Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 63>
Kisah ke-enam belas
<Mimpi Kirin>
Ratu Munmyeong dari klan Kim, permaisuri Raja Taejong Muyeol, adalah adik perempuan Kim Yu-sin. Sebelum menjadi ratu, kakak perempuannya yang bernama Bo-hui bermimpi naik ke puncak Gunung Seowonsan dan buang air kecil hingga membanjiri seluruh Seorabeol.
Setelah terbangun dan menceritakan hal itu kepada adiknya, Munmyeong dengan nada bercanda mengatakan akan membeli mimpi kakaknya itu dan membayarnya dengan sebuah rok sutra.
Beberapa waktu kemudian, saat Kim Yu-sin sedang bermain chukguk (sepak bola tradisional) bersama Muyeol, ia sengaja menginjak dan merobek tali pakaian Muyeol. Yu-sin mengatakan bahwa rumahnya dekat dan mengajaknya pergi ke sana untuk menjahit tali tersebut.
Setelah menyuguhkan arak, ia memanggil Bo-hui dan menyuruhnya melakukan pekerjaan menjahit itu. Namun, Bo-hui menolaknya dengan alasan ia tidak pantas mendekati seorang bangsawan terhormat dengan sembarangan hanya untuk urusan sepele semacam itu. Akhirnya, Munmyeong-lah yang datang dan menjahit talinya. Muyeol terpikat oleh Munmyeong yang cantik dan anggun, lalu menjadikannya sebagai istri.
Kemudian, ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Beopmin, yang kelak menjadi Raja Munmu.
『Seongho Seonsaeng Jeonjip』
●◉◎◈◎◉●
Ia menghantam pintu besi yang tertutup rapat dengan balok besi yang berat.
Bam! Bam! Bam! Dalam tiga kali pukulan, pintu itu hancur. Yu-dan melempar peralatannya dan menoleh ke belakang sambil memberi isyarat. Rekan-rekan anggota tim mendekat tanpa membuat suara langkah kaki.
Itu adalah rumah kelas menengah khas wilayah timur yang dilengkapi dengan kolam renang. Bagian dalamnya sunyi seperti tidak ada kehidupan. Namun, menurut informasi rahasia yang masuk, teroris bersembunyi di sana. Tanpa mengendurkan kewaspadaan, mereka menyusup masuk sambil membidikkan senapan mesin ringan.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar nyaring dan para teroris bermunculan dari kedua sisi. Dengan tenang, dia membidik dan menembakkan peluru secara beruntun.
"Argh! Argh!"
Para bajingan itu menyemburkan darah dan tumbang. Saat itu, terdengar jeritan dari belakang. Rekannya tertembak dan terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?! Bangun!"
Dia meraih dan membantunya berdiri, lalu kembali memberondongkan peluru.
Bahkan bajingan yang bertahan sampai akhir pun akhirnya tumbang.
Sambil mengganti magasin peluru, dia masuk ke dalam dengan hati-hati.
Kipas angin di langit-langit berputar. Seseorang sedang duduk di sofa kulit di depan televisi besar, memutar-mutar saluran dengan remote control. Yu-dan terkejut.
"Itu warga sipil!"
Kemudian orang itu menoleh.
"Tepatnya siluman sipil."
Barulah telinga rubah di atas kepalanya itu tertangkap oleh matanya. Yu-dan semakin terkejut.
"Kenapa kau ada di sini!"
Sementara itu, pertempuran babak kedua terjadi. Suara tembakan dan jeritan "Argh! Argh!" terdengar bersahut dengan riuh, alarm kebakaran juga mengeluarkan suara bising yang memekakkan telinga.
Siluman rubah itu tersenyum.
"Menarik sekali. Teroris melawan polisi?"
"Bukan polisi. Kami pasukan khusus antiteror."
"Jalur karier mu sepertinya salah. Kamu punya bakat sebagai terorisnya."
"Ah, sungguh! Apa yang kau lakukan di dalam mimpi orang lain! Keluar!"
"Apa kamu tahu? Mimpi itu penting."
Siluman rubah menangkap salah satu rekan anggota tim dan melepas topengnya. Yu-dan tersentak. Dia mengira bahwa itu adalah rekan Amerika, tetapi ternyata dia orang Korea dan wajahnya entah kenapa terasa familier.
