Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 53>
Pintu gudang berderit terbuka. Tuan Do dan Heuk-yo melangkah masuk. Baek-ran tampak terkejut melihat kedatangan mereka.
"Ada apa kalian kemari?"
"Awalnya kami berniat mengabaikannya dan menyerahkan semuanya pada dua bocah disana...."
"Karena dia terus menangis lalu tiba-tiba diam, kami pikir Tuan Cheonho datang, jadi kami mampir. Mari kita rawat bersama."
Mata kedua siluman seketika membulat saat menyadari kehadiran Yoo-dan. Dokkaebi langsung bertanya, "Kapan kamu datang?"
"Barusan. Tiba-tiba penasaran saja."
"Katanya benci burung?"
"Sepertinya benar. Dia bahkan berniat memandikannya," timpal Baek-ran mengadu.
Mendengar aduan Baek-ran, Tuan Do dan Heuk-yo tersentak.
"Apa? Memandikannya? Kamu tidak lihat kami repot-repot menarik kabel dan memasang lampu pijar untuk menghangatkannya?"
"Anak burung akan langsung mati jika suhu tubuhnya turun. Bagaimana bisa kau tidak tahu hal dasar semacam ini? Kau memang tipe orang yang tidak pantas memelihara hewan."
Keduanya memelototi Yu-dan dan terus mengomel. Namun saat anak burung mengangkat kepala, ekspresi mereka mendadak berubah drastis.
"Aduh~ sekarang bukan waktunya untuk marah. Lihat ini~! Kami memasakkan bubur kacang pinus untukmu~!"
"Ini mainan kerincingan~! Kerincingan~!"
Dua siluman yang biasanya dingin dan ketus kini bertingkah layaknya rela menyerahkan segalanya demi seekor anak burung. Baek-ran juga tersenyum cerah setiap kali bertatapan dengan burung Bung. Yu-dan merasa canggung dengan suasana baru ini.
"Semuanya sibuk caper, huh."
"Benar. Kami sedang sibuk, jadi pulanglah."
"Kenapa dari tadi menyuruhku pergi sih?"
"Kalau tidak mau pergi, terserah saja. Tapi ada satu syarat kalau ingin tetap di sini. Kamu harus menemani anak burung Bung bermain," ucap Baek-ran.
Yu-dan memiringkan kepalanya.
"Burung juga bermain? Bagaimana caranya?"
"Dia suka angin, jadi ayunkan saja dia seperti ayunan."
Yu-dan mengangkat anak burung itu. Ternyata lebih berat dari perkiraannya. Rasanya seperti mengangkat barbel. Saat diayunkan di dekat jendela yang terbuka lebar, burung mengepakkan sayap kegirangan. Meski sekadar angin kota yang sepoi-sepoi, dia tampak amat gembira dan mencicit riang dengan paruh terbuka. Ubun-ubunnya yang menjadi jalur masuk napas terus bergerak-gerak.
"Eh? Ternyata kamu pintar juga! Hehe, lumayan!"
"Dugaanku salah. Anak ini bukannya tidak bisa, hanya belum mengerti. Kalau diajari, rupanya lumayan bisa."
"Berkatmu pekerjaan kami jadi jauh lebih ringan. Rasanya sia-sia tadi berniat mengusirmu."
Ketiga siluman menonton dengan antusias. Nah, kan. Kalau aku niat, aku pasti bisa. Rasa bangga Yu-dan cuma bertahan sesaat, sebab tak lama kemudian lengannya mulai pegal. Kegiatannya sekarang sama saja dengan mengayunkan barbel berat tanpa henti.
Yu-dan perlahan menurunkan tangannya.
"Aku harus segera pulang."
"Sudah mau pulang? Baru lima belas menit."
"Temani dia sebentar lagi. Lihat, dia sangat senang."
"Bisakah kau menambah satu jam lagi? Lebih bagus lagi kalau kau melakukannya sambil tersenyum tulus."
Siluman rubah, dokkaebi, dan ular raksasa saling bersahutan memintanya bertahan. Apa? Satu jam? Yu-dan langsung melangkah mundur.
"Lenganku sudah tidak bisa digerakkan. Otot wajahku juga. Dan kamu! Jangan lupa aku sudah berkorban untukmu hari ini. Nanti kalau sudah besar kamu harus memberiku tumpangan terbang."
Ia memberi peringatan pada si burung dan cepat-cepat kabur. Dari dalam gudang masih terdengar suara tawa dan obrolan para siluman.
Setelah hari berlalu, Yoo-dan melupakan urusan burung Bung. Bukan sepenuhnya lupa, tapi ia tidak punya waktu memikirkannya. Tugas sekolah menumpuk. Selama beberapa hari ia terus sibuk.
Di tengah usahanya menerjemahkan artikel koran berbahasa Inggris lewat internet, sayup-sayup terdengar suara hujan. Ia bergegas bangkit dan menutup jendela kamarnya. Pada detik itulah sebuah pikiran menyambar benaknya.
Jendela kecil di gudang selalu dibiarkan terbuka. Kotak sarang pun sengaja ditempatkan menempel di sana. Hujan sederas ini pasti akan membuat buruh itu basah kuyup dalam sekejap. Memang benar, entah si kembar, Baek-ran, atau siluman lain pasti segera menutupnya... Tapi bagaimana jika mereka kelelahan dan tertidur pulas? Atau walau kemungkinannya amat kecil, mereka melupakannya karena terlalu sibuk melayani tamu Banwoldang?
Hatinya tidak tenang. Ia merasa harus segera pergi mengeceknya.
Yu-dan bergegas, mengambil jas hujan dari laci sepatu. Jam pulang kerja begini jalan raya pasti macet total. Ia pun memutuskan turun sambil menuntun sepedanya.
Setelah mengayuh beberapa saat, ia menyadari hujannya berhenti. Permukaan aspal masih kering. Apa sudah reda? Ia berhenti melaju dan mendongak, tepat sebelum satu-dua tetes air mulai jatuh membasahi pelipisnya. Ia kembali mengayuh kencang.
Sepertinya lajunya sedikit lebih cepat dari awa. Begitu ia menjejakkan kaki di perkarangan Banwoldang, hujan seketika tumpah dengan lebat. Ia berlari menerobos langsung ke gudang.
"Aku datang."
Lampu menyala, tapi suasananya sunyi.
"Sudah Tidur?"
Tangannya terulur meraih bingkai jendela seraya melongok masuk ke kotak.
Anak burung terbaring membujur kaku. Kedua kakinya terjulur lurus tak bernyawa. Sepasang mata birunya telah kehilangan cahaya kehidupan dan sama sekali tak bergerak.
Tubuh Yoo-dan sontak mematung.
Hujan terus mengguyur. Terdengar suara langkah grasak-grusuk dari halaman luar. Si kembar berlari masuk penuh kepanikan, lalu mendadak berhenti melangkah karena terkejut.
"Yu-dan? Kami kira kami salah lihat."
"Kapan datang?"
Keduanya berniat menghampiri kardus, tapi tanpa sadar Yu-dan berdiri menghalangi jalan.
Keheningan panjang menyelimuti. Hanya suara derik hujan yang terdengar nyaring bersahutan.
Si kembar saling bertatapan lalu kembali melangkah mendekat. Mereka menengok sarang sejenak lalu bahu merosot seketika.
"Ah, pada akhirnya...."
"Saat aku datang, dia sudah mati. Padahal kalian merawatnya sangat rajin. Sepertinya dia memang kurang beruntung."
Kembali hening. Di bawah cahaya lampu gudang, Yu-dan menyadari ekspresi si kembar terlihat agak aneh.
Perlahan Chae-seol membuka suara.
"Bukan begitu."
"Bukan apanya?"
Bukannya menjawab, kembar ginseng menunduk menatap anak burung.
"Dia sangat sehat. Makannya lahap dan berusaha keras untuk hidup. Karena itu, kami sempat berpikir mungkin saja kali ini dia bisa selamat...."
"Kami sempat berpikir begitu, tapi ternyata memang tidak bisa."
Perkataan dua siluman ginseng terdengar ganjil.
"Memang tidak bisa?"
"Heung. Anginnya terlalu berbeda, jadi ubun-ubun napasnya tidak tumbuh sempurna. Dulu saat mendapat telur burung Bung, Cheonho-nim pernah bilang. Walau menetas, dia cuma bisa hidup beberapa hari. Dia mati perlahan karena kesulitan bernapas."
Jawaban Chae-seol mengejutkannya. Ia tak bisa bicara sesaat.
"Jadi sedari awal dia cuma bisa hidup beberapa hari?"
"Iya...."
"Lalu kenapa? Kenapa kalian repot-repot merawatnya? Toh akhirnya mati, kenapa?"
"Habis mau bagaimana lagi. Waktu singkat ini adalah seluruh hidupnya."
Chae-seol berbicara tanpa melepaskan pandangan dari si burung.
