Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 48>


​"Aku mau bermain. Aku tidak mengerti kenapa aku harus berbuah."

​"Kakek! Jangan begitu, cepat berikan buahnya!" seru Nyonya Ragi sambil menyembulkan kepalanya lagi dan menyahut ketus.

​"Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau!"

​Dewa Persik itu menjulurkan lidahnya lalu bergegas sembunyi di balik punggung rubah.

Benar-benar kekanakan.

​Tanpa sadar Yu-dan berteriak, "Dewa macam apa ini? Apa bedanya dengan siluman?"

​Seketika si kakek menoleh dengan raut wajah tersinggung. "Apa katamu? Aku siluman? Mana ada siluman yang bisa melakukan ini?"

​Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan buah persik. Ukurannya sebesar kepala anak kecil, dan tampak sangat ranum. Tiap kali tangannya masuk ke saku, satu buah keluar, hingga dalam sekejap buah-buah itu menumpuk setinggi gunung.

​Mata Yu-dan membelalak. "Berikan padaku!"

​Namun saat ia mengulurkan tangan, si kakek justru memasukkan buah-buah itu ke mulutnya sendiri. Puluhan buah persik itu ludes dimakan dalam sekejap.

​"Aduh! Perutku mau robek! Perutku robek!"

​Kakek itu menjerit-jerit sambil bergulingan di lantai. Detik berikutnya, perutnya benar-benar terbelah dan di dalamnya terlihat tumpukan buah persik biru yang memenuhi rongga tubuhnya.

​"Uwaaa!"

​Yu-dan melonjak kaget. Melihat wajah Yu-dan yang ketakutan, Dewa Persik itu malah memegangi perutnya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

​"Uhuahaha! Lucu sekali! Ternyata Pengolah Minuman yang tampangnya galak ini penakut juga!"

​"Bukan! Aku bukan penakut, aku cuma benci melihat sesuatu yang menggeliat dan berkerumun seperti itu!"

​"Bodoh! Itu namanya penakut!"

​"Beda!"

​Yu-dan melihat para siluman saling bertukar pandang. Heuk-yo kemudian melangkah maju. "Anda benar, Yang Mulia. Manusia ini memang seorang penakut."

​"Oho, benarkah?" Dewa Persik tampak semakin bersemangat.

​"Rubah bilang dia sedang melakukan perbuatan baik untuk manusia. Tentu aku harus memberikan buah persik ini. Tentu aku harus membantu. Tapi, aku tidak bisa berbuah karena punggungku terasa sangat gatal."

​Ia pun menyingkap bajunya, memamerkan punggungnya.

​Yu-dan terperangah ngeri. Segala jenis serangga berkumpul dan menggeliat di sana. Pemandangan yang sanggup membuat siapa pun ingin memalingkan wajah.

​"Punggungmu penuh serangga!"

​"Oh ya? Kalau begitu, tolong Pengolah Minuman tangkapkan serangga-serangga ini."

​Dewa Persik menyodorkan punggungnya tanpa merasa berdosa sedikit pun. Yu-dan yang panik menatap teman-temannya.

Lakukan saja.

​Begitulah sorot mata yang mereka berikan padanya.

​"Cepat! Gatal sekali! Punggungku gatal!"

​Situasi ini benar-benar menyulitkan. Namun Yu-dan sudah berjanji akan mendapatkan minuman Dong-bang-sak. Ia benci serangga, tapi ia jauh lebih benci melanggar janji. Ia tidak mau menjadi pembohong.

​Sambil mengatupkan gigi rapat-rapat, ia mengulurkan tangannya.

​Cacing yang menggeliat. Kecoa yang mengilap. Lipan dengan kaki-kaki panjangnya. Berbagai jenis serangga menjijikkan saling tumpang tindih. Bahkan dalam mimpi buruk terdahsyat pun Yu-dan belum pernah melihat hal seperti ini.

Ini palsu. Ini hanya ilusi.

​Ia berusaha meyakinkan diri, namun saat ujung jarinya menyentuh cangkang keras yang licin, pikirannya mendadak kosong.

​"Ini nyata. Ini benar-benar nyata…." gumamnya dengan pandangan kosong. Ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Seluruh fungsi tubuhnya seolah berhenti beroperasi.

​"Yu-dan sepertinya rusak," sayup-sayup terdengar bisikan para siluman.

​Baek-ran memberi saran, "Kamu akan baik-baik saja jika masuk ke kondisi tanpa pikiran (munyeom-musang)."

Tanpa pikiran? Padahal logikanya sudah terbang entah ke mana. Apa itu berbeda?

​Dengan sisa tenaganya, ia menggerakkan jari dan menangkap seekor kecoa. Serangga itu meronta di antara ibu jari dan telunjuknya. Saat antena panjangnya menyentuh kulit tangan, Yu-dan nyaris menjerit dan melemparnya.

Jangan.

​Ia sulit memercayainya. Jarinya benar-benar sedang memegang serangga. Rasanya ia baru saja melewati batas yang tak seharusnya dilewati manusia. Apa aku bisa kembali normal setelah ini?

​Tangannya terus bergerak secara mekanis. Semakin ia berusaha tidak merasakan, indranya justru menjadi semakin tajam. Sensasi lengket, lembap, hingga licin tersalurkan dengan sangat nyata melalui ujung jarinya.

​Sesuai saran rubah, ia berusaha mengosongkan pikirannya sebanyak mungkin. Serangga yang tadinya tampak tak habis-habis perlahan mulai berkurang. Akhirnya, ia menarik cacing terakhir.

​"Ah, segarnya!"

​Dewa Persik memamerkan punggungnya yang kini mulus dan kencang kepada semua orang dengan bangga. Kesadaran Yu-dan pun berangsur kembali.

​"Kalau begitu, buah persiknya…."

​"Memangnya kapan aku berjanji akan memberimu persik jika kamu menangkap serangga?"

​"……?"

​Yu-dan terpaku menatap Dewa Persik dengan rasa kecewa yang mendalam. Kakek itu menjulurkan lidahnya lalu masuk kembali ke dalam guci.

​"Mana boleh begitu!"

​Amarah Yu-dan meledak. Baru saja ia hendak berdiri untuk menghancurkan guci itu, Baek-ran menahannya dengan tongkat kayu.

​"Lihat ke sana."

​Saat Yu-dan menoleh, di lantai tempat ia membuang serangga tadi, kini bertumpuk buah persik yang berlimpah. Yu-dan ternganga tak percaya.

​"Ihihi! Lucu sekali! Benar-benar seru!"

​Suara tawa terbahak-bahak Dewa Persik terdengar berguling-guling dari dalam guci.

​"Haa…."

​Yu-dan terduduk lemas. Rasanya mentalnya sudah terkoyak habis. Ia benar-benar tidak sanggup lagi. Dengan pandangan pasrah, ia menatap siluman rubah.

​"Tinggal satu lagi," jawab Baek-ran dengan senyum tenangnya yang tidak berperasaan.

​Ia beralih menatap guci terakhir. Seseorang melangkah keluar dari sana. Seorang cendekiawan (Seonbi) yang tampak anggun dengan topi kerucut dan jubah dopo, memegang sebilah kipas di tangannya.

​"Kalian sudah bekerja keras. Mari kita selesaikan dengan cepat. Aku juga harus segera kembali."

​Ia membentangkan kipasnya. Di sana tergambar pemandangan empat musim; kelopak bunga yang beterbangan dan salju yang turun tampak bergerak hidup di atas kertas kipas. Meski jiwanya sedang letih, Yu-dan tetap merasa takjub.

​Cendekiawan itu menatap Yu-dan.

​"Pengolah Minuman sudah mengundang Nyonya Ragi dan menerima banyak persik, tapi tanpa kibasan kipas dariku, minuman ini takkan pernah tuntas. Sekarang, coba tebak siapa aku?"

​"Entahlah."

​"Aku baru akan mengibaskan kipas jika kamu bisa menebak identitasku."

​"……Eh?"

​Yu-dan kebingungan. Melihat itu, sang cendekiawan justru tampak lebih bingung. "Kenapa?"

​"Tugas ini terlalu sulit baginya," sahut Baek-ran mewakili.

​"Sulit? Ini kan sangat mudah! Kukira jawabannya akan langsung keluar!"

​"Pengolah Minuman ini memang agak payah. Dia langsung ketakutan kalau disuruh menggunakan otaknya."

​"Ck ck. Kasihan sekali."

​"Tapi dia biasanya tetap berhasil saat sudah terdesak. Masalahnya adalah bagaimana cara mendesaknya sampai ke titik itu."

​"Begitu ya?" Cendekiawan itu kembali membentangkan kipasnya lebar-lebar.

​"Coba pikirkan baik-baik, Pengolah Minuman. Siapa aku? Meski ada ragi dan persik, tanpa kehadiranku, minuman ini takkan pernah jadi."

​"Alkohol…"

​"Itu sudah termasuk di dalam ragi," sahutnya sabar.

​"Rempah-rempah…?"

​"Minuman dewa tidak butuh hal semacam itu," jawab sang cendekiawan dengan nada tenang dan lembut.

​"Ini bukan soal bahan. Semua bahan sudah siap," sela Baek-ran yang sudah tidak tahan melihatnya.

​Yu-dan kembali memeras otaknya. Semua bahan sudah ada, lalu apa yang kurang? Tiba-tiba ia teringat sebuah film yang pernah ditontonnya.

​"Surat izin! Izin membuat minuman keras! Kalau tidak ada itu, ini ilegal, dan polisi akan…."

​"Bukan," potong Baek-ran dengan wajah lelah.

​Cendekiawan itu tertawa kecil lalu kembali mengayunkan kipasnya. "Bukan itu. Ayo, pikirkan lagi."

​Kenapa dia terus membuka dan menutup kipasnya seperti itu?

​Barulah Yu-dan memperhatikan gambar di kipas itu dengan saksama. Musim semi, panas, gugur, dingin. Gambar yang bergerak hidup. Musim demi musim. Terus mengalir, mengalir, dan mengalir kembali.

​"……Waktu?"

​"Tepat sekali!"

​Wajah cendekiawan itu berseri-seri. Si kembar yang sejak tadi menonton dengan cemas langsung berpelukan gembira.

​"Benar. Aku adalah waktu. Meski semua bahan sudah tersedia, tanpa berlalunya waktu, minuman tidak akan pernah matang. Waktu yang lamalah yang menciptakan minuman berkualitas. Nah, kalau begitu…."

​Saat cendekiawan itu hendak mengibaskan kipasnya ke arah gentong, mendadak lengannya berhenti kaku. Ia terperanjat menatap tubuhnya sendiri. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bergerak, namun tubuhnya tak bergeming sedikit pun.

​"Apa yang terjadi?"

​Para siluman pun ikut panik. Baek-ran sedikit mengernyitkan dahinya. "Sepertinya kita sudah terlalu banyak membantu Pengolah Minuman."

​"Benar juga. Dengar, Pengolah Minuman. Kamu harus menggerakkanku dengan kekuatanmu sendiri. Tak ada yang boleh membantu."

Mana mungkin.

​Yu-dan mendekatinya. Ia mencoba menggoyang lengan cendikiawan itu, namun rasanya seperti memegang batu yang sangat keras dan berat.

Harus bagaimana?

​Ia mencoba mendorong dan menariknya, namun sia-sia. Tak ada respon sedikit pun. Namun ia tak boleh menyerah di sini. Ia mengerahkan seluruh tenaganya.

​Setelah sekian lama bergelut dan bergulat, lengan sang cendekiawan tetap bergeming. Seluruh tubuh Yu-dan kini basah kuyup oleh keringat.

​"Kenapa berat sekali sih?"

​Rubah, ular, dan si kembar hanya menonton dalam diam dengan ekspresi serius. Chae-seol berujar pelan, "Maaf. Kami tidak bisa menolong. Kalau kami bantu, urusannya akan jadi makin sulit buatmu."

​"Aku tahu."

​Ia harus mencari solusinya sendiri. Yu-dan memijat lengannya yang pegal sambil menatap sang cendekiawan. Sepertinya kekuatan fisik tidak akan mempan. Harusnya aku sadar itu dari tadi.

​Yu-dan termenung dengan dahi berkerut. Sosok ini adalah waktu. Bukan sekadar orang, tapi waktu. Bagaimana cara agar waktu bergerak? Kapan waktu bergerak?

……Waktu kan selalu bergerak!

​Lalu ia menyadari sesuatu. Waktu terasa tidak bergerak saat kita terus-menerus memperhatikannya. Benar. Ia hanya perlu berhenti menatap waktu. Maka tanpa sadar, waktu akan berlalu begitu saja.

​Yu-dan berputar balik memunggungi sang cendekiawan.

​"Benar, begitu!" seru cendekiawan itu.

​Seketika embusan angin empat musim—semi, panas, gugur, dan dingin—bertiup dari belakang punggungnya. Kelopak bunga, rintik hujan, dedaunan merah, hingga serpihan salju berputar di udara. Aroma matangnya minuman yang harum mulai menyeruak dengan lembut.

​"Berhasil! Kita berhasil!"

​Si kembar berlari dan memeluk Yu-dan kegirangan.

​"Akhirnya tuntas juga," Heuk-yo menyeka keringat di dahinya. "Padahal urusannya simpel, tapi kalau manusia ini ikut campur, pasti selalu jadi tantangan yang sangat berat."

​"Tapi minumannya berkualitas," puji Baek-ran sambil mengintip ke dalam gentong.

​Semua orang mendekat untuk melihat. Di dalam gentong, cairan minuman dewa yang memancarkan kilauan tampak beriak penuh. Keharuman segar yang bukan dari dunia ini seakan meresap ke seluruh pori-pori tubuh.

​Akhirnya minuman Dong-bang-sak selesai diracik. Meski penuh rintangan, Yu-dan merasakan kepuasan tersendiri saat melihat hasilnya.

​"Duh, rasanya sayang mau diberikan ke orang lain. Tiap tetesnya terasa seperti keringat dan darahku sendiri."

​"Kalau kamu serakah, minuman ini akan berubah jadi cuka yang asam," sela Baek-ran cepat. Yu-dan pun langsung bungkam.

​Siluman rubah mengambil kertas kuning untuk menyegel gentong tersebut. Si kembar mengikatnya erat dengan tali lalu membawanya pergi.

​"Minuman Dong-bang-sak tidak boleh dibawa keluar dari toko ini. Hubungilah paman itu. Kita akan menjamunya di sini."

​"Baiklah."

​Yu-dan merasa lega karena bisa menepati janjinya. Langkah kakinya terasa ringan saat meninggalkan Banwoldang. Dengan penuh percaya diri, ia menelepon Manajer Park.

​"Paman, minumannya sudah ada."

​「Benarkah? Jadi aku bisa selamat? Bisa kembali normal?」

​"Iya. Mereka akan menjamu Paman di sini. Paman tinggal meminumnya saja."

​「Terima kasih! Terima kasih banyak! Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budimu….」 Suara Manajer Park bergetar karena haru.


​Di bawah temaram cahaya rembulan, pohon tua yang meliuk-liuk layaknya naga tampak dihiasi bunga persik yang mekar. Siluman rubah telah menyiapkan jamuan di bawah pohon tersebut.

​Pepohonan lain di sekitarnya pun tampak penuh dengan bunga persik yang bermekaran. Sayup-sayup terdengar melodi seruling. Para bidadari dan pelayan kecil tampak sibuk melayani, meski jika diperhatikan lebih teliti, ada sedikit kesan kaku pada mereka. Mungkin itu adalah para siluman bawahan Baek-ran yang sedang menyamar.

​Manajer Park menoleh ke sana kemari dengan wajah bingung. Sepertinya ia bimbang apakah ini kenyataan atau sekadar mimpi.

​"Jangan berpikir terlalu dalam," ucap Baek-ran sambil meletakkan cangkir di hadapannya. Cangkir keramik celadon berbentuk buah persik.

​Denting lonceng yang merdu terdengar dari arah halaman. Para pelayan kecil datang menuntun seekor sapi putih. Di punggung sapi itu, terdapat gentong minuman yang disegel kertas kuning.

​Mata Manajer Park membelalak. "Apakah itu…."

​"Inilah minuman Dong-bang-sak," jawab Baek-ran.

​"Gangguan Unusuals menyusup melalui celah di hati manusia. Karena Paman merasa lelah dengan hidup, Paman akhirnya terpikat oleh Dowonhyang. Begitu meminum ini, vitalitas Paman akan pulih sehingga Paman bisa kembali bersemangat menjalani hidup. Benih itu akan segera terlepas dan Paman akan kembali seperti semula."

​"Ah…. Terima kasih banyak."

​Siluman rubah melepas tali dan membuka segel kertas pada gentong tersebut. Seketika aroma harumnya menjadi jauh lebih pekat. Yu-dan menghirup napas dalam-dalam, hatinya terasa sejuk, seolah segala sumbatan di dadanya sirna seketika.

​Seorang pelayan membawakan gayung yang terbuat dari batu giok putih. Baek-ran menciduk minuman itu lalu menuangkannya ke dalam cangkir di hadapan Manajer Park.

​Di atas permukaan minuman yang berkilau indah itu, bayangan bulan purnama tampak terpantul dengan sempurna.

.............

Glosarium Istilah:

  • Munyeom-musang (무념무상): Kondisi meditatif di mana pikiran kosong dari segala gangguan atau obsesi (kosong dari pikiran dan konsep).
  • Dong-bang-sak (동방삭): Nama legendaris dari tokoh Tiongkok (Dongfang Shuo) yang konon hidup sangat lama karena memakan persik keabadian.
  • Seonbi (선비): Cendekiawan atau sarjana pada masa dinasti di Korea yang dikenal dengan integritas dan keanggunannya.


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang