Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 46>
Kisah ke-dua belas
<Dowonhyang>
Dahulu kala, saat seorang penebang kayu sedang bekerja di gunung, seekor rusa tiba-tiba muncul. Penebang kayu mengejarnya hingga masuk ke dalam sebuah gua gelap. Tak disangka, tempat itu bukanlah gua biasa, melainkan sebuah dunia lain yang rimbun dengan bunga persik.
Ketika ia bertanya kepada penduduk setempat, mereka menyebut tempat itu sebagai ‘Dowonhyang’ (Negeri Bunga Persik). Mereka mengaku datang ke desa itu demi menghindari kekacauan di masa lampau, dan hingga kini mereka hidup abadi layaknya dewa.
Setelah menerima jamuan yang terasa seperti mimpi di sana, sang penebang kayu pulang. Ia bermaksud membawa serta keluarganya kembali ke Dowonhyang. Namun, entah mengapa, ia tidak pernah bisa menemukan jalan menuju tempat itu lagi untuk kedua kalinya.
『Manyu-wondam (Kumpulan Kisah Alam Semesta)』
●◉◎◈◎◉●
"Selamat datang."
Seorang staf berseragam resmi membungkuk memberikan salam.
Yu-dan melangkah masuk ke dalam supermarket sambil mendorong kereta belanja. Di dalam lemari es rumahnya sebenarnya selalu tersedia makanan. Sebelum ayahnya berangkat ke Tiongkok, dia sudah menyewa seorang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi di hari kerja. Dia menyiapkan segala sesuatu agar Yu-dan tinggal memanaskan makanan. Urusan kebersihan dan keperluan rumah tangga lainnya pun ditangani dengan sangat rapi sebelum asisten itu pergi. Sepertinya dia sudah mendapat pesan mengenai keadaan Yu-dan, karena selama ini mereka tidak pernah sekalipun bertatap muka.
Karena itulah, Yu-dan sebenarnya tidak perlu berbelanja, namun Mi-a selalu saja mengomel. Katanya, sebelum menjadi seorang laki-laki, Yu-dan harus menjadi manusia terlebih dahulu. Setidaknya keperluan sehari-hari harus diisi sendiri. Itulah sebabnya jika air minum, susu, atau pasta gigi habis, ia akan mampir ke supermarket besar. Karena akhir pekan biasanya sangat sesak, ia lebih sering datang pada Jumat malam.
Di jam seperti ini, cukup banyak orang yang datang berbelanja sendirian. Barangkali mereka berniat memenuhi lemari es menjelang akhir pekan. Mungkin mereka adalah orang-orang yang tinggal sendiri seperti dirinya.
Yu-dan memasukkan satu pak berisi enam botol air mineral ke dalam keretanya. Saat menyusuri lorong, matanya menangkap minuman energi yang menjanjikan efek terjaga. Katanya minuman ini bisa mengusir kantuk. Ia pernah dengar bahwa supir truk jarak jauh di Inggris selalu menyediakan minuman seperti ini di dalam botol besar dengan sedotan agar bisa terus menyetir. Mendengar itu, Yu-dan sempat berpikir bahwa gaya seperti itu sangat keren. Ia jadi ingin menjadi supir truk jarak jauh.
Namun, karena cita-cita itu belum mungkin terwujud sekarang, ia berpikir untuk menghabiskan Jumat malamnya dengan terjaga sambil meminum ini. Tepat saat ia hendak meraih satu kaleng, sebuah kereta belanja melintas di sampingnya.
Seketika itu juga, sebuah aroma menusuk indra penciumannya. Bukan, lebih tepatnya itu adalah sebuah wewangian. Wangi yang sangat memikat dan belum pernah ia rasakan seumur hidup. Bayangan tentang angin, pepohonan, sinar matahari, dan rerumputan muncul silih berganti di benaknya sebelum akhirnya sirna.
Yu-dan menoleh ke belakang.
