LANGITOREN
0%

11


Tidak mau makan.

"…Jujur saja, aku benar-benar tidak ingin makan."

"Tidak."

"Bukan rewel. Sungguh-sungguh tidak suka."

"Tidak."

"Coba ku lihat. Pertanyaan serius, apakah mekanisme biologis bernama asupan nutrisi pada tubuh ini memang dirancang dalam 'batas normal'?"

Yeonwoo memijat dahinya sambil menatap sepiring steak dan bubur sapi sayuran di atas meja.

Memang dia yang memicu permintaan itu, tapi sistem tetap memprosesnya sebagai permintaan room service biasa. Makanan muncul di dumbwaiter lantai 21, lalu langsung dibawanya ke kamar.

"Memang preset paling dasar di fase tutorial…."

Semakin jauh ke tahap akhir permainan, resep-resep 19+ yang melanggar batas kemanusiaan akan bermunculan, tapi sekarang masih tutorial. Secara visual, tampilannya tidak lebih dari 'makanan' yang terlampau rapi untuk disebut biasa saja.

Yang penting, makanan itu tampak bisa dikonsumsi manusia normal.

"……."

…Sedangkan Yeonwoo sekarang bukan 'manusia normal'.

'Sebenarnya, hal pertama yang perlu dikhawatirkan soal makanan hotel bukan tamu-tamu manusia, melainkan diri sendiri. Sudah bersukarela jadi kelinci percobaan, tapi begitu makanan ada di depan mata, kepercayaan diri langsung turun.'

Bukan situasi yang menyenangkan.

"Benar-benar boleh dimakan?"

"Ya."

"Tidak akan ada refluks, atau kerusakan dinding organ yang tidak bersalah?"

"Ya."

"Fungsi mengunyah dan menelan makanan…… ya, ada. Aku tahu."

"Ya."

Sistem jelas memiliki 'motion' yang relevan. Lebih mendekati konsep 'potion' untuk memulihkan status abnormal daripada sekadar mengisi perut demi bertahan hidup, tapi bagaimanapun tubuh ini memiliki proses menelan makanan.

Yeonwoo akhirnya memasukkan sesendok bubur ke mulutnya.

'…Rasanya terasa juga.'

Ia sempat menduga indera perasa mungkin sudah tidak berfungsi. Mengingat daya tahan tubuh yang rapuh, wajar saja bila sebagian dari kelima indera tidak sempurna.

Ternyata kekhawatiran yang tidak perlu. Rasanya begitu jelas, bahkan terasa tajam di ujung lidah. Pertahanan tubuhnya amburadul, tapi indera perasa justru berubah lebih sensitif dari seharusnya.

"Kenapa… kualitasnya setinggi ini?"

Rasa heran muncul, tapi di sisi lain ada rasa bangga yang aneh.

'Tidak menyangka makanan dalam Howon diasumsikan berkualitas setinggi ini.'

Rasanya seperti datang ke popup cafe imersif yang dirancang serius oleh perusahaan besar. Gambar virtual yang dulu hanya terlihat sebagai tumpukan piksel kasar di balik layar, kini berwujud nyata dengan bentuk yang begitu presisi.

"Masakan bintang 1, tapi kualitasnya segini?"

"Ya."

"…Kamu pernah makan?"

"Tidak."

"Oh."

"Oh."

Yeonwoo dengan cuek memotong steak seukuran satu suapan dan memberikannya ke Coco.

"……."

"Tidak ada reaksi."

"Oh."

"Ada ternyata."

Ekspresi Coco tetap terkunci pada senyum yang mengingatkan pada Cheshire Cat. Sulit membaca emosi dari wajah yang tidak berkedip itu, tapi — setiap kali daging diulurkan, mulut itu terbuka lebar. Itu sudah lebih dari cukup sebagai pernyataan sikap.

"Mukamu selalu sama, sulit sekali membaca reaksimu."

Yeonwoo bergumam dengan nada datar seperti sedang merapikan data eksperimen yang pelik, sementara tangannya terus memotong sisa steak.

"Oh."

"Mohon tunggu, tamu. Sedang menyiapkan pesanan."

"Oh."

"Pesawat terbang datang~"

"Oh. Oh."

"Nah."

Piring kosong dalam sekejap. Kalau dihitung proporsinya, sembilan persepuluh masuk ke perut Coco. Daging maupun bubur, tidak ada yang tersisa.

