Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 50>
Kisah tambahan
<Hujan di Waktu yang Tepat>
Baru sebentar musim semi tiba, tapi kenapa hawanya sudah gerah?
Yu-dan menghentikan sepedanya. Langit mendung namun udara terasa pengap dan lembap—cuaca yang paling ia benci. Es yang tadinya membeku kini sudah mencair. Sambil meneguk air yang mulai menghangat, tanpa sengaja ia memandang ke seberang jalan.
Semak-semak di depan sana berdesis, lalu sesosok siluman mungil berbulu menyelinap keluar. Setelah memastikan situasi aman, siluman itu menyeberangi jalur sepeda dan memberikan sebuah payung kepada siluman lain yang sedang mengais tempat sampah.
Tak jauh dari sana, siluman lain tampak mengenakan caping. Makhluk-makhluk kecil yang berkumpul di kejauhan pun satu per satu mulai membentangkan payung mereka.
……Eh?
Yu-dan mendongak. Awan yang tadinya putih, dalam sekejap telah berubah menjadi kelabu. Mau hujan? Tepat saat pikiran itu melintas, butiran air langsung tumpah membasahi bumi. Langit meredup drastis dan pandangannya terhalang oleh kabut hujan yang tebal.
"Apa-apaan! Mendadak sekali…."
Suaranya sendiri nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru hujan yang menghantam tanah. Sepertinya ini bukan sekadar hujan lebat yang numpang lewat. Dengan terpaksa, ia memutar balik sepedanya.
Jalanan tradisional pun tampak kacau akibat guyuran hujan yang tiba-tiba ini. Para pemilik toko sibuk menutup lapak mereka dengan plastik dan memasukkan barang dagangan ke dalam. Yu-dan berjuang menembus tirai hujan yang pekat hingga akhirnya tiba di depan toko.
Si kembar menyambutnya dengan wajah terkejut saat membuka pintu.
"Wah, kamu basah kuyup!"
"Cepat masuk! Nanti bisa flu!"
Chae-seol membawakan tumpukan handuk, sementara Chaewoo membantu memarkirkan sepeda di bawah emperan. Begitu melangkah masuk, Yu-dan langsung bersin. Jangan-jangan aku benar-benar akan kena flu?
Ia bergegas menyeka sisa air di tubuhnya. Entah sihir apa yang digunakan siluman ginseng perempuan itu, handuknya seolah menyedot air dengan cepat hingga tubuh Yu-dan kembali kering dan segar.
"Ramalan cuaca tadi tidak bilang bakal ada hujan, lho."
"Benar," sahut Chaewoo sembari membereskan barang-barang di atas meja. Berbagai buku, peti, hingga gulungan naskah tampak berserakan di sana.
"Kebetulan hari ini sedang sepi pelanggan, jadi kami sedang bersih-bersih. Tunggu sebentar ya, setelah ini kami buatkan teh."
"Ah, biar kubantu juga."
Hujan sepertinya belum berniat untuk reda. Di balik jendela, pemandangan luar tenggelam dalam kabut air. Sayup-sayup hanya terlihat jajaran atap ubin kuno dan kusen jendela tradisional, memberikan kesan waktu sedang berputar kembali ke masa lalu.
Gerakan tangan Yu-dan melambat saat ia menemukan sesuatu yang unik di tengah tumpukan buku. Tampaknya itu adalah novel Tiongkok kuno, namun ilustrasi di dalamnya bergerak hidup.
"Ah, itu novel Batas Air (Suhoji)," celetuk Chaewoo.
"Batas Air?"
"Coba baca saja. Seru, tahu."
"Benar! Kisah seratus delapan pendekarnya keren sekali!" Chae-seol menimpali dengan mata berbinar, namun sedetik kemudian wajahnya mendadak suram. "Tapi, akhirnya mereka semua mati."
"Hei! Kenapa kamu kasih tahu bocoran akhirnya!" protes Chaewoo.
"Aku cuma tidak mau Yu-dan merasa sakit hati sepertiku nanti. Oh ya, menurutku Hu San-niang yang dijuluki si 'Hijau Sepanjang Satu Zhang' adalah yang paling hebat. Apa ini juga termasuk bocoran?"
"Tentu saja tidak! Karena yang paling hebat itu Hua Rong si 'Li Guang Kecil'!"
"Mana bisa! Mana ada yang lebih keren daripada wanita cantik yang menunggang kuda sambil mengayunkan pedang ganda?"
"Hua Rong itu pemanah hebat yang bisa membidik angsa yang sedang terbang! Lagipula dia sangat setia dan penuh integritas!"
Si kembar pun mulai berdebat sengit. Bukan sekadar kata-kata, Chae-seol mulai mengayunkan dua sapu layaknya pedang ganda, sementara Chaewoo melemparkan berbagai benda sebagai pengganti anak panah.
"Cepat menyerah, Hua Rong!"
"Kamulah yang harus menyerah, Hu San-niang!"
Dalam sekejap, ruangan yang tadinya mulai rapi kembali berantakan. Tuan Do yang sedari tadi terlelap di pojokan pun tersentak bangun. "Ada apa ini! Kenapa Hua Rong dan Hu San-niang berkelahi?!"
"Paman, tolong pisahkan mereka," pinta Yu-dan.
Tuan Do mengucek matanya. Begitu menyadari situasinya, ia hanya bisa berdecak-decak. "Aduh! Kalian meributkan novel itu lagi. Sudah kubilang Wu Yong si 'Bintang Kecerdasan' yang terbaik. Strateginya bahkan bisa mengelabui hantu! Adegan paling ikonik adalah saat ia menyamar menjadi penjual arak untuk merampas hadiah ulang tahun pejabat korup--"
"Berhenti memberikan bocoran!" protes si kembar.
Namun Tuan Do tak peduli dan terus menceritakan adegan favoritnya dengan detail yang gamblang. Sementara itu, pertarungan si kembar semakin memanas hingga akhirnya Hu San-niang tak sengaja menginjak dan memecahkan keramik akibat lemparan tusuk konde Hua Rong.
PRANG!
Mendengar suara itu, Heuk-yo berlari keluar. "Kalian berdua! Orabeoni juga!"
Ia terpaku menatap kondisi toko yang kini kacau. Seolah sudah paham apa yang memicu kericuhan ini, ia segera kembali ke dapur dan keluar membawa sepasang kapak besar.
"Bagaimanapun juga, Li Kui si 'Angin Hitam' adalah yang paling tangguh."
"Uwaaaakh!"
Melihat Heuk-yo mengayunkan kapak gandanya dengan mata yang berkilat, semua orang berteriak ketakutan dan berlarian menjauh. Dengan cepat, mereka langsung membereskan kembali kekacauan tersebut.
Keadaan pun terkendali dalam waktu singkat. Heuk-yo meletakkan senjatanya dan menepuk-nepuk tangannya. Tatapan dingin siluman ular itu kini beralih ke arah Yu-dan. Yu-dan langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
"Aku cuma korban yang kena bocoran cerita."
"Memangnya ada yang bilang kau salah? Ayo bangun. Pas sekali, aku butuh bantuan untuk membawakan barang."
"Barang apa?"
"Ada toko yang hanya buka di saat hujan seperti ini. Ada sesuatu yang harus kubeli."
"Apa aku harus ikut?"
Heuk-yo melirik ke arah kapak gandanya tanpa menjawab. Yu-dan pun segera beranjak. "Mendadak aku ingin memegang sesuatu yang besar, berat, dan berbentuk kotak. Iya, sepertinya membawakan barang kedengarannya bagus."
"Dasar aneh! Kau cuma perlu membawakan kantong plastik. Ayo cepat!"
Hujan masih mengguyur bumi. Meski tak sederas tadi, air masih turun terus-menerus tanpa tanda-tanda akan berhenti. Saat Yu-dan menunggu Heuk-yo di halaman, jendela di lantai atas berderit terbuka. Siluman rubah menunjukkan kepalanya.
"Lagi sibuk?"
"Kenapa?"
"Ada hal penting yang ingin kukatakan."
"Apa itu?"
"Mendekatlah sebentar."
"Memangnya ada apa?"
"Lebih dekat lagi. Ini sangat penting. Kamu harus mengingatnya baik-baik."
"Iya, iya, apa?"
"Wu Yong si ahli strategi pernah melakukan kesalahan saat memalsukan surat untuk menyelamatkan ketuanya, Song Jiang. Karena sebutan dan cap yang salah, rekan mereka, Dai Zong, justru terjatuh dalam bahaya. Ini adalah plot twist yang menunjukkan bahwa si jenius sekalipun bisa melakukan kekeliruan," ucap Baek-ran dengan senyuman khas rubahnya.
"Hah?"
Yu-dan menatapnya dengan raut wajah kesal, sementara Baek-ran tampak sangat puas. "Aku hanya takut kamu terkejut saat membacanya nanti."
"Jadi kamu memanggilku cuma buat kasih spoiler? Terima kasih banyak. Rasanya aku sudah tamat baca novelnya hanya dalam waktu singkat."
Yu-dan berbalik pergi sambil menggerutu, namun rubah kembali memanggilnya. "Tunggu dulu."
"Apa lagi?"
"Kamu tidak bawa payung?" Sesuatu meluncur jatuh dari jendela. Ternyata sebuah payung kertas dengan kerangka bambu.
"Di sini juga ada payung?"
"Payung biasa tidak akan cukup. Di tengah hujan seperti ini, seseorang sangat mudah untuk kehilangan arah."
Heuk-yo yang baru saja keluar pun membawa payung kertas yang identik, lengkap dengan hiasan gambar rubah kecil di atasnya. Yu-dan hanya bisa terdiam bingung, bertanya-tanya apa maksud dari perkataan siluman itu. Ia pun membentangkan payung tersebut.
Ia melangkah mengekor Heuk-yo menuju jalanan yang diguyur hujan. Rintik air mengetuk-ngetuk payung kertasnya. Di balik naungan payung, pemandangan jalanan tradisional yang terendam air tampak memantulkan bayangan bangunan sekitarnya secara terbalik. Cipratan air sesekali muncul dari langkah kaki mereka.
"Bisa tidak jalannya lebih hati-hati?" tegur Heuk-yo.
"Toh nanti bakal basah juga, buat apa hati-hati?"
"Berbicara denganmu memang selalu tidak nyambung."
"Justru aneh kalau kita bisa nyambung."
"Yah, itu benar sih… tapi tetap saja, tolong lebih hati-hati sedikit."
"Sudah kubilang nanti juga basah…."
Di tengah perdebatan itu, Yu-dan melihat beberapa siswi lewat dengan membawa anjing. Seekor anjing putih yang mengenakan jas hujan tampak mengibas-ngibaskan ekornya dengan penuh semangat saat mata mereka bertemu.
Tunggu sebentar. Anjing itu terasa familier. Yu-dan segera ingat bahwa itu adalah Baek-gu, anjing yang sangat disayangi oleh arwah bocah laki-laki yang pernah berkunjung ke Banwoldang. Tampaknya keluarga yang mengadopsinya benar-benar merawatnya dengan baik. Yu-dan memandangi punggung anjing itu sejenak.
"Ada apa?" tanya Heuk-yo.
"Bukan apa-apa."
Mereka kembali melangkah. Saat berbelok di tikungan, seseorang kembali melintas di sampingnya.
"Sudahlah, biarkan saja dia hidup seperti itu. Dulu aku sangat kesal sampai berpikir ingin menabraknya dengan mobil saat dia sedang bekerja sambilan. Kalau aku sedikit lebih nekat, hidupnya pasti sudah berakhir."
Yu-dan memperhatikan punggung pria yang berjalan cepat menembus genangan air. Pria itu adalah sosok yang pernah ia temui di sungai Han tempo hari….
"Kenapa lagi?" tanya Heuk-yo penasaran.
"Ah, bukan apa-apa."
Hujan terus turun membasahi jalanan yang tampak lengang. Hanya suara percikan air yang terdengar. Namun dari arah depan, terdengar suara langkah yang tergesa-gesa.
"Jalannya pelan-pelan! Nanti kalau terpisah kau mau bagaimana?!"
"Tidak akan!" Seorang bocah laki-laki berhenti dan menjulurkan lidahnya. "Noona saja pernah menghilangkanku dulu? Ingat tidak?"
"Kapan aku melakukannya!"
"Sewaktu ayah dan ibu pergi ke simposium! Noona sampai menangis karena panik mencariku! Aku melihatnya!"
Bocah itu kembali berlari, dikejar oleh seorang siswi SMA yang membawa buku. "Tunggu!" Gelak tawa mereka memecah kesunyian jalanan yang diguyur hujan. Yu-dan terpaku sejenak memandangi keakraban kakak-adik tersebut.
Kali ini Heuk-yo tidak bertanya lagi. Ia hanya memutar payungnya untuk membuang sisa air dan terus berjalan dalam diam. Tak lama, sebuah keluarga dengan payung yang seragam melintas di samping mereka—ayah, ibu, dan seorang putri kecil.
"Kukira kita takkan pernah bisa berjalan bertiga lagi seperti ini…."
"Aku juga merasa seperti masih bermimpi…. Ayah dan ibu sangat bahagia, tapi kenapa Hye-ji malah merajuk begitu?"
"Ini bukan dia! Ini bukan rubah yang itu! Bukan rubah emas yang menemaniku saat bermain petak umpet!" protes si anak sambil menggelengkan kepala, namun ia tetap memeluk erat boneka rubah gurun di dekapannya.
Sosok keluarga itu pun perlahan menghilang ditelan kabut hujan. Heuk-yo yang melihat mereka tampak menyunggingkan senyum tipis. Sebuah kedai tenda kecil terlihat di depan sana, memancarkan cahaya remang-remang dari lampion yang terpasang.
"Nah, itu tempatnya. Tunggu di sini sebentar, aku akan membelinya." Yu-dan mengangguk setuju.
Sambil mendengarkan irama hujan yang membasahi payungnya, Yu-dan menangkap suara percakapan dari arah lain.
"…Entahlah. Aku benar-benar tidak tahu. Urusanku sendiri saja sudah membuatku pusing. Tahu begini, seharusnya aku tidak memberikan kelereng itu. Sejak saat itu nasib buruk seolah terus menempel padaku. Duh, sepertinya aku harus cari dukun sakti untuk mengadakan ritual pengusir sial. Hidupku rasanya berantakan…."
Sosok yang wujudnya sama sekali tidak menyerupai manusia itu tak sengaja menabrak Yu-dan karena terlalu asyik mengobrol dengan temannya. Ia segera memperbaiki posisi dan meminta maaf dengan panik. "Maaf Kondisi fisik ku sedang kurang baik. Mohon maaf sebesar-besarnya. Tolong jangan marah pada ku." Monster itu pun segera berlalu dengan langkah pincang.
Tirai kedai tersingkap. Heuk-yo keluar membawa dua kantong plastik besar di kedua tangannya.
"Kenapa tersenyum sendiri begitu?"
"Bukan apa-apa."
Yu-dan menerima salah satu kantong plastik tersebut dan mulai berjalan pulang. Namun baru beberapa langkah, Heuk-yo mendadak berhenti. "Ah, aku hampir lupa sesuatu. Tunggu di sini sebentar." Ia meletakkan kantongnya dan berlari kembali ke kedai.
Yu-dan berdiri mematung di bawah payungnya, hingga matanya menangkap sesuatu. Di teras depan sebuah bangunan, seorang anak kecil duduk meringkuk di tengah guyuran hujan. Yu-dan memandanginya dalam diam.
Rambut anak itu menempel di wajahnya karena basah. Tas bergambar karakter kartun miliknya pun sudah dipenuhi noda air. Hanya syal di lehernya yang ia jaga agar tidak basah.
Kenapa hujan harus turun? Ekspresi anak itu seolah sedang memprotes bumi.
Ia benci hujan, benci melihat orang-orang yang melintas membawa payung, dan benci pulang ke rumah yang kosong tak berpenghuni. Kenangan tentang hari-hari saat ia meringkuk sendirian seperti itu, kenangan yang terus berulang setiap kali hujan turun, kini terasa begitu menyesakkan.
Yu-dan menatap anak yang wajahnya tampak muram itu cukup lama. Perlahan, ia melangkah mendekat. Anak itu, yang tadinya hanya menatap tanah, tersentak saat menyadari hujan tak lagi membasahinya. Ia mendongak dan melihat seorang siswa SMA yang tak ia kenal sedang memayunginya. Dengan raut wajah cuek, ia memalingkan wajahnya kembali.
Yu-dan mengulurkan gagang payungnya lebih dekat ke arah sang anak. Setelah terdiam beberapa saat, anak itu perlahan menjulurkan tangannya dan menerima payung tersebut dengan ragu. Sambil kembali melilitkan syalnya, ia menyeka sudut matanya dengan ujung kain tersebut.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Heuk-yo sudah kembali. Ia memungut kantong plastik di lantai, lalu mendekat dan memayungi Yu-dan. Butiran air yang tadinya jatuh ke kepala Yu-dan pun menghilang.
"Apa yang tadi lupa dibeli?" tanya Yu-dan sedikit kikuk.
"Ah, bukan hal besar," sahut Heuk-yo sembari memasukkan sebungkus bubuk kari ke dalam kantong. "Ayo pulang."
"Oke."
Keduanya pun berjalan beriringan di bawah satu payung yang sama. Hujan terus turun membasahi bumi, seolah tak berujung.
...............
Glosarium Istilah:
- Suhoji (수호지): Merupakan judul Korea untuk novel klasik Tiongkok Batas Air (Water Margin), menceritakan 108 pendekar yang memberontak terhadap pemerintah korup.
