LANGITOREN

Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 73>


 

​"Panggil aku keluar."

​Yu-dan berdiri di pintu masuk rumah sakit sambil membaca cerita horor Hantu Boneka.

​Di atas tangga, boneka badut itu muncul. Dia dengan cepat membuang cangkangnya dan berjalan terhuyung-huyung dalam wujud seorang pria kurus kering.

​"Permisi, apakah di sini ada ibu saya, eh, pasien bernama Nam Yeong-im..."

​"Tunggu sebentar. Pasien Nam Yeong-im... Ya, ada di kamar 506."

​Perawat itu memberitahu. Dia pun naik lift.

​Bau obat disinfektan menusuk hidung di lorong. Di setiap kamar, tampak lansia-lansia berambut putih yang dipotong pendek dengan pandangan mata buram sedang duduk. Di tengah suara televisi yang mengoceh sendiri, entah dari mana terdengar teriakan aneh seseorang.

​Pria itu mencari dan masuk ke kamar 506. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangsal lalu berjalan ke satu sisi. Di sana ada seorang lansia kecil berambut putih, yang sulit dibedakan apakah ia kakek atau nenek, sedang menatap televisi dengan mata seperti ikan mati. Pria itu menatap lansia tersebut untuk waktu yang lama.

​"Apa dia melupakanku karena demensia?"

​"Mau aku tanyakan sejak berapa tahun mulainya?"

​"Tidak. Sudahlah. Apa gunanya sekarang. Lagipula sekarang aku bahkan tidak bisa mengucapkan kata maaf."

​"Ibu. Mi instannya, enak kok."

​Mata buram lansia itu hanya terpaku pada televisi. Dari arah sana, terdengar suara obrolan para perawat.

​"Putranya? Putra yang mana? Bukannya tadi pagi dia sudah datang dan pergi?"

​Pria itu terkejut dan langsung bangkit berdiri, lalu berjalan keluar dari rumah sakit begitu saja. Yu-dan dan gadis itu pun mengikutinya keluar.

​"Sepertinya seharusnya aku tidak datang."

​Tubuh hantu yang setengah transparan itu sedikit gemetar.

​"Bicaralah selagi kau bisa. Kalian semua tidak tahu betapa besarnya keberuntungan bisa berbicara saat masih ada orang yang bersedia mendengarkan."

​Tanpa mengucapkan selamat tinggal, dia berbalik dan berjalan gontai menuju ke arah matahari terbenam yang memerah, lalu menghilang.

​Yu-dan memandangi tempat kosong yang ditinggalkannya sejenak.

​"Sayang sekali."

​Gadis itu bergumam.

​"Andai saja ingatan nenek itu kembali walau hanya sesaat, pasti akan terasa persis seperti di film. Sepertinya dia datang terlalu terlambat. Tapi setidaknya syukurlah dia bisa pergi. Sulit, ya. Benar, kan?"

​"Kau tidak pergi?"

​"Aku akan pergi."

​Gadis itu menjawab.

​"Hal yang paling kusukai saat berbaring setiap hari adalah televisi. Aku pernah berpikir, jika suatu saat nanti penyakitku sembuh, aku ingin bertemu langsung dengan para artis yang selama ini hanya kulihat di layar..."

​Lalu dia menyeringai memamerkan gigi gingsulnya.

​"Bertualang dengan seru seharian penuh ternyata tidak buruk juga. Hidup memang harus dinikmati. Kakak juga harus menikmatinya semaksimal mungkin. Selagi masih hidup. Kalau begitu, selamat tinggal."

​Gadis itu melambaikan tangan lalu menghilang.

​Ternyata mereka semua pergi dengan sendirinya.

​Entah kenapa dia merasa seperti anak kecil yang ditinggal sendirian di taman bermain. Tentu saja itu pikiran yang konyol. Karena tempat ini adalah dunia orang hidup, dan merekalah yang sebelumnya tertinggal sendirian.

​Yu-dan duduk di atas tembok bata rendah di tepi jalan. Meskipun semuanya sudah selesai, bukannya merasa bangga, perasaannya justru terasa berat. Sambil menatap matahari terbenam, dia kembali merenungkan kata-kata terakhir yang ditinggalkan para hantu sebelum pergi.

​Hiduplah dengan keren.

Berbuat baiklah pada orang-orang di sekitarmu.

Bicaralah selagi bisa berbicara.

Nikmati hidup semaksimal mungkin.

​Apakah itu adalah kebenaran hidup yang mereka sadari dengan cara mereka sendiri selama hidup yang tidak panjang itu? Meskipun itu bukan kutipan luar biasa, sepertinya lebih baik jika dia mengingatnya. Sungguh aneh. Tidak disangka ada hal yang bisa dipelajari dari hantu.

​Yu-dan bangkit berdiri.

​Sekarang haruskah aku pergi juga?

​Sambil berjalan dengan menjepit Gwimyeongbu di sisinya, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pohon yang baru saja dilewatinya.

​Sepertinya barusan aku melihat sesuatu. Apakah aku salah lihat?

​Dia kembali berjalan lalu berhenti lagi. Setelah menghitung sampai tiga di dalam hatinya, dia menoleh dengan cepat. Saat itu, pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata yang mengintip dari sela-sela ranting pohon.

​Yu-dan terkejut.

​"Apa-apaan! Bukankah kau tadi sudah pergi!"

​"Kapan aku bilang aku pergi? Lagipula, setidaknya aku harus melihat artis mana pun sekali saja untuk yang terakhir kalinya. Aku harus menikmati semaksimal mungkin selagi masih bisa."

​"Bicara apa kau! Keluar! Cepat keluar!"

​Yu-dan berdebat dengan Hantu Celah. Orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh.



​"Lalu bagaimana?"

​Tanya siluman rubah itu.

​"Apanya yang bagaimana? Setelah berdebat cukup lama, kebetulan ada pertunjukan di Cheonggyecheon. Aku menerobos dengan gigih sampai ke barisan paling depan. Setelah puas melihat idola, penyanyi, hingga aktor musikal..."

​"Barulah dia pergi?"

​"Tidak."

​Suara gadis itu muncul dari dalam buku. Baekran menunduk karena terkejut.

​"Kamu masih belum pergi juga?"

​"Bukannya tidak pergi, tapi tidak bisa. Tadi aku mau pergi tapi ternyata tidak bisa. Sepertinya hidup ini memang terlalu menyenangkan. Aku mau tinggal lebih lama lagi."

​"Selamat. Kamu telah berevolusi dari roh rendahan tanpa pikiran menjadi hantu tingkat tinggi yang memiliki kemauan aktif."

​"Jangan malah memberinya selamat, tapi selesaikan ini!"

​Yu-dan berteriak.

​"Atau setidaknya buatkan ritual pengusiran! Aku tidak bisa hidup dengan membawa benda ini seumur hidupku!"

​"Kenapa? Karena aku bisa mengintip ke mana saja, ini sangat praktis lho. Panggil saja aku sesekali untuk jadi asisten. Aku akan bekerja keras."

​"Cukup!"

​"Pokoknya sekarang aku boleh keluar main, kan?"

​"Silakan."

​Hantu gadis itu melompat keluar dari buku dan menyelinap ke luar jendela. Dia tampak sangat gembira. Dan siluman rubah itu pun juga tampak gembira.

​"Selama kamu tidak memanggilnya, dia tidak akan muncul. Jadi apa masalahnya? Kamu tidak bisa mengusirnya secara paksa, dan suatu saat nanti dia pasti akan memiliki keinginan untuk pergi. Sampai saat itu tiba, kamu bisa menyimpannya dengan baik di sebelah majalah Seni Lukis Oriental Bulanan."

​"Tidak mau."

​"Jangan begitu. Seperti kata gadis itu, siapa yang tahu kapan dan bagaimana hal ini bisa membantu mu? Dan kalau kamu bertemu dengan hantu kuat lainnya, kamu bisa menuliskan namanya di sana dan mengendalikannya juga."

​"Itu tidak akan pernah terjadi."

​"Setidaknya ini jauh lebih baik daripada membiarkan Gwimyeongbu itu tetap terselip di perpustakaan lalu jatuh ke tangan orang jahat."

​"Benar juga."

​Yu-dan mengangguk. Dia tidak bisa untuk tidak mengakui hal itu.

​Rubah itu tersenyum.

​"Ternyata aku salah. Aku bilang kamu tidak akan bisa melakukannya."

​"Benar. Kau salah besar."

​Dia sempat ingin menyombongkan diri sejenak, tetapi akhirnya menyerah.

​"Sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membantu sedikit, lalu mereka semua pergi dengan sendirinya."

​"Namun hal itulah yang penting. Membantu sedikit. Menjadi jembatan antara dunia ini dan akhirat. Karena tidak bisa menemukan ikatan seperti itulah, banyak roh yang akhirnya berkeliaran."

​"Begitukah?"

​"Tentu saja. Sekarang kita hanya perlu menyucikan buku ini. Selama buku ini berkelana, pasti banyak aura buruk yang terkumpul di dalamnya."

​"Tunggu sebentar. Biar kulakukan."

​Yu-dan mengeluarkan tanduk goblin. Saat dia menempelkannya pada Gwimyeongbu, gumpalan-gumpalan hitam yang melayang dari atas buku itu, seketika tersedot ke dalam tanduk.

​"Tidakkah terlihat seperti sedang memakannya?"

​"Di mataku juga terlihat begitu."

​"Seperti dugaanku. Sepertinya benda ini memakan hal-hal yang jahat, tidak menyenangkan, atau berbahaya."

​"Kalau begitu, sebaiknya kamu berhati-hati. Karena sekali dimakan, itu tidak akan bisa dikembalikan lagi."

​"Tentu saja."

​Melihat buku yang telah bersih itu membuat hatinya lega.

​Meskipun bermula dari rasa keras kepalanya yang aneh, setelah menyelesaikannya, ternyata reaksi orang lain tidak terlalu penting. Hal yang benar-benar penting adalah ini. Mengatakan bahwa dia akan menyelesaikan sendiri sebuah masalah kecil dan kemudian menyelesaikannya. Bahwa dirinya, yang sebelumnya tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menjadi korban, kini mulai percaya bahwa di masa depan ia mungkin bisa sedikit berubah.

​"Dengan ini, Gwimyeongbu juga telah menemukan tempatnya yang tepat. Ini sudah berakhir. Mimpi buruk itu telah usai."

​Yu-dan menatap siluman rubah yang sedang tersenyum.

​"Belum."

​"Bukan begitu? Kenapa?"

​"Tadi malam aku memikirkannya. Kamu bilang tentang homeostasis, kan? Terus hidup tanpa banyak pikiran."

​"Interpretasiku sedikit berbeda."

​"Apapun itu. Aku juga merasa selama ini aku cuma menjalani hidup tanpa memikirkan apa-apa. Tapi seperti yang kamu bilang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Hantu itu yang memberitahuku. Dia bilang aku harus berbicara selagi masih bisa."

​"Berbicara apa?"

​Tanya Baekran.

​Yu-dan menarik napas dalam-dalam. Kali ini rasanya dia pasti bisa mengatakannya.

​"Saat aku membuka mata, rasanya seperti berada di neraka api. Karena sesak napas, aku meronta keluar. Tempat itu dipenuhi dengan benda-benda robek dan hancur. Di dalam kegelapan, terlihat sesuatu yang sangat besar. Awalnya aku mengira itu raksasa. Namun, bentuknya bukanlah manusia. Benda itu terus terbakar. Cahaya yang memancar dari delapan matanya menyinari ke segala arah. Lalu aku menyadari apa benda-benda yang robek dan berserakan di sekitarku itu. Sesuatu yang baru saja kutembus, sesuatu yang membuatku sesak napas itu ternyata adalah........."

​Dia berbicara dalam satu tarikan napas lalu terhenti. Keheningan menyelimuti.

​"Sampai di situ saja."

​Kata Baekran.

​"Ingatan yang tidak jelas itu pasti merupakan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri mu dari trauma. Kamu tidak boleh menghancurkannya secara paksa."

​"Tapi aku ingin tahu. Apa benda itu sebenarnya."

​Tiba-tiba, pemandangan lain terlintas di benaknya. Tiang-tiang besi yang menonjol keluar di antara mayat-mayat yang terbakar di sana-sini. Bingkai jendela yang penyok dan kaca yang pecah, kursi-kursi yang terbalik.......

​"Kereta."

​Yu-dan mengangkat kepalanya.

​"Itu kereta. Aku ingat. Keretanya hancur di dalam terowongan."

​"Apakah itu kecelakaan kereta?"

​"Ya. Kecelakaan kereta."

​Rubah itu menatapnya. 

​"Kenapa?"

​"Sepuluh tahun terakhir tidak pernah ada kecelakaan kereta berskala besar seperti itu."

​Yu-dan menjadi terpaku.

​"Mana mungkin........"

​Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung mencari informasinya. Ternyata benar. Sejarah kecelakaan kereta. Mulai dari tabrakan kereta di Stasiun Yeongdeungpo tahun 1946 yang menewaskan empat puluh dua orang, terdapat puluhan kecelakaan besar, tetapi sepuluh tahun yang lalu tidak ada tragedi sebesar itu. Ratusan orang pasti meninggal, tetapi tidak ada satu pun catatan tentang hal itu. Dia tidak bisa mempercayainya.

​"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah semua orang benar-benar melupakannya? Kecelakaan sebesar itu? Apakah itu juga ulah Unusuals? Bukan sekadar iblis biasa?"

​"Kita tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Bahkan jika bukan Unusuals, siapa pun yang memiliki kekuatan bisa menghapusnya..."



. . .. .... ........ 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu

Support Langitoren

Dukung kami untuk akses tanpa batas dan nikmati komik favoritmu kapan saja!

Tips: Saat tab baru terbuka, silahkan tekan Back atau tutup tab untuk kembali ke halaman sebelumnya.