"……?"

Mulai timbul pertanyaan, apakah kucing monster itu punya batas nafsu makan.

'…Kalau makannya lahap, itu bagus.'

Dengan kesimpulan itu, Yeonwoo melanjutkan bicara.

"Makannya bagus, Coco."

"Ya!"

"Boleh sesekali minta tolong?"

"Ya!"

"Terima kasih."

"Ya!"

Dari hasil uji coba langsung, tidak ditemukan kelainan fisik. Tapi keamanan biologis dan selera pribadi adalah dua hal yang berbeda — Yeonwoo memang tidak terlalu menikmati kegiatan makan.

Maka kesimpulannya, beruntung ada teman makan yang andal.

"Setidaknya tubuh saya menerimanya tanpa masalah, jadi bukan racun rupanya."

"Ya."

"Kalau tubuh tua seperti ku saja tidak apa-apa, harusnya tidak masalah, tapi tetap ada banyak faktor yang belum sempat diperiksa. Bagaimanapun tempat ini, menyajikan sesuatu yang tidak pasti ke meja tamu bukan selera saya."

"Tubuh tua?"

"Maaf, lupa, awet muda. Tapi terlepas dari itu, semakin bertambah usia semakin banyak yang dikhawatirkan. Di sini tidak ada kit uji keamanan pangan. Ya, harus bagaimana… jaminan bahwa makanan itu bukan racun tetap belum ada."

"Jaminan."

Coco mendongak dan menatap Yeonwoo langsung.

Sudut mulutnya masih membentuk senyum aneh yang sama, tapi di balik sepasang mata itu ada keyakinan yang ganjil. Lafal yang terucap jelas tanpa satu pun otot wajah bergerak, setiap kali melihatnya tetap terasa asing.

Lalu Coco mendeklarasikan.

"Jaminan!"

"…Hah,"

Yeonwoo memperbaiki bingkai kacamatanya sambil melepas tawa kecil.

"Siapa yang menjamin?"

"Coco."

"Tidak menyangka bisa ada percakapan yang normal seperti ini…."

Tidak ada dasar logis, tidak ada bukti tertulis, tapi sikap yang mau bertaruh dengan nama sendiri itu cukup menggemaskan. Seperti keponakan kecil yang keras kepala demi meredakan kekhawatiran pamannya.

Dan….

"……."

Terlepas dari kegemasannya, co-owner itu memang jarang berbohong.

"…Dalam sistem yang tidak transparan ini, cuma 'kepercayaan pribadi' yang dijadikan jaminan? Cara yang sangat sederhana untuk urusan bisnis bersama, tapi ya sudahlah."

"Coco, jaminan."

"Tidak buruk."

Ada gunanya mengajari bicara.

"Kepercayaan diri tanpa dasar itu, sekali ini saya coba percaya."

"Ya!"

"Kalau nanti tamu-tamu terhormat mengeluh sakit perut, penanganan setelahnya jadi tanggung jawabmu juga sebagai co-owner. Mengerti?"

"Jaminan!"

"Bisa diandalkan juga."

Yeonwoo perlahan mengulurkan tangan, menggenggam kaki depan kucing yang lembek itu, lalu mengayunkannya pelan.

"Mohon kerja samanya, Coco."

"Ya!"

"Ya."


***


Sutradara berkata.

"Enak banget sumpah."

Penulis menegurnya.

"Tolong bicaranya yang sopan."

"Cita rasanya sungguh luar biasa hingga decak kagum tak tertahankan."

"Sutradara."

"Setiap suapan menghadirkan kedalaman dan keselarasan yang terkendali, memenuhi seluruh rongga mulut."

"Ya ampun."

"Sudah lama rasanya tidak menemukan cita rasa sesempurna ini. Kelezatan yang tak tertandingi hingga membawa."

"Saya yang salah."

"Aku pun berpikir begitu."

Sutradara itu menggerutu.

"Enak ya bilang enak, memangnya kenapa, malah dibilang kasar, norak…."

"Astaga. Tolong jangan fitnah, saya tidak pernah bilang itu."

"Tapi memang enak."

"Iya, padahal tadinya tidak berharap banyak, cuma mau makan yang ringan buat lambung."

"Sudah ke hotel sekelas sini masih tidak berharap."

"Bukan, kemarin saya sempat berpikir. Kalau sampai bawa makanan sendiri, tamu-tamu di sini mungkin datang lengkap dengan juru masak pribadi?"

"Eh… mungkin?"

"Kalau begitu di sini tidak ada juru masak umum, kira-kira begitu pikiran saya. Uji coba tapi kualitasnya bisa segini, itu yang aneh."

"Uji coba juga ada macam-macamnya."

Ada yang sekadar mengecek apakah operasional berjalan, ada yang sudah menyiapkan segalanya lalu mengkonfirmasi sebelum resmi membuka. Tempat ini tampak lebih mendekati yang kedua.

Sutradara menatap keluar jendela.

"Masih hujan."

"Sudah tidak sederas kemarin?"

"Ayo, mulai bergerak."

Ada tujuan datang ke sini. Survei harus selesai dalam seminggu.

"Harus cepat sebelum penulis kita pingsan ketakutan."

"Diejek lagi. Rasanya mau berhenti kerja sama."

"Uangnya sudah keluar, tidak bisa ditarik. Kontrak aktor juga sudah ditandatangani kan?"

"Tahu diri, Sutradara."

Mereka segera berkemas. Barang yang dibawa tidak banyak, karena tujuannya hanya survei.

Di lorong, lift berjajar. Jumlahnya banyak, tapi tidak satu pun yang menyala. Pertanda tamu hotel jarang bergerak.

Rombongan sutradara masuk ke lift yang turun sambil memastikan kunci.

"Kuncinya sudah dibawa?"

"Ya, Sutradara."

"Kalau begitu ayo, hujannya sudah menipis, pas untuk lihat suasana."

"Harus manfaatkan cuaca yang suram."

"Kebanyakan akan syuting di dalam ruangan, tapi yang mau diambil sebelum musim panas berakhir, harus diambil sekarang."

"Semoga musim hujannya lebih panjang."

Mereka tiba di lobi dengan cepat.

Udara lembap tapi lengang. Para staf tampak mengamati lobi. Sutradara itu pun demikian. Banyak hal menarik di tempat ini.

"Oh."

Sosok kepala manajer yang berdiri dekat meja resepsionis masuk ke pandangan. Penampilannya rapi seperti kemarin, tapi siluetnya yang terkena cahaya tipis pagi hari memiliki ketajaman yang berbeda.

Mungkin karena suara yang tanpa sadar terucap tadi, dia menoleh dan pandangannya bertemu dengan rombongan itu.

"Sudah turun."

Senyum dengan suhu yang pas, tidak terlalu ringan, tidak pula berat. Dengan tangan di belakang punggung, dia mendekat dalam langkah santai, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat. Langkah yang memancarkan pengalaman, menghormati ruang lawan bicara sambil secara alami mengambil kendali percakapan.

…Orang yang tahu cara menarik perhatian.

"Apakah istirahatnya menyenangkan?"

"Sangat menyenangkan. Sarapannya enak sekali."

"Senang mendengarnya. Tenaga dapur kami terbatas sehingga sempat khawatir, tapi berkat selera tamu yang tidak pilah-pilih, muka kami terselamatkan."

"Cara bicaranya lucu juga."

Lee Seolhae yang melihat Hong Gyeongyeon membeku di tengah percakapan keduanya, segera melanjutkan.

"Kami akan keluar… perlu berkeliling ke beberapa tempat."

"Begitu. Cuaca tidak bersahabat, kabut tebal, semoga perjalanannya aman."

"Terima kasih."

Setelah percakapan singkat, rombongan keluar dari hotel. Hujan dan kabut membuat sekeliling menjadi putih pekat.

"Pantas saja lantainya tergenang…."

Satu staf menatap langit dengan ekspresi jengah lalu berkata.

"Sutradara, hari ini biar saya yang menyetir."

"Tidak nyasar lagi seperti kemarin?"

"Sinyal sudah ada, tenang."

"Iya. Tolong nyalakan mesinnya dulu."

"Ya."

Dua staf masuk ke mobil. Mesin menyala dengan suara deru pelan. Sutradara itu berdiri dekat pintu hotel.

"……."

…Penulis menoleh menatapnya, ia bersuara hati-hati. 

"Kalian lihat?"

"Ya."

Sutradara itu teringat percakapan dengan kepala manajer tadi.

"Tangannya terluka parah."

Sampai darah menetes.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.