Ia melihat punggung seorang pria paruh baya yang mendorong kereta belanja penuh barang. Penampilannya menyerupai karyawan kantor yang baru saja pulang kerja. Jantung Yu-dan berdenyut lebih kencang. Perasaannya mulai tidak enak.
Apa ini Unusuals?
Tanpa membuang waktu, ia segera mengekor di belakang pria itu.
"Permisi."
Bahu pria itu tampak menegang. Sejurus kemudian, ia tiba-tiba berlari kencang. Benar saja, dia memang mencurigakan.
"Berhenti di sana!"
Yu-dan mengabaikan kereta belanjanya dan mengejar pria itu. Sang pria menerobos kerumunan orang, menuruni eskalator, dan berlari menuju area parkir bawah tanah.
CIIIIT!
Sebuah mobil yang melintas mendadak mengerem. Pria itu tampak panik. Yu-dan memanfaatkan celah itu untuk menangkapnya.
"Kena!"
"Aaaaaakh!"
Pria itu berteriak histeris. Rambut menipis, mengenakan kacamata bingkai tanduk, dan penampilannya memancarkan kesan seorang penakut. Dia hanyalah pria kantoran biasa yang sering ditemui di kompleks apartemen mana pun.
Namun, Yu-dan merasakan sensasi tidak nyaman yang menusuk. Ini jelas aura dari makhluk ganjil.
"Siapa kau sebenarnya?!"
"Ah, jangan!"
Dengan tangan gemetar, pria itu mendekap dadanya erat. Ada sesuatu di sana.
"Apa itu?"
Saat Yu-dan menyingkirkan lengannya dengan sentakan kuat, kancing kemejanya terlepas hingga bagian dadanya terbuka. Yu-dan terperanjat seketika.
Monster. Itulah pikiran pertamanya.
Dada karyawan kantor itu telah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Semuanya disebabkan oleh kalung yang ia kenakan. Dari liontin hijau berbentuk tetesan air itu, sulur-sulur kecil menyerupai akar menjalar luas dan menusuk masuk ke dalam daging dadanya. Bagian yang sudah terinfeksi tampak mengeras dan keriput layaknya kulit pohon. Semakin dipandang, semakin merinding dibuatnya. Sulur-sulur akar yang sudah menyatu dengan daging itu sepertinya mustahil untuk dilepaskan.
Yu-dan bertanya dengan wajah pucat, "Benda apa ini?"
"A-aku juga tidak tahu! Katanya ini cuma kalung kesehatan…."
"Tidak terlihat menyehatkan sama sekali!"
"Tapi toko itu menjualnya dengan nama itu! Aku menerimanya sebagai hadiah dari anak buahku yang baru pulang perjalanan dinas!" teriak pria itu dengan wajah tak kalah pucat.
"Ku pikir tidak ada salahnya mencoba, jadi ku pakai. Anehnya, pikiranku terasa jernih, hatiku tenang, dan stres berkurang. Jadi ku pakai siang-malam tanpa dilepas…. Tanpa sadar, semuanya jadi begini! Ini bukan salahku! Aku punya keluarga! Perusahaanku juga tidak bisa berjalan tanpaku! Tolong jangan lapor polisi! Aku tidak mau dibawa dan dibedah!"
"……Eh?"
Dibedah?
Sepertinya pria ini benar-benar salah paham. Yu-dan menatapnya dengan raut wajah konyol. Memangnya dia pikir aku ini siapa? Bagaimanapun, pria ini tampaknya adalah korban. Yu-dan merasa perlu bersikap lebih lunak.
"Aku tidak akan melapor polisi."
"Benarkah?"
"Ini adalah perbuatan Unusuals. Hal-hal aneh yang sudah lama berkeliaran di tanah ini. Jika kita tahu identitasnya dan mengembalikannya ke tempat asalnya, masalah ini bisa dituntaskan……."
"Bisa tuntas?" Pria itu tampak sangat kaget. "Maksudmu bisa diobati?"
"Mungkin? Kalau beruntung."
"Tolong selamatkan aku! Istri dan dua putriku sedang di Amerika! Masa depan mereka ada di tanganku! Aku harus bekerja keras mencari uang dan mengirimkannya pada mereka!"
Tepat saat itu, sebuah mobil putih mendekat. Wanita di balik kemudi menatap mereka dengan tatapan aneh. Jika dilihat dari luar, pemandangannya memang tak biasa: seorang siswa SMA yang tampak galak sedang memojokkan pria tua yang ketakutan di sudut area parkir. Jika dibiarkan, ini bisa memicu kesalahpahaman. Sebaiknya mereka bicara di luar.
Yu-dan memberi isyarat agar pria itu mengikutinya, dan sang pria pun mengekor dengan patuh.
"Aku takut. Akar-akar ini terus menjalar. Setiap kali aku memimpikan tempat aneh itu…."
"Mimpi aneh?"
"Tempatnya selalu sama. Awalnya aku pikir itu luar negeri, tapi ternyata bukan. Itu dunia lain."
"Dunia fantasi?"
"Mirip seperti itu. Di sana selalu terasa seperti musim semi yang hangat. Segalanya terasa lembut. Tanah dan anginnya begitu halus. Pepohonan selalu berbunga, dan udaranya penuh dengan aroma manis." Pria itu memejamkan matanya sejenak.
"Orang-orang di sana mengenakan pakaian seperti orang Tiongkok zaman dulu, dan wajah mereka tampak sangat bahagia. Anak-anak berlarian sambil bernyanyi. Meski aku tidak paham bahasanya, tapi nadanya sangat riang. Tidak ada kekhawatiran di sana. Itulah sebabnya aku ikut melupakan segala beban pikiranku. Urusan kantor, istri dan anak-anak, masalah uang, mobil, asuransi. Semuanya hilang dan hatiku terasa sangat damai. Tempat itu adalah surga."
Tiba-tiba, liontin di dadanya berdenyut. Pria yang tadi bercerita dengan nada melayang itu seketika tersentak bangun.
"Tapi setiap kali aku bangun dari mimpi indah itu, sulur-sulur akar ini semakin menjalar. Kecepatannya semakin bertambah. Saat aku menyadarinya, mereka sudah menusuk masuk ke dalam daging hingga tak bisa kulepaskan. Aku terlalu takut untuk ke rumah sakit karena takut dijadikan bahan penelitian." Tubuhnya gemetar. "Sekarang, apa yang akan terjadi padaku…."
Yu-dan terdiam menatap wajah pria itu yang penuh keputusasaan.
Hujan mengguyur halaman depan.
Itu adalah hujan di penghujung musim semi. Rintik air membasahi pohon tua dan permukaan telaga tanpa henti. Di sudut serambi, piringan hitam pada gramofon sejak tadi mengalunkan musik piano. Sebuah melodi yang terasa akrab di telinga Yu-dan. Ia menyimak nada-nada yang seolah mengetuk tanah bersama rintik hujan.
Judulnya 'Raindrop Prelude'? Di mana aku pernah mendengarnya?
Siluman rubah sedang duduk di serambi dengan meja di hadapannya, menopang dagu dengan tangan. Pose itu tidak berubah sejak Yu-dan melangkah ke halaman belakang.
Tiba-tiba, Baek-ran membuka suara.
"Pemakan Teratai (Lotophagi)……."
"Pemakan teratai?"
"Dahulu kala, sekelompok pelaut terombang-ambing hingga mencapai sebuah negeri. Di sana hiduplah para pemakan teratai, yaitu orang-orang yang mengonsumsi buah dari bunga teratai. Mereka menawarkan buah itu kepada para pelaut. Begitu memakannya, para pelaut menjadi mabuk seperti sedang bermimpi dan melupakan segala duka mereka. Bahkan mereka melupakan kampung halaman dan ingin tinggal di sana selamanya. Alhasil, pemimpin mereka harus menyeret dan mengikat mereka secara paksa agar bisa dibawa pulang."
