LANGITOREN
0%

7


Mendengar pertanyaan staf, penulis mengecek waktu.

"Sudah lewat jam enam, wajar kalau mulai gelap."

"Bukannya berbahaya? Dari tadi sudah mendung, sekarang matahari masuk makin gelap lagi."

"…Sejujurnya saya juga mulai khawatir. Terlalu telat berangkat?"

Lokasi itu jauh terpencil dari pusat kota Gapyeong. Hujan deras membuat pandangan ke segala arah keruh seperti lumpur, dan udara di dalam mobil mengendap lembab dan pengap.

"…Sepertinya ini…."

Penulis melirik ke arah sutradara.

"Baru sampai setelah benar-benar gelap nanti."

"Aduh, gara-gara nafsu milih penginapan yang jauh malah jadi masalah begini. Berangkatnya juga telat, harusnya gerak pagi sekalian."

"Daerah sini medannya berat, jadi memang butuh waktu lebih."

"Ya sudah, paling tidak suasananya bisa dilihat… tapi tetap saja repot."

"Bagaimanapun penginapan itu kita pilih bersama. Posisinya juga strategis."

"Karena harus mengecek semua villa satu per satu, dekat sana memang paling pas."

Untuk keperluan syuting, mereka sudah mengurus tujuh villa pribadi di Gapyeong. Keputusan lokasi harus segera dibuat karena izin syuting dari masing-masing pemilik perlu dikantongi lebih awal.

"Ini semua hasil koneksi aku, tahu? Harus berterima kasih."

"Sepertinya sudah lebih dari tiga puluh kali dengar kalimat itu."

"Itu artinya betapa sulitnya aku mendapatkan kesempatan ini. Kamu tahu betapa susahnya para pemilik itu? Pakai semua koneksi yang ada baru bisa dapat tujuh tempat."

"Mendapatkan tujuh lokasi sebagus itu memang luar biasa."

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi pakai kenalan yang ada di daftar kontak?"

Tapi persis seperti yang dikatakan—semua ini bergantung pada jaringan pertemanan. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Kalau sampai membuat para pemilik yang rewel itu tidak nyaman, bisa berabe.

Itulah alasan mereka nekad menjadwalkan survei sampai ke daerah yang medannya berat. Tadinya yakin dari Seoul langsung cepat sampai, apalagi musim panas jadi siang panjang.

Hasilnya, seperti yang terjadi sekarang.

"…Aduh…."

Hujan benar-benar mengguyur. 

Suara sutradara yang dibuat-buat nyaring pun langsung surut.

"Telinga sakit."

"Betul juga."

"Jadwalnya terlalu padat."

"Tidak juga sih…."

"Harusnya tunggu hujan reda dulu baru jalan?"

"Kami tidak apa-apa, tidak perlu terlalu dipikirkan."

"Mm, ya sudah. Anggap saja begitu."

Sutradara tertawa hambar.

"Tapi suasananya keren banget, kan? Lihat deh, latar belakang begini gimana?"

Staf ikut tertawa mengimbangi.

"Cuaca paling pas buat pembunuhan berantai~"

"Aku yang mulai duluan tapi komentarnya kok lebih seram?"

Di jalan tidak beraspal itu mobil terus bergoyang tanpa henti, dan semak belukar di kanan kiri tumbuh lebat bagaikan ombak. Langit yang dari awal sudah mendung kini ditelan gelap begitu matahari mulai turun.

"Eh, ngomong-ngomong kalian."

Di situlah sutradara Lee Seonhae membuka mulut dengan canggung.

"Ya, Sutradara."

"Sepertinya kita salah jalan…."

"…Ha?"

"Aku juga baru tahu, maaf."

Sutradara menatap GPS dengan kikuk. Tanda posisi kendaraan tertancap di tengah-tengah gunung.

"Kukira ini jalan yang melintasi gunung, tapi sepertinya bukan. Terus naik tapi tidak ada tanda-tanda turun."

"Ha, ha?"

"Aduh, harusnya diperbarui dari tadi… ini sudah eror. Kita cuma mengelilingi gunung, gimana ini."

"E, eh… loh ini kenapa? Kukira terus bergerak berarti jalan benar… GPS juga kena sinyal ya? Terlalu masuk dalam jadi begini?"

"Percuma susah payah nembus jalan gunung yang ribet. Kalau jalan yang beraspal ada rambu-rambunya, ini tidak ada sama sekali. Mau cari jalan pintas malah kena batunya?"

"Memangnya siapa yang marah karena cari jalan pintas? Masa sampai kena batunya segala?"

"Aku mana tahu. Pokoknya hidup itu memang begini. GPS eror begini baru pertama kali seumur hidup. Untung tadi bawa mobil yang besar…."

Sutradara menoleh ke belakang.

"Boleh tidur di sini?"

"Sutradara, tolonglah… katanya mau tidurkan kami di atas kasur."

"Tenang, aku sudah bawa selimut semua. Tidak perlu khawatir."

