Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3

<Chapter 52>

 

Baek-ran memberi tatapan menyelidiki dan bertanya, "Bisa jelaskan situasi apa ini?"

​"Apanya?"

​"Tadi terdengar suara ribut dari lantai bawah. Jadi, aku membujuk kakek itu pergi lalu bergegas turun, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di sini."

​"Oh, begitu ya?"

​Yu-dan buru-buru menyembunyikan telur dan botol air di balik punggungnya. "Sepertinya semua orang sedang sibuk. Tentu saja, aku juga sibuk. Kalau begitu, aku permisi dulu...."

​Ia melangkah mundur perlahan dan mencoba mendorong pintu dengan bahunya. Namun, pintu itu sama sekali tidak bergeming. Dihantam sekuat tenaga pun tetap tak mau terbuka. Yu-dan mulai panik.

​"Kenapa tidak bisa dibuka!"

​"Karena itu bukan pintu."

​Siluman rubah menyahut dengan wajah jengah.

​"Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan?"

​"Bukan apa-apa!"

​Yu-dan akhirnya berhasil membuka pintu yang asli dan lari terbirit-birit. Namun tiba-tiba, Baek-ran sudah muncul di hadapannya. Kapan dia mendahuluiku?

​"Kenapa kamu bertingkah begini?"

​"Sudah kubilang bukan apa-apa!"

​Yu-dan mencoba menerobos, tapi jalannya dihalangi. Ia mencoba ke arah lain, tapi lagi-lagi terhadang.

​"Kalau bukan apa-apa, kenapa harus disembunyikan?"

​Suara rubah mendadak terdengar dari belakang punggungnya. Di saat yang sama, benda-benda yang ada di tangan Yoo-dan raib begitu saja. Ia menoleh kaget. Baek-ran kini berdiri santai sambil memegang mangkuk berisi telur dan botol airnya. Tidak masuk akal. Bukankah sedetik yang lalu dia ada di depanku?

​"Kapan kamu berteleportasi?"

​"Bukan aku, tapi tanahnya yang bergerak. Aku hanya sedikit memutar aliran maju dan mundur menggunakan mantra elemen Tanah dari Yin-Yang dan Lima Elemen."

​"Kamu memakai sihir semegah itu cuma buat merebut telur orang lain? Kalau kubilang bukan apa-apa, harusnya kamu percaya saja. Kenapa harus memaksa melihatnya?"

​"Sebenarnya, hari ini adalah hari ulang tahunku. Jadi siapa tahu...."

​"Benarkah?"

​"Aku bohong."

​Siluman rubah dengan cekatan memungut serpihan cangkang telur yang menempel di lengan baju Yu-dan. Gawat. Kapan benda itu menempel di sana?

​"Apa itu?"

​Yu-dan mencoba berlagak bodoh, tapi usahanya sia-sia. Baek-ran menerawang cangkang itu di bawah sinar matahari. Seakan menemukan hal yang tak terduga, matanya sedikit menyipit.

​"Ini telur burung Peng. Apakah sudah menetas? Dari mana kamu mendapatkannya?"

​"Rahasia."

​"Sebaiknya kamu cepat menjawab pertanyaanku."

​"Kamu sedang mengancamku sekarang?"

​"Bukan begitu. Beberapa waktu lalu, telur burung Bung yang kuletakkan di atas mejaku mendadak hilang tanpa jejak...."

​"Bukan aku yang mengambilnya! Kakek berkepala besar itu yang memberikannya padaku!"

​Melihat raut wajah si rubah, Yu-dan langsung sadar.

​"Kamu bohong lagi?"

​"Benar. Tapi itu tidak penting. Tahukah kamu siapa kakek itu? Beliau adalah Su-seong No-in."

​"Sudah kuduga dia alien!"

​"Bukan planet Merkurius, tapi huruf 'Su' yang bermakna panjang umur. Beliau adalah penjelmaan rasi bintang Canopus di konstelasi Carina. Beliau adalah dewa yang mengatur umur manusia."

