9
Pria itu mengarahkan mereka ke meja resepsionis dengan santai. Begitu ia berdiri di balik meja dan meluruskan posturnya, seolah udara di sekitar pun ikut tertata.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Situasi yang agak lucu itu membuat sang sutradara tertawa kecil.
"Masih mau nanya itu lagi?"
"Sudah jadi kebiasaan, rupanya. Kalau sudah berdiri di tempat yang seharusnya, kata-kata itu keluar sendiri."
"Ah… benar juga, itu sering terjadi. Namanya juga sudah tua."
Lee Seonhae, yang juga kerap tanpa sadar memakai istilah syuting dalam percakapan sehari-hari, langsung paham maksudnya. Itu adalah ciri khas orang-orang yang sudah memisahkan bahasa pekerjaan dari kehidupan pribadi.
"Kami ingin menginap."
"Boleh saya tanyakan, berapa malam rencananya?"
"Hmm, sebentar… coba kita lihat…."
Sutradara menoleh ke arah rombongannya.
"Kalian, berapa hari kita sudah jadwalkan untuk survei ini?"
"Kalau yang dimaksud tempat penginapan desa itu, sudah dipesan seminggu."
Sang sutradara kembali menatap pria di depannya.
"Rencana menginap seminggu, bisa?"
"Tentu saja. Apakah ada preferensi lantai atau lokasi tertentu?"
"Tidak ada yang khusus. Kalau harus memilih, lantai atas mungkin? Pemandangannya kelihatan bagus."
"Baik, akan saya usahakan sesuai permintaan."
Yang diserahkan adalah kunci kamar klasik dengan gantungan berbentuk persegi panjang. Bobotnya terasa tak biasa di telapak tangan, tapi bagi sutradara Lee Seonhae, justru itu yang membuatnya menarik.
'Serba tidak terasa nyata, ya.'
Rasanya seperti melihat properti film….
"Kami akan menempatkan Anda di lantai 21."
"Oh, tinggi sekali."
"Namun perlu diketahui, seluruh kamar hotel kami hanya dioperasikan maksimal untuk dua tamu. Apakah tidak keberatan jika kami membagi ke kamar nomor 1 dan 2 yang berdekatan?"
"Ah, tidak apa-apa."
"Terima kasih. Kalau begitu, izinkan saya menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum masuk kamar."
Penjelasan mengalir dengan lancar.
"Seperti yang sempat disebutkan, hotel ini saat ini masih dalam tahap uji coba, sehingga mungkin ada beberapa layanan yang belum sempurna. Kamar tidak akan menjadi masalah berarti, namun sebagian fasilitas umum masih dibatasi penggunaannya."
Penulis Hong, yang tadinya diam mendengarkan, memberanikan diri menyela.
"Kalau begitu, soal makan?"
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Tamu yang saat ini menginap sebagian besar sudah mengetahui kondisi uji coba ini sejak awal dan membawa persediaan makanan sendiri."
"Maksudnya… kami harus menyiapkan makan sendiri?"
"Kami mohon maaf atas situasi yang tidak terduga ini. Bolehkah kami periksa terlebih dahulu apakah ada yang bisa kami sediakan, lalu kami sampaikan kembali?"
"Ah, baik."
"Terima kasih atas pengertiannya. Kami akan berusaha meminimalkan ketidaknyamanan."
Para staf yang mengamati dari belakang mulai berbisik-bisik pelan.
"Kelihatan mahal banget…."
"Aduh, kalian. Tidak perlu khawatir. Semuanya aku yang traktir."
"Cinta deh sama Sutradara."
"Kalau bukan sekarang, kapan lagi bisa pamer uang."
Sutradara mengeluarkan kartu.
"Tolong dibayarkan. Berapa totalnya?"
"……."
"…Permisi?"
"Biaya menginap tidak akan kami tagihkan."
"Eh?"
"Saat ini masih dalam tahap uji coba."
Melihat mata pria itu melengkung seperti bulan sabit, sutradara Lee Seonhae yang sudah bertahun-tahun bergaul dengan berbagai artis tanpa bisa tidak mulai berpikir.
'Benar-benar tahu cara menggunakan tubuhnya.'
Di dunia mereka, 'tahu cara menggunakan tubuh' bukan berarti refleks yang bagus atau postur yang tegak. Sudut senyum, posisi kepala, seberapa lama tatapan bertahan di satu titik.
'Dia tahu cara tersenyum yang paling menarik.'
Sudah sejak tadi terasa, tapi orang ini benar-benar mahir dalam soal senyum.
"Meminta bayaran sementara kami tidak bisa memberikan layanan di luar kamar, rasanya justru tidak wajar dari sisi kami."
"…Oh, begitu ya?"
"Sebagai gantinya, jika selama menginap ada hal-hal yang dirasa kurang nyaman dan berkenan untuk disampaikan, itu akan sangat membantu kami."
Sang sutradara melirik tamu-tamu lain di lobi.
"Tapi bukankah tamu lain akan protes soal perlakuan yang tidak adil?"
"Tamu yang saat ini menginap di sini sudah memahami seperti apa hotel ini sejak awal."
"Seperti apa maksudnya?"
"Tempat yang tidak mengoperasikan fasilitas layanan, dan bahkan menyediakan makan pun sangat terbatas. Perihal itu tidak kami sampaikan lebih awal, dan saya benar-benar minta maaf."
"Ah, tidak perlu sampai sebegitunya. Justru kami yang—"
"Ada kelalaian dari pihak kami, jadi ini sudah cukup bisa saya putuskan sendiri sebagai keringanan."
"…Kalau sudah begitu, tidak bisa kami tolak."
Tadinya ingin tahu seberapa tarif tempat ini. Kalau sudah bilang begitu, rasanya tidak enak juga untuk memaksa.
'Belum ada harga yang ditetapkan?'
Kalau masih uji coba, mungkin memang begitu.
'Atau bukan itu masalahnya….'
Di tengah lamunannya, pria itu melanjutkan dengan mulus.
"Barang bawaan akan kami antarkan ke kamar."
"Ah, masih di mobil sekarang."
Pria itu sekilas memandang para staf yang berdiri di dekat Lee Seonhae, lalu kembali menatapnya sambil tersenyum.
"Cukup buka pintu kendaraannya, staf kami yang akan mengangkut barang yang diperlukan ke dalam."
"Barangnya tercampur soalnya."
"Jika khawatir ada barang pribadi yang terlihat, Anda bisa memilih sendiri mana yang ingin dibawa masuk, dan staf kami hanya akan mengangkut itu."
"Ah, kalau begitu saya mau begitu."
Rombongan itu mengambil koper dan tas dari mobil yang sudah disiapkan untuk survei seminggu penuh.
Begitu barang-barang itu dibawa masuk ke lobi, para staf yang sudah menunggu menghampiri tanpa suara.
"Staf kami akan mengantarkan semuanya ke kamar dengan penuh tanggung jawab."
"Terima kasih."
"Ini memang sudah seharusnya kami lakukan."
"Hmm, ada lagi yang perlu kami ketahui?"
"Tambahan… maksudnya?"
"Ini kan masih uji coba. Pasti ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Selain soal fasilitas yang terbatas."
"……."
Alih-alih langsung menjawab, pria itu mengulurkan tangan dan mempersilakan ke arah lift.
"…Saya harap Anda tidak lupa dengan yang tadi saya sampaikan."
Sang sutradara memandangnya. 'Saya harap.' Pertemuan yang singkat, tapi nada bicara seperti itu tidak terasa seperti bagian dari dirinya. Selama ini dia menjaga sikap yang sepenuhnya profesional.
Tapi yang barusan itu jelas peringatan yang bersifat pribadi.
"…Selain itu?"
"Mungkin karena hujan, saat ini banyak tamu yang menginap di lantai 7."
"Karena hujan?"
"Ada yang sangat menyukai hari hujan."
"Begitu memang…."
"Jika ada keperluan atau pertanyaan tambahan, silakan hubungi resepsionis. Kami akan segera melayani."
"Ah, baik."
"Semoga Anda bisa beristirahat dengan tenang."
Intonasi yang terdengar wajar. Tapi alurnya terasa tidak wajar. Pria itu dengan terampil menguasai suasana lewat postur dan nada bicaranya.
Rombongan itu menonton punggung sang manajer yang perlahan menjauh.
"……."
…Anehnya, terasa tidak nyata.
"…Sutradara, makan malam kita gimana?"
"Ah, itu juga harusnya aku tanyakan tadi."
Begitu yang terucap, tapi tubuhnya terasa berat. Mengemudi di tengah hujan deras bukan perkara mudah.
'Lagipula baru saja bilang akan mengecek soal makan.'
Ditanya sekarang pun belum tentu ada jawaban baru.
"Ayo naik dulu, beres-beres barang?"
"Ya, ayo naik."
"Kunci biasa, bukan kartu, aneh banget kan?"
"Di hotel sebesar ini, memang jarang."
Biasanya pakai kartu.
"Konsep kali?"
"Suasananya memang terasa klasik."
"Iya juga."
Saat itu lift tiba.
Tanpa gesekan sedikit pun, pintu berwarna emas terbuka dengan mulus.
"Hotel yang benar-benar unik."
* * *
"Aduh, astaga."
Begitu pintu kamar dibuka, sutradara Lee Seolhae langsung terkagum.
"Kita dapat kamar suite?"
"Segini mah… rumah biasa aja."
"Jujur sepertinya lebih bagus dari rumah ku."
Seorang staf yang baru saja susah payah membeli rumah sendiri menimpali dengan getir.
"Kelihatannya lebih dari 100 pyeong."
"Emangnya hotel pakai hitungan pyeong…."
"Suite beneran."
"Tapi katanya kamarnya cuma seratus berapa tadi..."
"135."
"Kalau satu-satu kamarnya besar, berarti semua kayak gini dong?"
"Ah, kalau begitu siapa yang mau datang. Pasti mahal banget…."
Obrolan para staf membuat ekspresi sang sutradara jadi aneh.
"Sutradara?"
"Eh, begini. Tadi aku tidak sempat bilang."
"Kenapa, ada apa."
"Meja di lounge lobi tadi branded."
"Brand apa?"
"…Yang mahal."
Sang penulis bertanya.
"Tahu namanya?"
"Merapat sini."
Penulis yang mendengar namanya langsung terkejut.
"…Kenapa bisa ada di lobi hotel?"
"Itu yang aku bilang."
"Pasti basah kena hujan."
"Sudah ditutup handuk tadi, mudah-mudahan aman."
"Beneran deh, kok bisa ada di lobi…."
"Sudah, mari lihat-lihat kamarnya dulu."
Rombongan itu melangkah lebih hati-hati dari biasanya saat mulai menjelajahi kamar. Kamar tidur, kamar mandi, dan toilet sudah tersedia lengkap, dan di balik itu masih ada ruangan-ruangan yang tidak mereka kenali.
"…Ini ruangan apa?"
"Mungkin ruang kerja?"
"Memangnya hotel butuh ruang kerja?"
"Suite memang biasanya ada."
Satu ruang kerja, satu ruang makan.
"Ini apa lagi?"
"Tempat makan…?"
Satu ruang tamu.
"Ini buat apa?"
"Anggap saja ruang keluarga."
"Ruang keluarga itu maksudnya gimana?"
"Ya ruang keluarga biasa."
"Oh, oke…."
Rombongan itu saling berpandangan.
"Kita boleh dapat kamar ini kan?"
"Jangan-jangan kita diculik naik perahu waktu tidur."
"Segini mah diambil organ pun ikhlas."
"Ikhlas apanya, kita orang sungguhan."
"Sutradara, Sutradara. Kita bayar aja. Aku ikut patungan."
"Aku juga."
"Aku sekarang merasa bersalah banget."
"Sekarang mulai curiga juga nih."
"Sekarang? Aku dari lobi aja sudah merasa ada yang aneh."
"Penulis ternyata penakut juga ya."
"Bilangnya hati-hati dong."
Setelah ramai ngobrol, para staf akhirnya masuk ke pembahasan inti.
"Kalau gitu kamarnya dibagi gimana? Tiga perempuan satu laki-laki."
"Ada dua tempat tidur, tinggal bagi dua-dua. Aku sama Penulis Hong, kalian berdua."
"Kami sih tidak apa-apa… Penulis gimana?"
"…Iya, soalnya di penginapan desa juga rencananya tidur bareng semuanya…."
Lagipula kamarnya terpisah, jadi malah lebih baik. Pasti jauh lebih nyaman dari penginapan desa. Sudah jelas. Ini tidak kalah dari suite manapun.
Begitu urusan pembagian kamar dan barang bawaan beres.
"Hei."
