<Chapter 54>

Kisah ke-empat belas

<Bayangan Musim Panas>


​Pada hari Gye-chuk, cuaca cerah dan sangat panas. Pagi harinya, Mu-gyeong datang berkunjung. Kami meminum teh sambil bertukar cerita. Tiba-tiba di luar terdengar keributan, jadi aku melihat keluar. Warga desa gempar membicarakan sesuatu. Katanya, seorang wanita dari desa atas menusuk mati nenek tetangganya yang sering berselisih dengannya, dan wanita itu dibawa ke kantor pejabat. Terdengar desas-desus bahwa wanita itu dirasuki Geureumae, jadi aku merasa ganjil dan bertanya detail pada beberapa orang. Berikut ini adalah rangkuman dari apa yang kudengar;

Geureumae awalnya adalah dialek lokal untuk bayangan, tapi sepertinya kata ini juga merujuk pada semacam roh jahat. Makhluk ini sering muncul di musim panas saat bayangan terlihat jelas. Ia memangsa bayangan dan menggantikannya, membentuk wujud aneh dan merasuki manusia. Orang yang dirasuki Geureumae akan kehilangan akal sehat dan bertingkah semaunya. Masuk ke dapur orang lain untuk mencuri nasi, melepas pakaian dan menari sambil berteriak-teriak, atau mencelakai orang yang dibencinya.

​Di dalam kitab Zhongyong (Doktrin Jalan Tengah), ada istilah 'Haengbulgoeyeong (行弗愧影)'. Artinya, walau berjalan sendirian, seseorang tidak boleh merasa malu pada bayangannya sendiri. Hal tentang Geureumae ini mungkin dianggap cerita bohong karangan orang desa, tapi kebetulan sekali sejalan dengan ajaran orang suci zaman dahulu. Jadi bagaimana bisa diabaikan begitu saja? Kisah ini layak dijadikan pengingat agar kita senantiasa menjaga batin tanpa ada kelengahan sedikit pun.

-Catatan Harian Baek-sa (Baeksa-illok)-


●◉◎◈◎◉●



​Sinar matahari terasa panas.

​Kepala juga terasa panas. Seluruh dunia berputar-putar. Telinga berdengung. Sambil menahan pusing, Yu-dan akhirnya sampai di jalanan tradisional. Ia melintasi halaman depan rumah tradisional Hanok tua yang disulap menjadi kedai teh, mendorong pintu kayu, dan langsung menuju halaman belakang.

​Kebetulan, semua siluman sedang berkumpul di sana.

​Siluman rubah sedang memancing di atas lantai kayu. Hanya saja, dia tidak menurunkan kailnya di air, melainkan di atas kertas. Kail pancing panjangnya tertancap dalam pada lingkaran bulat yang digambar dengan kuas. Semuanya tutup mulut dan hanya menatap alat pancing, lalu tersentak kaget menyadari kehadiran Yu-dan.

​"Mengagetkan saja! Siluman juga bisa kaget kalau tiba-tiba ada manusia muncul di siang hari. Bisakah kamu berhati-hati sedikit?"

​Heukyo menegurnya, lalu kembali terkejut melihat wajah Yu-dan.

​"Kenapa wajahmu begitu? Ngomong-ngomong, sekolahmu? Bukannya ini waktunya kamu duduk di kelas?"

​"Aku pulang cepat."

​Jawaban itu membuat para siluman makin heboh. Mereka tahu betul bahwa Yu-dan sangat menghindari terlambat, pulang cepat, atau bolos. Siluman rubah meletakkan alat pancing dan bertanya.

​"Kamu menyentuh apa lagi kali ini?"

​"Aku tidak menyentuh apa pun."

​"Lalu kenapa kamu sakit?"

​Chae-seol mendekat, meraba dahinya, lalu membelalak.

​"Lihat suhu badannya! Kondisinya parah!"

​"Anu, mungkin ucapanku ini terdengar lancang, tapi...."

​Chae-woo berbisik sangat pelan pada semuanya.

​"Sebenarnya aku terus kepikiran. Soal Pohon Persik Dowonhyang waktu itu. Jangan-jangan langit menyadari kalau kita membuang Paman Manajer Park ke sana──."

​"Ini bukan hukuman langit."

​"Ah! Kamu bisa dengar? Tidak mungkin."

​"Itu masalahnya. Suaramu terdengar sangat jelas."

​Yu-dan meletakkan tasnya dan merangkak naik ke lantai kayu.

​"Setiap pergantian musim semi ke musim panas, aku pasti begini. Tidak bisa tidur. Kepala sakit sekali. Sampai tahun lalu aku mengira ini flu. Tapi karena merasakannya lagi kali ini, kupikir bukan itu."

​"Tentu saja bukan. Bagaimana bisa kamu begitu tidak peka?"

​Yu-dan tidak memedulikan ekspresi jengah siluman rubah. Ia telungkup di atas lantai kayu yang dingin. Dari bawah, terdengar suara sesuatu bergerak. Saat mengintip dari celah lantai, terlihat benda merah terang dengan banyak kaki sedang merayap lincah.

​"Apa itu?"

​"Ada apa di sana?"

​Heukyo mengulurkan tangannya ke kolong lantai. Karena tangannya tidak sampai, ia menghunuskan pedang panjangnya dan menusuk-nusuk heboh sampai akhirnya berhasil menarik benda itu keluar. Semuanya terkejut melihat benda yang meronta-ronta itu.

​"Kak! Dilihat dari mana pun, itu mirip wortel!"

​"Astaga! Dulu aku pernah duduk di sini mengupas wortel dan menjatuhkan satu. Ternyata jatuh ke kolong lantai kayu."

​"Padahal dulu siluman kelinci yang tidak bersalah disiksa habis-habisan karena disangka memakannya. Kasihan. Kakak jahat."

​"Ck ck. Saking lamanya di bawah lantai, wortelnya sampai berubah jadi siluman. Berikan padaku. Aku akan memeliharanya."

​Tuan Do menerima siluman wortel yang menggeliat dan melirik Yu-dan.

​"Ngomong-ngomong, maksudmu kamu bisa mendengar suara makhluk ini berjalan?"

​"Iya, kubilang juga apa."

​Yu-dan menyahut dengan suara lemas.

​"Aku mengerti."

​Baek-ran mengangguk.

​"Singkatnya, inderamu sedang meledak. Melihat lebih jelas, mendengar lebih jelas. Bahkan melihat halusinasi dan mendengar suara aneh. Kamu pusing tidak bisa jalan, setengah mati kelelahan, tapi tidak bisa tidur."

​"Ya. Benar."

​"Ini karena sedang musim panas. Musim saat energi melimpah memenuhi dunia dan segala sesuatu tumbuh subur. Hal yang sama juga berlaku untuk siluman, monster, hantu, dan roh. Sistem inderamu yang bisa mendeteksi semua itu menangkap seluruh pergerakan liar dan tidak sanggup menanggungnya. Gejala ini biasanya berlangsung beberapa hari lalu hilang sendiri, kan?"

​"Benar. Kamu tahu banyak. Jadi aku harus bagaimana?"

​"Bertahanlah."

​"Apa?"

​"Mau bagaimana lagi. Tubuhmu belum bisa menanggungnya. Nanti kalau sudah terbiasa, kondisinya akan membaik."

​"Kapan itu?"

​"Kamu sendiri tidak tahu, apalagi aku."

​"Kalau kamu tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu?"

​"Jangan membalikkan pertanyaanku."

Aku tidak membalikkan pertanyaan, aku cuma benar-benar penasaran. Karena tidak punya tenaga lagi untuk bicara, Yu-dan membalikkan badan.

​"Pokoknya, aku boleh tidur di sini, kan?"

​"Silakan. Selama kamu tidak terganggu dengan pancinganku." Anak laki-laki ginseng yang baik hati cepat menyahut.

​Seketika sekeliling menjadi sepi. Sepertinya semua pergi entah ke mana. Yu-dan kembali telentang. Sinar matahari menyinari wajahnya langsung. Ia menutupi dengan sebelah lengan dan posisinya pas. Langit biru terlihat melampaui atap miring. Lonceng angin berbentuk ikan bergoyang pelan tertiup angin.

​"Setidaknya di sini lumayan sepi."

​"Baguslah. Kamu sudah mengganggu kedamaianku, jadi setidaknya harus ada hasil baiknya," keluh rubah itu.

​"Begitu sepi, aku jadi mendengar suara macam-macam."

​"Abaikan saja."

​"Tidak semudah itu. Rasanya seperti ada banyak serangga masuk ke telingaku. Suaranya menjauh lalu mendekat lagi."

​"Sayang sekali."

​"Tapi saat kamu bicara, suara-suara itu hilang."

​"Benar-benar sayang sekali."

​Terdengar suara percikan air. Sayup-sayup dari jauh, terdengar ombak berdebur.

​"Jahat sekali. Kamu langsung diam."

​"Ssst! Nanti dia kabur."

​Baek-ran berdecak.

​"Tidak bisa begini. Aku harus cepat membuatmu pingsan. Biasanya aku memakai benda tumpul untuk situasi begini, tapi karena aku ini beradab...."

​"Kamu mau pakai senjata mematikan?"

​"Diamlah. Aku sedang berpikir."

​"Memikirkan jenis senjatanya?"

​"Iya, sepertinya gergaji mesin... bukan, tentang Pijeop."

​"Pijeop?"

​"Dulu, saat penyakit tidak diketahui atau obat apa pun tidak mempan, ada tradisi di mana pasien meninggalkan rumah dan pindah ke tempat lain untuk berobat."

​"Semacam pemulihan diri."

​"Benar. Di zaman Joseon, banyak raja, ratu, atau selir yang melakukan Pijeop ke kediaman kerabat atau bangsawan. Raja Taejo, Taejong, Jeongjo.... Di antara mereka, ada cerita menarik tentang Pijeop Raja Sejo."

​"Apa itu?"

​"Seperti yang kamu tahu, Raja Sejo merebut takhta keponakannya, Raja Danjong, melalui Kudeta Gyeyu. Maksudnya, beliau merebutnya secara paksa. Namun setelah naik takhta, beliau menderita penyakit aneh yang tidak diketahui penyebabnya."

​"Jangan-jangan itu perbuatan Unusuals?"

​"Mungkin saja begitu. Pada masa itu, penyakit seperti itu disebut Goejil (penyakit aneh). Tabib sehebat apa pun tidak bisa menyembuhkan dan obat mujarab tidak mempan. Akhirnya, Raja Sejo pergi ke kuil terkenal untuk menyembuhkannya dengan kekuatan Buddha. Tempat itu adalah Kuil Woljeongsa di Gunung Odaesan. Kuil yang dibangun Pendeta Jajang atas wahyu Bodhisattva Manjusri di masa Ratu Seondeok dari Silla."

​Baek-ran menggulung tali pancing pelan-pelan sambil melanjutkan ceritanya.

​"Setelah berdoa di Kuil Woljeongsa, Raja Sejo menuju Kuil Sangwonsa. Di tengah jalan, beliau menemukan lembah sungai yang jernih dan mandi di sana. Karena tidak ingin pelayan melihat tubuhnya yang penuh bisul bernanah darah, beliau menyuruh mereka pergi dan mandi sendirian. Saat itulah, terlihat biksu kecil sedang bermain di hutan."

​"Tunggu. Jangan bilang dia membunuh biksu itu karena melihat tubuhnya."

​"Tentu saja tidak. Raja Sejo memanggil biksu kecil itu dan memintanya menggosok punggungnya."

​"Alur yang tidak terduga. Walau dia raja, gatal di punggung tidak bisa ditahan. Singkat cerita, ternyata biksu kecil itu adalah keponakannya yang menyamar untuk balas dendam, kan? Raja Danjong."

​"Bukan."

​"Ya sudah, kalau bukan."

​"Biksu kecil itu menggosok punggung Raja Sejo dengan telaten. Setelah selesai mandi, Raja Sejo berkata kepadanya. 'Jangan katakan pada siapa pun kalau kamu habis memandikan tubuh raja.' Biksu kecil itu menjawab. 'Raja juga jangan bilang pada siapa pun kalau Raja sudah melihat Bodhisattva Manjusri langsung.'"

​Yu-dan berpikir sejenak.

​"Jadi maksudnya, biksu kecil itu Bodhisattva Manjusri?"

​"Benar. Raja Sejo terkejut dan melihat sekeliling, tapi biksu kecil itu sudah hilang tanpa jejak. Tubuhnya yang tadinya bernanah darah juga sudah sembuh total."

​"Aneh. Kenapa disembuhkan? Katanya dia merebut takhta."

​"Mungkin untuk memberikan pelajaran. Bagaimana aku bisa memahami pikiran Buddha? Singkatnya, Raja Sejo menyuruh orang menggambar wujud Bodhisattva Manjusri yang menyembuhkan penyakitnya, dan membuat patung Anak Manjusri. Tapi...."

​"Tapi apa?"

​"Aku bercerita untuk membuatmu pingsan, tapi kenapa kamu malah menyimaknya dengan serius?"

​"Ah, benar juga."

​Yu-dan memejamkan mata.

​Sambil mendengar suara tali pancing digulung dan tetesan air, ia berusaha tidur. Namun, ia tidak berhasil terlelap.