"Yu-dan lihat sendiri, kan? Dia ingin hidup. Mana mungkin kami menyerah begitu saja. Dari saat membuka mata hingga menutup mata, kami ingin dia bahagia walau cuma hitungan hari. Kami juga ingin dia ingat, kami tidak membuangnya. Kami berusaha menyelamatkannya."
Perkataan tenang gadis ginseng membuat teka-teki perlahan jelas, walau pikirannya masih bingung.
"Kalian memberinya nama dan membuatkan rumah walau tahu dia akan mati? Kalian tahu semuanya tapi bersikeras merawatnya?"
"Kami tidak punya pilihan lain."
Chae-woo menjawab.
"Dulu, Cheonho-nim merawat anak burung sebelumnya. Beliau merawat sungguh-sungguh hingga ia berhenti bernapas. Benar saja, dia hidup tepat tiga hari lalu mati. Cheonho-nim menguburnya dengan biasa saja. Kami juga bersikap biasa. Tapi saat membersihkan ruang baca malam harinya, kami menemukan sehelai bulu di sudut. Perasaan kami hancur."
"Kami menatapnya tanpa bicara. Setelah sekian lama, aku bertanya, 'Kesedihan seperti ini sebenarnya anda sangat membencinya, kan?' Cheonho-nim membenarkannya, beliau bilang sangat membencinya. Tapi tetap tidak bisa dihindari. Kalau bertemu lagi, kita harus terus tersenyum dari awal sampai akhir. Tapi kami pikir, walau Cheonho-nim sekalipun, hal seperti ini pasti berat baginya."
"Kami bisa hidup berkat Cheonho-nim. Kami selalu bersyukur tapi tidak ada hal khusus yang bisa kami berikan. Karena ingin sedikit membagi bebannya, kami berjanji. Lain kali...."
"Lain kali kami yang akan mengambil alih...."
Si kembar menutup mulutnya.
Kini Yu-dan paham. Pantas reaksi mereka begitu saat melihat telur burung Bung. Semua hal janggal kini masuk akal.
"Aku tidak tahu."
Si kembar menatap Yu-dan.
"Maaf. Kami benar-benar minta maaf. Kami tak menyangka kamu datang mendadak. Kami tidak berniat menipumu. Tolong percayalah."
"Kami bersyukur karena kau bilang benci burung. Kami pikir, jika kami yang merawatnya dan kamu melupakannya, tidak masalah jika nanti kamu mendengar kabar dia mati...."
"Oh, hmm...."
Yu-dan tidak tahu harus berkata apa. Ia menunduk menatap anak burung. Terbaring kaku dengan mata terbuka dan kaki lurus.
Keduanya ikut melihat ke bawah.
"Ini pertama kalinya kamu melihatnya lagi sejak hari itu, kan? Dia tumbuh sangat besar, bukan?"
"Iya. Benar juga. Padahal aku cuma melihatnya sebentar. Kalian pasti lebih sedih. Beberapa hari ini terus menemaninya."
"Kami tidak apa-apa. Kami sudah tahu hari ini akan tiba. Kami sudah menyiapkan mental...."
Si kembar saling menggenggam tangan. Setelah terdiam lama, Chae-seol kembali bicara.
"Maaf kamu yang pertama menemukannya mati. Pasti kaget, kan? Maafkan kami."
"Bukan apa-apa. Toh aku cuma melihatnya beberapa kali."
"Padahal kami sudah menyiapkan mental...."
Kalimat yang sama lagi. Yu-dan sadar mereka mengulang-ulang perkataan. Si kembar jelas panik. Baru kali ini melihat sisi mereka yang seperti ini.
Sekalipun sudah bersiap, kenyataannya pasti tidak mudah.
Ia ingin memberikan penghiburan tapi tidak ada kata terlintas. Ia teringat siswi SMA di bus. Mengatakan "ini bukan kesalahanmu tapi itu hal yang baik, dia pasti bahagia walau cuma beberapa hari, anjing dan kucing menunggu pemiliknya di surga". Memberikan kalimat seperti itu adalah sebuah kemampuan. Sayangnya mulut Yu-dan sulit terbuka.
Setelah jeda panjang, ia memaksa bersuara.
"Kalau hujan reda, mari kubur sama-sama."
Si kembar mendongak mendengar nada bicaranya yang tenang.
"Ah, kamu bersedia?"
"Kami benar-benar berterima kasih."
Keduanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Di depan si kembar, Yu-dan bersikap tegar.
Namun perasaan campur aduk melandanya kemudian.
Ia tidak bisa lepas dari perasaan aneh. Ubun-ubun anak burung yang bergerak naik turun terus terngiang di kepalanya. Di tengah rutinitas normal, ia sering mendadak melamun.
Untuk melupakannya, ia bersepeda keliling. Hatinya sempat tenang, lalu kembali sesak.
Kalau dipikir-pikir, Su-seong No-in adalah petunjuk awal. Kakek pengatur usia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kakek itu pasti sengaja. Dia memberikan telur kepadaku meski sudah tahu. Supaya aku membuatnya bahagia walau cuma beberapa hari. Semua orang tahu, hanya aku yang tidak tahu.
Yu-dan menggigit bibir dan menekan pedal sepedanya kuat-kuat.
Mengingat malam di gudang membuatnya kesal.
Mereka berkumpul bukan untuk mencari perhatian. Melainkan sengaja datang agar anak burung itu gembira sedikit lebih lama. Toh dia akan segera mati. Pantas mereka terus menyuruhku pulang. Supaya aku tidak telanjur punya ikatan batin. Dasar siluman-siluman licik. Seharusnya bicara jujur tanpa pura-pura. Manusia biasa saja terkejut melihat kucing tak dikenal mati di jalan. Apalagi ini burung yang ia bawa sendiri. Ia juga melihat langsung kelahirannya. Memangnya remaja laki-laki bukan manusia? Hal sepenting ini seharusnya diberitahu sejak awal.
Yu-dan marah dan penuh benci, tapi....
Membayangkan bagaimana perasaan mereka saat tersenyum malam itu membuat kepalanya kembali pusing.
Burung tidak bersalah. Pasti dia senang diajak bermain waktu itu. Seharusnya aku menemaninya satu jam lagi. Dua jam juga tidak masalah. Seharusnya aku datang menjenguk esok harinya. Seharusnya aku mampir beberapa kali lagi.
Padahal dia begitu ingin hidup.
seeprti burung-burung terbang dari semak belukar.
Hati manusia sungguh aneh. Bisa menjadi sangat dingin, tapi juga gampang goyah oleh hal kecil.
Kehidupan juga aneh. Kadang sangat ulet, tapi saat waktunya putus, putus begitu saja. Benar-benar aneh....
Tiba-tiba segalanya terasa sangat aneh.
Saat itu, sesuatu masuk dalam pandangannya. Induk bebek dan anak-anaknya menyeberang jalan. Yu-dan terkejut dan membanting setir. Ia jatuh keras ke tanah bersama sepedanya.
"Gila! Ini jalur sepeda!"
Ia berteriak marah, tapi keluarga bebek mengabaikannya dan terus mengambil alih jalan. Anak-anak bebek muncul satu per satu dari semak.
"Ah, apa-apaan ini."
Lututnya berdenyut. Beruntung tidak ada tulang patah, tapi lebam parah pasti membekas. Telapak tangannya lecet. Sambil menghapus kasar noda darah, ia berusaha mendirikan sepedanya. Di depannya, sepeda tandem melaju cepat ke arahnya.
"Astaga...."
Ia segera melepaskan stang sepedanya kembali.
Untungnya pria dan wanita di sepeda tandem memelankan laju sepeda dan melihatnya. Kenapa anak itu tidak bangun? Mereka berbisik penasaran sebelum akhirnya kaget melihat keluarga bebek.
"Ada bebek!"
"Mungkin sedang piknik! Lucu sekali!"
Mereka menjauh dengan cepat.
Sepeda-sepeda di belakang ikut melambat lalu menghindar berbelok. Ada orang yang lewat cuek, ada juga yang menoleh berulang kali. Seekor anjing kecil di keranjang sepeda kakek tua berdiri dan menggonggong nyaring.
Tak peduli keributan sekitar, keluarga bebek berjalan menyeberang jalur sepeda masuk ke semak seberang jalan.
Angin bertiup mengayunkan pepohonan. Ranting-ranting bergerak lambat naik turun. Kupu-kupu melipat dan melebarkan sayapnya. Semuanya bernapas. Mendadak ia merasakan napasnya sendiri. Yu-dan enarik napas dan membuangnya. Menarik lagi dan membuang. Angin mengalir di dalam tubuhnya.
Akhirnya, anak bebek terakhir menghilang di semak.
Yu-dan bangkit dan menegakkan sepedanya.
Rangkanya bengkok. Ia menggerutu dan menendangnya. Setelah sedikit meluruskannya, ia mendongak.
Angin sepoi menyapu wajahnya. Melewati pepohonan bergoyang, dengan awan putih selembut kapas melayang melintasi puncak gedung tinggi.
Menatap pemandangan sekitar, Yu-dan tiba-tiba sadar dan bergumam pelan.
"Sudah musim panas."
. . .. .... ........
