Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 57>
Awalnya dia enggan menjawab, tetapi ketika melihat nomornya, empat digit terakhirnya terasa familier. Bukankah itu nomor Mia? Hati Yu-dan berdegup kencang, kemudian mengangkat gagang telepon itu.
"Kak?"
"Kamu ini kenapa, kenapa ponselnya tidak diangkat? Kamu hilangkan lagi? Hah?" Terdengar suara cadel akibat mabuk.
"Bukan. Bukan hilang..."
Dia menatap tas yang diletakkannya di beranda. Terakhir kali dia mengecek ponsel adalah kemarin siang. Sebelum dia merebahkan diri di Banwoldang.
"Aku tidak tahu kalau ada telepon masuk. Kenapa menelepon?"
"Kamu lagi di mana sekarang?"
"Di mana lagi, di rumah."
"Benarkah? Kamu tidak mampir ke rumah kami?"
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Barusan ada yang menggedor pintu. Ditanya siapa dia diam saja dan terus menggedor seolah mau mendobraknya. Ibu sedang ke kuil, Soohyun menginap di sekolah, dan aku sendirian. Karena terlalu mencurigakan, aku pura-pura tidak ada di rumah. Setelah agak lama, sepertinya dia pergi, lalu saat aku mengintip keluar, punggungnya mirip sekali denganmu."
Bulu kuduknya merinding. Yu-dan hanya bisa mendengarkan ocehan Mia tanpa berani bersuara. Kenapa makhluk itu pergi ke rumah bibinya? Mau apa dia ke sana?
"Syukurlah kalau bukan kamu. Baguslah tidak aku bukakan."
"Iya, baguslah. Kalau ada orang aneh, jangan pernah dibuka."
"Tentu saja. Kan selalu kubilang, yang lebih menakutkan dari hantu itu manusia. Tapi kamu tidak sedang ada masalah, kan? Suaramu kenapa begitu?"
"Cuma kena flu."
"Minta buatkan obat saja sama si kembar sana. Obat mereka manjur, lho."
Setelah bicara dengan suara penuh kantuk, dia langsung menutup telepon.
Yu-dan menatap telepon sejenak.
Dia pergi ke tempat Mia tapi pintunya tidak dibukakan, jadi selanjutnya...
Yu-dan melompat berdiri, tetapi saat hendak langsung pergi, belati itu mengganjal pikirannya. Masa dia harus membawanya begitu saja? Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan tas selempang kulit dari lemari, memasukkan pisaunya ke sana, lalu bergegas keluar.
Saat dia keluar dari apartemen dan berlari menuju halte bus, keadaan di depan minimarket tampak riuh. Ketika dia hendak lewat begitu saja, seorang karyawan bersetelan hitam dari arah sana berjalan cepat mendekatinya. Sambil menatap lurus ke arahnya.
Ibu-ibu yang sedang mendorong kereta belanja berbisik-bisik.
"Itu dia orangnya! Anak yang tadi!"
"Memangnya dia ketahuan mencuri apa?"
"Sepertinya konsol game?"
"Ada apa ini? Ada kejadian apa?"
"Itu lho, anak itu. Ketahuan bawa barang keluar, langsung dibanting ke lantai dan bikin keributan, heboh sekali tadi."
Wajah Yu-dan menjadi pucat.
Ini tidak masuk akal. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi padaku. Rasanya mau gila saja. Dengan wajah kaku, dia melambaikan tangan menolak pada karyawan yang mendekat.
"Bu, bukan aku yang melakukan itu..."
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung mengambil langkah kabur.
Karyawan itu sepertinya hanya berniat menegur, jadi dia tidak mengejarnya. Syukurlah, tetapi dituduh sebagai pencuri rasanya sangat menyiksa. Ini benar-benar ulah Unusuals, kan?
Kalau masalahnya sudah selesai, semua orang akan lupa, kan? Tolong, semoga saja begitu.
Yu-dan naik ke dalam bus dengan tergesa-gesa. Begitu turun di halte, dia langsung berlari dan berhenti di depan sebuah klinik hewan kecil yang dipenuhi selebaran pencarian hewan hilang.
Itu adalah klinik tempat sepupunya dari pihak ibu, yang mengambil jurusan kedokteran hewan dan bekerja paruh waktu disana.
Dengan napas tersengal-sengal, dia membuka pintu, dan perawat yang menjaga meja resepsionis langsung melompat berdiri. Melihat ekspresinya, Yu-dan pun tersadar.
Ternyata makhluk itu sudah mampir ke sini juga.
Yu-dan bertanya dengan wajah pucat.
"Permisi, tadi aku habis melakukan apa?"
Ekspresi perawat itu berubah dari marah menjadi tidak percaya.
"Kau ini kenapa? Ku kira kau langsung kembali untuk minta maaf, kau bercanda sekarang?"
"Sungguh, aku tanya begini karena tidak ingat..."
Dia memudarkan suaranya sambil melihat sekeliling.
Di dalam pagar besi, anak-anak anjing merangkak lincah. Induknya masuk ke dalam kandang dan hanya memperlihatkan pantatnya. Pantat itu gemetaran.
"Ada apa? Tadi aku mengganggu anjingnya?"
"Wah, benar-benar tidak masuk akal. Lagi latihan akting? Atau kamu kena amnesia? Mentang-mentang kamu saudara sepupunya Soohyun, jadi kubiarkan masuk begitu saja!
"Kauu benar-benar tidak ingat sudah menggoncang anak-anak anjing itu, menarik ekornya, dan bersikap kasar? Waktu aku mau melerai, kau justru mendorongku dan berniat mencuri anak anjingnya!"
"Gara-gara kau mengangkat mereka terbalik sambil memegang ekornya, anak-anak anjing itu menjerit ketakutan, dan induknya sekarang ketakutan sampai tidak berani keluar! Waktu anjing-anjing di hotel hewan ini kaget dan menggonggong, kau justru marah dan menendang pintunya!"
Mendengarnya saja sudah terasa mengerikan. Anak-anak anjing, serta anjing-anjing yang terkurung di balik kaca. Semuanya adalah makhluk lemah yang tidak punya kekuatan untuk melawan. Memikirkan bahwa makhluk itu memilih mereka dan berbuat semena-mena membuat perasaannya sangat buruk.
"Aku benar-benar minta maaf, tetapi bukan aku yang melakukannya..."
"Apa?"
Tidak tahan lagi, dia pun bergegas keluar dari klinik itu. Rasanya benar-benar mau gila.
Bagaimanapun caranya, akan kutangkap kau.
Sambil menggemeretakkan gigi, dia melihat sekeliling, dan matanya tertuju pada sebuah papan reklame film besar yang terpampang di sebuah pusat perbelanjaan di balik gedung-gedung. Entah kenapa, dia merasa makhluk itu pasti pergi ke arah sana.
Ini adalah firasatnya sendiri, jadi pasti akurat.
Baru saja dia bergegas menyeberangi jalan, seorang pemilik mobil yang parkir sebentar di tepi jalan melihatnya dan membunyikan klakson dengan keras.
Yu-dan menatapnya dengan bingung. Padahal aku tidak melakukan apa-apa?
Akan tetapi, wanita itu sudah terlanjur sangat marah pada Yu-dan.
Setiap kali dia menuding-nuding, anting peraknya bergoyang dengan kasar. Suara makian wanita itu yang mengumpatnya dengan sebutan brengsek ini-itu terdengar jelas dari balik jendela mobilnya.
"Maafkan aku!"
Dia minta maaf dan langsung kabur.
Sialan. Walaupun itu bukan kesalahanku, setidaknya kali ini ucapan maafnya keluar dengan lebih lancar. Untunglah begitu. Karena penderitaannya belum berakhir sampai di sini.
Di tengah perjalanan berlari menuju pusat perbelanjaan, seorang wanita yang sedang mengelap bayinya dengan tisu basah di kereta dorong meliriknya sekilas. Tatapannya seketika berubah tajam.
"Hei! Kenapa kau muncul lagi? Kau tinggal di apartemen ini? Sekolah di mana?"
"Maafkan aku!"
Dia berlari cepat, tetapi seorang wanita jangkung yang duduk di bangku tepi jalan tiba-tiba bangkit, menghalanginya, dan langsung mencengkeram bahunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sorot matanya menyala penuh amarah.
"Aku tidak..."
"Mau ke kantor polisi?"
"Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf!"
Yu-dan menundukkan kepalanya dalam dan melarikan diri. Sebuah botol air mineral melayang dan menghantam punggungnya dengan telak. Rasa sakitnya sampai membuat air matanya menetes.
Dia bahkan tidak mau membayangkan kekacauan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Di mana-mana orang-orang menatapnya dengan sinis.
"Maafkan aku! Maafkan aku!"
Harus memohon ampun untuk sesuatu yang bukan kesalahannya sungguh membuat perasaannya sangat buruk.
Namun, yang lebih menjengkelkan lagi adalah kenyataan bahwa Unusuals itu hanya mengincar pihak-pihak yang lemah seperti wanita dan bayi untuk diganggu.