​"Bicara soal musim panas, aku juga punya kenangan."

​Siluman rubah bergumam seolah bicara sendiri.

​"Dulu, setiap musim panas selalu diadakan upacara besar. Orang dari berbagai daerah berkumpul untuk melihat wujud Cheonho. Keluarga yang mempersembahkan dupa di hari pertama biasanya menyusup lagi ke antrean di hari terakhir. Anak-anak kecil terlihat sudah tumbuh sedikit dalam hitungan beberapa hari saja, aku ingat betapa ajaibnya hal itu. Musim panas adalah musim yang seperti itu. Saat kita menoleh kembali, semuanya sudah tumbuh lebat tanpa disadari."

Saat kita menoleh kembali, semuanya sudah tumbuh lebat.

​Anehnya, kalimat itu meresap ke dalam benaknya.

​"Itu pasti cerita zaman dulu sekali, kan? Masa di mana banyak orang berkunjung itu...."

​"Zaman yang sangat lampau."

​Mungkinkah lebih dari seribu tahun yang lalu? Yu-dan membayangkan manusia kuno duduk mempersembahkan dupa di hadapan siluman rubah. Perlahan, ia mulai merasa mengantuk.

​"Ngomong-ngomong, soal itu."

​Suaranya terdengar jauh.

​"Bukankah itu aneh?"

​"Apa yang aneh?"

​"Namamu 'Ran' (Anggrek). Itu kan nama pot tanaman pembukaan toko. Kenapa hewan diberi nama tanaman? Sama saja seperti memanggil kucing dengan nama Ikan Saury."

​"Manusia yang memberikannya, aku bisa apa. Saat pertama kali lahir di tanah ini, mereka tidak tahu aku makhluk apa atau harus bagaimana menghadapi. Tidak pernah ada orang yang melihat Cheonho langsung. Karena tidak tahu harus memanggil apa, mereka melihat ekorku dan menamainya dengan hal paling berharga bagi mereka. Bunga anggrek dari negeri Jin. Karena itulah kejadian aneh di mana hewan diberi nama tanaman ini terjadi."

​"Lalu kenapa 'Baek' (Putih)? Cheonho kan berwarna emas? Harusnya Hwang-ran (Anggrek Emas)."

​"Katanya awalnya terlalu menyilaukan sehingga dikira warna putih."

​Yu-dan tertawa. Entah mengapa hal itu sangat lucu baginya. Baek-ran menggulung pancingan dan melihatnya.

​"Kondisimu benar-benar buruk."

​"Ah, benar. Kak Mi-a pernah bilang Cheonho punya sembilan ekor. Tapi kenapa yang kulihat cuma satu? Kadang memang terlihat menumpuk jadi dua."

​"Ah, soal itu ada ingatan yang menyakitkan."

​"...."

​".... Kalau aku bilang begitu, orang-orang biasanya langsung diam. Sangat praktis."

​Saat rubah bicara, sembilan ekor membentang di belakangnya seperti kipas. Yu-dan langsung terbangun.

​"Kamu bercanda?"

​Kepalanya langsung pusing. Ia kembali rebahan.

​Sayang sekali. Padahal tadi nyaris tertidur.

​Saat Baek-ran bercerita, rasanya ia bisa tidur, tapi begitu keadaan hening, rasa kantuk hilang.

​"Ah, iya. Kamu tidak bisa memainkannya? Apa namanya. Lagu tidur?"

​"Lagu itu sulit dikendalikan. Kalaupun bisa, aku terlalu malas meletakkan pancingan dan mengambil alat musik Geomungo."

​"Tapi aku benar-benar harus tidur sekarang."

​"Tolong, siapapun tolong singkirkan orang sakit ini dariku...."

​"Pikiranmu terdengar."

​"Tidak apa-apa. Masih banyak cerita tentang Raja Sejo yang sakit."

​"Raja macam apa isinya penyakit melulu? Cerita hal lain."

​"Tapi aku suka cerita Raja Sejo jatuh sakit. Bodhisattva Manjusri di Odaesan memang menyembuhkannya, tapi tidak semua orang sebaik itu. Menurut legenda, Raja Sejo pergi ke Gunung Geumgangsan saat menderita penyakit parah bernama Cheonilchang, dan...."

​Akhirnya, kantuk benar-benar datang.

​Tapi belum sampai pada tidur yang lelap. Antara sadar dan bermimpi, ia membuka mata setengah karena mendengar keributan.


. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu