Kisah Aneh Banwoldang – Volume33
<Chapter 51>
Kisah ke-tiga belas
<Sumgol>
Di samudra utara yang dalam, hiduplah seekor ikan bernama Kon. Entah berapa ribu li ukurannya, tak ada yang tahu pasti. Kon bermetamorfosis menjadi seekor burung bernama Bung. Punggung Bung pun luasnya tak terukur. Saat ia terbang membubung, bentangan sayapnya menyerupai awan yang menaungi langit. Ketika laut mulai bergolak, burung ini akan bermigrasi ke samudra selatan, sebuah tempat yang dijuluki Cheonji—Telaga Langit.
『Zhuangzi: Pengembara yang Bebas』
●◉◎◈◎◉●
Cahaya matahari menusuk kelopak matanya.
Yu-dan membuka mata dengan separuh kesadaran, lalu meraih ponselnya. Angka yang terpampang di layar seketika membuatnya melonjak bangun. Kenapa ia tidak mendengar bunyi alarm tadi? Ia menatap jam di samping tempat tidur. Jam weker yang ia gunakan sejak SMP itu ternyata mati di angka 03.40.
"Wah, pasti bercanda."
Dengan tergesa ia mencuci muka dan mengenakan seragam sekolah. Jika terlambat, catatan buruknya akan bertambah. Di saat seperti ini, ia benci fakta bahwa tidak ada orang yang membangunkannya. Meski itu adalah pilihannya sendiri karena enggan menumpang di rumah bibi atau kerabat lainnya.
Sambil berpikir serampangan, ia mengemasi tasnya, menyambar sekotak susu dari lemari es, lalu bergegas keluar. Sampai di situ, segalanya masih terasa normal. Masalah baru muncul setelahnya.
Begitu membuka pintu apartemen, sesosok kakek sudah berdiri menantinya di koridor. Tentu saja, sosok itu bukan manusia. Tubuhnya mungil namun kepalanya panjang lonjong, membuatnya tampak memiliki proporsi tubuh yang aneh. Yu-dan teringat sekilas pada alien berkepala jagung yang pernah ia lihat di televisi. Melihat Unusuals dengan jubah sutra itu menguasai koridor apartemennya, Yu-dan nyaris saja menjatuhkan kotak susunya.
Tanpa peduli reaksi Yu-dan, kakek itu berucap dengan sopan, "Aku sudah mendengar cerita tentangmu."
"Cerita?"
Alih-alih menjawab, sang kakek menyodorkan sebuah kotak pernis bertahtakan mutiara yang mewah. Di dalamnya tergeletak sebuah benda berbentuk oval yang ukurannya lebih besar dari kepalan tangan. Permukaannya tertutup sisik yang rapat menyerupai biji pinus dan memancarkan kilau panca warna.
"Tahukah kamu benda apa ini? Ini adalah barang berharga yang nilainya tak bisa dilukiskan. Benda ini jatuh ke tanganku setelah melalui berbagai rintangan, namun aku benar-benar tak sanggup menanganinya. Aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik. Tolong, aku titipkan padamu."
Mendengar kata 'titip', Yu-dan tersentak sadar. "Tunggu dulu! Memangnya siapa yang setuju dititipi?!"
Namun sebelum kalimatnya tuntas, sang kakek sudah hilang dari pandangan. Hanya kotak pernis itu yang tersisa, terpaku di lantai koridor.
Kenapa mereka semua begini sih? Sekali dikerjai saja sudah cukup, masa harus dua kali?
Yu-dan mendekat dengan sangat waspada, seolah sedang mendekati limbah radioaktif. Untungnya, melalui mata kirinya, ia tidak merasakan aura jahat apa pun. Sepertinya itu hanya benda unik biasa. Ia sempat ingin mengabaikannya dan pergi, namun ia terhenti. Bagaimana kalau kubiarkan saja? Ia melirik pintu depan rumah tetangganya yang tertutup rapat.
"Menyebalkan…." Yu-dan menggerutu sambil memungut kotak tersebut.
Padahal ia belum sarapan karena takut terlambat, tapi sekarang malah ketiban urusan begini. Ia bahkan tak sempat menunggu lift. Sambil menjejal kotak itu ke dalam tasnya, ia berlari menuruni tangga. Suara gaduh terdengar dari dalam tasnya di setiap anak tangga yang ia lalui.
Setelah berlari kencang, Yu-dan berhasil mengejar bus yang baru saja tiba. Di dalam bus yang berguncang, ia mendekap tasnya erat dengan satu tangan. Seharusnya tadi ia langsung menolaknya mentah-mentah. Kenapa solusi yang paling tepat selalu muncul setelah kejadian selesai?
Meskipun ia tidak merasakan aura jahat, perasaannya tetap tak tenang. Sesampainya di sekolah, rasa gelisah itu semakin menjadi. Tiap kali membuka tas, ia merasa tegang. Ia bahkan tidak bisa pergi ke toilet dengan tenang.
"Ahh merepotkan sekali," keluh Yu-dan sambil membenamkan wajahnya di meja kelas.
Rentetan kejadian aneh yang ia alami selama ini telah memberinya satu pelajaran berharga: jika dirinya tidak segera mengembalikan benda-benda aneh seperti ini ke tempat asalnya, urusannya bukan lagi soal 'merepotkan', tapi bisa berujung maut. Di sisi lain, meski hanya sedikit, ia penasaran dengan identitas benda oval tersebut.
Itulah sebabnya, segera setelah sekolah usai, Yu-dqn bergegas menuju Banwoldang.
Jalanan yang rimbun oleh pepohonan Hoehwa. Jajaran toko-toko bergaya klasik di kiri dan kanan jalan. Di kawasan tradisional ini, jika dicari dengan teliti, akan muncul sebuah toko tempat para siluman berbisnis. Yu-dan melirik papan nama kecil bertuliskan Banwoldang, lalu melangkah masuk melalui gerbang yang terbuka lebar.
"Selamat data—"
Dokkaebi paruh baya yang sedang duduk santai sembari mengipasi diri berdiri. Namun raut wajahnya segera berubah kecewa setelah mengenali siapa yang datang.
"Ku kira pelanggan."
"Masih sepi?"
"Sepertinya toko ini sedang kena sial."
"Bukan kena sial, tokonya saja yang dikelola oleh makhluk gaib."
"Apa sekelihatan itu?"
Yu-dan mengabaikan sang dokkaebi yang sibuk mencemaskan tagihan listrik dan air, lalu melangkah ke dalam. Di dalam toko benar-benar kosong. Hanya ada siluman ular yang sedang terkantuk-kantuk, namun ia segera membuka matanya lebar-lebar.
"Ternyata kau. Kebetulan sekali."
"Kenapa mukamu seram begitu?"
"Aku baru saja meracik menu baru. Maukah kau mencicipinya?"
Heukyo segera menyiapkan meja teh. Ia menyusun teko porselen putih, cangkir, dan berbagai peralatan lainnya dengan gerakan yang anggun. Tata krama minum tehnya memang sudah sangat mendarah daging.
"Kudengar di dunia manusia sekarang, belajar bahasa kaum mata biru sangat penting? Sampai-sampai ada perkampungan bahasa Inggris segala."
"Dari dulu memang begitu," sahut Yu-dan sembari mengangkat cangkir tehnya. Ia tak tahu teh apa ini, tapi aromanya terasa gurih.
"Katanya bahasa Inggris itu syarat wajib. Kalau tidak bisa, susah masuk universitas, susah cari kerja, pokoknya susah segalanya."
"Benarkah? Kalau begitu, ramuan ini pasti laku keras."
"Ramuan apa ini?"
"Teh yang bisa membuatmu menjadi seorang native speaker."
"Beneran? Cuma dengan minum ini, kemampuanku jadi setara warga asli sana?"
"Bukan kemampuannya. Kamu yang benar-benar menjadi warga asli sana. Roh Benediktus, seorang misionaris dari era pencerahan, akan masuk dan merasuki tubuhmu."
Yu-dan langsung menyemburkan tehnya. "Gila ya!"
"Benediktus sendiri setuju-setuju saja kok."
"Manusia tidak akan suka!"
"Meskipun bisa jadi native speaker dalam sekejap?"
"Seobsesi apa pun mereka dengan bahasa Inggris, mereka belum jatuh serendah itu! Siapa juga yang mau membiarkan roh misionaris zaman dulu merasuki tubuhnya? Kalau ini tidak ditulis jelas di menu, kau bisa dilaporkan ke Lembaga Perlindungan Konsumen!"
"Hmm, begitu ya? Padahal aku sudah bersusah payah meraciknya demi punya menu unik yang beda dari toko lain. Menjalankan bisnis di dunia manusia memang sulit sekali. Apa lebih baik aku buka tempat latihan pedang saja?"
"Tiba-tiba ganti profesi?"
Tepat saat itu, pintu belakang terbuka dan si kembar siluman ginseng melangkah masuk.
"Wah, Yu-dan sudah datang? Kami tidak tahu dan asyik main di halaman belakang."
"Lagi main?"
"Iya, hari ini benar-benar tidak ada tamu. Ngomong-ngomong, ada perlu apa?"
Barulah Yu-dan teringat tujuannya. Ia hampir saja hanyut dalam obrolan santai yang tak berguna. "Mana tuan kalian?"
"Ada tamu yang berkunjung. Tuan Gwak-gwak dari Gunung Inwang, beliau itu dewa dukun. Dewa yang dipuja dalam tradisi mudang."
"Ada urusan apa?"
"Cuma bertamu saja, ingin mengobrol santai. Sepertinya saat ini Cheonho-nim sudah bosan setengah mati meladeni kakek itu, tapi yah, menghadapi para tetua memang bagian dari tugas beliau."
"Begitu?" Yu-dan tak ingin menunggu lama. Ia lebih baik segera menyerahkan bebannya. Ia membuka tasnya. "Sebenarnya aku juga baru saja didatangi seorang Unusuals kakek-kakek."
Yu-dan mengeluarkan kotak pernis dan membuka tutupnya. Tampaklah benda oval yang memancarkan kilauan panca warna. "Benda ini, katanya barang berharga tapi aku tidak tahu ini apa. Apa ada di antara kalian yang mau… eh maksudku, siluman yang mau mengambilnya?"
Para siluman seketika terpaku menatap benda tersebut.
"Ini…" Heuk-yo hendak menjulurkan tangannya, namun Chae-seol segera menepisnya.
"Kakak kan ular! Burung adalah musuh mu!"
"Ah, benar juga. Tapi…"
"Biar kami saja yang ambil."
"Jangan. Biar aku yang mengurusnya."
"Biar kami saja yang ambil!" Chaewoo bersikeras menentang Heuk-yo. Biasanya ia tampak tak punya pendirian dan selalu mengalah demi perasaan orang lain, namun kali ini sikapnya sangat berbeda.
"Apa-apaan? Jadi ini benar-benar barang berharga? Ucapan kakek aneh itu benar?" tanya Yu-dan.
"Iya. Ini adalah telur. Telur burung Bung," jawab Chaewoo sembari menyentuh permukaan telur yang bersisik. "Terasa panas. Sepertinya sebentar lagi akan menetas, kita harus segera membuat sarang. Kak, ayo!"
"Oke! Sabar ya burung kecil!"
Si kembar mengangkat telur itu dengan penuh kehati-hatian. Saat hendak keluar, mereka mendadak teringat sesuatu dan menoleh ke arah Yu-dan. "Tolong rahasiakan ini dari Cheonho-nim."
"Iya, terserah kalian saja."
"Terima kasih!"
Kedua siluman kecil itu pun bergegas lari keluar.
"Eh, tunggu dulu, anak-anak……" Heuk-yo menjulurkan tangannya ke udara dengan raut wajah tak biasa. Yu-dan meliriknya sekilas sebelum akhirnya mengekor di belakang si kembar.
Chae-seol dan Chaewoo mengitari dinding toko menuju sebuah gudang kecil di samping sumur. Mereka hampir mengunci pintunya kalau saja tidak melihat Yu-dan mengejar di belakang.
"Kenapa ikut?"
"Cuma mau lihat."
"Apa Tuan Muda suka burung?"
"Tidak, justru benci."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tenang saja. Aku tidak akan merebutnya kembali dari kalian."
Yu-dan melangkah masuk ke dalam gudang. Tercium aroma rumput kering yang segar. Di dalamnya penuh dengan tumpukan jerami, keranjang-keranjang yang tergantung, peralatan tani, hingga karung-karung rami.
"Pakai apa ya buat sarangnya?" Si kembar menoleh ke sana kemari. Tiba-tiba, terdengar suara retakan nyaring dari arah telur. Kedua siluman itu tersentak.
"Sudah mau keluar?"
"Sepertinya dia mendengar suara kita! Ayo cepat bikin sarangnya!"
"Pakai ini saja," usul Yu-dan sambil menarik sebuah kotak kardus besar dari sudut gudang.
"Terima kasih!" Si kembar menerima kotak itu dengan gembira. Mereka menaruhnya di depan jendela kecil, lalu membongkar seikat jerami untuk dijadikan alas yang empuk. Begitu telur diletakkan di atasnya, cangkangnya pecah.
"Sudah keluar!" Chae-seol menangkupkan kedua tangannya karena tegang.
Melalui lubang retakan cangkang, terlihat gumpalan bulu yang basah. Sesuatu di dalam sana tampak menggeliat. Yu-dan merasakan sensasi aneh menyaksikannya. Ia bingung apakah harus menyebut proses kelahiran burung ini sebagai sesuatu yang menakjubkan atau justru menjijikkan.
"Tapi sepertinya dia kesulitan untuk keluar?"
"Benar juga. Apa kita harus membantunya memecahkan cangkangnya?"
"Iya, ada pepatah terkenal Jultak-dongsi."
"Apa itu?"
"Istilah apa itu?"
"Ternyata cuma aku yang tahu. 'Jul' adalah saat anak ayam mematuk dari dalam untuk keluar, dan 'Tak' adalah saat induk ayam membantu mematuk dari luar. Keduanya harus dilakukan secara bersamaan agar telur bisa pecah. Kak, cepat bantu pecahkan cangkangnya."
"Bagaimana kalau aku salah tekan dan burungnya ikut hancur? Kamu saja!"
"Jangan! Aku juga takut!"
"Minggir!"
Yu-dan menggunakan ujung jarinya untuk menarik kepingan cangkang besar yang sudah retak. Namun lapisan selaput di bagian dalam membuatnya sulit terlepas. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengerahkan sedikit tenaga hingga akhirnya cangkang itu terbuka lebar. Tampak sesuatu yang aneh di dalam sana.
"Benda apa itu? Apa itu bola mata?"
"Sepertinya iya."
Di dalam cangkang, sebuah bola mata berwarna biru tampak bergerak-gerak. Matanya tertutup selaput tipis. Ugh, benar-benar menjijikkan, batin Yu-dan. Ia terus memecahkan sisa cangkang dengan hati-hati hingga tiba-tiba kepala burung itu menyembul keluar. Yu-dan nyaris menjerit karena kaget.
"Hei! Bikin kaget saja!"
Wujud burung kecil yang tertekuk di dalam telur itu kini terlihat jelas. Terdengar deru napasnya yang pendek dan kasar. Burung kecil itu meronta cukup lama hingga akhirnya kakinya yang keriput mencengkeram tepi cangkang dengan kuat dan ia berhasil keluar.
"Keluar! Dia keluar!" seru si kembar.
Burung kecil yang basah itu ukurannya sebesar anak ayam jumbo. Ia sempat terjerembap di lantai sebelum kembali berusaha berdiri. Setelah berkali-kali tumbang dan dengan susah payah mengepakkan sayap pendeknya yang mirip penguin, akhirnya ia berhasil. Si kembar yang sedari tadi menahan napas langsung bersorak kegirangan.
"Berhasil! Kamu hebat!"
"Selamat datang di dunia ini, burung kecil."
Burung itu kembali jatuh terduduk karena kakinya yang masih lemah. Sambil berjongkok, ia memutar bola matanya mengamati sekeliling. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan suara dengkuran halus.
"Sepertinya dia sedang mencari sesuatu?"
"Mencari ibunya ya? Aduh, ibumu tidak ada!" Chae-seol dan Chaewoo panik dan mencoba memeluk burung itu. Namun burung kecil itu justru mencicit semakin keras. Bagi Yu-dan, itu bukan suara mencari induk.
"Bukankah dia hanya lapar?"
"Ah, benarkah?"
"Sepertinya begitu, Kak!"
"Kalian berdua benar-benar linglung. Biar aku yang ambilkan makanannya. Apa yang biasanya dimakan anak burung?"
Si kembar berpikir sejenak. "Kuning telur?"
"Benar! Hancurkan sampai lembut lalu suapi dengan sendok!"
"Dia juga butuh air minum. Air yang bersih."
Yu-dan mengiyakan dan segera melangkah keluar. Suasana di luar tampak sunyi, tak ada tanda-tanda keberadaan siluman lain. Ia masuk ke dapur dan mencari telur rebus, namun nihil. Apa aku harus merebusnya sendiri?
Ia membuka salah satu lemari es, namun segera menutupnya kembali dengan panik saat sesuatu keluar dari dalam. Sepertinya ia salah buka lemari es. Di lemari es yang satunya, ia menemukan pemandangan yang lebih normal. Ia mengambil enam butir telur dan mulai merebusnya. Setelah matang, ia menyiapkan sebotol air bersih dan membawanya bersama wadah berisi telur rebus tadi.
Saat hendak melangkah keluar dapur, ia tersentak kaget. Ia melihat punggung siluman rubah yang sedang menajamkan telinganya sembari menoleh ke sana kemari. Bukankah tadi katanya ada tamu?
Rubah ini sangat terobsesi dengan benda-benda unik. Yu-dan merasa sedikit bersalah karena telah memberikan telur berharga itu kepada si kembar tanpa memperlihatkannya pada Baek-ran terlebih dahulu. Apalagi si kembar memintanya untuk merahasiakan hal ini. Benar-benar situasi yang canggung.
Yu-dan mencoba melangkah mundur tanpa suara. Namun tepat saat itu, Baek-ran memutar tubuhnya dengan cepat ke arah Yu-dan.
. ...........
Glosarium Istilah:
- Kon (鯤) & Bung (鵬): Makhluk mitologi dari naskah kuno Tiongkok Zhuangzi. Kon adalah ikan raksasa yang berubah menjadi burung raksasa bernama Bung.
- Sumgol (숨골): Secara harfiah berarti ubun-ubun atau bagian yang berdenyut; dalam konteks ini bisa merujuk pada titik kehidupan atau asal-usul makhluk agung tersebut.
- Mudang (무당): Dukun tradisional Korea yang bertindak sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh.
- Jultak-dongsi (줄탁동시): Pepatah yang bermakna keberhasilan sebuah proses yang membutuhkan kerja sama antara pihak dalam dan luar secara bersamaan.
- Bung-sae (붕새): Sebutan burung Bung dalam bahasa Korea.