"Kamu mengenalnya, kan? Siapa ini?"
"Anak yang satu kelompok denganku saat pelatihan fisik di SMP dulu."
Jika diperhatikan lagi, agen-agen yang lain juga adalah anak-anak pada masa itu. Meskipun dia tidak mengingat nama mereka dan hanya memiliki kesan samar tentang mereka.
"Itu bukan kenangan yang bagus, aku juga belum pernah melihat mereka lagi sejak saat itu, tapi kenapa tiba-tiba mereka muncul di mimpiku?"
"Katanya mimpi adalah pesan yang dikirimkan oleh alam bawah sadar. Pengalaman yang kita alami setiap hari dengan cepat menghilang ke dalam ketiadaan, tapi bayang-bayangnya terus menumpuk di alam bawah sadar. Ini mungkin semacam kompensasi. Kamu mengulang kembali ingatan masa pelatihan fisik yang berantakan dan melukai harga diri mu di dalam mimpi. Dengan membungku&g&&&&s diri mu sekeren mungkin sebagai sosok kapten yang cakap dalam menjalankan operasi antiteror sambil memegang senapan mesin ringan seperti ini."
Wajah Yu-dan memerah.
"Keluar."
Baekran mengabaikannya dan menggeledah.
Gumpalan pikiran mengganggu yang menggumpal seperti debu, ingatan memalukan yang disembunyikan, atau sisa-sisa emosi yang ada ikut terseret keluar.
"Ternyata tidak banyak hal menarik. Bisa dibilang kondisi mu lumayan baik. Tidak terlalu menyenangkan..... Apa ini?"
Rubah mengeluarkan buku harian usang dan membalik halamannya. Yu-dan segera merebutnya.
"Kubilang keluar! Sebenarnya untuk apa kau datang kemari?"
"Ah, benar juga. Aku hampir melupakan tujuan asliku. Sebenarnya, ada satu hal yang kuingin kamu bantu."
"Membantumu?"
Yu-dan bertanya balik karena mengira dia salah dengar.
"Memangnya ada yang bisa kubantu?"
"Kamu berniat melakukannya atau tidak?"
"Kulakukan. Ada apa?"
"Besok kamu akan bertemu dengan Unusuals. Ingatlah satu hal. Jangan pernah menjualnya."
"Oke. Tapi jual apa?"
Kemudian Baekran mengeluarkan sebuah gulungan, membukanya, dan menunjukkannya. Cahaya yang sangat terang mencuat.
"Wah....."
Mata Yu-dan membelalak bulat.
Seekor binatang dengan lima warna bertanduk satu melompat keluar dari gulungan itu. Kepalanya menyerupai naga dan tubuhnya seperti rusa.
Mengikuti binatang misterius itu, gulungan tersebut terbentang panjang. Musik tradisional pun mengalun, lalu raja-raja Dinasti Joseon yang mengenakan jubah kebesaran naga menari-nari dan mengelilingi Yu-dan. Raja Sejong yang Agung mengacungkan jempolnya, dan mereka semua berkumpul lalu mengangkat serta melemparkan Yu-dan ke udara sebagai bentuk perayaan. Tubuhnya melayang-layang di udara.
Tinggi ke langit, lebih tinggi, dan lebih tinggi.........
Dia langsung membuka matanya saat mendengar suara jam weker.
Kepalanya terasa linglung. Mimpi konyol macam apa ini?
Yu-dan kembali berbaring. Tanpa sadar dia tertidur lagi, lalu terbangun dengan kaget dan langsung melompat. Dia hampir pingsan karena kaget saat melihat jam.
Seharusnya aku tidak tidur lagi!
Ini benar-benar krisis. Dia mencuci muka asal-asalan, memakai seragam sekolahnya dengan terburu-buru, dan langsung berlari keluar.
Gawat. Aku pasti terlambat.
Saat itu sakunya bergetar. Pesan apa di jam segini? Dia mengeluarkan ponselnya sambil berlari dan menatap layarnya.
'[Informasi Kehadiran Sekolah] Karena asap masuk ke area sekolah akibat kebakaran di tempat pemilahan sampah, kehadiran sekolah ditunda selama 1 jam........'
Matanya membesar dan langkah kakinya otomatis berhenti.
Apa ini? Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini! Jadi aku tidak perlu terburu-buru?
Karena sangat beruntung terhindar dari keterlambatan, hatinya pun menjadi lega. Barulah dia merasa lapar. Namun, kembali ke rumah juga rasanya tanggung.
Apa yang harus kulakukan?
Saat dia sedang berpikir, karyawan dari restoran waralaba hamburger di sebelahnya keluar membawa nampan.
"Halo! Ini adalah sampel gratis untuk menu baru kami!"
Apa? Benarkah?
Sambil menatap dengan setengah tidak percaya, karyawan itu tersenyum dan memberikan sebuah hamburger yang baru saja dibuat dan masih hangat ke tangannya. Kebetulan sekali ada hamburger gratis di saat sedang lapar. Bagaimana bisa aku seberuntung ini.
Yu-dan pergi ke sekolah dengan perasaan senang.
Sambil terbatuk-batuk karena asap yang menyesakkan, dia berjalan di lorong lalu ada seseorang yang menghentikannya. Saat dia melihat siapa itu, ternyata guru Sejarah Nasional.
"Hei, kamu. Laporan pengamatan artefak yang kamu kumpulkan waktu itu ditulis dengan sangat baik. Jadi aku memasukkannya ke dalam lomba menulis sejarah remaja, dan baru saja ada pemberitahuan bahwa kamu lolos ke babak final. Kamu mungkin akan memenangkan juara pertama."
"Haaah?"
Kenyataan bahwa guru Sejarah Nasional mengenalnya saja sudah tidak masuk akal, lalu omong kosong macam apa ini? Laporan pengamatan artefak itu, maksudnya yang kapak genggam?
Aku benar-benar menuliskannya dengan asal-asalan, rasanya seperti sekadar menggambar huruf di atas kertas hanya untuk memenuhi kuota halaman saja! Apa yang dia pikirkan sampai mengirimkannya ke lomba menulis sejarah? Dan apa yang mereka pikirkan sampai meloloskanku ke babak final? Apa mereka semua sungguh membacanya?
Dia duduk di kursinya dengan perasaan tercengang.
Kejadian-kejadian aneh terus berlanjut. Tiba-tiba ada kuis matematika, jadi dia menebak jawabannya dengan asal, tetapi secara mengejutkan dia mendapat nilai seratus. Padahal dia benar-benar menulis angka dengan asal-asalan.
Sulit dipercaya.
Meskipun dia tertidur saat pelajaran, tidak ada seorang pun yang menegurnya. Meskipun anak-anak di depan, samping, dan belakangnya tertangkap basah, hanya Yu-dan yang selamat.
Entah kenapa menu makan siang sekolah berubah menjadi ayam goreng. Ibu kantin memberikan porsi yang menggunung hanya kepadanya sambil berkata, "Aduh aku mengambil terlalu banyak."
Saat melewati halaman sekolah, paman satpam tidak sengaja menjatuhkan selang air sehingga semua orang tersiram air, tetapi dia yang berdiri tepat di depannya justru tidak terkena setetes air pun.
Apa ini? Bagaimana bisa keberuntunganku begitu konsisten seperti ini?
Bahkan karena asapnya tidak kunjung hilang, pelajaran pun diakhiri lebih awal. Katanya besok sekolah mungkin akan diliburkan juga. Ini adalah hal yang selalu diimpikannya. Karena terlalu senang, dia bahkan tidak bisa menutup mulutnya.
Saat dia berjalan keluar gerbang sekolah dengan santai, dia melihat seekor anjing putih yang talinya terlepas berlari menuju jalan raya.
"Hei! Kau gila ya?"
Dia segera menginjak talinya dan menangkap anjing yang melompat itu. Tepat pada saat berikutnya, sebuah bus melintas dengan kecepatan tinggi.
"Tolong pegangi anak anjing itu!"
Seorang pria tua bergaya modis yang mengenakan topi berburu berlari dengan wajah menangis. Melihat Yu-dan yang telah menangkap anjing itu, dia mengelus dada dengan wajah sangat lega.
"Kukira dia tadi sudah pasti tertabrak bus itu! Kau benar-benar siswa yang baik! Apa yang kau lakukan? Cepat berikan hadiah!"
"Baik, Presdir."
Ajudan yang mengikutinya di belakang dengan cepat memberikan sebuah amplop putih ke tangannya.
"Permisi!"
Dia mengejar karena panik, tetapi mereka langsung menghilang keq dalam sedan mewah berlogo sayap elang. Sambil berdiri terbengong, dia membuka amplop itu. Terlihat ada lebih dari seratus lembar uang kertas berwarna biru.
"A-apa ini........"
Kejadian yang terasa begitu tidak nyata ini bahkan membuat tangannya sedikit gemetar.
Menangkap anjing sekali saja sudah menghasilkan uang sebanyak ini. Wah....... Apa yang harus kulakukan dengan ini? Membeli game? Apakah boleh membelinya? Tentu saja, kan? Ini sepenuhnya uang cuma-cuma.
Kakinya tanpa sadar melangkah menuju pusat perbelanjaan elektronik.
Kejadian aneh tidak berhenti sampai di sana. Saat dia hendak masuk ke dalam, ada seorang wanita yang berdiri di depan pintu dan berbicara dengan nada tinggi.
"Apa? Baiklah! Oke! Kita putus! Aku bahkan tidak mau melihat wajahmu lagi!"
Wanita itu memutuskan panggilan teleponnya dengan marah. Dia baru saja hendak membanting tas belanja besar di tangannya yang lain ke lantai, tetapi saat dia melihat Yu-dan, dia bergegas menghampirinya dan menyodorkan seluruh isi tas belanja itu kepadanya.
"Kau mau ini? Aku membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk pacarku, oh bukan, mantan pacarku, tapi sekarang aku tidak butuh ini lagi!"
Tanpa mendengar jawaban Yu-dan, dia langsung mendorong braangnya ke pelukan Yu-dan dan pergi begitu saja.
Yu-dan terkejut melihat isi di dalamnya. Itu adalah konsol game portabel terbaru bulan ini. Tersedia juga berbagai macam game baru.
"Bukan, kekasih sebaik ini..."
Yu-dan kehilangan kata-katanya.
Kenapa dia harus masuk ke tempat ini tepat pada saat itu dan mendapatkan keberuntungan yang begitu besar. Ada apa dengan hari ini? Sebenarnya apa yang terjadi?
Barulah dia merasakan kejanggalan.
Kenyataan tidak mungkin seperti ini. Kejadian yang terlalu beruntung tidak mungkin terjadi berturut-turut. Sesuatu sedang mendistorsi realita. Sebuah kekuatan yang sangat kuat.
Saat dia berdiri dengan pandangan kosong, seseorang mengetuk-ngetuk kakinya. Tanpa sadar dia menunduk dan terkejut. Itu adalah seekor tikus yang mengenakan saekdong jeogori (pakaian tradisional dengan lengan belang berwarna-warni).
"Permisi, apakah Anda ada niat untuk menjual hal itu?"
"Apa? Konsol game?"
"Bukan. Anda sudah tahu, kan. Hal yang itu."
"Tidak, aku tidak tahu. Apa maksudmu?"
Tikus itu berbisik secara sembunyi-sembunyi.
"Maksud saya Mimpi Kirin."
"Mimpi Kirin?"
Yu-dan bertanya balik.
Kalau Mimpi Kirin...... Mimpi tentang Kirin?
Barulah dia teringat. Mimpi konyol tadi malam itu. Bersamaan dengan sinar mentari pagi, ingatannya memudar dan tanpa sadar dia telah melupakannya sepenuhnya.
Bukankah siluman rubah mengatakannya? Bahwa dia akan bertemu dengan Unusuals. Jangan pernah menjualnya.
Yu-dan menunduk menatap tikus itu.
"Aku tidak menjualnya."
"Ah, begitukah?"
Tikus itu menghilang dengan wajah kecewa.
Begitu rupanya. Ini adalah Unusuals. Pantas saja terasa aneh.
Mimpi sangat berkilau yang ditunjukkan Baekran kepadanya itu adalah Mimpi Kirin. Itu adalah mimpi yang sangat membawa keberuntungan. Karena itulah semua hal aneh ini tampaknya terjadi.
Dia kembali menatap kedua tangannya.
Pertama-tama, mari letakkan konsol game ini di tempat yang aman.
Dia segera bergegas menuju ke rumah.
Di pintu masuk kompleks apartemen, ada sebuah patung Dua Belas Dewa Zodiak yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya. Saat dia melihatnya lagi, ternyata itu bukan patung ukiran. Jenderal berkepala ular itu menatap Yu-dan dan mendekatinya.
"Apa kau punya niat untuk menjualnya?"
"Tidak."
"Kalau soal harga, aku bisa membayarnya berapa pun."
"Aku tidak menjualnya. Sama sekali tidak."
Sambil sangat waspada, dia segera masuk ke dalam rumah.
Yu-dan berjalan terhuyung-huyung sambil memeluk tumpukan kotak yang menggunung.
Apa aku terlalu serakah? Namun, saat dibilang benda itu akan cepat basi, dia tidak punya pilihan lain.
Heukyo yang sedang memotong ranting pohon di halaman dengan memakai sarung tangan tukang kebun, melihat ke arah sini, lalu melempar gunting pemangkasnya, berlari, dan menerima serta memeluk kotak-kotak itu.
"Apa yang terjadi? Mungkinkah kotak-kotak ini semuanya kue?"
"Aku pergi untuk membelinya tapi malah mendapatkannya secara gratis. Katanya ada yang memesan sepuluh buah tapi tiba-tiba dibatalkan, dan aorang itu sudah membayar semuanya. Karena mereka kesulitan mengurusnya, mereka menyuruhku membawa sebanyak mungkin yang aku bisa........."
"Paman Do! Cepat matikan api di penanak nasi! Anak-anak! Makan malam hari ini adalah kue!"
Terdengar suara obrolan dari dalam, lalu Paman Do dan si kembar berlari keluar. Melihat tumpukan kotak kue di halaman, semuanya melompat kegirangan.
"Kukira tidak mungkin, ternyata benar! Hebat! Mimpi Kirin itu!"
Teriak Paman Do. Yu-dan bertanya.
"Kalian sudah tahu?"
"Tentu saja. Cheonho-nim sudah memberi tahu kami. Katanya dia memberikan Mimpi Kirin kepadamu? Dia sudah menunggu sejak pagi."
Segera setelah mereka masuk ke dalam, pesta kue langsung digelar. Siluman ular itu merebus seketel besar kopi di teko nikel dan membawanya kemari.
"Kak Heukyo, kenapa hari ini minumnya kopi, bukan teh?"
"Harus didampingi minuman pahit agar kuenya bisa masuk lebih banyak."
"Siapa yang mau merebutnya? Di sini kan hanya ada kita saja."
"Eiy, cuih cuih! Adikku, sekalian saja kau rebuskan obat herbal!"
"Ide yang bagus!"
Di samping para siluman yang asyik mengobrol, siluman rubah tersenyum dengan cerah.
"Bagaimana? Menyenangkan, bukan?"
Yu-dan mengangguk.
"Ini pertama kalinya seumur hidupku mendapatkan hari yang begitu beruntung. Tapi kenapa harus Mimpi Kirin? Padahal tidak ada hubungannya dengan jerapah."
Paman Do menyemburkan kopinya.
"Cukup lucu. Ternyata bocah manusia memang langsung kepikiran tentang hewan jerapah."
"Yang dimaksud kirin di sini bukanlah hewan jerapah, tapi Kirin yang sesungguhnya."
"Kirin yang sesungguhnya?"
"Maksudnya Kirin, makhluk suci di dalam legenda."
Baekran menjawab.
"Nama hewan jerapah di kebun binatang awalnya diambil dari tempat lain. Orang-orang memberikan nama makhluk suci Kirin pada hewan tutul asal Afrika yang dibawa oleh Zheng He, seorang kasim dari Dinasti Ming, saat melakukan ekspedisinya. Kirin yang sesungguhnya adalah ini."
Saat dia menyingkap kain layar lipat di belakangnya, tampaklah binatang lima warna yang sedang asyik bermain dengan tenang di antara awan. Binatang bertanduk satu yang kepalanya menyerupai naga dan tubuhnya seperti rusa. Yu-dan langsung mengenalinya.
"Ah, makhluk ini! Kukira dia cuma peran figuran di mimpiku! Dan raja-raja itu tokoh utamanya!"
"Bukan. Ini adalah Kirin, si tokoh utama. Raja-raja pada masa itu justru merupakan peran figuran yang dimaksudkan untuk membuat Kirin lebih menonjol."
Baekran menunjuk dengan tongkat kecil sambil menjelaskannya.
"Betina disebut Ki, jantan disebut Rin, sehingga jika digabung menjadi Kirin. Kirin adalah binatang pembawa pertanda baik yang menandakan datangnya zaman damai dan makmur. Munculnya Kirin di dalam mimpi memiliki arti yang sangat penting."
"Arti apa?"
"Siapa pun bermimpi saat tidur. Sebagian besar hanyalah bayangan dari realita seperti yang telah kulihat ke dalamnya, tetapi ada juga mimpi yang tidak demikian. Mimpi-mimpi yang spesial. Mimpi nyata (Hyeonmong) yang menunjukkan apa yang akan terjadi di masa depan apa adanya. Mimpi berlawanan (Yeokmong) yang menunjukkan masa depan secara berkebalikan. Mimpi konsepsi (Taemong) yang menjadi pertanda akan dikandungnya seorang bayi. Mimpi baik (Gilmong) yang menjadi pertanda akan terjadi hal bagus dan mimpi buruk (Hyungmong) yang menjadi pertanda hal buruk. Mimpi Kirin tentu saja merupakan mimpi baik. Terlebih lagi, ini bukanlah sekadar mimpi baik biasa. Aku akan memberimu satu pertanyaan di sini. Mimpi apakah yang sering kali dikenal orang sebagai mimpi baik yang terbaik?"
Chaewoo menelan kuenya dengan sekali lahap lalu menjawab.
"Tentu saja mimpi naga."
"Kau ini tidak tahu apa-apa."
Heukyo membantahnya.
"Zaman sekarang ini mimpi tentang presiden dihargai lebih tinggi daripada mimpi naga. Khususnya mimpi di mana presiden memberitahukan suatu angka adalah yang terbaik. Ah, kenapa ya tidak ada presiden yang suka memberitahukan angka mengunjungi mimpiku."
"Itu karena Kakak tidak pernah memberikan satu suara pun pada presiden itu. Kita ini tidak punya hak pilih, jadi sudah pasti gagal. Presiden yang suka memberitahukan angka tidak akan pernah muncul dalam mimpi para siluman. Muncul sekali seminggu di mimpi para manusia saja dia sudah terlalu sibuk."
Chaesol memajukan bibirnya. Baekran tersenyum lalu berkata.
"Mau mimpi naga atau mimpi presiden, itu sama saja. Seperti yang bisa kalian ketahui dari sebutan wajah raja sebagai wajah naga (yongan), sejak zaman dahulu simbol dari raja adalah naga. Bagaimanapun juga, Mimpi Kirin jauh lebih membawa pertanda baik dan jauh lebih bagus dibandingkan mimpi naga semacam itu. Itu tidak hanya terbatas pada meraih kekayaan dan kehormatan atau melahirkan anak yang kelak akan menjadi pahlawan. Raja Taejo Wang Geon. Raja Taejo Yi Seong-gye. Mimpi ini adalah mimpi yang dialami oleh para pendiri suatu negara."
"Benarkah?"
Yu-dan terkejut.
"Ternyata sehebat itu? Karena mimpi itu membiarkanku pergi terlambat ke sekolah, memberiku makan hamburger, dan memberiku konsol game, kukira itu hanya sekadar mimpi yang membawa keberuntungan sangat besar."
"Ini tentu saja hal yang sudah sewajarnya, namun karena mimpi juga akan berbeda-beda tergantung dari kapasitas orang yang menerimanya. Jika itu Wang Geon atau Yi Seong-gye, mereka mungkin bisa mendirikan sebuah negara, tetapi jika orang biasa yang mendapatkannya, sehebat apa pun Mimpi Kirin itu, pasti akan ada batasnya........ Hmm, lagipula karena alasan itulah semuanya berkumpul untuk membeli Mimpi Kirin."
Siluman rubah rasanya seperti baru saja menghina Yu-dan, namun ada cerita lain yang lebih menarik perhatiannya daripada hal itu.
"Lalu, apakah mimpi bisa diperjualbelikan?"
. . .. .... ........