Sang sutradara memanggil penulis.
"Penulis Hong, mari bicara sebentar."
"Sudah menunggu kapan mau diajak bicara. Ada yang berhasil Sutradara cari tahu?"
"Kalau bicarami begitu jadi kayak operasi penyamaran."
"Saya sendiri jujur merasa begitu."
Keduanya membenamkan diri ke sofa di ruang tamu.
"Kalau menurut perkiraan ku… ini hotel anggota."
"Hotel anggota…?"
Penulis Hong yang serius soal riset langsung menangkap maksudnya.
"Memangnya ada yang seperti itu di sini? Di Gapyeong pula?"
"Di tempat-tempat terpencil justru ada."
Di dunia ini ada tempat-tempat yang nama maupun lokasinya tidak dipublikasikan. Hotel-hotel swasta yang bahkan tidak bisa dimasuki sekalipun uangnya berlimpah, tanpa rekomendasi dari anggota lama.
"Biasanya tempat seperti itu dikelola dengan sistem keanggotaan atau undangan."
"…Bukan bidang saya, jadi kurang paham."
"Memang bukan latar yang sering muncul di genre kita."
Sang sutradara mengenang kejadian tadi.
"Kamu lihat staf-staf di lobi kan? Belum lagi manajernya. Penampilan mereka semua luar biasa. Pelayanannya pun tidak ada celah."
"Ya, memang begitu."
"Ada tempat yang dibuat bukan untuk dibagi dengan sembarang orang, tapi khusus untuk kalangan tertentu saja."
"Yang dimaksud 'sembarang orang' itu orang biasa?"
"Iya, kira-kira begitu. Atau mungkin dibuat sekadar karena hobi."
"Siapa yang bikin hotel cuma karena hobi?"
"Kalau uangnya sudah berlebih, bisa saja. Menurutku tempat ini salah satunya."
"Tidak mungkin."
"Meski begitu, sepertinya tempat ini tidak seketat itu…."
"Kelihatan cukup ketat menurut saya..."
"Tidak, orang-orang seperti kita yang bukan anggota saja bisa masuk. Katanya kebijakan manajer. Masuknya pun tidak terlalu susah."
Hutan di dalam pegunungan yang tidak akan pernah terjangkau kecuali tersesat. Sebaliknya, itu berarti tempat ini justru bisa ditemukan secara tidak sengaja oleh siapa saja yang kebetulan tersesat.
"Biasanya tempat seperti ini pintu masuknya disembunyikan atau ditutup rapat."
"…Sepertinya kami datang ke tempat yang tidak seharusnya kami datangi, tapi dalam arti yang berbeda dari yang kubayangkan."
"Tapi tadi manajer itu bilang, kalau dia sendiri sudah menerima kami tanpa masalah, siapa yang mau protes? Kalau dia memang pemilik hotel ini, wajar saja kan?"
"Kalau dipikir-pikir, rasa percaya dirinya melampaui sekadar pemilik biasa."
"Tamu hotel macam ini pasti bukan orang sembarangan. Dan dia bilang bisa mengabaikan keluhan mereka. Makanya aku pikir ini mungkin hobinya."
"Ke manapun aku memikirkan, rasanya kami memang datang ke tempat yang tidak seharusnya."
"Setidaknya dia memang punya kuasa di atas pemilik hotel biasa. Artinya ini bukan tempat yang dibuat untuk mencari uang. Meski begitu, keamanannya tidak seketat itu…."
"Hobi?"
"Ada kemungkinan ke sana."
Masih ada hal-hal yang terasa janggal.
"Yang tidak aku mengerti kenapa orang seperti itu mau repot-repot jadi kepala manajer. Mungkin benar itu hobinya, tapi kalau hobi sih pelayanannya terlalu terampil."
Ia menambahkan.
"Dia benar-benar pintar tersenyum."
Itu bukan sekadar 'ramah' atau 'sering tersenyum'.
Kebanyakan orang tidak tahu otot mana yang mereka pakai saat tersenyum, atau seberapa jauh sudut bibirnya terangkat. Tapi senyum yang tadi itu jelas milik seseorang yang tahu persis bagaimana seharusnya ia tampil.
"Padahal di antara aktor yang sehari-harinya memang bekerja di depan kamera sekalipun, masih ada yang tidak menyadari bagaimana mereka terlihat di layar."
"Jadi maksud Sutradara…."
"Sepertinya dia bukan sekadar orang kaya yang tidak punya tujuan. Susah rasanya membayangkan orang yang menguasai tubuhnya sebaik itu terkurung di sudut seperti ini tanpa maksud apa-apa."
"……."
"Kenapa diam?"
"Sepertinya kami datang ke tempat yang tidak seharusnya."
"Takut? Sudah berapa kali kamu bilang itu? Ini dunia yang sama."
"Rasanya seperti dunia yang berbeda."
"Kalau kamu bilang begitu aku jadi kesepian."
"Saya kadang merasa ada jarak dengan Sutradara juga."
"Jangan jaga jarak sama sesama seniman, Penulis Hong."
Penulis mengeluh.
"Sutradara pernah datang ke tempat seperti ini?"
"Tidak sering, satu dua kali?"
"Satu dua kali pun sudah banyak buat saya."
"Tapi tempat itu jauh lebih ketat dari sini."
"Kata 'ketat' juga sering muncul."
"Yang paling berbeda, tempat itu ada di luar negeri. Lagipula aku waktu kecil hanya ikut-ikutan paman, itu saja. Aku bukan anggota di sana."
"Sekarang?"
"Sekarang juga bukan, iyalah. Kamu tahu tidak, iuran keanggotaan di sana sebulannya berapa? Kalau ada uang segitu, mending aku buat film."
"Iya sih, tapi… entah… rasanya aneh."
Sutradara mengangkat bahu.
"Memang unik, biasanya tempat seperti ini berbentuk resor, bukan hotel. Atau hanya untuk menginap jangka panjang, atau memakai satu lantai penuh, atau ada koki dan pengelola pribadi…."
"Cerita dunia lain terus nih."
"Dibandingkan tempat-tempat seperti itu, di sini justru terasa cukup bebas."
"Buat saya ini sudah lebih dari cukup mewahnya."
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada yang tetap terasa janggal."
"Semuanya terasa janggal."
"Tidak, dengarkan dulu."
Sutradara mengetuk meja.
"Di lobi tadi kepala manajer itu bilang..."
"…Tamu di sini agak susah diatur?"
"Di tempat yang pelayanannya sesempurna itu, kepala manajernya dengan terang-terangan bilang hal yang terdengar seperti mengkritik tamunya sendiri."
"Mungkin memang dari awal orangnya begitu."
"Kalau memang begitu, harusnya sering kelihatan dari tadi. Tapi selain satu kali itu saat kita sendiri, dia tidak pernah menyinggung hal serupa. Padahal dia pemilik yang berkuasa penuh."
"Kalau begitu, kenapa pemiliknya sendiri mau jadi kepala manajer? Ini bukan penginapan kecil, hotelnya sebesar ini. Bukankah terlalu besar untuk diurus sendiri?"
"Artinya ada alasan mengapa dia harus begitu."
"Orang itu tidak bisa tidak mengelola hotel ini sendiri satu per satu?"
"Makanya aku berpikir, di sini bukan hotelnya yang penting."
Hotel itu sendiri tidak tampak seperti hal utama.
"Yang utama adalah tamunya, atau fasilitasnya."
"……."
Penulis mengernyit.
"Bagi hotel sebesar ini tamu memang utama, bukan?"
"Hotel-hotel yang tadi aku ceritakan, hotelnya sendiri yang penting. Tamu-tamu luar biasa itu yang datang sendiri. Artinya, orang yang cocok dengan hotel istimewa itulah yang berkumpul."
"Kalau di sini?"
"Coba pikirkan dari sisi sebaliknya."
"Hotel untuk tamu?"
"Hotel yang dibangun khusus untuk tamu tertentu."
"Dan tamu 'tertentu' itu disebut kepala manajer sebagai 'sulit diatur'."
Sutradara itu menyilangkan lengan sambil berpikir.
"Waktu kita bilang mau menginap pun, reaksinya tidak seperti menyambut. Orang yang sekelas itu dalam mengatur ekspresi, kalau sampai ketahuan, artinya memang sengaja ingin diperhatikan."
"Kalau begitu usir saja, bukan?"
"Pasti ada alasan kenapa tidak bisa. Tapi yang jelas bukan karena takut dapat penilaian buruk dari kita."
"Pemilik hotel macam ini, memang tidak mungkin begitu. Kalau begitu, benar-benar murni karena tamu-tamu di sini susah diatur dan dia khawatir dengan kita?"
"Mungkin bukan sekadar omongan."
Tempat-tempat yang pernah sutradara itu ceritakan biasanya ada di luar negeri. Tanah Korea terlalu sempit untuk privasi seperti itu. Mungkin karena dibangun di dalam negeri, tempatnya jadi lebih 'terbuka'.
"Tapi kenapa repot-repot dibangun di dalam negeri?"
Sekadar agar dekat dan mudah dijangkau? Tapi tempatnya di tengah pegunungan. Jalan tidak beraspal, helikopter atau pesawat pribadi pun sulit.
"Kalau tujuannya memang untuk punya penginapan layak di dalam negeri, tidak akan dibangun di tempat seperti ini."
Soal jalan dikesampingkan, setidaknya jalur udara harusnya ada. Sudah sewajarnya pohon-pohon sekitar ditebang untuk membuat landasan helikopter.
"Tapi bangunannya hampir menyatu dengan hutan, dan di atap katanya ada taman jalan. Tidak ada ruang untuk menerbangkan helikopter sama sekali. Satu-satunya akses hanya jalan tidak beraspal yang susah itu."
Tentu saja mungkin ada akses rahasia yang tidak ia ketahui, tapi berdasarkan kondisi yang terlihat, tempat ini seperti sengaja memilih untuk terisolasi.
"Kalau begitu, sebenarnya tempat ini untuk apa. Seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di sini…."
"…Tapi untuk tempat yang menyembunyikan sesuatu, pintu masuknya terlalu terbuka, bukan?"
Penulis itu menyanggah.
"Orang-orang seperti kita yang tersesat pun bisa masuk, tidak ada pengamanan sama sekali. Kalau keamanannya ketat, paling tidak sudah dipasang pagar dengan tulisan 'properti pribadi'."
"Benar juga, kalau properti pribadi mestinya sudah dipagari. Tapi tidak ada apa-apa, jalannya justru mulus. Meskipun tidak beraspal, keamanannya memang tidak seketat itu."
"Kalau tujuannya menyembunyikan sesuatu, pasti sudah ditutup lebih rapat."
"Atau justru orang luar yang masuk memang salah satu tujuannya? Karena sesuai dengan maksud mereka, jadi tidak perlu ditutup."
"Mungkin mereka ingin promosi ke segelintir orang luar? Bagaimanapun, dari mulut ke mulut tetap perlu supaya ada yang datang."
"Untuk promosi, caranya terlalu pasif… yang ada justru tampak lebih ingin agar kita pergi…."
Di tengah gumaman sutradara itu, penulis tampak memutuskan sesuatu.
"Pergi sekarang?"
"Sekarang?"
"Justru karena sekarang."
"Kenapa, menarik kan."
"Saya bukan tipe yang pertaruhkan nyawa demi kesenangan."
"Ah, ini kan cuma perkiraan. Iseng-iseng saja. Kalau lagi berdua saja, ngomongin apapun boleh. Ini paling setara sama gosip yang diobrolkan waktu orientasi."
"Itu sendiri tidak saya suka, sudah takut begini malah cerita horor segala."
"Penulis Hong terlalu penakut."
Seonhae tertawa sambil bercanda.
Kepala manajer hotel itu jelas bersikap baik. Buktinya, di tengah perannya yang serba formal, dia tetap menyisipkan peringatan pribadi. Selama dia ada, tidak akan terjadi hal berbahaya.
'Mungkin.'
Maka dari pihak ini pun cukup berhati-hati saja.
"Tapi tidak penasaran? Ini bisa jadi inspirasi yang bagus."
"……."
"Tidak menyangkal juga."
Nah, kan.
Sama saja.
* * *
"…Kenapa."
"Halo?"
"Kenapa dengan mulut yang baik-baik ini aku tidak bisa mengucapkan satu kata: 'tolong pergi'."
"Ya."
"Siapa itu?"
"…Ya, tidak, ya…."
"Siapa itu."
Yeonwoo yang nyaris tewas karena tekanan darah tinggi menggertakkan giginya.
"Penculikan dan penahanan saja belum cukup, sekarang membuatku tampak seperti penjahat hina macam ini."
Tidak bisa dimaafkan.