Si brengsek pengecut, dia harus dihabisi bagaimanapun caranya.
Sambil mengertakkan gigi, dia berlari sampai kehabisan napas.
Begitu berbelok di tikungan, Yu-dan membeku.
Di kejauhan, di antara kerumunan orang, dia melihat sosok punggung yang familier.
Meskipun biasanya dia jarang melihat punggungnya sendiri, entah kenapa dia bisa langsung mengenalinya.
Melihat makhluk itu hendak masuk ke dalam gedung pusat perbelanjaan, dia berteriak sekuat tenaga.
"Hei! Kau! Berhenti di sana!"
Sosok itu langsung mematung.
Seolah tahu siapa yang memanggilnya, makhluk itu tidak menoleh ke belakang, melainkan langsung mengubah arah dan melarikan diri.
"Mau lari ke mana kau! Dasar bajingan lebih rendah dari anjing!"
Kebetulan lampu pejalan kaki menyala hijau, jadi dia mengejarnya sambil terus berteriak. Orang-orang di sekitar menoleh, lalu menatap dengan bingung ketika menyadari ada dua anak yang terlihat sama persis.
Dia berlari hingga jantungnya serasa mau meledak, sampai akhirnya tiba di lokasi konstruksi di belakang mal. Unusuals itu menghilang di sana. Yu-dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Keluar kau sekarang!"
Dari suatu tempat di sana, terdengar suara pipa jatuh menggelinding. Saat dia berlari ke arah suara itu, tiba-tiba dia merasakan firasat buruk yang mengerikan.
Tepat pada saat dia mencondongkan tubuhnya ke belakang secara refleks, sebuah batu bata besar melayang jatuh hanya berjarak beberapa milimeter dari hidungnya.
Dia mendongak karena kaget.
Terlihat sebuah bayangan berkelebat menghilang di atas perancah proyek. Entah dari mana, terdengar suara tawa cekikikan. Itu adalah suaranya sendiri.
Dia kembali menunduk menatap lantai.
Dari batu bata yang menancap kuat di tanah, dia merasakan niat membunuh yang nyata. Ini bukan sekadar lelucon. Makhluk itu benar-benar ingin membunuhnya.
Semakin dibiarkan, brengsek ini makin menjadi-jadi!
Darahnya serasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Namun, dari sudut hatinya, suara akal sehat yang dingin juga terdengar memperingatkannya. Dia tidak boleh mengejarnya secara membabi buta.
Tempat ini adalah lokasi konstruksi di mana segala macam hal berbahaya tersebar di mana-mana. Dengan kata lain, ini adalah perangkap raksasa.
Yu-dan berjalan mundur perlahan keluar dari sana.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Dia bisa merasakan bahwa bajingan itu sedang mengitari daerah sekitarnya. Di mana kau? Sembunyi di mana kau? Dia berjalan sambil terus mengawasi keadaan.
Tak terasa hari sudah mendekati tengah hari.
Meski ingat bahwa dia belum makan apa-apa, anehnya dia tidak merasa lapar sama sekali.
Apakah ini karena bayanganku telah dirampas?
Sinar matahari terasa terik.
Sambil merasa pusing dia terus berkeliaran, tetapi bukannya menemukan jalan besar yang ramai, dia justru terus muncul di gang-gang sepi.
Sepanjang jalanan menanjak yang dipenuhi deretan rumah petak, membentang mural-mural yang hanya bisa disebut mengerikan dan aneh.
Saat dia ragu sejenak di depan tangga batu yang tertutup tanaman rambat, tiba-tiba sebuah suara menembus telinganya.
"Halo. Halo."
Yu-dan menoleh ke belakang.
Itu adalah suara dari mesin permainan Pukul Tikus di sebelah toko kelontong tua. Sambil memperhatikannya, suara monoton "Halo" yang diulang-ulang itu pun berubah. Kini terdengar seperti suara dering telepon.
Dia melangkah mendekati mesin tersebut.
Palu yang digunakan untuk memukul tikusnya tampak bergetar pelan. Walaupun menganggapnya sangat aneh, dia tetap mengangkatnya lalu menempelkannya ke telinga.
Terdengar suara bising di baliknya. Suaranya semakin lama semakin riuh, hingga kemudian suara seseorang tiba-tiba terdengar jernih.
"Apa berjalan lancar?"
Itu adalah Baekran.
Bahunya yang tadinya menegang kaku karena gugup pun turun terkulai lega.
"Apa-apaan! Cara seperti ini bukannya sedikit membuat perasaanku tidak enak? Tadi itu membuatku merinding!"
"Itu karena siluman tidak bisa mendaftar jaringan telekomunikasi nirkabel seluler."