(t/n: su-seong diartikan mentah planet Merkurius, makanya yu-dan asbun si kakek alien) 

​"Tidak disangka, kakek yang pagi-pagi berdiri di lorong apartemen itu ternyata seorang dewa."

​"Tepatnya, bintang di langit yang memperoleh status dewa. Bersama Dewa Berkah dan Dewa Kekayaan, beliau tergabung dalam 'Tiga Bintang' yang melambangkan umur panjang dan kemakmuran. Kadang beliau juga disebut Bintang Kakek Kutub Selatan. Di Jeju, bintang ini sangat jarang terlihat di dekat garis cakrawala. Karena itulah, muncul kepercayaan bahwa jika bintang kakek ini terlihat, negara akan hidup dalam damai."

​"Lalu kenapa dewa seperti itu malah menitipkan barang padaku seperti sedang berjualan MLM, lalu kabur begitu saja...."

​Yu-dan menggerutu.

​"Tunggu, kenapa kamu mengikutiku dengan santai begini?"

​"Karena aku juga ingin melihatnya."

​"Tidak boleh! Ini rahasia!"

​"Di sana tempatnya?"

​Siluman rubah sudah berjalan menuju gudang. Yu-dan buru-buru berlari mendahuluinya dan membuka pintu.

​"Kenapa lama sekali?"

​Si kembar menoleh bersamaan, lalu tersentak kaget saat wajah Baek-ran tiba-tiba muncul dari balik bahu Yu-dan.

​"C-Cheonho-nim!"

​"Maaf. Dia memaksa ikut sampai repot-repot menggunakan sihir."

​"Jadi, ini lokasi kejahatannya?" goda Baek-ran.

​"Bukan. Bukan begitu...."

​Baek-ran mengabaikan si kembar yang kebingungan dan langsung melangkah ke depan kotak kardus. Bahkan siluman rubah pun tampak takjub melihat anak burung Bung tersebut.

​"Ternyata benar. Anak burung yang sehat sudah lahir."

​Begitu dia mengulurkan tangannya ke dalam kotak, anak burung itu langsung merespons dan berjalan tertatih-tatih mendekat. Dengan mata yang masih terlapisi selaput tipis, burung itu celingukan sejenak, lalu melompat ke atas tangan Baek-ran. Ia menggesekkan kepalanya ke telapak tangan si rubah dengan manja.

​"Tega sekali kamu!"

​"Padahal kamu tidak pernah melakukan itu pada kami!"

​Si kembar memprotes. Siluman rubah hanya tertawa pelan. Ia memandangi anak burung itu sejenak sebelum bertanya,

​"Apakah kalian tahu kitab Zhuangzi?"

​"Sepertinya pernah dengar."

​"Itu adalah kitab yang ditulis oleh Zhuangzi, seorang filsuf Taoisme dari Tiongkok kuno."

​"Kitab Zhuangzi karangan Zhuangzi? Dia pasti malas memikirkan judul."

​"Bagian pertama dari kitab itu berjudul Xiao Yao You (Pengembara Bebas), dan di halaman pertamanya ada kisah ini: 'Di laut utara yang dalam, hidup seekor ikan bernama Kun. Entah berapa ribu li ukuran tubuhnya. Kun lalu berubah menjadi burung bernama Bung. Entah berapa ribu li lebar punggungnya. Jika ia mengepakkan sayapnya dan terbang, sayapnya akan menutupi langit layaknya awan pekat.' Bagaimana? Bukankah terdengar sangat hebat?"

​"Aku memang tahu dia burung raksasa, tapi...."

​Yu-dan menatap anak burung itu.

​"Melihat wujudnya yang sekarang, aku agak ragu. Bukankah dia cuma terlihat seperti anak ayam yang jelek?"

​Chae-seol buru-buru menutup telinga burung itu.

​"Jangan dengarkan! Kamu tidak jelek! Kamu yang paling manis sedunia!"

​"Sejujurnya dia memang tidak bisa dibilang manis."

​"Cheonho-nim juga ikut-ikutan?"

​"Tapi kalau sudah besar nanti, dia akan menjadi burung yang sangat gagah," tambah Baek-ran. Ia menatap bagian atas kepala burung itu. Yu-dan ikut memperhatikannya. Ada satu bagian kecil di ubun-ubunnya yang tampak berdenyut.

​"Apa itu?"

​"Itu ubun-ubunnya. Karena baru lahir, bagian itu masih sangat lunak."

​Si kembar ikut memperhatikan puncak kepala anak burung itu.

​"Menurut kitab itu, ketika lautan bergejolak, burung Bung akan bermigrasi ke laut dalam di wilayah selatan yang disebut Tianchi (Kolam Langit). Ia menciptakan angin puyuh dan menungganginya selama enam bulan berturut-turut untuk melintasi langit sebelum akhirnya turun ke bumi untuk beristirahat. Air yang dalam dibutuhkan untuk menopang kapal besar, dan angin yang kencang dibutuhkan untuk mengangkat sayap yang raksasa. Bung adalah burung angin, yang hanya bisa terbang tinggi saat angin besar berhembus."

​Anak burung itu mengepakkan sayapnya yang masih pendek. Siluman rubah tersenyum dan bertanya,

​"Bagaimana? Apakah kamu suka angin di dunia ini?"

​Seakan ingin menjawab, tenggorokan burung itu bergetar, mengeluarkan bunyi kuruk-kuruk.

​"Aku tahu. Tempatmu lahir seharusnya bukanlah dunia seperti ini. Hutan dengan pohon-pohon kuno raksasa. Bangunan paviliun yang megah. Manusia-manusia yang memuja dewa. Di tempat seperti itulah seharusnya kamu membentangkan sayapmu dan menutupi langit. Tapi mau bagaimana lagi? Karena sudah telanjur lahir di sini, kamu harus tetap hidup."

​Anak burung itu mengerjapkam matanya. Walau tidak mengerti, dia tampak berusaha menyimak. Setelah itu, dia kembali menggesekkan kepalanya.

​"Majikanmu itu kami!" teriak Chae-seol.

​Baek-ran menatap si kembar. "Sepertinya akan lebih baik kalau aku saja yang membawanya, bukan?"

​"Tidak! Kali ini kami yang menemukan burung ini lebih dulu daripada Cheonho-nim. Jadi dia milik kami."

​"Biar kami saja. Kami juga bisa merawatnya."

​"Lagipula Yu-dan sudah memberikannya pada kami. Dia bilang dia benci burung."

​"Benar. Jadi tidak apa-apa."

​Chae-seol dan Chae-woo sama-sama bersikeras. Baek-ran menatap mereka lekat, tapi keduanya tetap tidak mau mengalah.

​"Aku masih merasa lebih baik aku yang membawanya, tapi...."

​Baek-ran kembali meletakkan anak burung di tangannya ke dalam kotak.

​"Terserah kalian saja. Sebagai gantinya, aku tidak akan membantu sedikit pun."

​Begitu siluman rubah itu berbalik dan pergi, anak burung Bung mencicit dan berusaha mengikutinya. Sebelum burung itu terjatuh dari kotak, Chae-seol buru-buru menangkapnya.

​"Bukan! Bukan ke sana! Ke sini! Kami majikanmu!"

​Chae-woo berlari dan segera mengunci pintu. Setelah memastikan Baek-ran benar-benar pergi, mereka menghela napas lega.

​"Syukurlah. Ya kan, Kak?"

​"Iya, syukurlah."

​Si kembar saling bertatapan dan tertawa. Yu-dan pun bertanya,

​"Kalian sesenang itu?"

​"Iya. Terima kasih banyak, sudah memberikan burung ini pada kami."

​"Benar-benar terima kasih. Terima kasih juga sudah membawakan telur rebus. Kamu pasti sibuk, jadi kamu boleh pergi sekarang."