"Katanya di atas kasur yang empuk, Sutradara…!"

"Ah bercanda. Ha, ini serius mau gimana?"

Sutradara kebingungan.

Mereka semua warga Jakarta—eh, Seoul. Tidak tahu sama sekali jalan di Gapyeong. Singkat kata, mereka tersesat. Sampai GPS normal lagi, kondisinya bakal tetap begini.

"Di dalam gunung ditambah hujan, sepertinya GPS benar-benar mati total. Ada yang hp-nya masih bisa buka peta?"

"…Posisi saya juga tidak terbaca."

"Aduh. Kalau ada peta kertas masih bisa diakali. Penulis Hong kasih arahan, aku ikuti jalannya."

"Posisi tidak terbaca tapi peta masih muncul."

"Oh, serius?"

"Iya. Ah, sebentar, datanya susah masuk…."

Cukup lama berlalu sebelum resolusi peta internet akhirnya bisa dibaca dengan jelas. Penulis merapikan kacamatanya. Dia menyipitkan mata, menelusuri peta dengan teliti.

"GPS berhentinya di sini? Posisi kita di sini?"

"Setidaknya harusnya sekitar situ. Aku dari tadi jalan lurus kok. Baru tahu GPS-nya bermasalah, tapi… ya kira-kira di situ lah."

"…Ah, kurang lebih kita sudah lumayan lama naik jalan ini?"

"Sekitar sepuluh menit?"

"Kalau begitu posisi kita di sini sepertinya."

Penulis menunjukkan peta.

"Seperti yang terlihat, kalau lurus terus jalannya buntu. Sedang pembangunan, mau dibiarkan?"

"Kalau mau bikin jalan biasanya dibuat terowongan dulu."

"Itu urusan Gapyeong. Pokoknya entah ada proyek yang mangkrak, atau ada lahan kosong… sepertinya begitu."

"Oh, ada lahan kosong? Eh ada ya. Lumayan luas juga."

Wajah sutradara langsung cerah.

"Nah, dari tadi bingung. Ini mobilnya besar, jalannya sempit pula, bingung mau diputar di mana. Sekalian lanjut naik, putar di sana terus turun lagi lebih baik."

"Tapi tidak terlalu lama? Lihat jaraknya, sepertinya lumayan jauh ke atas. Penginapan yang dipesan tempat homestay, kalau sampai sepagi itu kita tidak ada yang bisa check-in."

"Mau bagaimana pun akhirnya tetap tidur di luar. Barang tidak banyak dibawa jadi minimal ada ruang untuk empat orang tidur. Bagasi, bukan? Itu luas."

"Hampir kalah sama camper van."

"Makanya aku suka mobil besar."

Sutradara nyengir.

"Mungkin ada rumah di atas sana."

"Rumah? Di tempat seperti ini? Tiba-tiba?"

"Pondok gunung, mungkin? Tempat-tempat yang mau kita survei juga semuanya ada di lokasi seperti ini, kan? Villa tersembunyi punya orang-orang berada yang susah ditemukan sembarangan."

"…Itu tidak mirip cerita film kita?"

Staf bertanya dengan nada cemas.

"Saya suka cerita fiksi, tapi bukan berarti mau ceritanya jadi nyata."

"Eh, tim kamera masa lemah. Bukankah kerjaan kita mengangkat fiksi ke dunia nyata?"

"Nyata yang itu beda sama nyata yang ini."

"Lagipula kemungkinan ada apa-apa di atas itu kecil. Waktu naik tadi tidak ada tanda larangan masuk, jadi pondok gunung juga tidak mungkin ada di sana. Otomatis bangunan lain pun tidak akan ada."

"Iya sih, tapi…."

"Sekalipun ada villa atau apalah, masuk tanpa izin itu tetap melanggar hukum."

"Betul."

"Tidak ada niat masuk ke tempat yang tidak ada pemiliknya. Itu cuma basa-basi tadi, santai."

"Sutradara kalau bicara begitu kedengarannya tidak bercanda."

"Itu pesona ku."

Sutradara menjalankan mobil lagi.

Jalan masih sama buruknya. Hujan deras menghalangi pandangan ke luar jendela sama sekali. Meski jalan satu jalur, berkali-kali menginjak rem dan berhenti mendadak.

Sudah lebih dari sepuluh kali hampir celaka karena jarak pandang tidak ada.

"……."

"……."

Semakin lama perjalanan tidak nyaman itu berlangsung, semakin dalam keheningan di dalam mobil.

"…Kenapa hujannya makin deras…."

"…Aku mulai takut."

"Penulis Hong menulis yang lebih seram dari ini, kenapa takut sama hal begini."

"Menulis sama mengalaminya langsung itu beda. Saya tidak boleh takut?"

"Secara nurani, penulis harusnya yang paling kuat mental."

"Bukan begitu."

"Lihat tuh sampai bergidik."

Gunung dengan kemiringan curam membuat jalanannya berliku-liku, dan di atas segalanya—panjang. Hampir menyesal tidak bisa memutar mobil karena badannya terlalu besar, begitu lama waktu yang berlalu.

Dan kemudian, sesuatu muncul.

"……."

"…Kenapa ada cahaya?"

"Eh, itu apa…."

"Itu bangunan?"

Di balik hujan, siluet raksasa muncul. Bentuk gedung tinggi yang menjulang menembus kegelapan.

"…Hotel, Won?"

Hotel One.

Sebuah hotel besar.

"Hotel sebesar ini ngapain ada di sini?"

"……."

"Penulis, katakan sesuatu."


"…Saya sekarang sungguh takut."

"Artinya aku tidak sedang berhalusinasi?"

"Memangnya pernah mengalami sesuatu yang membuat halusinasi?"

"Benar-benar tidak terduga…."

Villa masih bisa diterima akal. Tempat-tempat yang hendak mereka survei memang semuanya ada di lokasi seperti ini. Villa tersembunyi milik orang-orang berada yang tidak mudah ditemukan.

Tapi bukan rumah dua-tiga lantai. Di hutan sedalam ini ada fasilitas penginapan berskala besar. Siapa yang mau datang ke sini? Lagipula ini hotel berlantai tinggi yang setara landmark perusahaan besar.

Aneh, dan mencurigakan. Sangat aneh. 

"Aku baru terpikir sesuatu."

"Apa."

"Jangan-jangan kita datang ke tempat yang tidak seharusnya?"

"…Tolong putar mobilnya…."

"……."

"Sutradara?"

Penulis menangkap sesuatu yang tidak beres. Bukan sekadar tidak beres—ini sudah mendekati krisis. Itu adalah naluri bertahan hidup.

"Sutradara, sutradara. Kita harus balik."

"Iya tahu."

"Halaman depannya luas, cepat putar mobil dan keluar."

"Tahu, tapi…."

"Tapi? Tapi apa, kenapa begitu?"

"Jujur saja, kalian tidak penasaran?"

"Tolong jangan."

"Penulis Hong."

Sutradara menatap partnernya dengan ekspresi serius.

"Kita ini apa?"

"Jangan tiba-tiba gabungkan kita begitu."

"Oke, aku apa, kamu apa?"

"Sutradara dan penulis…."

"Sutradara dan penulis untuk apa datang sejauh ini?"

"…Film…."

"Film siapa?"

"…Film kita."

"Bukan, kita memang datang untuk lihat hal-hal seperti ini."

Wajah sutradara cukup mantap.

"Yang berbahaya dan mencurigakan. Yang aneh dan penuh ketidakwajaran. Horor yang mendinginkan tulang belakang dan ketegangan yang memacu adrenalin. Bukankah misi kita menyampaikan perasaan dan fantasi yang tidak akan pernah bisa dirasakan penonton di dunia nyata?"

"……."

"Kamu tadi berpikir 'apakah ini harus dilakukan sampai taruhan nyawa?' kan? Bukan begitu. Pikirlah realistis. Kalau ini bukan halusinasi, berarti hotelnya memang nyata. Bahaya nyata apa yang ada di hotel sebesar ini?"

"Bisa saja ada."

"Betul, tidak ada yang mutlak di dunia ini."

"Terus?"

"Tapi aku penasaran."

Sutradara memarkirkan mobil dengan lembut.

Lalu turun dari mobil.

Mengalir sangat natural.

"……."

"…Ha ha."

Sutradara tertawa hangat membiarkan orang-orang yang masih terpaku.

"Eh, sebentar."

Sebelum penulis yang sudah sadar sempat menahannya. Lee Seonhae yang mengabaikannya berlari menembus hujan sambil berteriak.

"Maaf ya semuanya! Aku harus tahu tempat ini seperti apa!"

"Sutradara, tolong lah!!"

"Cuma mau konfirmasi sebentar!"

Penulisnya dia, tapi entah kenapa sutradara yang lebih heboh.

Penulis dan dua staf terburu-buru ikut turun mengejarnya. Tapi sudah pasti, yang lebih dulu membuka pintu hotel adalah Lee Seonhae.

Pintu terbuka dengan kehalusan yang ganjil. Sesaat telapak tangannya menyentuh gagang, daun pintu perlahan terdorong ke dalam—seolah menariknya masuk.

Seperti sudah menunggu kedatangannya.

"……."

Begitu kaki melangkah masuk, udara yang sama sekali berbeda dari luar yang lembab menghantam indera.

Kering dan dingin melampaui kata nyaman, dengan keheningan yang sunyi. Ketenangan sempurna seolah tidak ada satu makhluk hidup pun yang ada di sana.

Suasananya aneh.

Lee Seonhae melangkah ragu sambil membuka mulut.

"Per, permisi…."

"……."

"…Ada orang?"

Dan kemudian.

"Selamat datang."

Dekorasi antik nan mewah memenuhi ruangan.

Di tengah semua itu, berdiri seorang pria berwajah muda.

"Terima kasih sudah berkunjung."


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.