"Apa susahnya kalau kau mau, tinggal palsukan dokumennya, rayu stafnya..."
"Sebenarnya aku sedang menghindarinya karena gelombang elektromagnetik. Omong-omong, bukankah aku tadi bertanya apa semuanya lancar?"
"Tidak, sama sekali tidak. Kalau di sana?"
"Sudah hampir selesai, tapi aku harus segera pergi lagi. Sekarang topeng-topeng tua mulai bergabung dan melahirkan Hantu Sembilan Puluh Sembilan Wajah. Seperti namanya, ini adalah hantu yang punya sembilan puluh sembilan wajah. Sepertinya akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan."
"Lupakan. Tidak usah khawatir. Akan kuhancurkan makhluk ini sendiri."
"Oh ya? Semangatmu tampaknya sedang menggebu-gebu?"
"Mana mungkin aku tidak begitu? Ke mana pun aku pergi, dia membuat kekacauan. Baru saja berhasil kukejar, dia justru memancingku ke lokasi konstruksi dan menyerangku. Sedikit saja terlambat menghindar, aku pasti sudah mati tertimpa batu bata."
"Ternyata dia memang sangat licik. Sepertinya dia sudah mulai bosan setelah puas membuat kekacauan. Pada akhirnya, yang diinginkan hal-hal semacam itu selalu sama. Kamu pasti sudah tahu. Membunuh yang asli dan menjadikan dirinya sendiri sebagai yang asli."
Dada Yu-dan terasa dingin. Rasa pusing yang sempat terlupakan kembali menyerang, membuatnya terduduk lemas di sebelah mesin Pukul Tikus itu.
Sebelum itu terjadi, aku harus segera memusnahkannya.
Kepalanya berdenyut nyeri, jadi saat ia hendak menutup telepon dan beranjak, sebuah pikiran melintas di benaknya. Baekran pasti menelepon bukan tanpa alasan. Yu-dan mengetuk-ngetukkan palu tikus tersebut dan bertanya.
"Dalam kasus seperti ini, apa yang harus kulakukan?"
"Kamu harus membalikkan keadaannya."
Jawaban itu meluncur seketika, seolah sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu.
"Tidak bisa terus begini. Bukankah dia yang saat ini memegang kendali? Kalau kamu hanya mengejarnya terus, kamu tidak akan pernah bisa menyusul. Cepat atau lambat kamu pasti akan masuk perangkap. Kalau aku, aku tidak akan mau ikut dalam perlombaan berbahaya seperti itu. Pihak yang melarikan diri dan yang mengejar. Kamu harus memutarbalikkan permainan yang telah disusun oleh Unusuals itu."
"Memutarbalikkan..."
Karena kepalanya sakit, dia tidak bisa berpikir jernih. Yu-dan memungut ranting kayu lalu mulai menggambar di tanah. Ini yang lari. Ini yang mengejar. Bagaimana caranya susunan ini bisa diputarbalikkan?tanah
Dipikir-pikir lagi, saat dia melarikan diri sambil membawa telur rebus waktu itu, Baekran tiba-tiba berteleportasi dan muncul tepat di belakangnya. Dia bilang sesuatu tentang gerakan maju dan mundur, itu pasti tentang arah, kan? Jika arahnya dibalikkan secara berlawanan, maka yang mengejar akan berada di depan, sedangkan yang lari akan berada di belakang.
Sambil terus menarik garis panjang, seolah ada bola lampu menyala di kepalanya, sesuatu terlintas di benaknya. Dia membelokkan garis lurus yang memanjang itu lalu menariknya untuk disatukan dengan titik awal.
"Lingkaran? Kalau jarak antara keduanya terlalu jauh, orang di depan akan berada tepat di belakang pengejarnya! Posisi depan dan belakangnya jadi tertukar!"
"Benar sekali. Entah kebetulan atau tidak, kamu berhasil memikirkannya."
"Mungkin gara-gara sedang sakit."
"Mungkin saja. Bagaimanapun juga itu bagus. Sama seperti makhluk bayangan yang berusaha memancingmu ke lokasi konstruksi untuk membunuhmu, kamu harus menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan untuk memancingnya ke jalur yang strukturnya melingkar. Apakah di dekat sana ada jalur berbentuk lingkaran? Bisa di dalam ruangan atau di luar bangunan. Entah jalan yang mengelilingi tembok melingkar atau semacamnya."
Mendengar ucapan itu, dia teringat sesuatu.
"Ada. Tapi tempatnya..."
"Kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa."
Yu-dan bingung dan merasa bersalah.
. . .. .... ........
