Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 9>


Baek-ran berjalan di depan.

​"Kamu harus berhati-hati. Jika sampai salah langkah, kamu tidak bisa memohon bantuan meskipun kamu sangat menginginkannya."

​Yu-dan menginjak bulu-bulu itu dengan tegang.

​"Selamat jalan. Saat pulang nanti……."

​Suara Chaewoo terdengar semakin menjauh dan samar.

​Tempat itu bukan lagi ruang kerja Baek-ran. Kabut tebal merayap dan menggumpal di sekeliling mereka.

​"Jangan memalingkan pandangan ke mana pun."

​Cahaya terang memancar di depan. Sosok Rubah telah berubah. Seperti saat dia datang ke dunia kegelapan untuk mengusir kesialan waktu itu, rambut dan telinganya kini berwarna emas yang menyilaukan. Inilah wujud asli sang Cheonho. Cahaya magis yang seolah bisa memikat manusia itu menciptakan bayangan yang indah di atas jubah putihnya.

​"Sudah ku katakan, jangan memalingkan pandangan."

​Baru setelah ditegur sekali lagi, Yu-dan mengalihkan pandangannya dan fokus pada jembatan pijakan di bawah kakinya. Entah bagaimana rubah itu bisa tahu padahal dia tidak menoleh ke belakang.

​"Seperti yang sudah ku katakan, hukum yang berlaku di dunia ini berbeda. Akan berbahaya kalau kamu menggunakan logika dunia fana. Bahkan sehelai rumput atau sebutir tanah pun harus dihadapi dengan rasa takut. Kalau kamu tidak mengerti, tanyakanlah pada hati, bukan kepala."

​"Aku mengerti."

​Setiap langkah yang ia ambil membuat suasana semakin gelap, hingga akhirnya berubah menjadi kegelapan total yang pekat. Mendengar suara burung malam, Yu-dan mendongak dan menyadari bahwa ia telah berada di sebuah hutan yang aneh.

​"Ini adalah Hutan Mangnyang."

​Ke mana pun ia memandang, hanya ada pohon-pohon yang belum pernah ia lihat seumur hidup. Batang dan dahannya tampak seperti tulang yang hangus terbakar. Gerakan mereka saat tertiup angin tampak seperti makhluk hidup. Tidak, mereka memang benar-benar hidup.

​Pohon-pohon itu mencoba menjulurkan dahan ke arah Yu-dan, namun mereka tersentak ragu. Sepertinya mereka takut pada Baek-ran. Seekor burung yang hinggap di dahan tiba-tiba berteriak nyaring.

​—Rubah! Baek-…….

​Baek-ran menjulurkan tangannya. Bayangan gelap melesat dari balik lengan bajunya dan menerkam burung itu. Burung itu pun jatuh berdebam ke tanah.

​"Kamu membunuhnya cuma karena dia bicara?"

​"Aku hanya membuatnya tertidur."

​Baek-ran membungkuk dan mengambil segenggam tanah biru dari lantai hutan. Saat ia menebarkannya ke udara, tanah itu menyatu dengan sendirinya dan membentuk pola yang aneh.

​"Lewat sini."

​Setelah berjalan mengikuti rubah, cahaya api unggun mulai terlihat temaram di depan.

​Beberapa sosok mahkul dunia bawah tampak berkumpul berkelompok untuk menghangatkan diri. Agak jauh dari mereka, terlihat sesosok makhluk yang duduk meringkuk sendirian. Tubuhnya kurus kering terbalut chima-jeogori yang kotor, sementara tangannya mendekap erat sebuah buntalan kain putih.

​Itu pasti si Pencuri jiwa.

​"Nah, kita sudah sampai di sini……." Baek-ran menghentikan langkahnya.

​"Lebih baik tidak melakukan apa pun daripada melakukannya dengan tidak benar. Apa kamu benar-benar yakin? Demi menyelamatkan jiwa anak yang tidak ada hubungannya denganmu, kamu sungguh akan menyamar sebagai hantu dan berbaur di antara mereka? Bukankah lebih baik kamu kembali bersama ku saja?"

​Kata-kata itu terdengar sangat manis dan menggoda.

​Saat menatap ke arah api unggun, emosi misterius kembali melanda Yu-dan. Perasaan yang bercampur antara firasat buruk dan ketakutan, seperti saat menatap ke dalam air yang dalam dan gelap.

​Namun, ia menggelengkan kepala untuk mengusir perasaan itu.

​"Tidak bisa. Aku tidak datang jauh-jauh ke sini untuk itu. Aku harus merebut kain itu. Jangan bicara aneh-aneh."

​"Baiklah." Rubah menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi.

​"Seperti yang ku katakan tadi, pencuri jiwa sangat terobsesi pada jiwa. Jangan memintanya secara paksa seperti yang biasa kamu lakukan pada makhluk lain."

​"Bagaimana kamu tahu aku sering begitu?"

​"Bukankah kamu sendiri yang mengatakannya? Lagipula, hal seperti itu bisa terbaca hanya dengan melihat wajah mu. Pokoknya, jangan merebutnya dengan paksa."

​"Aku tahu. Aku harus mendapatkannya sesuai hukum para makhluk dunia bawah, kan? kalau pencuri jiwa tidak menyerahkan bungkusan jiwa itu ke tanganku dengan sukarela, seberapa keras pun aku merebutnya, itu akan tetap kembali ke pelukannya."

​"Benar. Kalau begitu, semoga beruntung. Aku akan meninggalkan jejak kaki di jalan, jadi saat pulang nanti, pastikan kamu menginjak jejak kaki ku.  Tolong ingat baik-baik."

​"Iya, iya. Berhentilah khawatir. Lihat saja nanti. Aku akan membawa kembali jiwa itu dengan gagah supaya kamu tidak bisa lagi memanggilku bodoh……."

​Saat ia menoleh sambil bicara begitu, Baek-ran sudah menghilang.

​Dia sudah pergi secepat itu.

​Meskipun tadi sesumbar, Yu-dan mendadak merasa sangat tegang saat ditinggal sendirian di tempat seperti ini. Dengan ragu, ia melangkah mendekati api unggun.

​Seiring jarak yang memendek, sosok para makhluk terlihat semakin jelas. Mereka sedang duduk minum dari satu tempayan besar, dan rupa mereka di bawah temaram api unggun semuanya tampak mengerikan.

​Ada Seokjangseung dari batu.

​Siluman kurus kering yang tampak seperti dipres dari kedua sisi.

​Sesosok Songaksi (hantu perawan) yang suram dengan bekas luka sayatan duri di sekujur tubuhnya.

​Seorang kakek berwajah ungu yang memakai jubah dopo dengan janggut putih.

​Sebuah kepala dengan rambut yang kusut masai.

​Dan sang pencuri jiwa. 

​Kecuali pencuri jiwa, semua makhluk itu merasakan kehadiran Yu-dan dan menoleh ke arahnya.

​"Seorang Yeok-gwi datang," ucap si kepala berambut kusut.

​"Malam yang aneh. Seokjangseung, Agwi, Songaksi, Heoju-daegam, Dandugwi, Neok-dodu (pencuri jiwa), dan sekarang bahkan Yeok-gwi berkumpul. Benar-benar malam yang aneh."

​Seolah-olah hal itu wajar, mereka semua bergeser sedikit untuk memberi ruang duduk. Yu-dan duduk sambil berpura-pura tenang, matanya melirik ke arah pencuri jiwa.

​Makhluk itu memiliki tubuh mungil seperti anak kecil dengan bahu membungkuk. Kulitnya yang biru kehitaman terlihat di bawah chima-jeogori katun yang pendek. Dengan rambut berantakan, ia menatap lekat ke arah bungkusan jiwa dengan mata yang berkilat seperti binatang.

​Obsesinya memang terlihat sangat parah. Namun, Yu-dan harus membuatnya menyerahkan kain itu secara sukarela.

​Hanya ada satu cara yang terpikirkan olehnya.

​"Ck, ck. Sayang sekali. Jiwa yang susah payah kau curi ternyata sedang sakit."

Pencuri jiwa langsung mendongak tajam.

​Yu-dan sebenarnya tidak percaya diri dengan kemampuan aktingnya. Ia jarang mengobrol normal dengan orang lain, apalagi menipu hantu. Kalau mengancam, mungkin dia bisa.

​Berhasil menarik perhatian Pencuri jiwa itu bagus, tapi sekarang ia bingung harus bicara apa lagi.

​Para makhluk halus itu tidak tahu bahwa Yu-dan sedang memutar otak setengah mati. Karena sosok Yeok-gwi yang menyeramkan tiba-tiba melempar kata-kata lalu terdiam misterius, mereka semua mulai memperhatikannya.

​"Sepertinya itu jiwa yang terkena penyakit menular," ujar Seokjangseung, si patung batu seolah tahu segalanya. "Hei, Neok-dodu. Dengarkan baik-baik. Tidak ada makhluk yang lebih tahu soal berbagai penyakit selain Yeok-gwi."

​"Aku setuju. Tapi aku benci Yeok-gwi. Kenapa aku mati? Itu gara-gara wabah yang disebarkan oleh Yeok-gwi sialan seperti dia." ucap hantu perawan yang dipanggil Songaksi. Tatapannya ke arah Yu-dan tidak ramah sama sekali.

​"Hei, Yeok-gwi. Kau harus hati-hati," kakek bernama Heoju-daegam terkekeh. "Bukankah biasanya orang menanam dahan berduri di sekitar peti mati perawan agar dia tidak menjadi hantu? Songaksi yang berhasil menembus duri-duri itu adalah hantu paling jahat di dunia."

​"Diamlah, Kakek. Lagipula, apa yang bisa kulakukan pada Yeok-gwi? Menyentuhnya saja aku ogah karena takut tertular penyakit."

Songaksi berbalik dan menyendok minuman dari tempayan. Ngomong-ngomong, tempayan itu sangat aneh. Bentuknya seperti sosok manusia berwarna hitam legam yang ditekuk membentuk huruf 'U'.

​Saat Yu-dan menatapnya, tempayan itu tiba-tiba membesar. Songaksi tersentak mundur.

​"Jangan bercanda, Dandugwi!" bentaknya pada si kepala berambut kusut. Kepala itu menjawab, "Aku tidak sedang bercanda."

​"Bohong. Bukankah ini tempayan yang kau bawa?"

​Selama mereka berdebat, Pencuri jiwa melirik Yu-dan dengan tatapan gelisah. Sepertinya perkataan Yu-dan tadi terus mengusik pikirannya. Kedua lengan yang memeluk bungkusan jiwa itu gemetar halus.

​Yu-dan merasa harus menekannya sekali lagi.

​"Padahal susah-susah mencuri jiwa," gumam Yu-dan seolah bicara pada diri sendiri. "Anak laki-laki yang tinggal di pinggir sungai Han dan punya seorang kakak perempuan. Kelihatannya sehat, tapi sebenarnya dia sakit parah di dalam. Dalam beberapa hari, jiwa itu akan musnah."

​Kini Pencuri jiwa menatap tajam ke arah mulut Yu-dan.

​Sepertinya rencananya berhasil. Yu-dan sendiri tidak percaya ia bisa menipu hantu. Ia mulai berpikir mungkin dirinya punya bakat jadi penipu.

​"Aku bisa menukarnya dengan jiwa lain yang lebih sehat."

​Begitu ia bicara begitu, kedua mata milik Pencuri jiwa menunjukkan penolakan yang jelas. Baek-ran bilang makhluk ini sangat terobsesi pada jiwa yang sudah ia miliki dan tidak akan mau melepaskannya, kan? Mengingat itu, Yu-dan segera mengubah kata-katanya.

​"Kalau kau menunjukkannya padaku, aku bisa menyembuhkan penyakitnya."

​"Bagaimana mungkin Yeok-gwi menyembuhkan penyakit?" Seokjangseung menyela. "Bukannya keahlian Yeok-gwi adalah menyebarkan penyakit? Bagaimana bisa kau menyembuhkannya? Aneh sekali."

​Gawat. Apakah dia melakukan kesalahan?

​Mendengar itu, Neok-dodu mendekap kainnya erat-erat dan mundur. Kewaspadaannya bangkit kembali.

​Yu-dan mulai berkeringat dingin. Bagaimana cara memperbaikinya? Untungnya ia memakai topeng, sehingga ekspresi paniknya tidak terlihat.

​"Aha! Aku tahu!" teriak Songaksi tiba-tiba.

​"Ternyata itu maumu! Sembuh apanya! Katakan saja yang sejujurnya! Kau sebenarnya ingin mennyerap aura penyakit itu untuk dirimu sendiri, kan? Licik sekali! Kau berpura-pura menolong Neok-dodu padahal hanya ingin mencari keuntungan sendiri!"

​Ia menatap Yu-dan dengan wajah bangga seolah telah membongkar rahasianya. Makhluk lainnya pun mengangguk-angguk paham.

​"Tentu saja. Pantas saja kata-katanya tidak masuk akal tadi."

​"Mungkin si Neok-dodu yang bodoh itu bisa tertipu, tapi kami tidak."

​"Benar-benar Yeok-gwi yang licik."

​Tanpa sengaja, Songaksi justru membantunya. Wajah pucat hantu yang penuh luka duri tiba-tiba tampak cantik di mata Yu-dan.

​"Terserahlah. Lakukan sesuka kalian. Aku tidak akan rugi apa-apa." Yu-dan mencoba menggertak balik.

Pencuri jiwa tampak sangat bimbang. Matanya bergerak bolak-balik menatap bungkusan jiwa dan Yu-dan. Ia tampak dalam pergulatan batin yang sengit.

​"Jangan lakukan. Buang saja jiwa itu ke sungai Hwang-cheon dan cari jiwa lain. Jika Yeok-gwi menyerap aura penyakitnya, dia akan jadi semakin kuat."

Songaksi kembali memberi dorongan yang tepat. Bagi Pencuri Jiwa, membuang jiwa yang sudah ia dapatkan dan mencari yang baru adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Yu-dan rasanya ingin bersujud berterima kasih pada hantu perawan ini.

​Akhirnya, Pencuri Jiwamemantapkan hati dan merangkak maju dengan ragu. Namun, saat sudah berada tepat di depan Yu-dan, ia masih ragu menyerahkan kain itu. Obsesinya membuatnya sulit melepaskan benda itu meskipun hanya sebentar.

​Hati Yu-dan terbakar rasa tidak sabar, namun ia berusaha tetap tenang.

​"Aku sih tidak rugi apa-apa."

​Ia membuang muka dan melihat Heoju-daegam sedang meminum alkohol.

​"Tapi, sejak tadi kenapa tercium bau manusia yang masih hidup, ya?"

​"Kenapa kau bahas soal manusia saat aku sedang lapar?" keluh Songaksi. "Mana mungkin ada manusia di sini. Begitu melewati batas dunia fana, mereka akan dihisap sampai ke sumsumnya hingga tidak tersisa jejak sedikit pun."

​Pada saat itu, tempayan minuman itu kembali membesar. Heoju-daegam membentak.

​"Dandugwi! Sudah kubilang jangan bercanda!"

​Kepala berambut kusut itu tersentak. "Sudah kukatakan bukan aku pelakunya!"

​"Lalu siapa yang terus-menerus membuat tempayan ini membesar? Apa kau senang bercanda begini? Hah? Aku jadi tidak bisa minum dengan tenang!"

​Semua makhluk itu mulai ribut bersahut-sahutan.

​Jantung Yu-dan nyaris copot saat mereka menyebut soal bau manusia, tapi untungnya perhatian mereka teralih ke tempayan tersebut.

Pencuri Jiwa tidak peduli dengan keributan di sekitarnya; ia tenggelam dalam kebimbangannya sendiri. Akhirnya, ia menyerah dan menyodorkan bungkusan jiwa itu perlahan.

​Buntalan putih itu kini berada di depan mata Yu-dan. Seperti layaknya sukma anak kecil yang nakal, kain itu menggembung kencang dan tampak menggeliat di dalamnya.

Ya. Sekarang mari kita pulang.

​Yu-dan menahan diri agar tidak langsung menyambarnya dengan kasar.

​Jantungnya berdegup kencang. Waktu terasa berjalan selamanya sampai akhirnya bungkusan jiwa yang menggeliat itu menyentuh dekapannya.

​"Tunggu sebentar."

Dandugwi yang sejak tadi disalahkan tiba-tiba bicara.

​"Ada yang aneh. Tempayan ini dibuat dari seluruh tubuh Eoduksini yang ditangkap. Dan Eoduksini akan membesar saat……."

​"Dilihat oleh manusia!" teriak Heoju-daegam.

​"Benar! Berarti ada manusia di antara kita!"

​Pada saat itu, segalanya seolah bergerak dalam gerak lambat.

​Para makhluk halus itu melompat berdiri dari tempat duduk mereka. Kau? Kau? Siapa? Tatapan mereka saling silang, sebelum akhirnya serentak tertuju pada Yu-dan.

​Mata Pencuri Jiwa membelalak lebar.

​Pada saat yang sama, bungkusan jiwa sudah berada dalam pelukannya. Yu-dan langsung bangkit berdiri.

​—Manusia! Manusia!

​Seluruh hutan berteriak serempak.

​Yu-dan berhasil lolos tipis dari cengkeraman tangan para makhluk halus yang menerjangnya seperti jerat. Topeng Yeok-gwi-nya terlepas dan jatuh tergeletak di tanah. Di belakangnya, jeritan mengerikan Neok-dodu bergema membelah udara.

​Jika tertangkap, habislah dia.

​Rasa takut memberi kekuatan pada kakinya. Seumur hidup, ia tidak pernah lari secepat itu. Suara riuh para makhluk halus itu mulai menjauh.

​Yu-dan terengah-engah.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Ke mana aku harus pergi?

​Benar. Rubah itu bilang dia akan meninggalkan jejak kaki.

​Ia menoleh ke sekeliling mencari jejak itu. Di kejauhan hutan, benar saja, terlihat kilauan emas.

​Ia berlari ke arah itu. Ia terus berlari sambil menginjak jejak-jejak emas tersebut. Padahal saat datang bersama Baek-ran rasanya tidak sejauh ini. Hutan itu seolah membentang tanpa akhir. Terlebih lagi, pohon-pohon di sana terasa tumbuh semakin tinggi dan besar dengan cepat…….

​Tunggu sebentar.

​Yu-dan menghentikan langkahnya.

​Ada yang aneh. Jika diperhatikan, bukan pohonnya yang membesar, melainkan tinggi pandangannya yang menurun. Bagaimana mungkin? Dengan ragu, ia melihat ke bawah.

​Ia melihat tangan dan kaki yang kecil.

​Tanpa disadari, Yu-dan telah berubah menjadi anak kecil.

​Hutan itu terlalu besar. Dunia itu sendiri terlalu besar. Jejak emas itu berkilat seolah mendesaknya untuk cepat datang, namun ia merasa ketakutan dan tidak sanggup melangkah lebih jauh.

​Tapi, ia tidak boleh begini.

​Ia harus membawa pulang kain pembungkus ini. Jika tidak, gadis itu akan kehilangan adiknya selamanya.

​Sambil berusaha melawan rasa takutnya, ia melangkah maju satu demi satu.

​Begitu menjadi anak kecil, hatinya pun menjadi lebih lemah. Seandainya saja siluman rubah itu ada di sampingnya. Meskipun mungkin ia akan dimarahi dan dipanggil bodoh, setidaknya itu lebih baik daripada sendirian di tempat ini.

............................. 

Glosarium Istilah:

  • Cheonho (천호): Rubah Langit; tingkatan tertinggi dari siluman rubah yang memiliki kekuatan suci atau mendekati dewa.
  • Hutan Mangnyang (망량의 숲): Mangnyang adalah sejenis iblis atau roh hutan dalam mitologi Korea yang suka menyesatkan orang.
  • Seokjangseung (석장승): Patung batu penjaga yang biasanya diletakkan di pintu masuk desa untuk mengusir roh jahat.
  • Agwi (아귀): Hantu kelaparan; roh yang menderita kelaparan abadi akibat keserakahannya saat masih hidup.
  • Heoju-daegam (허주대감): Roh yang berpura-pura menjadi dewa pelindung rumah untuk mendapatkan sesaji.
  • Dandugwi (단두귀): Hantu yang hanya berupa kepala tanpa tubuh.
  • Dopo (도포): Jubah luar tradisional yang biasanya dipakai oleh bangsawan atau sarjana (seonbi) pada zaman Joseon.
  • Hwang-cheon (황천): "Sungai Kuning"; sebutan untuk dunia bawah atau alam baka.
  • Eoduksini (어둑시니): Makhluk halus dalam mitologi Korea yang tumbuh semakin besar jika terus dilihat atau ditakuti oleh manusia.


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu