Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 49>

 

"Wah…"

​Manajer Park menatap cangkir itu dengan penuh takjub. "Aku hanya perlu meminumnya?"

​"Benar."

​"Kalau begitu…."

​Ia mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Namun, tepat di depan dadanya, tangannya mendadak kaku. Gerakannya terhenti, ia hanya terdiam memandangi minuman. Yu-dan pun bertanya.

​"Kenapa tidak diminum?"

​"Ah."

​Ia mencoba mengangkat cangkir itu kembali. Namun lagi-lagi tangannya terhenti. Cangkir itu seolah tertahan di depan dadanya, enggan naik lebih tinggi lagi.

​"Ada masalah?" tanya Baek-ran.

​Manajer Park tidak langsung menjawab. Setelah terdiam cukup lama, barulah ia membuka suara.

​"…Aku tidak tahu."

​"Tidak tahu maksudnya? Paman, apa yang membuat Paman ragu?"

​"Awalnya, saat benih ini bertunas di tubuh, aku merasa sangat ketakutan. Namun di sisi lain, mimpi yang dia perlihatkan sungguh memesona. Aku terus mengingatkan diri sendiri agar tidak terbuai mimpi itu. Aku punya keluarga. Aku punya pekerjaan. Aku harus segera melepaskan benda ini dan kembali ke kehidupan normal. Aku selalu berpikir begitu, tapi……."

​"Tapi?"

​"Begitu tiba untuk melepaskannya, entah mengapa au justru merasa ragu." Manajer Park menunduk menatap cairan di dalam cangkirnya. "Apa aku benar-benar ingin kembali? Kembali ke realita seperti itu?"

​Yu-dan tersentak kaget. "Apa yang Paman bicarakan! Kalau tidak kembali, lalu bagaimana dengan keluarga Paman? Padahal Paman bilang mereka sangat berharga!"

​"Entahlah…." Ia menghela napas panjang. "Keluarga ya…. Aku memang menikah karena cinta, tapi sekarang aku tidak yakin lagi. Rasanya kami sudah seperti orang asing."

​"Semua orang juga begitu! Katanya memang begitulah hidup berumah tangga!" seru Yu-dan mencoba meyakinkan.

​"Aku tahu. Orang bilang cinta butuh usaha. Tapi tiba-tiba aku terpikir, kenapa aku harus berusaha keras? Kenapa aku harus berjuang setengah mati hanya untuk mempertahankan sesuatu? Begitu juga dengan anak-anak. Sejak kapan mereka hanya bicara soal uang? Mereka memang selalu bilang sayang pada ayahnya, tapi entah mengapa itu terasa hampa bagi ku…."

​"Itu karena mereka tidak pandai mengekspresikannya!"

​"Bukan."

​"Itu karena kalian tinggal berjauhan! Suruh mereka pulang sekarang juga!"

​"……."

​Manajer Park perlahan mengeluarkan ponselnya. Terpampang deretan pesan dari kontak bernama ‘Istri’.


Sudah kirim uang? Biaya bulanan bulan ini habis.

 

​Ia membuka kotak masuknya dengan tatapan kosong.


Uang kuliah anak-anak harus dibayar tapi saldo kurang. Hubungi aku kalau sudah cek.

Ayah sedang apa? Kartuku tidak bisa digesek.

Katanya kamu untung banyak dari saham? Minggu depan kita harus bertemu.

Ayah kesayangan♡ minta uang saku dong buat beli baju baru.

 

​"Meski aku sudah kehilangan kesadaran selama beberapa hari…."

​Bahu Manajer Park merosot lesu. Ia mencoba mencari pesan yang tidak membahas soal uang di kotak masuknya, namun nihil.

​"Inilah akhir dari manusia yang mencoba menyelesaikan segalanya dengan uang," gumamnya pahit.

​"Sekarang aku menyadarinya dengan jelas. Hidup ku adalah sebuah kegagalan. Aku hanya hidup dengan meniru cara hidup orang lain, tapi sebenarnya tidak pernah merasa bahagia sedetik pun. Satu-satunya saat aku merasa benar-benar bahagia hanyalah di dalam mimpi itu…."

​"……."

​"Rasanya ada sesuatu di dalam kepala yang terputus. Sekarang aku paham kenapa ada orang yang memilih terjun dari atap gedung kantor. Sepertinya tidak lama lagi aku pun akan berakhir seperti itu. Daripada menunggu hari itu tiba, lebih baik…."

​Keheningan melanda ruangan itu.

​"Aku mengerti," Baek-ran akhirnya bicara. "Kalau begitu, tempat yang seharusnya Paman tuju bukanlah realita, melainkan dunia mimpi itu."

​"Hah?" Yu-dan menoleh ke arah rubah dengan wajah panik. "Mana boleh begitu!"

​"Iya, aku paham," Baek-ran mengangguk pelan.

​"Sejujurnya ini masalah yang pelik. Tahanlah, berusahalah lebih keras lagi, hari esok yang cerah pasti datang. Dunia selalu berkata begitu pada manusia. Terus-menerus memompa semangat pada jiwa-jiwa yang sudah lelah. Sayangnya, meski diberikan sugesti yang mendekati cuci otak sekalipun, ada kehidupan yang memang mustahil untuk diperbaiki. Sesuatu telah berjalan sangat salah. Suka atau tidak, ada kehidupan yang memang sudah hancur."

​"……."

​"Karena takut dicemooh jika tidak bekerja keras, dan karena menganggap menyerah adalah sebuah dosa, banyak jiwa yang terseret dalam keterpaksaan. Itu bukan hidup yang sebenarnya. Itu kondisi 'tidak mati'. Namun dunia tetap memaksakan untuk berusaha. Dunia menyuruh manusia untuk tetap bertahan mencari kebahagiaan meski dalam hidup yang sudah hancur. Bukankah itu bentuk kekerasan? Menurut ku, siapa pun berhak untuk tidak melakukan usaha yang tidak mereka inginkan."

​Kata-kata itu memberikan perasaan yang mengganjal di hati Yu-dan. Sulit untuk dicerna. Apakah maksudnya bekerja keras itu buruk? Tentu tak ada yang berpikir demikian. Mungkin karena dia adalah siluman, pikirannya seolah sanggup melompati garis-garis norma dunia dengan begitu mudah. Atau mungkin, garis semacam itu sebenarnya memang tidak pernah ada.

​"Benar. Aku tidak ingin kembali ke kehidupan seperti itu lagi…." Manajer Park menundukkan kepalanya dalam.

​"Namun jika demikian, urusannya akan sedikit merepotkan," ucap Baek-ran dengan nada yang tetap lembut namun tegas.

​"Jika Paman bertukar posisi dengan pohon dan lahir kembali di Dowonhyang, maka sosok Manajer Park di dunia ini akan mati. Meski tidak melompat dengan sengaja, hasilnya sama saja dengan bunuh diri."

​"Jika saham dan properti atas nama saya dicairkan, mereka semua akan bisa hidup berkecukupan seumur hidup. Sepertinya mereka justru akan jauh lebih bahagia dengan cara itu."

​"Tapi bagi seorang Cheonho yang bertugas menolong manusia, membiarkan seseorang mengakhiri hidupnya adalah tindakan yang bisa dianggap sangat tercela."

​Angin berembus, menjatuhkan sehelai kelopak bunga biru ke atas permukaan minuman di dalam cangkir. Baek-ran menjulurkan tangan dan mengambilnya.

​"Tentu saja, terlepas dari penilaian itu, aku selalu bertindak sesuai keinginan ku sendiri. Aku mengirim seseorang ke 'tempat yang seharusnya dituju' murni berdasarkan penilaian ku, dan aku percaya itu benar. Tak ada yang bisa mencampuri keputusan ku. Ini hanya akan menambah satu lagi rahasia yang harus ku simpan sendiri. Masalahnya, kita tidak sedang berdua saja di sini."

​Manik mata emas rubah kini beralih menatap Yu-dan. "Bagaimana menurutmu?"

​Yu-dan tertegun. "Aku?"

​"Iya. Sejak tadi wajahmu menunjukkan kamu sangat tidak setuju dengan situasi ini. Wajar saja. Yang satu siluman, yang satu manusia. Cara berpikir kalian secara esensial berbeda. Benturan pemikiran seperti ini bisa terjadi kapan saja," ucap Baek-ran dengan tenang.

Begitu ya. Ternyata barusan kami sedang berbenturan.

​Yu-dan tadinya berniat membujuk karyawan kantor ini sekuat tenaga. Ia ingin pria itu segera meminum ramuannya, memulihkan vitalitasnya, dan kembali ke dunianya. Ia yakin itulah cara terbaik untuk menolongnya.

​Namun kenyataannya, sebagai korban dia justru memilih untuk meninggalkan dunia ini. Seperti kata rubah, bukankah itu sama saja dengan kematian? Kematian yang bahkan tidak akan diingat maupun dirindukan oleh siapa pun. Tetap saja, Yu-dan sulit menerima hal itu.

​"Bagaimana? Apa ini membuatmu tidak nyaman? Jika ya, silakan berdiri dan pergi dari sini. Ingatanmu tentang kejadian di sini akan segera terhapus," tawar siluman rubah dengan nada datar.

​"Atau kamu ingin mencekokinya dengan minuman itu secara paksa? Silakan kerahkan seluruh kemampuanmu. Atau kamu ingin membujukku? Lakukan saja sesukamu. Atau mungkin--"

​"Aku harus memilih lagi?" potong Yu-dan.

​"Tepat sekali."

​Yu-dan memandangi Manajer Park. Saat pertama kali melangkah ke halaman ini, ia mengira urusannya sudah tuntas. Ia pikir pria itu cukup minum, benihnya lepas, lalu ia kembali ke 'realita' dengan penuh semangat dan melupakan segala mimpi buruknya.

​Ia mengira segalanya akan berjalan seperti itu. Namun ternyata, bukan itu yang diinginkan oleh pria di hadapannya.

​Bukan hanya Yu-dan yang membuat pilihan. Setiap orang berhak memilih sesuai keinginan mereka sendiri. Meski bagi orang lain pilihan itu terdengar tidak masuk akal, persis seperti Nona Bunga Wisteria yang menerjang ke bawah lampu gantung kristal tempo hari.

​Hal semacam itu bukanlah sesuatu yang pantas dinilai oleh orang lain.

​Uang, kesuksesan, bahkan keluarga, ternyata tak mampu memberinya kebahagiaan. Terus menjalani hidup seperti itu baginya hanya akan terasa hampa. Satu-satunya saat ia merasa benar-benar bahagia hanyalah….

​Yu-dan perlahan menundukkan pandangannya. "Kurasa kata-katamu ada benarnya."

​"Mungkin kamu akan menyesal nanti," sahut Baek-ran.

​"Ya nanti saja menyesalnya," balas Yu-dan mantap. "Kamu benar. Sebaiknya biarkan dia pergi ke Dowonhyang."

​Mendengar itu, Manajer Park yang sedari tadi menatap mereka bergantian akhirnya bisa mengembuskan napas lega. "Terima kasih."

​Ia meletakkan kembali cangkir minumannya. "Maafkan aku. Kamu sudah bersusah payah mendapatkan minuman berharga ini untuk orang asing seperti ku, tapi aku malah menyia-nyiakannya." Suaranya terdengar tercekat karena haru.

​"Tapi bagiku, kamu sudah memberikan pertolongan yang sangat besar. Sebenarnya selama ini aku selalu berharap…… seseorang akan datang menyelamatkan ku……."

​Yu-dan hanya terdiam mendengarkan penuturannya. Ia tak yakin apakah tindakannya ini benar atau salah. Ada sedikit perasaan bahwa usahanya tadi sia-sia, dan hatinya pun terasa sangat tak biasa.

​"Jadi… aku bisa pergi sekarang?" tanya sang pria.

​"Iya," jawab Baek-ran singkat.

​Pria itu bangkit berdiri. Ia melintasi deretan pepohonan dengan bunga persik biru yang rimbun, lalu masuk ke dalam toko melewati halaman belakang. Para siluman di dalam toko terperangah melihat kondisi dadanya yang masih sama seperti sebelumnya.

​"Manajer Park…?" panggil siluman ginseng kecil dengan mata tak percaya.

​Pria itu hanya menyunggingkan senyum lebar ke arahnya. "Namaku Park Dong-seok."

​Ia melepas kacamata bingkai tanduknya yang melorot, lalu meletakkannya dengan tenang di atas meja. Kemudian ia membuka pintu toko dan melangkah keluar. Langkahnya sedikit sempoyongan, namun terlihat penuh tekad. Semua orang hanya bisa terpaku menatap punggungnya yang menjauh.



​Hari mulai gelap.

​Di bawah langit yang bersemburat jingga, hutan gedung pencakar langit seolah terlapisi oleh sapuan warna merah yang transparan.

……Di sini tempatnya.

​Yu-dan berhenti tepat di depan sebuah gedung raksasa. Inilah gedung kantor yang tertera di kartu nama pria itu. Pintu putar di lobi terus berputar, mengeluarkan para karyawan yang baru saja selesai bekerja. Ada yang tampak letih, ada pula yang terlihat riang. Di balik punggung mereka yang bergegas pulang, terbentang jalur setapak yang dinaungi jajaran pohon peneduh.

​Inilah pemandangan yang selalu pria itu lihat setiap hari. Yu-dan berjalan perlahan menyusuri jalur pepohonan tersebut. Di tengah cahaya kemerahan yang semakin pekat, dahan-dahan pohon meliuk-liuk tertiup angin. Yu-dan memeriksa pohon itu satu per satu sambil terus berjalan, hingga akhirnya ia menemukannya.

​Ada satu pohon yang bentuknya menyerupai manusia. Bagian pangkal batangnya yang menonjol tampak seperti sepasang kaki. Dahan besar yang mencuat ke atas menyerupai lengan. Di permukaan yang bergelombang pun ia bisa menemukan bagian yang menyerupai raut wajah manusia, lengkap dengan mata, hidung, dan mulut yang samar namun jelas.

​Terdapat sebuah lubang di bagian yang menyerupai dada pohon tersebut. Yu-dan mengintip ke dalam lubang itu. Di dalamnya hanya ada kegelapan. Namun saat ia menutup mata dan berkonsentrasi, tiba-tiba sebuah aroma misterius seolah tercium olehnya. Bersama dengan itu sebuah suara samar terdengar dari dalam sana.

​Yu-dan membuka matanya kembali. "Apa di sana kamu sekarang bahagia?" tanyanya ke arah lubang itu, namun tak ada sahutan.

​Ia berdiri diam di sana mengamati cukup lama. Perlahan, lubang itu menyempit hingga akhirnya lenyap sepenuhnya. Kini pohon di hadapannya tampak normal kembali, tak bisa dibedakan dengan jajaran pohon peneduh lainnya. Hanya saja, saat angin berembus, gesekan dedaunannya terdengar seperti sayup-sayup suara tawa yang riang.

​Yu-dan berbalik pergi. Menatap sisa semburat senja di ufuk barat, ia mendadak teringat sesuatu. Segala hal yang dianggap bernilai oleh dunia; uang, jabatan, hingga keluarga. Di saat pria itu tak mampu menemukan kebahagiaan dari semua itu, hanya satu hal yang ia dambakan—

Seseorang, tolong selamatkan aku. Itulah yang ia ucapkan.

​Yu-dan melangkah menyusuri jalanan yang mulai temaram. Ia menyeberang dan menuruni anak tangga menuju stasiun bawah tanah.

Apakah hal itu juga yang selama ini dicari oleh siluman rubah itu?

​Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan harta apa pun. Sesuatu yang didambakan semua makhluk. Seseorang yang merasa seolah sudah mati. Sesuatu yang ada, namun sangat jarang yang bisa meraihnya. Sesuatu yang tak bisa diwakilkan dan harus ditemukan sendiri, dan akan menjadi berkah tertinggi jika berhasil digenggam.

……Mungkinkah itu adalah sebuah keselamatan?

Apakah Baek-ran sedang mencari 'Keselamatan'-nya sendiri?

​Kereta meluncur masuk ke stasiun melalui terowongan gelap. Begitu pintu terbuka, Yu-dan masuk dan duduk di kursi yang kosong. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan merogoh sakunya.

​Kacamata bingkai tanduk. Benda terakhir yang ditinggalkan oleh pria yang telah pergi ke Dowonhyang itu. Ia meletakkannya di atas tas dan memandanginya sejenak, lalu mencoba memakainya. Pandangannya langsung berputar pening, segalanya tampak kabur.

​Sebuah sensasi aneh menyerang batinnya. Yu-dan mempertajam penglihatannya. Sekilas, ia seolah melihat sosok seorang anak kecil yang mengenakan kacamata berlensa tebal. Seluruh penggalan hidup seseorang seakan melintas di depan matanya dalam sekejap.

Padahal dia sudah hidup dengan begitu rajin dan jujur…

Ah, tidak. Dia sudah bahagia sekarang, jadi itu sudah cukup. Biarlah seperti ini saja. Meski tak ada yang tahu, setidaknya dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.

​Meskipun kepalanya pening, Yu-dan tidak melepas kacamatanya. Dari kejauhan, kebisingan kota mulai terdengar mengusik telinganya. Begitu riuh.

Mungkin memang lebih baik jika semua orang berubah menjadi pohon saja? Jika setiap orang memiliki satu benih Dowonhyang, mungkin kota ini akan menjadi lebih sunyi. Kota pepohonan yang damai.

​Ia membayangkan hal itu di balik lensa kacamata yang buram. Sebuah pemandangan indah layaknya mimpi muncul di benaknya. Tempat di mana musim semi selalu bertahta. Tanahnya lembut dan anginnya membelai halus. Tempat di mana udara selalu dipenuhi dengan aroma yang manis.

​Di sana, salah satu pohon tiba-tiba berubah wujud menjadi manusia. Seorang bocah kecil dengan rambut yang disanggul kecil di kedua sisi kepalanya muncul dari batang pohon tersebut. Semua penghuni di sana menyambutnya dengan hangat. Suara tawa yang menyerupai gelembung udara yang pecah di dalam air tersebar ke segala penjuru.

Mungkin saja itu bukan sekadar mimpi……

Kalau begitu, nanti aku harus kembali ke toko dan menceritakannya pada mereka, batin Yu-dan.

​Di balik jendela kereta yang berderak, pemandangan kota di malam hari melesat lewat begitu saja.

...............

Glosarium Istilah:

  • Jujo-gwan (주조관): Secara harfiah berarti pejabat pengolah minuman keras (bartender); dalam konteks ini merujuk pada peran ritual yang dijalani Yu-dan.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang