Ayolah, Cheonho-nim. Ini kan hari libur sekolah. Siswa peringkat pertama di sekolah juga pasti sesekali pergi liburan musim panas, kan? Dia tidak punya siapa-siapa yang bisa mengajaknya pergi, dia sangat kasihan."  

​"Benar kata Kakak. Setidaknya untuk satu hari ini, bukankah Yu-dan juga harus melupakan pelajaran dan bersenang-senang?"  

​"Tidak. Ini justru adalah situasi di mana setidaknya untuk satu hari ini dia harus mengingat pelajarannya."  

​"Justru itu."  

​Chaesol meninggikan suaranya untuk menekan perkataan Baekran.  

​"Mumpung kau sudah kemari, maukah kau menunggu sampai malam ini dan mencoba menyeberangi Bima Sakti itu secara langsung?"  

​Yu-dan membalas bertanya karena mengira dia salah dengar. 
​"Tadi kau bilang menyeberanginya secara langsung?"  

​"Iya! Di malam Tanabata (Chilseok), hal yang sangat menarik akan terjadi. Bagaimana, Cheonho-nim? Mari ajak Yu-dan ikut juga. Waktu itu saat kita menyuruhnya duduk semalaman di toko, segala macam tamu aneh berdatangan, kan. Kali ini mungkin akan begitu juga."  

​"Sebenarnya kalian sedang membicarakan apa sih?"  

​"Biar aku yang menjelaskannya. Seperti yang kamu tahu, ada banyak ruangan di toko kami. Di antara semua itu, ada satu ruangan yang pintunya hanya terbuka setahun sekali, tepatnya di Malam Tanabata (Chilseokya). Tamu yang datang pada waktu itu bisa masuk melalui pintu tersebut dan bertemu dengan kekasih yang sangat dicintainya di kehidupan sebelumnya (jeonsaeng)."  

​Mendengar perkataan Chaewoo, Yu-dan mengerjap-ngerjapkan matanya.  

​"Itu cerita yang aneh. Terdengar seperti kebohongan." 

​"Kalau mau tahu itu bohong atau bukan, kamu tinggal pergi membuktikannya sendiri."  

​"Hmm. Memangnya apa gunanya mengintip kehidupan masa lalu orang lain? Apalagi kekasih yang sangat dicintai. Membuat bulu kuduk merinding. Kenapa kalian semua begitu menaruh harapan dan impian besar pada dunia manusia? Bagiku, kalau sedang mengganti saluran TV lalu muncul drama romantis, rasanya seperti mataku baru saja dinodai."  

​Baekran melemparkan tatapan iba yang sudah menjadi kebiasaannya.  

​"Lihatlah betapa gersang hatinya itu. Kepekaan emosionalnya persis seperti tulang ekor."  

​"Tulang ekor?"  

​"Maksudnya sudah sepenuhnya mengalami kemunduran. Tidakkah menakjubkan jika satu bagian dari kepribadian manusia berubah menjadi seperti organ sisa? Kapan-kapan mari kita tentukan harinya, kita pancing dengan konsol game lalu kita tangkap. Orang-orang di lembaga penelitian pasti akan sangat senang jika kita menyerahkannya."  

​"Hmph. Kurasa Cheonho-nim tidak berhak berkata begitu. Meskipun kadang-kadang Cheonho-nim menonton drama bersama kami, itu cuma demi bersenang-senang menebak siapa yang akan dipasangkan dengan siapa, layaknya melihat kandang hamster."  

​"Lihat itu! Ada laporan masuk! Yang benar-benar gersang hatinya itu siapa!"  

​"Benar sekali. Jika dibandingkan dengan Cheonho-nim, Kakak Yu-dan kita adalah orang yang kepekaan emosionalnya sangat berkembang, lho. Mumpung sudah begini, mari kita pergi bersama-sama. Ya?"  

​"Tunggu sebentar. Kalau dipikir-pikir lagi, mulai dari sengaja membawaku ke halaman belakang untuk menunjukkan pakaian di tali jemuran sampai percakapan kita sekarang, bukankah semuanya sudah diperhitungkan? Kenapa kalian bekerja menjaga toko di sini? Jika kalian memulai bisnis Multi Level Marketing (MLM), kalian pasti akan sukses besar." 

​"Mengakui kemampuan kami, itu berarti, kamu mau ikut pergi bersama kami, kan?" 

​Mendengar perkataan Chaesol, Yu-dan tidak bisa langsung menjawabnya dengan cepat.

Sebenarnya sejak hari pertama liburan sekolah ini, dia memang ingin pergi meninggalkan rumah, ke mana pun tujuannya. Meskipun perjalanan menyeberangi Bima Sakti ini skalanya terlalu besar. 

​Masalahnya ada pada pemilik toko ini. Yu-dan melirik ke arah Baekran diam-diam.   

​"Entahlah. Kalau aku ikut lalu tanpa sengaja membuat kekacauan? Dia pasti akan mengomeliku."  

​Entah dia mendengar perkataan itu atau tidak, Baekran hanya melihat-lihat sampul buku di atas mejanya. Lalu dia menemukan bagian jahitan buku yang terlepas, dan dia membelainya dengan tangan seolah itu hal yang sangat menarik.  

​Yu-dan memutar otaknya dengan cepat. Rasanya ekspresi emosi siluman rubah sangat tertahan, sedalam Palung Mariana yang konon paling dalam di bumi, sehingga dalam masalah semacam ini, kalimat 'Tentu saja tidak boleh' berarti 'Entahlah', 'Tidak boleh' berarti 'Coba bujuk aku lagi', dan jika dia tidak mengatakan apa-apa, maka artinya 'Boleh juga'. Begitulah kira-kira cara untuk menafsirkannya. Singkatnya, kebisuan itu bisa dianggap sebagai persetujuan.  

​Si kembar juga melirik Baekran sekilas lalu buru-buru menimpali.  

​"Kekacauan macam apa? Kita kan cuma masuk ke salah satu ruangan di dalam toko."   

​"Cuma sebentar mengintip kehidupan masa lalu orang lain. Apa pun yang kita lakukan, kejadian di masa lalu yang sudah telanjur terjadi tidak akan berubah. Biarpun kamu berniat membuat kekacauan, kamu tetap tidak akan bisa melakukannya."  

​Karena mereka sampai berkata begitu, apa lagi yang bisa dikatakannya.  

​"Kalau begitu, ya sudah."   

​Yu-dan duduk sambil berpura-pura menyerah seolah dia tidak punya pilihan lain. 

 


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.