Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 55>
"Wah! Dapat!"
Tanpa disadari, para siluman sudah kembali dan membuat keributan. Sepertinya Baek-ran akhirnya berhasil menangkap ikan itu.
Namun, ikan itu tampak aneh. Wujudnya sangat mirip dengan kucing belang tiga. Tuan Do membawa ikan yang mengeong-ngeong itu dan menyodorkannya tepat ke depan mata Yu-dan.
"Lihat ini. Ajaib, kan? Namanya ikan kucing (Myoeo). Di mana lagi kau bisa melihat hal semacam ini?"
Karena tidak mendapat reaksi, Tuan Do menoleh ke arah yang lain dan menyahut, "Sepertinya dia sudah tertidur."
Mereka semua datang mendekat, menatap Yu-dan, lalu mulai berbisik-bisik.
"Apa dia bisa selamat melewati musim panas ini? Sepertinya dia butuh obat kuat. Bagaimana kalau kita potong sebelah lengan kita, lalu merebusnya untuk dia minum?"
"Boleh juga. Mau kuambilkan pisau?"
"Ya. Tapi, kalau Yu-dan tahu, dia pasti menolak meminumnya karena jijik."
"Jangan khawatir, Kak. Kalau kita campur ke dalam kola dan memberikannya, dia tidak akan sadar."
"Sempurna! Terlihat alami!"
"Tiba-tiba membawakan kola sambil mengayun-ayunkan lengan baju yang buntung sama sekali tidak terlihat alami."
"Ah, benar juga. Terus bagaimana?"
"Sudahlah, anak-anak. Dia merangkak ke sini karena ingin hidup. Kalau dia ada di rumah pada saat seperti ini, berbagai macam roh jahat pasti sudah mengganggunya."
"Paman juga kasihan pada Yu-dan, kan? Bagaimana kalau kita suruh dia tinggal di sini saja selamanya? Kita bisa merawatnya lebih baik."
"Dia sudah besar, apa lagi yang mau dirawat?"
"Aku kan cuma asal bicara."
Suara para siluman itu terdengar semakin menjauh. Tiba-tiba, Heukyo mengguncang tubuhnya dan membangunkannya.
"Makan. Kalau kau tidak bisa bangun, makanlah sambil tidur."
Heuk-yo mengancam dengan suara menyeramkan seraya terus menempelkan sepotong daging ayam panas ke mulut Yu-dan. Aksinya itu ketahuan oleh si kembar, yang langsung menyeretnya pergi. Kedua anak itu berbisik-bisik cukup lama di dekat kepalanya, lalu membawakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Mereka juga perlahan mengangkat kepalanya untuk membenarkan letak bantal.
"Pasti sangat melelahkan terjebak di antara dua dunia dengan tubuh manusia."
"Agar tidak ada yang mengganggu tidurmu, kami membuatkan sebuah jimat. Kami letakkan di sini, ya. Mimpi indah."
Setelah itu, Yu-dan benar-benar merasa nyaman.
Musim panas. Musim di mana segala sesuatu tumbuh dengan cepat sebelum disadari. Yu-dan tertidur lelap. Tidurnya begitu nyenyak sampai-sampai ia bertanya-tanya, apakah ia pernah tidur senyenyak ini sebelumnya?
Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Matanya terbuka dengan sendirinya. Ia sebenarnya tidak ingin bangun, tetapi tubuhnya bergerak sendiri dan memaksanya berdiri.
Malam sudah larut. Tidak ada siapa pun di beranda. Hanya ada boneka kertas yang sobek terbelah dua tergeletak di dekat kepalanya.
Mereka baru saja tidur. Itu juga sudah kubereskan.
Seseorang berbisik.
Yu-dan berjalan menyusuri lorong yang diselimuti kegelapan. Perasaannya linglung. Rasanya seperti mimpi, tetapi ia tahu ini bukan mimpi.
Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju kamar di sudut lorong. Ia pernah beberapa kali melihat si kembar berlari ke arah sana untuk mengambil sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Entah kenapa, kini ia merasa sangat ingin pergi ke tempat itu.
Begitu Yu-dan mendekat, pintu geser itu terbuka dengan sendirinya.
Berbagai barang tampak menumpuk di dalam ruangan. Ruangan itu gelap tanpa cahaya, tetapi anehnya semua terlihat sangat jelas. Perabotan antik, drum besar untuk ritual istana, patung kayu (jangseung) yang pangkalnya masih berlumur tanah, layar lipat, keramik, boneka kayu berpakaian pengantin... Di dinding juga tergantung pakaian-pakaian zaman dulu seperti chima jeogori atau mantel anak-anak (durumagi).
Semuanya tampak menakjubkan. Yu-dan mengeluarkan dan menurunkan barang-barang itu satu per satu untuk mengamatinya. Kamar kecil itu pun seketika menjadi berantakan. Awalnya memang terasa menyenangkan, tetapi ia segera merasa bosan.
Bukan. Bukan ini.
Ia merasa sedang mencari sesuatu, tetapi tidak tahu apa wujudnya. Yu-dan lantas membuka peti-peti itu satu per satu, sampai akhirnya ia menemukannya.
Dua pilar kayu seukuran lengan, dan satu cermin bulat.
Ini... hmm, apa ya ini?
Ah, ia ingat. Itu cermin Chucheon. Saat dia tidak bisa mengingat janjinya pada seorang manusia, si kembar pernah membawa cermin ini untuk mencoba melihat bagian dalam hatinya.
Bagian dalam hati.
Yu-dan mendirikan kedua pilar tersebut dan menyisipkan cermin di antaranya. Cermin bulat itu bergerak-gerak sendiri meski tidak disentuh.
Bayangan dirinya terpantul di sana.
Di belakang punggungnya, kegelapan seolah sedang menari. Ia menatap lekat-lekat bayangan yang terus membesar dan mengecil itu.
Perasaannya perlahan membaik. Namun pada saat yang bersamaan, sebuah dorongan yang tak bisa dijelaskan muncul merasuki dirinya.
Yu-dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di sudut sana, terlihat sebuah gagang pintu besi berbentuk bulat. Ia menghampiri dan menariknya. Sebuah pintu rahasia terbuka, menampakkan deretan anak tangga yang tersembunyi. Tangga itu sangat sempit, hanya muat untuk dilewati satu orang, dan dipenuhi debu tebal seolah tak pernah tersentuh.
Setelah naik sampai ke ujung dan membuka pintu, ia mendapati ruangan lain.
Ruangan itu tampak familier. Ia ingat. Itu adalah tempat dia bertemu dengan dewi muda yang kehilangan kekuatan ilahinya sehingga tak bisa kembali ke langit, tepat saat dewi itu turun untuk bermain di hari perayaan.
Yu-dan berjalan mengendap-endap sambil membongkar barang-barang yang menumpuk di sana. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali kehilangan minat. Barang-barang di tempat ini sudah terlalu usang sampai-sampai ia tidak tahu lagi apa fungsinya.
"Tidak ada yang lebih menarik dari ini?" gumamnya seraya menyapu pandangan ke sekeliling.
Sebelumnya ia tidak menyadarinya, tetapi tersembunyi di antara peti-peti yang menumpuk di sisi dinding, rupanya ada pintu lain. Saat ia mendekat, pintu itu berderit terbuka dengan sendirinya.
Ruangan di baliknya menyerupai sebuah makam kuno.
Di langit-langitnya yang melingkar, terlukis mural-mural tua. Ia menatapnya cukup lama, tetapi sama sekali tidak memahami apa maknanya.
Saat itulah, matanya tertuju pada kotak-kotak yang terletak di ceruk dinding. Itu adalah kotak harta karun yang berhiaskan ukiran emas. Ia mencoba menyentuh kotak yang paling besar dan berkilau, tetapi sepertinya kotak itu terkunci rapat dan tidak bisa dibuka.
"Membosankan."
Ia lalu beralih ke kotak terbesar kedua. Kotak itu tidak terkunci. Saat tutupnya terbuka, tampaklah sebuah belati yang tergeletak apik di atas kain sutra merah.
"Ah, ini..."
Yu-dan mengenalinya.
Baek-ran pernah memamerkannya dulu. Sebuah pedang dengan pola ukiran bunga emas yang seolah hidup. Rubah itu pernah bilang kalau belati ini biasa digunakan untuk ritual. Pedang yang mampu menebas seekor siluman rubah.
"Ternyata selama ini ada di sini."
Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam belati emas itu.
Gagangnya terasa pas di genggaman. Dingin, tetapi entah mengapa terasa menyenangkan. Dengan tangan yang lain, ia menahan sarungnya dan perlahan menghunus bilah pedang tersebut.
Mata pisaunya begitu putih dan tipis sampai-sampai menyilaukan mata. Persis seperti bongkahan es.
Jantungnya berdebar kencang saat melihatnya. Ia merasa melayang, seakan sedang menaiki wahana permainan yang melesat tinggi membelah udara.
Ia membuang sarung pedang itu begitu saja ke lantai dan melangkah keluar. Pintu pun tertutup dengan sendirinya di belakang punggungnya. Yu-dan berjalan melewati ruangan penuh barang usang tadi dan kembali keluar menuju lorong.
Seberkas cahaya redup menembus dari balik pintu kertas ruang kerja. Ia pun melangkah mendekat.
Sesuatu yang sedari tadi meringkuk di bawah pintu sontak mundur begitu melihat kedatangan Yu-dan. Sambil menyembunyikan belati emas itu di balik punggung, ia menggunakan tangannya yang bebas untuk menggeser pintu.
