LANGITOREN
0%

6


Setiap makhluk hidup membaca dan merespons dunia dengan caranya masing-masing.

"……."

Itulah yang dulu kurasakan sebagai kehadiran 'nalar'.

Mungkin soal kecerdasan. Mungkin soal ukuran atau kapasitas otak. Kita tidak benar-benar memahami mereka. Tapi aturannya jelas ada.

Aturan antar individu, aturan respons. Itu ada di suatu tempat antara bahasa dan bukan bahasa. Tidak berbeda jauh dari manusia.

"Yeonwoo."

Katak dengan perut yang terbuka lebar.

Terbaring diam.

Tidak bisa bergerak.

"Sudah selesai?"

"…Iya, Pak."

"Memang tanganmu terampil, pasti jadi dokter yang hebat."

"Kurang tahu."

"Ya, mimpi itu dibentuk perlahan-lahan."

"Iya."

"Tapi bakatmu memang benar-benar luar biasa."

"……."

"Jangan sia-siakan bakat itu."

Bakat.

Membelah katak hidup-hidup?

Luar biasa?

Memotong tubuh yang masih hidup demi keuntungan yang berpusat pada pengalaman manusia. Tindakan itu bisa disebut bakat.

Ia merasa ada yang sedikit aneh.

Tapi mungkin ini wilayah yang belum kumengerti karena masih kecil.

Orang-orang dewasa bilang dia pintar, jenius dengan berbagai bakat. Pujian itu tidak terasa tidak menyenangkan. Karena semakin baik mereka menilai dirinya, semakin banyak keuntungan yang bisa didapat.

Tapi sambil menatap katak yang jantungnya berdenyut terang-terangan di depan mata, ia berpikir.

"……."

Hari ini aku membunuh seseorang.

Yang oleh manusia didefinisikan sebagai 'katak'.

Makhluk seukuran telapak tangan, yang kemarin matanya sempat bertemu denganku dari balik akuarium kecil.


Pagi hari ke-180 terasa cukup menyebalkan.

"……."

"Selamat pagi…."

"……."

"…pagi…!"

"Ini reaksi yang belum pernah kulihat sebelumnya."

Coco menggulung tubuhnya seperti kucing yang melihat mentimun.

Lebih tepatnya, ia hanya menjadi gumpalan bulat. Seperti 'slime yang ketakutan'. Terlalu tidak berbentuk untuk disebut seekor kucing, penampilannya agak konyol.

Yeonwoo mengangkat Coco sambil tetap duduk di kasur.

"Halo…! Halo… halo…."

"……."

"…pagi…."

Tubuhnya mengempis seiring volume suara yang ia keluarkan.

Gumpalan hitam kenyal itu sibuk melirik ke sana-sini sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari reaksinya saja sudah bisa ditebak—wajahku pasti kelihatan sangat seram.

"Aku mimpi buruk."

"Selamat pagi."

"Tidak ada yang perlu diselamati juga…."

Kehangatan lamat-lamat yang menyentuh telapak tangan perlahan mendorong sisa-sisa bayangan tidak menyenangkan itu menjauh.

"……."


Pandangannya bertemu dengan cermin di kamar.

"…Oh."

Ekspresi yang suram.

"Ini sungguh tidak sedap dipandang."

"Tidak."

"Muka membosankan."

Memangnya tidak?

"Dengan tampang seperti ini susah memberi kesan yang menyenangkan."

Ia memejamkan mata dan meredakan saraf yang masih tegang. Wajar saja tampilannya tidak karuan—semalam ia membaca catatan penyiksaan sampai subuh.

Setelah berpikir begitu, sudut bibirnya perlahan melemas dengan sendirinya.

"…Ternyata tubuh ini juga bisa dapat mata panda, cukup mengherankan…."

Ini pasti akibat memaksakan 'belajar tambahan' yang tidak diperhitungkan sistem. Penelitian di luar cakupan game selalu menumpuk kelelahan tanpa gagal. Merepotkan juga, padahal tubuh ini tidak perlu tidur.

Makanya ia terpaksa memejamkan mata sekadar untuk perasaan saja.

"Kalau mati lalu hidup lagi, kondisi sepele seperti ini juga pulih? Menurutmu bagaimana?"

"Tidak."

"Aku bukan orang yang seekstrem itu sampai memilih bunuh diri hanya karena tampang tidak enak dipandang. Lagipula menggunakan kebangkitan sebagai pengganti pereda nyeri itu tidak bersih rasanya."

"Ya."

"Memang… fisiknya baik-baik saja, tapi perasaannya aneh-aneh tidak enak."

Tubuh yang tidak perlu makan, tidak perlu mandi, tidak perlu tidur.

Karena pengaturan itu ikut terwujud, kamar operator bahkan tidak ada kamar mandinya. Tapi kalau memaksakan diri memejamkan mata lalu bangun, rambut bisa berantakan dengan probabilitas tertentu.

Yeonwoo menatap cermin dan merapikan penampilannya yang kusut.

"Selamat pagi?"

Mungkin maksudnya 'ini perlu?'

"…Terima kasih."

Coco datang tepat waktu membawakan dasi di mulutnya.

Bilang 'selamat pagi' dengan dasi di mulut—entah fungsi seperti itu diimplementasikan di mana. Rasa ingin tahu ilmiah sempat muncul, tapi tidak mungkin ia membedahnya untuk mencari tahu.

Sendirian begini, yang muncul malah lelucon-lelucon mengerikan. Harus introspeksi diri.

Penampilan Yeonwoo segera kembali ke tempatnya semula. Rapi seperti biasa, tanpa satu pun yang berantakan.

"...…."

…Tapi tetap saja wajahnya membosankan.

"Menitipkan tugas general manager kepada orang seperti ini—sistem kepegawaian hotel ini memang tidak ada solusinya."

"Tidak."

"Untunglah para tamunya bernyali besar sehingga tidak terluka melihat tampang seperti ini. Kalau ini pekerjaan di bidang layanan biasa, sudah lama dipecat. Aku memang bukan tipe yang cocok untuk pekerjaan ramah tamah seperti itu."

"Tidak."

"Coco, kamu punya kecenderungan memandangku terlalu baik."

"Tidak."

"…Entahlah…."

Wajah pembunuh.

"……."

Ia memasang kacamata.

Menatap cermin lagi.

Dan tersenyum.

"Sekarang lumayan."

Tampilan sehari-hari yang tidak berantakan.

"Begitu, kan?"

"Tidak."

"Ha, sayang sekali."


Hari itu tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa ia bermimpi untuk pertama kalinya dalam waktu lama.

Ia berpindah ke front desk dan menerima tamu yang menumpuk selama ia tidur. Berkeliling hotel memeriksa kondisi segelintir tamu yang menginap, melepas kepergian yang ingin check-out, lalu memanggil staf untuk merapikan kamar.

"Fitur Auto terasa sangat dirindukan."

"Tidak."

"Sungguh-sungguh merindukan."

"Tidak."

"Aku tahu itu fitur yang baru bisa diakses setelah tutorial selesai. Tidak perlu diingatkan."

Tapi ia sama sekali tidak berniat menerima tamu manusia. Bahkan tidak terbayangkan harus bersikap seperti apa kalau benar-benar ada manusia yang datang. Yeonwoo saat ini bukan manusia, bukan pula NPC.

Tentu saja bukan hari yang tanpa hasil sama sekali.

"Komunikasinya masih belum lancar, tapi lewat pola respons yang konsisten dan pembelajaran berulang, aku menilai fondasi hubungan saling percaya sudah mulai terbentuk. Menurutmu?"

"……."

"Kenapa diam?"

"Ya… tidak… ya… selamat pagi…."

"Sudah kuperingatkan jangan menjadikan ketidakmampuan berbahasa manusia sebagai perisai, kucing nakal."

Ia sedang membangun keakraban dengan para monster di dalam hotel. Mungkin hanya optimisme sepihak, tapi begitulah rasanya.

Mungkin karena gaya bermain yang kupilih.

Hotel ini bisa dikelola dengan berbagai cara. Di antaranya, cara yang ia sukai adalah rute tanpa membunuh. Alih-alih bermusuhan dengan monster, ia lebih memilih merangkul mereka sebagai sekutu melalui pengelolaan dan perjanjian.

Caranya sederhana. Cukup berikan pelayanan yang optimal kepada setiap tamu. Awalnya memang kesulitan, tapi masa iya pemain veteran 26 tahun tidak hafal strategi satu pun.

Meski pengaturan ceritanya bilang mereka lebih mendekati fenomena daripada makhluk hidup, tidak ada salahnya mencoba memahami keberadaan yang tidak dikenal. Kalau beruntung, mungkin bisa menarik fenomena sederhana itu ke taraf makhluk hidup dan menempatkannya dalam cakupan pemikiranku.

Tipikal pola pikir peneliti.

"Sekarang memang masih canggung satu sama lain… tapi kesempatan untuk saling mengenal cukup banyak, jadi perlahan pasti membaik. Mungkin memang belum terbiasa dengan cara masing-masing."

"Ya."

"Bukan hewan yang datanya melimpah seperti anjing atau kucing. Wajar kalau butuh waktu untuk beradaptasi."

"Ya."

Dulu waktu masih gumpalan grafis di game, ia hanya berpikir 'oh begini karakter ini' lalu berlalu. Tapi sekarang ini nyata. Mereka adalah keberadaan yang setara dengan makhluk hidup.

Tidak bisa lagi memperlakukan mereka sekadar seperti menyelesaikan permainan. Untungnya, pelajaran yang sudah didapat selama ini membantu.

"……."

Ternyata belajar dari coretan yang bahkan tidak layak disebut 'buku' itu memberikan manfaat nyata. Sebagai satu warga biasa maupun sebagai peneliti, harga dirinya cukup terluka.

Mata panda yang muncul belakangan ini mungkin karena kekurangan darah selama penelitian…

Bagaimanapun juga, fondasi hotel ini memang berasal dari sejarah yang tidak menyenangkan itu.

"Masih ada yang perlu dipelajari—itu hal yang patut disyukuri."

"Ya."

"Tapi kadang aku sampai lupa kenapa dulunya aku begitu menghindari pengetahuan ini. Sesaat seperti itu terasa cukup mengerikan."

Makanya ia berkata,

"Kalau yang menjadi bahan atau medianya bukan orang lain, melainkan diriku sendiri… itu justru mungkin kesimpulan yang masuk akal, bukan?"

"Tidak."

Kucing itu meledak dengan rengekan panjang.

"Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak."

Terhadap keributan mendadak seperti ini, ia sudah punya ketahanan yang cukup.

"Cukup."

"Ya."

"Terima kasih."

"Ya."

Meski kurang memahami manusia, Coco adalah teman yang baik—kalau diminta dengan sopan, ia selalu mau mendengarkan. Meski situasinya memang memaksa mereka untuk berteman tanpa pilihan lain.

"……."

…Tidak apa-apa juga.

"Hari ini mau berdiskusi soal topik ini?"

"Ya."

"Bagus, silakan duduk nyaman."

"Ya."

"Memverifikasi hasil suatu proyek adalah proses yang sangat serius. Begitu pula dengan memastikan dampaknya terhadap tubuh manusia. Cara yang paling pasti adalah langsung mengujinya pada manusia yang dijadikan sampel, tapi.. "

"Tidak."

"Sayangnya ada tembok bernama anggaran dan etika yang selalu menghalangi."

"Ya."

"Bahkan kalau beralih ke uji coba hewan pun, kesulitannya tidak berkurang. Terutama babi—harga per ekornya luar biasa mahalnya. Kecuali proyek besar berskala nasional, anggaran sebesar itu tidak akan disetujui. Di situlah kita bisa melakukan perubahan cara pandang yang sangat efisien."

"Ya."

"Menjadikan tubuh sendiri sebagai subjek percobaan setidaknya bukan hal yang ilegal."

"Tidak."

"Oh, poin yang valid. Tentu ada situasi di mana sulit menghindari pelanggaran hukum… tapi kalau bisa lolos dari tinjauan IRB, itu adalah percobaan yang sepenuhnya sah. Asal surat persetujuan sukarela sudah ditandatangani, risiko diminimalkan, dan semua syarat terpenuhi."

Yeonwoo membenamkan tubuhnya jauh ke dalam sofa. Ekspresi yang tadinya kosong perlahan berubah menjadi santai. Di tengah kehidupan terisolasi yang monoton, ini salah satu percakapan yang langka dan menyenangkan.

"Sebagai informasi, aku adalah pelanggan tetap tinjauan IRB."

Bukan kebanggaan—ini adalah keyakinan atas pengetahuan yang sudah teruji.

"Standar penilaiannya memang semakin ketat dari tahun ke tahun, tapi bagaimanapun itu bukan sesuatu yang ilegal."

"Ya."

"Dalam pengertian itu, meski ilmunya berasal dari sumber yang tidak murni, kalau yang menanggung risikonya adalah diri sendiri… bukankah itu bisa sedikit lebih bebas dari tanggung jawab etis?"

"Ya."

"Maksudnya tidak?"

"Ya."

"Wah, kukira itu gagasan yang cukup masuk akal."

Sudut bibirnya miring membentuk lengkung tipis.

"Memangnya hotel ini menanyakan pendapatku dan menculikku lewat prosedur yang legal?"

"Tidak…."

"Kalau begitu, aku rasa menanggung risiko secara sukarela di dalamnya sudah cukup bisa dimaklumi. Yang paling menarik adalah—ini hampir mengabaikan hukum kekekalan, tapi tetap bisa menghasilkan efisiensi yang melampaui itu."

"Ya, tidak, ya…."

"Tidak tahu bagian mana yang ingin dibantah dan bagian mana yang ingin disetujui."

"Ya."

"Begitu rupanya."


Apapun iyu, sekarang dia paham kenapa para fanatik itu begitu terobsesi dengan pengetahuan mengerikan tersebut.

Pengetahuan yang tidak menyenangkan ini menghasilkan sesuatu yang melebihi apa yang dimasukkan. Pura-pura mematuhi hukum kekekalan, lalu menggantikan sumber daya yang dibutuhkan dengan emosi dan jiwa manusia.

Rumus yang sesuai dengan itu pasti ada, tapi ia masih dalam tahap belajar.

"……."

Yeonwoo yang sedang mengira-ngira waktu melirik Coco.

Kucing yang melar. 

Cukup menggemaskan.

"Sudah waktunya naik?"

"Ya!"

"Baik."

Tepat saat ia kembali ke kamar untuk mengakhiri hari itu.

"……."

"…Selamat pagi?"

Ia langsung memahami apa yang ditunjukkan oleh tatapan Coco yang menatapnya dari bawah.

Seperti kucing ini adalah hotel itu sendiri, ia pun adalah keberadaan yang terikat pada ruang ini. Sekaligus sebagai pemilik dan general manager. Perubahan yang terjadi di dalam hotel ditangkap instingnya lebih dulu.

Indranya bergetar. Ketidakwajaran yang lengket dan tidak menyenangkan. Pertanda hadirnya tamu.

Tapi….

"—Ha,"

…kali ini berbeda dari sebelumnya.

"Sepertinya ada yang gila."

Itu jelas tamu manusia.

Siapa yang mengizinkan?



Gapyeong, Gyeongg??

Sebuah mobil sedan hitam melaju terseok-seok di atas jalan yang digenangi air hujan. Setiap kali ban menghantam lubang yang dalam, badan mobilnya berguncang keras.

"Aduh, lihat tuh jalannya."

"Sehabis survei ini sebaiknya mampir ke bengkel dulu."

"Rasanya kayak naik wahana. Pantat sampai sakit. Apa ini disco pang-pang?"

"Jalan tidak beraspal, mau bagaimana lagi."

"Kamu selalu cuek ya?"

Perempuan yang memegang setir itu mengomel dengan nada dibuat-buat. Mata yang menatap lurus ke depan memancarkan kelelahan yang dalam dan rasa muak yang sudah lama menumpuk.

Ini hujan deras biasa yang sudah lazim di musim hujan.

"Dengan cuaca begini, entah tim kameranya bisa bergerak dengan baik atau tidak."

"Itu yang harus dipikirkan oleh sutradara."

"Jadi tidak mau ikut memikirkannya? Hong penulis ini benar-benar tidak berperasaan, kita sudah kenal berapa lama. Ini ini, cintanya sudah mendingin."

"Haa…."

"Ah iya deh, aku yang salah."

Sutradara, Lee Seonhae, tertawa.

"Tapi suasananya bagus ya karena banyak gunung. Udaranya juga segar. Tadinya bukan tidak kepikiran mau ke Gangwon, tapi kalau segini Gapyeong juga tidak buruk. Sekalian diselesaikan di dalam Gyeonggi, beban para aktor juga berkurang."

"Memang lebih baik dari Gangwon, tapi Gapyeong juga tidak terlalu dekat. Kontur gunungnya juga tidak segarang yang diharapkan. Kalau Gangwon, tidak perlu masuk sedalam ini."

"Aduh, masih ngambek? Segini juga sudah seram dan bagus. Mati beberapa orang pun tidak akan ketahuan."

"Bukan soal bagus atau tidaknya, saya hanya…."

"Aku tahu ambisi penulis Hong, tapi kita tidak bisa seenaknya menggerakkan para aktor seperti alat. Sesama profesional kenapa begitu?"

"…Memang begitulah ambisi penulis aslinya."

Keduanya adalah sutradara film dan penulis cerita. Mereka datang untuk survei lokasi sebelum syuting.

Penulis Hong awalnya mengusulkan Gangwon sebagai lokasi syuting. Meski latar dalam cerita berada di wilayah Gyeonggi, ia memperkirakan Gangwon akan menawarkan lebih banyak kandidat lokasi yang berkualitas.

"Tidak, sejujurnya. Ambisi memang ada, tapi… kamu tahu kan."

"Ah, mengerti. Memang Cha Dohyeon agak begitu."

"Aku tahu menjelek-jelekkan aktor itu tidak ada untungnya, tapi aktor Cha itu benar-benar sulit ditangani. Sebenarnya pilihan Gapyeong juga karena ngototnya dia kan?"

"Dia memang bisa ngotot di level itu. Dan yang paling penting, tidak ada aktor yang lebih pas untuk peran utama naskah kali ini selain Cha Dohyeon. Yang lebih butuh yang harus mengalah."

"Untung Han Yeseol mau menyesuaikan jadwalnya dengan aktor Cha. Kalau tidak, jujur aku masih kesal sampai sekarang."

Penulis Hong Gyeongyeon menghela napas.

"Maaf, sudah mau menyetir juga tapi aku malah terus mengeluh."

"Ih, kita ini bukan muka yang ketemu seminggu sekali. Itu semua karena kelelahan—kalau badan tidak fit, jadi gampang sensitif dan tidak enak perasaannya."

"…Terima kasih."

Pria itu menyilangkan tangan dan bersandar ke sandaran kursi.

"Ternyata lebih lama dari perkiraan, masih jauh?"

"Kenapa? nyesel tidak minta yang lain saja?"

"Bukan begitu maksudnya."

Survei lokasi selalu penting.

Keduanya yang sudah lama bekerja berpasangan memang selalu seperti ini. Hanya menyerahkan riset dasar kepada staf, lalu langsung turun ke lapangan sendiri untuk mengecek lokasi. Proses yang tidak bisa dilewati untuk menyamakan gambaran.

Tentu saja kali ini dua orang dari tim kamera ikut bersama.

"Yang di belakang, mabuk perjalanannya tidak apa-apa?"

"Iya… untung minum obat sebelumnya."

"Terima kasih sudah mau jauh-jauh ikut."

"Ah, ini memang kerjaan kami."

Tanpa tim kamera, sulit mengira-ngira kondisi nyata di lokasi. Meski begitu, mengingat kontur gunung yang terjal dan lebat, tim sengaja dibuat sekecil mungkin.

Semakin banyak orang, semakin melelahkan bergerak di dalam hutan.

"Eh, tapi…."

"Ya?"

"Sepertinya hari cepat sekali gelap."

Di suatu hari pertengahan musim panas, ketika hujan deras terasa seperti menelan seluruh dunia.


"Oh, iya ya."


Derasnya hujan membuat jalan ke depan pun tidak terlihat.


Bersambung

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.