Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 66>
"Tentu saja aku mau."
Mendengar jawaban Monghui, Baekran mengeluarkan selembar kertas. Kertas itu dipenuhi tulisan huruf Hanzi yang tidak bisa dibaca. Yu-dan mengecap jempolnya di bagian bawah kertas seperti yang diperintahkan oleh rubah. Selanjutnya, Monghui juga mengeluarkan stempel giok dan mengecapnya. Segera setelah surat kontrak itu berubah menjadi cahaya dan menghilang, dia berkata dengan mendesak.
"Cepat serahkan Mimpi Kirin."
"Tolong berikan tanduk itu terlebih dahulu."
"Kita sudah menyelesaikan kontraknya, apa yang kau waspadai!"
"Ini hanya kebiasaan. Lebih baik kita melakukannya bersamaan."
"Baiklah. Setelah hitungan ketiga, mari kita letakkan di tengah meja secara bersamaan."
Saat momen untuk menyerahkan Mimpi Kirin tiba, jantung Yu-dan berdebar kencang. Siluman rubah ini pasti punya rencana sehingga dia melakukan hal ini, kan? Masa sih dia tidak punya rencana apa-apa? Dengan wajah cemas, dia menatap kedua pihak secara bergantian.
"Satu, dua, tiga."
Tanduk dan gulungan diletakkan di tengah meja secara bersamaan.
Monghui dengan cepat merebut gulungan itu dan membukanya. Lalu dia terkejut.
"Apa-apaan ini!"
Di atas kertas itu terdapat gambar Kirin yang terlihat seperti digambar asal-asalan oleh anak kecil menggunakan krayon. Baekran melompat berdiri.
"Tidak mungkin! Palsu! Anda memeriksa Sabuk Giok Utusan Langit dengan begitu teliti, lalu kenapa Anda tidak memeriksa Mimpi Kirinnya! Anda sudah telanjur membelinya dengan kontrak, sekarang apa yang akan Anda lakukan!"
"Apa?"
Monghui mengangkat kepalanya dengan penuh amarah.
"Dasar kau Cheonho brengsek! Ini semsi adalah ulahmu! Beraninya kau menjual mimpi palsu kepada Dewa Mimpi! Sebesar apa pun nyalimu, bagaimana bisa kau mempertahankan nyawamu setelah melakukan hal ini!"
"Apa maksud Anda? Aku juga tidak tahu! Aku juga adalah korban!"
"Jangan bicara omong kosong dan serahkan manusia itu kemari!"
"Tidak bisa! Aku yang akan menghukumnya!"
"Cepat serahkan!"
Bersamaan dengan bentakan yang menggelegar, rambut panjang Monghui melayang naik ke atas. Wajahnya yang angkuh dan cantik berubah menjadi mengerikan seperti monster.
Pada saat itu.
Memanfaatkan kekacauan ini, Paman Do yang sudah mendekat ke meja pajangan mengangkat tangannya, lalu memukul dengan keras topeng yang tadi dilepas dan diletakkan oleh Monghui.
"Aduh! Maaf! Aku tidak sengaja menyentuhnya!"
Saking kerasnya pukulan itu, topeng tersebut melayang lurus ke arah dinding seperti bola sepak. Monghui dan kedua dongja sangat terkejut dan berlari ke arah sana.
"Sekarang! Lari!"
Paman Do berlari terburu-buru dan membuang kotak yang diapit di pinggangnya. Lalu dia mengangkat tinggi Sabuk Giok Utusan Langit yang entah kapan sudah dikeluarkannya.
"Ini adalah perintah Raja! Buka jalan!"
Mendengar suara benturan manik-manik giok yang menjuntai panjang, dinding-dinding mundur dan pintu-pintu terbuka, menciptakan jalan dengan sendirinya. Paman Do berlari sangat cepat. Baekran juga dengan cepat mengikutinya di belakang.
"Kamu tahu kan apa yang akan terjadi jika tertangkap?"
Aku sangat tahu. Apakah jantungku akan meledak? Apakah kakiku akan hancur? Dia berlari dengan sekuat tenaga hingga merasa khawatir akan hal itu. Entah dari mana, asap hitam pekat mengepul dan menyelimuti mereka semua.
Tanpa disadari, Yu-dan sedang berlari di atas jalanan yang gelap gulita. Jalan itu terus membentang ke depan seolah-olah hidup. Dari bawah kakinya, terdengar suara jeritan "Aaargh!" "kyaakk!". Saat dia menunduk meliriknya, itu bukanlah jalan, melainkan kepala dari banyak monster dan hantu.
"Hah!"
Karena terkejut dan panik, dia menginjak kepala botak seseorang dan terpeleset. Paman Do dengan sigap menangkapnya.
"Jangan melihat ke bawah! Kita sedang melarikan diri melalui Myeongbumado! Cheonho-nim, seberapa jauh kita harus pergi?"
"Kita hanya perlu keluar dari rumah besar itu."
Di seberang hutan pohon dedalu tempat tengkorak-tengkorak berpakaian diikat, sepasang lampion merah menyala di depan sana. Melihatnya, dia pun ingat. Itu adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar dari rumah besar tersebut. Kita hanya perlu melewati gerbang itu.
Namun entah kenapa, semakin mereka berlari, lampion itu terasa semakin menjauh. Paman Do berteriak.
"Sialan! Ini Mimpi di Dalam Mimpi! Kita terjebak di dalam mimpi buruk! Karena di dalam mimpinya Monghui, Monghui adalah penguasanya! Sudah kuduga, menipu dan melarikan diri adalah rencana yang terlalu nekat! Kita tamat! Kita para siluman secara naluriah lebih tertarik pada mimpi daripada kenyataan! Kita tidak akan bisa keluar!"
"Tenanglah! Jika salah satu dari kita bertiga sadar, kita bisa keluar! Karena itulah aku sudah menyiapkan sesuatu untuk keadaan darurat."
Baekran mengeluarkan lonceng emas dengan tali biru dari dalam lengan bajunya. Saat dia menggoyangkannya, alih-alih suara lonceng, suara yang sangat familier terdengar bergema. Itu adalah suara jam weker.
Suara mekanik yang memekakkan telinga itu mengguncang isi kepalanya. Karena sudah dicuci otak oleh suara ini sejak SMP, kesadarannya langsung tersentak kembali.
"Aku harus pergi ke sekolah!"
"Lihat! Salah satu dari kita sudah bangun!"
"Oh, bagus! Pimpin jalannya!"
Lampion merah yang meredup di depan sana kini terpaku jelas di satu titik. Mereka telah terbangun dari mimpi di dalam mimpi. Yu-dan kembali berlari sekuat tenaga.
Sebelum gelombang mimpi yang menyapu dari belakang berhasil menyusul mereka, mereka berhasil keluar melewati gerbang itu dengan perbedaan waktu yang sangat tipis. Paman Do melompat kegirangan.
"Berhasil! Kita selamat!"
Baekran berbalik. Gelombang mimpi yang mencoba menerjang mereka semua bertabrakan dengan tombak rubah itu dan hancur berkeping-keping.
"Inilah yang dinamakan momen di mana mimpi hancur."
Dia mengatakannya seolah itu hal yang lucu, tapi Yu-dan sama sekali tidak merasa itu lucu. Gelombang mimpi itu dipenuhi dengan benda seperti telur katak, dan di tengahnya terdapat wujud janin dengan mata tertutup. Sangat menjijikkan.
"Apa dia tidak akan mengejar kita lagi?"
"Mimpi Monghui hanya sampai di sini. Dia tidak akan pernah keluar dari batas itu."
Baekran kembali mengayunkan tombaknya dan menarik mundur Myeongbumado.
"Tentu saja dia tidak punya alasan untuk keluar. Monghui, yang begitu angkuh mengklaim bahwa penguasa mimpi menguasai segalanya, tidak hanya dibutakan oleh Mimpi Kirin hingga mengundang siluman, tapi tanduk goblin kuno yang diburunya sendiri juga sudah direbut. Dia lebih baik mati daripada membocorkan kejadian ini."
Paman Do menghela napas.
"Jantungku yang menciut saat melarikan diri tadi masih belum kembali normal. Kali ini aku benar-benar mengira kita akan tamat. Ya ampun. Jika kita salah sedikit saja, kita tidak akan bisa keluar."
"Bukankah sudah kubilang hal itu tidak akan terjadi."
Baekran berkata begitu sambil tersenyum. Ternyata aku benar-benar selamat. Tepat ketika dia merasa lega, seluruh tenaganya terkuras habis. Yu-dan langsung jatuh terduduk.
"Menyeretku ke tempat seperti ini tanpa memberitahuku apa-apa."
"Maafkan aku. Bukannya aku bermaksud menipu mu— Tidak, aku memang bermaksud menipu mu. Bagaimanapun juga, untuk rencana ini, kami butuh seorang manusia yang percaya bahwa Mimpi Kirin itu asli."
"Setidaknya beri tahu aku dari awal apa yang akan kau lakukan."
"Mau bagaimana lagi. Jika aku memberitahu mu dari awal, kamu pasti tidak akan mau melakukannya. Bukankah begitu?"
Yu-dan terdiam tanpa menjawab.
Entahlah. Apakah aku benar-benar tidak akan melakukannya?
Siluman rubah sudah menyelamatkan nyawanya beberapa kali dan menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Itu adalah sesuatu yang patut disyukuri, namun di satu sisi juga melukai harga dirinya. Jadi, tidak ada salahnya jika sesekali dia melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia dan mengangkat dagunya sedikit.
Dia memikirkan hal itu sambil melihat Baekran yang meletakkan tanduk goblin itu di lantai dan memandanginya dengan takjub. Rasa marahnya pun mereda. Namun, dia ingin terus berpura-pura marah.
"Si Monghui itu atau siapa pun itu. Begitu aku memejamkan mata, wajah mengerikannya terus terbayang-bayang. Bagaimana kalau dia datang ke mimpiku? Aku jadi takut untuk tidur sementara waktu. Padahal aku cuma ingin hidup tenang. Kau sebegitu menginginkan benda itu?"
"Tidak."
Baekran mengatakan hal itu sambil menghantamkan tanduk itu dengan tombaknya. Yu-dan terkejut.
"Apa yang kau lakukan!"
Tanduk goblin kuno yang telah mereka rebut dengan mempertaruhkan nyawa dan bersusah payah itu hancur menjadi debu. Dia sangat tidak percaya hingga kehilangan kata-kata. Namun, yang terkejut hanya Yu-dan, rubah dan dokkaebi tampak santai.
"Sebenarnya benda ini tidak diperlukan."
Baekran memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan sesuatu. Benda itu adalah tanduk hitam lainnya. Benda itu lebih kecil dari tanduk milik Monghui, tapi memancarkan cahaya yang jauh lebih misterius. Dia belum pernah melihat benda yang terlihat sangat tua sebelumnya.
"Tanduk yang kita rebut dari Monghui adalah yang ini. kamu paham?"
Di tempat yang merupakan batas antara mimpi dan kenyataan ini, debu dari tanduk yang hancur berterbangan lalu menghilang. Yu-dan hanya bisa merasa kebingungan.
"Lalu benda ini dari mana asalnya?"
"Benda ini adalah barang yang sudah aku miliki. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui fakta itu. Dan tidak ada yang boleh mengetahuinya. Itulah sebabnya aku tidak bisa mengeluarkannya ke dunia ini. Meskipun mulai dari sekarang berbeda."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
Paman Do menimpali.
"Maksudnya, dia sedang melakukan semacam pencucian. Pencucian uang. Bukankah sekolah sudah mengajarimu bagaimana cara melakukannya?"
"Tidak. Menurutmu sekolah manusia itu tempat apa? Kami tidak belajar hal semacam itu."
"Hmm, begitu? Baiklah, biar kujelaskan. Anggap saja ini adalah dana gelap. Kau terus menyembunyikannya dan tiba-tiba kau ingin mengeluarkannya, bukankah kau akan sangat kesulitan jika ada yang bertanya, 'Dari mana kau mendapatkan benda itu?' Karena itulah kau membuat sumber yang baru baginya. Dengan berkata, 'Ini adalah tanduk goblin yang kuterima dari Monghui'."
"Jadi kau melakukan semua ini hanya untuk hal itu?"
"'Hanya untuk itu' adalah pernyataan yang salah."
Baekran menyodorkan tanduk itu.
Yu-dan meletakkannya di telapak tangannya lalu memeriksanya. Saat melihat tanduk Monghui, dia hanya merasa benda itu menakjubkan, tetapi yang satu ini terasa menakjubkan sekaligus aneh. Cahaya aneh berwarna hitam itu entah bagaimana memikat hatinya. Dia menatapnya seolah terhipnotis sebelum akhirnya kembali sadar.
"Ini memang jelas sangat unik."
Saat dia hendak mengembalikan tanduk itu, Baekran melangkah mundur.
"Ada apa?"
"Bukankah di awal aku sudah meminta bantuan mu?"
"Memang."
"Inilah bantuannya. Ambillah tanduk ini."
"Apa?"
Yu-dan terkejut sekali lagi. Merasa bingung sekaligus tak percaya, dia hanya menatap kosong.
"Kenapa kau memberikan ini padaku?"
"Jangan khawatir. Benda ini bukanlah pembawa sial atau semacamnya. Siapa pun yang melihatnya akan menjadi serakah. Benda ini memiliki kekuatan yang sangat kuat."
"Benda ini?"
"Tentu saja di dunia ini ada banyak senjata kuat yang berisi kekuatan dewa, iblis, siluman, maupun monster. Namun benda ini pada dasarnya berbeda dari benda-benda itu. Tidak ada yang tahu siapa nama goblin pemilik tanduk ini, atau kekuatan apa yang dia miliki. Bahkan aku yang sudah hidup selama lebih dari seribu tahun pun tidak mengetahuinya. Di masa depan benda ini akan terus menjadi eksistensi yang tidak diketahui. Tidak mengetahui namanya. Sesuatu yang tidak dapat dipahami. Kamu ingat perkataanku bahwa sesuatu itu sendiri adalah sumber kekuatan yang sangat besar?"
"Aku ingat."
Dia mendengar kisah tersebut saat melewati krisis mematikan akibat Gwi-hwa yang ditempeli oleh roh nona muda dari Dinasti Joseon. Dikatakan bahwa kekuatan Gwi-hwa berasal dari rahasia itu.
"Jadi maksudmu benda ini mengandung kekuatan yang kuat."
"Ya. Bisa dibilang ini adalah Unusuals purba, yang bahkan lebih tua dari zaman kuno."
"Wajar saja karena Unusuals pasti sudah ada sejak masa lalu yang sangat jauh. Tapi aku masih tetap tidak paham. Kenapa kau memberikan benda selangka ini padaku?"
"Karena benda ini sangat membenciku."
Baekran menjawab sambil menghela napas.
"Tentu saja aku juga membencinya. Karena itulah aku merencanakan hal ini. Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"
Yu-dan kembali menatap tanduk itu.
Aneh sekali. Dia biasanya merasa tidak nyaman saat melihat Unusuals, tetapi kali ini sama sekali tidak terasa seperti itu. Sebagai gantinya, mata kirinya perlahan-lahan menjadi panas. Dia juga merasakan hawa panas saat membayangkan iblis bermata delapan, tetapi yang ini berbeda. Bukan sensasi terbakar seperti disundut api, melainkan seperti dipanaskan secara perlahan. Tanpa disadari, tanduk itu mulai bergetar pelan. Saat dia menggenggamnya, getarannya berhenti dan terasa tenang.
Pada saat itu dia pun memutuskan.
"Akan kuambil."
Yu-dan mengangkat kepalanya.
"Benda ini mungkin tidak membenciku. Meskipun aku tidak tahu ini harus digunakan untuk apa."
"Setidaknya itu bisa digunakan sebagai penindih halaman buku agar halamannya tidak terlipat."
"Atau setidaknya benda ini mungkin bisa menjadi jimat pelindung, kan? Bagaimanapun juga ini adalah harta karun. Membawa sesuatu pastinya lebih baik daripada tangan kosong."
Ucap Rubah dan dokkaebi.
"Bagaimanapun juga syukurlah kalau benda itu cocok dengan mu."
"Usaha kita tidak sia-sia."
Mereka tertawa dengan gembira. Itu adalah ekspresi seseorang yang baru saja membuang masalah yang telah lama mengganggunya. Jika begitu, sepertinya mengambilnya memang merupakan keputusan yang tepat.
Yu-dan menambahkan sepatah kata.
"Yah, pasti ada cara yang bagus untuk menggunakannya."
"Aku bahkan tidak mengharapkan sejauh itu. Asalkan kamu tidak dirampok oleh siapa pun, itu saja sudah sangat bagus. Supaya benda ini tidak akan kembali ke tanganku lagi."
Baekran bergumam dengan wajah yang lega.
Jimat pelindung. Jimat yang melindungi tubuh seseorang.
Setelah dia mencarinya, ternyata itulah artinya.
Sambil berguling-guling berbaring, dia kembali mengeluarkannya.
Tanduk itu muncul hanya dengan memikirkannya. Katanya, asalkan tidak dirampas atau selama dia tidak mati, dia bisa menyentuhnya atau mengeluarkannya kapan saja. Mungkin prinsipnya sama dengan bagaimana Baekran mengeluarkan tombak raksasanya sebagai senjata.
Yu-dan meletakkannya di atas bantal lalu memandanginya.
Dilihat bagaimanapun benda ini sungguh menakjubkan. Saat dirasuki oleh makhluk bayangan, dia telah melihat segala macam benda ajaib di Banwoldang, tetapi tidak ada yang seperti ini.
Unusuals purba.
Dia membayangkan masa lalu yang sangat jauh. Seperti yang dilihatnya di museum, pada zaman ketika manusia masih menggunakan peralatan dari batu dan membuat wadah dari tanah liat. Di masa saat binatang buas raksasa yang namanya bahkan sudah menghilang berkeliaran di bumi. Unusuals dari zaman itu.
Saat dia kembali memegang tanduk itu di tangannya, sentuhannya yang dingin, keras, dan halus entah bagaimana menenangkan hatinya.
Dia sangat ketakutan saat hampir tertangkap oleh Monghui, namun setelah krisis itu berlalu, rasa takutnya dengan cepat memudar. Apakah ini sebabnya manusia selalu melakukan hal-hal yang nekat? Sambil mengejar mimpi-mimpi yang tak terhitung jumlahnya?
Dikatakan bahwa mimpi adalah sisa-sisa dari kenyataan. Namun itu tidak semuanya. Ada berbagai macam jenis mimpi. Bahkan ada mimpi yang palsu. Seperti Mimpi Kirin yang diciptakan oleh siluman rubah. Begitu dia kembali ke dunia nyata, keberuntungan aneh itu pun menghilang...
Baekran juga bilang bahwa ada mimpi-mimpi yang benar-benar istimewa.
Sambil memikirkan hal itu, Yu-dan jatuh tertidur.
Kesadarannya tenggelam dalam. Jauh ke dalam kegelapan. Lebih dalam lagi. Anehnya, dia bisa merasakannya meskipun dia tertidur lelap.
Tubuhnya yang tenggelam tanpa henti menyentuh tempat yang terasa empuk. Entah sejak kapan, tempat itu tidak lagi diselimuti kegelapan. Cahaya meresap masuk menembus kelopak matanya.
Sinar matahari....... Sinar matahari yang asing.
Dia ingin membuka matanya, tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Seolah-olah mengalami ketindihan, bahkan ujung jarinya pun tak bisa digerakkan. Dari celah kelopak matanya yang setengah tertutup, dia melihat pemandangan yang sama asingnya dengan sinar matahari tersebut.
Pohon-pohon kuno yang tertutup lumut seperti karpet hijau. Hutan yang megah dengan cahaya menyilaukan yang menyusup di antara pepohonan. Angin yang berembus membelai wajahnya. Segala sesuatunya berbeda dari yang ada di masa kini.
Di manakah....... tempat ini?
Seseorang berdiri membelakangi sinar matahari yang menyelimuti seperti tirai transparan. Silau hingga tak terlihat jelas. Pupil matanya yang berkunang-kunang karena masih terpengaruh rasa kantuk pada suatu titik berhasil menangkap fokus dengan jelas.
Itu adalah seekor bayi rubah.
Kedua telinga yang berdiri tegak di atas kepalanya, dan kesembilan ekor indah yang bergerak-gerak dengan lembut, semuanya memancarkan warna emas yang sangat pekat sehingga membuat matanya sakit dan tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Namun benda itu pastilah rubah kecil yang tampak seperti Baekran saat usianya diputar mundur ke usia belasan tahun.
Sebenarnya berapa lama waktu telah berlalu? Ternyata dari kecil pun dia masih memiliki ekspresi yang sama.
Kedua pikiran itu muncul secara bersamaan.
Dia mencoba membuka matanya lebih lebar, tetapi kelopak matanya tetap tak bergeming. Saat dia sedang berusaha, rubah kecil itu perlahan-lahan mendekat. Jika diperhatikan, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
Terasa ada aura kehadiran dari arah sana.
Bayi rubah itu terkejut dan menoleh. Ekspresinya yang berpura-pura bersikap dewasa menghilang dalam sekejap. Dia menoleh ke arah seseorang dengan wajah dari samping seolah berkata, "Aku tidak melakukan apa-apa", lalu tersenyum manis.
Kapan sebenarnya ini terjadi?
Yu-dan pun membuka matanya.
Mata kirinya terasa sakit dengan aneh.
Saat dia bangun setengah sadar dan melihat cermin, matanya memang terlihat aneh. Di pupil mata kirinya, pola seperti roda berwarna merah muncul dan berputar-putar.
Apa itu? Kejadian barusan?
Dia menunduk menatap tanduk di tangannya.
Apakah itu juga sisa-sisa ingatan? Jangan-jangan dia tanpa sadar telah mengintip ingatan yang tersimpan di dalam benda ini? Bukankah Baekran bilang bahwa dia tidak tahu tentang tanduk ini? Apakah itu juga kebohongan?
Dia hanya bisa tertegun kebingungan.
Meskipun dia tidak tahu adegan apa itu tadi, Baekran pasti tidak akan menyukainya jika dia tahu dirinya telah melihatnya. Selalu begitu.
Mata ini selalu bisa melihat apa yang tidak ingin dia lihat. Hal inilah yang membuatnya dibenci semua orang. Padahal dia melihatnya bukan karena dia ingin melihatnya.
Yu-dan kembali meletakkan tanduk itu di atas bantalnya.
Aku tidak melihat apa pun.
Saat dia berbaring dan menutupi mata kirinya dengan tangannya, panas yang menyengat itu pun perlahan-lahan mereda. Lagipula dia tidak ingin bermimpi untuk sementara waktu.
Yu-dan kembali tertidur.
Kali ini dia tertidur lelap tanpa bermimpi apa pun.
. . .. .... ........