​Si kembar memotong kuning telur kecil-kecil, menaruhnya di telapak tangan, dan membuat suara decakan untuk memanggilnya. Anak burung itu membuka paruhnya dan melahap makanannya dengan lahap. Yu-dan menonton sejenak sebelum akhirnya keluar dari gudang.

​Saat ia berjalan memutar kembali ke toko, Tuan Do dan Heuk-yo tampak sedang mengobrol pelan.

​"Padahal bagus sekali kalau aku yang merawatnya," ucap Tuan Do.

​"Merawat tanaman di pot saja selalu berujung layu semua. Jangan bermimpi di siang bolong," sahut Heuk-yo tajam.

​"Tetap saja aku lebih mending daripada anak-anak ingusan itu, kan?"

​"Hah, coba saja wujud asliku bukan ular raksasa...."

​Keduanya langsung tutup mulut saat menyadari kehadiran Yu-dan. Tuan Do buru-buru membuka korannya, sementara Heuk-yo sibuk membetulkan ikatan celemeknya.

​"Telurnya sudah kuserahkan, jadi aku pulang dulu."

​Yu-dan berpamitan lalu berjalan ke luar.

​Di tangga batu di bawah serambi halaman depan, Baek-ran tampak sedang duduk. Ia menatap Yu-dan dengan wajah kecut, seolah baru saja meminum semangkuk jus lemon yang sangat asam. Yoo-dan mencoba mengabaikannya dan terus berjalan, tapi tatapan rubah itu terus mengikutinya.

​"Kalau kakek dewa itu datang lagi dan memberiku telur, nanti kuberikan padamu."

​"Tidak usah."

​Siluman rubah itu menyahut dengan ketus. Diiringi tatapan tajam dari belakang kepalanya, Yu-dan berjalan meninggalkan Banwoldang.

Para siluman di sini biasanya terlihat rukun dan saling menjaga, tapi aku tak menyangka mereka bisa berselisih hanya karena sebuah telur burung. Benda itu pasti sangat berharga. Burung Bung. Bung, ya....

​Sambil berjalan, Yu-dan mendongak. Jendela-jendela gedung pencakar langit menjulang di hadapannya. Ia mendongak lebih tinggi lagi. Langit biru membentang luas di atas sana.

Katanya sayapnya bisa menutupi langit.

​Bayangan seekor burung raksasa yang terbang melintasi hutan beton melintas di benaknya. Bagaimana jika orang-orang bisa melihat burung Bung itu? Terbayang jelas di pelupuk matanya para pekerja kantoran yang mendongak kaget melihat bayangan raksasa yang menutupi daratan. Setelah itu, hembusan angin yang sangat dahsyat pasti akan menyapu seisi kota.

​Membayangkannya saja membuat hatinya sedikit berdebar.

​Semua orang tampak khawatir, tapi bukankah dua siluman ginseng seperti si kembar justru lebih cocok membesarkan burung dibandingkan rubah, dokkaebi atau ular raksasa? Kuharap burung itu cepat besar.

​Sambil memikirkan hal itu, Yu-dan kembali mempercepat langkahnya. 



​"Semalaman aku sudah membungkusnya dengan selimut biar hangat dan memberinya susu, tapi paginya dia sudah tiada. Sepanjang hari ini aku cuma bisa menangis."

​"Jangan menangis. Ini bukan salahmu. Kamu justru sudah melakukan yang terbaik. Setidaknya di hari terakhirnya, dia pergi dengan perut kenyang dan tubuh yang hangat."

​"Benar. Dia pasti pergi ke tempat yang baik. Katanya anjing dan kucing yang pergi lebih dulu akan menunggu pemiliknya di surga."

​Yu-dan membuka mata setelah kepalanya terbentur kaca jendela bus.

​Ia melihat sekumpulan siswi perempuan yang berpegangan pada tuas bus sedang mengobrol lirih. Mata salah satu dari mereka tampak bengkak karena menangis.

​Tiba-tiba, ia teringat pada anak burung itu.

Apakah mereka merawatnya dengan baik?

​Rasa penasaran itu terus mengusiknya. Meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat, Banwoldang bukanlah tempat yang tutup cepat. Apa aku mampir sebentar saja untuk mengintip?

​Yu-dan menekan bel dan turun di halte berikutnya.

​Setelah berganti bus dan tiba di Banwoldang, suasana tampak sepi. Sepertinya semua orang ada di dalam. Baguslah. Niatnya hanya ingin melihat anak burung itu diam-diam, jadi ia berjalan memutar menuju gudang.

​Lampu gudang menyala. Ia membuka palang pintunya dan mengintip ke dalam. Sepi. Kotak kardus di sebelah jendela kecil gudang itu tampak kosong.

"Apa tidak ada di sini?"

​Tepat saat itu, sesuatu tiba-tiba melompat keluar dari kotak. Anak burung itu mengepakkan sayap pendeknya sambil mencicit nyaring dengan penuh energi.

​"Eh, kamu mengenaliku, ya?"

​Burung yang lucu. Mendengar ada suara langkah kaki, dia rupanya sengaja merendahkan tubuhnya untuk bersembunyi di dalam kotak, lalu melompat keluar saat merasa aman. Bisa mengingat wajah orang yang baru dilihatnya sekali, otaknya lumayan pintar juga. Yu-dan melangkah maju dan melongok ke dalam kotak.

​Kotak itu sudah dilapisi dengan bantal pemanas listrik. Ada lampu bohlam pijar yang digantung di atasnya. Si kembar tampaknya benar-benar merawatnya dengan penuh dedikasi.

​Burung Bung itu sudah tumbuh lumayan besar. Di hari pertama ukurannya cuma sebesar anak ayam, tapi sekarang sudah seukuran anak burung unta. Selaput tipis yang menutupi matanya pun sudah terkelupas. Ia menatap Yu-dan dengan mata berbinar sambil terus mencicit.

​"Kenapa? Kamu lapar? Majikanmu pada ke mana, kok tidak memberimu makan?"

​Yu-dan mengedarkan pandangan dan akhirnya menyadari sesuatu.

​Di atas tumpukan jerami, tergeletak sebuah buku kuno dengan posisi terbalik. Jelas ini jejak seseorang yang baru saja berada di sini.

​Tiba-tiba pintu gudang berderit terbuka. Baek-ran melangkah masuk sambil membawa beberapa tumpuk buku. Keduanya sama-sama terkejut.

​"Loh. Katanya tidak mau membantu sama sekali?"

​"Bukannya kamu bilang benci burung?"

​Keheningan yang canggung menyelimuti mereka sejenak.

​"Aku cuma mampir karena penasaran. Lihat ini. Kalau aku tidak datang, mau jadi apa burung ini? Dibiarkan kelaparan begini."

​"Aku baru saja memberinya makan." sahut Baek-ran. 

​"Apa? Sudah makan?"

​Yu-dan kembali menatap kotak itu. Burung itu langsung menundukkan badan dan matanya bergerak melirik ke sana kemari. Tampak jelas ia sedang merasa bersalah.

​"Kamu pura-pura belum makan, ya! Dasar penipu kecil!"

​"Memang penipu," Baek-ran membenarkan. "Kamu tidak tahu seberapa rakus dia. Anak-anak itu sampai harus menyuapinya setiap satu jam ssekali"

​"Itu... repot juga ternyata."

​"Merawat bayi memang pekerjaan yang melelahkan. Si kembar terus-terusan berjaga semalaman secara bergantian. Sepertinya hari ini mereka sudah mencapai batasnya, tadi kulihat mereka tertidur pulas."

​"Jadi, kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk mencurinya diam-diam?"

​"Tentu saja tidak."

​Siluman rubah menghela napas.

​"Aku sudah menyerah untuk mengambil burung ini."

​"Lalu kenapa kamu ada di sini?"

​"Karena tidak ada siapa-siapa, dia menangis terus. Awalnya aku berniat pura-pura tidak tahu karena si kembar bersikeras ingin merawatnya, tapi suaranya berisik sekali sampai aku tidak tahan."

​"Perasaanku saat aku masuk tadi dia diam saja."

​"Intinya aku tidak akan merebutnya darimu, jadi jangan khawatir dan pulanglah sana."

​"Aku baru saja sampai, masa sudah disuruh pulang?"

​Yu-dan kembali menatap anak burung di dalam kotak. Ada sesuatu yang menyembul di antara bulu-bulu lehernya.

​"Apa itu? Papan nama?"

​"Benar."

​"Mereka sudah memberinya nama, huh."

​"Iya. Setelah berdebat setengah hari, akhirnya mereka sepakat memberinya nama 'Bung-woon' (Angin dan Awan)."

​"Tumben namanya normal. Katanya memberi nama jelek seperti Kotoran Anjing atau Babi Jantan itu bagus untuk penolak bala."

​"Ngomong-ngomong, kamu sungguh tidak mau pulang?"

​"Tunggu sebentar. Aku penasaran akan sesuatu. Tadi kamu bilang ikan Kun berubah menjadi burung Bung, kan? Kalau begitu, bukankah seharusnya dia terlahir sebagai ikan? Kenapa dia menetas dari telur?"

​"Itu karena ayah dan ibunya sama-sama burung Bung yang menghasilkan telur."

​"Lalu, kalau burung Bung masuk kembali ke air, dia akan berubah wujud jadi ikan lagi?"

​"Kelihatannya begitu."

​"Kamu pernah melihatnya langsung?"

​"Pernah. Dulu, di zaman yang sangat lampau, ada sebuah tempat di tanah ini yang kami sebut Hutan Para Dewa. Di sanalah aku melihat burung Bung raksasa. Karena penasaran, aku sempat mengikutinya. Saat mencapai lautan, burung itu langsung terjun ke dalam air hingga air menyembur keatas seperti pilar. Begitu pilar air raksasa mereda, aku melihat seekor ikan yang besar berenang menjauh. Ukurannya bahkan jauh lebih besar dari sebuah pulau."

​Yoo-dan kembali berkhayal. Benar dugaannya, sesuatu yang besar itu memang selalu terlihat keren.

​"Kadang ada berita viral tentang monster laut raksasa di Samudra Pasifik atau Atlantik lengkap dengan fotonya. Jangan-jangan itu ikan Kun."

​"Bisa jadi itu memang Kun yang tanpa sengaja tertangkap kamera manusia."

​"Ngomong-ngomong, kapan kamu mau memandikannya?"

​"Hah?"

​Baek-ran menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.


. . . . . . . . . . 


​Glosarium Istilah

  • Yin-Yang dan Lima Elemen (음양오행 / Eumyang-ohaeng): Konsep filosofi Tiongkok kuno yang menjelaskan alam semesta terbentuk dari dua kutub berlawanan (Yin dan Yang) serta lima elemen dasar (Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air).
  • Su-seong No-in (수성노인): Dewa Panjang Umur. Sering digambarkan sebagai pria tua dengan dahi yang sangat menonjol/besar. Dalam astrologi Tiongkok, ia adalah personifikasi dari Bintang Canopus.
  • MLM / Multi-Level Marketing (다단계 / Dadangye): Istilah yang dipakai Yoo-dan untuk menggambarkan orang yang memaksakan barang/jualan kepada orang lain secara tiba-tiba di jalanan.
  • Zhuangzi (장자): Tokoh filsuf Taoisme asal Tiongkok, sekaligus judul kitab yang memuat ajaran-ajarannya.
  • Li (리): Satuan ukuran panjang tradisional Tiongkok (1 Li kurang lebih sama dengan 500 meter). Digunakan secara hiperbolis untuk menggambarkan sesuatu yang luar biasa masif.
  • Kun (곤) & Bung (붕): Makhluk mitologi dari kitab Zhuangzi. Kun adalah ikan raksasa yang tidak terukur besarnya, yang kemudian bertransformasi menjadi burung raksasa bernama Bung. Di China disebut Peng. 
Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu