Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 47>
"Memangnya kau pikir Cheonho-nim mengoleksi ini semua untuk diminum sendiri? Benda-benda ini adalah obat yang memiliki khasiat ajaib."
Di antara sekian banyak botol, sebuah botol keramik berbentuk kelinci mencuri perhatian Yu-dan. Saat ia menatapnya, manik mata merah pada botol itu tampak berkedip-kedip.
"Ini obat apa?"
"Kalau kamu mabuk karena ini, semua orang di dunia akan terlihat seperti kelinci."
"Nggak guna banget!"
"Yah, siapa yang tahu. Mungkin suatu hari nanti akan ada gunanya," sahut Baek-ran sembari membungkuk, menggeledah rak bagian bawah.
Meski Yu-dan menyebutnya tak berguna, ia tak bisa menutupi rasa takjubnya. Walau tampak berjejer rapi, botol-botol itu seolah bergerak saat diperhatikan. Bayangan bergelombang di balik botol, hingga suara-suara samar yang sesekali terdengar. Tiap botol seakan memiliki nyawa dan sedang menyapa padanya.
"Kalau ini apa?" Yu-dan memungut sebuah botol kulit. Saat mendekatkan telinga, ia mendengar deru angin padang pasir. Bahkan suara gemerincing lonceng di leher unta yang berjalan pun terdengar jelas. "Eh? Aku penasaran. Ini minuman apa?"
"Jangan terus bertanya. Kalau memang ingin tahu, cicipi saja sendiri."
"Sungguh?"
Mendengar suara penutup botol yang ditarik, Heuk-yo yang sedang sibuk di sisi lain langsung menoleh. Wajahnya seketika panik sambil berlari mendekat.
"Cheonho-nim! Apa yang Anda lakukan? Anak ini masih di bawah umur! Kalau ketahuan, toko kita bisa kena sanksi penutupan!"
"Ah, benar juga."
"Berikan padaku!" Siluman ular merampas botol tersebut dan mengembalikannya ke rak. Baek-ran hanya mengerutkan dahi sembari bergumam pendek.
"Kalau dipikir-pikir, membawanya ke tempat ini saja sepertinya sudah menyalahi aturan karena dia masih remaja. Kita harus segera menyelesaikan urusan ini lalu keluar."
"Setuju, Cheonho-nim. Manusia itu memang merepotkan dalam berbagai hal. Terutama yang masih di bawah umur."
Siluman rubah dan siluman ular asyik berbisik sendiri. Yu-dan ingin sekali membalas sindiran soal 'di bawah umur', namun ia menahan diri karena takut akan memperkeruh suasana.
Tanpa terasa, mereka telah sampai di bagian terdalam gudang. Sejauh mata memandang, hanya ada botol minuman yang memenuhi ruangan.
"Apa di sini tempatnya?" Baek-ran memperlambat langkah. Sikapnya begitu santai seakan sedang berjalan-jalan di tengah hutan minuman keras.
"Bagaimanapun, jika bicara soal pekerjaan--"
"Pembukaan yang panjang sekali."
"Wujud manusia yang menyatu dengan pohon tadi pasti terasa mengerikan bagimu. Kamu mungkin tak yakin apakah dia bisa kembali normal. Untungnya, logika untuk menyelesaikan gangguan Unusuals ini cukup sederhana. Tunas pohon itu tumbuh dengan nutrisi berupa mimpi tentang Dowonhyang, bukan? Jika dia tak lagi bisa bermimpi, tunas itu akan lepas dengan sendirinya."
"Lalu? Apa benihnya akan mati?"
"Tidak. Dia akan kembali menjadi benih. Benih yang pernah kumiliki namun hilang itu adalah salah satunya."
"Ah, jadi ini kasus yang pernah kamu tangani sebelumnya."
"Benar. Aku melepaskannya dengan bersih. Manusia terpikat oleh Dowonhyang karena mereka lelah menjalani hidup. Jadi, kita hanya perlu membangkitkan semangatnya agar dia mau berjuang hidup kembali."
Tepat saat itu, Heuk-yo yang sedang memeriksa barisan botol mengeluarkan sebuah guci kecil. "Bukankah ini bendanya?"
"Tepat sekali."
Baek-ran menerima guci berwarna giok yang memancarkan kilauan tersebut.
"Itu minuman apa?" tanya Yu-dan.
"Minuman Dong-bang-sak. Bagi orang yang terpikat oleh keajaiban Dowonhyang, inilah obatnya."
"Dong-bang-sak siapa pula?"
"Dia manusia. Tokoh yang konon mencuri dan memakan buah persik milik Ibu Ratu Barat (Seowangmo) di surga, sehingga usianya mencapai 180.000 tahun. Minuman Dong-bang-sak adalah minuman suci yang memberikan kemudaan dan vitalitas."
Begitu Baek-ran membuka tutupnya, aroma pekat yang unik langsung menyeruak. Seketika pikiran Yu-dan terasa jernih dan tenaganya pulih.
"Wah, aromanya enak ban—"
Belum sempat rasa kagumnya tuntas, Baek-ran membalikkan botol itu dan menuangkan isinya ke lantai.
"Kenapa dibuang?!" Yu-dan tersentak dan mencoba mengambil botolnya.
Namun… kosong. Rupanya tak ada setetes cairan pun yang keluar dari botol itu.
"Sudah kuduga. Benar-benar tak tersisa setetes pun."
"Padahal aku sempat berharap masih ada sedikit saja," keluh Heuk-yo sembari menatap botol kosong itu dengan raut kecewa.
"Ini pertanda bahwa hidup di dunia memang seberat itu. Bahkan para siluman pun bisa terkena depresi di zaman seperti ini. Itulah sebabnya persediaan minuman Dong-bang-sak selalu menipis."
"Apa tidak ada yang serupa? Pakai 'Sejong tahun 1642' tidak bisa?"
"'Sejong tahun 1426', dan jawabannya tidak bisa. Itu adalah embun untuk meredakan lapar. Hanya minuman Dong-bang-sak yang bisa menyelesaikan masalah ini."
"Terus gimana?"
Baek-ran menyerahkan botol kosong itu pada Yu-dan, yang menerimanya dengan bingung.
"Hanya ada satu jalan keluar. Bagaimana menurutmu? Maukah kamu menjadi sang Pengolah Minuman (Jujo-gwan) dan mencoba meracik minuman Dong-bang-sak ini secara langsung?"
"Aku? Meminumnya dilarang, tapi membuatnya boleh?"
"Kalau dipikir-pikir, memang terdengar tidak konsisten," Baek-ran menyunggingkan senyum tipis. "Tapi bagaimanapun juga, ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagimu."
Suara di seberang ponsel terdengar sangat terguncang.
「Jadi aku benar-benar akan mati. Padahal aku sempat berharap….」
Meskipun namanya tertera di kartu nama, dia meminta Yu-dan memanggilnya Manajer Park. Katanya dia lebih nyaman dipanggil begitu. Yu-dan tak paham logikanya, namun ia menuruti saja saat berbicara di telepon.
「Eh, bukan! Maksudku ya sudah kalau memang begitu! Ini salahku sendiri karena memakai kalung itu. Tapi apa benar jika aku menghilang, tak akan ada yang mencariku? Istriku? Anak-anak? Teman kantor?」
Suaranya terdengar tak terkendali. Yu-dan mulai menyesal karena sepertinya ia bercerita terlalu detail.
"Aku bukan bilang semuanya akan berakhir… bukan begitu. Seperti yang kukatakan tadi, asal ada minuman Dong-bang-sak, paman bisa kembali normal… Paman! Paman menangis? Duh, sudahlah! Kita cari saja caranya! Aku akan usahakan dapat minumannya!"
Pintu samping gudang terbuka. Chaewoo melongokkan kepalanya sedikit. "Semua sudah siap."
"Ah, sudah dulu teleponnya." Gaya bicara Yu-dan entah mengapa mulai menyerupai saat ia meladeni ayahnya. Ia sedikit menyesali sikapnya itu sembari mengekor di belakang Chaewoo.
Di dalam ruang peracikan minuman, asap dupa memenuhi udara. Di atas panggung rendah, berjajar guci-guci kecil, dan di tengah kain putih yang terbentang, terdapat sebuah gentong kosong.
"Pengolah Minuman sudah tiba," lapor Heuk-yo sembari menyerahkan sebilah tongkat panjang kepada siluman rubah. Baek-ran menerimanya lalu membungkuk hormat ke arah Yu-dan.
"Mohon bantuannya."
"Ah, i-iya…." Yu-dan membalas membungkuk dengan kikuk.
Suasana berubah sangat formal dan sunyi. Tak ada satu pun yang berani bercanda. Atmosfer seperti ini sudah lama tidak Yu-dan rasakan.
Yu-dan berlutut sesuai instruksi. Baek-ran membentangkan sebuah gulungan naskah.
"Minuman Dong-bang-sak adalah minuman dewa. Hanya bisa diracik dengan kehadiran sang dewa. Lantas, bagaimana cara mengundang dewa agar turun? Itu semua bergantung pada Pengolah Minuman. Bergantung pada seberapa besar ketulusanmu, air tawar di dalam gentong ini akan dirasuki oleh dewa dan berubah menjadi minuman suci yang mampu meredakan penderitaan banyak jiwa."
"Apa maksudnya dengan memberikan ketulusan?"
"Pertanyaan yang bagus. Bagiku, tulus berarti melupakan 'diri sendiri'. Membuang pikiran angkuh seperti 'siapa aku hingga harus melakukan hal sejauh ini'. Merendahkan hati sedalam mungkin dan menunjukkan kesungguhan pada pihak lain. Bukankah itulah makna ketulusan yang sebenarnya?"
Yu-dan mencoba mengingat-ingat kalimat itu meski tak sepenuhnya paham. Membuang pikiran sombong, merendahkan hati, dan menunjukkan kesungguhan.
"Nah, mari kita mulai." Siluman rubah menunjuk ke atas panggung. "Inilah bahan-bahan untuk meracik minuman Dong-bang-sak. Pertama, kita butuh bahan dasar berupa campuran ragi, biji-bijian, dan air obat yang telah difermentasi."
Guci pertama memancarkan aroma yang sangat manis. Saat Yu-dan mencoba mengintip ke dalamnya, seorang wanita berpakaian kuno mendongak dengan wajah terkejut dari dalam gentong.
"Astaga!"
PLAK! Kening Yu-dan dipukul keras dengan kipas hingga ia terjungkal ke belakang.
"Apa-apaan?!"
"Siapa kau?" suara marah terdengar dari dalam guci. Baek-ran segera menengahi.
"Mohon maaf. Dia adalah Pengolah Minuman. Dia memang masih pemula, namun keinginannya untuk membuat minuman yang baik sangatlah besar." Setelah memohon maaf pada sang dewi di dalam guci, ia berdiri di belakang Yu-dan.
"Beliau adalah Nyonya Ragi (Gok-mo). Cepatlah memohon agar beliau sudi keluar supaya proses pembuatan minuman bisa dimulai."
Yu-dan mengusap keningnya yang berdenyut. Benar saja, pikiran 'kenapa aku harus begini' mulai muncul. Namun ia menahannya. "Tolong keluarlah."
Wanita di dalam guci melongokkan kepalanya sedikit. Ia sangat cantik dengan hiasan bunga merah di dahi dan lipstik merah di bibir. Namun begitu melihat Yu-dan, wajahnya langsung terlihat jutek.
"Bohong. Sepertinya kau tidak setulus itu?"
"Eh, aku sudah mencoba semaksi—"
Tiba-tiba, sesuatu yang keras menekan kepala Yu-dan dari belakang.
"Membungkuklah lebih dalam."
Yu-dan menyadari itu adalah tongkat kayu panjang yang tadi dibawa Baek-ran. Ck, ternyata ini fungsinya. Yu-dan merasa dongkol. Apa benar ia harus melakukan ini?
Namun ia tahu jawabannya. Ia sudah terlanjur berjanji akan memberikan minuman itu pada Manajer Park.
"Mohon…… keluarlah……. Saya memohon dengan sangat……." Yu-dan berucap seformal mungkin sembari mengatupkan gigi.
"Hmm." Sang Nyonya memperhatikan Yu-dan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kenapa aku harus keluar?"
"Karena… kami butuh minuman Dong-bang-sak. Benih Dowonhyang bertunas di tubuh manusia, dan kami harus melepaskannya…."
"Aha, si Rubah sedang berbuat baik lagi, huh. Memang benar, minuman suci seperti itu takkan jadi tanpa bantuanku." Wanita itu bangkit berdiri. "Tapi Nyonya Ragi ini tidak akan keluar begitu saja hanya karena dipanggil oleh pengolah minuman biasa."
Setelah mengejek Yu-dan, ia kembali masuk ke dalam guci.
Darah Yu-dan mendidih karena merasa dipermainkan. Saat ia hendak berdiri dengan emosi, tongkat kayu itu kembali menusuk punggungnya.
"Sujudlah dan tundukkan kepalamu."
"Kan tadi sudah!"
"Lebih rendah lagi. Ingat, beliau adalah dewa," suara Baek-ran terdengar tenang di belakangnya.
"Meskipun siluman memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dewa, kenapa dukun paling termasyhur justru berasal dari kalangan manusia? Itu karena siluman mencoba menjadi setara dengan dewa, sedangkan manusia menghamba pada dewa. Dewa ingin dihormati. Mereka ingin eksistensi mereka diakui melalui ketulusan manusia. Kamu takkan bisa menggerakkan dewa jika tetap bersikap kaku seperti itu. Pikiranmu masih dipenuhi pertanyaan 'kenapa aku harus begini'."
"Tidak kok. Aku tiak berpikir apa-apa."
"Aku bisa melihatnya. Buang pikiran itu. Buang egomu dan tunduklah lebih dalam."
Dengan berat hati, Yu-dan kembali bersujud. Ia mencoba melakukannya sekali lagi. Ini baru bahan pertama, ia tak boleh menyerah sekarang. Keningnya menyentuh lantai, memberikan sensasi dingin yang tak menyenangkan. Ia memutuskan untuk berhenti berpikir.
"Saya mohon, keluarlah. Ini tidak sulit bagi Anda. Saya memohon dengan sangat……."
"Nah, begitu dong. Meski masih agak terasa kaku, aku terima kesungguhanmu kali ini. Anggap saja Nyonya Ragi ini sedang bermurah hati."
Sesuatu menginjak punggung Yu-dan. Itu adalah kaki sang dewi. Dengan langkah ringan namun menekan kuat, ia melangkah keluar melewati punggung Yu-dan.
Kenapa tubuhku dijadikan karpet merah?! Lagi pula, kenapa dia berat sekali?! batin Yu-dan berteriak.
Ia menahan amarahnya dan mendongak. Sang dewi kini duduk di tepian gentong besar. Sambil tertawa kecil, ia menggoyangkan kaki telanjangnya yang putih bersih.
"Duh, aku ini memang terlalu berhati lembut ya."
Lembut apanya! Yu-dan mendengus dalam hati, namun tetap merasa lega karena bahan pertama berhasil didapatkan. Baek-ran dan siluman lainnya tampak menyunggingkan senyum.
Begitu Nyonya Ragi masuk ke gentong, air di dalamnya mulai beriak dan aroma harum yang semerbak memenuhi ruangan. Sensasinya membuat pikiran Yu-dan sedikit melayang.
"Wah, harum sekali. Cuma hirup aromanya saja sudah bikin mabuk," gumam Tuan Do tiba-tiba menyundulkan kepala dari pintu. Hidungnya tampak sedikit memerah.
"Lho, sejak kapan Orabeoni di sini? Tokonya bagaimana?" tegur Heuk-yo.
"Adikku yang baik, bolehkah Paman menghirup aromanya sebentar saja?"
"Orabeoni!" Heuk-yo membentaknya dan segera mengusir sang dokkaebi keluar sembari mengunci pintu.
Yu-dan beralih menatap guci berikutnya. Di dalamnya tertancap dahan pohon dengan dedaunan hijau. Ia langsung waspada. "Ini juga ada isinya, kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?!" Seorang kakek tiba-tiba muncul dari balik dahan. Ia mengenakan ikat kepala biru dan jubah biru, namun ukurannya kecil seperti anak-anak.
"Asal tahu saja, usiaku sudah ribuan tahun," ucapnya congkak padahal tidak ada yang bertanya. Baek-ran segera memperkenalkan.
"Ini adalah Dewa Persik Hijau (Byeok-do)."
"Persik hijau?"
"Buah persik berwarna biru/hijau yang dimakan oleh para dewa. Untuk meracik minuman Dong-bang-sak, kita harus menerima buah persik pemberian beliau dan memasukkannya ke dalam gentong."
"Baiklah. Kalau begitu……." Yu-dan segera bersujud di lantai. Namun tak ada respon. Saat ia mendongak, kakek itu justru sedang bermanja-manja pada Baek-ran.
"Rubah, ayo main. Gendong aku di punggungmu."
Yu-dan berharap urusan kali ini akan lebih mudah. "Kalau rubah itu menggendongmu, apa Kakek akan memberikan buahnya?"
"Hmm, lihat saja nanti. Kalau dia menggendongku seharian, lalu besok juga, dan lusa juga… barulah aku akan mempertimbangkannya," sahut sang Dewa Persik dengan nada menyebalkan.
"Apa katanya?!" Yu-dan mulai geram.
"Jangan terpancing. Beliau memang sering begini," bisik Baek-ran dengan ekspresi yang juga tampak sedikit malas meladeni sang kakek.
...........