Aroma khas kertas-kertas tua langsung menyapa penciumannya. Ruang kerja yang dikelilingi oleh deretan buku kuno pun menampakkan wujudnya. Baek-ran, yang tengah duduk di bawah temaram lampu penerang, meliriknya sekilas.
"Jangan keluyuran dan kembalilah tidur. Bukankah besok kamu harus pergi ke sekolah?"
Siluman rubah itu sama sekali tidak menyadari apa pun. Sensasinya terasa seperti sedang menyimpan sebuah rahasia besar. Ia jadi tidak sabar ingin segera mengejutkannya.
Yu-dan melangkah semakin dekat.
Baek-ran tampak sedang menggelar gulungan kertas di atas meja.
"Ada beberapa tempat yang harus kukirimi surat, tapi aku sedang malas menulis. Aku juga harus segera..."
Ucapannya terhenti seketika saat ia menyadari sebilah pisau kini sudah bertengger manis di lehernya. Raut wajahnya yang langsung membeku tegang itu... sungguh pemandangan yang menyenangkan.
Yu-dan tertawa pelan.
"Kamu terkejut?"
Suaranya terdengar agak kaku. Terkesan linglung dan tak bernyawa.
Siluman rubah itu balas menatapnya. Saat pandangan mereka bertemu, tatapan Baek-ran menajam. Ia sepertinya sedang mencoba mencari tahu sesuatu.
"Ya. Aku sangat terkejut."
"Kalau aku menusukmu dengan ini, apa kamu akan mati?"
"Aku tidak akan mati."
"Kalau begitu, biarkan aku mencobanya. Pasti sangat menyenangkan."
"Jangan lakukan itu."
"Kenapa tidak boleh?"
"Aku memang tidak akan mati, tapi rasanya sakit."
"Ah, begitu ya. Tentu saja tidak boleh kalau rasanya sakit."
Yu-dan merespons dengan lambat. Baek-ran masih belum mengalihkan pandangan dari mata Yu-dan saat ia kembali bersuara.
"Kalau begitu, bukankah pedang itu harus diturunkan sekarang?"
"Hmm... aku tidak mau."
Yu-dan justru semakin mengeratkan genggamannya pada gagang pisau. Sekali lagi, ia merasakan sensasi euforia yang meluap-luap. Perasaannya melayang tinggi, seolah sedang terombang-ambing di atas wahana ekstrem. Ia menatap lurus ke dalam manik mata rubah itu dan kembali bertanya,
"Apa rasanya akan sangat sakit?"
"Ya."
"Sakit sampai rasanya ingin mati?"
"Sakitnya tidak sampai membuatku mati."
"Kalau begitu, aku sungguh ingin mencobanya sekali saja."
Ia kembali mengacungkan belati itu lebih dekat.
Rubah itu tampak panik lagi. Pupil matanya yang berwarna kecokelatan bergetar pelan sebelum akhirnya beralih fokus. Ke mana dia melihat? Yu-dan ikut melirik ke arah sana, ke lantai di bawah mereka. Bayangan Yu-dan yang berpendar diterangi cahaya lilin tampak bergerak-gerak sendiri. Bayangan itu membuat gerakan seolah-olah sedang bersiap menusuk sang rubah dengan pisau.
"Kukira ada apa..." Baek-ran bergumam pelan. "Padahal sudah susah payah kutidurkan, malah begini balasannya."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa."
Baek-ran kembali memusatkan pandangan pada Yu-dan. Senyum ramah kini telah kembali mengembang di wajahnya. Seakan-akan menyiratkan bahwa tidak apa-apa jika Yu-dan melakukan apa pun padanya.
"Pasti menyenangkan. Yang penting kamu tidak akan mati, kan?"
"Ya. Tentu saja," jawab Baek-ran mantap.
"Tapi, bukankah akan jauh lebih seru kalau darah yang keluar lebih banyak? Tidak, bagaimana kalau daripada menusuk, kamu langsung menebasnya saja? Coba potong leherku."
Mata Yu-dan langsung terbelalak antusias.
"Boleh begitu?"
"Tentu saja."
"Hebat!"
Namun, tepat saat ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram dengan sangat erat.
"Biar kubantu."
Pada saat yang bersamaan, embusan angin entah dari mana datang dan mematikan lilin. Ruang kerja itu seketika tersapu gelap gulita. Yu-dan langsung dilanda panik.
Eh? Tidak boleh gelap. Nanti aku...
Ia memberontak mencoba melepaskan diri, tetapi tangan siluman rubah yang sedingin es itu menekan dan memelintir pergelangan tangannya tanpa ampun. Pupil mata Baek-ran yang sebelumnya berwarna cokelat muda kini telah sepenuhnya berubah keemasan. Sebuah lingkaran api tampak berkobar menyala-nyala di dalam sana.
"Cepat lepaskan tubuh itu sekarang juga!"
Yu-dan tersentak kaget mendengar bentakan keras itu. Belati emas di tangannya langsung jatuh menggelinding karena tenaganya tiba-tiba lenyap begitu saja. Suara bentakan tadi seolah merenggutnya kembali pada kesadaran penuh.
Apa yang baru saja kulakukan?
Kedua kakinya seketika lemas hingga ia jatuh terduduk. Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya.
Suara langkah kaki berdebum keras di tangga saat Heuk-yo dan si kembar berlari naik dengan tergesa-gesa. Karena langsung melompat dari tempat tidur, ketiganya masih mengenakan piyama motif kelinci yang dimodifikasi dari hanbok. Mereka terkesiap melihat pemandangan kacau di ruang kerja.
"Cheonho-nim! Anda tidak apa-apa?!"
"Kenapa anak ini malah ada di sini? Bukannya tadi dia sedang tidur???"
"Tunggu dulu! Apa ini?!"
Begitu melihat belati emas yang tergeletak di lantai, mereka semakin syok. Bahkan di tengah kegelapan, raut wajah pucat pasi mereka terlihat begitu jelas. Heuk-yo langsung melompat maju menghalangi Baek-ran dan berseru marah,
"Kenapa pedang itu tiba-tiba bisa ada di sini?!"
"A-aku yang mengeluarkannya..." Yu-dan menjawab dengan tergagap. "Aku tiba-tiba terbangun, lalu berjalan keliling dan membongkar barang di sana-sini sampai menemukannya. Dan..."
Ia tidak sanggup melanjutkan sisa kalimatnya.
Kepanikan dan kebingungan menguasai dirinya. Apa yang sebenarnya hendak dia lakukan barusan? Tadi, tidak ada sebersit pun pemikiran di kepalanya bahwa menusuk seseorang dengan pisau itu adalah hal yang berbahaya. Itu hanya... terlihat sangat menyenangkan. Sungguh tidak masuk akal. Kenapa dia bisa memiliki jalan pikiran gila seperti itu? Dia baru saja mencari masalah. Benar-benar mencari masalah besar. Tidak butuh waktu lama sebelum pertumpahan darah sungguhan terjadi.
Dengan wajah pucat, ia mendongak menatap Baek-ran.
"Aku sungguh tidak berniat menusukmu—"
"Diamlah."
Siluman rubah itu memotong ucapannya dengan nada dingin, lalu memungut belati tersebut dan melemparkannya. Yu-dan bahkan tak sempat berteriak, tubuhnya membeku menempel di lantai.
Langsung dibunuh?! Setidaknya beri aku sedikit waktu untuk menjelaskan!
Akan tetapi, pedang itu tidak menancap di tubuhnya, melainkan mendarat keras dan tertancap di lantai tepat di depan ujung kakinya.
Pada detik itulah, bayangan Yu-dan langsung tersentak mundur dan kabur meninggalkannya. Yu-dan hampir tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Bayanganku kabur?
Di dalam ruang kerja itu, sebuah gumpalan yang warnanya sedikit lebih pekat dari kegelapan di sekitarnya tampak terbang berhamburan. Benda aneh itu melarikan diri dengan panik, menabrak sana-sini bagai burung yang tersesat masuk ke dalam rumah.
"Anak-anak, apa kamu melihatnya?" tanya siluman lain yang berada di sana kepada si kembar.
"Tidak kelihatan!"
"Aku juga tidak bisa melihatnya!"
Heukyo dan si kembar berusaha ikut menangkapnya, tetapi sepertinya mereka tidak mampu melihat wujud gumpalan itu karena suasana yang terlalu gelap.
"Itu dia! Di sebelah sana!"
Tepat saat Yu-dan mengarahkan telunjuknya, benda itu dengan sigap menyelinap keluar melalui celah di atas bahu si kembar. Angin berembus seketika.
"Berhenti kau!" teriak Heukyo.
Heukyo membuka paksa jendela lantai dua dan tanpa ragu langsung melompat ke bawah. Si kembar pun tak kalah sigap berlari kencang menuruni tangga.
"Sebenarnya itu tadi apa? Kenapa bayanganku..."
"Kita harus menangkapnya dulu. Simpan pertanyaanmu untuk nanti."
Angin malam berembus kencang menerpa wajah mereka. Baek-ran mengibaskan lengan bajunya dengan cepat, mengeluarkan sebuah tombak raksasa yang menjadi senjata andalannya.
"Cepat! Matamu bisa melihatnya dengan jelas, kan? Berjalanlah di depan!"
"Ah, baiklah!"
. . .. .... ........