Baek-ran mengalihkan pandangannya ke arah Yu-dan setelah mengakhiri ceritanya. "Itu kisah dari Yunani. Lebih tepatnya, dari kitab 『Odyssey』."
"Ah, ternyata bukan legenda dari sini." Yu-dan menurunkan bahu seraya kembali menatap halaman yang diguyur hujan. "Lalu, kenapa kamu menceritakannya?"
"Hanya terpikirkan saja." Baek-ran ikut menatap ke arah halaman.
"Mungkin cara termudah untuk meraih kebahagiaan adalah dengan melupakan. Karena tempat di mana kita bisa melupakan realitas, siapa pun akan merasa bahagia. Legenda mengenai dunia ideal seperti ini ada di mana-mana, dan isinya rata-rata serupa. Seseorang tersesat dan tanpa sengaja masuk ke dunia lain yang indah serta damai, terpisah dari urusan duniawi. Setelah kembali, mereka mencoba mencarinya lagi namun tak pernah bisa menemukannya untuk kedua kali."
"Aku tahu. Mureung-dowon. Aku pernah mendengarnya di sekolah."
"Benar. Nama surga dengan bunga persik yang mekar sempurna itu adalah Dowonhyang. Dan identitas dari kalung aneh itu adalah benih yang hanyut dari Dowonhyang."
"Benih?"
"Benih pohon yang tumbuh di Dowonhyang. Dulu aku juga punya satu, tapi hilang entah di mana. Aku lupa menaruhnya." Baek-ran mengambil salah satu buku dari tumpukan di sampingnya. Buku itu berisi gambar-gambar flora dan fauna unik. Ia membolak-balik halamannya hingga menemukan satu gambar.
"Bukankah bentuknya seperti ini?"
"Benar, persis." Gambar di buku itu identik dengan liontin milik si karyawan kantor. Yu-dan tadinya mengira itu berbentuk tetesan air, namun setelah mendengar penjelasan Baek-ran, bentuk itu memang menyerupai benih.
"Seseorang menemukan benih yang tanpa sengaja masuk ke dunia ini dan mengiranya sebagai batu permata, lalu menjadikannya kalung. Sebuah kebetulan yang sangat disayangkan, karena benih itu hanya akan bertunas di tubuh makhluk hidup."
Yu-dan teringat dada pria itu yang berubah mengerikan. Jaringan yang tumbuh dari kalung itu telah menyatu dengan pembuluh darah manusia, mengubah kulitnya menjadi keras layaknya pohon.
"Jadi itu wujud saat dia bertunas."
"Dengan kata lain, itu adalah wujud saat dia sedang bermimpi."
"Bermimpi?"
"Bagaikan penebang kayu yang tanpa sengaja masuk ke Dowonhyang, benih ini pun sama. Dia tersesat dan hanyut ke dalam dunia kita." Pandangan siluman rubah menerawang ke kejauhan.
"Pohon-pohon di Dowonhyang akan melepaskan benih sebelum mereka mati. Benih itu akan berkelana dalam keadaan tertidur hingga ia menemukan 'Dowonhyang' miliknya sendiri, barulah dia akan bertunas."
"Maksudmu… dunia ini adalah Dowonhyang baginya?" Yu-dan menatap dunia di balik tirai hujan yang lebat.
Di balik kabut air yang membubung, melewati jajaran atap ubin rumah tradisional di Jalan Hoehwa, gedung-gedung pencakar langit dan apartemen tampak membentuk hutan abu-abu yang luas.
"Benarkah? Dunia seperti ini?"
"Kita tidak boleh menilainya dengan standar kita. Karena dia makhluk dari dunia lain, penglihatannya pun pasti berbeda. Aku pun yang termasuk penghuni dunia ini tidak terlalu paham, namun bukankah ini mirip dengan saat kita mengubah kecepatan rana kamera dan mendapatkan pemandangan yang berbeda? Dunia yang bagi kita penuh dengan cahaya dan kebisingan, mungkin terlihat sangat unik dan memesona bagi benih itu."
Ditengah pemandangan kota yang berkilauan Yu-dan seperti mendengar halusinasi suara tawa cekikikan, atau suara gelembung udara yang pecah di dalam air. Namun bayangan itu segera sirna.
"Saat manusia memimpikan Dowonhyang, pohon itu memimpikan dunia manusia. Benih itu menjadikan mimpi tersebut sebagai nutrisi untuk tumbuh besar."
"Lalu, apa yang terjadi setelah dia tumbuh dewasa?"
"Dia akan terlahir di dunia ini. Sebagai gantinya, manusia itu akan terlahir kembali di dunia sana. Mereka bertukar posisi."
"Berarti paman itu akan mati?"
"Dari segi eksistensinya yang menghilang, tidak salah jika kamu menyebutnya mati. Walau jasadnya tidak akan tersisa. Di dunia ini, dia hanya akan dianggap sebagai orang hilang. Kasusnya akan menjadi misteri selamanya, namun karena melibatkan Unusuals, orang-orang akan segera melupakannya. Kamu ingat rumah tua tempat Gokdugi bermain petak umpet dulu?"
Jadi dia akan tergeser dari kesadaran dunia, dan meski menghilang tiba-tiba, orang-orang hanya akan menganggapnya wajar saja? Tak ada yang mencari, tak ada yang meratap, dan tak ada yang merindukan?
"Bayarannya terlalu mahal hanya untuk kesalahan memakai sebuah kalung." Yu-dan membayangkan wajah karyawan kantor yang ketakutan setengah mati tadi. Pria itu memohon agar Yu-dan memberitahu nasibnya kelak. Yu-dan sempat mengajaknya ke toko ini, namun pria itu terlalu takut untuk datang.
Bisakah Yu-dan menyampaikan kenyataan pahit ini padanya?
"Bagaimana cara mengembalikannya ke semula?" tanya Yu-dan sekali lagi.
Alih-alih jawaban, terdengar suara langkah kaki yang pelan di tengah rintik hujan. Seorang wanita ramping dengan payung tampak berjalan mendekat. Itu adalah Heuk-yo.
"Semuanya sudah siap. Segala hal yang berpotensi menimbulkan masalah sudah ku bereskan."
"Terima kasih atas bantuannya." Baek-ran pun bangkit dari duduknya.
"Cara untuk mengembalikannya, huh… bukankah itu bergantung pada seberapa jauh kita bisa melangkah? Ikutlah denganku."
Siluman ular berjalan di depan, memandu mereka memutari bangunan menuju lantai bawah tanah. Di sepanjang lorong yang remang-remang, pintu-pintu kayu berjajar rapi. Ini adalah tempat yang berbeda dari ruang bawah tanah yang pernah Yu-dan datangi bersama Tuan Do.
Heuk-yo membuka salah satu pintu tersebut. Ternyata itu adalah ruangan yang sangat luas. Di setiap sudut rak, berbagai macam botol tertata penuh. Ada botol keramik, labu air, botol kaca, hingga botol logam… jumlahnya sangat menakjubkan.
"Benda apa semua ini?"
"Miras," jawab Baek-ran singkat.
"Ternyata kalian punya hobi seperti ini? Katanya kalau sudah terjebak hobi begini susah lepasnya, tahu."
Heuk-yo menoleh, memberikan tatapan mendelik ke arah Yu-dan.
..........
Glosarium Istilah:
- Dowonhyang (도원향): Secara harfiah berarti "Desa Bunga Persik", merujuk pada konsep utopia atau surga tersembunyi yang damai dan abadi dalam mitologi Asia Timur (Mureung-dowon).
- Mureung-dowon (무릉도원): Istilah Korea untuk surga duniawi yang indah, diambil dari kisah Tiongkok tentang seorang nelayan yang menemukan desa tersembunyi di balik hutan bunga persik.
